The contradiction

.

.

.

.

.

Summary: (Sequel dari Moving On Isn't Easy) "As time goes on you'll understand. What lasts, lasts; what doesn't, doesn't. Time solves most things. And what time can't solve, you have to solve yourself." – Haruka Murakami.

Boys Love. B x B. Mingyu x Hoshi. MinSoon. SoonGyu. Moshi. GyuSoon. SEVENTEEN. AU. OOC

Semua tokoh di dalam cerita milik Tuhan, Orang tua, Keluarga, Pledis Ent, dan dirinya sendiri.

Jalan cerita milik saya. Mohon maaf apabila terdapat kesamaan dalam segi apapun. Bukan perbuatan yang disengaja

.

.

.

.

.

"Yakinkan aku untuk tetap mencintaimu. Yakinkan aku untuk tetap bersedia menunggumu. Yakinkan aku untuk tetap menanti kedatanganmu. Karena, demi apapun, ini berat." – mahar

.

.

.

.

.

Seoul, 5 April 2019. 19:45 PM KST

Hoshi ingat betul bahwa hubungannya dengan Mingyu beberapa tahun yang lalu hanya bertahan selama seminggu, dan itupun karena mereka terikat sebuah perjanjian. Tapi, waktu yang seminggu itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya mengetahui berbagai macam hal yang bersangkutan dengan pemuda bermarga Kim yang satu itu. Mulai dari kebiasaan sehari-harinya, makanan kesukaannya, penyanyi idolanya, hal yang disukai dan tak disukainya, hingga caranya tersenyum, serta beberapa hal yang akan memakan banyak waktu jika disebutkan satu persatu. Semuanya terekam dengan jelas di ingatan Hoshi. Bahkan, hingga detik ini.

Apalagi dengan hari penting yang menjadi peringatan lahirnya Kim Mingyu ke dunia ini, yaitu 6 April 1997. Hoshi pikir, ia takkan pernah bisa melupakan hal tersebut.

"Besok ya?" ucap putra sulung Keluarga Kwon itu sembari membuka sebuah undangan pesta perayaan ulang tahun Mingyu yang baru saja diterimanya tadi pagi.

"Sepertinya aku harus mencari hadiah dulu," lanjut Hoshi sebelum mengembalikan undangan tersebut ke tempat semula dan merapikan meja kerjanya.

.

.

.

.

.

Karena acara yang akan dihadirinya kali ini bersifat tak begitu formal, maka Hoshi memutuskan untuk memakai kemeja dan celana berwarna hitam yang dipadukan dengan coat selutut berwarna merah maroon.

Sejenak ia mematut diri di depan cermin. Dan setelah merasa tak ada satupun yang kurang dari penampilannya, Hoshi segera bersiap untuk pamitan pada orang tuanya yang saat itu kebetulan tengah menonton TV di ruang keluarga.

Tapi baru 5 langkah ia keluar dari kamar, Hoshi teringat sesuatu. Iapun menepuk dahinya pelan, "Oh iya, hampir saja lupa."

Pemuda bermarga Kwon itu kembali memasuki kamarnya lalu mengambil tas kertas yang berisi hadiah untuk Mingyu. Sebuah coat panjang berwarna hitam dan sepasang sepatu keluaran terbaru dari produsen ternama di Korea Selatan.

Jika ditanya, 'kenapa coat?' Hoshi sendiri tak tahu jawabannya. Karena memang benar, musim dingin sudah berganti menjadi musim semi sejak beberapa waktu yang lalu. Dan suhu udarapun sudah perlahan-lahan naik, tak sedingin sebelumnya. Angin yang berhembus tak lagi menusuk kulit. Sehingga membuat pakaian hangat tak begitu diperlukan lagi. Tapi diantara sekian banyak pilihan hadiah yang bisa dibelinya, Hoshi lebih memilih sebuah coat, yang termasuk ke dalam kategori pakaian hangat, meskipun ia tahu Mingyu punya banyak yang seperti itu. Dan hadiahnya ini pasti takkan begitu terpakai. Tapi harapan agar Mingyu terus merasa 'hangat' membuat Hoshi memantapkan pilihan pada pakaian sepanjang lutut tersebut.

Putra sulung keluarga Kwon itu mengendarai mobil mini coopernya dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan Kota Seoul yang kebetulan sedang cukup padat malam itu dikarenakan adanya perbaikan jalan.

"Tahu begini, aku akan berangkat lebih awal," Hoshi berdecak kesal sembari memperhatikan jarum jam yang terus berputar di pergelangan tangannya.

.

.

.

.

.

.

Lotte Hotel World, 6 April 2019. 08:30 PM KST

Dan benar saja, saat Hoshi menginjakkan kakinya di lantai ballroom hotel bintang 5 tersebut, acara sudah di mulai. Bahkan kegiatan tiup lilin dan potong kue juga sepertinya sudah lewat dari beberapa waktu yang lalu. Maka dari itu, setelah menitipkan hadiah yang dibawanya ke bagian penerima tamu, Hoshi langsung saja menuju ke jajaran makanan yang disediakan.

Dapat ia lihat dengan jelas, meskipun dari jauh, Mingyu terlihat tampan dengan kemeja putihnya yang dipadukan dengan jas hitam bergaris putih di bagian kerah. Dasi kupu-kupu dan juga celana hitam serta rambutnya yang disisir rapi ke belakang semakin menambah pesona pemuda yang baru saja resmi berusia 22 tahun tersebut.

Awalnya Hoshi berniat untuk menyapa Mingyu dan mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung, tapi diurungkan niat tersebut saat melihat sang mantan kekasih sibuk berbicara dengan beberapa tamu undangan lainnya.

Beberapa kali Hoshi bertegur sapa dengan orang yang ia kenal, lalu kembali sibuk dengan pilihan sajian yang akan diambilnya. Hingga tak menyadari bahwa seseorang telah berdiri di sampingnya sejak beberapa waktu yang lalu.

"Kau menatapnya hingga lupa berkedip," ucap orang tersebut, yang ternyata adalah Xu Minghao, sembari menyenggol lengan Hoshi.

"Sejak kapan kau ada disitu eh?" Yang lebih tua menoleh lalu menatap adik tingkat semasa kuliahnya itu curiga.

"Sejak kalian saling memperhatikan dalam diam," jawab Minghao dengan santainya.

"A-apa?"

"Kau masih mencintai Mingyu, ya?"

Untuk sepersekian detik, napas Hoshi tertahan di ujung tenggorokannya. Akhirnya, setelah sekian lama, seseorang menanyakan sesuatu yang selalu Hoshi tanyakan pada dirinya sendiri.

"Everything shows on your face, Ge. You know?" tambah pemuda berkebangsaan Cina tersebut.

Uhuk!

Hoshi tersedak begitu mendengar hal tersebut. Dengan tergesa ia mengambil segelas minuman yang dibawa oleh pelayan lewat dan meneguknya hingga habis.

"Kau ini bicara apa!?"

"Itu terlihat dari caramu menatapnya. Tak pernah berubah dari dulu."

Hoshi menggelengkan kepalanya, mencoba untuk mengelak, "A-ah tidak! Aku tidak-"

"Mulut bisa saja berbohong. Tapi matamu tidak."

"Huft," Hoshi memalingkan wajah, yang sialnya membuat ia beradu tatap dengan Mingyu.

"Jujur saja."

"Sejelas itu kah?" ucap pemuda yang bermarga Kwon tanpa mengalihkan pandangannya.

Minghao mengangguk, meskipun ia tahu Hoshi takkan melihat itu, lalu memakan potongan terakhir kue yang ada di piringnya.

Hoshi memutuskan kontak mata dengan Mingyu, kemudian ia menundukkan kepalanya, "Kau benar, aku masih mencintainya. Mencintai Mingyu." Diam-diam tersenyum sendu, "Everything hasn't changed, my feelings for him still hasn't changed after a long time. And I still don't know why I love him so much."

"Sudah berapa lama?"

"Apanya?" tanya Hoshi tak mengerti.

"Kau dan cintamu itu."

"Hampir empat tahun kurasa."

Minghao membulatkan matanya dan menatap pemuda di sampingnya tak percaya, "Wow."

"Aku tahu empat tahun bukanlah waktu yang sebentar. Dan aku tak keberatan jika harus mencintainya lebih lama lagi." Hoshi tersenyum tulus dan mengendikkan bahunya acuh tak acuh.

Melihat itu, mau tak mau Minghao ikut tersenyum. Lalu menepuk pundak orang yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri itu, "Begitupun Mingyu. Ia-"

Hoshi tak sempat mendengar kalimat yang akan diucapkan oleh Minghao karena tiba-tiba ia merasa kepalanya berputar dan pandangannya menjadi kabur. Dengan segera ia pergi dari sana setelah sebelumnya meminta maaf karena telah memotong perkataan adik tingkatnya itu.

Kaki-kaki panjang Hoshi membawanya menuju ke mini bar yang terletak di sisi kiri ruangan yang bernuansa almond tersebut. Dan tanpa pikir panjang, ia mengambil sebuah gelas yang sama persis dengan yang dibawa pelayan tadi.

Tapi, begitu cairan itu akan memasuki mulutnya, hidung Hoshi mencium bau aneh yang cukup tajam. Dahinya berkerut. Seingatnya, air mineral tak memiliki bau seperti ini.

"Uhm- permisi?," ucap Hoshi pada bartender yang sedang meracik minuman untuk tamu pesta yang hadir, "Kalau boleh aku tahu, ini minuman apa?"

"Itu vodka, Tuan."

Oh sial!

Hoshi merutuki dirinya sendiri. Pantas saja kepalanya terasa pusing, ia memang tak pernah tahan pada alkohol sejak dulu. Karena dengan kadar yang rendah saja, sudah bisa membuatnya pusing dan mual.

"Bisa-bisanya aku ceroboh seperti ini," sekali lagi Hoshi mengumpat dirinya sendiri sebelum menumpukkan kepalanya di meja yang ada di sana, "Argh! Kepalaku sakit sekali."

Tapi masa bodoh dengan kesadarannya yang semakin menghilang. Hoshi yakin sebentar lagi Jun akan datang dan membawanya pulang.

"Soonyoung hyeong?" sebuah suara terdengar semakin ke arah Hoshi. Di sisa-sisa kesadarannya, Hoshi mengetahui bahwa itu bukan suara milik Jun gege-nya.

"Hey," Tak lama kemudian, pemuda yang sebentar lagi akan berusia 23 tahun itu merasa seseorang mengguncang tubuhnya secara perlahan, "Kau mabuk?"

Hoshi mengangkat kepalanya, tertawa sesaat lalu kembali menyandar ke meja mini bar itu, "Hahaha hello Mingyu-san!"

"Kau pasti mabuk."

"Apa? Tidak. Aku tidak mabuk!"

"Oh," Mingyu memutar bola matanya malas, "Yang benar saja." Lalu menarik lengan Hoshi supaya mantan kekasihnya itu berdiri.

"Kita mau kemana?" tanya yang lebih tua saat tubuhnya dipapah keluar dari ballroom oleh Mingyu.

"Pulang."

Hoshi mendorong Mingyu supaya menjauh dari dirinya, lalu menggelengkan kepala kuat-kuat, "Tidak mau! Aku ingin bersama denganmu hehehe."

"Kau harus pulang. Kau mabuk."

"Kalau ku bilang tidak ya tidak!" Hoshi masih saja sempat banyak bicara disaat tubuhnya hampir limbung karena kehilangan keseimbangan. Beruntung Mingyu dengan sigap menangkap tubuhnya sebelum ia jatuh dengan cara yang tidak elit ke kolam ikan hias yang entah kenapa bisa ada di sana.

"Baiklah. Kau tidak mabuk, hanya tidak sadar saja," Mingyu menghela napas berat untuk mengurangi kekesalannya karena menghadapi Hoshi dan sikap keras kepalanya, "Mabuk atau tidak, kau tetap saja menyebalkan." keluhnya sebelum kembali membimbing Hoshi menuju bagian depan hotel.

Akan tetapi, tepat saat mereka sampai di depan lobby, terdengar suara klakson bersahut-sahutan yang memekakkan telinga.

"Permisi, Ahjussi. Kalau boleh saya tahu, apa yang terjadi?" tanya Mingyu pada seorang petugas penjaga keamanan yang sedang berjaga di dekat pintu keluar.

"Oh ini. Di persimpangan jalan terjadi kemacetan karena pembangunan jalan, dan ada pengalihan jalur. Sudah hampir satu jam setengah seperti ini," jelas pria paruh baya tersebut.

Mingyu tersenyum kaku, "A-ah begitu? Baiklah. Terima kasih, Ahjussi!"

"Senang bisa membantu," pria itu mengangguk, "Kalau begitu saya undur dirii. Mau menjalankan tugas untuk mengamati keadaan sekitar. Selamat malam Tuan!"

"Ya, selamat malam."

"Konbanwa, Ojisan!"

"Astaga. Bagaimana ini!?" ucap Mingyu pada dirinya sendiri.

"Nah kan. Berarti aku tak diizinkan pulang saat ini hehehe," ujar Hoshi yang diiringi dengan tawa khas orang yang sedang mabuk.

"Jadi, sekarang apa yang mau kau lakukan?" ucap Mingyu pasrah.

"Hehehe. Menghabiskan malam denganmu. Huks."

Mingyu memutar bola matanya, "Serius, Soonyoung hyeong. Kau memang harus pulang."

Pemuda itu hanya tinggal menekan simbol berwarna hijau di layar ponselnya, dan ia akan langsung terhubung dengan Jun hyeong-nya. Ia bermaksud untuk mengabari pemuda itu bahwa Hoshi mabuk, dan memintanya untuk datang menjemput. Tapi, pergerakan tangan Hoshi mengacaukan rencananya.

"Kenapa? Kau tak mau menikmati malam ini bersamaku?" Hoshi mencebikkan bibirnya.

"Bukan begitu."

"L-lalu -huks- kenapa?"

"Kau mabuk. Kau tak tahu apa yang kau lakukan."

"Persetan dengan kesadaranku!" Hoshi berbalik untuk memeluk leher Mingyu dan berbisik seduktif di telinganya, "Kalau kau menerima tawaranku -huks- aku akan memberikan hadiah ulang tahun yang tak akan pernah kau lupakan."

Diam sesaat. Hoshi menyandarkan kepalanya di bahu Mingyu, sambil sesekali menghirup aroma tubuh pria jangkung itu dalam-dalam.

"Ugh," Mingyu menjauhkan Hoshi dari lehernya, "M-memangnya apa?"

"Kabulkan dulu -huks- permintaanku dan kau akan tahu jawabannya hehe."

Setelah berpikir cukup lama, dan didorong rasa ingin tahu yang kuat serta waktu yang sudah semakin larut, Mingyu menuruti keinginan Hoshi. Ia tahu ini bukanlah ide yang baik. Tapi sesuatu dalam dirinya memaksa Mingyu untuk menuruti keinginan Hoshi.

Pada akhirnya, ia memesan sebuah kamar di hotel ini. Dan membopong mantan kekasihnya itu menuju ruangan tersebut setelah mengambil kuncinya di bagian penerima tamu.

"Kau masih saja berat seperti dulu," Mingyu menurunkan mantan kekasihnya itu di ranjang king size yang ada lalu menghubungi keluarganya dan juga orangtua Hoshi. Mengatakan bahwa mereka mungkin tak akan pulang malam ini karena jalanan yang macet parah.

Namun sepertinya Mingyu terlalu sibuk berbicara di telepon, hingga tak menyadari bahwa Hoshi berjalan mendekat lalu memeluknya dari belakang.

"Aku mencintaimu," racau pemuda yang lebih tua.

Mengabaikan pernyataan yang baru saja didengarnya, Mingyu berbalik dan refleks melingkarkan tangannya di pinggang Hoshi. "Soonyoung hyeong, apa yang kau lakukan eh!?"

Hoshi mengusakkan hidungnya di perpotongan leher Mingyu, "Memelukmu."

"Aku merindukanmu," Hoshi maju selangkah, "Sangat merindukanmu. Hingga rasanya sakit sekali saat aku tahu tak ada yang bisa kulakukan untuk mengobati rindu sialan itu."

Mau tak mau Mingyu berjalan mundur, mengikuti setiap langkah yang diambil mantan kekasihnya itu.

"Kau tahu? Selama empat tahun di Jepang, aku pikir aku sudah bisa melupakanmu, tapi begitu kita bertemu di rapat tempo hari, semua usahaku untuk menghapus kenangan tentangmu hancur seketika," keluh Hoshi dengan suara seraknya, "Mantra apa yang kau gunakan padaku eh? Kenapa rasanya begitu sulit untuk melupakanmu!?"

Begitu menyelesaikan kalimatnya, Hoshi mendorong Mingyu yang akhirnya membuat mereka berdua jatuh dengan posisi bertindihan di atas ranjang.

"Tadi -huks- Minghao bertanya -huks- apakah aku masih mencintaimu atau tidak," Hoshi mengelus pipi Mingyu dengan lembut, "Ku katakan saja sejujurnya -huks- bahwa aku masih mencintaimu hehehe."

Berikutnya, ia mengelus bibir tebal milik mantan kekasihnya itu menggunakan ibu jari, "Tapi waktu itu kau bilang -huks- kau ingin melupakanku," senyum di wajah Hoshi berganti dengan ekspresi yang sulit dibaca, "Jujur, aku tak ingin kau melakukan itu. Tapi, jika dengan melupakanku bisa -huks- membuatmu bahagia, lakukanlah. Aku tak apa hehehe."

Jantung Mingyu berdegup lebih cepat saat ia mendengar kata demi kata yang keluar dari bibir Hoshi. Namun ia hanya diam. Tak tahu harus berbuat apa. Perasaannya saat inipun seakan tak menentu. Antara senang, kesal, dan juga lega.

Senang karena ia tahu bahwa perasaannya tak bertepuk sebelah tangan. Kesal karena ia menganggap Hoshi terlalu mudah menyerah. Lega, dikarenakan semua beban yang menyesaki dadanya seakan menguap hilang entah kemana.

"Aku mencintaimu," ucap Hoshi berkali-kali sembari mengikis jarak antara dirinya dengan Mingyu.

"Pernah aku coba untuk mencari penggantimu. Tapi ternyata tidak mudah, bagian lain dari diriku hanya menginginkanmu," Mingyu tersenyum kecut mendengarnya, "Menyedihkan ya?" lanjut pemuda yang lebih tua.

Dan dibawah pengaruh alkohol, pemuda bermarga Kwon itu mengatakan semuanya. Perasaan yang selama ia simpan sendiri maupun segala keluh kesah yang sudah lama terpendam begitu dalam. Percayalah, ini akan menjadi drunken confession yang buruk.

Jadi berikutnya, mari berharap bahwa ia takkan melakukan perbuatan yang akan disesalinya keesokan hari.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Foot note:

Ojisan = Paman, Bahasa Jepang.

Ahjussi = Paman, Bahasa Korea.

Konbanwa = Selamat malam.

.

.

.

.

.

Akhirnya bisa update juga. Maaf updatenya lama TAT Terima kasih buat yang sudah mau membaca, juga buat yang meninggalkan review di chapter sebelumnya.

[ Oh iya, sebentar lagi mau pengumuman PMDK. Saya mohon do'anya semoga lolos di jurusan yang saya inginkan. Dan kalau nggak lolos, saya minta do'a dan/atau aamiinnya supaya saya bisa melewati SMB dengan lancar. Ehe terima kasih : D

Berhubung sebentar lagi bulan Ramadhan. Saya mohon maaf apabila ada kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Semoga bulan Ramadhan ini membawa berkah bagi kita semua dan shaum kita diterima oleh Allah SWT. Aamiin. ]

Mohon maaf apabila masih terdapat banyak kesalahan. Jangan lupa tinggalkan review ^^~

Saya menerima kritik dan saran yang bersifat membangun.

Sampai jumpa /o