The Contradiction
.
.
.
.
.
Summary: (Sequel dari Moving On Isn't Easy) "As time goes on you'll understand. What lasts, lasts; what doesn't, doesn't. Time solves most things. And what time can't solve, you have to solve yourself." – Haruka Murakami.
Boys Love. B x B. Mingyu x Hoshi. MinSoon. SoonGyu. Moshi. GyuSoon. SEVENTEEN. AU. OOC
Semua tokoh di dalam cerita milik Tuhan, Orang tua, Keluarga, Pledis Ent, dan dirinya sendiri.
Jalan cerita milik saya. Mohon maaf apabila terdapat kesamaan dalam segi apapun. Bukan perbuatan yang disengaja
.
.
.
.
.
"Selagi kau dan aku berada di bawah langit yang sama, aku akan terus merekatkan serpihan harapan yang kau retakkan." – maydi_han
.
.
.
.
.
Lotte Hotel World, 7 April 2019. 05:30 AM KST
Hoshi bangun dalam keadaan yang begitu berantakan. Kepalanya pening, perutnya mual, ditambah pinggangnya yang entah kenapa sakit sekali. Kemeja berwarna putih yang terpasang asal-asalan di tubuhnya dirasa hanya menambah penderitaan putra sulung keluarga Kwon itu.
Deg
Menyadari ada yang janggal pada salah satu pemikirannya barusan, dengan ragu Hoshi melirik ke arah pakaian yang ia kenakan.
Matanya melebar.
Kemeja putih?
Seingat Hoshi, tadi malam ia mengenakan kemeja hitam ke acara perayaan ulang tahun Mingyu. Kenapa sekarang jadi putih?
Tak mungkin suatu kemeja dapat berubah warna dengan sendirinya hanya dalam waktu semalam, 'kan?
Rasa panik tiba-tiba menyerang putra sulung keluarga Kwon tersebut.
"Jangan bilang ini milik-"
Belum sempat Hoshi menyelesaikan kalimatnya, ia dikejutkan dengan pemandangan Mingyu yang berjalan entah dari mana, menuju ke arah kamar mandi hanya dengan celana panjang dan juga sebuah kaus tipis.
"Argh!"
Pikiran Hoshi semakin kacau. Ia tak dapat mengingat apapun yang terjadi tadi malam.
Sedangkan Mingyu yang baru saja akan masuk ke kamar mandi segera berbalik arah untuk menghampiri Hoshi setelah mendengar suara barusan.
"Hey, apa kau baik-baik saja, Soonyoung hyeong?" tanya lelaki yang lebih muda sembari mendudukan dirinya di ujung tempat tidur.
"Aku baik-baik saja," Hoshi mengangguk, "tapi aku punya banyak pertanyaan untukmu, Kim Mingyu."
"Hm, tanyakan saja."
"Kenapa aku bisa di sini? Di kamar ini? Bersamamu?" Tanya pemuda yang bermarga Kwon dalam satu tarikan napas.
"Pertama, kau bisa di sini karena aku yang membawamu ke sini. Kedua, semalam kau tak ingin pulang dan," Mingyu mengambil jeda sesaat, "mengatakan ingin menghabiskan malam denganku, jadi aku merasa tak punya pilihan lain selain menuruti keinginanmu."
"Ha? Hahaha kau pasti bercanda," Hoshi tertawa sumbang, "Mana mungkin aku bicara seperti itu."
"Kalau tak percaya ya sudah."
Hoshi kini terdiam. Samar-samar kejadian tadi malam terputar kembali di otaknya.
"Lalu, k-kemejamu kenapa bisa ada padaku?"
Tepat saat Mingyu membuka mulutnya, siap untuk berbicara, Hoshi memotongnya terlebih dulu dan kembali bertanya, "Apa ada sesuatu yang terjadi tadi malam? Antara kita?"
"Tidak ada yang terjadi."
"Benar?"
"Iya."
"Serius?"
"Pft," Mingyu menghela napas, "Sudah kubilang tak ada yang terjadi, sayang."
"Namaku Soonyoung! Bukan sayang."
"Iya iya, Soonyoung sayang. We did nothing last night."
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Yang mana?" Mingyu menunjukkan tampang tak mengerti, "Oh! Kemeja itu? Ah- maaf, aku tak bisa memberitahumu tentang itu."
"Kenapa?!" ucap Soonyoung tak terima, "Pasti semalam terjadi sesuatu, 'kan? Kau melakukan hal yang tidak-tidak padaku, 'kan? Sudah! Mengaku saja!"
"Ya ampun. Harus ku katakan berapa kali, tak ada yang terjadi diantara kita," Mingyu mengacak rambutnya, hampir frustasi, tak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan pada mantan kekasihnya itu, "Oh, atau kau ingin kita melakukan sesuatu tadi malam?" tanya Mingyu sembari menaik-turunkan alisnya dan tersenyum menggoda.
Hoshi memukul pelan kepala pemuda di hadapannya lalu membuang muka, "Tsk bodoh! Bukan begitu maksudku."
"Siapa suruh keras kepala."
"..."
Saat akan bertanya lagi, perhatian Hoshi teralihkan pada leher Mingyu.
"Mingyu-san, ada sesuatu di lehermu."
"Mana?"
"Itu, di dekat tulang selangkamu."
Mingyu mengusap sesuatu yang berwarna merah di lehernya, "Kau lupa? Ini buatanmu."
Hoshi memang tak memiliki banyak pengalaman dalam urusan cinta. Tapi untuk yang satu ini ia tahu dengan pasti bahwa itu adalah sebuah kiss mark.
Hoshi menatap pemuda di depannya tak percaya, "B-bagaimana bisa?"
"Ya bisa saja. Kau memaksa untuk membuatnya."
"Harusnya kau menolak," cicit Hoshi.
"Siapa yang bisa menolak seorang Kwon Soonyoung yang begitu menggoda saat mabuk tadi malam?"
Hoshi merasa aliran darah dari seluruh tubuhnya kini mengalir ke pipi dan juga kedua telinganya, "Jangan membual, Mingyu-san."
"Siapa yang membual? Lihat. Masih ada beberapa lagi," Mingyu menyingkap kaus yang ia pakai. Memperlihatkan dada bidang miliknya dan banyak bercak kemerahan yang ditinggalkan Hoshi tadi malam.
"A-apakah itu sakit?"
"Tidak juga. Tapi, sebagai gantinya," Mingyu maju dan membuat Hoshi terperangkap diantara tubuh tinggi miliknya dan dinding di belakang ranjang yang mereka tempati, "Aku akan melakukan hal yang sama padamu."
"M-melakukan apa?" cicit Hoshi saat merasa dirinya sudah terpojok.
"Membuat hickey."
"A-aku tahu kau takkan melakukannya."
"Dan kau juga tahu aku selalu serius dengan ucapanku."
Selangkah ke depan untuk Mingyu, dan juga selangkah ke belakang bagi Hoshi.
Saat dirasa sudah semakin terdesak, hal yang bisa dilakukan oleh Hoshi hanyalah pasrah. Ia menutup matanya, mau tak mau memaksakan diri untuk siap menerima apapun yang akan Mingyu lakukan.
"..."
Tak lama, ia rasakan napas Mingyu menerpa bagian lehernya. Tapi kemudian, sesuatu yang basah menempel di dahinya.
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Kita tak melakukan apapun semalam," lalu ia mengusak rambut pemuda yang lebih tua, "Oh iya, jangan pikirkan soal kemeja itu lagi. Sekarang lebih baik kau mandi. Lalu sarapan, aku sudah memesan nasi goreng untuk kita."
Hoshi mengerjapkan matanya beberapa kali. Berusaha mencerna seluruh perkataan Mingyu sekaligus menetralkan detak jantungnya yang hampir saja menggila.
"Uhm. B-baiklah."
.
.
.
.
.
"Sudah selesai?" tanya Mingyu begitu melihat Hoshi yang berjalan keluar dari arah kamar mandi dengan handuk di tangannya.
"Iya," Hoshi mengangguk.
Karena tak tahu harus berkata apa, Mingyu lebih memilih untuk diam dan menaruh pesanannya yang baru saja datang ke atas meja.
"Uhm, Mingyu-san, boleh aku minta tolong padamu?" Hoshi tersenyum kaku dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Tentu. Apa itu?" balas Mingyu sembari mengancingkan lengan kemejanya.
"Boleh aku pinjam ponselmu? Aku ingin menghubungi Jun Gege."
Mendengar hal tersebut, Mingyu mengalihkan padangannya pada Hoshi kemudian ia mengernyitkan dahinya heran, "Untuk apa?"
"Memintanya menjemputku di sini sekaligus membawakan baju ganti."
"Tidak perlu," ucap Mingyu singkat yang akhirnya menimbulkan tanda tanya di benak Hoshi.
"Kebetulan kemarin aku membawa baju lebih, pakai saja dulu. Dan biarkan aku yang mengantarmu pulang."
Kini giliran Hoshi yang mengernyitkan dahinya heran, ia berucap dalam hati, "Ada apa ini? Tak biasanya ia baik kepadaku."
Setelah hampir dua menit menunggu Hoshi yang tak kunjung bersuara, akhirnya Mingyu memilih untuk berbicara terlebih dulu, "Bagaimana?"
"Tidak perlu," Hoshi menggelengkan kepalanya, Aku tak ingin merepotkanmu."
"Kau sama sekali tidak merepotkanku."
"Kau pasti sibuk." Hoshi terus berusaha untuk menolak tawaran mantan kekasihnya itu.
"Aku akan selalu punya waktu luang untukmu."
Kalimat yang baru saja keluar dari bibir Mingyu itu berhasil membuat keduanya terdiam. Hanya suara denting jam dinding yang terdengar memenuhi seluruh penjuru kamar yang mereka tempati.
"Jangan seperti ini. Kau membuatku bingung."
"Jangan dipikirkan. Turuti saja kata-kataku."
"Apa tak apa?" cicit Hoshi.
"Iya."
"Yang benar?"
"Tsk. Bawel." Balas Mingyu sekenanya sembari berusaha membuat simpul pada dasi yang menggantung di lehernya.
"Ya!?"
"Sudahlah, ayo makan. Aku lapar."
Melupakan dasinya yang belum terpasang dengan benar, Mingyu langsung saja menarik Hoshi menuju meja makan yang terletak dekat dengan dapur.
"Tidak perlu menarikku. Aku bisa berjalan sendiri." Hoshi menghempaskan lengan Mingyu lalu berjalan mendahuluinya.
"Pft. Dia ini," Helaan napas berat terdengar keluar dari mulut lelaki yang lebih muda.
Seakan lupa bahwa dirinya baru saja bersikap tak sopan pada Mingyu, senyum Hoshi langsung terkembang begitu lebar saat matanya menangkap pemandangan sepiring nasi goreng yang masih hangat tersaji di hadapannya.
"Itadakimasu!" seru Hoshi begitu selesai membaca do'a.
Mingyu yang tak ingin ambil pusingpun langsung mengikut apa yang baru saja Hoshi lakukan.
.
.
.
"Maafkan aku," ucap Mingyu memecah keheningan makan pagi mereka.
"Huh?" gumam Hoshi, "Untuk apa?"
"Temanku."
"Temanmu? Yang mana?"
"Huft," Mingyu meletakkan garpunya, lalu mengusap wajahnya kasar, "Begini," pemuda bermarga Kim tersebut menumpukan kedua sikunya di atas meja, kemudian menatap Hoshi tepat di kedua matanya.
"Semalam kau bercerita banyak hal, dan salah satunya mengenai temanku yang menanyakan apakah kau masih mencintaiku atau tidak."
Hoshi terdiam mendengar hal tersebut.
"Itu pasti membuatmu tidak nyaman, I really I'm sorry for that," lanjut Mingyu.
"Oh. Itu-"
Butuh tiga detik sebelum Hoshi bisa menemukan kata yang tepat untuk diucapkan.
"Hahaha itu ya!?" Hoshi tertawa keras, tawa yang tentu saja dibuat-buat, "Kau percaya dengan ucapanku semalam? Oh- come on Mingyu-san, aku sedang mabuk! Jangan percaya hahaha."
"Ain't no fun, Kwon Soonyoung."
Terdiam. Hanya itu yang bisa dilakukan Hoshi saat mendengar nama lengkapnya keluar dari bibir Mingyu.
"Aku tahu bahwa kau sedang mabuk semalam, tapi aku tahu kalau kau tidak asal bicara."
Hoshi berdecih, ia memalingkan pandangannya. Menghindari tatapan Mingyu yang seakan memaksa untuk menembus jiwanya.
"Jangan bersikap seolah kau tahu segalanya."
"Aku memang tahu."
"Bagaimana jika yang ku ucapkan itu hanyalah sebuah kebohongan?"
"Tidak mungkin."
"Oh? Siapa bilang?"
"Aku."
"Percaya diri sekali."
"I know you more than I know myself."
"Omong kosong."
"Tatap aku saat aku sedang bicara," ucap Mingyu yang sudah mulai lelah dengan tingkah laku Hoshi.
"Sudahlah." Hoshi mencoba untuk menahan nada bicaranya agak tak meninggi, "Aku akui itu benar adanya, dan kau juga pasti tahu sendiri apa jawabanku. Mulai sekarang, jangan pernah membahas soal ini lagi."
"Kenapa?"
Lelaki yang lebih tua beranjak untuk meninggalkan meja makan, "Karena aku tak suka."
"Tapi aku suka, bagaimana?"
"Aku tak peduli. Tapi kumohon, jangan libatkan aku."
"Kau-"
"Ku anggap pembicaraan kita sudah selesai. Aku tak ingin mendengar apapun lagi mengenai hal itu. Ini sudah hampir jam delapan pagi, dan aku harus pergi ke kantor. Kau bisa simpan apa saja yang ingin kau katakan untuk dirimu sendiri," ucap Hoshi mengakhiri keributan kecil di antara dirinya dengan Mingyu.
Dengan berakhirnya percakapan tersebut, Hoshi berjalan menuju lemari dan mulai mengganti pakaiannya, sementara Mingyu sendiri kembali dengan kegiatan sebelumnya, membuat simpul pada dasinya.
Merasa terganggu dengan pemandangan tersebut, Hoshi yang sudah siap dengan kemeja yang dibalut dengan jas berwarna biru navy dan celana senada langsung saja menghampiri Mingyu.
"Biarkan aku yang melakukannya."
Tanpa permisi, putra sulung Keluarga Kwon itu mengambil alih pekerjaan tangan mantan kekasihnya.
Berada di jarak sedekat ini dengan Hoshi membuat Mingyu seakan kembali ke masa lalu. Dan sama seperti beberapa tahun yang lalu, ia hanya bisa diam sembari memandangi pemuda di hadapannya.
"Setelah kupikir lagi, mungkin dulu kau tak bisa memasangkan dasimu sendiri dengan benar itu bukan karena kau sedang sakit, tapi karena pada dasarnya kau memang tak bisa," ujar Hoshi sembari merapikan hasil karyanya.
"Terima kasih," gumam Mingyu.
"Iie, douitashimashite," yang lebih tua menggelengkan kepalanya pelan, "Bisa kita berangkat sekarang?"
"O-oh! Iya, iya. Bisa. Tapi tunggu sebentar, masih ada yang kurang."
Mingyu berjalan menuju lemari dan mengeluarkan sebuah coat, kemudian memakainya.
"Ayo berangkat," ucap Mingyu sembari menghampiri Hoshi yang sudah berdiri di depan pintu.
Hoshi bergeming. Tapi matanya sibuk memperhatikan penampilan Mingyu dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.
"Hey, kenapa diam saja? Jadi pergi tidak?"
"A-ah iya, jadi."
Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, Mingyu menutup pintu kamar tersebut. Kemudian pemuda dengan tinggi lebih dari 180 cm itu berjalan menuju lift, dengan Hoshi yang mengekor di belakangnya.
Sambil berjalan, Hoshi terus memandangi punggung mantan kekasihnya itu.
Tepat saat mereka berdua akan memasuki lift, Hoshi menyadari sesuatu, kenapa ia merasa pernah melihat coat itu sebelumnya?
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Akhirnya bisa update juga. Maaf updatenya lama TAT Terima kasih buat yang sudah mau membaca, juga buat yang meninggalkan review di chapter sebelumnya.
Mohon maaf apabila masih terdapat banyak kesalahan.
Oh iya, jangan lupa tonton MV barunya SEVENTEEN – Clap di official Youtube Channelnya mereka. Terus dukung SEVENTEEN juga ya, my co- carat!
Jangan lupa tinggalkan review ^^~ Saya menerima kritik dan saran yang bersifat membangun.
Sampai jumpa /o
