The Contradiction
.
.
.
.
.
Summary: (Sequel dari Moving On Isn't Easy) "As time goes on you'll understand. What lasts, lasts; what doesn't, doesn't. Time solves most things. And what time can't solve, you have to solve yourself." – Haruka Murakami.
Boys Love. B x B. Mingyu x Hoshi. MinSoon. SoonGyu. Moshi. GyuSoon. SEVENTEEN. AU. OOC
Semua tokoh di dalam cerita milik Tuhan, Orang tua, Keluarga, Pledis Ent, dan dirinya sendiri.
Jalan cerita milik saya. Mohon maaf apabila terdapat kesamaan dalam segi apapun. Bukan perbuatan yang disengaja
.
.
.
.
.
"Engkau harus terus mencurigaiku, sebab sebaik-baiknya aku padamu, bisa saja aku sedang berupaya keras mendapatkanmu kembali. Dan jika itu yang terjadi, bisa saja ini adalah sebuah surat cinta untukmu." – Puthut EA
.
.
.
.
.
.
Seoul, April 17, 2019. 20:30 PM KST
"Tadaima!" Ucap pemuda bernama lengkap Kwon Soonyoung itu begitu memasuki rumahnya.
"Okaerinasai!" Balas Ny. Kwon yang kebetulan sedang menonton TV di ruang keluarga.
"Bagaimana harimu, Soonshine?" ujar wanita paruh baya tersebut sembari menghampiri Hoshi dan membantu melepaskan jasnya.
"Cukup baik, Kaa-chan," Hoshi tersenyum sembari menggumamkan kata terima kasih, "Kaa-chan sendiri bagaimana?"
Ny. Kwon tampak bersemangat saat mendapatkan pertanyaan seperti itu, senyum merekah lebar di wajahnya,"Menyenangkan! Apalagi tadi drama Endless Love tayang di TV!"
"Ah, begitu?" Hoshi mengangguk turut bahagia mendengar jawaban sang ibu.
"Iya," wanita paruh baya itu mengangguk, "Sekarang lekas bersihkan dirimu, lalu kita makan malam. Kaa-chan sudah memasakkan makanan kesukaanmu."
Mendengar kata 'makanan kesukaanmu' otomatis membuat mata Hoshi berbinar, membayangkan rasanya saja membuat putra sulung Keluarga Kwon itu jadi lapar.
"Baiklah! Sebentar ya, Kaa-chan!"
.
.
.
Hoshi berjalan menuju meja makan masih dengan rambut hitamnya yang basah. Tidak begitu basah memang, tapi masih menyisakan air yang menetes dari ujung rambutnya.
"Cepatlah kemarin, Soonshine! Ayahmu sebentar lagi akan menyusul," ucap Ny. Kwon sembari melambaikan tangannya, meminta Hoshi untuk mendekat.
"Oh Otousaan sudah pulang?"
Ny. Kwon mengangguk.
Tak lama, sang kepala keluarga datang, diiringi dengan adik Hoshi di belakangnya. Kemudian keluarga kecil itu makan dengan tenang.
Begitu selesai, putra sulung keluarga itu langsung bergerak untuk membereskan sisa makan keluarganya. Sedangkan sang adik, setelah izin terlebih dahulu, kembali ke kamarnya karena ada suatu hal yang harus dikerjakan.
"Soonshine, kemarilah," ucap Ny. Kwon sembari menepuk bagian kosong di samping tempat duduknya.
"Hm? Ada apa Kaa-chan?"
Wanita paruh baya itu mengusap pundak Hoshi dengan lembut, "Jadi begini, Kaa-chan punya satu permintaan padamu." Entah kenapa, hal itu malam membuat perasaan putra sulung Keluarga Kwon itu menjadi tidak enak.
"Apa-"
"Ajaklah Mingyu untuk makan malam di rumah kita Sabtu malam nanti."
Deg
Saat kata demi kata keluar dari mulut sang ibu, waktu seakan berjalan lembih lambat bagi Hoshi.
'Dari sekian banyak orang, kenapa harus dia?' bathinnya nelangsa.
"Huh?" Dahi Hoshi berkerut tanpa ia sendiri sadari, "Dalam rangka apa, Kaa-chan?"
"Kerja sama perusahaan kita? Atau katakan saja, ini makan malam keluarga biasa," jawab Ny. Kwon dengan senyum sumrinngahnya, "Lagipula, ini sudah lama sekali sejak kami bertemu dengan Mingyu."
"Keluarga?" gumam Hoshi tak suka, "Dia tidak punya hubungan apapun dengan keluarga kita, Kaa-chan."
"Tapi dia mantan kekasihmu, kan?"
Tn. Kwon dengan secangkir teh hijau di tangannya, menimpali, "Dan juga, kalian pernah bersama, kan?"
Terdiam. Hoshi tak bisa mengelak, akhirnya ia hanya bergumam tidak jelas.
"Tapi Kaa-chan, Mingyu-"
"Ada apa lagi dengan Mingyu?"
"Tak bisakah gunakan cara yang lain? Tak perlu sampai mengundangnya makan malam bersama.."
"Sebenarnya bisa," Tn. Kwon mengerling pada sang istri, "Tapi menurutmu, selain makan bersama, apa yang bisa kita lakukan?"
Hoshi terdiam. Antara berpikir, atau tidak tahu harus menjawab apa.
1 menit
2 menit
3 menit
"Nah, kau sendiri bingung kan?"
Hoshi mengangguk lemah.
"Sudah, ikuti saja permintaan ibumu, ya?" Tn. Kwon menepuk kepala sang putra dengan halus.
"T-tapi Otousaan?"
"Ada masalah lain dengan itu?"
Lagi-lagi Hoshi menggelengkan kepalanya, "A-aku tak masalah dengan itu. Tapi apa Mingyu mau?"
"Kau takkan tahu sebelum mencobanya, Soonyoung-kun," putus kepala keluarga Kwon itu.
Karena tak ingin dianggap sebagai anak durhaka dengan terus menerus mendebat orang tuanya, maka Hoshi, dengan berat hati, menyetujui permintaan yang diajukan kepadanya.
"Hm- baiklah, akan ku coba nanti. Tapi, jangan marah padaku jika ia tak bisa ya?"
"Semoga berhasil!" sang ibu menyemangati.
Hoshi tersenyum kecut, "Terima kasih, Kaa-chan."
.
.
.
Kantor Kim Co., Ltd, April 18, 2019. 07:30 AM KST
Karena ada dokumen yang harus ditandatangani dan rapat yang harus dihadiri, Mingyu datang pagi sekali ke kantor, yang entah kebetulan atau bukan, Hoshi juga sudah berada disana.
"Selamat pagi, Soonyoung hyeong!" sapa Mingyu pada mantan kekasihnya yang terlihat sedang pura-pura sibuk membaca buku.
"O-oh?" Hoshi tersenyum kaku, "Se- selamat pagi, Mingyu-san!"
"Pagi sekali?" tanya Mingyu, basa basi.
"Hahaha iya. Begitulah." Kali ini pemuda yang bermarga Kwon tertawa sumbang kemudian menutup buku di tangannya, "Kau sendiri kenapa sudah datang? Rapat baru dimulai setengah jam lagi."
"Ada beberapa hal yang harus aku urus terlebih dulu."
Hoshi mengangguk-anggukkan kepalanya, "Oh begitu."
Setelah percakapan singkat itu, keduanya terdiam.
Hoshi sibuk merutuki keputusannya untuk datang lebih pagi, karena hal itu membuat dirinya kini terjebak di dalam ruangan dan keadaan yang kaku bersama Mingyu.
Dan Mingyu sendiri lebih memilih untuk bermain game online di ponselnya.
"Ano- Mingyu-san," ucap Hoshi memecah keheningan di antara mereka berdua, "Apa kau sibuk akhir minggu ini?"
Mingyu menolehkan pandangan ke arah Hoshi, kemudian menggelengkan kepalanya pelan, "Kurasa tidak. Kenapa memangnya?"
"Uh, bagaimana ya mengatakannya?"
"Mengatakan apa?"
"Itu-"
"Itu apa?"
"Uhm .."
"Ada apa Soonyoung hyeong?"
"Jika kau terus memotong ucapanku, bagaimana aku bisa menjelaskannya!?" protes Hoshi.
"Oh haha iya, maafkan aku." Kemudian Mingyu melirik jam yang tergantung di atas logo perusahaannya, masih ada sekitar 10 menit sebelum rapat benar-benar dimulai, "Jadi, sekarang katakan. Ada apa?"
Hoshi menolahkan kepala ke kiri dan ke kanan, memastikan jika tak ada orang yang memperhatikan percakapannya dengan Mingyu, kemudian ia menggeser duduknya dan berbisik, "Kaa-chan mengundangmu untuk makan malam di rumah."
Mingyu mendengus kasar, ia kira Hoshi akan mengatakan hal yang begitu penting, ternyata hanya undangan makan malam saja."
"Aku-"
Belum sempat lelaki yang lebih muda menyelesaikan kalimatnya, Hoshi sudah buru-buru menimpali, "Tapi jika kau tak mau, bukan masalah! Aku akan mengatakan bahwa kau sibuk."
Mingyu mengernyitkan dahinya, "Siapa bilang aku tak mau?"
Hoshi tahu bahwa Mingyu tak menuntut jawaban untuk pertanyaan yang baru saja dilontarkan, maka dari itu ia hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Katakan pada ibumu aku akan datang."
"O-oh, baiklah. Akan aku sampaikan."
Dan rapat dimulai tepat saat Hoshi menyelesaikan kalimatnya.
.
.
.
Kediaman Keluarga Kwon. 20 April 2019, 5:00 PM
Akhirnya waktu yang dijanjikan telah tiba. Dengan setelan kerjanya minus dasi, Mingyu datang memenuhi undangan makan malam keluarga mantan kekasihnya.
Meskipun kedua tangannya hampir penuh dengan barang titipan dari sang ibu untuk tuan rumah, putra sulung Keluarga Kim itu masih berusaha untuk mengucapkan salam dan mengetuk pintu.
"Selamat sore," ucap Mingyu, dalam hati berharap bahwa siapapun akan segera membuka lembaran kayu di hadapannya.
"Ah- Tuan Muda Kim," Seorang wanita setengah baya dengan senyum di wajahnya membuka pintu dan menyambut Mingyu dengan ramah, "Selamat datang! Silahkan masuk!"
"T-terima kasih Eomonim!" ucap Mingyu. Lalu, ia memasuki rumah yang bernuansa dark grey itu, "Oh iya ini ada sedikit titipan dari Eomma."
Ny. Kwon yang baru saja menutup pintu kini berjalan mendekat pada tamunya.
"Terima kasih, tapi ini pasti merepotkanmu ya?" bingkisan dari tangan Mingyu kini berpindah ke tangan ibu Hoshi, "Dan tolong sampaikan terima kasih pada kedua orang tuamu dari kami."
"Dengan senang hati, Eomonim. Nanti akan saya sampaikan," Mingyu tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan, "Sama sekali tidak merepotkan kok, Eomonim!"
"Baiklah," Ny. Kwon tersenyum hingga matanya membentuk bulan sabit, "Kalau begitu silahkan duduk dan beristirahat dulu, kau pasti lelah. Makan malam sudah hampir siap."
"Terima kasih, Eomonim," Pemuda yang baru saja menginjak umur 22 tahun beberapa hari yang lalu itu mengangguk.
Sejenak, pandangan matanya beredar. Tak banyak hal yang berubah di sini, hampir semuanya masih sama seperti beberapa tahun yang lalu. Dan Mingyu akui, hatinya menghangat, masih tetap hangat seperti dulu, ketika memasuki rumah ini.
"Oh? Sudah datang?" sebuah suara berat sukses menarik Mingyu untuk keluar dari dunianya sendiri, "Selamat datang, Tuan Muda Kim!"
'Mr. Kwon' gumamnya dalam hati.
Belum sempat Mingyu bergerak dari tempatnya berdiri, Tn. Kwon sudah datang menghampiri dan menjabat tangannya, "Terima kasih sudah memenuhi undangan kami."
"Saya yang seharusnya berterima kasih pada Abeonim karena sudah mengundang saya."
Tn. Kwon menggangguk, tersenyum lalu melepas jabatan tangannya, "Duduklah terlebih dulu, Soonyoung akan turun sebentar lagi."
"Terima kasih Abeonim."
Mingyu kemudian menempati sofa yang berhadapan langsung dengan TV yang kini sedang menayangkan sebuah acara musik. Sesekali ia menutup mata dan mengusap wajahnya kasar, bermaksud untuk mengurangi lelah yang dirasakan.
"Sudah kubilang, tak masalah jika kau tak bisa," Hoshi yang datang entah dari mana kini duduk di samping Mingyu dan mengusap-usap rambutnya, "Kau pasti kelelahan."
Sedangkan Mingyu lebih memilih untuk memutar posisi duduknya lalu memeluk Hoshi dari samping.
"Hm."
Dan Hoshi? Ia tersenyum maklum sebelum membalas pelukan sang mantan kekasih, "Sekarang kita makan dulu. Kau belum pernah makan masakan ibuku, kan? Rasanya enak!"
Dengan tidak rela, Mingyu melepaskan pelukannya pada Hoshi karena lelaki yang lebih tua itu kini sudah berdiri dan mematikan TV.
"Oh iya, Kaa-chan juga sudah menyiapkan teh ginseng, siapa tau bisa mengurangi rasa penatmu."
Untuk kesekian kalinya, Mingyu hanya bergumam lalu mengikuti Hoshi yang sudah berjalan ke arah ruang makan terlebih dulu.
"Nah, karena kalian berdua sudah datang, mari kita mulai saja makan malamnya." Ucap Tn. Kwon begitu melihat kedatangan sang anak beserta tamunya, "Duduklah dimanapun kau suka, Tuan Muda Kim."
Merasa baru saja mendapat lampu hijau, Mingyu memilih untuk duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Hoshi, "Terima kasih, Abeonim."
Setelah Ny. Kwon selesai membagikan makanan, mereka berdo'a lalu makan dengan tenang.
Hingga kemudian, Ny. Kwon melontarkan sebuah pertanyaan yang sepertinya akan mengubah jalannya makan malam ini.
Mingyu hampir saja tersedak.
Hoshi membulatkan matanya tak percaya.
Ah, ini pasti akan menjadi acara makan malam yang panjang.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Foot note:
Eomonim:Salah satu cara untuk memanggil ibu orang lain.
Abeonim: Salah satu cara untuk memanggil ayah orang lain.
.
.
.
Akhirnya bisa update juga. Maaf updatenya lama TAT Terima kasih buat yang sudah mau membaca, juga buat yang meninggalkan review di chapter sebelumnya.
Apabila masih terdapat banyak kesalahan di beberapa istilah yang berbahasa Korea karena saya baca dari website, saya mohon maaf.
Oh iya, jangan lupa tonton MV barunya SEVENTEEN – Thanks di official Youtube Channelnya mereka. Terus dukung SEVENTEEN juga ya, my co- carat!
Jangan lupa tinggalkan review ^^~ Saya menerima kritik dan saran yang bersifat membangun.
Sampai jumpa /o
