Two.

.

"Makasih, Say..."

"Sama sama, Yang..."

Jaehwan merebahkan dirinya di samping sang istri setelah kegiatan melelahkan mereka.

Mereka manggilnya memang 'Bapak-Mbak Sungwoon' kalau diluar kamar, tapi di atas ranjang berubah jadi 'Say' sama 'Yang'. Biar yang lain nggak cemburu aja.

"Yang..."

"Hmm?"

Sungwoon memiringkan tubuhnya, memeluk Jaehwan dari samping. "Gimana kalau aku, Ponyo, sama Nyai hamilnya bareng-bareng aja?"

Ide bagus!

Tapi...

"Biayanya berat kalau sekali langsung tiga. Belum kalau ada yang kembar. Apalagi kalau ada triplet. Bisa jual kolam aku."

Iya sih.

"Kan ada BPJS, Yang," Sungwoon mengingatkan.

"Susunya?"

"ASI dong."

"Popoknya?"

"Popok mah murah, kea orang susah aja. Aku tau, tabunganmu banyak."

"Tau dari mana?"

"Ya tau. Masa istri ngga tau tabungan suami?"

Jaehwan mengelus pelan punggung Sungwoon yang masih polos. "Nanti deh kupikir-pikir dulu."

"Ih pake pikir-pikir." Tangan nakal Sungwoon bergerak turun dari perut menuju ke benda pusaka Jaehwan yang telah tertidur. Diurutnya pelan hingga kembali menegang.

"Say... Akh... Tanggung jawab udah bikin dia bangun lagi." Jaehwan memeluk erat tubuh Sungwoon yang hanya terkikik sambil terus memainkan batangnya.

"Males ah, udah ngantuk, mau tidur." Sungwoon menarik tangannya ketika milik Jaehwan sudah berdiri tegak.

"Ih, nggak bisa gitu dong, Sungwoon sayang." Jaehwan mendorong tubuh Sungwoon dan memposisikan dirinya di atas sang istri. "Aku bakal main lebih kasar dari yang tadi."

Si bapak kembali menciumi leher Sungwoon yang sudah penuh dengan bercak ungu hasil dari permainan mereka sebelumnya. Tangan kanannya memainkan nipple Sungwoon sementara tangan kirinya ada di bawah bantal.

"Akh... Jaehwanku sayang... ayo masukin aja langsung."

"Udah kebelet banget ya, Say?" goda Jaehwan.

"Kamu juga kan. Udah gede banget tuh." Sungwoon melirik ke arah selatan tubuh manusia di atasnya.

"Haha... Kan gara-gara kamu ini, sayang..."

"Akh! Jaehwan!" Pekik Sungwoon ketika tanpa aba-aba Jaehwan kembali menjebolnya. Sungwoon sudah lupa kalau kamarnya berada diantara kamar dua istri Jaehwan lainnya yang sudah dipastikan dapat mendengar dengan jelas teriakan dan desahannya. Karena Sungwoon sendiri juga sering mendengar suara desahan Ponyo di kamar sebelah.

"Ah... Sungwoon, sempit banget kamu..."

"Punya kamu yang gede banget makanya sempit."

"Eungh... Enak, Say... Iya, gitu... Ah..."

Sungwoon terus menggerakan pantatnya mengimbangi gerakan yang diatasnya, sementara kedua kakinya ia kalungkan di punggung Jaehwan.

Jaehwan menggigiti collarbone Sungwoon guna meredam desahannya. Nggak banget kan kalo Ponyo sama Nyai denger dia ngedesah lebih keras dari Sungwoon.

Di kamar sebelah...

"Duh ini headset dimana ya? Biasanya nongol mulu, ini dicariin nggak ketemu-ketemu," gerutu Jisung sambil bongkar lemari nyari headset buar sumpel kuping biar ga panas dingin denger desahannya bapak x sungwoon di kamar sebelah.

Udah dia betah-betahin dari tadi pura-pura gadenger, tapi mereka ga selesai-selesai, bisa khilaf minta disemein Ponyo ntar Jisung kalo ga kuat. Kan bahaya.

"Nah, ini!" Jisung langsung masang tu headset ke kuping, disambung ke hape terus nonton First Encore Appearance yang bawain lagu Shape of You sambil tiduran di ranjangnya.

Di kamar yang lainnya...

Ponyo tidur awal malam ini, jam tujuh kurang udah merem istri pertama Jaehwan ini. Tau dia kalo bakal rame banget bapak sama sungwoon, udah biasa. Jadi ya daripada baper atau parahnya ikutan sange ya tidur awal aja, kan ponyo kalo udah tidur pules nggak bangun-bangun.

Gawat kan kalo dianya ikut sange, masa mau gabung jadi trisam, enak di si bapak ntar.

Kembali ke kamar tengah...

"Hah... capek banget gila..." Sungwoon tepar setelah tiga ronde tambahan bersama si bapak, total jadi lima ronde malam ini. Kuat banget emang si bapak.

"Salah sendiri. Kamu yang mulai kan, nakal." Jaehwan menyentil pelan pucuk hidung Sungwoon, gemas.

"Mumpung kamu disini, kan kita bobo bareng cuma tiga hari sekali." Sungwoon memeluk dan membenamkan wajahnya di dada polos Jaehwan.

"Ya gimana, kan istriku tiga. Apa mau bobo berempat tiap hari, jadi satu?"

"Ih berempat, enak di kamu dong?"

"Hahaa..."

Mereka terdiam selama beberapa saat dalam posisi masih saling memeluk.

"Yang..."

"Hmm?"

"Aku kangen Justin."

"Anak kamu?"

"Iyalah, masa Justin Bieber?"

"Kapan-kapan kita kesana ya."

"Kapan?"

"Kapan-kapan kalo ada waktu."

"Dari dulu bilangnya gitu terus, sampe setahun nggak kejadian kita nemuin Justin." Sungwoon mempoutkan hibirnya.

"Jangan gitu ih, aku udah capek." Jaehwan memukul pelan bibir itu dengan jarinya.

"Denger-denger dari tetangga disana sih Justin mau dibawa sini sama Mas Tae."

"Oh ya? Bagus dong."

"Tapi masih lama, besok kalo kenaikan kelas, kalo Justin uda SD."

"Bentar lagi, ga sampe setahun."

Sungwoon diem. Kangen banget doi sama anak semata wayangnya.

"Udah yuk bobok, udah malem."

"Heum... Nite, Yang..."

"Nite, my Seungwoon..."

Jaehwan mengulurkan tangannya mematikan lampu kecil di atas nakas samping tempat tidur.

"Saranghae...," bisiknya tepat di depan telinga Sungwoon.

.


"Bapak sama Sungwoon hot banget ya semalem, bokep impor kalah deh." Jisung melirik Jaehwan dan Sungwoon yang tengah duduk berdua nonton Metr*o Pagi.

"Ih Nyai kok nguping?"

"Emang kedengeran ya?" tanya Sungwoon panik, malu kan.

"Banget!"

Sebel Jisung tu, iri sih lebih tepatnya.

"Nanti malem sama saya loh, Pak, awas aja kalo Bapak malah ketiduran lagi di sofa."

"Iya, iya, tenang aja. Udah sarapannya?" Jaehwan mengalihkan pembicaraan.

"Udah ini, tinggal nata ke meja aja."

"Mbak Sungwoon bantuin Nyai sana, Bapak mau bangunin Ponyo dulu. Jangan lupa TV nya dimatiin, hemat listrik."

Jaehwan ke kamar istri pertamanya yang belom keluar kamar dari tadi, kemungkinan belom bangun.

"Bae... baebii po...," panggil Jaehwan sambil buka pintu kamar Ponyo.

Ranjangnya kosong dan udah rapi. Berarti Ponyonya udah bangun.

Jaehwan noleh ke kamar mandi dalem kamar yang pintunya ada persis di sebelah kanan pintu kamar. Lagi gosok gigi rupanya.

"Sarapannya udah tu."

Ponyo rapiin sikat gigi sama odolnya. "Ya, bentar, poles poles dulu dikit biar nggak buluk."

"Kamu kapan sih keliatan buluk? Cantik gini." Jaehwan nyusul masuk ke kamar mandi terus duduk di toilet, tapi nggak mau poop.

"Hun, kapan ya aku bisa masakin kamu kea waktu pacaran dulu?"

"Ya masakin aja..."

"Tapi aku maunya masak buat kamu aja. Kita berdua aja."

Jaehwan ngerti maksud Ponyo. "Sungwoon pengen nengok anaknya, nah pas itu kan kita berduaan aja."

"Nyai?" Ponyo mulai ngolesin krim vitamin C ke mukanya.

"Nyai mah gampang, ntar aku suruh dia beli tempe di Ujung Kulon."

"Kamu sih pake poligami segala."

Jaehwan bangkit dan meluk tubuh kurus istri pertamanya dari belakang. "Udah jangan bahas itu, kan kamu juga setuju. Nanti sebelum ke kolam aku beli tiket buat Sungwoon."

"Pesen online aja kali, lebih murah, ada cashback nya lagi."

"Ya udah kamu aja yang pesen."

"Pesen sendiri sana pake hape aku, kalo aku yang pesen tiket baliknya aku beliin buat yang taon depan."

"Iya... Habis makan aku pesen."

Jaehwan mengendus-endus ceruk leher Ponyo. Menghirup wangi tubuh khas cinta pertamanya ini. "Bae..."

"Napa? Mau ngawinin Bae Jinyoung juga?"

"Boleh?"

"Bae Jinyoung nya mau sama kamu emang?"

"Dicoba dulu boleh."

"Dasar kerdus!"

Fyi, Jinyoung tu anaknya Pak RT sama Bu RT yang rumahnya cuma sebrangan sama rumah mereka. Jaehwan kepleset ae nyampe ke rumah Jinyoung.

"Bae, main yuk... katanya kalo pagi kemungkinan jadinya lebih besar."

"Mbak Sungwoon sama Nyai gimana? Nungguin kan mereka."

"Kamu siap-siap aja, aku kasi tau mereka." Jaehwan nglepasin pelukannya buat ngasi tau dua istri lainnya yang udah nunggu di meja makan. "Mbak, Nyai, makan aja duluan, bapak sama ponyo ada urusan sebentar."

"Lah, pak, kan jatah saya hari ini," protes Nyai Jisung.

"Ealah, nggak puas to pak semalem lima ronde sama saya?" Sungwoon jatuhin kepalanya ke meja makan.

Si bapak nggak denger, dia udah ngacir masuk kamarnya ponyo.


Sungwoon buru-buru packing baju sama barang-barang yang mau dia bawa ke kampung. Si bapak sih dadakan banget, jam tiga sore ngasih tiket kereta api buat besok pagi jam delapan.

Seneng sih Sungwoon, udah kangen to the max dia sama anaknya. Setahun lebih nggak ketemu. Sejak Sungwoon sama Taehyun cerai Justin emang dititipin di rumah orang tuanya Taehyun di kampung, soalnya Sungwoon langsung uda ada gandengan baru, takut nggak keurus Justinnya. Kebetulan Sungwoon sama Taehyun sekampung juga, temen dari kecil, gede bareng, saling jatuh cinta, pacaran, nikah muda. Belom genap empat tahun nikah, muncullah seorang PHO bernama Kim Jaehwan diantara mereka dan mengubah segalanya.

"Mbak, mau beli oleh-oleh buat ayah sama ibu nggak?"

"Ha?" Sungwoon kaget, lagi asyik-asyiknya packing sambil ngelamun tau-tau si bapak udah ada di bekakangnya.

"Kalo mau beli oleh-oleh ayo, ntar keburu tutup tokonya."

"Boleh deh." Sungwoon make jaketnya. "Yuk... Udah jam tujuh lebih nih." Dia ngikutin Jaehwan yang udah jalan duluan keluar kamar.

Mereka pergi berdua aja, naik CBR special edition hitamnya bapak yang jarang banget dipake. Berasa kea anak muda lagi pacaran mereka.

"Peluk dong, Say..."

Malu-malu Sungwoon meluk pinggang Jaehwan. Dadanya nempel ke punggung Jaehwan karena posisinya Sungwoon lebih tinggi agak nungging gitu.

"Habis beli oleh-oleh mampir makan sate ya?"

"Kan udah makan tadi, tambah gendut ntar aku."

"Gapapa, enak gendut, empuk anget." Tangan kiri Jaehwan ngelus tangan Sungwoon yang ada di perutnya.

Mereka berhenti di pelataran toko oleh-oleh.

"Nggak usah banyak-banyak," bisik Sungwoon ke Jaehwan yang udah ngambil keranjang.

"Banyak juga gapapa, biar semua kebagian."

"Males bawanya lah. Berat."

Jaehwan bawa keranjang pake tangan kiri, tangan kanannya ngerangkul pinggang Sungwoon. "Justin sukanya apa?"

"Rambak cakar sukanya, sama kaya aku."

"Ya udah, beliin, yang banyak." Jaehwan ngambil lima bungkus besar rambak cakar dari rak dan ditaroh di keranjangnya. "Apa lagi?"

"Apa ya? Hmm..."

"Ayah ibu sukanya apa?"

"Apa aja deh, pasti dimakan kok."

Mereka disana nggak lama, asal ambil-ambil aja sekeranjang penuh terus pulang. Takut kehabisan sate.

"Lah ini bawanya gimana kalo makan sate?" Bingung Seungwoon sambil bawa kerdus oleh-olehnya.

"Balikin rumah aja dulu."

Akhirnya mereka balik dulu, naroh tu oleh-oleh terus buru-buru pergi lagi sebelum ditanyain Ponyo atau Nyai. Kalo ada yang ikut kan nggak asik.

Sepanjang perjalanan Sungwoon terus meluk si bapak, nyenderin kepalanya di punggung Jaehwan.

"Udah nyampe, Say..." Jaehwan nepuk-nepuk punggung tangan Sungwoon di peritnya.

"Eh? Udah ya? Cepet banget. Nyaman sih punggung kamu." Sungwoon turun dari boncengan motor Jaehwan dan ngelepas helmnya.

"Ponyo juga bilang gitu..."

Sungwoon cemberut terus langsung masuk ke tenda warung satenya. Sebel. Lagi berduaan malah ngomongin Ponyo.

"Ih ngambek." Jaehwan nyolek pinggang Sungwoon.

"Nggak."

"Nggak ngaku. Mau berapa ini satenya? Makan dulu aja, ngambeknya ntar di rumah."

"Dua puluh lontong tiga!"


Tbc