Now, You Know Me
Cast :
Oh Sehun ( 25 Tahun )
Xi Luhan ( 21 Tahun )
Do Kyungsoo ( 23 Tahun )
Wu Zitao ( 28 Tahun )
And others
.
.
WARNING : This is GS ( GenderSwitch )
TYPO, EYD, DLDR!
RATED : T - M
.
.
Summary :
luhan gadis biasa yang memiliki sifat ceria dan ceroboh harus berhubungan dengan laki-laki kaku nan dingin yang tak mempercayai akan cinta itu ada. Laki-laki dengan usia muda yang mampu meraih kesuksesan dengan kerja kerasnya sendiri bernama sehun tak mengenal akan kebaikan seseorang secara cuma-cuma, menganggap semua orang sama buruknya, dan hanya menatap derajat dan seberapa kaya orang itu.
.
.
Chapter 2 : New life or You, Again?
Happy Reading ^^
.
.
"sehunniee, kau pulaaang? Akhirnyaaa" teriak zitao girang ketika sehun kembali pulang kerumah. Zitao yang sedang bersantai dan berbincang bersama halmeoni, sedangkan anak kesayangannya zifan sedang bermain robotnya kaget mendengar teriakan eommanya itu membuatnya ikut berdiri ketika ahjussi kesayangannya disebut oleh eommanya.
"samchoon! Zifan merindukan samchon.." zifan berlari menuju sehun sambil merentangkan tangannya tanda minta digendong, ketika melihat permintaan keponakan kesayangannya itu, sehun langsung menggendong dan memeluk zifan. Melihat zifan dan sehun berpelukan membuat zitao dan halmeoni tersenyum senang melihat moment itu.
"samchon kemana saja? Kenapa baru pulang sekarang?" ujar zifan sedih. Melihat wajah sedih zifan membuat sehun menahan tawanya,
"wae? Kau begitu merindukan samchon?" zifan mengangguk meng-iyakan pertanyaan ahjussinya membuat sehun semakin menyayangi keponakannya ini. Sehun segera mencium sayang pipi keponakannya itu.
"maafkan samchon ya, kemarin samchon sangat sibuk di perusahaan hingga tidak bisa pulang. Zifan mau memaafkan sehun samchon?" zifan kembali mengangguk,
"pokoknya samchon harus bermain lagi bersama zifan yaa.." sehun kembali mencium sayang zifan karena gemas melihat keponakannya ini,
"ya, kembalilah bermain sekarang, samchon mau mandi dan mengganti baju samchon." Sehun segera menurunkan zifan dari gendongannya, dan zifan berlari kembali ke karpet untuk melanjutkan mainannya bersama robotnya.
Sehun menuju kamarnya berusaha tak memperdulikan kakak dan halmeoninya yang sedang melihatnya melewati mereka berdua hingga ucapan halmeoni kembali menghentikan jalannya.
"kau pulang? Sudah menemukan pasangan yang cocok?" sebelum sehun membalik tubuhnya, zitao segera menyela sebelum sehun kembali marah.
"halmeoni cukup! Biarkan sehun dengan hidup sesuka hatinya jangan dipaksakan. Cukup halmeoni." Jawaban zitao membuat halmeoni menghela nafas sebal. Zitao segera menghampiri adiknya, berusaha membantu sehun melepas dari yang melekat pada leher adiknya itu.
"noona tau kau lelah, lebih baik masuk kamarmu, ne? ucapan halmeoni tak perlu dihiraukan. Noona yang akan berbicara pada halmeoni lagi," sehun mengangguk mengiyakan perkataan kakaknya.
"mau noona siapkan air hangat dulu sebelum mandi?" Tanya zitao setelah berhasil mengambil alih dasi adiknya itu.
"tak perlu noona, biar aku melakukannya sendiri, aku kembali kekamar sekarang." Sehun langsung melesat masuk kedalam kamarnya tanpa melirik neneknya sedikitpun. Hatinya masih kesal karena kejadian hari ini dan perkataan neneknya menambah bad mood sehun saja.
Zitao segera membalik badan berjalan kembali ke sebelah neneknya seperti tadi,
"halmeoni tak seharusnya berkata seperti itu, halmeoni tau kan sehun anak yang paling tidak bisa dipaksa. Biarkan saja apapun yang terjadi nanti.."
"halmeoni kan hanya memikirkan nasib adikmu, umurnya sudah cukup untuk membina rumah tangga kan.." nenek zitao dan sehun menghela nafas sedih memikirkan cucu satunya yang tidak bisa diatur ini.
"ya zitao tau, tapi biarkan saja sehun seperti ini, halmeoni tau kan traumanya sehun masih belum hilang sampai sekarang." Ujar zitao sedih apabila mengingat kejadian masa lalunya yang menyedihkan baginya dan sehun. Tapi mau bagaimana lagi, itu masa lalu dan sekarang masa depan.
Sehun menggeram marah ketika mengingat kembali perkataan neneknya itu, sambil berusaha melepas kancing kemejanya itu, sehun berusaha melempar barang yang ada didekatnya. Sehun bila sudah marah memang tak terkendalikan.
"apa? Menikah? Haha, untuk apa menikah?" gumam sehun dengan berusaha menahan emosinya.
"tidak, aku tidak akan menikah sampai kapanpun. Cukup one night stand saja, aku tak perlu janji-janji busuk yang memuakkan itu. Aaarrghh." Teriak sehun.
Zitao dan halmeoni yang mendengar suara barang jatuh dari kamar sehun disusul dengan teriakan sehun membuat zitao berlari menuju kamar sehun disusul dengan halmeoni yang sudah tidak bisa segesit zitao untuk melihat keadaan sehun.
"yaakk! Oh sehun? Kau baik-baik saja didalam?" zitao yang sedang berusaha menggedor pintu kamar sehun agar sehun menjawabnya.
"yaakk! Oh sehunn?! Jawab noona dari luar? Ada apaa?" masih berusaha menggedor pintu kamar sehun, nenek sehun dan tao sampai kedepan kamar sehun.
"tao-ie, bagaimana keadaan sehun?" Tanya halmeoni yang takut dengan keadaan cucunya didalam kamar.
"tak tau halmeoni.. sehun tak menjawab gedoranku.." jawab zitao sedih.
"halmeoni.. bagaimana ini? Sehun bagaimana..?" ketika halmeoni hendak membalas lontara zitao, pintu kamar sehun terbuka.
"noona…" ujar sehun dengan terengah dan langsung memeluk zitao seperti hendak menangis.
"noonaa.. aku tidak tau apa yang terjadi denganku.." zitao yang langsung membalas pelukan adiknya itu tak tega melihat keadaan adik kesayangannya ini.
"tak apa sehunnie, noona ada disini. Kami tak akan membahas yang tadi, ok? Tak perlu dipikirkan, ya.. lebih baik kau mandi dan tenangkan pikiranmu. Istirahatlah. Noona akan membuatkan makan malam untuk kita." Sehun mengangguk mendengar perkataan noonanya itu. Dan halmeoni yang menatap iba cucunya yang masih terbayang dan belum bisa melupakan traumanya membuat nenek tersebut mengelus sayang kepala cucunya ini.
"maafkan halmeoni ya hun.. halmeoni tak akan membahasnya lagi, halmeoni berjanji." Sehun tak membalas perkataan neneknya hanya diam dan melepas pelukan dengan kakaknya itu.
"mandilah sana, bersihkan tubuhmu dan istirahatlah. Nanti noona akan meminta ahjumma membersikan barang-barangmu yang jatuh ketika kau mandi dan meminta ahjumma juga memanggilmu untuk turun dan makan malam bersama." Anggukan sekali lagi sebagai jawaban sehun atas pernyataan kakaknya.
Zitao langsung menghadap neneknya dan memohon, "halmeoni, jangan bahas lagi masalah pernikahan ya.. tao tak tega melihat sehun seperti itu.."
"ya maafkan halmeoni, aku tak akan membahas masalah itu lagi. Ayo memasak untuk makan malam." Zitao mengangguk.
"ya halmeoni, ayo. Sebelum yifan-ge pulang dari rumah sakit."
"oh ya, kapan yifan pulang?"
"aku tak tau, tapi yifan berkata hari ini akan pulang. Entah akan tiba jam berapa." Zitao dan halmeoni melanjutkan perjalanan mereka ke dapur.
Perlu kalian tau, sehun adalah anak kedua dari dua bersaudara yaitu oh zitao yang sudah mengganti marganya menjadi wu zitao dan oh sehun. Wu zitao merupakan kakak satu-satunya sangat sehun sayangi. Mereka kehilangan orang tuanya saat zitao berusia 18 tahun dan sehun yang berusia 15 tahun. Mereka harus kehilangan orang tuanya karena ayahnya yang berselingkuh dengan wanita lain membuat eomma mereka stress dan mencoba menghilangkan nyawanya yang selalu gagal.
FLASHBACK
Eommanya yang berusaha lari dari rumah ketika sehun pulang dari sekolah, melihat eommanya pergi meninggalkan rumah dengan tangisan yang menyesakkan hatinya membuat sehun mengejar eommanya. Tetapi ketika sampai didepan rumah, terdapat kerumunan orang membuat sehun berusaha menerobos kerumunan itu. Dan kalian tau apa yang dilihatnya?
Eommanya tertabrak mobil, tergeletak dijalan dengan mobil yang menabraknya sudah hilang kabur pergi yang sehun tak perdulikan, yang hanya dipandangannya adalah eommanya yang tergeletak dengan darah yang mengucur dimanapun dijalan membuatnya langsung berlari memeluk eommanya. Tak ada orang yang berusaha membantunya, hanya melihatinya menangisi eommanya. Hingga ada seseorang yang membantunya menelponkan ambulan, saat ambulan itu tiba ternyata nyawa eommanya sudah diangkat ke atas sana membuat sehun sangat menyesali mengapa ia tak menahan eommanya salah eommanya hendak pergi meninggalkan rumah.
Sejak saat itu sehun sangat membenci ayahnya, ia tau bahwa setiap hari orang tuanya bertengkar tapi ia selalu berusaha tak memperdulikannya. Dan karena kejadiaan itu, ayahnya juga berusaha membunuh nyawanya merasa bersalah harus ditinggalkan istrinya. Ayahnya sangat menyesal akan kejadian yang telah berlalu tapi apa daya, anaknya yang ia besarkan sekarang sangat membencinya dan ia tau itu. Ketika makam ayahnya, sehun tak ingin mengunjungi makam itu, biarkan seperti itu atau sehun akan dengan sangat marah akan mengobrak-abrik makam ayahnya sendiri seperti orang kesetanan.
Setiap tahun, ketika noonanya mengaja mengunjungi makam orang tuanya, sehun akan dengan tegas menolak melakukan hal itu, sekalipun itu makam kedua orang tuanya yang membesarkannya dan kakaknya tapi sehun memilih untuk tak mendatangi makamnya saja. Hingga sekarang sehun masih trauma dengan apa yang dinamakan cinta karena yang ia tau tak ada cinta yang iklas ia dapatkan kecuali dari keluarganya saja. Terutama noonanya.
Sehun menganggap bahwa semua orang hanya memikirkan uang sebagai kebahagiaan mereka tanpa memikirkan perasaan orang tersebut. Semuanya dapat dibeli dengan harta bagi sehun bahkan termasuk harga diri wanita juga bisa sehun dapatkan dengan uang mengapa harus memikirkan janji pada Tuhan itu? Tuhan yang membuat ia kehilangan eommanya dan semua yang sehun dapatkan adalah hasil kerja kerasnya selama ini.
FLASHBACK OFF
.
.
"kyung! Ada surat untukmuu!" teriak ahn ahjumma dipagi hari seperti biasa.
"ya ahjumma?" kyungsoo yang merasa namanya dipanggil segera keluar dari kamarnya. Hari ini adalah hari jumat waktunya ia kembali bekerja ke kafe. Kyungsoo menghampiri ahn ahjumma yang memegang surat yang ditujukan padanya.
"ini ada surat untukmu, dari Kim Corp. Seoul? Kau melamar pekerjaan ke sana?" kyungsoo yang hanya menggigit bibirnya takut apabila ahn ahjumma menolak dan tak merestui jika ia melamar pekerjaan ke seoul.
"hng…" kyungsoo hanya menunduk takut.
"kyung..? jawab ahjumma sayang." Ahn ahjumma yang mengelus kepala kyungsoo sayang. Masih belum mendengar suara jawaban kyungsoo, ahn ahjumma segera menarik kyungsoo untuk keruang tengah membicarakan hal ini.
Mereka berdua sudah duduk di sofa tapi kyungsoo yang masih belum berani menjelaskan mengenai hal ini sampai luhan keluar dari kamarnya, siap untuk berangkat bekerja. Tetapi ketika melihat eonni dan ahjumma kesayangannya duduk di sofa bukan diruang makan seperti biasa membuat luhan menghampiri mereka berdua.
"ada apa ini?" intrupsi luhan ketika ahn ahjumma sedang berusaha mengajak kyungsoo mengobrol. Segera ahn ahjumma tunjukkan surat yang datang pagi ini untuk kyungsoo.
"eonni.. kau diminta mendatangi Kim Corp. untuk di interview di Seoul…?" Tanya luhan tak yakin dan hanya anggukan kecil tak berani yang luhan terima.
"sebenarnya jelaskan pada kami kyung, ada apa ini sayang?"
"hngg.. itu.." kyungsoo yang tak berani menatap adik dan bibinya itu hanya menggenggam tangannya takut masih belum berani juga menjelaskan. Luhan paham jika kakaknya tak berani menjelaskan hingga ia langsung duduk disebelah kyungsoo dan menggenggam tangannya. Mengatakan bahwa kyungsoo tak apa menjelaskan hal ini. Kyungsoo yang melihat mata luhan meyakinkan akhirnya membuka suaranya.
"sebenarnya itu.. beberapa hari lalu ketika sedang dikafe.."
FLASHBACK
Kyungsoo yang sedang membersihkan jendela sebelum kafe dibuka mendengar teman tempat kerjanya sedang menggosip seperti biasa. Biasanya kyungsoo tak akan tertarik bila membahas hal yang tak penting tetapi kali ini kyungsoo ikut menguping.
"kau tau.. tadi aku melihat dikoran hari ini bahwa Kim Corp sedang membuka lowongan pekerjaan bagian staff pemasaran, aku ingin mencoba mengirim CV-ku, tapi kau tau kan aku tak bisa meninggalkan eomma sendiri disini." Ujar minah sedih.
"benarkah? Bagaimana jika aku mencoba mengirim CV-ku kesana?" Tanya minzy mencoba meminta izin pada minah yang sudah menemukan lowongan itu di koran.
"cobalah, siapa tau kau berhasil minzy-ah.." ujar minah memberi dukungan pada minzy.
Kyungsoo yang mendengarkan hal itu juga tertarik untuk mencoba. Diam-diam kyungsoo membuat CV-nya, dan berusaha meminta izin kepada minseok pura-pura membeli obat pusing padahal ia sedang berusaha mengirimkan CV-nya lewat pos. Pikirnya hanya mencoba-coba apa salah dari pada tidak mencoba sama sekali.
FLASHBACK OFF
"ahh.. Jadi waktu kau meminta izin pada minseok untuk membeli obat pusing itu ternyata ingin mengiri CV-mu itu.. Jelas saja kau tak ingin aku antar waktu itu.." luhan men-pout kan bibirnya lucu membuat kyungsoo tertawa dan gemas untuk mencubit pipinya. Padahal luhan sebal sungguhan.
"akhh, sakit eonnii!" ujar luhan dengan berusaha melepaskan tangan sang kakak dari pipinya. Ahn ahjumma yang berusaha meleraikan guyonan kedua anaknya itu berusaha membuat situasi serius sekarang.
"sudah, sudah. Kyung.." kyungsoo yang langsung menoleh pada bibinya dan kembali menundukkan kepalanya takut itu membuat luhan ingin tertawa tapi berusaha ia tahan.
"kau tau, itu tempatnya di seoul sayang. Akan bagaimana kau disana?"
"aku belum tahu ahjumma.. tapi jika aku bisa diterima disana.. aku ingin bekerja disana, aku ingin mencari pekerjaan yang lebih banyak gajinya dari sekarang, dan aku rasa tabunganku juga sudah lumayan cukup untuk mencari tempat tinggal disana."
"ini bukan masalah tempat tinggal atau sebagainya sayang, ini tentang dirimu yang akan disana seorang diri kyung.. ahjumma tak bisa membiarkanmu hidup di seoul seorang diri.. kau tahu kan seoul kota besar, bagaimana nasibmu nanti..?"
"aku belum memikirkannya ahjumma.. kemarin aku hanya berpikir untuk mencari pekerjaan yang lebih baik lagi untuk kita.." ujar kyungsoo ingin menangis.
"bagaimana caranya kau interview nanti sayang saat disana?"
"aku akan berangkat pagi-pagi ahjumma dan akan langsung pulang, ahjumma tau kan kalau seoul dan bucheon tidak terlalu jauh jaraknya. Aku ingin mencoba mengambil pekerjaan ini ahjumma jika aku bisa diterima disana.." mohon kyungsoo.
"ahjumma.. kita bisa kan ikut kyungsoo eonni pindah ke seoul?" ujar luhan menengahi kyungsoo dan ahn ahjumma yang sedang berbicara.
"apa? Kau ikut ke seoul? Tidak perlu lu, kau dan ahn ahjumma disini saja.. biarkan aku diseoul sendiri. Setiap minggu aku akan pulang kesini.."
"tidak eonni, itu akan sangat melelahkan. Ayo bekerja di seoul bagaimana? Yah ahjumma..? aku juga ingin mencari pekerjaan di seoul.. aku akan mencari pekerjaan yang tetap juga di seoul? Dan ahjumma bisa membuka catering ahjumma di seoul, aku akan membantu promosikan masakan ahjumma.." mohon luhan.
"lu.. tak perlu, kau disini saja bersama ahjumma.."
"aniya eonni.. aku juga ingin mengikuti jejak eonni ke seoul.. ya ahjumma, ayolahh mencoba.. aku tak akan membiarkan kyungsoo eonni sendirian disana, tabunganku juga akan cukup menambahi biaya kita disana.." kyungsoo dan luhan yang menunjukkan raut memohonnya pada ahn ahjumma membuatnya tak kuasa menolak keinginan kedua anaknya ini.
"baiklah kita akan pindah ke seoul.. saat apabila kyungsoo diterima diperusahaan tempatnya bekerja.." ahn ahjumma mengakhiri kalimatnya dengan tersenyum, membuat kyungsoo dan luhan bersorak berdiri saling berpelukan dan menarik ahn ahjumma juga ikut berdiri dan berpelukan bersama..
Akan ada hari baru esok? Coba tebak..
.
.
"minseok eonni…" kyungsoo dan luhan yang tak kuasa menahan tangisnya karena kebaikan minseok yang merelakan mereka berdua untuk keluar dari kafenya.
"pergilah ke seoul kyung, lu, agar hidup kalian lebih baik aku ijinkan.." membuat kyungsoo dan luhan langsung memeluk minseok. Mereka sudah menganggap minseok seperti kakak sendiri, karena mereka bekerja bersama minseok sejak kafe yang minseok baru didirikan hingga seterkenal ini di bucheon. Setelah melepaskan pelukan itu, mereka berbincang-bincang sedikit diruang kerja minseok.
"kalau kau bagaimana lu? Kan kyungsoo sudah mendapatkan pekerjaannya di seoul, sedangkan kau dan ahn ahjumma belum mendapatkan pekerjaan lu.." minseok yang penasaran dengan nasib luhan disana.
"kalau aku.. belum tau eonni hehe, aku akan berusaha mencari pekerjaan disana. Semoga tabunganku cukup sampai aku mendapat pekerjaan di seoul." Minseok tersenyum lalu mengelus kepala kyungsoo dan luhan sayang, ia juga menganggap kyungsoo dan luhan seperti adiknya sendiri.
Minseok segera bergegas mengambil sesuatu dan memberikannya kepada luhan. "ini adalah kartu nama milik temanku yang ada di seoul. Katakan bahwa kau adalah teman kim minseok yang berasal dari bucheon." Ujar minseok sambil memberikan kartu nama kepada luhan.
"ZYX's Boutique?" Tanya luhan dan diangguki oleh minseok.
"meski aku tak yakin memberikanmu kartu nama ini karena bukan dibidangmu, dan juga aku juga tak yakin karena butiknya sangat besar tapi siapa tau kartu nama ini membantumu. Maafkan aku tak bisa membantumu lebih lu, kyung.. mungkin aku hanya bisa memberimu sedikit uang saku untuk kalian.."
"tidak eonni, kau membiarkan kami keluar dari kafemu saja kami sudah senang.." ujar kyungsoo dan disetujui oleh luhan.
"tak perlu eonni.. kami sangat berterima kasih kepadamu karena mau memberi kami pekerjaan selama ini.."
"kalian sudah aku anggap seperti adikku sendiri, terimalah, aku tidak bisa membantu kalian selain ini.. ku mohon ya.."
"gomawo eonni.. kami akan berusaha mengunjungimu nanti." kyungsoo dan luhan kembali memeluk minseok dan pergi meninggalkan kafe.
Minseok tersenyum melihat kepergian kyungsoo dan luhan, "sampai jumpa adik-adikku.."
.
.
Sekarang kyungsoo, luhan, dan ahn ahjumma yang sedang mengepak baju dan barang-barang yang akan mereka bawa ke seoul dengan menggunakan truck pengangkut barang.
"semua barang yang kau butuhkan sudah kalian bawa kyung? Lu?" Tanya ahjumma ketika mereka bersiap untuk pindah ke kota seoul.
"sudah semua ahjumma.."kyungsoo dan luhan mengangguk. Luhan segera memeriksa kalung liontin pemberian orang tuanya apakah sudah ia pakai atau tidak yang berada di lehernya itu nyatanya tak ada di lehernya.
"sebentar ahjumma.. liontionku, tunggu sebentar." Luhan langsung kembali masuk ke dalam kamarnya untuk melihat liontinnya seingatnya ia letakkan di mejanya sebelum mandi. Segera luhan pakai kalung liontin kesayangan pemberian orang tuanya itu,
"mama, baba, hari ini lulu akan pindah ke seoul, doakan lulu untuk segera mendapatkan pekerjaan ya.." gumam luhan dengan mencium sayang liontin itu dan segera pergi meninggalkan kamarnya yang ia tempati selama 6 tahun. Kamar yang mengetahui kerja keras luhan untuk bertahan hidup di Negara korea selatan itu.
"annyeong kamar kesayangan.." karena luhan tau, ia tidak akan bisa menggunakan kamar ini lagi nanti karena mereka tidak melanjutkan menyewa apartment ini.
"sudah ketemu lu?" Tanya kyungsoo yang melihat adiknya keluar dari kamar.
"sudah eonni, ayo berangkat." Jawab luhan sambil tersenyum memasuki mobil truck yang mengangkut ia dan keluarganya serta barang-barang mereka menuju seoul.
"selamat datang di seoul, selamat datang hidup baru.." ucap luhan dalam hati sambil menikmati perjalanan mereka.
…
"wahh kita sampaii.." ucap luhan senang dan segera membantu yang lainnya menurunkan barang, tak lupa ia menurunkan sepeda kesayangannya ia miliki dengan kyungsoo sejak junior high school itu dan memarkirkannya di parkiran apartment-nya tak lupa pula menggembok roda sepeda agar tidak hilang. Selanjutnya luhan membantu ahjumma dan kakaknya untuk berberes-beres di tempat tinggal mereka yang baru.
Ketika sedang berberes-beres, ahjumma bertanya.
"kyung, apakah tempat tinggal kita ini jauh dari kantor barumu?"
"sedikit ahjumma, tak perlu dipikirkan."
"kenapa tak mencari tempat tinggal yang dekat dengan kantormu?"
"aku tak menemukan sewa tempat tinggal yang semurah disini jika didekat kantor ahjumma.. tak perlu dipikirnya.. ayo lanjutkan beres-beresnya karena besok aku harus mulai bekerja."
"kau sudah memiliki pakaian yang layak untuk bekerja besok?"
"sudah ahjumma, aku menyempatkan belanja beberapa pasang baju untuk pergi kekantor."
"baiklah, ayo lanjutkan beres-beresnya kyung."
"yaa ahjumma." Mereka yang menata kamar masing-masing hingga selesai dan bersih semuanya. Mereka bertiga duduk bersantai diruang tengah yang sederhana tapi nyaman itu.
"eonni, besok eonni berangkat bekerja naik apa? Mau naik sepeda?" Tanya luhan.
"tidak, eonni akan naik bus saja. Kau yang gunakan sepedanya untuk mencari pekerjaan ya." Luhan mengangguk paham.
"besok eonni akan mulai bekerja?"
"ya lu, mulai hari senin eonni harus mulai bekerja. Kau bagaimana? Apa akan langsung mendatangi teman yang minseok eonni rekomendasikan?"
"tidak eonni, aku akan mencari pekerjaan dikafe dulu seperti dulu, jika tidak ada yang mau menerimaku, jalan terakhir adalah aku mendatangi teman minseok eonni."
"tak ingin bekerja di kantor seperti eonni?"
"aku tidak tahu, mungkin aku akan mencari lowongan pekerjaan di koran juga."
"minum dulu anak-anak, kalian pasti lelah setelah beres-beres."
"gomawo ahjummaa." Ucap girang kyungsoo dan luhan yang langsung mengambil gelas masing-masing untuk meneguk minumannya.
"eonni.. aku ingin melihat lembar penerimaanmu diterima kerja di kantormu..?"
"sebentar aku ambilkan dikamar." Setelah puas melihatnya, luhan kembali menyerahkannya pada kyungsoo.
"bagaimana rasanya diterima dikantor besar eonni?"
"tak tau.. eonni sangat senang, kau tau kemarin eonni bertemu dengan sajangnim di perusahaan tempat eonni bekerja."
"benarkah? Bagaimana ia? Tampan? Atau sudah tua?" ujar luhan malas.
"tua apanya, dia sangat muda dan tampan lu.." kyungsoo yang mulai menggosipkan atasannya itu tertawa senang mengingat sajangnimnya.
"ahh eonni.. aku iri kepadamu.." luhan yang menunjukkan wajah sedihnya lalu setelah itu mereka tertawa bersama akibat sesi menggosipnya itu.
"sudah.. sudah cukup menggosipnya.. ini sudah malam lebih baik kalian tidur, besok kalian harus mulai bekerja dan mencari pekerjaan." Ahn ahjumma yang mulai melerai anaknya untuk melanjutkan sesi menggosip itu menggeleng pelan lalu meninggalkan yang sudah dianggap seperti anak kandungnya sendiri itu. Membuat mereka bubar untuk masuk kedalam kamar masing-masing. Tempat tinggal mereka tidak seberapa mahal, tapi beruntungnya mereka menemukan tempat tinggal yang murah dengan tiga kamar tidur untuk masing-masing dengan single bed yang cukup nyaman bagi mereka untuk ditiduri.
.
.
Dilain sisi ketika beberapa hari lalu..
Tok! Tok! Tok!
"Permisi tuan.. ini beberapa CV yang masuk hari mengajukan diri mengisi staff pemasaran.."
"baiklah letakkan saja dimejaku." Dia yang sedang memperhatikan komputernya mengurus berkas yang lain. Hingga tanpa sadar menemukan amplop coklat yang dikirimkan melalui pos hari ini membuatnya tertarik untuk membuka CV yang dikirimkan itu.
"Do Kyungsoo..? hmm.." membuatnya penasaran akan sosok yang ia pegang CV-nya ini membuatnya langsung menghubungi sekretarisnya itu.
"Sulli-ssi, katakan pada ketua tim pemasaran untuk mengatakan kepadaku bila orang yang melamar kerja atas nama Do Kyungsoo datang kesini."
"baik tuan, akan saya sampaikan nanti." Langsung ia tutup telponnya membuat smirk penasaran.
Beberapa hari setelah permintaannya itu,
"permisi tuan, ketua tim pemasaran menghubungi saya bahwa do kyungsoo hari ini datang mengikuti sesi wawancara."
"terima kasih sulli-ssi, kembalilah bekerja." Berdasarkan perintah, sang sekretaris mengangguk melaksanakan perintah yang diterima segera meninggalkan ruangan atasannya itu.
Setelah mendapatkan kabar dari sekretarisnya, ia segera berdiri untuk melihat sosok yang membuatnya penasaran itu. Entah bagaimana tapi hanya melihat foto yang dikirimkan membuatnya penasaran bagaimana sosok do kyungsoo itu.
Pemilik Kim Corp. itu menghampiri ruangan pemasaran, dan melihat seorang gadis sedang duduk dengan membawa amplop yang ia yakini berkas yang dibutuhkan untuk mendaftarkan diri diperusahaan miliknya. Do kyungsoo yang terlihat gugup saat menunggu gilirannya untuk diwawancarai itu membuatnya tersenyum paham bahwa si gadis sedang gugup. Ia yang tidak biasanya mengurusi kepegawaian dibuat penasaran hingga rela mengunjungi ruang pemasaran hanya untuk melihat sosok yang membuatnya penasaran itu.
Agar tak terlihat aneh, ia segera melewati sosok do kyungsoo, dan masuk kedalam ruangan itu. Ketika akan keluar dari ruangan itu, pintu terbuka dengan ia yang menahan pintu agar ia bisa keluar.
"ne, terima kasih sajangnim." Ucap ketua tim pemasaran yang sedang mewawancarai orang itu membungkuk hormat, hingga membuat beberapa pelamar lainnya ikut membungkuk hormat, termasuk do kyungsoo itu yang membuatnya penasaran. Ia kembali ke ruangannya dengan ekspresi tersenyum yang membuat bingung sekretarisnya tapi ia tak memperdulikannya langsung masuk kedalam ruangannya.
.
.
Brak! Brak! Brak!
"OH SEHUNN! Ayo sarapan duluuu!" zitao sedang mengajak adiknya sarapan tapi brutal itu membuat orang-orang rumah menggeleng kepala. Mereka paham dengan kelakuan majikan mereka begitu juga dengan anggota keluarga mereka yang sudah paham dengan tabiat keluarganya.
Zifan yang mendengar kelakuan eommanya dari meja makan hanya menggeleng tanda tak ingin mencampuri urusan orang tuanya,
"zifan-ah.. daddy sudah berangkat hmm?" itu suara halmeoni dari eommanya yang bertanya padanya.
"sudah halmeoni.. daddy tadi langsung berangkat kata mommy, daddy mendapat telpon darurat dari rumah sakit." Jawab zifan kalem.
"zifan kalau sudah besar ingin jadi apa? Dokter seperti daddy? Atau pengusaha seperti sehun ahjussi?"
"pengusaha itu seperti apa halmeoni? Kalau dokter kan menyembuhkan orang sakit.."
"pengusaha itu mengurus perusahaan sayang, tapi jika zifan memiliki hati yang mulia seperti daddy, zifan bisa menjadi dokter untuk menyembuhkan orang lain yang sakit." Zifan yang masih berusia 5 tahun berusaha mencerna perkataan neneknya itu.
"sudah, tidak perlu dipikirkan, ayo makan." Dan zifan pun kembali melanjutkan makanannya yang lahap itu.
"Yakk! Oh sehun ayo sarapan bersamaa, jangan langsung berangkat kekantor yaa. Atau noona akan marah kepadamu." Zitao segera meninggalkan kamar sehun bergegas menuju meja makan. Sedangkan yang berada didalam kamar sedang bersiap-siap itu.
Brak! Brak! Brak!
"OH SEHUNN! Ayo sarapan duluuu!" sehun menggeram mendengar teriakan noonanya itu.
"aarghh.. orang ini." Gerutu sehun sambil mengancingkan kancing lengan dan membenarkan dasinya.
"Yakk! Oh sehun ayo sarapan bersamaa, jangan langsung berangkat kekantor yaa. Atau noona akan marah kepadamu." Tetap saja sehun tak menjawab perkataan kakaknya itu, ia terlalu malas mengeluarkan suaranya yang indah itu kekeke.
Sehun turun dari kamarnya hendak berangkat, tapi saat turun dari tangga kakaknya itu sudah mencegatnya dan menarik dirinya menuju meja makan. Karena kebiasaan sehun adalah malas untuk mengisi perutnya jika dipagi hari. Jika dalam keadaan mood ia mungkin masih bisa diajak kerja sama untuk sarapan bersama, tapi apabila mood-nya sedang tidak baik makan zitao akan ikut uring-uringan untuk memaksanya membawa bekal saat berangkat kekantor.
"ayo sarapan bersama zifan dan halmeoni, oh sehun!"
"hm." Sehun yang langsung ditarik menuju meja makan, malas untuk meladeni kakaknya.
"ini untukmu, roti dengan selai bluberi." Ujar zitao sambil menyodorkan piring untuk sehun yang langsung diterima oleh sehun.
"gomawo." Zitao sudah terbiasa dengan adiknya yang hemat bicara itu tidak keberatan dengan jawabannya, tapi apabila orang lain yang mendengar pasti akan menganggapnya tidak sopan dan sehun tak peduli hal itu.
Setelah menyelesaikan sarapannya, sehun langsung bergegas berangkat.
"noona, halmeoni, aku berangkat." Diangguki oleh zitao dan halmeoni. Tapi sehun tak lupa untuk menyapa keponakan tersayangnya itu,
"zifan, samchon berangkat ke kantor dulu ya." Sambil mencium puncak kepala zifan, sehun bergegas menuju mobil yang akan dikendarainya.
"hati-hati di jalan samchon~" teriak zifan saat sehun melesat dari pandangannya.
Sehun meletakkan barang-barangnya dalam mobil dan menuju kursi pengemudi karena ia memang mengemudi sendiri mobilnya kali ini. Ketika dalam perjalan, ia menghubungi sekretarisnya untuk membicarakan jadwalnya hari ini, serta apa saja yang akan dibahas nanti. Tanpa sadar,
CKITTTT.. BRAKKK!
Sehun segera memberhentikan mobilnya ketika ada orang yang berusaha menyabrang, antara dia yang salah atau gadis yang akan ditabraknya yang salah. Dia sedang terjatuh dengan sepeda ontel bututnya yang sedang menimpanya sekarang membuat sehun segera mengecek keadaan mobilnya, bukan keadaan gadis yang akan ditabraknya tadi.
"YAA! Kau gila?!" sembur gadis aneh yang sekarang berusaha berdiri dibantu oleh beberapa orang.
"KAU LAGII?!" teriak gadis itu membuat sehun menyengitkan alisnya merasa tak pernah bertemu dengan gadis ini.
"apa maksudmu aku lagi? Kita pernah bertemu? Kau harus bertanggung jawab. Lihat mobilkan setelah tertabrak sepeda bututmu itu?"
"APA? SEPEDA BUTUT?"
"perlukah kau mengulang kata-kataku dengan berteriak?" jawab sehun acuh.
"kau seharusnya memperhatikan orang yang kau tabrak bukan keadaan mobilmu!"
"aku tak peduli dengan keadaanmu, sekarang ganti pebaikan mobilku."
"kau seharusnya yang mengganti karena merusakkan sepadaku!"
"sepedamu ini? Itu seharusnya sudah dimasukkan ke tempat rongsokan."
"Kau gila? Kau seharusnya meminta maaf padaku, bukan mengataiku bodoh."
"kau tak sadar? Bukannya kau yang mengaaiku gila, sekarang bodoh? Sekaya apa kau berani mengataiku seperti itu?"
"sekarang katakan padaku berapa harga untuk membenarkan mobilmu itu hah?" teriak luhan emosi, ia sudah berusaha menahan tapi tetap saja tidak bisa.
"kau yakin sanggup mengganti? Jika tidak, sekarang minggirlah. Aku harus segera ke kantor sebelum terlambat."
"aku akan ganti jika aku memiliki uang!"
"baiklah, lima ratus ribu won. Aku tunggu di gedung OSH Corp." sehun segera masuk kedalam mobilnya tanpa sekalipun mengucapkan kata maaf kepada gadis itu.
"dasar gadis aneh." Gumam sehun saat masuk kedalam mobil untuk melanjutkan perjalanan menuju kantor. Seharusnya kau yang aneh oh sehun, tak memikirkan perasaan orang lain sama sekali.
.
.
TBC
Hai, hello semuanyaa. Seluhaenbiased is back!
Cuma mau bilang thankyou buat yang udah baca, kasih review, fav, follownya buat ceritaku. Intinya big thanks doangg. Jangan lupa yang udah baca tapi belum review, tak tunggu reviewnya yaa. Sampai jumpa di chapter selanjutnya, bubayyyyy~~ 333
Regards,
Seluhaenbiased.
