Now, You Know Me

Cast :

Oh Sehun ( 25 Tahun )

Xi Luhan ( 21 Tahun )

Kim Jongin ( 25 Tahun )

Do Kyungsoo ( 23 Tahun )

Wu Yifan ( 29 Tahun )

Wu Zitao ( 28 Tahun )

And others

.

.

WARNING : This is GS ( GenderSwitch )

TYPO, EYD, DLDR!

RATED : T - M.

.

Summary :

luhan gadis biasa yang memiliki sifat ceria dan ceroboh harus berhubungan dengan laki-laki kaku nan dingin yang tak mempercayai akan cinta itu ada. Laki-laki dengan usia muda yang mampu meraih kesuksesan dengan kerja kerasnya sendiri bernama sehun tak mengenal akan kebaikan seseorang secara cuma-cuma, menganggap semua orang sama buruknya, dan hanya menatap derajat dan seberapa kaya orang itu.

.

.

Chapter 5 : oh, do you like my brother?

Happy Reading ^^

.

.

Karena sudah mendapatkan gaji pertamanya, luhan berniat mengganti biaya pengobatan bibinya yang di tanggung oleh dokter tampan yang luhan kagumi. Meskipun tak bisa mengembalikannya secara utuh, tapi luhan berniat mengganti sedikit demi sedikit, anggap saja sebagai rejeki luhan untuk bertemu dengan dokter tampan beberapa kali.

Luhan yang bersiap untuk kerja keluar dari kamar, dan melihat kakak dan bibinya yang sedang meletakkan sarapan mereka di meja makan setelah matang ahn ahjumma masak. Luhan membiarkan kakak dan bibinya yang membawa makanan ke meja makan, karena dapur cukup sempit jika ia ikut membantu dan berada di dapur. Jadi ia segera mendudukkan pantatnya di kursi meja makan.

"kau sudah siap lu? Apa tak terlalu pagi?" kyungsoo yang melihat adiknya sudah duduk manis dikursi segera meletakkan hidangan makanan di meja makan.

"sudah eonni, hari ini aku berangkat pagi untuk menuju rumah sakit terlebih dahulu."

"rumah sakit? kau sakit?" kini gilihan ahn ahjumma yang duduk setelah mencuci beberapa peralatan yang ia gunakan untuk memasak, ikut bersiap untuk makan.

"tidak ahjumma, lulu ingin mengembalikkan uang dokter sedikit demi sedikit, ya.. lulu akan menyicilnya." Kyungsoo menaikkan alisnya bingung.

"kau sudah mendapatkan gajimu? Atau kau menggunakan tabunganmu lu?" ahn ahjumma segera berdiri menuju kamarnya seperti terlihat ingin mengambil sesuatu. Lalu tiba-tiba kembali menuju meja makan.

"ini ahjumma sudah menyisakan uang untuk mengganti uang dokter tampan itu lu." Luhan yang belum menjawab pertanyaan bibinya hingga ia menerima amplop coklat yang diberikan luhan membuatnya ikut bingung.
"tak perlu ahjumma, lulu menggunakan uang hasil gaji pertama yang diberikan oleh zitao eonni kemarin sebelum pulang. Lulu sengaja menyicilnya, agar bisa bertemu dokter tampan beberapa kali hehe." Ahn ahjumma dan kyungsoo hanya bisa menggeleng mendengar alasan luhan.

"itu sih modusmu saja lu, gunakan uangku dan uang ahn ahjumma juga agar tak membebanimu, jika kita kumpulkan bisa langsung mengganti uang dokter tampanmu itu kok."

"menggunakan uang kyung eonni dan ahn ahjumma nanti sajaa, sekarang pakai uang lulu dulu. Ayolah luhan ingin bertemu dengan dokter tampan itu lebih dari sekali, nanti lulu akan minta uangnya ke ahjumma dan eonni." Mendengar ucapan luhan membuat dua orang yang berada disitu hanya menghela nafas mengiyakan saja keinginan gadis rusa ini.

"terserah kau saja, tapi jika butuh uang katakan pada ahjumma."

"baik ahjumma." Luhan dan kyungsoo segera menyelesaikan sarapannya, lalu berangkat bekerja.

Luhan yang sekarang menuntun sepedanya dan berjalan kaki bersama kyungsoo menuju halte, ia juga menunggu kakaknya untuk mendapatkan bus yang akan mengantar kakaknya kekantornya itu.

"kau belum menceritakan padaku bagaimana pekerjaanmu lu?" kyungsoo yang mengalihkan perhatian pada adiknya ketika mereka sekarang berjalan menuju halte.

"ya begitu eonni, zitao eonni dan oh halmeoni sangatlah baik kepadaku. Belum lagi anak yang ku asuh bernama zifan sangat penurut dan baik juga kepadaku."

"kau tidak berbohong kan?"

"ayolah eonni, jangan menyamakan yang seperti di drama-drama, pelayan dengan majikannya yang jahat. Zitao eonni tidak seperti itu, kekeke." Membuat mereka berdua tertawa dan duduk di kursi halte. Hingga mereka berdua terdiam karena tak ada topik yang bisa dibahas.

"tapi.. kau tau eonni.. ternyata zitao eonni merupakan kakak dari pria menyebalkan itu." Seketika memingat sehun membuat luhan mengepalkan tangannya kesal.

"pria menyebalkan? Siapa yang kau maksud?"

"itu eonni, pria yang ada di kafe minseok eonni ketika tak sengaja kutumpahkan bajunya dengan minuman."

"ahh, pria itu? Kau sudah bertemunya lagi di seoul."

"lebih dari sekali bahkan eonni." Luhan malas ketika harus kembali menceritakan kejadian ketika tak memperhatikan jalan itu, tapi apa boleh buat jika kakaknya sudah terlanjur penasaran ini, maka luhan kembali menceritakan kejadian tersebut. Tapi luhan tak harus menceritakan tentang kejadian ia melihat tubuh lelaki itu setengah telanjang kan.

"makanya hati-hati lu, lebih baik kau hindari saja pria seperti itu. Kau kan mengurus anaknya zitao eonni, bukan adiknya. Jadi pikirku tak masalah. Lupakan saja kejadian sebelumnya atau akan membuatmu tak nyaman nantinya jika dirumah zitao eonni bertemu dengan adiknya." Luhan hanya menganggukkan kepalanya mendengar saran dari kakaknya itu, hingga bus akhirnya tiba dan mereka harus berpisah dipinggir halte.

.

.

"ada yang bisa saya bantu?" ketika tiba di rumah sakit, luhan segera menuju bagian pelayanan yang langsung berdiri ketika luhan menghampiri.

"bisa saya bertemu dengan dokter wu yifan?"

"sebentar saya cek nona." Bagian pelayanan yang segera menelfon entah siapa itu luhan tak mengetahuinya dan segera di tutup telfon tersebut.

"maafkan saya, tetapi wu yifan songsaeng-nim belum tiba dirumah sakit sekarang. Ada yang bisa saya sampaikan kepada beliau?"

"oh.. begitukah, yasudah nanti saya akan kembali kesini saja. Terima kasih." Luhan meninggalkan rumah sakit dengah wajah kecewanya dan langsung menuju rumah zitao.

"selamat pagi bibi nam." Luhan menyapa pembantu rumah tangga zitao yang membukannya pintu tersebut.

"selamat pagi lu, kenapa kau datang pagi? Zifan kan sedang sekolah." Luhan langsung menghentikan pergerakan kakinya mendengar penuturan bibi nam tersebut, luhan lupa jika harus menanyakan kapan ia harus datang untuk bermain dengan zifan.

Dan satu hal lagi, luhan lupa kalau zifan sudah bersekolah. Ia kan berumur lima tahun, wajar sudah sekolah kan.

"oh iya bi.. aku lupa kalau zifan sudah sekolah. Hmm bibi nam..?" luhan yang terlihat celingak celinguk di tempat membuat bibi nam bingung.

"ada apa lu?" Tanya bibi nam terheran.

"apa tuan sehun sudah berangkat bekerja?"

"ah, ya. Tuan sehun sudah berangkat setelah zifan dan tuan yifan berangkat."

"tuan yifan?" luhan yang terlihat bingung mendengar jawaban bibi nam.

"kau belum bertemu dengan tuan yifan ya? Beliau suami nyonya zitao."

"ahh, suami zitao eonni, hmm bibi apa yang bisa aku bantu? Karena zifan sedang tidak ada dirumah."

"coba kau tanyakan pada nyonya zitao saja, beliau berada di ruang tengah bersama nyonya oh, aku ke belakang dulu lu." Bibi nam yang mengelus pundak luhan sebentar lalu meninggalkan luhan setelah luhan menganggukkan kepalanya.

Luhan yang sesaat langsung menuju ruang tengah untuk mencari zitao dan menanyakan apa yang harus di kerjakannya sekarang, ia melihat zitao sedang bersama oh halmeoni. Oh halmeoni yang melihatnya datang langsung tersenyum, begitu pula zitao yang mengalihkan pandangannya menuju luhan.

"luu, kenapa kau sudah datang jam segini?" zitao yang menepuk kursi kosong sebelahnya agar luhan ikut duduk di sebelahnya. Luhan segera menghampiri zitao dan ikut berbincang bersama.

"aku lupa eonni, kalau zifan sekarang sekolah.. tau begitu kan aku akan datang lebih pagi untuk mengantarnya sekolah." Ujar luhan sedih karena merasa itu bagian dari tanggung jawabnya.

"tak perlu lulu, zifan berangkat dengan daddy-nya tadi, biasanya ia akan diantar supir. Tugasmu hanya menjaga dan menemani zifan bermain ketika berada dirumah. Tapi karena kau sudah berada disini, ayo temani aku belanja?"

"belanja? Tidak eonni, aku bisa membantu bibi nam untuk membersihkan rumah saja.." luhan yang merasa tak pantas jika harus jalan bersama zitao. Lihat saja, stylenya sudah beda. Tapi beruntungnya zitao tak pernah melihatnya sebelah mata.

"tidak lu, itu sudah bagian tugas dari bibi nam dan yang lain. Tugasmu merawat zifan, tapi karena zifan sekolah kau harus menemaniku belanja, kau bisa membawa belanjaanku nanti jika kau merasa sungkan. Aku ingin mengenalkanmu pada yixing eonni. Yixing eonni sahabat dari kami, yaitu aku dan minseok eonni juga." Luhan yang tidak bisa menolak hanya menganggukkan kepalanya mengikuti perintah zitao. Sebenarnya itu hanya alas an, karena zitao biasanya diikuti oleh supirnya untuk membawakan belanjanya, zitao juga tak akan tega menyuruh luhan membawa kantong belanjaannya.

"karena aku biasa berbelanja sendiri, kali ini aku senang karena memiliki teman untuk jalan-jalan. Sekalian nanti kita akan menjemput zifan di sekolahnya." Ujar zitao kembali.

"baik eonni." Dan luhan yang patuh.

.

.

Kyungsoo tiba di kantornya tepat waktu, tapi karena tepat waktunya itu ia harus berpapasan dengan choi sulli diluar gedung kantor, sekertaris atasannya yang sudah menunjukkan wajah juteknya ketika mereka pertama kali bertemu. Kyungsoo bingung, apa salahnya ketika melihat wajah jutek itu tapi tetap saja kyungsoo harus bersikap hormat pada siapapun.

Ketika masuk ke dalam gedung kantor, tanpa sengaja pula mereka harus masuk bersamaan. Kyungsoo yang hanya bisa diam saja, setelah menunduk sebenarnya tak ingin menyapa tapi bagaimana juga mereka sudah bertatapan dan harus membuat menunduk dengan balasan langsung dilewati begitu saja. Ingin menggeram tapi kyungsoo hanya bisa menahannya saja.

Ketika sama-sama menunggu lift, cukup ramai staff menunggu giliran untuk bisa masuk kedalam lift, karena terdapat tiga lift berbeda, dua untuk staff dan satu khusus untuk sajangnim. Choi sulli yang langsung menyerobot masuk menyisakan kyungsoo seorang diri untuk kembali menunggu lift, karena staff lain juga berbondong-bondong berusaha masuk ke dalam lift.

Ketika sebelum pintu lift tertutup tepat sulli berada paling ujung dekat pintu, jongin datang seorang diri menuju lift khusus untuk dirinya yang berada di sisi tengah di antara lift yang lain tak sengaja jongin berdiri bersebelahan dengan kyungsoo.

"oh kyungsoo?"

Sulli yang melihat jongin dan kyungsoo saling berhadapan membuatnya ingin menghentikan pintu lift yang menutup akan tetapi sudah terlambat, karena lift sudah bergerak.

...

"oh kyungsoo?" karena merasa dipanggil seseorang membuatnya menolah ke arah seseorang yang memanggil namanya tersebut. Dan ketika tau siapa pelakunya, membuat kyungsoo langsung menunduk hormat.

"selamat pagi, sajangnim."

"kau menunggu lift?"

"ya sajangnim, lift sebelumnya cukup penuh." Jawab kyungsoo sambil menundukkan kepalanya tak berani menatap atasannya.

"bersama denganku saja." Jongin yang kebetulan juga menunggu lift yang sekarang pintu terbuka untuknya. Segera masuk, dan menawarkan kyungsoo untuk naik bersama. Kyungsoo yang sudah berusaha menolak, tapi tetap saja jika atasannya yang memerintah maka harus dilaksanakan. Hingga sekarang mereka berada di dalam lift berdua.

Kyungsoo yang menuju lantai tiga sedangkan jongin yang menuju lantai enam, membuat mereka harus berpisah ketika lift yang mereka gunakan telah tiba di lantai tiga. Kyungsoo segera keluar dari lift dan menunggu pintu itu tertutup hingga naik menuju ke lantai enam.

Tidak ada yang mereka bahas, tak ada topik yang bisa mengubah suasana hingga tiba di lantai tiga. Semua mata memandang ke arah kyungsoo karena hanya kyungsoo divisi yang bukan dari lantai enam bisa masuk ke dalam lift khusus sajangnim.

Jongin merupakan orang tegas, ia benar-benar tak ingin ada staff lain yang boleh menggunakan liftnya termasuk dalam keadaan darurat jika tak bersama jongin di dalamnya. Karena lift tersebut hanya menggunakan sensor sidik jari jongin yang bisa menggerakkan lift itu.

Ketika kyungsoo keluar dari lift pribadi milik jongin membuat semua staff yang berada di divisinya melihat kaget kearahnya membuat kyungsoo sungkan dan langsung duduk ke mejanya. Beberapa staff menghampirinya dan menanyakan apa yang terjadi pada kyungsoo dan jongin. Kyungsoo menjelaskan yang sebenarnya terjadi bahwa tak terjadi apapun tapi tetap saja yang mendengar hal itu tak percaya.

"aku bersungguh-sungguh, tak terjadi apapun antara aku dan sajangnim." Sooyoung yang merupakan teman dekatnya beberapa hari lalu juga tak percaya apa yang kyungsoo katakan.

Sooyoung yang mulai menjadi teman dekat di kantor kyungsoo, hubungan mereka terjalin ketika tak sengaja sooyoung menabraknya dan menjatuhkan berkas yang kyungsoo bawa. Kejadian itu membuat sooyoung merasa bersalah dan ingin mentraktir kyungsoo minuman sebagai ucapan maafnya.

Sebernarnya kyungsoo yang tak mempermasalahkannya, tetapi sooyoung dengan rasa bersalahnya yang cukup tinggi membuat mereka berakhir di kantin kantor dengan segelas minuman sambil beristirahat sebentar sebelum kembali bekerja. Sooyoung yang cukup riang dan membuat suasana menjadi asik sedangkan kyungsoo merupakan pendengar yang baik dengan apa saja yang dikatakan sooyoung, bahkan hanya mengeluakan beberapa kata seperti ya, atau tidak.

Semenjak kejadian tersebut membuat mereka menjadi teman, kyungsoo yang biasanya memang tak memiliki teman khusus kecuali adiknya yang sudah ia anggap sebagai sahabat tempatnya bercerita jadi kyungsoo tak memiliki banyak teman. Ia cukup pendiam. Tapi ada satu laki-laki yang mau berteman dengannya ketika umur tujuh taun, dan laki-laki itu berumur sembilan tahun. Kyungsoo yang memiliki penglihatan yang tak bagus membuatnya harus menajamkan pandangannya, dan karena itu membuat orang-orang takut padanya.

Kyungsoo yang tak memiliki uang, dan panti asuhan yang tidak bisa memberikannya dana selain kebutuhan sehariannya membuat kyungsoo harus seperti itu, hingga ada anak laki-laki yang mau berteman dengannya. Jarak umur mereka terpaut dua tahun yang tak sedarah tapi layaknya oppa yang selalu melindunginya. Mereka berteman dekat karena laki-laki tersebut merupakan tetangga dekat panti asuhannya sehingga mereka bisa sering bermain bersama. Lelaki itu pula yang membelikannya kacamata agar kyungsoo bisa melihat dengan jelas. Akan tetapi takdir yang harus memisahkan mereka karena laki-laki itu harus mengikuti orang tuanya untuk pindah ke kanada. Bahkan sampai sekarang kyungsoo masih menyimpan kacamata pemberian laki-laki tersebut.

Kyungsoo yang terlihat melamun membuat sooyoung menggeleng pelan, dan menggerakkan tubuh kyungsoo agar kembali sadar ke dunianya.

"kyungg~ apa yang kau pikirkan?" merasa mendengarkan sooyoung membuat kyungsoo sadar dan menegakkan posisi duduknya.

"tak ada, apa yang kau katakan tadi?"

"kan aku sudah bilang berkali-kali ceritakan apa yang terjadi padamu dan jongin sajangnim?" sooyoung memang ceria tetapi pemaksa, jika sudah membuatnya penasaran maka ia akan mengejar info itu sampai dapat.

"tidak ada, tak terjadi apapun, jadi kau kembalilah bekerjaa." Kyungsoo bangun dari duduknya dan segera mendorong tubuh sooyoung untuk kembali ke tempat kerjanya.

.

.

Ketika dalam perjalanan menuju pusat pembelanjaan terlebih dahulu,

"sayang sekali lu, kau tadi tak bertemu suamiku. Kalian belum berkenalan kan."

"tak apa eonni, kami bisa bertemu lain kali kan. Suami eonni bekerja sebagai apa?"

"dia dokter, bernama wu yifan." Ujar zitao senang ketika menceritakan tentang suaminya. Berbeda dengan ekspresi xi luhan sekarang yang seperti mengingat sesuatu.

"wu yifan eonni? Aku seperti pernah mengenal nama itu eonni." Luhan yang berusaha mengingat nama wu yifan terdiam, dan zitao yang melihat itu hanya menganggukkan kepalanya.

"mungkin saja kau pernah bertemunya di rumah sakit, dia kan dokter lu."

"iya mungkin saja eonni." Luhan berusaha tak memikirkannya. Tanpa ia ingat dokter tampan yang ingin ia temui tadi pagi adalah suami dari zitao.

Ketika mereka tiba di pusat perbelanjaan, zitao yang sudah mengitari hampir seluruh toko tanpa kenal lelah, berbeda dengan luhan yang memang tak pernah mengitari semua toko yang ada di mall itu membuatnya cukup lelah. Baginya berbelanja di toko mahal hanya akan membuang uangnya saja, ia juga tidak memiliki banyak koleksi make up hanya yang standar dibutuhkan saja, ia juga tak seberapa menyukai make up yang berlebihan juga.

sudah beberapa toko zitao hampiri hingga akhirnya ia menemukan beberapa pasang baju yang sesuai untuknya dan melakukan transaksi, luhan yang sudah siap untuk membawa belanjaan zitao, tiba-tiba supir zitao datang menghampiri mereka dan menunggu perintah.

Luhan yang hendak protes, tapi zitao langsung mengangkat tangannya tanda tak menerima protesan dan langsung menggandeng luhan untuk memasuki toko yang lainnya.

"eonnii, kau berjanji belanjaanmu akan ku bawakan kan?"

"tidak lu, biarkan shim ahjussi yang membawanya, kau menemaniku melihat-lihat pakaian saja. Belum lagi habis ini kita ke butik yixing eonni, jadi simpan energimu."
"tapikan tak sesuai dengan perjanjian tadi eonni." Luhan yang berusaha menghentikan jalan mereka dan menoleh ke arah zitao.

"aku tak menerima protesan, ayo melihat yang lainnya."

Ketika masuk ke toko yang lainnya, zitao yang melihat beberapa pasang baju lainnya.

"lu, pilihlah yang kau suka." Zitao berusaha menawarkan, sedangkan luhan yang langsung menggelengkan kepalanya.

"waee?" saat zitao melihat gelengan itu.

"aniya eonni, terlalu mahal." Luhan yang berusaha membisikkan kata tersebut, malu kepada pelayan yang menunggu mereka berdua. Membuat zitao tertawa.

"aku akan membayarnya untukmu, jadi pilihlah."

"tidak eonni, aku akan membantumu memilih saja." Luhan yang menunjukkan beberapa pakaian pilihannya, dan tanpa pikir panjang zitao langsung membayar salah satu pakaian yang dipilih luhan untuknya dan memisahkan dari kantong belanjaan miliknya lalu memberikannya pada luhan.

Luhan yang melihat pemberian zitao bingung,

"ini untukmu, kau suka kan?"

"tapi aku kan memilihkan ini untukmu eonni."

"aku tak menerima bantahan lu, terimalah~" luhan akhirnya menerima pemberian zitao dan memeluknya, mereka sudah seperti kakak dan adik sungguhan, atau cocok menjadi saudara ipar? Mungkinkah?

Setelah puas melihat pilihannya, zitao segera mengajak luhan menuju butik yixing dan mengenalkan luhan pada wanita itu. Zitao yang terlihat cukup akrab dengan luhan, dan mengenalkan luhan bahwa ia pertama kali bertemu luhan ketika berada di butik zitao.

Ia menceritakan semua tentang luhan, dan sedikit membanggakan luhan, membuat gadis itu cukup malu mendengar penuturan zitao yang ia merasa terlalu berlebihan tentang menceritakannya. Akhirnya yixing dan zitao menanyakan tentang minseok kepada luhan membuat yixing dan zitao sedikit bernostalgia mengenai persahabatan mereka.

Luhan yang memang mudah akrab pada orang lain membuatnya tak canggung pada yixing, bahkan yixing ikut menganggapnya sebagai adiknya, bahkan yixing meminta maaf pada luhan ketika pegawai yixing tak memperbolehkan luhan bertemu dengannya. Luhanpun tak masalah, tak mungkin orang sepenting yixing mau menerima tamu yang tak dikenalnya dengan asal jawab luhan.

Hingga yixing dan zitao menanyakan bagaimana suasana bucheon, yixing dan zitao memang tak seberapa mengetahui tentang bucheon karena memang mereka berasal dari seoul, termasuk minseok, tapi minseok memilih pindah ke bucheon untuk mengikuti suaminya dan membuka usaha kafenya disana. Bahkan kadang yixing dan zitao mengunjungi rumah minseok, sayang mereka belum pernah mengunjungi kafe minseok sehingga tak pernah melihat luhan. Luhan juga menceritakan jika ia tinggal bersama kyungsoo dan ahn ahjumma, dan menceritakan bahwa kakaknya sekarang bekerja di Kim Corp. dan langsung disaut oleh zitao bahwa ia mengenal siapa pemilik kantor besar itu tak lain bahwa sahabat adiknya. Terlalu asik bercerita, akhirnya zitao mengajak luhan pulang untuk menjemput zifan terlebih dahulu.

"mommyyy." Teriak zifan saat melihat mommy-nya yang menjemput, biasanya ia hanya akan di jemput shim ahjussi atau supirnya yang lain.

"hai sayang~" zifan berlari menuju mommy-nya dan melihat luhan juga ikut menjemputnya membuat zifan sangat senang.

"luhan noona ikut menjemput zifan?"

"yaa, lu noona hari ini ikut menjemput yifan, kau senang?" luhan yang mendekati luhan dan mengelus kepala zifan sayang membuat zitao ikut tersenyum melihatnya.

"ya zifan senang, apalagi kalau mommy dan lu noona ikut menjemput zifan setiap hari hehe." Gurau zifan membuat mereka bertiga tertawa. Dan masuk kedalam mobil. Mereka bertiga dengan zifan yang duduk di posisi tengah antara luhan dan zitao.

"mau lu noona jemput setiap hari? Nanti lu noona bisa ikut shim ahjussi saat akan menjemputmu."

"benarkah?" zifan langsung menoleh ke arah luhan dengan tatapan memohonnya.

"tak perlu lu, kau bisa datang kerumah ketika zifan pulang sekolah." Zifan menoleh ke arah zitao dengan wajah cemberutnya membuat zitao gemas dan langsung mengecup bibir zifan, meskipun zifan sudah berusaha menghindar tetap saja mommy-nya berhasil menciumnya.

"tak apa eonni, aku dibayar untuk bersama zifan kan, lagian aku bisa jadi asisten zitao eonni ketika zifan sekolah, kekeke." Akhirnya mereka tertawa bersama hingga tiba di rumah zitao.

Zitao sangat menyukai sifat luhan yang ceria, bahkan luhan mampu membuat orang rumah lainnya ikut tertawa melihat tingkah luhan, cerita lucu, bahkan gestur gadis itu. Hanya satu orang yang melihat luhan datar, siapa lagi jika bukan oh sehun.

Luhan yang sedang bermain bersama zifan, mewarnai, dan setelah itu kejar-kejaran bersama zifan hingga oh sehun tiba dirumah, melihat kelakuan itu membuat sehun yang melihat itu hanya mendesah malas dan meninggalkan luhan yang masih tertawa bersama yifan masuk ke dalam kamarnya.

Seperti biasa, sehun membersihkan diri. Dan luhan yang mulai melupakan kejadian lalu, ingin membuat suasana tak canggung dengan pria itu. Ketika diajak zitao dan oh halmeoni untuk makan malam bersama kali ini ia berusaha tak menolaknya.

Seperti biasa, zitao yang meminta luhan untuk memanggil sehun keluar dari kamarnya untuk makan malam bersama. Luhan tak menolak tapi mengantisipasi jika kejadian yang tak diinginkannya terulang kembali hingga ketika pintu itu terbuka, luhan langsung membalikkan tubuhnya tanpa melihat sehun yang sudah menggunakan pakaian lengkap bingung melihat kelakuan gadis ini.

"apa yang kau lakukan?" dengan raut bingung melihat punggung gadis itu.

"zitao memanggilmu untuk makan malam bersama." Luhan yang masih tak berani menoleh ke arah sehun.

"untuk apa kau membalik tubuhmu seperti itu? Jika berbicara pada seseorang lihat orang itu gadis ceroboh.. ah.. atau.. kau takut kejadian itu terulang kembali?" ujar sehun jail hampir tertawa. Dan luhan yang mendengar penuturan laki-laki ini hanya lari meninggalkan sehun. Tanpa sadar sehun menunjukkan senyumnya yang hilang sudah berapa lama, hanya saja untuk tak ada yang melihatnya.

Sehun segera turun menuju meja makan, dan melihat luhan yang kali ini ikut makan malam bersama membuatnya mengangkat alisnya.

"untuk apa kau disini gadis ceroboh?" luhan yang merasa terpanggil mendongakkan kepala melihat arah orang yang memanggilnya membuat luhan mem-poutkan bibirnya sebal.

"wae? Kau tak suka aku disini?" tantang balik luhan, zitao dan oh halmeoni yang mendengar jawaban luhan berusaha menahan tawanya.

"ya, pulanglah." Luhan yang hendak menjawab tapi didahului zifan.

"samchon jangan jahat-jahat dengan lu noona."

"sudah samchon katakan jangan panggil dia noona, tapi panggil dia gadis ceroboh zifan." Dengan santainya sehun menduduki kursi kosong di meja makan itu.

"samchon tak boleh begitu.." zifan berusaha mengingatkan sehun. Luhan yang akan meledak itu tapi ditahan oleh zitao, sehingga ia berusaha menahan amarahnya dan melanjutkan makannya.

Zitao yang mengambilkan adiknya makan malam juga,

"eonni, aku datang pagi seperti tadi saja ya?" tanya luhan.

"terserah padamu saja lu." Jawab zitao sabar.

"tak perlu datang juga tak masalah." Semuanya yang menoleh pada yang bicara, dan semuanya menunjukkan tatapan peringatan tetap saja tak diperdulikan oleh sang pemilik suara. Dan luhan yang hanya diam saja mendengar ucapan sehun membuat sehun yang merasa ditatapi itu mengangkat alisnya bingung melihat ekspresi yang diberikan oleh luhan.

Tapi luhan tetap diam saja, hingga suasana hening fokus pada makanan masing-masing.

"yifan hyung tak pulang eonni?" merasa diajak bicara dengan adiknya membuat zitao melihat ke arah sehun.

"tak tau, kakak iparmu tak menghubungi eonni." Ujar zitao sedih, dan sehun yang merasa membuat kakaknya sedih itu merasa bersalah dan menenangkan kakaknya agar tak bersedih.

"mungkin hyung sibuk, ia pasti pulang noona.." diangguki oleh zitao hingga beberapa saat yang mereka bicarakan datang kerumah.

"zifaan, daddy pulaaang~" merasa terpanggil zifan segera berdiri dan berlari menuju ayahnya meminta digendong.

"daddyyyyy." Yifan segera masuk ke dalam rumah, dan membuat seseorang terkejut.

"yifan oppa?" luhan segera berdiri dari duduknya ketika yifan berjalan mendekat ke meja makan, dan dihadiahi tatapan bingung oleh seisi rumah yang lain, terkhusus yang berada di meja makan sekarang. Zitao yang sebelumnya sudah berdiri menghampiri yifan sekarang menoleh bingung kearah luhan yang seperti mengenal suaminya.

"kau mengenal suamiku lu?"

"ne? Suami?" ujar luhan kaget, setengah bersedih tanpa ada yang menyadari hal tersebut kecuali satu orang.

"iya lu, yifan suamiku yang ingin aku kenalkan padamu tadi pagi, tapi ia sudah terlanjur berangkat ketika kau belum tiba." Zitao yang menghampiri suaminya dan dihadiahi ciuman di kening oleh yifan.

"hai lu, kau masih mengingatku ternyata." Sapa yifan.

"kalian saling mengenal ternyata." Zitao yang menarik suaminya untuk ikut makan malam bersama."

"ah.. i..itu oppa.. aku tadi kerumah sakit untuk ingin mengganti biaya pengobatan bibi sedikit demi sedikit.." ujar luhan sungkan sedikit sedih. Sehun yang masih memperhatikan gerak gerik luhan menyerngit bingung merasa aneh melihat ekspresi gadis itu.

"tak perlu di ganti lu, aku berniat ingin membantu pengobatan bibimu kok." Jawab yifan.

"terima kasih oppa.." anggukan sebagai balasan yifan setelah mendengar penuturan luhan.

"yaampun.. jadi gadis yang kau ceritakan itu luhan sayang? Aku juga kemarin itu menceritakan tentang luhan kepadamu, jadi kita menceritakan orang yang sama?" ujar zitao pada yifan.

"iya sayang.. kekeke." Yifan yang mengelus kepala zitao sayang, yang tanpa sadar membuat luhan iri melihatnya, dan berusaha menyela.

"ne? Menceritakan aku eonni? Apaa?" luhan yang berusaha terlihat ceria meskipun sekarang hatinya cukup sedih ternyata dokter tampan yang ditaksirnya sudah beristri, bahkan istrinya sangat baik padanya.

"rahasia luu." Zitao yang menjulurkan lidahnya tanda mengejek luhan.

"ahh, eonniii." Luhan yang menunjukkan wajah kecewanya tanda mereka sedang bercanda bersama. Hingga suasana meja makan kembali hening.

Luhan segera berdiri, dan membawa piring kotornya ke belakang. Ketika ingin mencucinya, tapi ia tahan dan ingin cepat-cepat menghubungi kyungsoo setelah mencari tempat kosong sedikit jauh dari tempat mencuci piring. Berusaha ditelponnya kyungsoo hingga tersambung.

"eonni..." suara luhan terdengar sedih sekarang.

"luu.? Ada apa?"

"eonni.." luhan yang tak tahan menahan tangisannya.

"yaa? Ada apa luu? Kenapa menangiis?"

"eonni.. tau.. ternyata dokter tampan yang membantu biaya pengobatan ahn ahjumma.. hiks.."

"kenapa luu? Katakan padaku."

"dokter tampan itu suami zitao eonni." Ujar luhan sedih.

"yatuhan luu, aku kira ada apa. Kan sudah ku katakan, mungkin kau hanya kagum padanya."

"tapi rasanya sakit eonni."

"yasudah jangan nangis disana, segera pulang dan menangislah dirumah saja. Kekeke."

"ya eonni! Kenapa reaksimu malah seperti itu."

"sudah lu, aku mau pulang, kau sudah pulang?"

"ya aku akan pulang setelah ini."

"baiklah, hati-hati."

"kau juga eonni." Luhan segera menutup telponnya tanpa sadar ada yang mendengar pembicarannya, dan menggeram marah.

Luhan kembali ke dalam, dan menyusul yang lainnya ke ruang tengah untuk berpamitan hendak pulang. Sehun yang sedang berada di tempat dengan duduk bersama yang lainnya hanya menunjukkan raut datarnya ketika melihat luhan balik. Luhan yang tidak pekanya tak menyadari tatapan yang diberikan sehun.

"eonni, aku pulang dulu ya." Setelah mengambil tasnya, luhan menghampiri zitao dan yang lainnya untuk berpamitan.

"kau pulang sendiri lu?"

"ya eonni, aku kan kesini dengan sepeda, tentu pulang dengan sepeda juga." Luhan yang kembali menunjukkan wajah cerianya.

"tapi ini sudah malam lu, lebih baik kau di antar sehun saja." Merasa namanya terpanggil membuat sehun menoleh ke arah kakaknya.

"aku tak mau." Jawab sehun cepat.

"tidak perlu eonni, nanti bagaimana dengan sepedaku."

"buang saja sepeda rongsokan itu." Balas sehun, dan luhan yang tak ingin berdebat hanya tak menghiraukan ucapan sehun.

"sehun.. tak boleh begitu, antarkan luhan ya? Please?" ujar zitao setengah memohon pada sehun.

"iya hun, tolong antarkan luhan, kasian ini sudah malam." Ujar halmeoni sekarang.

"tak perlu eonni, halmeoni, aku dengan sepedaku saja."

"tidak lu, berbahaya jika pulang sendiri, biarkan diantar sehun. Karena shim ahjussi dan yang lainnya sudah pulang." Setelah berpikir beberapa saat akhirnya sehun menyetujui permintaan kakaknya.

...

Ketika dalam perjalanan, hanya suasana hening diantara mereka dan luhan yang tak menyukai suasana seperti itu ingin mengubah suasana tersebut.

"sehun, kau sudah memiliki kekasih?"

"atau kau sedang sendiri ya? Mana ada wanita yang mau bersamamu."

"oh sehun, hari ini kau sedang dalam mood buruk?"

"kenapa tak menjawab pertanyaanku?"

"ya?! Jawab jika seseorang bertanya." Oceh luhan yang tak di gubris sedikitpun oleh sehun.

Dan sehun yang tak tahan mendengar ocehan gadisnya langsung mengepalkan tangannya yang memegang setir, dan menjawab.

"kau menyukai hyungku?" tanya sehun tanpa basa-basi langsung membuat luhan diam.

.

.

.

TBC

Hai, haloo~~ seluhaenbiased update!

Akhirnya kan luhan patah hati gegara tau yifan yang disuka ternyata suami zitao wkwk, lagian sih lu jadi orang kok gapeka banget huuu, mana telponan sama kyungsoo juga gapeka kalo ada yang nguping hadehhh. Yang sabar ya ngadepin sehunnya wkwk. Jahat banget aku ketawa lol.

Thanks buat yang udah review, juga yang udah follow dan favorite tapi belum review, ku tunggu revienya, apa lagi yang silent reader, ga follow ga favorite juga ga review, bolehlah bagi reviewnya satuu. Jangan bosen-bosen nunggu aku update ya, ini udah waktunya kuliaahhh :'( jadi aku berusaha update cepet tapi ga secepet kayak pas liburan kemaren hiks, tunggu kelanjutannya yaa, byee see u next chapter!

Regards,

Seluhaenbiased.