Now, You Know Me

Cast :

Oh Sehun ( 25 Tahun )

Xi Luhan ( 21 Tahun )

Kim Jongin ( 25 Tahun )

Do Kyungsoo ( 23 Tahun )

Wu Yifan ( 29 Tahun )

Wu Zitao ( 28 Tahun )

And others

.

.

WARNING : This is GS ( GenderSwitch )

TYPO, EYD, DLDR!

RATED : T - M.

.

Summary :

luhan gadis biasa yang memiliki sifat ceria dan ceroboh harus berhubungan dengan laki-laki kaku nan dingin yang tak mempercayai akan cinta itu ada. Laki-laki dengan usia muda yang mampu meraih kesuksesan dengan kerja kerasnya sendiri bernama sehun tak mengenal akan kebaikan seseorang secara cuma-cuma, menganggap semua orang sama buruknya, dan hanya menatap derajat dan seberapa kaya orang itu.

.

.

Chapter 8: We are Happy Now

Happy Reading ^^

.

.

"sehunnie, kau akan berangkat ke kantor? Ayo aku antar sampai depan." Irene baru keluar dari kamarnya di jam segini disaat semua orang sudah berkumpul dimeja makan bahkan termasuk luhan yang sudah datang di kediaman keluarga oh dan ikut duduk di meja makan melihat heran ke arah irene.

Sebenarnya sudah beberapa hari wanita ini menginap di rumah keluarga oh, tetapi terkadang kelakuan seenaknya sendiri membuat beberapa penghuni rumah geram, contohnya seperti ini. Seorang wanita berkarir yang baru keluar dari kamarnya disaat orang lain waktunya beraktifitas, memang irene seorang desainer terkenal di london, tapi bukan berarti ia beretika seenaknya ketika berada dirumah orang. Kadang hal tersebut yang membuat nilai plus bagi oh halmeoni untuk tak menyukainya, untung saja ada zitao yang selalu mengingatkannya untuk sabar.

"oh kau sudah bangun?" tanya oh halmeoni cukup sinis.

"sudahlah halmeoni." Yifan menengahi. Ia sudah tau beberapa kejadian dirumah yang ia tinggalkan berkat cerita zitao. Luhan yang melihat irene tiba-tiba datang hanya diam sampai yifan mengalihakn perhatiannya. Sebenarnya entah mengapa beberapa hari ini ketika pulang kerumah ia memperhatikan padangan luhan dan sehun seperti ada sesuatu atau mungkin hanya perasaannya saja dan ia juga tak mengatakannya pada zitao.

"lu." Panggil yifan.

"ya oppa?" kali ini perhatian luhan menuju yifan. Sedangkan sehun yang sebenarnya hendak berdiri pergi dari kursinya tiba-tiba sekarang terdiam ikut mendengarkan apa yang dikatakan yifan, katakanlah ia sedikit waspada melihat interaksi antara luhan dan yifan. Bukan tak percaya pada luhan, hanya saja entahlah hanya sehun yang paham.

"bisakah aku minta tolong titip zifan seminggu? Aku harus ke kanada mengikuti seminar kedokteran dan kau tentu tau zitao yang tak bisa lepas dariku, kekeke— belum selesai yifan mengucapkan kalimatnya, zitao yang duduk disebelah yifan sudah memukul bahu yifan pelan dan ikut bergurau bersama suaminya.

Katanya ia juga ingin ikut liburan, sekalian mengantarkanku. Tapi kau tau kan zifan harus sekolah dan aku tak ingin ia meninggalkan pelajarannya meskipun masih usia dini, aku tak ingin memanjakannya. Jadi bisakah aku titip zifan kepadamu? Aku juga tak ingin memberatkan halmeoni untuk menjaga zifan karena halmeoni juga perlu banyak-banyak istirahat." Untung saja zifan sudah berangkat sekolah, zitao dan yifan tak ingin zifan merengek ketika mendengar orang tuanya akan pergi meninggalkannya, meskipun tentu saja nanti ia akan membuat zifan merengek setidaknya yifan dan zitao harus memastikan ada yang bisa menjaga zifan terlebih dahulu.

"kenapa oppa tak menitipkan zifan padaku saja?" tanya irene cepat yang sedari tadi diam merasa tak diakui keberadaannya, bahkan sehunpun tak menyahuti ketika ia berbicara pada pria itu malah pria itu kembali duduk. Membuat irene ikut duduk di kursi yang tersisa meskipun tak ada yang mempersilahkannya.

"memangnya kau bisa mengurus anak kecil?" tanya halmeoni membuat irene kembali diam. Semulanya yang awalnya pada melihat halmeoni, kini luhan kembali mengalihkan padangannya pada yifan dan zitao.

"memang oppa dan eonni kapan berangkat?" tanya luhan.

"kami akan berangkat hari kamis lu, dan sampai sekarang kami belum mengatakannya pada zifan. Tapi kami sudah mendiskusikannya pada halmeoni, dan halmeoni akan setuju kami pergi jika ada yang menjaga zifan." Kini giliran zitao yang menjelaskan.

"begitu ya.. kurang dua hari lagi eonni berangkat. Baiklah aku akan menjaga zifan, hanya saja aku takut zifan akan menangis jika tak ada oppa dan eonni dirumah." Pikir luhan.

"kami akan secepatnya pulang lu, jika tugasku selesai kurang dari seminggu, maka kami akan segera pulang. Kita bisa video call jika zifan merindukan kami. Dan tentu saja kami akan membujuk zifan dengan mainan." Jawab yifan.

"tentu saja aku akan menjaga zifan oppa, eonni. Kan memang sudah tugasku, apakah aku perlu menginap disini selama kalian tak ada?" angguk luhan.

"kau tak keberatan jika menginap disini? Untuk menginap aku terserah padamu dan zifan saja lu nanti." Tentu saja luhan tak keberatan menjaga zifan, toh ia memang dibayar untuk selalu bersama zifankan, apalagi yang dijaga anak lucu seperti zifan yang selalu menurut kepadanya.

Setelah mendengarkan percakapan antara luhan dengan yifan, sehun segera berdiri dari duduknya untuk menuju kamarnya mengambil tas yang ia tinggal dikamarnya. Sedangkan irene yang melihat sehun berdiri ikut bediri dari duduknya lalu mengikuti sehun tanpa mengatakan apapun pada orang-orang yang masih duduk di meja makan.

"sehunn~" ujar irene manja sambil mengejar sehun menuju kamar.

"ada apa?" sehun yang menunjukkan wajah datar seperti biasa dan irene yang sudah kebal tak memperdulikannya.

"kenapa kau tak membela bahkan menyautku tadii." Ujar irene masih dengan manjanya. Kadang sehun menyesal menjadikan irene kekasihnya tapi mau bagaimana lagi jika nasi sudah menjadi bubur.

"memang apa yang harus kubela? Tak terjadi apapun. Sudahlah aku mau berangkat." Irene yang menunjukkan wajah cemberutnya apa boleh buat jika sehun sudah seperti itu hanya menunjukkan senyumnya lalu merangkul tangan sehun mengikuti pria itu menuju mobil yang terparkir siap digunakan menuju kantor.

...

Setelah dua hari berlalu, tibalah hari dimana yifan dan zitao harus berangkat ke kanada dan seperti dugaan. Saat zifan pulang sekolah mendapati dua koper besar diluar kamar orang tuanya membuatnya mengasumsikan bahwa orang tuanya akan pergi jauh. Dan mengapa ia tak diajak. Take off masih kurang dua jam, tetapi zifan sedari tadi masih menangis dipelukan mommy-nya. Yang sebenarnya membuat kedua orang tuanya tak tega, tapi mau bagaimana lagi jika yifan dan zitao juga merencanakan hal ini sebagai ajang bulan madu kedua mereka untuk mendapatkan adik bagi zifan.

Sebenarnya tugas yifan hanya memerlukan waktu dua hari untuk mengikuti seminar, tetapi ketika ia mengatakan kepada zitao dengan semangat zitao ingin ikut yifan ke kanada, zitao membujuk yifan untuk sekalian bulan madu untuk mendapatkan adik baru untuk zifan. Zitao sudah merasa bosan dirumah, karena yang diurus sudah harus keluar rumah semua, yifan yang harus berangkat kerja da zifan yang sudah mulai sekolah. Untuk alasan agar tak memanjakan zifan tentu saja itu hanya akal-akalan mereka berdua, tak mungkin mereka mengatakan sekalian bulan madu di kanada kan? Bahkan oh halmeoni saja juga tak tau.

"sayang, jangan seperti ini hmm, mommy dan daddy kan sudah berjanji pada zifan jika menjadi anak penurut akan mendapatkan hadiah kan?" ujar zitao lembut sambil mengelus kepala zifan sayang yang berada dipundaknya. Dan yifan yang sebenarnya tak tega meninggalkan anak semata wayangnya karena memang baru pertama kali meninggalkan yifan begitu lama hanya tersenyum berusaha menenangkan anaknya. Diambil zifan dari gendongan zitao, dan dimasukkan ke dalam pelukannya.

"hey anak daddy, maafkan kami yang tak bisa mengajak zifan kali ini, tapi daddy dan mommy akan membawakan banyak hadian untuk zifan, jadi zifan mau menunggu kami sampai kamis minggu depan kan?"ditarik anaknya untuk keluar dari pelukannya untuk melihat wajah sembab anak kesayangannya ini.

"ya daddy, tapi luhan noona akan menemani zifan setiap hari kan? Kalau perlu lu noona tidur bersama zifan setiap hari sampai daddy dan mommy pulang apa boleh?" hal ini tentu saja sudah dipikirkan oleh zitao dan yifan karena mereka sangat mengenal sifat manja anaknya, apalagi jika menyangkut hal sebelum tidur seperti dibacakan dongeng atau setidaknya mendapatkan kecupan selamat tidur dari orang tuanya.

"kalau hal itu, kami terserah pada lu noona sayang, coba tanyakan langsung padanya." Ujar zitao sambil tersenyum, lalu zifan segera menoleh ke arah luhan yang masih berdiri disamping sehun sedari tadi memperhatikan keharmonisan keluarga zitao membuat luhan sangat senang melihatnya.

"lu noonaa~" zifan segera turun dari pelukan yifan berlari menuju luhan yang siap memeluknya.

"apa hmm?" tanya luhan ketika berhasil mengangkat zifan ke dalam pelukannya.

"tidur dirumah temani zifan ya?" luhan langsung mengangguk lalu mencium pipi zifan gemas membuat anak berusia lima tahun yang awalnya menangis ini kembali tertawa.

Akhirnya yifan dan zitao berangkat dibalas lambaian oleh mereka bertiga. Siapa saja? Tentu zifan, luhan dan sehun. Karena yang mengantar kepergian yifan dan zitao hanya mereka bertiga. Kemana yang lain? Tolong jangan tanya, tapi akan tetap aku beri tau.

Halmeoni yang harus istirahat, dan hanya mengantar kepergian yifan dan zitao sampai depan rumah sedangkan irene yang memiliki urusan dengan temannya entah kemana dan baru akan kembali ketika hari minggu, tak kembali juga tak masalah sebenarnya. Jadi hanya menyisakan luhan dan sehun yang mengantarkan pasangan tersebut ke bandara.

Ketika dalam perjalanan, dengan posisi sehun yang menyetir, dan luhan yang duduk di kursi sebelah kursi kemudi dengan zifan dipangkuannya mulai melupakan kesedihannya karena orang tuanya yang pergi dan mulai tertawa bersama luhan ketika mendengar lelucon yang disampaikan gadis itu, bahkan terkadang sehun yang jarang tertawa ikut tersenyum mendengar lelucon itu untung saja luhan dan zifan tak sadar, bisa-bisa sehun di ledek oleh mereka berdua.

"zifan ingin sesuatu?" tanya sehun berusaha menyenangkan hati keponakannya.

"bisakah zifan mendapatkan es krim samchon?" zifan yang setengah berharap karena biasanya memang jika sudah jam segini orang tuanya tak pernah membolehkannya makan es krim, hanya alasan klasik, sudah malam tak baik makan es krim dari pada besok sakit. Membuat sehun berpikir sejenak, menyalahi aturan yang diberikan zitao noona tak masalah hanya sekali kan.

"zifan ingin es krim? Bukannya mommy melarang zifan makan es krim tengah malam? Tak ingin yang lain?" goda sehun membuat zifan mencemberut mendengar penuturan pamannya.

"zifan tak ingin yang lain selain es krim.. hiks." Zifan yang mulai akan menangis lagi membuat sehun hendak tertawa asik menggoda keponakannya sampai merasa lengan sakit ketika di pukul pelan oleh orang lain.

"sehun! Jangan menggoda zifan, ia sudah terlalu lelah sedari tadi menangis." Luhan berusaha menenangkan zifan, dan dibawanya kedalam pelukan.

"sudah sayang, samchon hanya bercanda, zifan ingin es krim kan, hanya sekali ya tak masalah kok." Ketika mendengar jawaban luhan membuat sehun melirik sinis juga menggoda luhan dan dibalas pelototan oleh luhan yang membuat sehun ingin tertawa melihat wajah imut luhan tapi pria itu langsung mengalihkan pandangannya dan melajukan mobilnya menuju kedai es krim.

Ketika mereka sudah tiba di kedai es krim, dengan semangatnya zifan turun dari mobil sehun dan disusul luhan mengejar anak itu untuk berdiri didepan tempat pemesanan di ikuti sehun dibelakangnya yang ikut memperhatikan zifan dan luhan yang berdebat. Luhan yang sedang berusaha mengontrol pesanan zifan, sedangkan anak itu dengan bebasnya memilih es krim yang diinginkannya karena ia tau pasti samchonnya akan selalu mengabulkan keinginannya.

"jangan banyak-banyak memesannya zifan, kalau besok sakit bagaimana?" ujar luhan.

"tapi zifan ingin rasa cookies and cream, strauberi, dan coklat~" jawab zifan manja sambil memeluk luhan.

"pilih salah satu sayang, besok bisa beli dengan rasa yang lainnya. Ini sudah malam, besok pulang sekolah bisa beli es krim lagi." Luhan yang berusaha menasehati anak ini dengan pelan.

"benar ya besok pulang sekolah beli es krim lagi? Zifan ingin rasa coklat dulu, besok pesan cookies and cream." Luhan mengangguk dan memesankan untuk zifan, sedangkan dirinya memesan taro dan sehun yang hanya bagian membayar saja.

Luhan dan zifan yang sudah mengambil tempat duluan meninggal sehun di meja kasir membayar tagihan, ketika mengeluarkan kartu kreditnya penjaga kasir mengajaknya berbicara.

"istri anda begitu sabar menghadapi anak kalian, lucu sekali."

"nde?" sehun yang tak seperti biasanya dengan wajah datar kini menampakkan wajah bingung setengah kaget beda dari biasanya.

"kalian lucu sekali, semoga keluarga kalian selalu bahagia." Doa sang penjaga kasir lalu mengembalikan kartu kredit sehun setelah berhasil membayar tagihan, dan memberikan es krim yang di pesan. Sehun menuju meja yang diduduki luhan dan zifan dengan nampan beserta dua es krim di tangannya. Jika biasanya ia tak akan rela membawakan sesuatu untuk orang lain, tak tau mengapa ia melakukannya kali ini.

Zifan yang sedang asik dengan es krim yang di suapkan luhan, dan menunggu giliran luhan menyuapkan untuk dirinya sendiri, bahkan terkadang tanpa malu sehun ikut di suapi oleh luhan dengan rasa yang di pilih luhan. Sehun tak menyukai rasa taro, tapi ia mau memakan es krim yang di pesan oleh luhan. Ada apa ini?

"lu noona, ayo liburan bersama." Ajak zifan.

"zifan ingin kemana?" tanya luhan sambil menyuapkan es krim zifan ke dalam mulut anak itu. Setelah selesai menelan es krimnya,

"zifan ingin ke lotter world. Bagaimana? Lu noona mau?" sehun yang masih memperhatikan dua orang didepannya karena merasa tak di ajak berbicara.

"baiklah, hari sabtu kita ke lotte world ya." Zifan langsung mengangguk setuju dan mengambil sendok dari tangan luhan untuk menyuapkan es krimnya sendiri.

"kalian tak mengajakku?" kali ini luhan dan zifan sadar ketika ada orang lain di meja mereka membuat keduanya melihat ke arah sehun.

"kau ingin ikut? Tak sibuk?" tanya luhan memastikan.

"memangnya kau akan berangkat sendiri ke lotte world?" tanya sehun balik.

"entahlah, oh halmeoni pasti tak akan mengijikanku membawa zifan dengan bus, jadi dengan kang ahjussi mungkin?" luhan menggedikkan bahunya dan menyuapkan es krim ke dalam mulutnya.

"kau sungguh-sungguh tak ingin mengajakku?" sehun yang merasa tersinggung lalu kembali menunjukkan wajah datarnya.

"aniyaa, samchon harus ikut dengan kitaa." Kini giliran zifan yang mengeluarkan suaranya membuat sehun menampilkan smirk andalannya.

"iya sayang, sehun samchon akan ikut." Luhan yang tak bisa menolak keinginan anak ini hanya mendesah pasrah, jika boleh jujur luhan sebenarnya ingin pria ini tak usah ikut, kedengarannya memang jahat hanya saja ia tak ingin sering-sering berada di dekat pria ini, mau dikata apa hatinya nanti untuk pria yang sudah memiliki kekasih.

"tuh akan ikut, puas?" tanya luhan lalu menyuapkan es krim miliknya ke dalam mulut sehun beberapa kali, bermaksud sengaja pada sehun tanpa sadar mereka berciuman beberapa kali karena sedari tadi sendok yang di gunakan untuk menyuapi sehun adalah sendok luhan, kekeke.

.

.

"annyeonghaseyo ahjumma." Sapa jongin dengan senyuman lebarnya ketika ahn ahjumma yang membukakan pintu untuknya.

"oh, annyeonghaseyo presdir kim." Jawab ahn ahjumma lalu menunduk hormat lalu mempersilahkan jongin masuk ke dalam rumah mereka.

"ahjumma, kan sudah ku katakan jangan menganggapku seperti itu, aku teman kyungsoo jadi panggil namaku saja." Balas jongin dengan santainya tapi tetap sopan saat mereka masuk ke dalam rumah.

Memang benar jika luhan dan ahn ahjumma sudah mengetahui siapa jongin, bahkan ketika kemarin kyungsoo pulang dari tugasnya bersama jongin, pria ini dengan relanya mengantarkan kyungsoo ke depan pintu dan berbicara sedikit pada ahn ahjumma untuk mengatakan bahwa ia sahabat kyungsoo, selalu saja berkedok sahabat.

Sehingga ia meminta ahjumma untuk tak bersikap atau berbicara formal padanya, ia hanya ingin ahn ahjumma dan luhan yang sudah jongin temui beberapa hari saat datang kerumah kyungsoo agar menganggap jongin bukan sebagai atasan kyungsoo yang harus dihormati tetapi sebagai teman kyungsoo.

Kyungsoo yang baru keluar dari kamarnya setelah menyiapkan diri untuk pergi ke kantor ingin melihat siapa tamu yang datang pagi ke rumahnya,

"ahjumma, siapa yang da..tang?" tanya kyungsoo heran ketika melihat wujud jongin didepannya sedang duduk diruang tamu dengan menunjukkan wajah smirk menggoda untuk kyungsoo.

"apa yang kau lakukan disini?" tanya kyungsoo tanpa basa-basi.

"kyung, tak baik bicara seperti itu pada tamu. Ahjumma ke dapur dulu ya menyiapkan sarapan." Peringat ahn ahjumma lalu hendak ke dapur, tetapi sebelum itu ahn ahjumma berbalik untuk kembali menghadap jongin dan kyungsoo yang sudah duduk bersebelahan.

"jongin sudah makan?" tanya ahn ahjumma. Dan yang ditanya langsung menggeleng keras dan menjawab,

"belum ahjumma, tadi aku siap-siap langsung kesini untuk menjemput kyungsoo. Belum sempat sarapan." Mendengar namanya disebut membuat kyungsoo memutar bola matanya malas, ada saja alasannya. Dan ahn ahjumma yang mendengar jawaban jongin hanya mengangguk lalu berlalu ke dapur berniat menambah porsi sarapan yang akan disiapkannya untuk jongin karena mulai hari ini dan beberapa hari kedepan hanya kyungsoo dan ahn ahjumma yang dirumah, sedangkan luhan harus menginap dirumah sehun.

"untuk apa kesini ni?" tanya kyungsoo to the point.

"untuk menjemputmu tentu saja kyung, dan kita akan ke kantor bersama." Jawaban jongin sukses mendapatkan pelototan dari kyungsoo. Pasalnya sudah beberapa kali kyungsoo katakan pada jongin bahwa ia tak ingin terlihat dekat dengan jongin saat berada di kantor. Hal itu akan membuat kyungsoo tak nyaman karena akan membuat pegawai yang lain menganggap ia memilikii hubungan yang membuat pegawai lain berpikiran yang tidak tentangnya. Bahkan termasuk pada sooyoung pun tak ia ceritakan jika ia dekat dengan jongin.

"kan sudah kyungie katakan jika di kantor jangan terlalu mencolok untuk berinteraksi, aku tak ingin pegawai lain menganggap yang tidak-tidak tentangku ni, jadi kita bertemunya di luar kantor saja." Untuk ukuran sahabat, hubungan mereka cukup spesial.

"tidak, pokoknya kita berangkat bersama. Aku tak tega membiarkanmu selalu menggunakan bus." Tolak jongin.

"kan aku sudah biasa menggunakan bus ninii." Jawab kyungsoo masih membanggel tak ingin berangkat bersama jongin.

"iya itu dulu sebelum bertemu denganku, jika sekarang kau berangkat bersamaku. Apa perlu kau kujadikan sekretaris agar bisa selalu bertemu."

"kau ini! Jangan seenaknya begitu, lagian kan itu bukan bidangku. Mau berbicara apa aku tiba-tiba pegawai baru diangkat jadi sekretaris. Aniya." Tolak kyungsoo dengan gelengan kepalanya tegas.

"ya sudah, ku jemput dan ku antar pulang tiap hari saja kalau begitu dan jangan protes." Kyungsoo yang ingin menunjukkan wajah protesnya dengan imut dan jongin tahan untuk tetap pada pendiriannya hingga kyungsoo menunjukkan wajah sebalnya dan berdiri membelakangi jongin,

"ya sudah tak usah bertemu di hari libur kalau begitu." Ucap kyungsoo dan meninggalkan jongin sendiri di ruang tamu.

"kyunggg." Jongin segera berdiri dan mengejar wanitanya.

...

Hari ini sudah hari sabtu, hanya beberapa jam lagi menuju hari libur. Sesuai kesepakatan jongin tak akan selalu mengantar jemput kyungsoo asal mereka akan bertemu ketika hari libur. Tapi untuk kali ini jongin memaksa kyungsoo untuk pulang bersama. Selama ini jongin tak pernah mengajaknya untuk bertemu kim ryewook dan kim jonghoon membuat kyungsoo menanyakan keberadaan orang tua sahabatnya ini.

Karena dulu, jongin pasti akan mengajaknya bertemu ryewook imo dan jonghoon samchon saat kecil, bahkan orang tua jongin juga mengajaknya liburan dan turut membantu kyungsoo membelikan beberapa kebutuhan yang di perlukan oleh sahabat anaknya itu termasuk jongin yang merengekni pada orang tuanya ketika kyungsoo mengatakan merasa ada yang aneh dengan matanya sehingga keluarga kim tersebut mengajak kyungsoo ke dokter mata dan membelikannya kacamata. Dan kyungsoo tak akan pernah lupa pada jasa orang tua jongin untuknya.

Saat kyungsoo masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya di depan gedung kantor lalu menggunakan sabuk pengaman dan menanyakan keadaan orang tua pria tersebut.

"oh ya ni." Panggil kyungsoo dan menghadapkan tubuhnya pada jongin yang sedang fokus pada jalanan.

"apa hm?" jongin yang masih memperhatikan jalan raya menyahut tanpa melihat kea rah kyungsoo.

"bagaimana keadaan ryewook imo dan jonghoon samchon?" Tanya kyungsoo.

"appa dan eomma baik-baik saja, baru beberapa hari lalu eomma pindah kembali ke seoul sedangkan appa masih harus bolak-balik luar negeri kyung. Ada apa?" Jawab jongin.

"hanya merindukan samchon dan imo. Besok kita kerumahmu ya? Aku ingin mengunjungi ryewook imo." Mohon kyungsoo.

"kau merindukan eomma? Baiklah besok kita kerumah, lagi pula aku juga sudah lama tak pulang." Angguk jongin.

"kau tak pulang? Kau tak tinggal dirumahmu?"

"aku tinggal di apartemen sejak aku pindah ke sini kyung. Saat itu eomma dan appa masih di London, lalu eomma membeli rumah di seoul. Jadi ya aku sudah terbiasa di apartemen." Jawab jongin sambil mengedikkan bahunya.

"begitukah." Lalu kyungsoo menganggukkan kepalanya.

Keesokan harinya jongin sudah siap menjemputnya untuk bertemu dengan eomma jongin, bahkan sebelum berangkat jongin sempat menelpon eomma dan mengatakan akan mepertemukannya pada seseorang yang pasti akan membuat senang eommanya. Dan eommanya hanya mengatakan cepat kerumah karena ibunya sudah tak sabar dengan kejutan jongin.

Mendengar perkataan ibu jongin saat tak sabar bertemu dengannya membuat kyungsoo sangat senang karena ibu sahabatnya ini masih sebaik dan sehangat dulu saat ia masih kecil. Ketika tiba dirumah pria itu, jongin segera turun dari mobil dan berlari ke seberangnya untuk membukakan pintu untuk kyungsoo membuat wanita itu cukup tersanjung.

Sebenarnya kyungsoo sedikit gugup untuk bertemu ibu jongin, tapi pria itu meyakinkan bahwa ibunya masih sama seperti dulu dan kyungsoo mengangguk saat pria itu mengajak kyungsoo masuk kerumah dengan tangan jongin yang berada di pinggang kyungsoo cukup posesif.

"eommaa." Teriak jongin dengan tak sopannya dan dibalas pukulan pelan yang dilayangkan kyungsoo karena merasa pria di sebelahnya tak sopan.

"jongiinn." Tak kalah di sambut antusias oleh ibu jongin dan belari pelan menuju jongin.

"sayaang, eomma merindukanmu. Aigoo kyungiee?!" sekali bertemu, ibu jongin masih mengenal hafal kyungsoo.

"imoo.. kyungie merindukan imo." Ucap kyungsoo, setengah ingin menangis tapi ditahannya.

"ya tuhan anak perempuanku yang selalu ku cari.." bukannya memeluk jongin, tapi malah memeluk kyungsoo tak membuat jongin iri sama sekali. Pria itu tersenyum melihat momen tersebut.

"maafkan imo meninggalkanmu tanpa berpamitan." Ujar ibu kyungsoo dan menangis yang tangannya memegang kepala kyungsoo sayang.

"tak apa imo, kyungie sekarang sudah memiliki keluarga." Jawab kyungsoo senang.

"benarkah? Aigoo anak perempuanku tumbuh dengan cantik." Lalu ibu jongin menggandeng tangan kyungsoo masuk ke dalam rumah dan disusul jongin berada di belakang mereka.

Selama seharian tak pernah bosan mereka saling menceritakan kehidupan mereka selama berpisah, bahkan ibu jongin sangat lengket dengan kyungsoo. Kyungsoo yang tak lupa menceritakan tentang ahn ahjumma, luhan dan pekerjaannya. Dan ibu jongin yang juga menceritakan pertumbuhan jongin yang sering murung saat di London dan bersemangat untuk pulang ke seoul.

Lalu mereka berbincang hingga tak kenal waktu, bahkan membuat jongin merasa terlupakan. Ibu jongin sangat sayang terhadap kyungsoo begitu juga sebaliknya. Tak lupa jongin mengingatkan untuk makan malam sebelum ia dan kyungsoo harus pulang. Mereka besok harus bekerja.

Saat kyungsoo akan mengajak jongin pulang, tiba-tiba pria itu datang dengan bunga mawar ditangannya membuat kyungsoo bingung melihat kelakuan pria itu, dan jongin menjatuhkan tubuhnya posisi melamar seorang gadis membuat kyungsoo sangat terkejut, dan ibu kyungsoo yang menyaksikan momen itu tersenyum bangga.

"kyung.. kau tau meskipun kita bertemu saat masih kecil, tapi aku sudah sangat menyukaimu sejak dulu. Bahkan kau yang membuatku tak bisa memiliki hubungan dengan wanita lain. Maafkan segala kekuranganku yang tak sanggup menahan nafsu sehingga kau bukan yang pertama nantinya, tapi akan ku pastikan kaulah yang terakhir kalinya. Jadi mau kah kau menjadi pendamping hidupku sampai kita tua nanti seperti appa dan eomma?" jongin yang berusaha melamar kyungsoo didepannya tak lupa cicin yang sudah ia siapkan beberapa hari lalu, bahkan jongin memesannya sehari setelah pulang dari busan saat mengetahui keberadaan kyungsoo.

Semuanya tak ada yang mengetahui rencananya, bahkan eommanya, appanya, atau dua sahabatnya meskipun ia sudah bercerita bahwa ia sudah menemukan wanita yang ia cari, tapi ia tak pernah bercerita bahwa ia akan langsung melamar wanita itu tanpa menyakannya menjadi kekasih terlebih dahulu, dan jongin sudah memikirkan ini jauh hari dan berjanji tak akan bermain dengan wanita manapun lagi.

Reaksi kyungsoo saat ini hanya terkejut dan tak bisa mengatakan apapun, sampai suara jongin membuatnya sadar.

"kyung?"

"ya?" kyungsoo yang masih diam tak mengatakan iya atau tidak membuat hati jongin berdegub sangat kencang takut kyungsoo menolaknya karena berita yang tersebar di kantor mengenainya bahwa ia senang memainkan wanita padahal itu tak benar sama sekali. Iya kita ia hanya menggunakan one night stand untuk memuaskan nafsunya, tapi ia tak pernah bermain dengan hati wanita, mengajak wanita berkencan saja tak pernah. Baru kali ini dan langsung melamar wanita tersebut, yaitu kyungsoo.

"bagaimana? Apa jawabanmu?" kyungsoo tak mengatakan iya tapi perlahan mengambil cincin berlian yang membuat kyungsoo cukup kagum dengan desainnya terlihat sederhana tapi sangat indah.

"ingin memakaikannya di jariku?" Tanya kyungsoo tanda mengatakan iya membuat jongin sangat senang lalu memakaikan cincin itu di jari manis kyungsoo, memberikan bunga mawar yang sedari tadi dibawanya kepada kyungsoo lalu memeluk wanita itu dihadapan eommanya.

Ibu jongin yang menyaksikan momen itu langsung berdiri dan ikut memeluk kyungsoo setelah jongin melepaskan pelukan,

"sayang, panggil imo dengan sebutan eomma mulai sekarang. Kyungie adalah bagian dari keluarga kim sekarang. Ya ampun sayang, eomma sangat senang sekali." Kyungsoo membalas pelukan ibu jongin dan mengangguk senang.

"iya eomma.." jawab kyungsoo.

"aigoo, anak perempuankuu." Ujar nyonya kim senang. Setelah melepas pelukan, ibu jongin langsung memukul keras anaknya.

"anak siapa yang tiduri hah?!" Tanya ibu jongin galak dan masih memukuli jongin.

"ampun eomma! Wanita bar yang tak kukenal. Hanya wanita semalam dan tenang saja aku pakai pengaman! Aduh sakit eomma!" jawab jongin dengan membela diri dan berusaha menghentikan pukulan yang diberi eommanya lari kebelakang kyungsoo.

"sayanggg lindungi akuu." Teriak jongin berusaha lari dari ibunya.

"eomma, sudah.." kyungsoo berusaha melerai ibu dan anak ini.

"eomma tak pernah mengajarkan seperti itu kyung." Jawab nyonya kim.

"aku pria berusia dua puluh lima tahun yang memiliki nafsu eomma." Bela jongin membuat kyungsoo langsung membalikkan tubuhnya dan melihat jongin datar.

"sa-sayang.. aku bisa jelaskan.. aku janji tak akan seperti itu lagi. Sungguh." Kyungsoo segera memeluk ibu jongin untuk berpamitan dan pergi meninggalkan jongin yang berusaha memberikan penjelasan.

Ketika berada di dalam mobil, kyungsoo dan mengeluarkan kata-kata apapun, bahkan ketika jongin mengajak berbicara tak digubris oleh wanita itu. Sampai akhirnya tiba dirumah kyungsoo, wanita itu segera keluar dari mobil tapi ditahan oleh jongin.

"sayang.." kyungsoo masih tak menyahut bahkan tak ingin melihat jongin, membuat jongin memaksa dagu itu melihat ke arahnya.

"dengarkan aku. Kenapa aku mengatakan hal itu, karena aku tak ingin ada kebohongan di antara kita. Aku dulu mengenal dunia malam bersama dua sahabatku saat di London, dan kami memiliki nafsu. Aku tak pernah berpikir untuk memiliki suatu hubungan dengan wanita kecuali one night stand itu saja." Kyungsoo yang tak ingin mendengar kata-kata one night stand membuatnya mengalihkan perhatiannya dari jongin, dan pria itu kembali memaksanya melihat ke arahnya.

"aku dulu pria bebas yang penuh dengan nafsu.. maafkan aku, tapi aku berjanji akan berubah dan tak akan melakukan itu lagi sayang." Akhirnya dengan segala keyakinan kyungsoo mau kembali menatap matanya.

"kau sungguh berjanji?" Tanya kyungsoo berusaha meyakinkan.

"aku selama ini tak pernah memiliki kekasih karenamu kyung, dan aku tak ingin kehilanganmu lagi tentu saja aku berjanji." Lalu kyungsoo mengangguk memafkan, dan tanpa diduga kyungsoo memajukan wajahnya ke arah jongin dan mengecup bibir jongin. Ini pertama kalinya mereka berciuman dan kyungsoo yang menciumnya duluan. Jongin yang masih kaget saat kyungsoo melepaskan penyatuan bibir itu hendak keluar tapi jongin segera sadar dan kembali menarik lengan gadisnya dan menyatukan bibir mereka kembali.

Jika tadi hanya kyungsoo yang mengecup, kini gantian jongin yang mendominasi. Melumat bibir atas dan bawah secara bergantian yang tak pernah bosan. Dan kyungsoo yang merasa ini ciuman pertamanya tak sehandal jongin membuat kyungsoo membutuhkan oksigen segera memukul pelan beberapa kali bahu jongin. Dan pria itu yang merasa tak rela tapi demi wanitanya akhirnya melepas penyatuan tersebut. Kyungsoo yang berusaha menghirup oksigen banyak membuat jongin tersenyum.

"first kiss, hm?" kyungsoo yang semulanya masih mengais oksigen, lalu melirik jongin sebentar dan masuk ke dalam pelukan pria itu mengangguk malu.

"wanitaku yang pemalu." Ujar jongin senang dan memeluk sayang kyungsoo. Bahkan tak pernah bosan ia cium kening wanitanya. Setelah itu mereka berpisah, jongin menunggu kyungsoo masuk ke gedung, lalu pergi menuju apartemennya. Akan tetapi sebelum itu,

"I'm officially taken." Chat jongin pada grup "trio bangsat" miliknya.

.

.

Hari ini masih jumat, dan sejak semalam luhan menginap di rumah sehun. Ia tidur bersama zifan, bahkan anak ini merengek jika luhan meninggalkannya meski hanya ke kamar mandi.

"zifann, ayo bangunn." Luhan yang habis dari dapur dan berusaha membangunkan zifan yang masih pulas dengan mimpinya.

"ahh, noonaa. Nanti ya lima menit lagi." Jawab zifan.

"tidak ayo banguun, atau besok ke lotte world batal." Mendengar lotte world, tubuh zifan bangun terduduk tak ingin ancaman itu menjadi kenyataan.

"ahh, wae bataal." Zifan yang hendak menangis langsung dipeluk erat oleh luhan.

"tidak, tidak akan batal jika zifan menurut pada noona untuk bangun dan berangkat sekolah. Kita akan tetap jadi ke lotte world besok bersama sehun samchon."

"benar ya, tetap pergi?" Tanya zifan.

"iya sayang, ingin noona buatkan bekal?"

"mauuu." Zifan mengangguk semangat.

"baiklah sekarang zifan mandi, noona akan menyiapkan bekal untuk zifan. Nanti akan noona bantu menggunakan seragam." Perintah luhan.

"siap, roger!" zifan segera turun dari kasur dan masuk ke dalam kamar mandi sedangkan luhan kembali ke dapur membantu menyiapkan sarapan.

Luhan segera turun ke dapur untuk menyiapkan bekal. Saat hendak mengambil kotak makan, ia melihat ada banyak kotak makan kosong yang tersedia membuat luhan ingin membuatkan juga sehun bekal tapi apakah pria itu menerimanya. Luhan menimbang dan akhirnya memilihkan untuk menyiapkan lebih dari satu untuk berjaga-jaga jika pria itu menerimanya, tapi jika menolah ya sudah, luhan bisa memakannya sendiri nanti.

Setelah selesai menyiapkan bekal, luhan segera kembali ke kamar yifan dan membantu anak itu menyiapkan kebutuhannya, mulai dari menggunakan seragam, dasi, dan menyiapkan buku yang di bawanya. Lalu bergegas turun ke meja makan.

Suasana meja makan masih sepi, hanya beberapa pelayan yang berlalu lalang menyiapkan sarapan untuk diletakkan di meja makan, membuat luhan ingin memanggil sehun. Luhan meminta zifan untuk duduk di meja makan selagi ia ke kamar sehun, karena kondisi oh halmeoni yang sedang tak baik membuatnya harus istirahat total. Luhan akan merawat oh halmeoni setelah zifan dan sehun berangkat.

Luhan segera mengetuk pintu kamar sehun, dan tak ada jawaban sampai luhan dengan berani masuk ke dalam kamar pria itu tepat saat pria itu keluar dari kamar mandi dengan jubah handuknya.

"apa yang kau lakukan disini?" Tanya sehun heran.

"ayo sarapan, tak enak karena suasana sepi. Hanya ada aku dan zifan di meja makan." Jawab luhan tanpa malu karena pria ini memakai jubah tertutup. Tapi dengan santainya luhan tak ingin keluar dari kamar sehun.

"ya sudah makan dengan zifan, nanti temani aku juga sarapan." Jawab sehun santai.

"ya! Tak bisa seenaknya begitu, ayo makan." Ngotot luhan.

"tak bisa lu, aku masih harus bersiap, sedangkan zifan harus berangkat sekolah pagi. Sana temani zifan, sebelum ia terlambat." Sehun yang masih tak melihat ke arah luhan melainkan ke lemarinya untuk memilih pakaian.

"apa yang kau lakukan? Lama sekali?" luhan berjalan menuju lemari sehun dan melihat pria tersebut masih memilih membuat luhan menghela nafas, dan dengan beraninya mengambil satu stel kemeja berwarna biru laut, dan celana kantor. Tak lupa luhan pilihkan dasi yang senada dengan pakaian yang dipilihnya. Melihat kelakuan luhan membuat sehun tersenyum singkat, dan mengambil pakaian tersebut dari tangan luhan.

"gomawo, dan kau bisa keluar." Ujar sehun.

"kau mengusirku?" Tanya luhan tak percaya. Inikan tanda terima kasih dari pria tersebut.

"terus apa? Kau ingin melihatku telanjang mengganti bajuku?" tantang sehun, dan luhan teringat hal tersebut langsung meninggalkan kamar sehun.

Setelah selesai mengantarkan zifan sampai depan dengan supir yang biasa siap mengantar zifan sekolah, tak lupa bekal yang dibuatnya diberikan kepada zifan. Kali ini tugasnya selesai. Dan saat masuk ke dalam rumah, bertepatan dengan sehun yang turun dari kamarnya, lalu pria itu menarik tangan luhan untuk kembali duduk di meja makan.

Tak ada percakapan yang berlangsung sampai sehun selesai menghabiskan sarapannya, ketika hendak berangkat, luhan menahan tangan sehun dan berlari menuju dapur tanpa mengucapkan apapun membuat sehun bingung tapi menunggu gadis cerewet itu kembali menuju ke arahnya dengan tas bekal yang berada di tangannya.

"aku tak tau kau akan menyukainya atau tidak, tapi tadi aku membuat makanannya terlalu banyak untuk zifan jadi sekalian saja aku berikan kepadamu. Tapi jika kau tak menginginkannya aku juga tak masalah bisa kumakan nanti, jika kau ingin bisa kau bawa ke kantor." Ujar luhan dengan wajah sok-nya yang sebenarnya takut mendapat penolakan.

Sehun segera meraih ta situ, dan tanpa aba-aba langsung mengecup cepat yang membuat tubuh luhan sedikit mundur karena perlakuan itu, tanpa mengatakan apapun sehun segera pergi berangkat dengan senyuman yang merekah. Sedangkan luhan yang masih memegang bibirnya setelah mendapat kecupan membuatnya diam. Dan kali ini yang dirasakan, jantungnya cukup berdetak cepat, tak seperti saat pertama kali bertemu dengan yifan yang terpesona. Ini jantungnya luar biasa cepatnya sampai luhan susah untuk membuatnya kembali normal.

.

.

.

TBC