Now, You Know Me
Cast :
Oh Sehun ( 25 Tahun )
Xi Luhan ( 21 Tahun )
Kim Jongin ( 25 Tahun )
Do Kyungsoo ( 23 Tahun )
Wu Yifan ( 29 Tahun )
Wu Zitao ( 28 Tahun )
And others
.
.
WARNING : This is GS ( GenderSwitch )
TYPO, EYD, DLDR!
RATED : T - M.
.
Summary :
Luhan gadis biasa yang memiliki sifat ceria dan ceroboh harus berhubungan dengan laki-laki kaku nan dingin yang tak mempercayai akan cinta itu ada. Laki-laki dengan usia muda yang mampu meraih kesuksesan dengan kerja kerasnya sendiri bernama Sehun tak mengenal akan kebaikan seseorang secara cuma-cuma, menganggap semua orang sama buruknya, dan hanya menatap derajat dan seberapa kaya orang itu.
.
.
Chapter 9: Our Day
Happy Reading ^^
.
.
Ini adalah hari sabtu yang sangat dinanti Zifan, anak itu memiliki jadwal sekolah hingga jumat jadi sabtu dan minggu adalah hari liburnya. Tanpa sadar ia bangun terlebih dahulu dalam pelukan Luhan saat ini. Zifan membuka matanya dan melihat Luhan yang masih tertutup rapat matanya. Zifan segera bangun dari posisinya hingga terduduk dan masih memperhatikan Luhan saat ini. Sudah beberapa hari memang ia tidur bersama Luhan, padahal biasanya ia akan tidur sendiri karena orang tuanya tidur di kamar yang berbeda dan selalu membuat Zifan merasa senang karena memiliki teman dalam tidurnya.
Sudah sejak lama ia mengatakan pada orang tuanya untuk ingin memiliki adik, tetapi reaksi orang tuanya selalu tak sesuai harapannya. Padahal Zifan berharap memiliki adik agar ia tak merasa sendiri dirumah kecuali sekarang ia sudah punya lu noonanya.
"Noona~" Zifan menggerakkan pelan tubuh Luhan untuk dibangunkan. Dan gadis itu yang masih tertidur pulas tak menghiraukan rengekan anak kecil disebelahnya. Jangan lupa jika memang Luhan pecinta tidur, sangat.
Karena Luhan yang tak menghiraukannya membuat Zifan sempat merajuk dan memajukan bibirnya sebal, tetapi Zifan tak pernah kehabisan akal, kali ini Zifan berdiri diatas kasur dan melompat-lompat untuk membuat Luhan merasa terganggu dan bangun.
"Noo-na, noo-na, noona! Bang-ngunnn! Ayo noona bangun kita pergi ke lotte worlddd." Seru Zifan yang masih melompat diatas kasur. Dan Luhan yang akhirnya merasa terganggu akhirnya menggerakkan tubuhnya.
"Arghh, Zifan stop." Luhan masih berusaha kembali tidur dengan menutup telinganya agar tak mendengar teriakan anak kecil ini tapi tetap saja gagal.
"Lu noonaaaaa, ayo banguunnn." Seru Zifan. Dan merasa tak terganggu, Zifan segera naik keatas tubuh Luhan yang membelakanginga itu. Meskipun tak seluruhnya menumpu pada Luhan, tetap saja gadis itu merasakan beban yang berat diatasnya hingga tubuhnya terayun-ayun sedikit kencang dan kali ini sangat mengganggu, sungguh.
"Ahh, baiklah iyaa, noona bangun sekarang Zifan turun dari tubuh noona." Perintah Zifan membuat anak kecil super menggemaskan itu menurut turun dan duduk masih melihat tubuh Luhan yang tak kunjung bangun dan masih membelakanginya itu.
"Noonaaa~" rengek Zifan, sebenarnya Luhan sudah bangun hanya saja masih ingin menggoda anak ini membuat Luhan menyeringai kecil lalu kembali menutup matanya.
"Zifan, lima menit lagi saja." Ujar Luhan masih membelakangi tubuh Zifan. Zifan langsung menempel pada Luhan dari belakang meletakkan kepalanya dibahu Luhan sambil memperhatikan wanita didepannya yang memejamkan matanya membuat Luhan memanyunkan bibirnya hendak menangis.
"Hng, noona.." lirih Zifan membuat Luhan tak tega dan terbahak lalu bangun memasukkan Zifan kedalam pelukannya.
"Aigoo adik noona lucunyaa. Ayo, ini jam berapa..?" Luhan segera memperhatikan jam lalu melanjutkan ucapannya.
"Zifann ini masih jam enam, mengapa terburu sekali.." kali ini gantian Luhan yang mengatakan kalimatnya dengan lirih dan Zifan yang sudah kembali semangat. Zifan yang sudah bangun dan melepas pakaiannya masih berdiri didepan pintu kamar mandi segera menengok ke arah Luhan.
"Tak apa noona, semakin pagi jadi semakin lama bermainnya." Zifan segera berlari masuk kedalam kamar mandi meninggalkan Luhan masih mental breakdown mendengar jawaban Zifan.
"Ya Tuhan Zifann, lotte world baru buka jam sembilan, ahhh." Teriak Luhan tak telalu kencang yang kembali meletakkan tubuhnya di kasur sambil menjejakkan kakinya keatas seperti menendang angin dan menggerakkan tubuhnya kesal.
Ini masih jam enam, sedangkan lotte world baru buka jam Sembilan. Seharusnya masih ada waktu untuk Luhan istirahat dan itu yang membuat gadis itu sangat sebal.
…
Luhan yang mulai menyiapkan bekal untuk mereka saat di lotte world, melihat Zifan yang sangat semangat membuat Luhan cukup senang, pasalnya ia tak merasa sia-sia bangun pagi di hari libur ketika melihat senyuman Zifan yang tak pernah luntur.
Ketika masih menyiapkan, Zifan dengan tegaknya menunggu Luhan seperti menunggu perintah yang dilayangkan untuknya dengan masih memperhatikan Luhan yang kesana kemari mengambil bahan-bahan yang diperlukan, dibantu dengan beberapa pelayan membuat Zifan masih terdiam melihat keadaan dapur.
"Apa yang Zifan lakukan disini?" Tanya Luhan yang masih memperhatikan masakannya tak melihat ke arah Zifan.
"Zifan ingin membantu, apa yang bisa dilakukan Zifan noona?" Tanya Zifan yang kali ini menghampiri Luhan dan memeluk kaki Luhan, sebenarnya ia ingin memeluk tubuh Luhan tapi tinggi Zifan yang masih sebatas pinggang Luhan membuat Zifan hanya bisa memeluk kakinya saja. Tapi untuk ukuran anak berumur lima yang hamper enam tahun itu sudah termasuk cukup tinggi. Jelas saja, hasil warisan orang tuanya yang bertubuh tinggi dan ramping menurun padanya.
"Jangan disini ya, nanti terkena minyak panas bagaimana? Kalau membangunkan Sehun samchon? Ini sudah jam delapan, pastikan Sehun samchon jadi mengantar kita, ok?" Zifan segera mengangguk dan berlari menuju kamar Sehun.
BRAK! BRAK! BRAK!
Zifan yang berusaha menggedor pintu kamar Sehun berkali-kali dan tak ada sahutan sama sekali membuat Zifan takut batal pergi kali ini.
"Samchoonn!" teriak Zifan yang terdengar seisi rumah. Dan teriakan itu terdengar sampai dapur membuat Luhan akhirnya menghampiri Zifan yang hendak menangis karena Sehun tak kunjung membukan pintunya.
"Sehun samchoonn." Teriak Zifan saat Luhan datang melihat Zifan yang matanya terlihat mulai berkaca-kaca.
"Ada apa Zifan? Kenapa harus berteriak seperti itu?" Tanya Luhan lalu mengangkat Zifan ke dalam gendongannya membuat Zifan langsung memeluk balik Luhan dan menempatkan kepalanya didalam leher Luhan.
"Sehun samchon tak bangun noona, apakah kita batal ke lotte world? Hiks." Luhan segera menjauhkan kepala Zifan dari pundaknya dan mengelus kepala Zifan lembut.
"Jika Sehun samchon tak jadi mengantarkan kita, kita pergi berdua saja jadi Zifan tak perlu menangis ya." Ujar Luhan lembut. Bertepatan dengan itu Sehun keluar dari kamarnya dengan pakaian santainya yang siap untuk keluar.
"Kata siapa kalian hanya pergi berdua? Tentu saja samchon juga ikut." Sehun segera mengambil Zifan dari gendongannya dan segera berjalan menuju meja makan diikuti oleh Luhan di belakangnya.
Oh halmeoni tiba-tiba keluar dari kamarnya dan ikut duduk bersama Sehun, Zifan, dan Luhan. Dan disana Luhan yang melayani semuanya, dari mulai menyiapkan makan Sehun, Zifan, dan oh halmeoni, menawarkan makanan yang ingin dipilih, bahkan ia diterima baik dikeluarga itu. Kemarin zitao yang memberikan pekerjaan cuma-cuma, sekarang oh halmeoni yang sangat baik kepadanya.
Luhan menawarkan halmeoni yang keadaannya mulai baik untuk ikut berjalan-jalan liburan bersama, tetapi halmeoni menolak karena hanya ingin istirahat total saja dirumah, lagi pula halmeoni juga pasti tak kuat jalan kaki terlalu lama jadi biarkan Sehun dan Luhan saja yang mengikuti kelincahan Zifan, halmeoni tentu tak akan kuat.
Akhirnya setelah berpamitan dengan halmeoni, Zifan yang berada di gendongan Sehun dan Luhan yang awalnya berada di belakang para lelaki dengan membawa tas bekal yang tadi disiapkannya tiba-tiba Sehun berhenti menoleh ke arah Luhan dibelakang dan langsung menggandeng Luhan tengan tangannya yang tak membawa apapun, sampai mereka masuk ke dalam mobil.
Jangan tanyakan keberadaan Irene sekarang, wanita itu entah kemana dengan urusannya sendiri dan Sehun, Luhan juga Zifan tak ingin merusak momen mereka dengan mengingat keadaan Irene dimana dan sedang apa sekarang, biarkan saja Sehun, Luhan, dan Zifan bersenang-senang hari ini.
Zifan yang merengek ingin berada dipangkuan Luhan membuat gadis itu tak bisa menolak, Sehun yang sudah membujuk agar Zifan duduk dibelakang tapi tak berhasil sehingga anak kecil itu tetap duduk di pangkuan Luhan. Lama perjalan tak terasa ketiak selama perjalanan pula mendengar ocehan lucu Zifan kadang membuat Luhan tertawa dan kadang juga tak paham.
Ketika mereka tiba di gedung parkir lotte world, orang yang pertama turun dari mobil adalah Zifan, Luhan yang harus ke bagasi mengambil tas yang tadi dibawanya, berisi makanan yang disiapkan dan tak lupa pula baju ganti Zifan untuk berjaga-jaga bila diperlukan.
Kali ini entah tanpa sadar, Sehun, Zifan, dan Luhan tampak serasi dengan pakaian yang mereka pakai sekarang. Konsep kali ini adalah summer time yang mana Luhan menggunakan dress sederhana berwarna pink muda dengan motif bunga, sedangkan Sehun yang menggunakan kemeja tipis berwarna biru muda bermotif, dengan celana robek dibagian lutut benar-benar terlihat menawan, dan Zifan yang Luhan pakaikan kaos lengan pendek berwarna coklat muda bertuliskan "baby boy" membuatnya terlihat semakin menggemaskan.
"Zifann, jangan lari seperti itu." Luhan yang meraih tasnya dan berjalan menuju Zifan yang kali ini diikuti Sehun dari belakang dan kaget ketika merasa seseorang mengambil alih barangnya.
"Katakan padaku, dan jangan kau bawa sendiri barangnya lu." Luhan yang menoleh ke Sehun dan hanya tersenyum ceria. Lalu tiba-tiba Sehun menggandeng tangannya ketika yang satunya membawa tas yang tadi ia ambil dari Luhan, dan sebelah tangannya menggandeng Luhan meminta gadis itu berhenti sejenak.
"Apa yang kau lakukan oppa? Kenapa berhenti? Nanti Zifan menghilang, ayo dikejar." Ujar Luhan yang berusaha menarik tangan Sehun.
Oppa? Sejak kapan..?
FLASHBACK
Jumat malam ketika Luhan, Zifan, dan halmeoni yang sedang makan malam Sehun pulang dari kantornya, terlihat suntuk sampai tanpa mengucapkan apapun dan langsung masuk ke dalam kamar. Halmeoni yang tak tega melihat wajah lelah Sehun akhirnya meminta Luhan untuk mengantarkan makan malam untuk Sehun.
Seisi rumah sudah paham dengan watak Sehun jadi merasa biasa saja saat melihat wajah datar yang cukup menjengkelkan yang selalu ditampilkan oleh oh Sehun. Nampan dengan makanan yang sudah disediakan dibawakan Luhan ke kamar Sehun.
Luhan yang sudah mengetuk pelan pintu kamar Sehun, sampai akhirnya sang pemilik kamar membukakan pintu dan mengijinkannya untuk masuk kedalam kamarnya. Terlihat wajah lelah Sehun dengan berkas yang berada diatas sofa dan laptop yang menyala membuat Luhan tak tega melihat seberapa sibuknya Sehun.
Setelah membukakan pintu untuknya, pria itu langsung kembali ke sofanya yang cukup panjang dan tak menghiraukan makanan yang Luhan bawa hingga gadis itu meletakkan nampan beserta isinya di meja sebelah laptop Sehun berada, dan dengan berani Sehun duduk didekat Sehun dan melihat apa yang pria itu lakukan.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Luhan penasaran.
"Kau pikir apa lagi jika bukan pekerjaan, aku kan berniat meliburkan diri besok jadi aku ingin segera menyelesaikan ini agar tak mengganggu liburan kita besok." Jawab Sehun yang masih fokus pada laptopnya.
"Kau sibuk ya Sehun, jika memang terlalu sibuk tak usah dipaksakan untuk ikut. Aku besok bisa pergi bedua dengan Zifan saja kok." Mendengar penuturan Luhan membuat Sehun langsung menatap datar Luhan yang cukup membuat gadis itu begidik ngeri melihatnya.
"Ya bocah! Kau lebih muda dariku seenaknya memanggil namaku seperti itu, panggil aku oppa! Lagi pula aku tak keberatan ikut bersama kalian besok." Jawab Sehun dan kembali memperhatikan laptopnya.
"Oppa? Tidak akan!" kali ini Luhan menggeleng keras.
"Wae tak mau? Kau saja memanggil Yifan hyung dengan sebutan oppa, dan kau tak mau memanggilku oppa?" protes Sehun. Mendengar protesan Sehun membuat Luhan cukup tertawa.
"Wae kau cemburu? Baiklah oppa ayo makan, kekeke." Luhan yang masih tertawa setengah mengejek Sehun bermaksud menggoda pria itu, dan yang digoda hanya menampilkan raut datarnya.
"Aigoo uri oppa maraah?" Luhan menaik turunkan alisnya dan menghentikan candaannya.
"Baiklah, oppa makan dulu baru kembali bekerja. Aku tinggal." Ketika Luhan hendak berdiri tetapi ditahan oleh Sehun membuat Luhan kembali duduk ke tempatnya yang berada di sebelah Sehun dan melihat ke arah pria itu, mendapat tatapan tak ingin dibantah akhirnya Luhan mengankat alisnya ketika menunggu pria itu mengatakan sesuatu.
"Ada apa?" Tanya Luhan ketika Sehun tak kunjung mengatakannya.
"Oppa ada apaa?" Luhan yang kali ini tangan Luhan yang berada dibahu Sehun, sedangkan tangan Sehun yang tiba-tiba berada dipinggang Luhan membuat gadis itu semakin mendekat ke arah yang berusaha Luhan jauhi ketika jarak mereka begitu dekat sampai bibir Sehun berada tepat disebelah telinga Luhan dan berbisik.
"Suapi aku." Kata singkat itu membuat Luhan cukup terkejut, apa katanya, suapi?
"Aku tak salah dengar? Suapi?" Tanya Luhan untuk meyakinkan.
"Wae? kau tak mau? Suapi aku seperti tadi kau menyuapi Zifan." Entah bagaimana nada Sehun kali ini terdengar manja dan cukup membuat Luhan menganga.
"Ada apa denganmu oppa?" Tanya Luhan yang masih tak percaya.
"Suapi aku, kan sudah ku bilang." Setelah mereka berdebat yang tak kunjung selesai akhirnya Luhan memilih mengalah untuk menyuapi Sehun, tangan pria itu yang dari tadi tak lepas dari pinggangnya sedangkan Luhan yang sudah berusaha melepaskannya tetap saja selalu gagal membuat Luhan menyerah berada di posisi seperti ini Luhan hanya bisa pasrah.
Sepertinya Luhan harus mulai terbiasa dengan sebutan oppa ketika yang biasanya Sehun cukup menyebalkan tetapi dan semenyebalkan yang dikiranya, bahkan sepertinya Luhan harus mulai terbiasa dengan skinship yang terjadi diantara mereka meskipun tak tau apa maksud dari semua ini.
FLASHBACK OFF
"Wu Zifann! Jika kau tak menuruti perintah samchon untuk tak berlarian, kita pulang saja." Ujar Sehun yang bersiap menarik Luhan untuk kembali ke mobil.
Keaktifan Zifan yang baru saja sampai di parkiran dan belum masuk ke dalam lotte world sudah membuat Sehun dan Luhan pusing, pasalnya anak itu berlarian kesana dan kemari, bahkan tak mendengarkan teriakan Luhan termasuk perintah Sehun untuk diam sebelum Sehun membeli tiket untuk mereka agar bisa masuk ke dalam.
Ini baru pukul Sembilan dan suasana lotte world sudah cukup ramai, apalagi hari ini adalah hari libur, tak seharusnya memang tapi Sehun memang meliburkan dirinya hari ini hanya untuk Zifan dan Luhan. Ia tak akan tega membiarkan Luhan mengasuh Zifan sendirian dengan tingkah aktif yang seperti ini. Sehun kembali dengan membawa tiga tiket agar masuk kedalam gedung.
Didalam, Zifan tak henti-hentinya menunjuk wahana yang diinginkan ketika berada di gendongan Sehun dan Luhan yang berada di samping pria dengan tangannya juga digandeng oleh Sehun itu tersenyum senang ketika melihat reaksi Zifan yang tampak bahagia.
Kemanapun mereka, Sehun selalu menggenggam tangan Luhan dibagian kiri, dan tangan kanannya yang menggenggam Zifan atau menggendong anak itu.
"Samchoon, ayo naik ituu." Teriak Zifan senang ketika melihat komedi putar. Kali ini mereka masih memasuki lotte world yang indoor. Banyak wahana yang cukup membuat Zifan tertarik, bahkan ia tak mengenal lelah sama sekali melebihi energy yang dimiliki oleh Luhan.
Ketika Zifan belari dengan senangnya untuk mengejar wahana yang menarik matanya, dibelakang Luhan hanya mengikuti Zifan dengan cukup ngos-ngosan. Bahkan kadang melihat energy yang bertolak belakang antara Luhan dan Zifan membuat Sehun tertawa. Baru kali ini Sehun tertawa didepan mata Luhan.
"Sabar Zifan, noona lelah mengikutimu." Ujar Luhan yang kali ini menarik tangan Zifan untuk tak berlarian.
"Noona ayo naik kuda ituu." Mohon Zifan ketika melihat gerbang pembatas mulai terbuka untuk orang-orang yang ingin menaiki komedi putar.
"Kita naik jika Zifan tak lari seperti itu, Zifan tak kasihan dengan samchon dan noona yang dari tadi mengikuti Zifan? Setelah ini istirahat dulu ya?" Zifan segera mengangguk patuh lalu mereka bertiga berjalan untuk mengantri untuk menaiki wahana itu. Sehun yang biasanya terlalu malas untuk meladeni permintaan seseorang, kali ini selalu menuruti jika Zifan yang merengek padanya. Bukan hanya Zifan, tetapi Luhan juga kadang merengek padanya jika ia meminta Sehun untuk menemani Luhan mengikuti Zifan masuk ke dalam wahana.
"Iya noona, ayo mengantri. Ayo samchon." Kali ini Zifan melihat ke arah Sehun lalu menarik Sehun untuk mengantri, sedangkan Luhan berada di belakang mereka.
Setelah asik menaiki komedi putar, kali ini mereka beristirahat mengikuti perintah Luhan. Mereka mencari bangku kosong untuk bisa mereka duduki bertiga. Jam sudah memasuki waktu siang, waktunya mereka untuk makan siang sesuai dengan bekal yang sudah disiapkan oleh Luhan. Bahkan bisa dikatakan cukup banyak, sayang minuman yang mereka bawa mulai menipis karena sudah mereka minum saat bejalan-jalan tadi.
Zifan yang duduk ditengah antara Sehun dan Luhan itu melihat ke arah orang dibawa disekitarnya ketika botol minum yang dipegangnya sudah habis, sedangkan Luhan yang masih menyiapkan kotak bekal yang akan dikeluarkannya dan Sehun yang hanya diam saja membuat Zifan melihat ke arah pamannya kali ini.
"Samchon, minumnya habis." Ujar Zifan sambil menunjukkan botol minumnya yang kosong, dan Sehun yang paham mengangguk segera berdiri untuk membeli minum untuk mereka meninggalkan Luhan dan Zifan berdua dikursi itu.
Luhan yang masih menghadap tas yang berada dibawahnya, sambil ingin mengajak Zifan berbicara agar anak laki-laki itu tak bosan menunggunya menyiapkan makanan.
"Zifan, tebak apa yang noona bawa hari ini?" ujar Luhan yang masih memfokuskan matanya pada tas untuk mencari peralatan makan yang masih belum Luhan temukan. Tetapi tak ada jawaban yang dilayangkan anak itu.
"Zifan..?" Luhan yang berusaha memastikan keberadaan anak itu lalu menegakkan tubuhnya dan melihat ke bangku kosong disebelahnya membuat Luhan melupakan kotak bekalnya yang jatuh yang untung saja masih Luhan tutup lalu segera berdiri mencari keberadaan Zifan.
Yang cukup membuat bingung adalah ia sendiri sekarang, Luhan sudah berusaha mencari Zifan disekitar situ, tetapi pikirannya buntu sekarang dan tak bisa memikirkan apapun, bahkan ia melupakan fakta ia memiliki ponsel untuk bisa menghubungi Sehun secepat mungkin. Pikirannya sudah lebih dulu dipenuhi dengan hal negatif yang bahkan membuat Luhan menangis di tempat sampai akhirnya Sehun kembali dengan tiga botol air minum.
"Lu..? Zifan mana?" tanya Sehun segera menghampiri Luhan yang sedikit dikerubungi oleh orang-orang yang menatap gadis itu iba karena menangis sendirian. Luhan yang mendengar suara Sehun langsung segera mengalihkan atensinya ke Sehun, sedangkan pria itu segera memeluk Luhan yang tengah menangis sekarang.
"O-oppa.. Zifan dimana.. aku tadi t-tak memperhatikannya tiba-tiba Zifan sudah tak ada ditempatnya. Dimana anak itu.. hiks.." Luhan yang menangis di pelukan Sehun, dan Sehun dengan sabar mengelus kepala Luhan sayang.
"Tenanglah, kita cari bersama-sama. Tidak perlu menangis, dan jauhkan pikiran negatifmu itu." Dan dibalas anggukan oleh Luhan. Entah belum lama mengenal, tapi Sehun seakan tau apa yang Luhan pikirkan. Bahkan pria itu sudah menghafal letak kelebihan dan kelemahan gadis ini. Apa ia terlalu memperhatikannya? Sudahlah, itu tak penting dan tak perlu dibahas.
Beberapa saat Luhan setelah menenangkan dirinya untuk tak menangis, lalu membereskan barang mereka. Tiba-tiba dari pusat pengumuman memanggil nama Sehun dan Luhan karena menemukan anak kecil bernama Zifan yang sedang menangis sekarang karena tersesat, membuat Luhan tanpa pikir panjang langsung lari menuju pusat pengumuman meninggalkan Sehun di belakang.
"Zifan!" teriak Luhan dari jauh saat melihat Zifan menangis dengan beberapa orang dewasa disebelah Zifan berusaha menenangkan anak itu.
"Eomma.. huaaa." Zifan langsung berlari ke arah Luhan dan meminta wanita itu menggendongnya.
"Ya Tuhan, noona hanya mengambilkan makanan untukmu tapi tiba-tiba kau sudah tak ada, kau kemana hmm?" tanya Luhan sabar sambil mengelus kepala Zifan yang masih menangis berada didalam gendongannya itu. Sehun yang melihat Zifan berada di gendongan Luhan hanya bernafas lega dan menghampiri dua orang yang sedang berpelukan mesra, tak lupa tas yang Luhan tinggalkan di kursi tadi Sehun bawa.
Merasa ada tangan lain yang mengelus kepalanya, Zifan segera mengangkat kepalanya dengan mata bengkaknya dan mengarahkan tangannya pada Sehun tanda ingin digendong pria itu.
"Zifan dari mana saja? Kenapa membuat samchon, dan lu noona khawatir?" tanya Sehun pelan yang masih menggendong Zifan dan membawa tas membuat Luhan paham dan mengambil alih tas yang dibawa Sehun.
Dua orang pasangan yang tadi menolong Zifan yang letaknya sedikit jauh dari Luhan berada itu akhirnya menghampiri Luhan dan Sehun yang seperti keluarga bahagia itu. Dan Luhan yang sadar ada orang yang menghampiri mereka segera menunduk hormat karena orang yang didepannya itu lebih tua darinya.
"Lain kali jangan lepaskan anakmu sendirian, kasian tadi ia tersesat lalu kami bawa ke pusat pengumuman." Ujar wanita tua itu sambil menepuk lengan Luhan pelan, membuat gadis yang sangat berterima kasih ini memeluk wanita tua didepannya dan mengucapkan kata terima kasih berkali-kali. Tak lupa Sehun yang masih menggendong Zifan juga mengucapkan terima kasih pada pasangan yang ada didepannya.
Sebenarnya Luhan ingin mengatakan kepada orang yang sudah menolong Zifan itu tapi karena merasa tak sopan jadi Luhan membiarkan orang tersebut mengira Zifan anaknya dan mengucapkan banyak terima kasih.
Sehun segera melepas pelukannya dari Zifan untuk kembali menanyai kenapa anak itu bisa menghilang, lalu Zifan yang mulai menceritakan jika ia melihat trolley bayi dengan balon yang menarik hatinya. Zifan hanya ingin bertanya dimana ahjumma itu membeli balon sehingga ia bisa meminta lu noona dan Sehun samchon membelikannya balon yang seperti itu, tapi suasana yang begitu ramai membuat Zifan kehilangan orang tersebut dan tersesat ketika akan kembali. Untung saja pasangan baik tadi mau menolongnya ke pusat pengumuman untuk bisa bertemunya dengan Luhan noona dan Sehun samchon.
Luhan yang menghela nafas lega lalu kembali mengelus kepala Zifan dengan berusaha mengingatkan anak itu agar tak mengulangi perbuatannya. Jika menginginkan sesuatu jangan langsung menghilang begitu saja.
"Zifan jika menginginkan sesuatu, bilang dulu pada noona atau samchon. Jangan langsung menghilang seperti itu membuat noona kalang kabut mencari Zifan tadi. Jangan di ulangi lagi ya?" ujar Luhan sabar dan dijawab anggukan oleh Zifan.
Segera mereka mencari kursi kosong untuk melanjutkan kegiatan makan siang mereka sebelum kembali ingin mencoba beberapa wahana.
...
Disisi lain, terdapat wanita yang pulang dengan gaya elitnya dengan membawa beberapa belanjaan masuk ke dalam rumah orang dengan gaya sombongnya. Sudah beberapa hari ini ia tak berada dirumah Sehun karena bertemu dan bersenang-senang dengan temannya yang berasal dari negara yang sama dengannya, bahkan ia memilih menginap dirumah temannya karena tak ingin melihat wajah tak suka yang diberikan oleh nenek Sehun untuknya.
Sudah beberapa hari ia menceritakan kejadian yang dialaminya ketika dirumah Sehun, dan temannya memberikan saran padanya untuk jika ingin memiliki Sehun ia harus bisa mendapatkan hati nenek tua itu. Jadi akhirnya Irene kembali dan sekarang berusaha mengambil alih hati oh halmeoni.
Irene wanita itu telah kembali yang melihat seorang pekerja rumah tangga melewatinya dengan menunduk lalu hendak pergi meninggalkannya membuat wanita itu menghentikan langkah bibi tersebut.
"Sehun kemana? Apa ia bekerja di kantor sekarang?" tanya wanita itu tanpa basa-basi membuat yang ditanya menggeleng pelan. Tetapi sebelum menjawab, bertepatan dengan oh halmeoni yang keluar dari kamarnya melihat kelakuan wanita yang membuatnya tak suka dengan gaya dan seperti tak memiliki sopan santun ketika berada dirumahnya itu menjawab pedas.
"Sehun sedang pergi bersama Luhan dan Zifan. Mau apa kau kembali kesini? Kukira kau sudah tak tidur disini lagi dan menemukan tempat tinggalmu sendiri." Ujar oh halmeoni acuh yang hendak meninggalkan wanita itu, tetapi wanita yang memiliki nama Irene itu segera menghampiri oh halmeoni dan memeluk tangan oh halmeoni erat. Seperti ingin mengambil hati nenek Sehun itu.
"halmeoni kenapa jahat sekali padaku?" tanya Irene dengan nada sedikit dimanjakan.
"Jahat? Perasaanmu saja. Sudah lepaskan tanganku." Oh halmeoni segera melepaskan tangan Irene dari tangannya dan pergi meninggalkan wanita itu sendirian. Irene yang diperlakukan seperti itu hanya memajukan bibirnya sebal lalu masuk ke dalam kamarnya yang kemarin ditempatinya.
Selama di dalam kamar, Irene hanya diam merenung memikirkan dimana Sehun berada sekarang. Jujur memang selama ini mereka menjadi sepasang kekasih, Sehun sangat susah dihubungi. Bahkan Irene harus membuat Sehun terganggu terlebih dahulu baru mendapat balasan dari pria kaku tapi tampan itu. Irene hanya menghela nafas pelan dan memperhatikan ponsel pintarnya sedari tadi, berpikir perlukah ia menghubungi Sehun untuk menanyakan keberadaan pria itu dan menghampirinya.
Akhirnya Irene memutuskan menghubungi pria itu, bahkan ini sudah kelima kalinya ia menghubungi Sehun tapi masih tak ada balasan sehingga membuat Irene menyerah. Ia menghela nafas tetapi pikirannya kali ini kemana-mana. Sehun yang biasanya gila bekerja kali ini rela meliburkan diri untuk pergi bersama Zifan dan Luhan, bahkan Irene yang kekasihnya saja tak pernah berhasil membujuk Sehun untuk mengajaknya keluar, termasuk hari libur saja jarang jika bukan Irene yang mendatangi Sehun. Tetapi kali ini, pria itu dengan gampangnya meninggalkan pekerjaannya begitu saja? Untuk Zifan? Atau untuk... Luhan?
Irene mulai merasakan pening memikirkan itu semua, dan berusaha melupakan kegundahannya sekarang.
.
.
Sudah beberapa hari berlalu tapi sampai sekarang Kyungsoo belum memberitahukan keluarganya sama sekali mengenai hubungannya dengan Jongin. Kadang membuat ahn ahjumma heran karena setiap hari Jongin datang kerumah dipagi hari untuk menjemput anaknya, tetapi mereka sama sekali belum menjelaskan tentang hubungan mereka ke Ahn ahjumma dan Luhan.
Sudah berkali-kali Jongin meminta Kyungsoo untuk mengatakan hal tersebut pada Ahn ahjumma dan Luhan tetapi Kyungsoo selalu mengatakan nanti saja jika Luhan sudah pulang kerumah karena Luhan masih harus menginap dirumah atasannya. Dalam hal ini belum ada yang mengetahui hubungan mereka kecuali keluarga Jongin, mama kim. Bahkan ketika Jongin mengatakan pada Sehun dan Chanyeol tak ada yang menghiraukannya membuat Jongin sebal dengan kelakuan dua sahabatnya karena tak ada yang mau berbahagia untuknya. Bahkan chatnya di grup saja tak ada yang menyahut sampai sekarang hanya membuat Jongin menghela nafas.
"Wae?" tanya Kyungsoo ketika mendengar hela nafas tunangannya sedikit keras itu. Kali ini mereka berada di apartemen milik Jongin. Setelah pulang dari kantor, Jongin yang meminta Kyungsoo untuk mampir sebentar ke tempat tinggalnya dengan alasan ingin berduaan dengan Kyungsoo karena akhir-akhir ini selalu menolaknya untuk bertemu padahal hanya tiga hari sejak wanitanya menerima cintanya.
Kyungsoo datang dari dapur dengan membawa sup sederhana yang dimasaknya karena dikulkas Jongin semua bahan makanannya hampir busuk dan Kyungsoo menggunakan bahan yang bisa digunakannya untuk makan malam mereka. Dengan membawa mangkuk panas ketika mendengar Jongin yang menghela nafas membuat Kyungsoo menaikkan alisnya.
"Ada apa?" tanya Kyungsoo setelah berhasil meletakkan mangkuk dan menghampiri untuk duduk disebelah Jongin. Semua makanan yang Kyungsoo masak sudah siap, kini giliran mengambil nasi untuk diletakkan dipiring tapi sebelum itu, wanita ini menoleh ke arah prianya untuk mendengar sepertinya mendengar beberapa keLuhan.
"Kapan kau akan mengatakan tentang hubungan kita pada ahjumma dan Luhan?" tanya Jongin yang sedikit menggebu-gebu membuat Kyungsoo tertawa melihat ekspresi yang ditampakkan oleh prianya.
"Kenapa malah tertawa?!" ujar Jongin sebal membuat Kyungsoo mendekatkan tubuhnya pada Jongin dan mencubit pipinya.
"Sabar ya, aku tak ingin membuat Ahn ahjumma terlalu terkejut sayang, lagi pula hubungan kita masih baru tiba-tiba kau sudah melamarku. Aku tak masalah karena aku mencintaimu, hanya saja aku mencari kata-kata yang tepat untuk Ahn ahjumma agar tak terlalu terkejut, akhir-akhir ini Luhan belum pulang kerumah. Pulang sih, tapi aku belum bertemu sama sekali dengannya. Nanti akan ku ceritakan pada Luhan terlebih dahulu agar ia bisa membantuku menjelaskannya pada Ahn ahjumma. Kau tau lamaran itu bukan hal kecil. Jadi sabar ya?" kali ini Kyungsoo yang tersenyum lembut dengan meletakkan tangannya dibahu Jongin sambil mengelus pipi kesayangannya ini membuat Jongin ikut tersenyum.
"Baiklah jika itu maumu, tapi kenapa sampai sekarang kau susah untuk ku antar dan jemput? Aku benar-benar tak ingin membiarkanmu menggunakan bus, sayang." Kyungsoo terlihat berpikir sejenak membuat Jongin ikut menyerngit.
"Wae?" tanya Jongin penasaran.
"Tidak ada." Jawab singkat Kyungsoo dengan gelengan cepat.
"Jangan berbohong sayang. Aku tak menyukai itu." Kali ini Jongin yang menunjukkan tatapan intimidasi membuat Kyungsoo mulai sedikit takut, pasalnya Jongin paling tak menyukai suatu kebohongan.
"Kau memiliki hubungan apa dengan sulli-ssi?" tanya Kyungsoo penasaran membuat Jongin ikut berpikir sejenak.
"Sulli? Tak ada memang kenapa?" Kyungsoo yang mulai menceritakan kejadian tak enaknya dengan sulli sebelum ia dan Jongin berangkat ke busan waktu itu. Dan Kyungsoo sama sekali tak mengurangi atau melebihi, hanya cerita apa adanya pada Jongin cukup membuat Jongin menggeram pelan. Bahkan beberapa hari ini Kyungsoo merasa selalu mendapatkan tatapan intimidasi saat menatap mata sulli membuat Kyungsoo bingung apakah sulli memiliki hubungan dengan Jongin sebelumnya atau apa.
Hal ini yang membuat Kyungsoo selalu menolak ketika Jongin memaksanya untuk mengantar dan menjemputnya, ia hanya ingin hidup dengan tenang saat dikantor tanpa diganggu oleh pegawai lain yang jika tau apa hubungannya dengan Jongin akan berspekuliasi yang tak diinginkannya. Cukup tatapan tak mengenakkan dari sulli saja, ia tak ingin mendapatkan kebencian dari pegawai lainnya juga. Tentu saja siapa yang tak ingin memiliki pria seperti Jongin yang memiliki paras tampan tetapi juga berpenghasilan tetap. Dari tatapan dan kejadian yang dialami Kyungsoo kemarin membuat ia paham jika sulli menyukai Jongin, atau memiliki hubungan sebelumnya.
"Atau kau pernah tidur dengannya ya?" tanya Kyungsoo penuh selidik dengan menampilkan sorot tajam yang terlihat imut dimata Jongin membuat pria itu langsung memegang kedua pipi wanitanya dan mencubitnya cukup keras, bahkan sedikit membuat pipi Kyungsoo memerah.
Melihat merah pada pipi Kyungsoo membuat Jongin cukup bersalah lalu mengecup pelan kedua pipi itu sehingga menghasilkan rona merah malu, bukan merah bekas cubitannya. Wanitanya yang malu kali ini segera mengalihan pandangannya dari Jongin menuju makanannya.
"Dengarkan aku, maafkan aku jika menyakitimu tentang kenyataan itu, tapi sungguh aku tak memiliki hubungan apapun dengan sulli kecuali dikantor. Bahkan terpikir untuk tertarik dengannya saja tidak. Jadi jauhkan pikiran negatifmu itu. Kau tau kan aku tak menyukai kebohongan, jadi lebih baik jujur jadi kau menerimaku apa adanya." Jelas Jongin membuat Kyungsoo mengangguk mengiyakan ketika kembali melihat kearah Jongin.
"Aku tak akan tidur dengan wanita manapun, kecuali jika kau ingin tidur bersamaku." Membuat Kyungsoo menampilkan dan memukul lengan Jongin sedikit keras tapi tak menyakitkan bagi Jongin.
"Dasar mesum! Sudah ayo makan sebelum supnya dingin." Mendengar penuturan Kyungsoo membuat Jongin tertawa keras tapi melihat pelototan yang dilontarkan untuknya membuat pria itu menunduk melihay kearah makanannya. Lalu Jongin terlihat lahap ketika merasakan masakan kekasihnya itu.
Tak ada yang mereka lakukan, setelah makan malam dan Kyungsoo selesai membereskan sisa piring kotornya dengan Jongin kini mereka berdua duduk di sofa dengan menonton tayangan televisi. Sudah beberapa kali Kyungsoo mengajak Jongin untuk mengantarnya pulang, tetapi pria itu masih saja menepel padanya dan memeluknya erat. Bahkan Kyungsoo yang tak bisa menggerakkan tubuhnya membuat wanita ini cukup kegerahan.
"Sudah, ayo antarkan aku pulang nini.. ini sudah jam sembilan, kasian Ahn ahjumma sendirian karena Luhan baru akan pulang besok." Ujar Kyungsoo manja sambil berusaha melepaskan pelukan pria itu.
"Aku tak ingin berpisah, menginap sini ya? Besok ku antarkan pulang untuk ganti baju." Mendengar penuturan Jongin membuat Kyungsoo menggeleng keras. Ia tak ingin membuat tetangga Jongin berpikiran macam tentangnya, karena memang Kyungsoo masih menganut adat tradisional, tak seperti Jongin yang terbiasa hidup bebas.
"Ayo pulangg!" kali ini Kyungsoo berhasil berdiri dan menarik prianya berdiri untuk mengantarnya pulang sesuai janjinya.
.
.
Zifan yang terlihat mulai lelah setelah mengelilingi taman hiburan membuat Sehun tak tega dan menggendong anak laki-laki tersebut. Luhan segera mengeluarkan botol minum dan menyerahkannya pada Zifan yang masih berada digendongan Sehun.
"Lelah?" tanya Luhan sambil mengelus kepala Zifan yang masih menyedot minumannya sambil mengangguk pelan.
"Pulang ya?" tanya Luhan dan dijawab gelengan cepat.
"Zifan ingin naik apa lagi? Katanya lelah?" kini giliran Sehun yang bertanya dan dengan cepat setelah menyerahkan botol minumnya pada Luhan dan menunjuk suatu wahana yang ingin Zifan naiki.
"Bianglala?" dan Zifan mengangguk. Akhirnya mereka mengantri untuk menaiki bianglala.
Luhan yang sebenarnya takut ketinggian hanya diam membeku ketika bianglala yang mereka tumpaki mulai naik keatas secara perlahan. Zifan yang cukup senang dan berjalan mengitari bianglala untuk melihat pemandangan yang disajikan dengan raut takjub. Sedangkan gadis yang hanya diam membeku ini hanya menggenggam erat pakaiannya dan mulai memejamkan mata. Bahkan keringat dingin mulai bercucuran didahi Luhan.
Sehun yang menyadari keadaan lalu melihat kearah Luhan yang memejamkan mata dengan tangan mengepal erat, langsung ia sentuh tangan Luhan membuat wanita itu membuka matanya dan berakhir saling berpandangan. Gemetar ditangan Luhan yang mulai Sehun rasakan tapi dielusnya dengan lembut membuat Luhan sedikit mulai tenang.
"Kita diatas! Yeay!" teriak Zifan membuat Luhan kembali gugup dan menundukkan kepalanya. Sehun yang melihat itu langsung memeluk Luhan dan menempatkan gadis itu didada bidangnya agar tak melihat pemandangan dengan pelukan cukup erat yang diberikan oleh Sehun.
Dan sedangkan bocah yang tak paham situasi itu masih terus melihati pemandangan sampai mereka turun. Bahkan ketika turun, kaki Luhan masih gemetar dan kaku untuk berjalan membuat Sehun menuntunnya pelan sedangkan Zifan melihat bingung kearah Luhan.
"Lu noona waeyoo?" ujar Zifan lucu.
"Tidak, tadi lu noona sedikit takut ketinggian tapi sudah tak masalah sekarang." Ketika Luhan yang sudah mengembalikan energinya setelah duduk di kursi kosong.
"Kenapa tak mengatakan jika takut ketinggian?" kali ini Sehun yang mulai berbicara.
"Aku tak apa oppa, sudah cukup senang melihat Zifan senang." Ujar Luhan, dan kembali menanyai Zifan.
"Zifan senang?" dijawab anggukan cepat oleh Zifan.
"Kalau begitu kita pulang bagaimana? Ini sudah sore, kasian halmeoni sendirian dirumah." Seketika Luhan tak tega mengingat ia meninggalkan halmeoni dirumah.
Dalam perjalanan Zifan mengoceh senang dengan apa yang dirasakannya tadi, membuat Luhan kembali janji suatu hari mereka akan pergi ke akuarium dan melihat banyak ikan. Bahkan Sehun ikut tertawa ketika dengan lucunya Zifan menceritakan kejadian tadi.
Tiba sampai rumah dengan Zifan yang tertidur pulang berada dipelukan Luhan, tak tega membangunkan akhirnya Sehun segera turun setelah memarkirkan mobilnya menuju arah pintu Luhan untuk membuka pintu tersebut dan mengambil alih Zifan agar Luhan bisa keluar dari mobil.
Ketika masuk kedalam rumah tiba-tiba Sehun dan Luhan mundur kebelakang kaget mendengar seruan dari salam rumah.
"Oh Sehun, kalian darimana saja?!" seru Irene ketika melihat Sehun dan Luhan masuk kedalam rumah. Sudah dari beberapa waktu lalu memang Irene menunggu kedatangan mereka. Dengan khas pelototannya yang masih terlihat cantik, Irene menghampiri tempat Sehun dan Luhan yang masih berdiri diam.
Mendengar rengekan Zifan akibat suara Irene membuat Luhan yang pertama kali sadar segera mengambil Zifan ke dalam gendongan Sehun dan pergi meninggalkan Irene yang masih menatap tajam pria itu.
"Darimana saja Oh Sehun?" kali ini Irene dengan fokusnya menatap Sehun yang hanya menapilkan raut datarnya melihat wanita didepannya saat ini.
.
.
.
TBC
yess, finally i'm back.
Tugas kuliah banyak bener padahal baru masuk :'' sampe mulai ngetik storynya di hp soalnya saking capeknya ngetik dilaptop mata sakit :"). Btw thanks yang udah ngingetin buat penulisannya, udah berusaha aku benerin. Senengnya wkwk. Oh iyaa ini hunhan momennya sudah kyuut belum? Gemes bayangin Zifan sama Luhaan wkwk. Kalo lulu punya anak pasti kyuut :)))
Tak lupa, thanks buat review, follow, favorite-nya saudara sekalian. Ditunggu review terbarunya ;). Sudah ga perlu panjang-panjang yak pidatonya. See ya next chapterr~
Regards,
Seluhaenbiased.
