.
.
Taehyun dan Sungwoon berlomba lomba menyiapkan sambutan untuk putra mereka tercinta, Justin, yang akan tiba dalam waktu kurang dari satu jam.
Memang sudah diputuskan bahwa Justin akan tinggal bersama Taehyun namun Sungwoon juga ingin menyiapkan suatu sambutan yang berkesan bagi anak sulungnya itu.
Taehyun, tentu menyiapkan yang serba istimewa untuk anak semata wayangnya -hingga saat ini - di rumahnya. Bahkan ia telah mengecat ulang keseluruhan rumahnya dan mendesain ulang kamar tidurnya yang akan ia tempati bersama Justin dengan tema lego, mainan favorit Justin.
Justin akan datang bersama dengan tetangganya di kampung yang kebetulan ada urusan kesini dan bersedia dititipi Justin sekalian menggunakan kereta api kelas F abu abu aspal.
.
"Gimana? Justin uda sampai mana?" tanya bapak sambil garuk garuk sana sini, rambutnyapun masih acak acakan khas bangun tidur.
"Aduh!" Sungwoon menepuk jidatnya yang tertutup poni. "Kalo bapak nggak ngingetin saya lupa!"
"Pak, dicariin Mas Donghyun!" teriak Nyai entah darimana.
"Ssssttt! Nyai! Saya mau jemput Justin nih, kacau kan kalau Jihoonnya bangun," omel Sungwoon dengan suara tak kalah nyaring, melupakan posisinya yang tengah berada di ruangan yang sama dengan bayi kecilnya.
"Hush! Suara kamu lebih berisik. Uda sana siap siap, biar Jihoon sama bapak."
Sungwoon kelabakan kesana kemari. Sibuk sih dia dari tadi masak sama nyiapin baju-baju yang dia beli buat Justin sejak kapan hari tapi belum sempat diberikan, sampai lupa menanyakan Justinnya sudah sampai mana.
"Pak... Ditunggu Mas Donghyun di depan pintu," ulang Nyai, kini dengan suara lembut. Kepalanya menyembul dari celah pintu kamar tengah yang sedikit terbuka.
"Oiya, sebentar." Jaehwan yang tadinya sedang berbaring di samping bayi kecilnya bangkit menuju meja rias yang berada tak jauh dari tempat tidur guna berkaca, merapikan sedikit rambutnya agar tetap terlihat kece meski masih pagi dan belum mandi.
"Saya berangkat jemput Justin dulu ya, Pak, sudah hampir sampai ternyata mereka," pamit Sungwoon saat keduanya bertemu di ambang pintu kamar mereka. Sungwoon mencium punggung tangan bapak dan langsung ngacir gitu aja, padahal mau dikasi sangu ama bapak.
Sepeninggal istrinya, bapak keluar menemui Donghyun yang masih setia menunggu di depan pintu dengan kaos garis garis hitam putih andalannya.
"Gimana, Mas Donghyun? Ada perlu apa nyari saya?"
"Maaf ganggu pagi-pagi, Pak." Donghyun yang pagi-pagi sudah tampan membungkukkan badannya dan menjabat tangan Bapak Jaehwan Yang Terhormat. "Saya mau minta ijin membawa Ponyo pergi sebentar, cari kado buat surprais mensive saya dan istri yang ke seratus sembilan belas."
Jaehwan langsung memasang wajah datar yang menunjukkan ekspresi tidak suka. Bukan keberatan Ponyo mau dipinjam, toh masi ada dua yang lain, tapi angka seratus sembilan belasn itu menurutnya berlebihan. Bahkan Jaehwan tak pernah lagi merayakan hari mensive bersama Ponyo semenjak mereka berubah status menjadi suami-suami (atau suami-istri, ).
"Boleh ya, Pak? Mumpung istri saya lagi diajak orang tuanya ke luar kota." Donghyun mengedip-ngedipkan matanya, memberikan aegyo gagal guna merayu suami Ponyo.
"Ya sudah, tapi awas aja kalau pulang pulang Ponyonya ada dua!"
"Tenang aja, Pak, saya bawa pengaman kok..."
"Eh?!"
"Maksud saya, saya nggak mungkin ngapa-ngapain istri bapak. Hehehee..."
.
Lalu, apakah yang akan terjadi selanjutnya?
