Now, You Know Me
Cast :
Oh Sehun ( 25 Tahun )
Xi Luhan ( 21 Tahun )
Kim Jongin ( 25 Tahun )
Do Kyungsoo ( 23 Tahun )
Wu Yifan ( 29 Tahun )
Wu Zitao ( 28 Tahun )
And others
.
.
WARNING : This is GS ( GenderSwitch )
TYPO, EYD, DLDR!
RATED : T - M.
.
Summary :
Luhan gadis biasa yang memiliki sifat ceria dan ceroboh harus berhubungan dengan laki-laki kaku nan dingin yang tak mempercayai akan cinta itu ada. Laki-laki dengan usia muda yang mampu meraih kesuksesan dengan kerja kerasnya sendiri bernama Sehun tak mengenal akan kebaikan seseorang secara cuma-cuma, menganggap semua orang sama buruknya, dan hanya menatap derajat dan seberapa kaya orang itu.
.
.
Chapter 10: Are you serious?
Happy Reading ^^
.
.
"Kau darimana saja Oh Sehun?!" kali ini Irene dan Sehun yang sedang berdua di teras rumah keluarga oh dengan wanita itu yang berusaha mengintrogasi pria didepannya ini. Dan ekspresi pria ini kembali datar tak seperti tadi saat pergi bersama Luhan dan Zifan.
"Aku? Pergi menemani Zifan bermain di lotte world." Jawab Sehun datar yang mendak pergi masuk meninggalkan Irene tapi lengannya dicekal cepat.
"Dan kenapa tak menjawab telponku?!" Irene yang mulai tersulut emosi menghadapi Sehun kali.
"Tak dengar. Sudah aku mau masuk. Lelah." Oh Sehun kali ini pergi meninggalkan wanita itu sendirian diteras yang mulai mengeluarkan air mata. Bahkan Sehun kekasihnya saja tak mengerti perasaannya. Ia hanya ingin Sehun meluangkan waktu untuknya.
Kali ini Irene akan menangis dan setelahnya ia berjanji akan mendapatkan Sehun seutuhnya di kemudia hari.
Disisi lain, Luhan yang meletakkan Zifan ditempat tidurnya lalu melepas semua atribut yang masih menggantung ditubuh anak itu dan digantikan pakaian tidur dengan sabar. Tapi pandangan Luhan seakan kosong memikirkan yang lain. Apa yang sedang Sehun dan Irene lakukan sekarang? Apakah mereka sedang asik menikmati waktu berdua?
Luhan berusaha mengenyahkan pikirannya yang tidak-tidak dan segera mengambil pakaian dari lemari Zifan untuk menggantikan baju anak itu dengan baju tidur. Terlalu fokus sampai ia tak menyadari jika ada orang lain yang memperhatikan mereka. Berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada pintu kamar Zifan dengan tangannya yang saling ia selipkan didepan dada.
Merada ada yang memandangi membuat Luhan membalikkan tubuhnya lalu terkejut melihat siluet Oh Sehun yang berada didepan pintu.
"Omo! Apa yang oppa lakukan?" sebenarnya Luhan yang tak tau harus berbuat apa kini menyambar tas yang ia bawa berisi pakaian dan tepak makan kotor yang hendak Luhan bawa ke belakang untuk membersihkannya.
Tak tau mengapa kali ini hati Luhan berdegub dengan kencang saat ia akan melewati Sehun yang berada diambang pintu berdiri masih memperhatikannya.
"Kau mau kemana?" Sehun yang kali ini mencekal tangan Luhan untuk menghentikan gadis itu pergi hendak meninggalkannya. Luhan yang masih belum mengeluarkan suaranya itu kembali berusaha meninggalkan Sehun. Gadis itu merasa berada disituasi yang tidak tepat kali ini.
"Kenapa menghindariku?" tanya Sehun langsung karena memang ia merasa ada yang berbeda dari raut wajah Luhan.
"Itu perasaan oppa saja, aku mau kebelakang untuk membersihkan ini semua. Lebih baik oppa istirahat sekarang." Dan benar perasaan Sehun jika gadis ini memang berusaha menghindarinya sekarang.
"Tetap disini Xi Luhan, dan biarkan itu semua dibereskan oleh pekerja disini. Tugasmu hanya mengurusi Zifan tidak lebih." Kali ini Sehun yang meletakkan tas itu didepan pintu kamar Zifan lalu masuk dengan menarik tangan Luhan untuk mengikutinya. Dengan patuh dan diam Luhan mengikuti Sehun yang menuntunnya untuk ikut duduk disofa yang berada didalam kamar Zifan.
Posisi mereka yang cukup jauh dari kasur untuk tak membuat kegaduhan agar Zifan bangun dari tidurnya. Saat mereka duduk berdua tak ada yang memulai percakapan, bahkan Luhan yang duduk diam dan menunduk tak melihat ke arah Sehun yang sedang dengan fokus menatap Luhan.
Sehun yang masih menatap Luhan mesra lalu dengan diam mengangkat tangannya untuk mengelus rambut halus Luhan membuat gadis yang merasakan tangan besar itu segera mengangkat kepalanya dan mulai memperhatikan pria didepannya ini.
"Sudah mau berbicara denganku?" tanya Sehun dengan pandangan berbeda tak seperti yang ia layangkan pada Irene tadi. Pandangan kali ini terlihat lembut dan cukup menawan.
"Ya?" Luhan yang tak paham dengan apa yang Sehun maksud hanya menyerngitkan alisnya.
"Apa yang kau pikirkan dikepala cantikmu ini?" Luhan yang masih tak paham dengan apa yang Sehun maksud tanpa sadar memajukan kepalanya sehingga posisi mereka yang terlihat semakin dekat.
"Aku tak melakukan apapun dengan Irene, jadi jauhkan pikiranmu yang tidak-tidak itu dan jangan berusaha menghindariku Xi Luhan." Luhan yang mendengar penuturan Sehun berusaha mengelak jika ia menghindari Sehun dengan menggelengkan kepalanya cepat. Tapi yang dipikirkannya sekarang bagaimana Sehun tau apa yang dipikirkan Luhan sekarang.
"Semuanya tampak terbaca jelas dari matamu lu." Ucapan Sehun kembali membuat Luhan melebarkan matanya kaget. Bagaimana pria ini bisa selalu tau apa yang dipikirkannya.
"Aku tak memikirkanmu dan Irene-ssi sama sekali. Jadi sekarang kembalilah kekamarmu dan beristirahat. Ini sudah malam oppa." Ujar Luhan cepat dan berusaha mendorong Sehun untuk berdiri dan meninggalkan kamar Zifan sekarang. Luhan tak ingin Sehun mendengar degub jantungnya yang bergerak begitu cepat akan membuat Luhan malu nantinya didepan pria ini dan Luhan tak menginginkan hal itu terjadi.
Sehun yang dengan kekuatannya lebih besar dari Luhan menahan tubuh gadis itu dan berbalik melihat Luhan yang kali ini diam dipandangi, tanpa aba-aba Sehun segera mengecup dahi Luhan cepat dan mengucapkan selamat malam saat Luhan masih diam membeku dengan perlakuan Sehun terhadapnya. Mereka tak memiliki hubungan apapun tetapi seperti sepasang kekasih. Dan Luhan yang kali ini memegangi dadanya berharap detak jantungnya kembali normal tetapi sepertinya cukup susah.
Oh Sehun berhenti berlaku seperti itu!
...
Pagi harinya, Sehun yang turun menuju meja makan seperti biasa dengan Luhan, Zifan, oh halmeoni, beserta Irene yang sudah berada dimeja makan segera Sehun hampiri yang kali ini posisinya Sehun duduk berada didepan Luhan, dengan Irene yang berada disebelah Sehun dan Zifan yang berada disebelah Luhan. Tak lupa halmeoni yang berada ditengah Sehun dan Luhan.
Saat semuanya sudah berkumpul, Irene yang segera berdiri menyajikan makanan pada piring masing-masing, padahal biasanya yang menyiapkan itu saat Zitao tidak ada adalah Luhan. Sebelumnya, Luhan yang hendak berdiri melakukan tugasnya kini diam melihat Irene yang bergerak mengambil piring masing-masing yang duduk dimeja makan.
"Halmeoni ingin apa?" tanya Irene baik-baik. Dan halmeoni yang awalnya mengangkat alisnya kini hanya tak peduli dan mengatakan apa yang diinginkannya. Kali ini Luhan yang ikut berdiri akan mengambil piring Sehun, tapi lagi-lagi Irene lebih cepat dari padanya membuat Luhan kembali menarik tangannya lalu beralih melihat Zifan yang sudah menarik bajunya ingin diambilkan makanan. Segera mengambil piring Zifan, melayani anak itu yang ingin disuapi seperti biasa, dan Luhan tak bisa menolak. Yang lain melihat kelakuan Zifan hanya menggeleng tak habis pikir dengan anak ini.
Seperti biasa setelah sarapan selalu ada sesi berbicara sebentar sebelum pergi melakukan aktivitas masing-masing. Oh halmeoni yang menanyakan bagaimana mereka kemarin saat liburan dan dengan antusias Zifan menceritakan semuanya pada halmeoni, bahkan Sehun dan Irene masih menetap duduk ikut mendengarkan cerita antusias Zifan. Hingga kali ini Luhan kembali menawari Zifan,
"Bagaimana kalau lain kali kita pergi ke aquarium?" tanya Luhan antusias. Luhan merasa bangga ketika kemarin ia mengajak Zifan ke lotte world karena anak itu selalu menuruti kata-katanya meskipun terjadi beberapa insiden yang tak diinginkan, tapi ia cukup senang mengajak Zifan.
"Zifan mauu lu noona." Ujar Zifan mengangguk cepat.
"Bagaimana jika ikut Irene noona membeli mainan?" sebelum Luhan menjawab perkataan Zifan, tiba-tiba Irene menyela kata-katanya lagi. Tapi anak pintar ini segera menggeleng cepat.
"Zifan tak mau membeli mainan.. kata mommy mainan Zifan sudah banyak.." ujar Zifan ragu dan takut-takut ketika melihat raut wajah Irene yang tampak akan marah. Segera Zifan menarik lengan Luhan dan menutup wajahnya dengan lengan Luhan tersebut. Sedangkan Sehun yang dari tadi tak mengatakan apapun segera berdiri dari kursinya dan meninggalkan meja makan menuju ruang kerjanya. Irene yang melihat Sehun berdiri ikut berdiri dan membuntuti kemana Sehun pergi.
Sebenarnya Sehun yang paham situasi tapi ia tak bisa melakukan apapun kecuali meninggalkan meja makan karena ia tau Irene akan mengikutinya sehingga Zifan tak akan takut membuat suana meja makan menjadi hening karena insiden Zifan menolak ajakan Irene. Tak ada yang salah memang menolak, tapi yang membuat tak nyaman adalah raut yang ditunjukkan Irene membuat yang lain diam. Bahkan oh halmeoni saja tak mengatakan apapun.
"Sehun.. kenapa semua keluargamu jahat padaku?" ujar Irene sedih saat ikut berada didalam ruang kerja Sehun dengan pria yang sudah memegang berkasnya tak mengindahkan ucapan wanita itu.
"Bahkan kau saja jahat padaku." Irene yang tiba-tiba duduk dipangkuan Sehun dan tangannya yang meletakkan berkas yang Sehun pegang dimeja lalu dengan tak sopan menyentuk kedua pipi Sehun dengan tangannya dan mengecup bibir Sehun.
Chup!
"Katakan sesuatu Oh Sehun, atau aku akan menciummu agar kau mengatakan sesuatu."
Chup!
Kali ini bibir Irene kembali mendarat dibibir Sehun, bukan hanya mengecup tapi Sehun sudah mulai merasakan lumatan pada bibirnya yang dilakukan oleh Irene. Dengan mata terpejam, Irene dengan berani melakukan itu, karena dulu saat di london memang mereka sudah biasa berbagi kehangatan saat berada di apartemen Sehun.
Tapi kali ini pria itu tak membalas perlakuan Irene tapi juga tak melepaskan, hanya diam sampai ia merasakan ada orang lain diruangannya. Sehun segera melepaskan bibirnya dari Irene dan mendorong wanita itu untuk berdiri saat melihat Luhan yang berdiri mematung.
...
Kondisi halmeoni memang sudah membaik, tapi beliau masih membutuhkan bantuan obat yang perlu diminumnya. Sayangnya obat yang dikonsumsi oh halmeoni saat ini habis sedangkan oh halmeoni dengan cepat membutuhkan obat tersebut.
"Lu.." ujar oh halmeoni dengan kondisi terlihat tak baik memanggil Luhan yang masih duduk dengan pemikirannya di meja makan sedangkan Zifan yang sudah pergi entah kemana hanya menyisakan mereka berdua di meja makan.
"Ya halmeoni? Gwenchana?" tanya gadis itu yang segera menghampiri nenek oh yang lemas dikursinya dan membantu memindah halmeoni menuju sofa agar nenek oh itu bisa berbaring.
"Lu, halmeoni minta tolong belikan obat halmeoni sesuai resep dokter ya? Minta tolong pada Sehun untuk mengantarkanmu karena supir disini ketika hari minggu datangnya tak sepagi hari kerja.." ujar oh halmeoni lemah. Dan Luhan segera mengangguk dan mengambil resep yang diberikan oh halmeoni menuju kamar Sehun untuk mencari keberadaan pria tersebut.
Luhan yang sudah berusaha mengetuk pintu kamar Sehun tapi tak ada sahutan hingga pandangannya menuju ruang kerja Sehun yang letaknya berada disebelah kamar pria itu membuat Luhan menajamkan pendengarannya apakah ada orang didalam ruangan itu. Tapi memang dasarnya ruangan Sehun didesain sedemikian rupa agar kedap suara dan Luhan tak mengetahui hal itu akhirnya memutuskan untuk mengintip sedikit dari pintu ruangan itu seperti pencuri untuk mencari keberadaan Sehun.
"Katakan sesuatu Oh Sehun, atau aku akan menciummu agar kau mengatakan sesuatu." Terdengar dari dalam ruangan sehingga membuat Luhan pesaran dan kali ini mulai menajamkan penglihatannya.
Chup!
Yang terjadi sekarang didepan matanya adalah bibir Sehun dan Irene yang saling menempel bahkan berpangut mesra membuat Luhan tanpa sadar membuka sedikit lebih lebar untuk menyaksikan kejadian itu. Hati Luhan terasa sakit melihat pandangan didepannya ini hingga tak tau apa yang harus ia lakukan sekarang.
Melihat Sehun memandangnya membuat Luhan sadar dan mulai salah tingkah. Terlihat Sehun yang kali ini mendorong Irene berdiri dan mengalihkan atensinya pada Luhan yang masih berdiri dengan menundukkan kepalanya. Suasana sangat hening yang dirasakan sekarang.
"O-oppa.. Maaf mengganggu.. I-itu.. Halmeoni sakit dan memintaku untuk membelikan obatnya diapotek. Tapi jika oppa sibuk aku akan berangkat sendiri." Luhan yang hendak melarikan diri tapi suara Sehun terdengar menahannya untuk pergi.
"Aku tak sibuk. Ayo beli obat." Kali ini Sehun berdiri hendak meraih kunci mobilnya tapi gantian ditahan oleh Irene.
"Apa sepenting itu? Ia kan bisa berangkat sendiri, hun." Ujar Irene yang gerakannya menghalangi Sehun membuat pria itu cukup menggeram pelan.
"Aku pergi untuk membelikan obat halmeoni bae joohyun, jadi minggir karenal halmeoni membutuhkannya segera." Dilewatinya Irene berjalan menuju Luhan lalu narik tangan Luhan menuju apotek terdekat meninggalkan Irene sendiri yang melihat Sehun menggandeng tangan Luhan dengan mata kepalanya sendiri.
Irene memang dari awal merasa ada yang aneh dengan Sehun tapi ia berusaha mengenyahkan pikirannya tentang Sehun yang negatif. Tapi kali ini setelah melihat Sehun dengan berani menggandeng wanita lain didepannya membuat Irene mulai membenci keberadaan Luhan. Gadis itu mulai mengambil posisinya didekat Sehun.
Dan itu tidak boleh terjadi!
...
Saat dalam perjalanan tak ada yang memulai pembicaraan, bahkan saat tiba di apotek pun Luhan segera turun dari mobil Sehun dan masuk ke dalam apotek tanpa mengucapkan sepatah kata padanya. Melihat Luhan meninggalkannya sendirian dimobil membuat Sehun menggeram frustasi. Suasana sangat canggung dan Sehun tak suka hal itu terjadi, tapi saat hendak mengatakan sesuatu semuanya tercekat ditenggorokannya tak bisa menyuarakannya.
Bahkan ketika gadis itu telah selesai dengan urusannya dan kembali kedalam mobil sampai Sehun mulai menjalankan kemudinya masih tak ada percakapan diantara mereka. Tiba dirumah Luhan segera turun dari mobil dan berlari masuk menuju kamar halmeoni, karena seingat Luhan sebelum ia meninggalkan halmeoni, ia sudah meminta pertolongan pada bibi nam untuk membantunya membawa oh halmeoni untuk beristirahat dikamarnya.
"Halmeonii, lulu datang dengan obat yang halmeoni pesaan." Ujar Luhan senang saat masuk kedalam kamar dengan segelas air yang sudah disiapkan oleh Luhan. Melihat perhatian Luhan membuat halmeoni yang segera membuka matanya saat mendengar ucapan gadis itu hanya tersenyum senang.
Oh halmeoni tak memiliki riwayat penyakit yang berbahaya, hanya saja umurnya yang sudah mulai menua membuat sistem imunnya menurun dari kebanyakan orang biasanya. Dan dokter keluarga oh sudah memberikan resep untuk oh halmeoni berupa vitamin dan beberapa obat kekebalan tubuh yang bisa kembali dikonsumsi jika obat tersebut sudah habis.
"Kau sudah kembali lu?" tanya oh halmeoni lemah yang akhirnya dibantu Luhan untuk duduk dengan posisi nyaman untuk meminum obatnya.
"Sudah, sekarang halmeoni istirahat ya. Lulu tak ingin halmeoni sakit seperti ini. Luhan tinggal agar halmeoni tidur dengan tenang sekarang." Ujar Luhan dan gadis itu segera berdiri dengan membawa gelas yang awalnya berisi kini menjadi kosong dan segera keluar dari kamar oh halmeoni.
Tetapi ketika berbalik menuju pintu, Luhan melihat pria itu berdiri diambang pintu yang sedari tadi memperhatikannya membuat membeku sejenak. Lalu dengan berani Luhan berjalan ke arah Sehun pria yang dari tadi memperhatikannya dan berusaha melewati pria itu tetapi tangannya langsung dicekal.
"Lepaskan oppa.. halmeoni sedang istirahat.." ujar Luhan yang masih berusaha melepaskan kepalan Sehun pada lengannya dengan cukup kuat. Tetapi pria itu masih diam dan memperhatikannya.
"Ikut aku sekarang." Sehun yang masih berusaha menarik Luhan keluar dari rumah dan membawanya menuju tempat terakhir Sehun memarkirkan mobilnya tadi.
"Apa maksud semua ini oppa?! Aku harus menjaga Zifan, ia sendirian sekarang dikamarnya." Sela Luhan yang masih berusaha melepaskan genggaman Sehun dari tangannya.
"Oppa lepaskan! Ini sakitt." Bahkan saat mereka berada disebuah gedung bertingkat yang tak Luhan pahami sekarang ia berada dimana dengan Sehun yang masih menarik kencang tangannya sejak mereka sampai karena Luhan menolak untuk turun dari mobil pria itu.
Ini sebuah apartemen! Pikir Luhan sekarang melayang saat mereka tiba di pintu 1220 lantai 4. Sehun yang tangannya masih memegang pergelangan tangannya berusaha mengetik password yang tersedia agar pintunya terbuka.
"Ini dimana oppa? Lepaskan tolong. Oppaa?!" teriak Luhan saat Sehun berusaha menariknya masuk dan mendudukkan Luhan disofa yang cukup lebar.
Luhan yang masih memegangi pergelangan tangannya yang nampak memerah itu hendak menangis. Dan Sehun yang melihat pergelangan tangan Luhan akibat perbuatannya segera duduk disamping gadis itu hendak menyentuh tangan si gadis tapi dengan cepat si gadis berusaha menjauh dari jangkauannya.
"L-Lu..." ujar Sehun pelan yang masih berusaha menggapai Luhan.
"Jangan mendekat Oh Sehun!" kali ini dengan lantang Luhan menyerukan kalimatnya, dan dengan mata berkaca-kaca yang cukup membuat Sehun sangat merasa bersalah.
"Luhan.. mianhae.." ujar Sehun merasa bersalah membuat Luhan mulai melunakkan hatinya.
"Apa maumu oppa? Kenapa kau mengajakku kesini. Hiks." Yang masih memegangi pergelangannya membuat Sehun segera berdiri dan meninggalkan Luhan sejenak yang masih menangis.
Sehun kembali dengan membawa kotak p3k ditangannya dan kembali duduk disebelah Luhan.
"Jangan menjauh lu.. aku akan memberikan salep penyeda nyeri. Tolong maafkan aku." Berusaha meraih tangan Luhan dan memberikan salep tersebut dengan Luhan yang terlihat kesakitan membuat Sehun sangat merasa bersalah.
Setelah selesai memakaikannya, Sehun hanya kembali diam membuat Luhan tak paham apa kemauan pria yang berada disebelahnya ini.
"Sekarang mau oppa apa? Jika tidak ada yang dibicarakan lebih baik aku pulang saja.." ujar Luhan menundukkan kepalanya hendak berdiri tapi pergelangan tangannya dicekal lagi.
"Lu.. aku mencintaimu." Ujar Sehun tegas dan memandang mata Luhan tajam sedangkan posisi Luhan yang saat ini berdiri dengan tangannya yang tak sakit dipegangi oleh Sehun tak seerat tadi membuat Luhan hanya terdiam membeku.
"Apa maksud oppa?" tanya Luhan yang masih tak bisa memahami kalimat yang dilontarkan Oh Sehun.
Akhirnya Sehun menghela nafas dan kembali menggiring Luhan kembali duduk disofa dengan lembut dengan jari tangannya yang menggenggam dan ibu jarinya yang mengelus tangan Luhan lembut. Sedangkan Luhan masih tak bereaksi apapun.
"Dengarkan aku baik-baik dan jangan menyela ucapanku." Sehun menarik nafas sejenak.
"Aku mencintaimu lu tak tau sejak kapan aku merasakannya. Kau gadis yang selalu berani menjawab perkataanku, bahkan kau dengan berani menatap mataku ketika yang lain tak ada yang berani menatap aku saat aku sudah mengeluarkan kata-kata pedasku. Mungkin aku hanya luluh jika bersama Zitao noona, tapi entah mengapa aku selalu luluh jika bersamamu juga.. jangan menyela lu." Ujar Sehun ketika menatap Luhan yang akan mengeluarkan kalimatnya membuat gadis itu kembali berusaha mendengarkan penjelasan pria ini.
"Aku tak ingin kau menghindariku.. tolong.." mohon Sehun membuat Luhan bimbang.
"Oppa aku mohon jangan seperti ini.. oppa sudah memiliki kekasih, ia sekarang berada dirumah oppa.." geleng Luhan berusaha mengelak.
"Ia bukan kekasihku lu. Aku tak pernah menyukai Irene. Ia yang selalu datang padaku dan aku yang lelah menolaknya hanya selalu membiarkannya berada disekitarku. Tapi aku tak pernah menyukainya. Sudah bertahun-tahun ia selalu berada disekitarku. Bahkan ketika aku masih di london.." hanya pada Luhan, Sehun mengeluarkan kalimat panjangnya, bahkan pada keluarganya saja jarang. Tapi Sehun tak pernah bisa menolak pesona gadis cerewet ini.
"Tapi tadi oppa menciumnya.." ujar Luhan sedih hendak menangis membuat Sehun langsung membawa gadis itu ke dalam pelukannya dan menjelaskan semua yang terjadi agar tak ada kesalahpahaman.
"Tadi ia yang menciumku lu. Tapi aku sama sekali tak membalas ciumannya. Kau salah paham lu." Luhan segera menggeleng dan kembali menyangkal.
"Aku mohon jangan seperti ini oppa, aku sudah berusaha melupakan perasaanku jadi kumohon jangan seperti ini. Sama saja kita akan menyakiti Irene-ssi." Luhan yang masih menggeleng dalam pelukan Sehun. Dan pria itu yang mendengar perkataan Luhan membuatnya melepas pelukan mereka dan memegangi kedua sisi Luhan terkejut.
"Mwo? Apa yang baru kau katakan? Melupakan perasaanmu? Sejak kapan?" Sehun yang mulai menajamkan pendengarannya untuk mendengarkan penjelasan Luhan.
"Aku menyukai oppa bahkan sejak oppa masih membenciku mungkin.. saat aku memaksa oppa untuk kepemakaman orang tua oppa, awalnya mungkin aku hanya simpati. Tapi ketika Zitao eonni menceritakan tentang masa lalu oppa. Kita sama-sama kehilangan orang tua kita saat masih kecil dan itu yang membuatku agar membuat oppa tertawa. Melihat wajah oppa rasanya hanya ada hari suram yang oppa rasakan kekeke." Tawa Luhan membuat Sehun ikut tertawa.
"Saat kita bertengkar, itu cukup membuatku senang. Aku benar-benar tak memasukkan perkataan pedas oppa ke hati. Hanya kuanggap masa lalu. Tapi ketika kemarin Irene-ssi datang dan Zitao eonni mengatakan bahwa ia kekasih oppa membuat lulu harusnya sadar jika oppa menyukai wanita seperti Irene. Apa yang tidak Irene-ssi punyai? Wajah cantik, pakaian mahal bahkan sangat modis. Membuat lulu sadar diri, jika lulu hanya gadis kekanakan yang bahkan tak secantik dan semodis Irene-ssi. Ketika kemarin lulu mengajak Zifan ke lotte world dan oppa meminta ikut, lulu berusaha menolak agar tak selalu bertemu oppa.."
"Aigoo manisnya." Sehun segera menempelkan bibirnya pada Luhan, bahkan mulai melumatnya. Sedangkan Luhan yang tak pernah mengalami hal ini sebelumnya hanya diam membeku saat Sehun masih menikmati bibir Luhan sampai beberapa menit nafas Luhan mulai berkurang, ia segera memukul dada Sehun untuk minta dilepaskan.
Merasa tak iklas akhirnya Sehun melepaskannya dengan Luhan yang berusaha menarik nafas sedalamnya tapi kini Sehun kembali mengecup bibir itu berkali-kali. Sampai membuat Luhan menahan bahu Sehun agar pria itu berhenti mengecup bibirnya.
"Ciuman pertama?" dengan Luhan yang masih bersandar disofa dan tak bisa bergerak karena Sehun menjepit posisinya dengan pria itu yang berada didepannya sekarang. Bahkan kedua tangan Luhan masih dibahu Sehun agar pria itu tak semakin mendekat ke arahnya. Gadis itu segera mengangguk dan menundukkan kepalanya malu membuat Sehun gemas dan mencubit sayang pipi memerah itu.
"Mulai hari ini Xi Luhan adalah kekasihku, tidak ada wanita lain." Ujar Sehun yang kembali memosisikan tubuhnya disebelah Luhan dengan satu tangannya yang membawa tubuh mungil itu berada didadanya. Kali ini Luhan membalas pelukan pria itu.
"Ish oppa ini, menanyakan untuk menjadi kekasihku saja tidak." Luhan mempout-kan bibirnya mendengar kata-kata seenaknya Sehun.
"Mian.. sebelumnya aku belum pernah memiliki kekasih, jadinya kau sudah ku klaim menjadi milikku sekarang." Sehun tertawa dan mengusak kepala Luhan sayang.
"Tapi bagaimana dengan Irene-ssi?" tanya Luhan dengan harap tak mengecewakan hatinya.
"Aku tak ingin mengatakan ini, tapi kau percaya padaku kan?" sejenak Luhan ragu tapi melihat wajah serius Sehun membuat Luhan akhirnya percaya dan mengangguk. Memberikan senyumnya yang menenangkan Sehun.
Luhan segera berdiri dan melihat isi apartemen milik Sehun, bahkan menanyakan berbagai macam pertanyaan yang membuat Sehun gemas saat mengikuti gadisnya berjalan-jalan. Dikecupnya bibir manis itu untuk berhenti menanyakan pertanyaannya.
"Kau masih marah?" tanya Sehun saat mereka berada didalam mobil untuk kembali kerumah Sehun. Luhan yang meminta mereka pulang karena tak tega meninggalkan Zifan dan halmeoni, meskipun banyak orang dirumah dan Sehun yang tak bisa menolak jika Luhan sudah mengeluarkan rengekannya.
"Hm." Luhan yang masih tak ingin melihat Sehun.
"Mian ok? Lulu ingin apa?" kini giliran Sehun yang berusaha membujuk kekasih imut nan cerewetnya ini.
"Jangan menciumku.." membuat Sehun membelalakkan matanya mendengar permintaan kekasihnya saat ia menyela ucapan Luhan.
"Mwo? Jangan menciummu? Aniya, aku tak akan bisa." Ujar Sehun menggeleng cepat saat pandangannya masih fokus dikemudinya.
"Ish oppa aku belum selesai berbicara makanya jangan menyela! Jangan menciumku sembarangan! Dan lulu ingin taro bubble tea."
"Baiklah, kajja!"
.
.
Ini sudah hari jumat dan akhirnya Luhan diberi waktu libur oleh Zitao. Sudah beberapa hari Sehun dan Luhan menjadi sepasang kekasih. Dan sudah beberapa hari pula Luhan berusaha melupakan kehadiran Irene dirumah Sehun. Tak jarang Luhan hanya terdiam cemburu melihat Irene dengan seenaknya menempel pada kekasihnya, untung saja Sehun yang paham situasi selalu berusaha untuk menjauhi Irene.
Sehun bukan tak ingin Irene pergi dari kehidupannya, hanya saja ia mencari cara terbaik agar Irene juga tak merasakan sakit hati karena Sehun tau Irene tipikal pendendam dan Sehun tak ingin Irene berbuat hal nekat yang membahayakan Luhan. Sehun sudah mengenal Irene bertahun-tahun lamanya dan ia juga tak pernah menyerah untuk mengejarnya. Dulu Sehun menerima kehadiran Irene karena ia tak mencintai siapapun pada saat itu sehingga ia membiarkan Irene mengakui dirinya sebagai kekasih wanita itu.
Tapi sekarang situasinya sudah berbeda karena ia mencintai gadisnya yang cerewet dan ia tak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Saat berada diruang kerjanya Sehun memikirkan gadis cerewetnya, hari ini tidak akan bisa bertemu dengannya karena ia libur seharian membuat Sehun segera membuka handphone canggihnya dan tidak ada pesan satupun dari gadisnya. Semuanya dari Irene membuat Sehun melempar kembali alat itu ke meja dan Sehun menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi kerjanya dan menutup matanya sejenak.
...
Disisi lain, akhirnya hari kamis pun tiba. Setelah seharian menjaga Zifan, Zitao dan Yifan tiba dengan penerbangan sore. Setelah menjemput dan mengantar Yifan, Zitao, dan Zifan dirumah Luhan langsung meminta Sehun untuk mengantarnya pulang meskipun yang lainnya sudah memintanya untuk menginap lagi hari ini tapi Luhan menolak karena sudah meninggalkan Ahn ahjumma dan Kyungsoo terlalu lama akhirnya semuanya memahami keputusannya.
Hanya Sehun yang mengantar Luhan pulang, ketika mereka tiba didepan gedung tempat tinggal Luhan dan gadis itu hendak keluar tapi ditahan oleh Sehun.
"Wae oppa?" tanya Luhan heran.
"Kau besok libur dan kita tidak akan bertemu, jadi bisakah memberikan priamu ini sedikit kecupan?" dengan berani Luhan memajukan tubuhnya untuk mencium Sehun tapi dengan gesit tangannya menahan tengkuk gadisnya dan melumat bibir manis itu.
Setelah beberapa menit mereka saling melumat, Luhan segera memukul dada pria didepannya dan berusaha melepas tautan mereka. Berusaha menghirup oksigen sebanyaknya.
"Itu bukan kecupan namanya oppa!" protes Luhan yang masih berusaha menstabilkan pernafasannya.
"Sedikit mengambil kesempatan tak masalah sayang." Sehun segera memeluk gadisnya erat.
"Ish oppa ini!" ujar Luhan sebal sambil menepuk dada Sehun.
"Aku akan merindukanmu karena tiga hari besok kau libur." Sehun memelas kali ini.
"Kita seperti tak akan bertemu lama saja, kekeke. Besok saat aku tak ada awas saja kalau oppa ada apa-apa dengan Irene-ssi!" ancam Luhan yang terlihat imut dimata Sehun.
"Makanya besok kerumah biar tau kalau aku ada apa-apa dengan Irene. Kekeke." Goda Sehun.
"Oppa!" protes Luhan yang tak menyukai godaan yang diberikan prianya.
"Baiklah, siap bos tak akan terjadi apapun! Jangan lupa handphone-nya jangan lupa selalu aktif! Awas saja saat berusaha kuhubungi dan tak ada jawaban." Balik ancam Sehun pada Luhan. Dan dijawab anggukan lalu Luhan segera turun dari mobil Sehun segera masuk.
Saat hendak masuk ke dalam gedung setelah mobil Sehun pergi, Luhan melihat kakaknya turun dari sebuah mobil yang Luhan ketahui. Dan ia juga melihat Jongin turun dari mobil itu membuat Luhan cukup lega.
"Eonni!" teriak Luhan tanpa menyadari Kyungsoo yang jalan menghampirinya sedang bergandengan dengan Jongin. Tak kuasa merindukan eonninya, Luhan segera memeluk Kyungsoo membuat Kyungsoo tersenyum senang.
"Aigoo adik eonni! Ini pertama kalinya kita berpisah lama, kekeke." Dan Jongin melihat momen itu ikut tersenyum senang.
"Lulu sangat merindukan eonni dan ahjumma. Bagaimana keadaan kalian?" tanya Luhan yang masih menghiraukan Jongin.
"Makanya telpon kami. Kau sih terlalu asik disana." Dan Luhan hanya menyengir lucu sampai akhirnya ia menyapa Jongin.
"Jongin oppa! Bagaimana kabar oppa?"
"Aku baik lu. Bagaimana denganmu?"
"Seperti yang oppa lihat, hehe. Oppa hari ini mengantar eonni pulang?" kali ini Luhan menatap keduanya.
"Ya lu aku mengantar tunanganku."
"Jongin!" ucap Kyungsoo memperingati.
"Mwo tunangan? Eonni?" kali ini Luhan menajamkan penglihatannya pada Kyungsoo dan wanita itu hanya menyengir.
"Nanti eonni ceritakan, ayo masuk!" Kyungsoo berusaha mengusir Jongin, sedangkan Luhan yang ditarik masuk sebelum gadis itu menunjukkan sungutnya, tak hanya bercanda.
Saat masuk kedalam rumah bukannya menyapa Ahn ahjumma, Luhan malah ikut masuk kedalam kamar Kyungsoo untuk menuntut penjelasan. Dan Kyungsoo yang tak punya pilihan lain hanya mengangguk untuk menceritakannya.
Tapi sebelum itu, mereka menuju Ahn ahjumma yang beristirahat untuk menyapa ahjumma kesayangan mereka dan membersihkan diri terlebih dahulu baru memulai cerita. Kyungsoo mulai menceritakan semuanya saat Jongin melamarnya hari itu didepan eommanya Jongin.
"Chukkae eonniku sayang!" Luhan segera memeluk Kyungsoo dan mereka berpelukan mesra.
"Gomawo sayang, besok bantu eonni menjelaskkan pada ahjumma ya. Kau tau kan jika hubunganku dan Jongin terlalu cepat untuk dikatakan tunangan, ia bukannya hanya memintaku sebagai pacarnya tapi tunangannya lu.." dan langsung dijawab anggukan setuju.
Kini giliran Luhan mulai menceritakan semuanya saat berada dikediaman Oh Sehun, bahkan tak lupa jika ia menceritakan bahwa ia kekasih Oh Sehun sekarang dan membuat Kyungsoo tertawa. Sepertinya Luhan termakan ucapannya sendiri dan itu membuat Luhan cukup malu.
Terlalu banyak yang mereka bahas sampai mereka lupa jika malam semakin larut, dan besok Kyungsoo harus pergi bekerja. Dan kali ini karena masih melepas rindu, Luhan meminta untuk tidur dikamar kakaknya hari ini dan Kyungsoo mengiyakan.
Keesokan harinya, akhirnya mereka berkumpul untuk sarapan pagi seperti biasa, bahkan Jongin sudah tiba dirumah mereka seperti biasa juga tak membuat Ahn ahjumma heran. Kyungsoo sudah mengatakan pada Jongin jika ia akan jujur pada Ahn ahjumma besok dengan dibantu oleh Luhan untuk mengatakan hal tersebut pada ahjumma.
Setelah selesai makan, Luhan yang mulai membuka suaranya pertama kali.
"Hmm.. ahjumma." Panggil Luhan membuat Ahn ahjumma menoleh padanya.
"Ada apa lu?"
"Itu ahjumma, Kyungsoo eonni dan Jongin oppa ingin mengatakan sesuatu." Lempar Luhan membuat Kyungsoo membelalakkan matanya lebar.
"I-itu ahjumma kami ingin mengatakan sesuatu.." ujar Kyungsoo pelan.
Kali ini giliran Jongin yang maju untuk mengatakannya pada Ahn ahjumma.
"Ahjumma, maafkan aku sebelumnya. Aku bukan bermaksud untuk tak mengatakannya pada ahjumma terlbih dahulu, hanya saja aku terlalu mencintai Kyungsoo dan memikirkannya dengan terburu-buru. Maafkan aku ahjumma.. aku mencintai Kyungsoo dan sudah melamarnya ketika hari minggu kemarin saat berada dirumahku.." ujar Jongin mulai tak yakin ketika melihat raut yang ditunjukkan oleh Ahn ahjumma.
"Aku sangat mencintai Kyungsoo ahjumma, begitu pula sebaliknya. Tapi sebelum itu, karena ahjumma adalah orang tua Kyungsoo, maukah ahjumma merestui untuk kebahagiaan kami?" Jongin yang akhirnya lega mengatakan semuanya meskipun jantungnya masih berdetak sangat kencang karena belum ada jawaban yang diucapkan Ahn ahjumma.
"Ahjumma.." kini Kyungsoo yang mulai khawatir karena bagaimanapun, ia sudah menganggap Ahn ahjumma sebagai orang tuanya dan jika Ahn ahjumma mengatakan tidak maka Kyungsoo akan mematuhi apa yang dikatakan Ahn ahjumma.
"Ahjumma kenapa diam saja? Kasian oppa dan eonni yang menunggu jawaban ahjumma.." kini giliran Luhan yang mulai membujuk Ahn ahjumma, berharap bujukannya berhasil.
"Ahjummaa, bagaimanaa? Lihat wajah tegang kyung eonni dan Jongin oppa.. aku mohon restui mereka, mereka pasangan yang serasi untukku.." Luhan yang ikut memohon pada Ahn ahjumma dengan wajah aegyo yang super menggemaskan.
"Bagaimana dengan.. kau kyung? Apakah kau sudah memikirkan semuanya?" akhirnya Ahn ahjumma yang mengeluarkan suaranya dan menatap Kyungsoo tegas, meskipun Ahn ahjumma lemah lembut tentu ia tegas dalam mendidik anaknya, bukan semena-mena memanjakannya tapi Luhan dan Kyungsoo juga harus ditegasi karena dunia tak seindah yang mereka bayangkan.
"Su..dah ahjumma.. kyungie mencintai Jongin dan kyungie menerima lamaran Jongin.." ujar Kyungsoo menunduk takut.
"Dengarkan kyung. Jika kau mencintainya katakan dengan tegas sayang, seperti yang selalu ahjumma katakan padamu dan lulu, dunia ini keras dan kalian harus melawannya dengan tegas. Katakan jika kau mencintai Jongin, dan jika itu keputusanmu pertahankan. Ahjumma akan selalu mendukungmu dari belakang sayang, asal kau tak menyesal dikemudian hari." Ujar ahjumma lembut dengan menggenggam tangan Kyungsoo sayang membuat Kyungsoo berdiri dari kursinya memutar menuju kursi Ahn ahjumma dan memeluknya.
"Gomawo ahjumma.. kyungie hanya terlalu takut jika ahjumma tak merestui kami, karena usia hubungan kami terlalu muda untuk menuju pertunangan." Masih dalam pelukan Ahn ahjumma, Kyungsoo hendak menangis tapi ditahannya, ia terlalu senang hari ini.
"Hal itu juga salah satu pertimbangan ahjumma tadi.. kalian baru bertemu tapi ahjumma harap kalian selalu bahagia.." Kyungsoo melepas pelukannya kini gantian pandangan Ahn ahjumma tersenyum pada Jongin yang mulai ikut menghampiri Ahn ahjumma dan ikut berlutut seperti yang Kyungsoo lakukan.
"Ya ahjumma, aku akan selalu berusaha membahagiakan kyungie. Mohon doa restu untuk kami.." dielus rambut Jongin sayang oleh Ahn ahjumma lalu bibi berusia kepala empat itu menangguk.
"Tapi bisakah ahjumma meminta sesuatu dari kalian?" tanya Ahn ahjumma membuat Jongin dan Kyungsoo mendongak melihat ke arah Ahn ahjumma sekarang.
"Bisakah kalian tak buru-buru menikah? Ahjumma masih belum terlalu siap jika harus kehilangan salah satu anak ahjumma.. kekeke aniya bercanda." Membuat protesan yang dilayangkan oleh Jongin tentu saja Jongin juga bercanda.
"Ahjumma hanya minta kalian tidak melakukan hubungan yang lebih saat sebelum menikah.. Ahjumma tau jika Jongin pernah hidup bebas diluar sana, tapi bisakah ahjumma minta untuk Jongin selalu menjaga Kyungsoo layaknya Kyungsoo adalah barang mahal yang tidak bisa Jongin dapatkan dimanapun? Ahjumma hanya minta kalian jaga kepercayaan ahjumma selalu dan jangan bikin ahjumma kecewa ya?" Jongin segera mengangguk setuju, tentu Jongin juga berniat tak menyentuh Kyungsoo lebih dari semestinya sebelum mereka menikah. Akan Jongin pegang erat-erat kepercayaan Ahn ahjumma.
"Chukkae eonni dann oppa! Apa yang kalian khawatirkan akhirnyaa." Luhan ikut berdiri dan memeluk Kyungsoo senang.
"Gomawo lu telah menolong kami.. meskipun tak banyak sih.." goda Jongin.
"Oppa ini, tau begitu tak akan kubantu." Luhan sebal kali ini, tentu saja ini juga bagian dari bercanda.
"Gomawo sayaang." Akhirnya Kyungsoo yang menengahi, memeluk Luhan erat.
"Kalau kau bagaimana lu?" kini giliran semuanya memperhatikan Luhan.
…
Ini masih hari sabtu, dan Luhan masih menggunakan jatah liburnya dengan senang, membantu Ahn ahjumma seharian memasak, membersihkan rumah mereka, bahkan ikut Ahn ahjumma berbelanja ke pasar. Luhan sudah berjanji memang jika hari liburnya khusus diperuntukkan untuk Ahn ahjumma dan menemaninya.
Akan tetapi tak lupa pula jika ia selalu berkomunikasi dengan Sehun, pria itu akan marah jika ia tak menjawab panggilannya. Kali ini Sehun yang begitu merindukannya memaksa Luhan agar gadisnya pergi ke apartemen milik Sehun yang pria itu tunjukkan minggu lalu, bahkan pria itu pula tak menerima penolakan saat Luhan hendak protes akan permintaan Luhan.
Sehun sudah berjanji karena jika memang hari sabtu beberapa perusahaan termasuk milik Sehun memiliki jam kerja lebih sedikit ketimbang jam kerja diperusahaan lainnya. Sehun sudah memikirkan sedemikian rupa saat setelah pulang dari kantornya pukul tiga sore, ia akan langsung menjemput Luhan agar mereka memiliki waktu berdua di apartemen Sehun.
Awalnya Luhan menolak dan memilih bertemu di cafe, atau dirumah Sehun saja agar pria itu tak perlu bolak-balik menjemput dan mengantarnya pulang, tapi memang dasarnya si keras kepala tak bisa diganggu gugat akhirnya Luhan lebih memilih mengalah dan menuruti kemauan prianya.
"Sayang, aku sudah didepan gedung rumahmu." Suara Sehun terdengar saat Luhan mengangkat panggilan tersebut.
"Iya oppa, aku akan segera turun." Ujar Luhan yang segera mengambil tas selempangnya menuju pintu utama tempat tinggalnya.
"Apa perlu aku turun dan menemui Ahn ahjumma?" dan langsung dijawab seriuan tidak oleh sang gadis, untung saja ia sudah berada diluar apartemen jadi tak akan membuat Ahn ahjumma curiga.
"Waee? Kan aku ingin bertemu keluargamu." Protes Sehun.
"Akan semakin lama jika menunggu oppa naik dan bertemu ahjumma dulu, lain kali saja bertemunya." Elak Luhan yang sebenarnya masih tak berani jika mengenalkan Luhan pada bibi yang sudah dianggapnya sebagai orang tua keduanya.
"Baiklah, oppa menunggu dibawah." Ujar Sehun mengalah. Hingga beberapa saat akhirnya Luhan tiba di lobby dan memperhatikan jika Sehun yang berada diluar mobil dengan posisi menyandar pada mobil cukup terlihat menawan bagi Luhan.
Segera Luhan hampiri prianya yang membuka tangannya lebar tanda ingin sebuah pelukan. Pria ini cukup merindukan kekasihnya padahal baru sehari tak bertemu dan menggiring gadisnya masuk ke mobil hingga mobil mereka melaju.
Tanpa sadar ada yang mengikuti dan memperhatikan mereka dari tadi... wanita yang sedari tadi mengikuti Sehun bak penguntit hingga menunggu apa yang dilakukan prianya digedung tak berkelas ini bagi mereka sampai melihat dengan mata kepalanya sendiri membuat wanita itu mengepalkan tangannya erat.
"Balik pak, antarkan aku pulang kerumah sekarang!" ujar wanita itu terdengar marah. Awas saja kau Xi Luhan -batin si wanita.
.
.
.
TBC
Yuhuuu~~ ada yang masih nunggu story-ku? Ga kayaknya .
Gimanaa? Ini Hunhan udah pacaran! Apa masih kurangg momennya? :o. Kecepetan ga kalo hunhan akhirnya pacaran? Wkwkwk. Aku terlalu gemas kalo ngulur2 lagi :)). Dan buat yang marah-marah irene ga cepetan ilang, yang sabar yakk. Ga asik kalo gaada yang gangguin, jadi sayang kalo irene cepet diilangin wakakak.
Btw yakk, aku mau minta maaf buat yang protes hunhan momennya dikit, tapi sudah mulai ku banyakin apa masih kurang? :. Ditunggu yaak reviewnya, ku tunggu review kalian apalagi yang greget gegara irene, padahal cantik loh :))).
Last, jangan lupa review pleaseeeeee, see you next chapter. Byeeeee~
Regards,
Seluhaenbiased.
