INI CHAP 13
YANG SEBELUMNYA 14
MAAF KELEWAT T.T
KARENA SAYA NULISNYA DI WP
BARU COPAS KESINI
TERNYATA YANG 12 KELEWAT
..
.
Sungwoon dan bayinya sudah pulang ke rumah.
Jaehwan sibuk ngurus Jihoon kecil dsn ibunya.
Sewoon menyibukkan diri di kolam bersama lele-lele terkasih.
Jisung?
Entahlah.
Istri ketiga bapak itu ngilang-ngilang mulu akhir-akhir ini.
Ga ada yang nyadar. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing.
.
Sama seperti malam ini juga, yang di rumah cuma bapak ama ibu.
"Pak, susunya habis nih," ujar ibu (?) Sungwoon sembari mengocok botol susu gambar jerapah milik Jihoon. "Ini yang terakhir."
"Duh, kok baru bilang sekarang toh, Bu, jam sepuluh lewat mana ada yang buka?"
Sungwoon meminumkan susu pada botol di tangannya ke Jihoon. "Ada. Minimarket 24 jam kan banyak."
Pak Jaehwan ragu-ragu. Memang dia tetap harus pergi beli susu, tapi ninggal Sungwoon ama Jihoon berdua aja juga gimana. Ya walaupun lingkungannya aman sih...
"Ponyo ama Nyai kemana ya kok belom pulang?"
Sungwoon hanya mengendikkan bahunya tanda tak tahu.
"Tunggu Ponyo atau Nyai pulang ya?"
"Kelamaan, ini kalo kurang gimana?"
"Ya udah, bapak kunci ya pintunya, kalo ada yang ketuk-ketuk nggak usah dibukain," pesan bapak sembari memakai jaket parka coklatnya.
Sungwoon mengangguk kecil.
"Bapak tinggal ya, Bu, Hoon," pamitnya.
Sepeninggal bapak, Sungwoon membaringkan tubuhnya di samping Jihoon dengan tangan kirinya masih memegangi botol susu yang masih diminum oleh bayinya. Capek, mau otw alam mimpi juga.
Tok tok tok...
Eh ada tamu.
Sungwoon uda nyari guling buat ganjel botol susunya Jihoon terus bukain pintu, tapi mendadak dia terngiang pesan suaminya, 'kalo ada yang ketuk-ketuk nggak usah dibukain'.
Nggak jadi dah.
Nurut kata suami itu yang utama buat Sungwoon. Walaupun suaminya rada-rada gitu sih.
Pintu diketuk semakin keras. Bahkan sekarang nggak cuma pakai punggung tangan tapi udah pakai batu, Sungwoon yakin.
Sungwoon mengelus pelan pantat bayinya supaya tidur nyenyak dan tidak terganggu oleh suara berisik dari luar tersebut.
Setelah hampir lima menit barulah suara ketukan itu berhenti,
Jihoon telah menghabiskan sebotol susunya dan tertidur pulas.
"Huh..." Sungwoon menghembuskan nafas lega, akhirnya dia bisa beristirahat kini.
Anak dan istri keduanya telah berada di alam mimpi, sedang Jaehwan sendiri masih duduk di sofa depan tv sembari menonton berita tengah malam. Matanya fokus ke tv, namun telinganya terus siaga kalau-kalau Jihoonnya terjaga.
Sudah tengah malam dan Jaehwan tak ingin membangunkan istrinya. Dari wajahnya saat tertidur Jaehwan dapat melihat kalau istrinya begitu kelelahan mengurus ini dan itu seharian penuh.
Belum lagi dua istri bapak yang lain masih berada entah dimana. Ponsel keduanya tak dapat dihubungi. Nomor ponyo tidak aktif. Sementata ponsel Jisung ditinggal di dapur.
Mau nyari, nanti kalau Jihoon bangun gimana?
Akhirnya Jaehwan memilih untuk menunggu saja di tempat.
..
"Pak! Pak! Bangun, Pak!"
Jaehwan buru-buru membuka matanya begitu mendengar suara Sungwoon membangunkannya.
"Heum?"
"Nyai..."
"Kenapa Nyai?" Nyawa Jaehwan belum sepenuhnya terkumpul.
"Nganu. Itu. Sana deh, Pak langsung aja."
"Paan?"
Jaehwan semalam ketiduran di sofa waktu nungguin dua istri lainnya pulang. Saking pulasnya tidur sampai bapak nggak dengar waktu Jihoon bangun dan jadilah sampai pagi Jaehwan tidur di sofa.
"Nganu, itu Nyai, sekarang di warungnya Koh Guanlin," ujar Sungwoon.
"Emang uda buka?" Bapak garuk-garuk rambut sembari berusaha untuk bangkit.
"Duh, bapak ksana aja deh pokoknya. Buruan."
"Mandi dulu ya?"
"Gosah, ntar aja. Pokoknya cepetan kesana," ujar Sungwoon. Didorongnya tubuh Jaehwan ke arah pintu.
"Lah, malu dong, ntar kalo ketemu Minhyun gimana? Duh..."
"Buruan ah, masi aja mikirin Minhyun!" Sungwoon menutup pintu segera setelah Jaehwan melangkahkan kaki melewati ambang pintu.
..
Jaehwan kembali dua puluh menit kemudian dengan Nyai Jisung berjalan mengekor di belakangnya. Raut wajah keduanya sulit untuk ditebak. Sungwoon yang sudah tau apa yang terjadi memilih untuk diam dan pura-pura sibuk mencuci popok anaknya di wastafel.
"Ponyo belum pulang?" tanya bapak pada Sungwoon setelah Jisung menghilang di balik pintu kamarnya.
"Belum," jawab Sungwoon singkat, selain lagi fokus buat ngilangin kuning kuning lembek yang nempel di popok anaknya, dia juga rada takut kena semprot bapak.
BLAM!
Jaehwan masuk ke kamar mandi dan membanting pintu di belakangnya keras-keras.
"Bapak kenapa?"
"Ha? WAAAAA!"
Sungwoon kaget, Ponyo lebih kaget karena suara teriakan melengking Sungwoon.
Dua duanya sama sama kaget, Jisung di dalam kamar juga ikut kaget. Apalagi bapak.
Istri pertama dan kedua bapak itu tertawa setelah kaget mereka hilang.
"Duh, ngapain sih? Ngagetin aja."
"Kan cuma nanya."
"Manggil dulu kek, tiba-tiba di belakang, mana bisik-bisik gitu kan ngagetin."
"Serius amat sih cuci popoknya... Eh! Jorok bat dah! Cuci popok kok di wastafel, astaga..."
Makan malam sudah siap, yang masak Minhyun.
Kenapa Minhyun?
Karena istri-istri bapak hari ini nggak ada yang masak dan tetangga mereka yang baik hati mengirimi nasi kuning plus lauk telur dadar, perkedel, kering kentang, kering tempe, dan tahu bacem disempurnakan dengan adanya kerupuk.
Bapak dan ketiga istri telah duduk memenuhi keempat sisi meja makan persegi mereka, siap untuk menyantap hidangan lezat yang tersaji di hadapan mereka.
"Eum, sebelum mulai makan, bapak mau ngomong sesuatu ke kalian. Bukan sih, lebih tepatnya, bapak mau minta pendapat kalian."
Para istri menyimak dengan seksama.
"Kalau bapak langsung lamar Minhyun aja gimana?"
.
.
.
TBC
