Now, You Know Me

Cast :

Oh Sehun ( 25 Tahun )

Xi Luhan ( 21 Tahun )

Kim Jongin ( 25 Tahun )

Do Kyungsoo ( 23 Tahun )

Wu Yifan ( 29 Tahun )

Wu Zitao ( 28 Tahun )

And others

.

.

WARNING : This is GS ( GenderSwitch )

TYPO, EYD, DLDR!

RATED : T - M.

.

Summary :

Luhan gadis biasa yang memiliki sifat ceria dan ceroboh harus berhubungan dengan laki-laki kaku nan dingin yang tak mempercayai akan cinta itu ada. Laki-laki dengan usia muda yang mampu meraih kesuksesan dengan kerja kerasnya sendiri bernama Sehun tak mengenal akan kebaikan seseorang secara cuma-cuma, menganggap semua orang sama buruknya, dan hanya menatap derajat dan seberapa kaya orang itu.

.

.

Chapter 11: What Should I Do?

Happy Reading ^^

.

.

Sehun yang sedang duduk diam di teras merasakan tepukan pelan dari belakang membuatnya menoleh ke arah si pelaku. Ternyata Zitao yang menghampirinya dan duduk disampingnya membuat sehun sedikit tersenyum.

"Noona tak lelah?" mendengar pertanyaan adiknya membuat Zitao yang awalnya memperhatikan bintang dilangit kali ini tersenyum senang mendengar perhatian adiknya. Ia tau meskipun Sehun memiliki sisi kaku, tapi adiknya sangat menyayangi dirinya.

"Lelah sih, tapi melihat adik noona merenung sendirian disini membuat noona ingin menghampirinya. Apa yang kau pikirkan sekarang? Tentang perusahaan?" tanya Zitao penasaran berharap adiknya mengeluarkan keluh kesah padanya sehingga membuat beban pikiran adiknya berkurang.

"Noona.. aku menyukai Xi Luhan.." jujur Sehun. Kali ini mereka hanya berdua, sehingga Sehun bisa mengencurahkan isi hatinya.

"Mwo? Luhannie?!" tanya Zitao terkejut dan cukup membuatnya bahagia. Jujur memang Zitao tak merestui hubungan Sehun dan Irene tapi ia berusaha bersikap biasa karena ia tau adiknya pasti bisa memilih jalannya yang terbaik. Berbeda dengan Oh halmeoni yang terang-terangan menunjukkan sisi tak sukanya terharap Irene.

"Jangan kencang-kencang noona! Ini sudah malam, nanti ada yang mendengar bagaimana?" tak tau mengapa Sehun ingin mengeluarkan isi hatinya tanpa ada yang tau kecuali Zitao.

"Maafkan noona, tapi Hun.. bukankah Irene kekasihmu?" Zitao memusatkan pandangannya kearah sehun dengan cukup penasaran kali ini.

"Itu tidak benar noona.. Ia terlalu terobsesi padaku, saat itu aku tak menyukai siapapun jadi aku tak melarang ia mengejarku. Aku terlalu lelah karena ia selalu menghubungiku jadi kubiarkan saja ia sesuka hatinya. Tapi kini sekarang berbeda noona.. Aku mencintai Xi Luhan." Kali ini dibuat Zitao menganga mendengar penjelasan adiknya. Untuk pertama kalinya ia mendengar Sehun menjelaskan kalimat segini panjangnya dan Zitao merasa harus berterima kasih pada Luhan. Akhirnya Zitao tersenyum entah mengapa lelahnya hilang ketika merasa adiknya telah kembali.

"Terus apa yang kau pikirkan? Tentu cepat jadikan lulu kekasihmu sebelum ia diambil oleh pria lain, Sehun.." ujar Zitao berusaha menasehati.

"Sudah noona.. Luhan kekasihku sekarang, yang kupikirkan bagaimana Irene sekarang? Maksudku bukan memikirkan begitu, tapi Irene adalah wanita yang ambisius, aku tak ingin ia menyakiti Luhan. Aku ingin secara perlahan Irene keluar dari hidupku, apa yang harus ku lakukan?" tanya Sehun berusaha meminta pendapat kakaknya.

"Noona juga tak yakin dengan pendapat noona sendiri, hanya saja noona berharap yang terbaik untukmu, Hun.. Kau tau noona sangat senang sekali mendengar ceritamu baru saja, serasa adik noona telah kembali dan sepertinya noona harus berterima kasih juga pada Lulu. Sudah jangan dipikirkan, istirahatlah. Noona masuk dulu ya." Zitao mengelus kepala Sehun sayang seperti yang ia lakukan biasanya dan adiknya tak pernah menolak perlakuannya.

Wanita berusia dua puluh delapan tahun itu segera memeluk adiknya sebagai ucapan perpisahan malam menuju kamarnya dan meninggalkan adiknya sendiri yang masih merenung. Meskipun tak banyak yang dilakukan kakaknya tapi Sehun merasa sedikit lega ketika ada orang lain yang mendengarkan ceritanya meskipun hanya noonanya.

...

Setelah dari cafe berbincang dengan sahabat desainer terkenalnya di Korea, Irene memutuskan menuju kantor Sehun sore ini karena ia tau ini sudah pukul tiga kurang waktunya pria itu untuk pulang dan Irene memutuskan menghampirinya sekaligus ikut Sehun pulang kerumah. Kerumah Sehun maksudnya.

Saat berada didalam taksi, Irene sedang berusaha menghubungi Sehun, tapi ponsel pria itu sepertinya sedang sibuk tersambung dengan operator lain, yang sebenarnya cukup membuat Irene menggeram sebal.

Menyerah, akhirnya wanita yang sedang dalam perjalanan itu memutuskan berhenti untuk menghubungi prianya dan memberi kejutan, sekalian ingin membuat pegawai kantor sehun mengenalnya sebagai kekasih pemilik perusahaan.

Tetapi saat Irene telah tiba didepan gedung megah itu, Irene sangat mengenali kendaraan yang kali ini melaju melewati taksi yang ditumpakinya sekarang membuat Irene penasaran dan memutuskan memerintah si pengemudi taksi untuk mengikuti mobil yang ada didepannya.

Saat berada diperjalanan mengikuti mobil Sehun dari belakang Irene merasakan debaran jantungnya yang luar biasa bahkan Irene tak tau apa yang terjadi padanya. Ia hanya berusaha menarik nafas sebanyak mungkin dan terus memperhatikan mobil Sehun yang melaju didepan taksinya, kadang ia bereaksi menyebalkan ketika pak taksinya mulai mengurangi kecepatan laju taksi yang ditumpakinya.

Hingga tiba disebuah gedung cukup kumur bagi kalangan Irene, bahkan tak layak dikatakan gedung menurutnys membuat ia menunjukkan raut jijik. Menunggu mobil didepannya berhenti lama membuat Irene cukup menggeram sebal, apa yang dilakukan pria ini digedung kumuh seperti ini.

Sehun yang terlihat keluar dari mobil dengan ponsel yang berada disebelah telinganya seperti menunjukkan gestur sedang bercakap dengan orang lain melalui ponsel tersebut kali ini membuat Irene cukup penasaran, apalagi saat melihat raut wajah Sehun yang terlihat sangat bahagia.

Seorang gadis keluar dari gedung dengan dress murahnya dan Irene dapat melihat prianya melebarkan tangannya sampai wanita lain memeluk prianya kali ini membuat Irene sangat marah. Melihat pemandangan didepannya membuat gadis yang dari tadi mengamati momen tesebut mengepalkan tangannya erat. Hal ini sangat membuat Irene marah. Secara tak langsung baginya Sehun berselingkuh.

Sampai dua orang yang tadi berpelukan mesra akhirnya masuk kedalam mobil dan mobil tadi kembali melaju tak tau kemana. Pak supir taksi yang tadi berusaha bertanya apakah mereka melanjutkan perjalanan mengikuti mobil tadi tetapi tak digubris oleh gadis yang sedang duduk dibelakang membuat sang supir tak berani melakukan suatu tindakan, yaitu mengemudikan taksinya.

"Seulgi-ah, bantu aku mencari informasi sedetailnya mengenai wanita bernama Xi Luhan dan berikan kepadaku segera." Setelah menutup ponselnya, Irene segera memerintahkan supir untuk berbalik arah dengan mobil yang tadi mereka ikuti.

...

Saat berada didalam mobil, tak ada percakapan yang mereka mulai hanya fokus dengan pikirannya masing-masing. Luhan segera menoleh ke arah Sehun untuk menanyakan akan kemana mereka sekarang.

"Kita akan kemana oppa?" tanya Luhan penasaran. Tapi sampai sekarang belum ada jawaban yang dilontarkan pria itu, ia hanya dia dan fokus pada jalanan membuat Luhan mendengus sebal.

"Terserah oppa saja." Lalu kembali menengokkan kepalanya ke arah jendela dengan bibir mengerucut sebal tentu membuat Sehun ingin tertawa tapi ditahannya sampai akhirnya mereka tiba di suatu gedung yang cukup Luhan kenal kali ini.

"Kita akan ke apartemen oppa? Untuk apa?" tanya Luhan penasaran dengan mengikuti gestur Sehun turun dari mobil lalu mengikuti langkah prianya yang masuk ke dalam gedung tersebut.

Setelah berhasil menyeimbangkan langkahnya untuk berada di sebelah Sehun, pria itu langsung meraih tangan Luhan dan menggandengnya menuju lift, bahkan hingga sampai didepan pintu juga Sehun tak hentinya melepaskan tautan tangan mereka. Akan tetapi tetap saja pertanyaan Luhan tak pernah digubrisnya.

"Apa yang kita lakukan disini oppaaaa?" tanya Luhan kembali saat prianya menggiringnya untuk duduk disofa dan tanpa aba-aba memeluknya erat membuat Luhan menyerngitkan alisnya bingung.

"Tak ada yang kita lakukan, hanya berdua di apartemenku sampai kita pulang, hehe." Ujar Sehun nyengir melihat kearah gadisnya yang kali ini menganga lebar mendengar jawaban kekasihnya.

"Ku kira oppa akan mengajakku ke cafe, atau kemana gitu." Kali ini suara Luhan benar-benar terdengar sebal mendengar ucapan Sehun yang masih berada didalam pelukan kekasihnya.

"Itu sudah mainstream sayang, kalau berdua seperti ini akan berbeda rasanya." Ujar Sehun menggoda sambil menunjukkan smirk diwajahnya membuat Luhan segera memukul dada Sehun dan segera menjauh dari jangkauan Sehun.

"Oppa cepat mandi! Bau tau!" Luhan segera berdiri dari duduknya menuju dapur dan meembuka kulkas yang ada di apartemen Sehun.

Saat Luhan sedang fokus melihat bahan makanan yang ada didalam kulkas, ia tak sadar jika Sehun mendekat ke arahnya, dan memeluknya dari belakang membuat Luhan sangat terkejut.

"Santai saja sayang, tak perlu bereaksi seperti itu, kekeke." Saat Sehun merasakan tubuh Luhan tegang.

"Oppa cepat mandi sanaa!" Luhan berusaha melepaskan tangan Sehun dari tubuhnya, agar pria itu segera mandi.

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Sehun padahal sebenarnya ia tahu apa yang akan dilakukan Luhan.

"Oppa kan lihat aku didepan kulkas, tentu saja akan memasak untuk oppa. Mau apa lagi?" jawab Luhan yang masih memperhatikan kulkas didepannya kali ini menolehkan kepalanya kebelakang dan melihat ke arah Sehun yang masih memperhatikannya.

"Aku tak minta kau berada didapur kan? Yang ku minta kau berada selalu dipelukanku."

Chup!

Sehun segera mengecup bibir Luhan dan segera kabur masuk kedalam kamar sebelum ia mendapatkan teriakan nyalang dari gadisnya yang cerewet ini.

"Oh Sehun!" seperti dugaan Sehun kan, ia dapat mendengar teriakan gadisnya dari luar kamar membuat Sehun tertawa bisa menjaili Luhan.

"Aku tak dengar sayang! Aku berada didalam kamar, wae ingin ikut mandi?" jawab Sehun sedikit teriak tak sekencang suara Luhan dari dalam kamar dan kali ini cukup membuat gadis itu cukup sebal dan hanya bisa mengehal nafas.

"Ish awas saja!" ujar Luhan dan segera mengeluarkan bahan makanan yang bisa digunakan untuk makan malam mereka.

Kali ini setelah melihat beberapa bahan masakan yang tersaji, cukup membuat Luhan kagum, pasalnya Sehun selalu berada dirumah keluarga Oh tapi apartemennya selalu bersih bahkan bahan makanan yang tersedia semuanya masih sangat fresh untuk dimasak.

Luhan memilih untuk membuat kimchi-jjigae saat melihat sekotak kimchi berada didalam kulkas. Karena Zitao pernah bercerita pada luhan bahwa Sehun sangat menyukai kimchi, bahkan saat pertama kali kembali ke Korea, hal yang dilakukan Sehun adalah meminta Zitao dan Oh halmeoni untuk membuatkannya kimchi.

Dengan tangan ahli Luhan, ia meracik beberapa bumbu yang siap dicampur agar membuat masakan semakin enak. Bahkan Luhan membuat beberapa tambahan udang sesuai dengan resep miliknya sendiri membuat makanab terasa unik.

Memasak kimchi cukup membutuhkan waktu yang lama, semua sudah Luhan siapkan, mulai dari menanak nasi, lalu menyiapkan piring beserta sumpit dan sendok yang ia letakkan di meja makan, kali ini Luhan hanya fokus pada masakannya tanpa sadar pria di belakangnya sedang tersenyum melihat gadisnya yang sedari tadi membelakanginya sedang mondar-mandir menyiapkan segalanya.

Akhirnya Sehun memutuskan untuk mendekat dan meletakkan dagunya di bahu Luhan, sengaja ia tak memeluk kekasihnya agar membuat gadisnya bisa bergerak leluasa untuk melakukan kegiatannya.

"Apa yang kau masak, hm? Baunya harum sekali dari kamarku." Sehun yang masih meletakkan dagunya dan melihat ke arah kekasihnya yang memperhatikan masakannya tanpa memperdulikan keberadaan Sehun.

"Oppa menyukai kimchi kan? Kata Zitao eonni, oppa menyukai kimchi, jadi aku membuat kimchi-jjigae sekarang." Jawab Luhan riang dengan masih mengaduk hingga mendidih pada masakannya.

"Oppa kan mengajakmu kemari untuk bisa berduaan, bukan memasakkan oppa makanan sayang, kita bisa delivery." Sehun yang kali ini dengan berani mencium bahu gadisnya dan cukup membuat luhan kegelian.

"Aniyaa, oppa harus hidup sehaat! Tak baik jika sering-sering deliveryy. Ish oppa jangan seperti ini, geli tau!" Luhan yang menggerakkan tubuhnya berusaha meenghindar dari perbuatan Sehun.

"Salahkan bahumu yang menggemaskan dimataku." Kali ini Sehun yang berusaha menggigit bahu Luhan gemas. Tentu saja hanya bercanda.

"Sana, makanannya sebentar lagi matang, jangan menggangguku masak!" ujar Luhan berusaha menegasi Sehun, tapi tetap saja tak berhasil dimata Sehun, malah terlihat sangat menggemaskan.

"Baiklah, oppa mengerjakan pekerjaan kantor oppa, nanti panggil ya jika sudah selesai." Dijawab anggukan oleh Luhan, Sehun segera masuk ke dalam ruang kerjanya, karena memang di rumah Oh, maupun di appartemennya Sehun harus memiliki ruang kerja pribadinya.

Luhan memang ditakdirkan untuk bisa memasak. Sejak kecil Ahn ahjumma saat mengurus catering miliknya, Kyungsoo dan Luhan pasti akan datang membantu sebelum mereka berangkat sekolah. Bahkan Luhan bercita-cita menginginkan memiliki sebuat restoran miliknya sendiri berisi masakan daging yang khas karena memang ia pecinta daging.

Hanya saja semua impiannya belum selalu tentu menjadi kenyataan kan, salah satu alasan itu pula mengapa Luhan sangat suka bekerja dengan Minseok. Bahkan hingga sekarang ia masih selalu menghubungi kakaknya yang lain itu. Luhan sangat mengingat semua jasa Minseok dan tentu saja tak mudah melupakannya.

Setelah beberapa saat masakan selesai, hanya tersaji kimchi-jjigae karena memang Luhan tak memasak yang lain selain kimchi-jjigae membutuhkan waktu yang lebih lama dari masakan biasanya, ia hanya sempat membuat telur gulung dan nasi putih yang kini sudah tersedia dan siap untuk disantap.

Setelah berhasil memaanggil Sehun, mereka segera duduk saaling menghadap, dan merasakan hasil masakan Luhan. Sehun tentu tau bagaimana rasa masakan kekasihnya tidak perlu diragukan lagi karena memang sudah beberapa hari lalu ia sering merasakan masakan Luhan.

Melalui komentar yang diberikan Sehun dengan mulut sedikit penuh membuat mereka bercanda dengan menyantap makanannya. Tak ada yang bisa dideskripsikan lebih sempurna ketika melihat kebahagiaan mereka sekarang.

.

.

Sudah beberapa hari berlalu, dan Luhan sudah mulai kembali bekerja menjadi pengasuh Zifan, tapi lebih tepatnya mulai kembali keluar masuk ke dalam rumah keluarga Oh.

Tak ada hal spesifik yang terjadi, Zitao yang selalu berusaha membantu Sehun untuk bisa berduaan dengan Luhan tanpa gangguan Irene. Karena wanita itu selalu saja merecoki momen Sehun dan Luhan yang entah sedang asik berpandangan saat berada di meja makan, atau laki-laki itu yang biasanya malas mengunjungi dapur karena itu wilayah wanita tapi semenjak bersama Luhan, ia tak pernah absen menghampiri dapur saat gadisnya membantu kakaknya memasak.

Dan selalu saja momen itu diganggu Irene yang ikut masuk ke dalam dapur, dengan wajah 'sok' ingin membantunya padahal sebenarnya tak bisa dan dengan sabarnya Luhan dan Zitao meminta Sehun untuk keluar dari dapur sehingga Irene juga ikut keluar dari dapur.

Luhan yang hanya bisa menghela nafas sabar saat melihat Irene dengan beraninya didalam rumah selalu menggandeng lengan Sehun, meskipun pria itu berusaha melepaskannya sampai jengah, tapi wanita itu selalu menatap Luhan sinis dengan gaya sombongnya ketika Sehun tak menolak untuk ia gandeng.

Zitao yang paham akan situasi yang mulai sedikit memanas antara Sehun, Luhan, dan Irene itu, kadang meminta adiknya untuk pergi bersama Luhan meembeli obat untuk Oh halmeoni yang sebenarnya masih ada beberapa tablet, atau kadang biasanya ia meminta Luhan untuk belanja sehingga Sehun dan Luhan bisa berduaan tanpa gangguan Irene.

Sebenarnya Irene yang selalu berusaha untuk menghalangi mereka agar Sehun tak berangkat berdua dengan Luhan tapi selalu ada saja alasan yang diberikan Zitao ataupun Sehun. Seperti saat membeli obat halmeoni, Irene yang meminta untuk menggantikan Luhan membeli obat tapi dengan santainya jawaban Zitao.

"Memang kau paham apa saja obat halmeoni?" jika bertanya pada Luhan tentu saja gadis itu tau, karena sudah beberapa hari kemarin Luhan yang selalu mengurus Oh halmeoni dan Zifab saat Zitao pergi.

Atau ketika Zitao meminta untuk belanja, dan Irene yang kembali meminta untuk menggantikan Luhan agar bisa pergi bersama Sehun, kali ini jawaban Sehun cukup menohok hatinya.

"Kau susah untuk memahami dapur bagaimana mau berbelanja?" karena memang kelemahan Irene adalah memasak. Saat hidup sendiri di London, ia tak pernah memasak makanannya sendiri, selalu delivery atau room service atau makan langsung di restoran. Ia tak pernah mau memahami mengenai hal membingungkan itu dan memilih jalan pintasnya saja.

Sebenarnya Luhan tak tega dengan Irene, tapi di satu sisi ia sebal dengan Irene karena selalu mengganggu waktunya dengan Sehun. Tapi Luhan memahami itu karena ia paham jika Irene sudah menyukai Sehun sejak mereka berada di London dan kadang Luhan merasa bersalah seperti menjadi orang ketiga.

Akhirnya dengan geram karena kelakuan keluarga Sehun, bahkan dengan teganya pria itu. Irene sepertinya mulai merencanakan sesuatu..

...

"Oppa, jangan seperti itu pada Irene-ssi." Ujar Luhan memperingati Sehun saat mengingat perkataan kasar Sehun pada Irene. Mereka sedang dalam perjalanan untuk berbelanja sesuai dengan pesanan Zitao untuk memasak makanan malam ini.

"Biar sayang, aku lelah dia mengikutiku kesana kemari." Sehun menghela nafas lelah mengingat kelakuan Irene.

"Dia seperti itu karena sudah mengejar oppa sejak lama, hanya jangan buat hati Irene-ssi sakit. Ia wanita akupun sama, dan aku merasa tak enak padanya karena sudah membuat oppa menyukaiku padahal ia mengejar oppa sejak saat di London." Luhan langsung menundukkan kepalanya menyesal.

"Tak ada yang salah sayang, ini semua takdir. Hanya saja ayo kita bicarakan hal ini baik-baik agar ia tak berbuat hal yang menyakitimu, ok? Hanya itu yang ku takutkan, karena ia terlalu ambisius." Luhan segera mengangguk menyetujui.

"Kau mau menunggu dan sedikit lebih bersabarkan? Aku kemarin sudah menjelaskan padanya untuk berhenti mengikutiku." Luhan kembali mengangguk dan tersenyum. Melihat senyuman gadisnya tak urung membuat Sehun ikut tersenyun juga, lalu mengusak kepala Luhan sayang.

...

'Ayo bertemu di Greentea Cafe hari ini.' Hari ini hari minggu dan Luhan yang seperti biasa menggunakan waktu luangnya kali ini sedang asik menonton televisi, sedangkan Ahn ahjumma yang sedang menemui tetangga karena memang salah satu acara tiap hari Ahn ahjumma adalah bercengkrama dengan tetangga.

'Ini siapa?' jawab Luhan saat melihat pesan yang tak ia ketahui siapa pemilik nomer tersebut. Membuat Luhan menyerngit bingung karena ia sebelumnya tak pernah memberikan nomernya jika tak ia kenal, bahkan Luhan juga hanya memiliki beberapa kontak saja, teman satu sekolahnya jarang gadis itu simpan kontaknya.

'Kau akan tau nanti jika kita memang bertemu.' Jawaban terkahir itu cukup membuat Luhan penasaran dan akhirnya memutuskan untuk menemui pemilik nomer tak dikenal itu.

Saat Luhan telah sampai di kafe itu, ia bisa melihat siluet Irene yang memperhatikannya sinis membuat Luhan mendekat pada meja Irene.

"Kau yang menulis pesan padaku?" tanya Luhan to the point dan tak takut dengan tatapan tajam itu.

"Ya. Duduklah." Nada suara Irene terdengar cukup datar.

Setelah Luhan duduk dan tanpa memesan apapun, ia ingin segera pergi dari sini dan meninggalkan wanita menyebalkan menurut Luhan ini membuatnya langsung bertanya.

"Ada apa?" bingung Luhaan memikirkan maksud dari wanita didepannya.

"Ada apa kau bilang?! Tentu saja ada apa denganmu?! Kau siapanya Sehun sekarang ku tanya?" mendengar nada intimidasi Irene tetap tak membuat Luhan takut, pada Sehun sama Luhan tak takut apalagi hanya dengan wanita didepannya ini.

"Sebelumnya maafkan aku Irene-ssi. Sehun oppa adalah kekasihku, dan kami baru memulai hubungan kami beberapa waktu lalu."

"Mwo? Kau dengan enaknya mengatakan kau kekasih Sehun?! Ya gadis kecil! Aku kekasih Oh Sehun!" ujar Irene penuh penegasan.

"Maafkan aku sebelumnya Nona. Sehun oppa bilang jika ia tak memiliki hubungan apapun denganmu. Dan kami saling mencintai.." ujar Luhan mulai pelan tapi tak mengurangi rasa takutnya pada Irene.

"Kau bilang cinta?! Xi Luhan ku peringatkan kali ini jauhi Sehun!"

"Dan tak akan ku lakukan Bae Joohyun-ssi. Aku permisi." Saat Luhan hendak pergi, suara Irene membuat Luhan terkejut dan kembali diam.

"Ah.. kau memiliki ahnjumma dirumah? Kau tau kan aku memiliki banyak koneksi. Ingin sesuatu hal menarik?" pertanyaan Irene membuat Luhan kalut, ia tak ingin terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada keluarganya.

"Apa maksudmu Irene-ssi?" kali ini Luhan membalikkan tubuhnya menghadap Irene dengan wajah terkejutnya.

"Wae? Terkejut mendengar ucapanku? Benarkan ahjumma yang merawatmu? Kemana orang tuamu? Bunuh diri karena bangkrut? Haha." Tawa ejek Irene membuat Luhan mengepalkan tangannya seperti ingin memukul wajah menjengkelkan itu.

"Jangan kau sentuh keluargaku!" bentak Luhan dan dibalas terkejut oleh Irene tentu saja hanya akting pura-puranya.

"Hanya cukup jauhi Sehun, dan keluargamu aman." Kali ini Irene yang pergi terlebih dahulu meninggalkan Luhan yang mulai termenung memikirkan keluarganya. Seperti perkataan Sehun padanya benar jika Irene memang orang yang sangat ambisius.

Saat berada dalam bus, pesan singkat dari kekasihnya membuat Luhan mulai bimbang.

'Dimana sayang?' dan akhirnya Luhan berusaha memilih keluarganya agar tak terjadi hal yang tak diinginkan sehingga ia harus menghindari Sehun, tentu saja dengan tak membalas pesan prianya.

...

Sudah beberapa hari ini Luhan selalu berusaha menghindari prianya, mulai dari pesan, telfon, bahkan saat Luhan berada dirumah Sehun serasa di neraka karena Sehun selalu berusaha mengejar dan mengajaknya bicara. Dengan segala kecerdikan Luhan, gadis itu selalu bisa lolos dari terkaman mangsanya untungnya.

Tatapan tajam pria itu yang selalu berusaha Luhan hindari.

Luhan adalah gadis yang tak pernah takut akan segalanya, tapi titik kelemahannya adalah keluarganya karena bagianya keluarga cukup sensitif dihidupnya. Ia sudah kehilangan orang tuanya, dan Luhan tak ingin orang terdekat yang disayanginya sakit karena dirinya.

Saat berada di meja makan untuk sarapan, Luhan sudah tiba seperti biasanya. Sebenarnya Zitao tak pernah memaksa Luhan untuk harus datang pagi, hanya saja Luhan selalu merasa hal tersebut adalah kewajibannya karena ia selalu mendapatkan gajinya dan tak ingin membuat Zitao kecewa.

Sehun yang menatap Luhan tajam saat gadis itu hanya menunduk tak berani menatap Sehun dengan berani seperti biasanya, dan Irene yang selalu menyaksikan kejadian itu beberapa hari ini, entah Luhan yang berusaha menghindari Sehun, atau pria itu yang berusaha mengajak Luhan berbicara dan tak dihiraukan membuat Irene cukup senang karena gadis itu menuruti kemauannya.

Berbeda dengan Irene, Zitao juga merasakan atmosfer yang tak diinginkannya saat melihat tatapan tajam yang dilayangkan adiknya untuk Luhan. Zitao merasa jika terjadi sesuatu karena beberapa hari ini adiknya selalu uring-uringan membuat Zitao cukup kewalahan menghadapi sikap adiknya.

Adik laki-lakinya itu akhirnya semalam menceritakan kejadian yang menbuatnya uring-uringan membuat Zitao paham dan berjanji pada Sehun untuk menanyakan hal itu pelan-pelan tapi bukan berarti Sehun harus memberikan tatapan tajam yang membuat Luhan tak nyaman itu.

"Makan makananmu yang benar Sehun, jangan menatap sesuatu dengan tatapan seperti itu." Peringat Zitao yang cukup membuat Luhan sedikit lega karena Sehun mengurangi tatapan tajam tersebut meskipun tatapannya masih tak bisa beralih dari gadis yang berada didepannya.

Setelah dengan mood buruk menyisakan makanannya, Sehun segera berdiri dan mengambil tasnya untuk berangkat kekantor meninggalkan semuanya yang hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan Sehun, kecuali Irene yang tersenyum bahagia dan segera berusaha mengejar siluet pria itu.

"Lu, bisa kau berikan kotak bekal ini pada Sehun diluar? Aku harus membantu halmeoni untuk masuk ke kamarnya." Ujar Zitao sengaja agar Sehun dan Luhan bisa berinteraksi sebelum adiknya berangkat ke kantor.

"Ta-tapi.. Baiklah eonni.." dengan ragu Luhan mengambil kotak itu dan segera berlari menuju teras sebelum Sehun berangkat.

Melihat Irene yang bersikap manja pada prianya membuat hati Luhan bergetar emosi tapi Luhan hanya berusaha menahan tangisannya agar tak dilihat oleh Sehun. Luhan menyaksikan semuanya!

Saat Irene dengan manja menggandengkan lengan mereka, bahkan dengan berani wanita itu mengecup bibir Sehun. Lagi.

Sebelumnya mereka berciuman dan Luhan melihatnya berbeda situasi dengan sekarang karena sekarang Luhan adalah kekasih Oh Sehun.

"Op..pa." ujar Luhan pelan dan menunduk merasa Sehun dan Irene mengurangi momen mereka dan melihat ke arah Luhan dengan berbeda tatapan. Satunya dengan tatapan tajamnnya dan satunya dengan tatapan mengejek yang cukup membuat sakit hati bagi gadis itu

"Zitao eonni membuatkan bekal untuk..mu. Selamat bekerja." Setelah meletakkan kotak itu ditangan Sehun, gadis itu segera berbalik dan lari masuk tanpa mendengarkan pria itu berbicara.

Tanpa sadar Luhan memilih untuk masuk ke dalam toilet umum yang berada didekat pintu utama rumah tersebut.

Luhan berusaha mengeluarkan tangisannya sebanyak-banyaknya dengan menahan suaranya agar tak ada yang mendengar. Luhan sangat mencintai Sehun, dan ini baru dirasakannya seumur hidup memiliki kekasih. Ternyata, rasanya begitu menyakitkan melihat kekasihnya berciuman dengan wanita lain yang bahkan lebih perfect darinya membuatnya merasa bodoh dan memalukan.

Setelah keluar dari kamar mandi, Zitao mencegah Luhan yang sepertinya hendak ke dapur untuk mengambil air itu.

"Lu.." merasa dipanggil, Luhan segera menoleh berusaha menunjukkan raut biasa padahal sebenarnya Luhan cukup terkejut karena ia sepertinya tak bisa menghindari Zitao kali ini.

"Ada apa eonni?" Zitao segera menghampirinya dan menghampiri Luhan dan memperhatikan gadis itu dengan seksama.

"Sudah diberikan bekalnya pada Sehun?" ujar Zitao berbasa-basi.

"Sudah eonni. Eonni sebentar ya, lulu haus ingin minum." Zitao sadar jika Luhan berusaha menghindarinya tapi Zitao hanya bisa mengangguk dan membiarkan Luhan pergi ke dapur.

Tak banyak kegiatan yang Luhan lakukan, gadis itu kadang merengek pada Zitao untuk meminta ikut supir dan menjemput Zifan, lalu menidurkan anak itu karena memang waktunya tidur siang untuk anak itu, atau kadang dengan sergap Luhan akan membantu menjaga halmeoni dan meninggalkan Zitao sendiri yang masih termenung belum berhasil mengajak Luhan berbicara empat mata.

Hanya bisa menghela nafas, Zitao juga ikut masuk ke dalam kamar Oh halmeoni dan menyaksikan Luhan yang membantu halmeoni berbaring setelah berhasil meminum obatnya. Dapat Zitao lihat kasih sayang yang diberikan Luhan pada keluarganya membuat Zitao semakin sayang pada Luhan dan sudah menganggap Luhan adiknya sendiri.

Merasa tak ingin menganggu halmeoni, Zitao segera keluar dan menunggu Luhan untuk juga pergi meninggalkan kamar halmeoni.

"Kau tak bisa selalu menghindari eonni lagi, lulu sayang." Ujar Zitao yang berdiri dekat pintu kamar halmeoni seperti menunggu seseorang.

"Eo-eonni.." Zitao mengangguk dan mengisyaratkan Luhan untuk mengikutinya masuk ke dalam kamar wanita itu.

Berakhir hanya mereka berdua dengan kamar tertutup rapat, Zitao mengajak Luhan untuk duduk di sofa yang berada di dalam kamarnya. Menatap gadis itu serius membuat yang ditatap tak berani menatap balik malah menunduk dalam.

"Ada apa kau dengan Sehun, hm? Eonni tak ingin ikut campur mengenai hubunganmu dengan Sehun, Lu. Sehun sudah banyak bercerita pada eonni mengenai hubungan kalian dan eonni sangat berterima kasih padamu sayang, berkatmu akhirnya Sehun eonni kembali seperti dulu, mulai banyak bicara dan terbuka pada eonni." Zitao menarik nafas sebentar dan kini mengambil duduk di sebelah Luhan yang masih menunduk sampai merasakan tangan halus wanita itu yang berada di kepalanya membuat Luhan kali ini berani mengangkat kepalanya.

"Eonni tak ingin tau appa masalah kalian, hanya saja selesaikan dengan baik-baik dan hidup bahagialah kalian berdua. Eonni sangat menyayangi adik-adik eonni." Zitao segera memeluk Luhan erat dan dibalas pelukan sayang oleh Luhan.

"Ya eonni.." Luhan mengangguk meskipun ia tak tau apa yang harus dilakukannya kedepan untuk menghadapi Sehun.

...

Masih sampai hari ini hubungan Sehun dan Luhan tak berjalan mulus, Sehun yang selalu berusaha untuk menghubungi Luhan sampai saat ini tak ada balasan yang diberikan gadis itu. Ia masih terlalu bimbang dengan apa yang harus dilakukannya.

Sampai akhirnya Luhan bertekat untuk memperbaiki hubungan mereka. Luhan sudah menceritakan semuanya pada Kyungsoo, bahkan wanita itu selalu men-support apa yang Luhan lakukan. Kyungsoo selalu mengatakan jangan pikirkan orang lain, dan selalu pikirkan dirinya terlebih dahulu karena Kyungsoo tak ingin Luhan merasa terbebani dengan ancaman itu. Kyungsoo dan Ahn ahjumma bisa menjaga diri.

Pagi ini, Jongin yang sudah tiba dirumah mereka tetapi mengurungkan niatnya untuk menjemput Kyungsoo karena rupanya wanita itu sedang sakit dan Jongin memaksa wanitanya untuk istirahat total dan tak perlu bekerja.

Akibat Kyungsoo yang sakit dan mulai menunjukkan aksi manjanya membuat seisi rumah sedikit kelabakan. Kyungsoo memang jarang menunjukkan sisinya tersebut, hanya jika beberapa momen dan salah satunya saat Kyungsoo sedang sakit pasti akan bersifat manja.

Setelah selesai mengurus keinginan Kyungsoo, dan Jongin yang tak ingin sia-sia datang kesana membuatnya mengajak Luhan untuk ia antarkan ketempat kerjanya.

Sebenarnya Luhan sudah menolak, tapi Jongin yang tak ingin menerima penolakan dengan desakan Kyungsoo untuk mereka segera berangkat akhirnya menyetujui keinginan kekasih kakaknya.

"Lu..? Ini.. tempat kerjamu?" Tanya Jongin terkejut karena ini adalah rumah sahabatnya sendiri! Oh Sehun.

"Ya oppa. Oppa mengenal pemilik rumah? Ini rumah Zitao eonni dan Sehun oppa." Jongin segera menganggukan kepalanya membuat mereka sedikit berbincang sebentar sebelum Luhan keluar dari mobil tersebut.

Dari arah luar, pria yang sudah berniat untuk berangkat bekerja melihat sebuah mobil hitam berhenti didepan rumahnya saat Sehun mengeluarkan mobilnya dan melihat Luhan keluar dari mobil yang segera melaju saat Luhan melambaikan tangannya saat mobil itu mulai melaju meninggalkan gadis yang sekarang sedang tersenyum ceria.

Membuat Sehun ingin meledak rasanya karena pikiran negatifnya sudah mengarah kemanapun, sampai ia mencengkat erat setir mobilnya, dan berteriak.

"Xi Luhan!?" dengan lantang dan terdengar sangat marah.

.

.

.

TBC

Hii, akhirnya aku balik setelah berusaha ningkatin mood nulisku..

Kalian tau kan berita yg menimpa kita bulan oktober lalu. Masih tak inget sampai sekarang.. bulan oktober itu bulan dimana rasanya sakit kehilangan member kedua yg left dari exo. Xi luhan. 2014. Bulan oktober itu juga bulan dimana lu confirmed dating with gentong pls aku gamau nyebut siapa nama wanita itu. Kalian tau rasanya bulan oktober itu bulan tersial buatku, maaf yang kelahiran oktober tapi jujur rasanya bulan oktober itu bulan yang paling pengen tak lewatin, kalo perlu gaada bulan oktober biar aku ga inget itu semua.

Aku jujur down banget se down-downnya orang putus cinta meskipun semua delusi gaada yang tau. Hunhan yang tak suka dari jaman mereka debut masih pake style cute, culun, yang mana pas mereka debut kena hate sana sini, mereka yang awalnya ber12 harus kehilangan tiga member itu jujur buatku sakit banget wkwk. Udah gabisa nangis inget itu semua. Bahkan sampe sekarang meskipun delusi tapi aku berusaha buat support hunhan no matter what. Terserah kalian hunhan shipper yang ninggalin hunhan karena confirm dating itu, ntah kenapa itu semua settingan wkwkwkwkw. Jahat ya aku..

Coba flashback ke elyxion kemaren.. kalo kalian perhatiin hari pertama elyxion sehun buka baju hari jumat, yang mana time for bunda to update selcanya tapi ga update.. macem lagi marah sama ayah soalnya buka bajunyaa :)))). Flashback lagi ke pas bunda confirm, tgl 8 oktober ayah update makan bareng cimol aka kyungsoo, dimasakin cimol dan menurutku matanya bengkak. Terserahnya bilang aku delusi.. itu semua sesuai dengan delusiku.. jadi aku bakalan tetep stay buat hunhan apapun yang terjadii.

Btw ada yang masih nunggu nih story gaa? Wkwk, sorry buat yang nunggu tapi ningkatin mood buat nulis itu susah yaa, alhamdulillah chapter ini bisa kelar, semoga sukaa. Yang ga nunggu yaudah deh gapapa semoga bisa ngehiburr. Aku ultah lo 2 hari lalu ucapin dongg :))v.

Udah ah, cuap2ku kepanjangan, jangan lupa review, follow, fav. Yang udah thankyouuu yaak. See you next chapter, byee~

Regards,

Seluhaenbiased.