Now, You Know Me
Cast :
Oh Sehun ( 25 Tahun )
Xi Luhan ( 21 Tahun )
Kim Jongin ( 25 Tahun )
Do Kyungsoo ( 23 Tahun )
Wu Yifan ( 29 Tahun )
Wu Zitao ( 28 Tahun )
And others
.
.
WARNING : This is GS ( GenderSwitch )
TYPO, EYD, DLDR!
RATED : T - M.
.
Summary :
Luhan gadis biasa yang memiliki sifat ceria dan ceroboh harus berhubungan dengan laki-laki kaku nan dingin yang tak mempercayai akan cinta itu ada. Laki-laki dengan usia muda yang mampu meraih kesuksesan dengan kerja kerasnya sendiri bernama Sehun tak mengenal akan kebaikan seseorang secara cuma-cuma, menganggap semua orang sama buruknya, dan hanya menatap derajat dan seberapa kaya orang itu.
.
.
Chapter 12: Happiness
Happy Reading ^^
.
.
"Bae Joohyun, ayo bicara!" terdengar suara dari balik pintu Irene saat ia berada dikamarnya dengan menyentuh tablet pc miliknya segera mengangkat kepalanya saat mendengar suara Sehun membuat Irene tersenyum senang.
"wae Sehunnie? Kau merindukanku?" ujar Irene mengikuti langkah Sehun menuju halaman rumah tempat Sehun jika membutuhkan udara segar, bahkan saat bercerita pada Zitao juga berada di tempat tersebut. Salah satu tempat favorite-nya saat berada dirumah.
Sehun menghela nafas sebentar, terlihat gurat lelahnya membuat Irene cukup khawatir hingga dengan berani Irene menyentuh dahi yang mengkerut lelah, tetapi hanya beberapa detik saja langsung ditepis oleh sang empu.
"Ku mohon stop Bae Joohyun." Jika sudah menyebut nama lengkapnya, tandanya Sehun tak ingin dibantah.
"Apa maksudmu dengan stop? Kau kekasihku Oh Sehun! Salah kah aku mengkhawatirkanmu?!" ujar Irene sedikit berteriak.
"Baiklah, ayo bicarakan baik-baik. Kau yang membuat Luhan menjauhiku kan?" tanya Sehun tanpa basa-basi.
"Xi Luhan? Memang apa yang bisa ku perbuat?" suara Irene kali ini terdengar misterius.
"Tak usah berbohong! Aku sudah hafal dengan kelakuanmu." Sehun yang masih menunjukkan raut datarnya, sudah cukup muak dengan semua ini.
"Aku tak melakukan apapun! Kenapa kau tak percaya?!" mendengar penuturan Irene membuat Sehun memutar bola matanya malas tak ingin menatap wanita didepannya.
"Baik jika itu pengakuanmu. Maka aku katakan padamu bahwa aku mencintai Xi Luhan, maafkan aku jika dari dulu sampai sekarang aku tak pernah menganggapmu kekasihku, jadi ku mohon jauhi aku karena aku tak mencintaimu Irene-ah." Sehun menghela nafas pelan berusaha menyabarkan nada bicaranya agar tak membuat pihak manapun sakit hati, meskipun nyatanya Irene cukup sakit hati sekarang.
"Tolong jangan ganggu Luhan. Kau memiliki masalah denganku, mari selesaikan denganku. Jadi jangan libatkan Luhan dalam hal ini."
Sehun sudah cukup hafal dengan tabiat Irene. Sejak Kim Jongin mengenalkan Irene padanya saat itu, tak pernah lelah Irene mengejarnya. Bahkan saat dikampus dulu ketika dengan berani banyak wanita menampakkan mata genit pada Sehun, Irene dengan berang menunjukkan wajah marahnya pada wanita-wanita itu.
Bahkan ketika ada wanita berani dengan mengecup pipi Sehun saat mereka ada di bar dengan Sehun yang diapit oleh dua wanita, tak anyal Irene dengan wajah menantangnya menjambak rambut wanita yang mengecup pipi Sehun sampai wanita yang melihat Irene ketika sedang berdua dengan Sehun mulai berkurang menunjukkan atensitasnya menggoda Sehun yang bahkan sebenarnya pria itu tak pernah tertarik sama sekali.
Irene akan dengan segala pemikirannya, dan strateginya untuk membuat Sehun menjadi miliknya bisa dibilang masuk dalam kategori mengerikan, bahkan ia dengan berani meneror salah satu wanita saat beberapa kali menghubungi Sehun, hingga tak ada wanita yang mau menghubungi Sehun lagi. Dan pria itu masih sangat ingat hingga sekarang kejadian masa lalu, dan ia tak ingin hal tersebut terjadi pada gadis yang di cintainya.
Mereka yang masih diam tak ada yang menanggapi atau memulai percakapan setelah terakhir Sehun mengeluarkan suaranya. Hanya diam dengan pemikirannya masing-masing. Sampai akhirnya Sehun lebih dahulu berdiri dan berusaha meninggalkan wanita yang masih termenung sendiri ini.
"Kau anggap hubungan kita apa Oh Sehun?" Irene yang masih dengan pandangan kosongnya tak melihat ke arah Sehun yang kali ini diam dan berbalik melihat ke arah Irene.
Merasa tak mendengar jawaban Sehun, Irene melanjutkan kalimatnya, "Kau anggap hubungan kita lelucon? Aku bahkan memberikan semuanya padamu, kita sudah berbagi segala hal, kau.. bahkan.. dulu." Suara Irene serasa tercakat susah untuk dikeluarkan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Apa.. apa aku hanya pelacurmu yang bisa kau gunakan dan kau buang sekarang ketika kau menemukan wanita yang baru lagi? Aku mencintaimu Oh Sehun.. bahkan dengan sabar aku saat kau tak menganggapku ada tapi aku selalu berusaha untuk dekat denganmu.. apakah hubungan kita sebatas one night stand saja? Kita sudah melakukannya beberapa kali saat di London.. K-kau menyalurkan hasratmu padaku.. Apa aku seperti barang rongsokan sekarang?"
Irene mulai terengah mengeluarkan isi hatinya dengan menangis dihadapan pria ini. Ia tak perduli jika Sehun menganggapnya rendah, ia hanya ingin mengeluarkan isi hatinya yang sudah ia simpan begitu dalam sedalam cintanya pada Sehun.
"Irene-ah.. Maafkan aku.. Sungguh aku tak bermaksud menganggapmu seperti itu. Semuanya terjadi begitu saja tanpa ada perasaan cinta dihatiku.. dan untuk masalah itu, aku minta maaf. Banyak diluar sana pria yang begitu menginginkanmu.. jangan kau buang waktumu untuk mengejarku yang bahkan tak bisa melihatmu." Sehun berusaha memberikan pengertian.
"Kenapa tak kau katakan dari dulu?! Bahkan saat kita sudah berbagi sejauh itu dan kau mencampakkanku dengan seenakmu?!" emosi Irene mulai tak stabil membuat wanita itu merasakan pening dikepalanya.
"Aku sudah mengatakannya dari dulu padamu tapi kau menulikan pendengaranmu padaku! Kau yang selalu menghubungiku tanpa tau waktu terus maumu aku harus bagaimana?! Kau menggodaku dan akhirnya kita melakukan semuanya!" Sehun yang ikut terbawa emosi lalu segera menarik rambutnya pusing bagaimana harus menjelaskan pada Irene.
"Semua itu salahku?! Baiklah jika itu maumu! Kita sudah sejauh ini! Kau sudah mengambil semuanya milikku. Jika aku tak bisa memilikimu maka Luhanpun tak bisa!" Irene segera masuk ke dalam dan membereskan barang-barangnya untuk pindah dari rumah itu.
Sebenarnya Irene memiliki tempat tinggalnya sendiri, tetapi demi Sehun ia rela mengemis untuk bisa tinggal dirumah itu agar selalu bersama Sehun, meskipun keluarga prianya membencinya ia sekuat tenaga bertahan demi Sehun, dan ini keinginan Sehun membuat Irene semakin membenci Luhan.
Disisi lain Sehun yang masih menarik rambutnya kesal, dan bertekat besok harus berbaikan dengan Luhan. Ia akan menjaga Luhan bagaimanapun juga, karena Sehun sudah merasa tak enak dengan kata-kata yang diucapkan Irene tadi.
.
.
Sehun bangun pagi berniat mengunjungi rumah Xi Luhan dan membicarakan semuanya, sehingga dengan sigap pria itu segera turun dari kasurnya dan membersihkan diri. Biasanya jam segini ia masih bergemul didalam selimutnya karena Sehun yang termasuk gila kerja dan membutuhkan tidur kualitas sebelum memulai harinya toh masuk kantor tak sepagi masuk sekolah. Hanya demi kekasihnya, Xi Luhan.
Terlihat Zitao, Yifan, Zifan, Oh halmeoni yang sedang menikmati sarapan bingung melihat Sehun yang turun dengan tergesa-gesa.
"Ada apa denganmu Sehun?" tanya Yifan heran melihat gelagat adik iparnya.
"Aku ingin menemui Luhan sekarang dan menyelesaikan masalahku."
"Ada apa dengan Lu noona, samchon?" kini giliran Zifan yang mengeluarkan suaranya.
"Samchon ingin ke rumah Lu noona, Zifan yang pintar ya sekolahnya." Dijawab anggukan oleh anak itu.
"Tapi tidak dengan langsung pergi begitu. Makan dulu!" intrupsi Zitao saat Sehun hendak pergi meninggalkan rumah.
"Aku akan makan di kantor noona."
Dasarnya Zitao yang keras kepala dan tidak pernah mau dibantah, "Aniya! Duduk di kursimu Oh Sehun dan makan sarapanmu. Aku tak membiarkanmu berangkat dengan perut kosong!"
Dan sehun hanya bisa menghel nafasnya segera duduk di kursinya untuk menikmati sarapannya.
Tak ada yang menanyakan keberadaan Irene. Bahkan sebenarnya semalam Oh halmeoni, Zitao, mendengar dan menyaksikan adegan pertengkara Sehun dan Irene, bahkan Yifan yang baru pulang dari rumah sakit melihat istrinya berlari dan mendengar teriakan dari teras belakang membuatnya ikut berlari mengikuti langkah istrinya.
Semuanya menyaksikan kejadian tersebut, kadang Zitao dan Oh halmeoni merasa iba dengan Irene, tapi mau bagaimana lagi jika mereka juga tak menginginkan Irene menjadi pendamping hidup Sehun, bahkan yang membuat mereka tercengang ketika Irene mengatakan mereka beberapa kali melakukan hubungan badan saat di Londong, tetapi yang menyaksikan tersebut hanya bisa menahan nafas dan bersembunyi saat melihat Irene pergi meninggalkan teras.
Semuanya tau jika Irene meninggalkan rumah kediaman keluarga Oh tetapi semuanya diam dan tak ada yang ingin membahas hal tersebut, kecuali Zifan yang tak memperdulikan hal itu bahkan ia masih terlalu kecil untuk paham masalah orang dewasa.
Sehun selesai dengan sarapan terlebih dahulu dan segera pergi meninggalkan rumah, "Aku berangkat!". Belum sempat semuanya menjawab, Sehun sudah berangkat.Pria itu segera masuk ke dalam mobil dan mengeluarkan mobilnya dari parkiran halaman hingga ke depan gerbang ia melihat Xi Luhan turun dari mobil membuat Sehun mengkerutkan dahinya penasaran.
Seperti lelaki yang mengemudi membuat Sehun mulai berpikiran negatif, sampai akhirnya pria itu belum selesaia mengeluarkan mobilnya sudah turun dan memanggil nama gadisnya.
"Xi Luhan!?" dengan lantang dan terdengar sangat marah, ia segera berjalan menuju Luhan yang menunjukkan raut bingung.
"Kau akan berangkat? Kenapa pagi sekali tak seperti biasanya." Ujar Luhan dengan wajah menggemaskan tapi Sehun segera menarik pergelangan tangannya dan masuk ke dalam rumah hanya sampai depan rumah saja sebenarnya.
"Ya! Kau mau apa Oh Sehun!" Luhan yang masih berusaha melepaskan genggaman Sehun dari lengannya.
"Noona! Aku pinjam Luhan hari ini karena ia tak akan bekerja hari ini!" teriak Sehun dengan lantang membuat seisi rumah cukup terkejut.
"Apa maksudmu Oh Sehun?! Yaaak lepaskaan!" teriak Luhan untuk Sehun saat pria itu kembali menyeretnya, tentu menyeret bukan dengan hal yang negatif, hanya saja untuk membuat Luhan mengikuti langkah pria itu.
"Oh Sehun! Kau mau apakan Luhan?! Yaaak tunggu!" Zitao yang berusaha mengejar mobil Sehun yang sudah melaju meninggalkan rumah mereka membuat wanita itu hanya menggeleng dan berdoa tak terjadi apapun pada adiknya dan calok adik iparnya.
Bangunan ini lagi, tak pernah bosan Sehun membawa gadisnya menuju bangunan ini. Tentu saja apartemen milik Sehun. Luhan segera turun dari mobil kekasihnya setelah Sehun berhasil memarkirkan mobil tersebut dan masuk ke dalam gedung dengan di susul Sehun dibelakangnya.
Kali ini Luhan sudah bertekat tak akan menghindar lagi.
Gadis itu tentu tau password apartemen Sehun, bahkan Sehun sendiri yang meminta password apartemennya diubah menjadi tanggal lahir Luhan. Hanya mereka berdua yang tau, tak ada yang lain. Luhan lebih dulu masuk sampai keruang tengah dan berbalik berniat menghadap Sehun. Tetapi di luar dugaannya, Sehun langsung menyambar bibirnya sehingga bibir mereka kembali bertemu membuat Luhan terkejut dan melangkah mundur dengan Sehun yang menggiringnya untuk mereka duduk di sofa.
Sehun mulai dengan asik melumat pelan bibir Luhan, sedangkan sang gadis yang pasif itu berusaha untuk membalas meskipun kenyataannya prianya lah yang mendominasi ciuman mereka. Merasa terlalu asik dengan bibir gadisnya dan tak memperdulikan gadisnya yang masih awam akan hal begini mulai merasakan kehabisan nafas hingga ia berusaha memukul dada prianya sampai dengan berat hati ciuman itu terlepas.
Tak ingin mengakhirinya, Sehun melihat leher gadisnya sebagai sasarannya, sedangkan Luhan yang masih berusaha menarik nafas sebanyak-banyaknya sekarang kaku saat Sehun menerjang lehernya. Sehun mulai mengecup pelan dari pipi dan semakin turun hingga Luhan sebenarnya merasakan kegelian tapi juga nikmat.
"Ngh.. op-oppah.." Sehun menggeram mendengar desah Luhan, dan gadis itu yang merasa akal sehatnya mulai hilang entah kemana.
"Oppahh.. jangan beginihh." Merasa Sehun mulai nggelitiki dadanya, ketika pria itu dengan berani membuka kancing kemejanya.
Luhan menggunakan kemeja tipis berwarna kuning cerah dengan hotpants jeans yang terlihat cocok untuknya. Kancing hampir semua terbuka hingga menampilkan bra berwarna hitam dengan kulit mulus Luhan yang sangat menggoda.
Mereka sama-sama sudah kehilangan akal sehat. Dengan kabut nafsu berada disekitar mereka.
Kini Luhan berbaring dibawah kukungan Sehun yang menggagahinya dan masih mencumbu sekitar dada gadisnya, memberikan tanda kepemilikan di sekitar dada yang terbuka, sedangkan bra masih terpasang, dan Sehun berusaha untuk melepaskan kemeja serta penghalang kenikmatannya itu.
Terlihat jelas payudara Luhan yang menggoda dengan kedua tangan gadisnya yang ia letakkan diatas kepala sang gadis dan ia pegangi kali ini. Tangannya yang lain dengan berani pula meremas payudara yang lainnya saat Sehun sedang asik dengan payudara pink Luhan yang sedang ia kulum.
"Oppaah.. ahh." Desah Luhan merasakan sensasi yang luar biasa nikmat.
Setelah bergantian merasakan payudara gadisnya, Sehun semakin turun mengecup perut datar Luhan, hingga sampai titik puncak.
"Nghh."
Dengan cepat pria itu melepas celana dan menyisakan celana dalam renda berwarna hitam yang senada dengan bra yang sudah Sehun tanggalkan. Merasakan tak ada pergerakan dari Sehun, Luhan yang sedari tadi menutup matanya kini membukanya untuk melihat Sehun dan benar dugaannya, Sehun sedang memperhatikannya begitu sampai rona di pipi Luhan muncul dan membuat Sehun semakin gemas.
Luhan yang berusaha menutupi bagian atas tubuhnya yang Sehun rasakan tadi,
"Kenapa ditutup?" ini merupakan pengalaman pertama bagi Xi Luhan dan gadis itu merasakan jantungnya yang berdebar begitu cepat mendengar suara berat kekasihnya.
"Ke- kenapa juga oppa menatapnya seperti itu?" berusaha menetralkan detak jantung membuat Luhan terlihat begitu gugup.
"Memang salah aku menatap kekasihku sendiri?"
"Tapi tatapan oppa itu begitu mesum dan serasa ingin mengulitiku hidup-hidup." Ujar Luhan tak ingin kalah.
"Jangan ditutup, kau begitu indah dan aku semakin mencintaimu." Ujar Sehun gemas dan kembali mencium bibir Luhan.
"Jadi oppa mencintaiku hanya karena tubuhku indah?"
"Itu salah satu poin plus, sayang." Mendengar jawaban Sehun membuat Luhan mengerutkan bibirnya sebal dan terlihat begitu menggemaskan. Luhan tak ingin melanjutkan topik mereka tetapi tiba-tiba merasa penghalang bagian bawah terakhirnya melayang begitu saja membuat Luhan cukup terkejut.
"Op-oppa.." reflek Luhan menutup bagian bawahnya dengan kaki yang semakin terlihat menggoda dimata Sehun.
Luhan begitu malu, ia sudah tak menggunakan apapun sedangkan Sehun masih berbusana lengkap. Dan ingat, ini pertama kalinya bagi Luhan.
Kini Sehun berusaha membuka lebar kaki Luhan, dan tersaji didepan matanya surga pria yang diberikan wanitanya. Pria itu mulai mengecupi paha gadisnya dan semakin jauh, semakin dalam sampai Sehun melihat lubang yang begitu menggairahkan.
"Enghh.. Sehunniee." Jerit Luhan saat Sehun mulai mencumbui bahkan melumat luar vagina gadisnya.
Begitu asik, sedangkan Luhan yang tak tau harus berpegangan pada apa kini hanya menarik rambut kekasihnya yang merasa tak terganggu dengan apa yang Luhan lakukan.
"Sehunnh." Desahan Luhan semakin membuat nafsu Sehun semakin naik hingga Sehun melepaskan kulumannya berniat mencium bibir gadisnya dan berusaha melepas pakaiannya.
Mereka berciuman sangat mesra sampai Sehun kembali menjajah leher kekasihnya dan akhirnya menyadari sebuah rantai menggantung di leher gadisnya.
Sehun menarik pelan rantai yang menggantung dan menemukan sebuah liontin. Merasa Sehun berhenti, akhirnya Luhan memperhatikan prianya yang sedang memegang liontin orang tuanya dan Luhan tersenyum manis.
"Itu baba dan mama." Ujar Luhan saat Sehun membuka liontin tersebut dan melihat ada foto dua orang yang terlihat sedikit usang tapi masih nampak wajahnya. Terlihat seorang pria dengan wajah gagah dan rupawan sedangkan satunya wanita yang begitu cantik dan anggun meskipun itu foto lama.
"Maaf.. maafkan aku sayang.." membuat Luhan bingung tapi gadis itu diam berusaha mendengarkan penjelasan kekasihnya.
"Aku tak akan merusakmu, apalagi didepan orang tuamu.. Maafkan aku yang tadi langsung menyerang Luhan.. abeonim.. eomonim.. maafkan aku." Ujar Sehun menatap liontin yang dipegangnya membuat Luhan tersenyum haru.
Sehun segera berdiri dan segera mengambil pakaian yang ia lempar dari sang pemilik dan berusaha memasangkan semuanya dengan cermat. Sehun hanya ingin menjadi pria sopan yang menghargai wanitanya apalagi ia tak ingin merusak kekasihnya didepan orang tua sang kekasih.
Setelah selesai, pria itu segera duduk dan selalu memeluk gadisnya erat membuat Luhan tersenyum begitu bahagia.
Tanpa sadar, ponsel Sehun bergetar tetapi masih tak digubris sang pemilik.
Kim Jongin: Kau mengenal Luhan, adik Kyungsoo?
...
Kali ini mereka sudah berpindah ke dalam kamar milik Oh Sehun dan bergemul berdua didalam selimut nyaman dengan Luhan yang berada didalam pelukan Sehun.
"Jadi tadi mobil Kim Jongin?"
"Ya.. Jongin oppa melihat keadaan Kyungsoo eonni yang sedang sakit sekalian berangkat kekantor tetapi mengantarku terlebih dahulu."
"Jadi dia selangkah lebih maju karena sudah bertemu denganmu dan bibimu?"
"Jongin oppa bahkan sudah melamar Kyungsoo eonni, oppa." Ucap Luhan bersemangat.
"Dan sepertinya aku juga harus segera bertemu dengan kakak dan bibimu."
"Untuk apa?" tanya Luhan.
"Kau tak ingin aku dekat dengan keluargamu?" tanya Sehun sewot, sebal mendengar pertanyaan Luhan.
"Kenapa oppa bertanya dengan nada sewot seperti itu?" tanya Luhan ikut sebal mendengar intonasi yang Sehun berikan.
"Karena pertanyaanmu seakan aku tak usah mengenal keluargamu, sayang." Tak pernah merasa bosan untuk gemas pada gadisnya, Sehun berusaha menggigit hidung Luhan. Tentu saja hanya bercanda dan dibalas pukulan didadanya.
Luhan segera bangun dari posisinya berusaha meninggalkan pria yang tadi memeluknya dan kini menghalanginya untuk berdiri, membuatnya berada diatas dada prianya. Cukup nyaman.
"Kau belum menjelaskan padaku kenapa kau mengindariku sayang, jangan menghindar." Ujar Sehun mata tajam tapi tetap dengan suara lembut.
"Oppa tak lupakan kalau oppa harus ke kantor? Sana berangkat."
"Jangan mengalihkan topik pembicaraan, hari ini aku cuti hanya untuk berduaan denganmu. Dan kau juga cuti tak mengurus Zifan hari ini." Perintah Sehun.
"Mwo?! Jangan seenaknya! Aku tak mau menerima gaji buta. Cepat antarkan aku kembali kerumahmu."
"Xi Luhan." Tatapan tak ingin dibantah Sehun membuat nyali Luhan menciut.
"Baiklah kita tak akan kemanapun. Puas?" kembali hendak berdiri tapi pinggangnya sudah lebih dulu Sehun peluk erat hingga Luhan tak bisa berkutik.
"Jangan menghindar lagi dan jelaskan semuanya!"
Dan akhirnya Luhan menghirup nafas sebanyak mungkin untuk memilih menceritakan semuanya, mulai dari Irene yang mengancamnya sampai ia bercerita pada Kyungsoo dan wanita itu meyakinkannya untuk mengikuti hatinya dan tak perlu memperdulikan ia dan Ahn ahnjumma. Tak ada yang ia kurangi dan lebihi.
Luhan menjelaskan jika ia tak ingin lagi kehilangan orang yang disayangnya, cukup orang tuanya saja. Ia tak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan pada Kyungsoo dan Ahn ahjumma yang sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri.
Membuat Sehun merasa bersalah dan terus mengucapkan maaf berkali-kali pada gadisnya karena sudah membuat takut dengan bayangan negatif yang dipikirkannya.
Setelah mereka berbaikan tak sedetikpun Sehun melepaskan Luhan, bahkan hanya untuk ke dapurpun susah. Tak tau mengapa Sehun berubah menjadi hello kitty saat Luhan masuk kedalam hidupnya.
"Oh Sehun jangan begini!" protes Luhan yang sedang menyiapkan makan siang merasa terganggu pergerakannya karena Sehun memeluknya dari belakang.
Dan selalu "Wae? Aku hanya sangat merindukan kekasihku." Itu yang menjadi jawabannya saat Luhan merasa risih pria itu selalu mengikutinya.
Dengan segala macam perdebatan, akhirnya Sehun memilih mengalah dan menjatuhkan tubuhnya pada sofa yang tadi ia gunakan untuk menyentuh tubuh kekasihnya tadi.
Seharian mereka gunakan untuk saling mengejek, berdebat tapi juga saling menggoda. Ketika Sehun yang duduk di sofa dan berusaha memanggil Luhan untuk ikut duduk di sofa itu dan kembali mengingatkan apa yang mereka lakukan tadi membuat rona pink di wajah Luhan yang terlihat sangat malu.
"A-aku akan m-mandi!" Luhan segera berdiri dan berjalan menuju kamar Sehun, karena ia paling tak suka jika memakai pakaian di dalam kamar mandi, jadi gadis itu memilih mandi menggunakan kamar mandi kamar Sehun bukan kamar mandi luar.
Sebelum masuk kamar, Luhan segera berbalik menghadap Sehun yang asyik menonton tayangan televisi.
"Jangan masuk ke dalam kamar!" ujar Luhan memperingati.
"Wae? Kau malu jika aku melihat tubuhmu? Bahkan tadi aku sudah melihat semuanya tadi kenapa harus malu? Ingin mandi bersama?"
"Oh Sehun! Ish." Luhan segera masuk dan sedikit membanting pintu membuat Sehun tertawa terbahak-bahak merasa dari tadi berhasil menggoda kekasihnya.
Tapi memang dasarnya Luhan saja yang ceroboh lupa untuk mengunci pintu kamar sehingga dengan mudah Sehun berbaring diatas kasur empuknya sampai gadisnya keluar dengan menggunakan bathrobe dan pakaian yang ia pakai berada ditangannya terkejut sampai pakaian tersebut jatuh berserakan, bahkan Luhan juga belum menggunakan dalamannya.
"Oppa! Keluar sekarang jugaaa!" Luhan segara meraih pakaiannya termasuk pakaian dalamnya yang membuat Luhan malu ketika Sehun memperhatikan bra dan celana dalamnya.
Luhan memperhatikan arah pandang Sehun dan segera menutup dadanya meskipun ia masih menggunakan bathrobe, "Mesum!"
Gadis itu segera menghampiri kekasihnya dan memukul serta menarik kekasihnya untuk keluar dari kamar.
"Mati kau Oh Sehun! Keluar sekarang juga tidak?!" Masih dalam mode memukul Sehun yang kesakitan.
"Iya iya aku keluar. Tapi sepertinya kau akan terlihat sexy jika menggunakan bikini. Tak mau mencoba?" goda Sehun dan mendapat pelototan tajam tapi terlihat imut sampai akhirnya gadisnya berhasil mendorongnya keluar dari kamar dan membanting pintu keras, bahkan akhirnya Luhan mengunci pintu kamar Sehun.
"Aku bisa membelikanmu selusin bikini jika kau mau." Teriak Sehun dari luar kamar dan tentu saja didengar gadisnya yang menggeram marah.
"Dan aku akan menendangmu jika kau berani macam-macam denganku, mati saja Oh Sehun! Aishh." jawab teriak Luhan.
"Aw menakutkan." Ujar Sehun yang tertawa keras hingga dapat didengar Luhan yang menggerutu dari dalam.
.
.
FLASHBACK
"Kau sudah mendengar jika Kyungsoo terlihat pergi bersama Jongin sajangnim?"
"Jinjja? Kapan? Aku penasaran apa yang digunakan wanita itu agar bisa membuat Jongin sajangnim tertarik.. ah atau jangan-jangan dia.. sstt, wanita itu lewat ayo segera kembali ke meja."
FLASHBACK OFF
Hal itu penyebab Kyungsoo berbaring dikasur empuk miliknya, ia terlalu memikirkan kejadian dikantor yang sudah ia antisipasi sebelumnya. Alasan mengapa ia menolak Jongin menjemputnya untuk berangkat ke kantor bersama, pulang juga bersama.
Semua pandangan yang diberikan untuknya membuatnya cukup stres akhir-akhir ini. Untung saja Sooyoung yang memahami keadaannya dan tak memberikan tatapan yang dilayangkan pegawai lain terutama pegawai lajang yang merupakan fans dari Jongin. Siapa yang tak tertarik dengan Kim Jongin? Memiliki perusahaan dibidang tekstil dengan cabang berada dimanapun, memiliki visual yang membuat wanita tergila-gila, bahkan pesona yang tak diragukan lagi.
Ia sudah menceritakan tentang hubungannya dengan Jongin kepada Sooyoung sejak kejadian tersebut, untungnya Sooyoung adalah sahabat yang bisa menjaga rahasianya dan bisa diandalkan. Bahkan Sooyoung selalu mendukungnya dan membuatnya berusaha melupakan kejadian tersebut. Dan tak pernah sekalipun Kyungsoo mengadukan hal ini pada Jongin.
Kekasihnya selalu menanyakan padanya alasan Kyungsoo murung akhir-akhir ini dan Kyungsoo menggeleng tak ingin membahasnya hanya membuat Jongin menghela nafas dan berusaha melupakannya, bahkan berusaha mengalihkan perhatian kekasihnya dari hal yang membuat wanitanya murung.
'Apa yang kau lakukan?'
'Sedang memikirkanmu. Aku merindukanmu :(' Kyungsoo yang sedang mejawab pesan kekasihnya sambil tertawa menggoda Jongin.
'Jangan membuatku menemuimu sekarang juga Kyung, cepat sembuh kita bisa berduaan dikantor.'
'Yak! Apa maksudmu berduaan dikantor? Kantor bukan tempat untuk bermesraan, Nini. Sudah ah, selamat bekerja! Fighting!^^'
'Baiklah, selamat bertemu nanti malam.'
Sudah Kyungsoo duga, pasti nanti malam Jongin akan mendatangi rumahnya hanya membuat wanita itu tersenyum senang. Ia sangat mencintai kekasihnya bagaimanapun keadaannya.
.
.
DRRT.. DRRT..
"Jadi kau tak takut dengan ancamanku?"
Luhan berada dikamarnya setelah seharian bersama Sehun berada di apartemen prianya berdua. Bahkan ia tanpa menghubungin Zitao jika ia tak mengerjakan tugasnya hari ini, wanita itu sudah menghubunginya terlebih dahulu melalui sebuah pesan, 'semoga lekas baikan calon adik ipar eonni tersayang.' Membuat Luhan malu setengah mati sekaligus bahagia akan doa yang diberikan eonni-nya itu.
Sebenarnya gadis itu sudah tiba dari tadi, hanya saja ia baru selesai membersihkan diri dan bersiap untuk tidur tapi sayangnya sebuah pesan cukup mengganggu pikirannya.
Itu pasti Irene, sudah bisa Luhan tebak.
Luhan sebenarnya mulai cemas, tapi ia hanya bisa berdoa karena ia percaya semua takdir Tuhan yang mengatur. Ia juga harus percaya apa yang prianya katakan untuk mengurus semuanya agar Irene tak mengganggu Luhan beserta keluarganya.
Jadi Luhan hanya segera menghapus pesan tersebut dan meletakkan ponselnya untuk segera pergi tidur, berharap selanjutnya menjadi hari yang indah.
...
Irene yang sudah stand by didepan gedung kumuh menurutnya, wanita itu tau jika Sehun sedang berduaan dengan Luhan. Bahkaan wanita itu sudah datang ke apartemen pria itu hanya saja Irene tak tau apa password apartemen tersebut sehingga membuat Irene segera melajukan mobilnya menuju rumah Luhan.
Irene tau semuanya tentang Sehun. Ia terlalu terobsesi pada pria itu, semua yang tak Sehun katakan, wanita itu sudah mengetahui hal tersebut. Hanya saja jika Irene tau password apartemen Sehun, ia akan mendobrak dan mengganggu kegiatan sepasang kekasih yang tengah mesra berduaan.
Sudah sejak sore, ia menunggu bahkan sampai malam tiba gadis itu tak segera menampakkan batang hidungnya. Irene berniat berbicara serius dengan Luhan sekarang tetapi sebuah mobil mengalihkan atensinya.
Itu mobil Sehun, ia sangat hafal dengan mobil sport milik Sehun. Sampai Irene melihat Sehun yang turun dari dalam mobil terlebih dahulu dengan sedikit berlari menuju pintu lainnya sampai Luhan keluar dari mobil pria itu. Sehun tak pernah memperlakukannya seperti itu dan cukup membuat Irene iri.
Irene juga melihat jelas saat Luhan masuk kedalam pelukan pria itu dengan manjanya, saat gadis itu mendongakkan kepalanya dan dibalas ciuman mesra dibibir membuat Irene mulai berkaca-kaca.
Begitu sakit hati rasanya melihat semua itu.
Sehun yang terlihat mesra dan sabar dihadapan Luhan, tak anyal membuat Irene mengepalkan genggaman erat pada setir mobil yang dikendarinya sekarang.
Irene menunggu momen untuk berbicara dengan Luhan saat mobil Sehun melaju terlebih dahaulu tapi sayangnya takdir tak berpihak padanya kali ini, ia melihat Sehun yang memaksa Luhan untuk masuk terlebih dahulu baru pria itu meninggalkan lokasi.
Semuanya sudah tak nampak dimata Irene, tapi wanita itu masih stay disana dan memutuskan mengetik sebuah pesan.
Merasa tak ada jawaban, wanita itu segera pergi melajukan mobilnya menuju tempat tinggalnya.
.
.
.
TBC
Holaa, i'm back. Ada yang kangen? Hehe
Maaf buat reader, updatenya lama karena... ningkatin mood nulis itu susah ya thankyou buat review semangatnya masalah Luhan kemaren.. gatau kenapa tapi down banget sama Luhan, jadi setiap ngetik "Luhan" imajinasi langsung ambyar wkwkw
Kalian ga lupa sama story ini kan huehehehe. Ku tunggu review, fav, follow juseyongg. See ya next chapter! Bye~
Regards,
Seluhaenbiased.
