.

.

.


Gwenchandamyeon keuraedo gwenchandamyeon...

Sewoon lagi nyanyi sambil mandi berendam air anget. Jaehwan dengerin dari depan pintu kamar mandi.

Lagu apa itu gatau Jaehwan, tapi lagu apa aja kalau Ponyo yang nyanyiin, bakal kedengeran merdu juga di telinganya.

Jadi nostalgia lagi kan Jaehwan, ke masa-masa indah dimana dulu dia rela tidur di emperan gedung demi nemenin Sewoon yang nyanyi di acara nikahan.

Waktu itu, baik Sewoon maupun Jaehwan sama sama sering nyambi nyanyi disana sini buat tambah tambah. Setelah nikah justru Sewoon dirumah terus, sedang Jaehwan banting setir jadi peternak lele.

Ceklek!

Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Ponyo dalam balutan bathrobe berwarna merah lis putih yang membuatnya semakin terlihat seperti Ponyo. Gemes kan Jaehwan jadinya.

"Bikin anak yuk, beb, Jae gemes nih ama Ponyo." Jaehwan langsung 'turn on' justru kalo pas liat Ponyo dalam keadaan lucu imut gemesin gini.

"Males ah," tolaknya sambil berlalu.

Yaaah... Bapak ditolak.


Hari Minggu pagi jam delapan lebih lima belas menit

Jaehwan dan Minhyun tengah duduk berhadapan dibatasi sebuah meja dimana diatasnya telah disajikan dua mangkuk soto ayam panas dan dua gelas teh manis hangat, dilengkapi dengan semangkuk sate telur puyuh dan perkedel kentang.

Minhyun ngajak bapak sarapan pagi bareng setelah gagal ngomong sama bapak lewat telepon dikarenakan henpon bapak yang rusak kecebur kolam lele. Mau ngomong di area rumah nggak enak, takut ada yang nguping, hehee...

"Mau ngomong apa, Kak?" tanya Jaehwan sembari menambahkan kecap manis pada nasi sotonya.

"Yang waktu itu, masih berlaku kan?"

"Apa ya?"

"Lamaran bapak waktu itu...," ucap Minhyun lirih, malu-malu dia.

"Oh..."

"Saya mau jawab sekarang."

Jaehwan nggak jawab, malah sibuk makan soto sama sate telur puyuh.

"Saya mau jadi istri keempat bapak, tapi..."

Bapak lanjut makan terus sambil pura-pura nggak denger.

"Kita tinggal di rumah sendiri ya... Maksudnya, nggak bareng ama tiga istri bapak yang lain. Gimana?"

"Eum..." Jaehwan bergumam sembari mengunyah nasi dan perkedel di dalam mulutnya.

Minhyun menunggu jawaban lelaki di hadapannya dengan gelisah.

Jaehwan menyelesaikan makannya terlebih dahulu, minum, membersihkan mulut dengan tisu, baru menjawab, "nggak bisa..."

Ingin mendesah kecewa dan menanyakan kenapa, tapi Minhyun sedang sibuk mengunyah dan tidak mau tersedak, apalagi sampai nyembur ke calon suaminya.

Selagi Minhyun menyelesaikan makannya, Jaehwan melanjutkan kalimatnya, "saya nggak mungkin ninggalin istri-istri saya..."

Suasana sempat hening selama beberapa menit hingga Minhyun menyelesaikan sarapannya, hanya terdengar suara kendaraan di jalan yang berlalu lalang dan suara derap langkah kaki beberapa orang di sekitar mereka.

"Apalagi saya kan sudah punya anak," sambung Jaehwan.

Minhyun mengangguk tanda mengerti.

"Soal kamar, sebenarnya mudah saja, bisa dibuat, bisa juga pindah rumah," ujar Jaehwan.

Minhyun sudah senang kalau aja dia nggak dengar kata 'sebenarnya' dalam kalimat Jaehwan barusan.

"Tapi?" tagih Minhyun ketika Jaehwan tak kunjung melanjutkan.

"Saya rasa tiga sudah lebih dari cukup. Bahkan seharusnya satu saja cukup. Apalagi saya sadar selama ini saya belum bisa adil sama istri-istri saya..."

Lah.

Kemarin ngebet mau jadiin Minhyun, sekarang...


.

.

.

tbc