17. bingung

Sosok tinggi Tsukimori yang berdiri di depan pagar rumahnya menyaksikan punggung rapuh Hino berjalan menjauh setelah menyerahkan bingkisan terima kasih untuknya. Pemuda itu membeku seperti udara malam itu, kehilangan kata-kata karena tak dapat meluruskan kesalahpahaman di antara mereka.

Tsukimori belum pernah menghadapi kerumitan ini: melatih seorang teman perempuan yang akan berkompetisi di hari yang sama dengan keberangkatannya belajar ke luar negeri.

Segalanya tentang dirinya dan Hino, ikatan biola dan musik yang menjalin keduanya; semuanya terasa baru, asing, menakutkan, dan membingungkan untuknya. Jika Hino adalah teman perempuannya yang biasa, ia akan dengan mudah mengabarkan segala hal tentang studi luar negerinya dan dirinya akan menerima segala ucapan selamat dan doa harapan baik dari teman perempuan tersebut dengan pikiran jernih.

Tetapi, Hino adalah tipe perempuan yang membuat pikiran Tsukimori menjadi keruh. Campur aduk antara pikiran dan hatinya sudah tak dapat terurai lagi. Ingin rasanya ia menyaksikan hasil pelatihannya dengan Hino berbuah manis pada kompetisi besok pagi, tetapi di saat yang bersamaan ia harus berangkat menjemput impian masa kecil yang sudah lama sekali dirinya dambakan.

Bukan hanya itu saja, Tsukimori juga menahan diri untuk tidak mengabarkan jadwal keberangkatannya ke Wina hingga detik terakhir karena ia tahu betapa mudahnya perhatian Hino teralihkan. Perempuan itu akan oleng fokusnya dan kemungkinan tersebut jelas membuat Tsukimori kesal setengah mati; ia tak ingin urusannya mengganggu acara pentingnya Hino.

Apa yang harus ia lakukan?

Kedua kakinya langsung berlari kecil, berusaha untuk menyusul Hino yang sudah tak terlihat di sepanjang cakrawala. Tsukimori hanya ingin meluruskan kerumitan yang dibangunnya sendiri: Ini salahku, aku harus meminta maaf dan mencoba menjaga situasi Hino tenang. Hino butuh istirahat yang cukup karena kompetisi besok akan sangat menegangkan untuk peserta perdana seperti dia…

Perjalanan larinya terasa begitu cepat, seakan semesta memberitahukan bahwa jarak rumahnya dan rumah Hino sedekat posisi perempuan itu di hatinya.

Namun, jarak keduanya tetaplah tak tergapai untuk Tsukimori.

Gerakannya terhenti ketika ia melihat Hino berhenti di pinggir jalan, sedang bercakap-cakap riang dengan sosok tak terduga pada malam dingin ini. Tsuchiura, lelaki itu, selalu hadir pada momen terpenting di hidup Tsukimori.

Sosok tinggi lelaki itu seperti selalu membayangi Hino dan mengingatkan Tsukimori tentang kelemahannya sendiri; bahwa Tsukimori selalu hadir untuk membingungkan Hino dan Tsuchiura selalu hadir untuk meredakan kebingungan Hino.

Bingkisan manis yang ada di genggaman Tsukimori dicengkramnya erat, entah mengapa menjadi terasa pahit di hati.

Mengapa Tsukimori begitu repot berlari menuruni jalanan dan bukit rumahnya hanya untuk mengklarifikasi sesuatu yang tidak penting? Sudah ada Tsuchiura yang tahu segala hal tentangnya dan bisa menjelaskan kerumitan situasi Tsukimori kepada Hino. Sudah ada Tsuchiura yang bisa menenangkan hati Hino yang terkejut atas situasi Tsukimori dan bisa memberikan penghiburan untuk perempuan itu.

Sudah ada Tsuchiura…

(Tsukimori berjalan gontai ke rumah dengan hati kalut dan kerumitan tanpa ujung.)