# My Fallen Angel

# Lu Han, Sehun

# Angst

# Drabble prompt : Sehun seorang malaikat Tuhan yang mencintai Lu Han dan rasa cinta itu harus membuat dia mengorbankan dirinya.

####

" Kau sangat cantik, Sehunna." Ucap Lu Han penuh dengan nada cinta. Tangannya mengelus sudut wajah Sehun yang dulunya berisi tetapi kini malah sudah tirus. Bahkan bibirnya yang memerah sudah berubah pucat. Kulitnya yang sememangnya pucat bertambah pucat, seolah setetes darah tidak ada di sana.

Meskipun begitu, bagi Lu Han, Sehun tetap yang terindah di matanya. Sehun tetap yang tercantik di mindanya. Hanya Sehun yang bisa membuat ia merasakan jatuh cinta setiap harinya. Hanya Sehun, sang malaikat nya.

Sosok indah itu tersenyum kecil. Kedua tangannya terletak di atas perutnya yang rata. Ia mencuba menggerakkan tangannya namun nihil. Ia sudah terlalu lemah.

Karna dia seorang malaikat yang sudah memutuskan untuk jatuh cinta kepada manusia. Seorang malaikat yang sudah jatuh cinta kepada manusia automatis sayap indahnya akan hilang. Dia persis seorang manusia setelah itu.

Tetapi...

Cukup tiga bulan, semuanya akan hilang. Sang malaikat akan hilang seperti cahaya putih di udara. Seperti pelangi yang ada setelah hujan berhenti. Sang malaikat akan kembali kepada Tuhan dan meninggalkan sosok manusia yang mereka cintai.

" Aku mencintaimu, Lu." Suara itu masih saja merdu di telinga Lu Han. Ia menggengam tangan halus itu lalu membawanya ke bibir, mengecupnya beberapa kali.

" Aku lebih mencintaimu, Malaikatku." Lu Han mengusap pelan cincin yang menghiasi jemari manis Sehun. Cincin yang sama dengannya.

Sehun tersenyum lemah. Ia cuba mengatur nafasnya. Dan rasanya sesak sekali melihat seseorang yang kau cintai berjuang dengan sendirinya.

Andai saja ia bisa mengambil sedikit kesakitan yang Sehun rasakan.

Andai saja ia bisa memikul rasa perit yang Sehun rasakan setiap kali dada itu naik turun dengan payahnya hanya untuk menghirup udara masuk ke jantungnya.

Andai saja ia bisa menghilangkan rasa pedih yang Sehun rasakan.

Andai saja ia bisa.

" Lu, setelah ini, kumohon lupakanlah aku."

Lu Han menggeleng laju. Tidak, bagaimana ia bisa melupakan seseorang yang bisa mencintai dia apa adanya ?

" Tidak. Kau tetap ada di hatiku, malaikat indahku. Mana mungkin aku bisa melupakan mu." Ia mengukir senyuman untuk melaikat indahnya itu. Mencoba kelihatan kuat.

Sehun tersenyum kecil. Ia berusaha menggerakkan tangannya meskipun ia bergetar tetapi dia berhasil meletak tapak tangannya di pipi Lu Han yang basah dek karna air mata.

" Kau sempurna, Lu. Aku mencintaimu, sangat dan sangat mencintaimu."

Airmata kembali menetes. Lu Han tidak kira Sehun akan memanggilnya cenggeng atau tidak manly, yang penting ia ingin Sehun tau.

Lu Han tidak akan sempurna tanpa Sehunnya.

Lu Han tidak akan tau untuk tersenyum tanpa Sehunnya.

Lu Han tidak akan hidup tanpa Sehunnya.

" Jangan menangis, Lu. Aku..." Sejenak nafasnya sesak. Dan Lu Han yang melihat cahaya yang mulai ada di hujung jemari kaki Sehun mulai panik. Airmatanya semakin deras.

" Don't. Don't go, Sehunna. Bawa aku bersamamu." Ia menekap wajah manis Sehun. Menatap anak mata Sehun yang berwarna kelabu itu.

Sungguh, mata itu mata yang terindah yang pernah Lu Han ketemui.

" Maafkan aku, Lu. Aku mencintaimu. Sangat dan sangat mencintaimu."

Lu Han bertambah panik. Malah Minseok yang entah kapan memasuki kamar yang ia kongsi bersama Sehun itupun tidak dipedulikan. Temannya itu menariknya mundur, menjauh dari sosok Sehun yang mulai menghilang di bawa oleh cahaya putih.

" Nooo ! Minseok, halang Tuhan dari mengambil Sehun ku. Jangan, jangan biarkan dia pergi."

Sehun menoleh ke sisi Lu Han. Mengukir senyuman manis dan indahnya terakhir kali buat Lu Han.

" Selamat tinggal, Lu Han. Selamat tinggal." Ucapnya kecil sebelum ia benar-benar di bawa pergi oleh cahaya putih itu.

Lu Han kaku.

Matanya tidak berkedip melihat kasur besar yang ia dan Sehun selalu ada di sana.

Ia membiarkan airmatanya tetap mengalir. Mengalir dengan deras. Menangisi malaikat Tuhan yang ia sudah ambil dari Tuhan itu.

Kakinya perlahan menuju kasur empuk miliknya. Tidak peduli dengan tangisan dari Minseok. Tidak peduli dengan raungan dari Baekhyun.

" Sehunna ?" Lirihnya. Ia menyentuh bantal yang tadinya menjadi tempat sandaran Sehun. Ia membawanya tepat ke hidung mancungnya lalu menghirup aroma manis milik Sehun.

Ia masih ada. Tetap ada. Di setiap sudut apartemen kecil nya itu, ada Sehun di sana.

" Sehun." Panggilnya. Matanya yang kabur mencari-cari sosok Sehun. Sosok malaikat indahnya. Sosok malaikat nya yang cantik.

Namun nihil.

Sehun sudah pergi. Meninggalkan ia bersama cinta yang besar, tidak terhitung untuk malaikat itu.

Meninggalkan Lu Han kembali dengan dunia nya.

" Lu Han. Hiks, malaikat kita sudah pergi." Minseok memeluknya. Menenggelamkan wajahnya di dada temannya itu. Sementara Baekhyun mengusap kepalanya.

Tidak.

Lu Han tidak mau mempercayai ini semua. Lu Han tidak ingin ini semua.

Sehun harus kekal di sisinya agar mereka bisa menepati janji yang mereka ukir dulu. Agar mereka bisa hidup bersama untuk selamanya.

" Min-Minseok-ah. Sehun, dia ..." airmata kembali membanjiri wajah tampannya. Ia tersedu dalam pelukan temannya. " Dia pergi~~"

" Hiks, dia akan kembali untukmu, Han." Ucap Minseok ringkas namun airmata juga sudah membasahi wajahnya.

Setelah itu, Lu Han seperti ingin menjauhkan dirinya dari sosok temannya. Ia lebih memilih untuk melakukan pekerjaannya 24/7. Tidak peduli dengan tubuhnya yang semakin lemah. Ia cuma ingin melupakan keperitan itu.

Meskipun Sehun sudah pergi enam tahun yang lepas, ia masih mengharapkan Sehun akan kembali ke sisinya.

Sehun akan tersenyum manis seperti dulu.

Sehun akan tertawa indah seperti dulu.

Sehun akan menatapnya dengan hangat seperti dulu.

Namun nihil, sepanjang enam tahun itu, ia merana. Ia kesakitan.

" Han." Ia mendongak dan menemukan temannya menatapnya khwatir.

" Kenapa, Baek ? Minseok tiada di sini."

Baekhyun menarik nafasnya.

" Aku bukan mencari Minseok, Han."

" Lalu ?"

" Besok gerhana matahari. Kau mau ikut denganku ? Melihatnya di tengah kota."

Lu Han menggeleng pelan. Mata rusanya kembali fokus kepada laptopnya.

" Aku sibuk. Ajak Minseok aja."

" Aku tidak peduli, besok jam 10 pagi. Minseok dan aku akan menjemputmu." Dan setelah itu buru-buru keluar dari pejabat Lu Han tanpa menunggu jawapan.

Dan sesuai dengan perjanjian, Baekhyun dan Minseok menariknya keluar dari apartemen yang tidak berubah semenjak sosok malaikatnya itu ada. Kedua temannya itu menarik tangannya menuju ke tengah kota. Orang ramai memenuhi kawasan itu. Ternanti-nanti akan sang bulan yang akan menutupi sang matahari dan menghasilnya lingkaran cahaya yang indah.

" Minseok, ini sangat mengagumkan." Baekhyun memeluk lengan kiri Minseok dan menyandarkan kepalanya manja.

" Ckk, tiada apa yang mengagumkan." Ucapnya dingin. Dan kedua sahabatnya itu hanya diam.

Sebentar lagi. Sang bulan akan tiba. Sebentar lagi. Orang ramai mulai mengeluarkan ponsel mahupun kamera mereka. Bersedia untuk merakam memori itu. Bersedia untuk menyaksikan pertunjukkan Tuhan yang istimewa itu.

Dan saat bulan mulai perlahan menutupi sang matahari, keadaan menjadi gelap. Menjadi sangat menakjubkan saat itu.

" Wuahhh." Beberapa ungkapan keluar dari mereka.

Lu Han hanya diam. Matanya menatap lingkaran cahaya yang hampir sempurna itu.

Tuhan, apakah kau mendengarku ? Bisakah kau memakbulkan doaku ?

Kembali kan Sehun kepadaku. Biarkan kami hidup bersama untuk selamanya.

Dan saat ia membuka matanya, lingkaran cahaya itu sudah sempurna. Membentuk lingkaran cahaya yang mengelilingi sang bulan. Seolah kedua elemen itu saling melengkapi.

Deg

Jantungnya tiba-tiba saja bergetar dengan lebih kuat. Darahnya berdesir.

" Ada apa ini ?" Tanya nya entah pada siapa. Ia meletak tangannya di dada kirinya sembari matanya kembali menatap lingkaran cahaya yang mulai ingin pergi.

Lu Han merasakan sesuatu. Dan sesuatu itu ia tidak tau. Ia tidak pasti apa.

Perlahan ia menutup matanya. Mencoba menenangkan akalnya. Dan saat ia membuka matanya, sang bulan sudah bersedia untuk meninggalkan sang matahari.

Ia tersenyum lirih. Sama seperti sang malaikat nya yang sudah pergi dari sisinya.

" Han, itu keren kan ? Woahh, andai saja ia berlaku setiap tahun !" Minseok menepuk pelan pundak Lu Han.

Lu Han hanya mendiamkan dirinya. Ia mendengus pelan sebelum mengusap wajahnya.

" Aku ingin pulang."

Minseok dan Baekhyun hanya mengangguk mengiyakan. Orang ramai juga mulai meninggalkan tempat yang tadinya menjadi tumpuan mereka.

Angin bertiup pelan. Membiarkan surai mereka terbuai dengan lembut.

" Han, kau tidak apa ?" Tanya Baekhyun pelan.

" Aku baik-baik saja." Lu Han terus melangkah. Membiarkan Baekhyun dan Minseok ketinggalan di belakangnya.

" Lu."

Deg

Dadanya bergetar. Ia mencoba menepis perasaan itu tapi tidak bisa. Perlahan ia mendongak. Menatap terus ke depan.

Deg deg deg

Detakan nya semakin kencang.

Di sana, ada satu sosok, bersurai keabuan. Kemeja putih yang kebesaran itu membaluti tubuh kecilnya. Berterbangan seiring dengan lembutnya angin bertiup.

Dengan gerakan perlahan, sosok itu menoleh ke belakang. Mata kekelabuannya menatap terus ke anak mata rusa Lu Han. Hidung mancung kecil tetapi membuat nya semakin cantik, semakin imut. Bibirnya merah dan tipis, begitu kontras dengan kulitnya yang putih.

Saat sosok itu tersenyum manis, matanya membentuk bulan sabit kecil. Dia kelihatan indah. Kelihatan sempurna. Kelihatan persis seperti malaikat Lu Han yang sudah diambil Tuhan.

" Tidak." Ucap Lu Han tidak ingin mempercayai ini semua. Ia seperti sudah tidak merasakan kehadiran manusia yang ada di sana.

" Lu Han." Dan suara itu.

Suara indah malaikatnya.

Perlahan airmata menuruni pipi nya. Tangannya naik untuk menutup mulutnya. Ia ingin mundur tetapi langkahnya mati saat sosok itu mengangkat jemarinya.

Menunjukkan cincin mereka yang dulunya di bawa pergi oleh sosok malaikatnya. Cincin itu bersinar, terkena sinaran matahari.

" Sehun. Sehunna ~~" lirihnya. Ia tidak peduli dengan airmatanya yang semakin deras. Lu Han berlari, menggapai sosok malaikatnya yang sudah ia tunggu untuk enam tahun yang lalu.

Dan saat sosok tubuh itu masuk ke dalam pelukannya, ia tau.

Ini Sehun, sosok malaikatnya. Haruman tubuh nya, tawa indahnya, kulit mulusnya dan segalanya yang ada.

Sehun kembali untuknya.

" Aku kembali, Lu. Dan setelah ini, kita akan bersama selamanya."

#####

Okay, hoho . Its worst ? Or no ?

Okay, my lovely readers, please review if you have any suggest or request. Tapi jangan panjang banget ya requestnya ?

Please don't be a silent reader. Chiey don't like it the most. / pouting with Sehunnie/