# Don't you remember ?
# Lu Han, Sehun, mention!Min Ah
# Angst
# Drabble prompt : Sehun yang terlalu mencintai Lu Han dan Lu Han yang terpaksa melepaskan Sehun.
Based on Adele song : Don't you remember ?
####
" Maafkan aku, Sehun. Mungkin Tuhan tidak menetapkan ku sebagai jodohmu."
Sehun menatap Lu Han dengan pandangan tidak percaya. Kedua tangannya yang kecil itu meremas hujung kaos putih yang dipakainya. Bubble Tea perisa cokelat itu juga tidak bisa melarikan perhatiannya kepada laki-laki bersurai coklat di depannya itu.
" Kenapa ? Kenapa, hyung ?" Suara nya hampir tidak kedengaran. Matanya sudah memanas dan ia tidak ingin mengeluarkan air asin itu setidaknya bukan di depan Lu Han.
Lu Han menghirup Latte yang ia pesan tadinya. Mata rusa yang selalu menjadi favorit Sehun itu tidak menatapnya sedikit pun.
" Aku akan menikah."
Deg
" Tapi ..."
" Aku harap kau bisa datang."
" Hyung."
" Aku harus pergi. Min Ah sudah menunggu ku."
Dan sosok itu berdiri lalu meninggalkannya sendirian di kafe itu. Dia pergi tanpa memberikan Sehun kesempatan untuk berbicara. Tanpa memberi Sehun ruang untuk bertanya.
Ia menatap amplop kertas yang ditinggalkan oleh Lu Han tadi.
Kenapa ?
Bukankah dia sudah menjadi kekasih Lu Han semenjak empat tahun yang lalu ?
Dan laki-laki itu sudah berjanji untuk memberikan Sehun kebahagiaan yang ia nantikan begitu lamanya.
Saat ia membuka amplop itu. Air mata yang coba ia tahan sedaya upayanya sudah lolos.
Pernikahan.
Lu Han & Min Ah.
16 April
Sehun terisak di situ. Tidak peduli dengan tatapan aneh dari beberapa pelanggan yang datang ke kafe itu. Tidak peduli dengan betapa sedihnya situasi nya sekarang.
Tidak peduli dengan Lu Han yang melihatnya dari jauh, dengan pandangan sendunya.
####
When will I see you again ?
You left with no Goodbye
Not a single word was said
No final kiss to seal any sins
I had no idea of the state we were in.
Sehun meneguk laju Tequila yang sudah banyak ia pesan itu. Ia tidak peduli, ia ingin melupakan segalanya malam ini. Ia ingin menghapuskan Lu Han dari ingatannya malam ini. Ia ingin melupakan segalanya.
Wajah manis dan cantik itu sudah memerah. Matanya membengkak dan sangat ketara ia sudah banyak menangis. Genggaman nya pada gelas kecil berisi Tequila itu menguat saat bayangan Lu Han mengisi mindanya.
Hahh. Bagaimana ia bisa melupakan seseorang yang ia cintai dengan sepenuh hatinya ?
Bagaimana ia ingin melupakan seseorang yang sudah memberikannya harapan hidup bahagia itu ?
" Hiks. Kau pembohong, hyung. Kau bohong kepadaku. Hiks~~"
Ia menangis kecil. Dengan sedikit kasar ia menelan air yang memabukkan itu lagi. Berharap ia bisa melupakan sosok tampan itu. Berharap ia melupakan yang ia mencintai laki-laki itu.
Namun nihil.
Semakin ia ingin melupakan, semakin ia mengingati sosok Lu Han.
" Hiks, Lu Han hyung. Hyung, Lu Han hyung."
Ia menyebut nama itu umpama mantra yang bisa menyeru Lu Han agar kembali ke sisinya.
Sepanjang dua puluh empat tahun ia hidup, sekalipun ia tidak pernah menginjakkan kakinya masuk ke Club. Sedikitpun ia tidak pernah ingin memasuki tempat ini.
Tapi mau bagaimana lagi ?
Luka dihatinya sangat besar.
Luka dihatinya sangat dalam.
Ia berharap semua ini hanya mimpi dan bila ia terbangun, wajah tampan Lu Han yang ada di sisinya. Membisikkan kata cinta untuknya.
Sehun tersenyum kecil saat bayangan Lu Han dan dirinya muncul di mindanya.
" Minggir rusa sok manly, aku mau lalu !" Sehun menghentak kakinya layak anak kecil yang sedang kesal gara-gara tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.
Lu Han menggeleng laju. Ia tetap berdiri menghalang laluan laki-laki itu, seolah tatapan tajam dari Sehun tidak memberi kesan kepadanya. Toh, Sehun malah semakin imut seperti itu.
" Aku tidak akan pergi selagi kau belum memutuskan untuk keluar kencan denganku besok, cantik ~!
Astaga.
Sehun itu laki-laki dan mana ada laki-laki yang rela dipanggil cantik begituan !
" Tidak akan, Rusa jelek. Lagian aku ini laki-laki dan aku tampan bukan cantik !"
Lu Han menggeleng pantas. Beberapa temannya yang melihat sikap kekanakan kedua laki-laki yang sangat berbolak sekali sikapnya itu hanya mampu menggeleng. Ada yang mengumam pelan untuk memberi semangat kepada Lu Han dalam mendapatkan hati dingin si Ice Princess itu.
" Bagiku kau yang terindah, Oh Sehoon." Suara Lu Han berbisik rendah.
Membuat seorang Sehun merasakan getaran buat pertama kalinya.
Sehun terkekeh kecil. Tidak peduli dengan bartender itu yang memandangnya heran.
" Haha, bodoh sekali aku ketika itu. Hiks, Oh Sehun, kau menyedihkan." Kembali minuman alkohol itu ditelan rakus. Matanya mengabur.
Dadanya sesak sekali.
Kenapa ?
Kenapa Lu Han harus pergi setelah hati kecilnya sudah dicuri ?
" Kita jadian kan ?"
Sehun mengumam. Tidak melarikan pandangannya dari buku tebal itu. Sementara sebelah tangannya membelai surai lembut Lu Han yang sedang menjadikan pahanya sebagai bantal.
" Hey, Sehunnie. Bisa tidak kau meletak buku tebal itu duluan ?! Kekasih mu ini ingin bermanja denganmu."
Namja manis itu mendesah pelan. Ia meletak buku biologi nya itu di samping dan matanya menatap Lu Han.
" Puas ?!"
Lu Han tersenyum lebar. Ia memeluk perut rata Sehun dan menghirup aroma manis yang keluar dari tubuh mungil itu.
" Kau manis sekali saat kesal."
Yang dikatakan manis itu hanya mampu memutar bola matanya malas. Meski begitu, tangannya tidak berhenti membelai surai sang kekasih.
" Kepakaran mu itu hanya mengombal doang, Lu. Berapa banyak yeoja atau namja yang sudah kau gombal ?"
Sontak Lu Han bangun dari posisinya. Ia menggengam kedua tangan Lu Han. Membuat Sehun mengerutkan kedua alisnya. Disebabkan sosok mereka yang jauh beda, Sehun terpaksa mendongak melihat wajah laki-laki itu.
" Kau kenapa ?"
" Aku hanya mencintaimu seorang, Oh Sehun. Bagaimana bisa aku menggoda orang lain saat kau sudah berhasil menggoda ku duluan ?!" Ucapnya bersama sengihan lebar.
Gila.
" Kau gila, Lu Han. Kenapa aku bisa terpikir untuk mencintaimu ?!"
" Itu karna aku mencintaimu, Lu Sehun."
Dan ia mendapatkan pelukan erat dari laki-laki bertubuh sasa itu.
" Hyung, hiks. Kumohon, aku -aku tidak bisa."
Airmata semakin deras membanjiri wajah manisnya. Rasanya sesak sekali. Ia ingin melupakan Lu Han. Ia ingin menghapuskan segala momen yang ia punya bersama Lu Han. Ia ingin lupakan bagaimana Lu Han bisa membuatnya jatuh seperti ini.
Tetapi kenapa malah semua momen itu kembali datang kepadanya ?
Kenapa semua momen saat mereka masih menuntut di Universitas yang sama kembali menghantuinya ?
" Aku mencintaimu, Sehunna." Kecupan hangat hinggap di sekitar pundak Sehun yang polos. Ia tersenyum kecil saat Lu Han mengeratkan pelukannya.
" Aku mencintaimu juga, Lu."
Ia bisa rasakan bibir Lu Han membentuk senyuman di punggungnya. Posisi Lu Han yang memeluknya dari belakang itu menghalang nya dari melihat wajah tampan Lu Han.
" Kau indah. Aku tidak tau aku berbuat apa pada kehidupan lepas sehingga aku layak mendapatkan malaikat indah seperti mu."
Sehun tertawa kecil. Ia membawa tangannya yang digenggam Lu Han itu dekat dengan bibirnya dan memberi kecupan di punggung tangan Lu Han.
" Seharusnya aku yang berkata seperti itu, Lu."
" Tidak, kau memang indah, Hun. Sempurna."
" Tapi kau yang menyempurnakan kehidupan ku, Lu."
Perlahan tubuhnya di putar ke belakang sehinggalah akhirnya ia bertatapan langsung dengan Lu Han. Pipinya memanas saat melihat kedua tubuh mereka yang polos bersentuhan dengan intimnya.
" Tiada manusia yang sempurna, Sehun. Tetapi saat aku melihatmu, mencintaimu. Aku ternyata salah. Kau sempurna dan aku tidak menginginkan apa pun selagi aku punya dirimu."
Sehun mendongak. Menatap mata Lu Han yang sememangnya menatapnya.
Cinta, kejujuran, kesetiaan dan banyak lagi.
Hahh, Tuhan akan memberi nya kebahagaian yang ia ingin kan ?
" Aku mencintaimu, Lu."
Lu Han menariknya agar masuk ke dalam dekapan hangat. Memeluknya begitu erat, seolah tidak ingin melepaskan Sehun sedikitpun.
" Aku lebih mencintaimu, Oh Sehun."
Sehun tidak pernah merasakan begitu selamat, begitu terlindung saat ini. Sepanjang ia hidup, ia hanya sendiri. Tiada orangtua yang menjaganya. Tiada kakak adik yang melindunginya.
Dan saat ini, saat ia sudah menyerahkan segalanya kepada Lu Han baik hati mahupun tubuhnya, ia tau, ia tidak sendiri lagi.
Ada Lu Han di sisinya.
Ada Lu Han yang selalu akan membuatnya tersenyum.
Setidak nya itu yang ia rasakan empat tahun yang lepas.
" Hiks, Lu Han." Isakan diselangi dengan iringan nama itu. Tequila yang masih penuh di gelas kecil itu sudah tidak di pedulikan.
Seberapa banyak ia minum pun, tidak akan mampu membuat Sehun melupakan Lu Han nya.
Karna Lu Han adalah titik kehidupannya.
Karna Lu Han adalah sumber kebahagiaannya.
Dan kini, sumber kebahagiaannya itu sudah pergi.
Titik kehidupannya itu sudah tiada lagi.
Jadi bagaimana ia harus meneruskan kehidupannya lagi ?
####
Don't you remember ?
The reason you loved me before
Baby, please remember me once more
When was the last time you thought of me ?
Or have you completely erased me from your memory ?
I often think about where I went wrong
The more I do, the less I know.
" Kau yakin ingin meneruskan segalanya, Lu ?"
Lu Han mengangguk kecil. Wajah tampan itu tidak seperti selalu. Yang sentiasa tersenyum konyol. Yang sentiasa membuat orang-orang ketawa.
Ia seperti boneka yang di atur.
Ya boneka.
" Begini lebih baik, Lay. Aku tidak mau eommanim menyentuh Sehun sedikitpun. Biarlah aku yang menderita, asal Sehun baik-baik saja."
" Baik-baik saja ? Huh, dia bahkan tidak peduli dengan kondisi dirinya sendiri, Lu. Itu yang kau bilang baik-baik saja ?!"
Lu Han menghembus nafasnya. Meskipun jas hitam itu sudah dipakai, rasanya kosong sekali.
Ayolah, apa kau bisa tersenyum saat ada yang mengancam untuk membunuh kekasih mu hanya gara-gara kau mencintai orang yang tidak setaraf denganmu ?
" Lay, begini lebih baik. Eommanim tidak akan menganggunya. Selagi aku masih ada di sisinya, wanita tua itu tidak akan berhenti."
Lay menggeleng pelan.
" Kau bisa mengusahakan cara lain, Lu. Membawa dia lari misalnya. Lebih baik dari kalian berdua terluka."
Lu Han mengukir senyuman sinisnya. " Apa kau pikir wanita tua itu tidak akan mencari kami ? Dia bahkan bisa menghentikan kami saat ia tau semuanya."
" Lu, ada hubungan yang kau tidak bisa putuskan meskipun berapa besar kau ingin lari. Yang ada malah kalian terluka."
" Sudahlah, Lay. Mungkin semuanya harus begini. Kumohon, tolong awasi dia. Selama mana aku masih hidup, hatiku tetap miliknya."
Dan selesai ia berkata, wanita tua masuk ke ruang persalinan itu. Dengan langkah angkuhnya, ia berdiri di depan Lu Han. Mengabaikan Lay yang berdiri di sisi Lu Han.
" Jja, kau kelihatan tampan, anakku." Ucapnya penuh dengan sinis. Tangan itu mengelus pundak Lu Han.
" Huh, kupikir kau sudah tidak menganggapku sebagai anak. Tiada ibu yang menjual anaknya hanya karna perusahaan !"
Wanita itu tertawa kecil. Kedengaran sinis dan tidak peduli dengan kata-kata yang keluar dari laki-laki bergelar anak itu.
" Kau masih kecil, Han. Cinta tidak akan membawamu kemana-mana."
" Apa karna itu Appa meninggalkanmu, huh ?"
Pang
Lu Han sukses mendapatkan tamparan di pipi kanannya. Ia tersenyum sinis. Tatapan matanya berubah tajam.
" kurasa benar tekaan ku, kan ?"
" Diam, Lu Han. Kau tidak mau apa-apa terjadi kepada Sehunnie mu yang manis itu kan ?"
Senyuman sinis itu menghilang saat nama Sehun mengalun dari wanita itu.
" Seharusnya kau keluar sekarang. Sehun mu yang manis itu sudah duduk di luar. Di meja VIP yang aku khas kan untuk kekasih anakku." Dan seiring dengan itu, wanita itu keluar dari sana.
Lu Han menahan kepalan tangannya. Ia tidak bisa mundur dari pernikahan bodoh ini. Ia tidak mau wanita yang berstatus sebagai ibu nya itu menyentuh Sehun sedikitpun.
" Ayo, Lay." Ucapnya datar.
####
But, don't you remember ?
Don't you remember ?
The reason you loved me before
Baby, please remember me once more
Gave you the space so you could breathe
I kept my distance so you would be free
" Ya, aku menerima dia menjadi isteriku."
Sontak tepukan gemuruh mengisi ruangan itu. Beberapa dari mereka berdiri dan tersenyum lebar. Tidak kurang juga yang tertawa bahagia.
Sehun menahan sedaya upaya tangisannya namun nihil. Mendengar ungkapan itu dari Lu Han sendiri sudah cukup membuatnya terluka.
Mungkin memang ini berakhirnya hubungan mereka.
Mungkin Tuhan tidak ingin memberikannya kebahagian yang ia impikan.
Mungkin...
Sehun mendongak. Menatap pujaan hatinya yang waktu itu tersenyum. Membungkukkan tubuhnya hormat.
Mungkin Lu Han sedikitpun tidak pernah mencintainya.
Hatinya berdegup dengan sangat kencang saat mata rusa itu bertembung dengannya.
Lu Han memberikannya senyuman kecil sebelum ia berlalu bersama yeoja yang baru saja menyandang status sebagai isterinya itu.
Tidak.
Katakan ini cuma mimpi.
Bagaimana Lu Han bisa tersenyum saat ia di sini terluka ?
Bagaimana Lu Han bisa tertawa saat ia di sini menderita ?
" Sehun ?"
Ia mendongak saat mendengar namanya di sebut.
" Kau tidak apa ?"
" Ahh, aku baik-baik saja, Lay hyung." Ia mengukir senyuman paksanya. " Hmm, aku ingin pulang duluan, hyung. Sampaikan salam maafku. Aku pergi duluan, hyung."
Tanpa menunggu sebarang kata-kata dari Lay, Sehun berlari kecil dari ruangan itu.
Ia sudah tidak bisa menampung rasa ini lagi. Rasanya sesak. Sakit. Perih. Ia butuh sesuatu untuk membuat rasa sakit ini hilang.
Ia butuh Lu Hannya.
Ia berlari dan terus berlari. Mengabaikan Lay yang mengejarnya dari belakang. Entah dari mana ia mendapat tenaga sebesar ini, yang pasti, ia ingin larikan diri dari semua keperitan ini.
" Saranghae, Sehunna."
Langkahnya semakin perlahan. Airmata sudah berhasil lolos dari kelopak mata indahnya.
Ia menggeleng saat terdengar suara-suara Lu Han yang mengucapkan kalimah itu.
" Saranghanda, my Ice Princess"
" Hey, jeongmal saranghae~~"
Ia menggeleng laju. Menutup kedua telinganya.
Rasa ini sungguh perit.
Ia tidak pernah merasakan luka sebegini. Lu Han, titik kebahagiaannya kini sudah pergi. Menjadi milik orang lain.
Perlahan Sehun mendongak, menatap langit yang menggelap, tanda sebentar lagi hujan akan turun membasahi kota Seoul.
Tuhan, bisa aku memohon ampun kepadamu ?
Aku sudah tidak bisa meneruskan kehidupan ini.
" Oh Sehun, aku mencintaimu."
Ia sudah tidak peduli lagi.
Perlahan ia berdiri di tepi jalanan raya itu. Mengabaikan mobil yang laju, saling berlomba untuk menuju destinasi mereka.
Mungkin, ini memang takdirnya.
Jatuh cinta kemudian terluka.
" Maaf, hyung. Aku tidak bisa menanggung ini semua. Maaf dan aku mencintaimu." Ia mengatup matanya erat. Membiarkan airmata itu menghiasi wajah indahnya.
Brakk
####
Gelas yang ada di pegangannya itu terlepas begitu saja. Sontak tangannya diletakkan di dada kirinya, merasakan betapa kuatnya detakan organ itu saat ini.
Ada apa ini ?
Perlahan ia mendongak, mencoba mencari sosok seseorang yang sedari tadi sudah menghilang.
" Lu, ada apa ?"
Min Ah memegang tangan laki-laki itu hanya di tepis kasar.
" Tidak, aku baik-baik saja." Ucapnya dingin, ia tidak peduli dengan tatapan tajam dari sang ibu itu.
" Aku ingin ke restroom sebentar."
Tanpa menunggu kata-kata, Lu Han bangun dan menuju restroom. Ia menatap pantulan imejnya.
" Ada apa ini ?" Tanyanya entah pada siapa. Ia mengeluarkan ponsel nya dan mendail nomor Lay.
" Lay, kau ada di mana ?"
" Lu, hiks. Lu, kau harus kesini. Sehun-dia - astaga, Sehun, bertahanlah." Suara teman nya itu begitu ribut. Belum lagi dengan suaranya yang seperti menahan tangis, keributan dari orang-orang di sana.
" Hey, Lay. Kenapa ? Kenapa dengan Sehun ?"
" Ini bukan saatnya, Lu. Kemarilah dengan cepat. Kau tau di depan gedung tempat pernikahan mu. Kami ada di sini."
Dan panggilan itu diputuskan. Ia membuang segala perasaan buruknya dan buru-buru berlari keluar.
Kaki panjangnya berlari dan terus menuju gedung yang disebutkan barusan oleh Lay itu. Jantungnya yang berdegup kencang gara-gara berlari itu semakin berdegup.
Kenapa terlalu banyak orang di sini ?
Seolah tau apa yang sudah berlaku, Lu Han perlahan melangkah mendekati kelompok itu.
Dan saat ia sudah berhasil menangkap imej itu, lututnya melemah. Ia seolah tidak bisa menggerakkan kakinya.
Sosok itu.
Perlahan airmatanya mengalir.
" Tidak... Sehun. Bukan ini, bukan ini yang aku inginkan..." ucapnya lirih. Matanya mengabur namun ia masi bisa jelas melihat sosok kekasihnya itu yang dipangku oleh Lay.
Jas putih itu dipenuhi dengan darah. Surai blonde itu menutupi separuh dari mata indah itu. Bahkan gelang yang selalu dipakainya itu juga berlumuran darah.
" Tidak. Sehun, jangan bercanda."
Lu Han memangku kepala laki-laki itu. Menangis kuat saat melihat luka-luka yang ada di tubuh mungil itu.
" Ayo buka matamu. Aku ada di sini, Sehun. Hiks, Sehun. Bangun ~~" ia menekap wajah manis itu.
" Hyung ?" Suara itu serak, kecil dan begitu lirih.
" Akhirnya, kau datang juga hyung."
" Ya, sayang. Aku di sini. Maafkan aku. Maafkan aku, Sehunna." Ia memeluk tubuh itu. Mengabaikan isakan Lay yang berusaha menelepon ambulans.
" Aku mencintaimu, Hyung. Sangat dan sangat mengasihi mu." Sehun mengukir senyumannya. Berusaha untuk membawa tangan kanan nya menyentuh pipi Lu Han.
" Aku juga, Hun. Hiks, hanya kau yang aku cintai, Sehunna. Jadi, kumohon. Bertahanlah."
Sehun tersenyum hangat. Ia menyapu pipi itu pelan.
" Maafkan aku, hyung. Semoga kita bertemu dikehidupan seterusnya. Aku mencintaimu~" seiring dengan ucapan itu, tangan kanan Sehun jatuh. Nafasnya sudah tiada.
Tidak.
Kumohon.
" Sehun~ jangan bercanda, baby. Bangunlah. Aku berjanji tidak akan membuatmu terluka lagi. Aku tidak mau menjadi Lu Han lagi jika itu hanya memisahkan kita. Kumohon, Sehun. Berikan aku kesempatan. Hiks, Sehun !" Ia menguncang tubuh Sehun pelan. Mengharapkan mata indah itu akan terbuka.
Namun nihil.
Sehun sudah pergi.
Lay menariknya menjauhi tubuh Sehun saat ambulans sudah datang.
" Lepaskan aku, Lay. Aku ingin Sehun. Kau tidak bisa memisahkan ku darinya. Lepaskan !" Ia meronta, membiarkan derasnya airmata saat melihat sosok kekasihnya itu di angkat pelan dan di bawa masuk ke dalam mobil itu.
" Sehun ! Kumohon, maafkan aku. Sehunna ~~!" Ia meraung. Tidak peduli dengan orang-orang yang menatapnya lirih. Ada yang menatapnya simpati.
" Dia sudah tiada, Lu."
" Apa yang kau katakan, Lay. Sehun masih ada. Kau tidak lihat tadi ? Dia bahkan tersenyum manis kepadaku !"
Lay menangis kecil. Ia memeluk Lu Han dan menghamburkan tangisnya.
" Sehunku masih ada, Lay. Dia masih ada." Meskipun ia mencoba menyakin dirinya sendiri, airmata tetap masih mengalir laju.
Kerana takdir menginginkan yang lainnya.
####
And hoped that you'd find the missing piece
To bring you back to me
Why don't you remember ?
Don't you remember ?
The reason you loved me before
Baby, please remember you used to love me.
Lu Han meletakkan rangkaian mawar merah itu di atas batu nisan yang tertulis nama sang kekasih di sana. Tangannya menyentuh permukaan kasar itu.
" Hey, cantik."
Ia tersenyum kecil saat bayangan Sehun yang merona saat ia memanggilnya cantik.
" Ini baru dua hari kau di sini dan aku sudah merinduimu."
Angin lembut membuainya pelan. Ia menyisir surainya menggunakan jemarinya sebelum kembali menatap batu nisan itu.
" Dan bodohnya aku saat memutuskan untuk meninggalkanmu. Maafkan aku, sayang. Aku bodoh ya ?!" Ia terkekeh.
Rasanya aneh sekali.
Ia tidak bisa merasakan kehadiran Sehun. Ia tidak bisa mendengar tawa Sehun. Ia tidak bisa melihat senyuman manis Sehun.
Rasanya begitu ...
Sakit.
" Kau bisa menunggu ku kan ? Aku akan menyusul mu. Kita akan bersama kembali dan tiada siapa yang bisa melukaimu lagi. Bahkan wanita tua itu sudah gembira dengan perusahaan barunya."
Ia mengusap penuh kasih sekali lagi batu nisan itu sebelum ia bangun dan merapikan jas hitamnya.
" Aku mencintaimu, Oh Sehun." Ucapnya penuh dengan rasa cinta. Ia melangkah menjauhi makam kekasihnya itu. Berjalan dan terus berjalan sehinggalah ia melihat ada mobil yang datang kepadanya.
Saatnya.
Setelah ini Sehun akan kembali di sisinya. Ia akan bersama dengan Sehun lagi. Mencintai namja itu. Mengasihi namja itu. Melindungi namja itu.
" Sehun, aku mencintaimu." Ia melangkah ke tengah jalan. Menutup matanya erat.
Bayangan Sehun yang tersenyum manis kepadanya.
Selamanya Oh Sehun.
Brakk
Brukkk
####
When will I see you again ?
####
Failed angst ~~ kekeke
Please review and don't be a silent reader .
Hugs and kisses for Chiey's lovely reader .
