# Eternity
# Lu Han, Sehun
# Fluffy & Romance
# Drabble prompt : Lu Han yang tidak mau kehilangan Sehun lagi seperti lima tahun yang lalu.
Note : Sequel of My Fallen Angel
####
" Kau akan tetap di sini kan, Hun. Tidak akan pergi seperti lima tahun yang lalu ?!"
Baekhyun mengenggam kedua tangan yang lebih mungil darinya itu. Matanya tidak lepas dari menatap setiap sudut sosok laki-laki bersurai kelabu itu. Tersenyum saat menyadari tiada apa yang berubah sejak lima tahun yang lalu.
Sosok itu masih seperti dulu. Masih adik kecilnya. Masih polos seperti dulu.
" Sekalipun kalian menghalau ku, aku akan tetap di sisi kalian, hyung. Kihkih, kalian tidak bisa menghapuskan aku." Sosok itu terkekeh pelan. Mengabaikan Baekhyun yang melopong gara-gara perkataannya.
" Sehun, kau tidak tau bagaimana hidupnya semenjak kau tiada. Dia seperti bukan Lu Han yang ku kenali." Suaranya berubah serius. Di pikirannya hanya dipenuhi dengan imej Lu Han yang terluka, tersakiti dan menderita.
Sontak wajah cantik di depannya itu berubah mendung. Ia menundukkan kepalanya dalam. " Aku tau, hyung. Oleh itu aku kembali, Tuhan mendengar doanya. Kali ini aku akan tetap di sisinya. Sedetik pun aku tidak akan pernah menjauh darinya." Ucapan ikhlas dari sosok itu membuat Baekhyun tersenyum lebar.
Ia membawa Sehun ke dalam pelukannya. Hahh, rasanya masih seperti dulu.
" Jangan pernah hilang lagi, Sehunna. Kau berharga untuk kami semua." Baekhyun melonggarkan pelukan itu dan memberikan Sehun senyuman kecilnya. " Kau bilang tadi sedetik pun kau tidak akan pernah menjauh darinya lalu kenapa sekarang kau tidak menyusulnya di sana ?!"
Sehun mempout bibirnya. Mata kelabu itu melirik ke belakang di mana ada Lu Han sedang berbicara dengan Minseok. Keduanya begitu rapat dengan sesekali tertawa kecil.
" Bagaimana aku mau kesana jika kau yang menarik ku kesini, hyung. Bahkan Minseok hyung mencuri Lu Han dari ku~"
" Hey, Minseok itu punya ku. Tidak mungkin dia mau dengan si rusa jelek itu ~"
" Yakk, hyung. Kau masih sama seperti dulu. Menyebalkan ~!"
Baekhyun tertawa keras. Mengabaikan bibir Sehun yang maju ke depan saat ia mentertawakan laki-laki manis itu.
Ia senang , senang karna Tuhan mendengar doa mereka selama ini.
Baekhyun tau, sedari tadi setiap pergerakan mereka di lihat dari jauh oleh Lu Han. Di awasi dari jauh oleh Lu Han.
Ia tau, Lu Han tidak akan pernah mau untuk kehilangan Sehun buat kedua kalinya.
####
Lu Han tidak tidur saat ini. Ia hanya menatap dan mengagumi ciptaan Tuhan yang saat ini berada dalam pelukannya. Ia menatap bagaimana mata indah yang tertutup rapat itu. Nafasnya teratur dan sesekali ia tersenyum dalam tidurnya membuat Lu Han ikut tersenyum.
Ia mengeratkan pelukan itu. Tidak menyisakan sedikit ruang pun untuk memisahkan mereka.
" Aku mencintaimu, Sehunna." Bisik nya lirih.
Ia terlalu mencintai Sehun. Begitu besar sehingga ia rasakan sakit di dada kirinya. Sakit sehingga ia ingin menangis. Takut kehilangan itu besar meskipun ini sudah satu minggu Sehun kembali untuknya. Sudah satu minggu Sehun menyakinkannya yang ia tidak akan pernah pergi lagi.
Tapi tetap saja Lu Han takut.
" Kau belum tidur, Lu ?" Suara itu serak, khas seperti orang yang baru terbangun. Sebelah tangannya mengosok pelan kelopak matanya. Sebelah lagi mengeratkan pelukan itu.
" Aku tidak bisa tidur." Ucapnya. Ia mengecup dahi mulus Sehun. Membelai surai lembut itu.
Sehun mendongak, mata kelabu itu menatap Lu Han lama. Seolah tau apa yang menganggu pikiran laki-laki itu.
" Tidur lah, Lu. Aku akan tetap ada saat kau bangun besoknya. I've already told you, sampai kapan pun aku akan tetap di sisimu. Sampai kau yang menyuruh ku pergi. Sampai kau yang meninggalkan ku."
Lu Han menggeleng pelan. Ia menenggelamkan hidung mancungnya ke surai Sehun, merasakan manisnya haruman dari tubuh mungil itu.
" Mana mungkin aku menyuruh mu pergi. Kau berharga untukku. Sudah cukup lima tahun yang lepas, aku tidak ingin kehilanganmu lagi."
Jemari kecil nan halus itu mengusap pipinya pelan. Senyuman terbentuk di wajah cantik itu.
" Aku di sini, Lu. Selamanya. Makanya, jangan khawatir. Tuhan sudah berjanji tidak akan memisahkan kita lagi. Sekarang tidur, besok kau harus membawa ku kencan."
" Berjanjilah kau tetap di sisiku, Hunna. Aku tidak - aku tidak bisa hidup tanpamu. Bagiku, hidup tanpamu itu bukan kehidupan."
Sehun menenggelamkan wajah manisnya di dada Lu Han. Mencoba menyakinkan laki-laki itu yang ia tidak akan pergi. Ia akan kekal di sisinya.
" Aku berjanji, Lu. Sampai kapanpun. Aku akan tetap menjadi milikmu."
" Aku mencintaimu, Sehunna. Sangat dan sangat mencintaimu."
" Aku juga mencintaimu, Lu."
####
Cahaya mentari pagi memasuki kamar luas itu. Di atas kasur besar dengan sprei berwarna baby blue itu ada sosok yang sedang tidur lena. Wajah tampannya kelihatan tenang, seolah ia baru saja mendapatkan apa yang ia inginkan sehingga tidurnya begitu lena sekali.
Beberapa detik kemudian, kelopak matanya terbuka. Ia mencoba membiasakan cahaya sang suria yang memasuki deria penglihatannya. Perlahan ia duduk di kasur besar itu. Saat ia berhasil membuka matanya dengan sempurna, ia melirik ke samping kasurnya.
Kosong.
Sontak dadanya bergetar.
" Sehun ? Sehunna ?" Panggilnya pelan. Dengan cepat ia bangun dari kasur itu saat pemilik nama itu tidak menyahut panggilannya.
" Sehun, kau dimana ? Sehunna ?!" Ia terus dan terus memanggil namun tiada sahutan. Jantungnya semakin bergetar. Lututnya terasa lemah saat ini. Saat ia berpikir Sehun akan meninggalkannya sekali lagi.
Buru-buru ia menuju di kamar mandi namun nihil. Kamar mandi itu kosong tanpa ada tanda-tanda orang ada di dalam.
Tidak.
Jangan.
Lu Han berusaha mengatakan semuanya baik-baik saja. Tuhan sudah berjanji kan ?
" Sehun !" Panggilnya. Kaki panjangnya menuju ke luar kamar. Ia sedikit berlari ke ruang tengah. Tetap saja kosong. Kaca tv nya juga tidak terpasang.
Sehun masih ada kan ?
Lu Han berusaha menenangkan hatinya. Ia menarik nafas lalu menghembus nya pelan. Ia menoleh ke ruang dapur dan tidak menemukan sosok yang ia inginkan. Sontak lututnya melemah.
" Sehun, Sehunna." Ia memanggil nama itu lirih. Matanya terasa panas. Tidak, ia tidak mau menangis lagi.
Ia menggapai ponselnya dan mendail nomor Minseok.
" Minseok ?" Lu Han sedaya upaya menahan suaranya agar tidak kedengaran bergetar namun temannya itu lebih pantas.
" Lu, kau kenapa ? Sakit ya ? hey Lu. Bicara denganku ?!" Suara temannya itu bertanya dengan khawatir.
Temboknya pecah saat itu juga. Airmatanya mengalir. Shit, ia tidak suka saat situasi menjadi seperti ini. Di mana ia kelihatan seperti anak kecil. Kelihatan seperti laki-laki yang suka sekali menangis.
" Sehun - Minseok, Sehun. Dia -" ia tidak dapat meneruskan ucapannya saat isakannya terlepas. Lututnya melemah dan menyebabkannya terduduk di ruang dapurnya itu.
" Kenapa dengan Sehun, Lu ? Bicara yang benar dan jangan membuat ku khawatir, Lu Han !"
Sebelah tangannya dibawa untuk menutup separuh dari wajah tampannya.
Ia tidak mau percaya yang Sehun sekali lagi pergi meninggalkannya.
Baru semalam Sehun berjanji tidak akan pergi meninggalkannya tapi kenapa ?
Kenapa saat ia sudah mempercayai semua kata-kata dari malaikat itu semuanya harus kembali seperti lima tahun yang lalu ?
Kenapa ?
" Lu Han, aku akan kesana sebentar lagi. Kau tetap di sana dan jangan melakukan perkara bodoh sedikitpun ! Arraseo ?!" Minseok mematikan panggilan itu tanpa meminta jawapan dari Lu Han.
Lu Han menangis kecil di sana. Membiarkan isakan kecilnya kedengaran di apartemen nya yang sunyi itu. Sunyi tanpa kehadiran seorang Sehun.
" Sehun, kau sudah berjanji. Sehunna. Kumohon, jangan lakukan ini kepadaku~" ia merayu, memohon entah pada siapa.
Jika benar Sehun pergi sekali lagi, kali ini ia akan menyusul Sehun. Ia sudah tidak tau bagaimana lagi ingin meneruskan kehidupannya saat Sehun kembali hanya untuk pergi sekali lagi.
Lama ia menangis. Memeluk lutut di ruang dapur itu. Kaos hitam dan sweatpants membaluti tubuh nya. Surainya bahkan berantakan.
Klik
Bunyi apartemen nya dibuka tidak membuat ia mendongak untuk melihat siapa yang memasuki ruang itu. Ia hanya peduli dengan Sehun, Sehun dan Sehun. Berharap bahawa semua ini hanya mimpi dan apabila ia bangun nantinya, Sehun masih tersenyum manis untuknya.
Derapan langkah mendekatinya.
" Hey, apa yang kau lakukan di situ, Lu ? Ini dingin, astaga, Lu." Sontak ia mendongak begitu mendengar suara itu. Dengan matanya yang kabur ia menatap sosok itu.
" Kau bisa sakit jika duduk di situ, Lu."
Hening
Lu Han tidak tau ia harus mempercayai matanya saat ini ataupun tidak. Perlahan ia menghulur tangannya dan menyentuh pipi mulus itu.
" Sehun ?" Suaranya lirih.
" Ini aku, Lu. Kenapa kau bisa duduk di sini ?" Tangan kecil itu menyentuh tangannya yang menyentuh pipi mulus itu. " Lihat, tanganmu sudah mendingin. Berapa lama kau duduk di sini, Lu Han ?" Sosok itu mengambil kedua tangan Lu Han lalu meniup nya. Mencoba menghasilkan kehangatan agar rasa dingin itu hilang.
" Sehunna. Sehunna." Lu Han memeluk perut rata Sehun dengan erat. Memeluknya erat seolah tidak ingin melepaskannya sekali lagi.
" Lu, kau kenapa, eum ? "
Namun ia tidak peduli.
" Kumohon jangan pergi dariku." Ucapnya diringi dengan isakan kecil. Ia menenggelamkan wajahnya di perut Sehun. Mencoba memastikan semua ini bukan khayalan semata.
Sehun mendesah kecil. Tangan kecilnya membelai surai Lu Han penuh kasih. Sesekali ia menundukkan kepalanya untuk memberi kecupan di puncak kepala laki-laki itu.
" Aku hanya ke supermarket di bawah, Lu. Membeli susu dan americano untukmu. Aku sudah memberitau mu tadi kan ?"
Lu Han menggeleng. Ia sudah berhenti menangis tapi masih saja tetap memeluk perut Sehun yang rata itu.
" Kau tidak bilang kau ingin turun ke bawah, Sehun."
" Astaga, baru saja aku bilang padamu, Lu. Kau bahkan menyuruh ku untuk membelikanmu es krim vanilla."
Ehh ?
Perlahan ia mendongak. " Es krim vanilla ?"
Sehun mengangguk sok innocent. " Iya, sayang."
Lama ia terdiam. " Oh Sehun !"
Sehun tercengir. Ia menarik kepala Lu Han agar kembali tenggelam di perutnya. Tidak ingin mendengar ocehan dari kekasihnya itu.
" No ice cream seawal pagi ini, Sehun."
" Tapi aku merindukan es krim, Lu."
" No means no."
" Ayolah, sayang. Sedikit aja. Tidak apa-apa kan ." Sehun melepaskan pelukan itu dan memberikan nya tatapan memelas. Mata kelabu favoritnya itu bersinar.
" Es krim bukan untuk dijadikan sarapan, my sweetheart. Dan kau sudah membuatku menangis di awal pagi ini. Setidaknya buatkan aku sarapan pagi !"
" Huh, makanya jangan menangis sewenangnya. Malu dong dengan anak SD." Sehun mencubit kedua pipinya gemas.
" Hey, salah siapa sehingga aku harus menangis, hmm ?"
Sehun memutar bola matanya malas. Ia berdiri dan menghulurkan tangannya kepada Lu Han. " Ayo, berdiri."
Lu Han tersenyum kecil. Hatinya menghangat saat merasakan semua ini ternyata realiti. Bukan mimpi doang. Dengan menggunakan huluran tangan Sehun, ia menarik Sehun menyebabkan tubuh mungil itu jatuh ke dalam pelukannya.
" Hahhh, aku sangat mencintaimu, Oh Sehun ~~!" Teriaknya pelan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
" Jadi tadinya kau menelepon ku gara-gara Sehun pergi ke supermarket di bawah dan kau menyangkanya pergi lagi ? Astaga, Lu Han. Kenapa aku masih tetap berteman denganmu ?!"
Sehun tersenyum kecil. Ia memeluk lengan Minseok. " Karna Lu Han ku itu pantas untuk di ajak berteman denganmu, Minseok hyung. Lagian, Lulu kan cuman panik tadi."
" Hey, Oh Sehun. Singkirkan tanganmu dari Minseok ku !"
" Maaf, Minseok. Aku cuma panik. Dia pergi tanpa memberitau ku."
Sehun mempout bibirnya imut. " Aku sudah memberitau mu, Lu. Dan kau bilang iya, jangan lama. Makanya aku turun ke bawah."
Lu Han menjelir lidahnya saat melihat Sehun masih dengan pendiriannya itu. Ia menyumbat bibimpap -Baekhyun membawanya ke apartemen Lu Han dan sekarang mereka lagi sarapan-.
" Huft, seharusnya kita tidak ke sini, Minseok. Mereka menyebalkan."
Minseok menghembus nafasnya pelan. Ia menatap Sehun sebelum mengacak surai kelabu itu pelan. " Apapun, terima kasih karna tetap di sini, Sehunna."
Sontak Sehun tersenyum. Ia tau, kepergiannya lima tahun yang lalu banyak memberi impak kepada Lu Han. Dan ia kembali untuk menebus segalanya.
" Terima kasih karna tidak membuat Lu Han menjadi gila kembali."
" Tega sekali kau mengatai teman mu ini gila !"
" Memang kau gila sih."
Baekhyun mendengus kuat. " Huft, enough guys. Aduh, kapan kalian akan bersikap seperti dewasa sih."
Sehun mengangguk mengiyakan. Ia melepaskan pelukan di lengan Minseok itu dan beralih untuk menggapai gelas kaca yang berisi susu itu.
" Oh, iya." Minseok menepuk jidatnya pelan. " Aku hampir lupa. Malam ini, Baekhyun dan aku akan pergi ke Festival Musim Luruh. Kau ingin ikut ? Ada pesta kembang api loh."
Mendengar itu membuat Sehun tersenyum lebar. Matanya bersinar dan membulat seketika.
" Kembang api ? Aku mau, hyung. Lu, kita akan pergi kan ?" Ia menatap Lu Han dengan tatapan memelasnya yang paling berkesan dan tersenyum saat melihat anggukan kecil dari kekasihnya itu.
" Assa !"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mulutnya ternganga lebar saat melihat pancaran warna warni di langit kelam itu. Malah permen kapas yang sedari tadi ada dalam genggamannya tidak terusik karna asiknya ia menatap kembang api yang terpancar di langit.
Lu Han yang melihat itu tersenyum hangat. Ia mengeratkan genggaman tangannya dan membawa kemari halus itu ke bibirnya lalu mengecupnya pelan.
Kecupan ringan itu berhasil membuat sang malaikat menoleh kearahnya. Pipi nya memerah dan ia tidak menatap Lu Han lama. Justru, dia kembali menatap kembang api.
' Kau harus tetap lakukan malam ini, Lu Han. Jangan panik dan tenang kan pikiran mu. Aku dan Baekhyun akan melihat kalian berdua dari jauh. Apapun yang terjadi, lakukan ! Arraseo ?!'
Kata-kata dari Minseok itu terngiang di pikirannya. Ia memberanikan dirinya untuk menatap wajah cantik Sehun. Meskipun ia hanya bisa melihat sisi laki-laki itu saja, Sehun tetap sempurna di matanya. Sehun tetap yang paling indah yang pernah ia ketemui.
Kadang ia terpikir, bagaimana jika kali ini Sehun akan pergi seperti lima tahun yang lalu ?
Saat Lu Han sudah yakin bahawa Sehun akan tetap di sisinya.
Saat Lu Han sudah yakin Sehun akan tetap tersenyum untuknya sehinggalah rambutnya memutih.
Saat Lu Han sudah yakin Sehun akan tertawa hangat untuknya sehinggalah kulitnya mengeriput.
Mungkin Lu Han juga akan menyusul Sehun jika kali ini Sehun harus pergi lagi.
Karna Lu Han tidak akan pernah membiarkan Sehun sendirian.
Ia akan tetap di sisi Sehun.
Di manapun.
Kapanpun.
Lu Han tetap akan ada di sisi Sehun.
" Sehunna~" panggilnya pelan.
Sehun menoleh bersama senyuman di bibirnya yang tidak pernah gagal memberi kehangatan di hati kecil Lu Han. Mau tidak mau, Lu Han ikut tersenyum.
Ia membawa sekali lagi jemari halus Sehun ke bibirnya lalu mengecup nya ringan. Ibu jarinya mengusap cincin yang masih kekal di jari manis Sehun itu.
" Aku mencintaimu, Sehunna."
Sehun terkekeh kecil. Meski begitu, pipinya memerah.
" Aku juga mencintaimu, Lu."
Lu Han membawa Sehun masuk ke dalam dekapannya. Ia mengeratkan pelukan itu dan menghirup aroma manis yang keluar dari tubuh Sehun. Ia memejamkan matanya erat, mencoba merasakan kehangatan dari Sehun. Mencoba menyatukan aroma tubuh nya dengan Sehun.
" Jangan pergi lagi, Sehunna. Kehidupan tanpamu saat lima tahun yang lalu begitu berat untukku. Setiap pagi aku akan berdoa kepada Tuhan untuk mengembalikan mu kepadaku. Setiap pagi aku akan berharap itu semua mimpi dan kau masih tetap tersenyum di sisiku. Jadi kumohon, Sehunna. Jangan pernah pergi lagi dariku."
Lu Han melepaskan pelukan itu dan menatap ke dalam anak mata Sehun. Mata itu masih saja sama seperti dulu. Selalu dan selalu menjadi favoritnya.
Kelabu, polos dan penuh dengan limpahan cinta untuknya.
Ia mengecup lama dahi mulus Sehun. Tidak peduli dengan orang ramai yang ada di sana.
" Mungkin aku bukan laki-laki romantis yang bisa melakukan semua yang kau inginkan. Tapi percaya lah, Hunna, aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Seluruh yang ada pada diriku ini sudah mutlak menjadi milikmu. Sehari tanpamu, aku tidak bisa. Aku tidak bisa bernafas jika bukan dari udara yang sama denganmu. Aku tidak bisa tersenyum jika bukan kau yang menjadi alasan untuk aku tersenyum. Aku ... tidak bisa."
Ia mengusap pipi tembam Sehun. Merasakan bagaimana halus nya kulit itu di bawah sentuhannya.
" Aku ingin kita hidup bersama selamanya Sehunna. Mungkin kita akan berkelahi atau mungkin masalah yang lain akan terjadi dalam kehidupan kita nantinya. Tapi satu yang aku ingin kau tau, hati ini..." Lu Han membawa sebelah tangan Sehun dan membiarkan tapak tangan yang kecil itu menekap di dada kirinya. " Hati ini akan selalu untukmu. Hati ini akan selalu berdetak dengan membawa namamu. Hati ini akan selalu mengingankanmu."
" Lu..." mata kelabu itu berkaca. Menatap Lu Han dengan tatapan yang entah.
Tatapan yang tersirat dengan pelbagai rasa.
Cinta, benci, rindu, amarah, takut, sedih dan banyak lagi.
Bergaul menjadi satu.
" Marry me, Sehunna. Biarkan aku menjagamu selamanya. Biarkan aku menjadi alasan untuk kau tetap di sini. Mungkin aku bukan cukup sempurna untukmu, tapi aku akan sempurna jika kau di sisiku. Bahkan jika kau menyuruh ku memetik bintang, aku akan petikkan untukmu , Sehunna. Grow old with me, Oh Sehun."
Ia bersimpuh di depan Sehun. Menghulurkan kotak kecil yang berisi cincin bertatahkan berlian kecil. Bersinar di bawah sinaran bulan.
Di depan semua orang, Lu Han mengikat Sehun sebagai miliknya. Sebagai haknya.
Sehun terdiam. Airmatanya sudah deras keluar dan membasahi wajah manisnya. Ia tersenggukan dan berusaha untuk menghentikan tangisnya. Menatap ke dalam anak mata Lu Han. Mencari kejujuran.
dan yang ia ketemui hanya lah cinta, cinta, cinta dan rasa ingin melindungi, memiliki.
Perlahan ia mengangguk. Mengabaikan siulan dari orang di sekeliling mereka. Mengabaikan Baekhyun yang melihat mereka bersama dengan tangisan bahagia. Mengabaikan Minseok yang tersenyum hangat kepada mereka.
Sehun memeluk Lu Han erat. Menghamburkan tangisnya dalam dekapan sang kekasih. Mencoba ingin mengatakan sesuatu.
" Aku mencintaimu, Lu. Sangat dan sangat mencintaimu."
Ia mendengar tawa kecil dari Lu Han dan sebuah kecupan di pipi nya.
Rasanya begitu hangat.
Rasanya begitu sangat dicintai.
Rasanya begitu terlindung.
Sehun tersenyum kecil.
Di sinilah tempatnya.
Di sinilah ia harus ada.
Di sisi Lu Han.
Selamanya. Sehinggalah Tuhan memisahkan nyawa mereka. Sehinggalah Tuhan menghentikan nafas mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Okay , happy ending for HanHun ~~
Hey, tiada siapa yang ingin Request Drabble dari Chiey ?
Chiey lagi bosan dan ide tidak keluar. Helpp ~~
FYI, chapter ini sequel untuk My Fallen Angel.
Lastly, pls review and don't be a silent reader. Thank you.
Hugs&kisses for you. Thanks very much for read.
