# Romeo and Juliet
# Lu Han, Sehun
# Angst
# Drabble prompt : Romeo!Lu Han and Juliet!Sehun. Full inspired from ' Romeo And Juliet '. A modern Romeo and Juliet.
Noted : Prepare your tissues and pillow. This gonna be worst and boring. Warning!GS
####
Aku mencintaimu. Kau tau itu kan ? Aku akan tetap mencintaimu meskipun besoknya aku harus pergi. Meskipun besoknya kita harus tidak saling mengenal. Aku mencintaimu.
Ketukan dan bunyi yang terhasil dari jendela berkaca itu membuat Sehun bangkit dari kasurnya. Kamar besar dan mewah itu kelihatan kelam, dengan sedikit menarik gaun malam panjangnya. Sehun membuka jendela kamar dan senyuman automatis terukir, mencantikkan lagi wajah manis yang sememangnya anggun dan berseri.
" Ayo, Han." Suaranya hampir tidak kedengaran, sesekali pandangan matanya berbalik dari sosok laki-laki yang sedang memanjat menuju kamarnya dan ke pintu kamarnya yang sudah terkatup rapat. Takut-takut kalau ayah atau ibu nya akan melangkah masuk bila-bila masa yang mereka inginkan.
" Maaf, aku terlambat." Suara rendah khas seorang laki-laki berbisik dalam keheningan malam. Surai hitamnya sedikit berantakan, mungkin gara-gara usahanya untuk memanjat ke kamar setinggi dua lantai itu.
Sehun tersenyum manis. Gadis dengan rambut halus berwarna cokelat itu beralih memeluk tubuh tegap sang laki-laki atau kau bisa panggil sebagai namjachinggu nya. Rasanya aman sekali saat dia berhasil mendengar degupan jantung ini. Begitu memberi kesan yang besar di hatinya sendiri.
" Aku merindukan mu, Lu Han."
Lu Han membalas pelukan seraya mengelus surai lembut sang kekasih. Tanpa melepaskan pelukan, Lu Han membawa Sehun ke kasur. Seolah kamar itu kamar mereka berdua. Seolah kamar itu adalah kamar yang mereka kongsi bersama.
" Maaf, sayang. Aku punya hal tadi. Tapi jangan khawatir, sekarang aku ada di sini. Aku ada di sisi mu."
Beberapa kecupan lembut, selembut sutera yang bisa membuai Sehun dalam manisnya cinta dan kasih sayang. Sontak tangan kecilnya menekap di sebelah pipi laki-laki yang memegang marga Lu itu penuh dengan tatapan mencintai, tatapan memuja.
" Tidak apa. Asal kau sudah ada di sini. Asalkan aku bernafas dari udara yang sama denganmu, semuanya akan baik-baik saja."
" Hey, kau berpuitis dalam keheningan malam. Ada sesuatu yang menganggu mu ?"
Sehun menggeleng kecil. Ia mengeratkan pelukan nya di pinggang Lu Han. Berusaha untuk mengambil haruman Lu Han sebanyak yang mungkin. Haruman Lu Han yang selalu bisa menenangkan hati kecilnya. Sehun memejamkan matanya, mengumpul haruman Lu Han dan menikmati usapan tangan kokoh itu di surainya.
Semuanya terasa sempurna. Asalkan kau berada di dekapan ku, semuanya akan menjadi sempurna. Aku tidak butuhkan dunia jika kau sudah ada di sisiku. Aku tidak butuhkan apa-apa selain dirimu. Selain kasih sayang dan cinta darimu.
" Aku ingin seseorang membunuh anak perempuan Oh. Jangan biarkan anak pecundang itu hidup jika kau ingin terus bernafas di dunia ini, Ryu."
Sontak Lu Han mendongak. Tidak berhasil untuk menutupi ekspresi kagetnya membuatkan sang ayah melihatnya dengan curiga.
" Kenapa dengan ekspresi mu itu, Han ? Kau tidak suka mendengar cadangan Baba ini ? Atau apa kau punya kaedah lain untuk membunuh anak perempuan Oh ?"
Lu Han berusaha mengawal dirinya meskipun itu hanya kelihatan seperti orang bodoh. Ia mengukir senyuman kecil untuk baba nya, berharap laki-laki tua yang mempunyai kaki lumpuh - gara-gara masa lalu - tidak akan mengesyaki dirinya.
" Serahkan dia kepada ku, Baba. Aku akan mengurusnya."
Sang ayah kelihatan begitu senang mendengar apa yang dia ucapkan. Seolah kata-kata itu lah yang ditunggui selama ini.
" Jangan mengecewakan ku, Han. Kau anak ku satu-satunya. Bunuh anak perempuan Oh dan bawa hatinya ke sini."
Hey, kau percaya dengan ku kan ? Apa pun akan kulakukan untukmu. Jika saja kau meminta bintang di angkasa, aku akan memetiknya untukmu. Jika kau meminta hatiku, aku akan berikan seluruh yang ada pada diriku.
Sehun memejamkan matanya saat Lu Han berhasil menyatukan diri mereka bersama. Bersatu dalam kehangatan, bersatu dalam penuh rasa cinta. Membuat cinta yang ada di dalam hati membesar dengan begitu cepat dan kukuh.
" You're so beautiful, Sehunna. And you're mine. Tiada satu orang pun yang boleh membawa mu pergi dariku. Kau milikku. Hari ini, besok dan selamanya. "
Pipi sang gadis semakin memerah, seiring dengan aktivitas panas mereka. Surai dark brown milik sang gadis kelihatan berantakan, pipinya begitu merah, bibirnya terbuka tutup dan kedua tangannya membawa Lu Han turun untuk menyatukan kehangatan bibir mereka.
" Han.." Sehun mendesah, meskipun berulang kali dia cuba menghalang apa apa bunyi yang keluar dari bibirnya, tetap tidak bisa.
Lu Han tunduk, memberi kecupan hangat di pipi sang perempuan. Sebelah tangannya mengenggam tangan yang lebih kecil dan halus darinya itu. Hatinya berdetak dengan begitu cepat melihat bagaimana cantiknya dan sempurnanya Sehun sehingga tanpa sadar membuat airmatanya menetes.
" Han, hey love, kau menangis..." sebelah tangan Sehun yang tidak digenggam naik, menekap di pipi Lu Han yang basah. Mengusapnya penuh lembut dan Lu Han hampir saja terisak begitu merasakan saluran cinta dari Sehun melalui tapak tangan halus itu. Dia menyembunyikan wajah nya ke potongan leher Sehun, menghentikan seketika aktivitas mereka.
" Ada yang menganggu mu ?" Suara Sehun begitu penuh dengan perhatian, sementara tangannya mengusap surai hitam Lu Han, mencoba menyakinkan apa pun yang menganggu Lu Han itu bisa diselesaikan dengan baik.
" Baba ... baba ingin aku membunuh anak perempuan Oh."
Gerakan tangan Sehun sempat berhenti sebentar tapi tidak lama. Sehun tetap saja mengusap surai Lu Han.
" Kau tau aku mencintaimu kan ? Kau percaya dengan cintai ini kan, Sehun ? Aku mencintaimu, aku begitu mencintaimu." Lu Han memberi kecupan halus di leher Sehun.
" Aku tau, Han. Aku juga mencintaimu."
" Kalau begitu, ikut denganku, Sehunna."
Lu Han menatap mata cokelat milik Sehun.
" baiklah, kemana pun kau pergi... Bawa aku bersama mu." Ucapnya diiringi dengan senyuman yang begitu manis. Begitu cantik.
Aku akan tetap mencintaimu meskipun dunia mengejar kita. Aku akan tetap mencintaimu meskipun dunia membenci kita. Kau percaya dengan ku kan ? Aku akan melindungimu dengan nyawaku. Aku akan melindungimu dengan nafasku. Jadi, tetaplah disisku buat selamanya.
" Aku tidak bisa lari lagi, Han. Kakiku, kaki ku sakit."
Lu Han mengelap keringat yang mengalir di dahi Sehun menggunakan tangannya. Ia tunduk mengecek kaki Sehun dan merutuk kesal saat melihat luka besar yang sedang berdarah menghiasi kaki mulus kekasihnya.
" Naik di punggung ku, Hun. Sebentar lagi, sebentar saja lagi kita akan sampai ke jalan utama."
Dengan segala kekuatan yang tersisa, Lu Han berlari bersama Sehun di punggungnya. Tidak peduli dengan teriakan yang riuh dari belakang mereka. Hanya melihat kedepan untuk mencapai kebahagiaan yang tidak pernah tergapai.
Sedikit lagi. Sedikit lagi dan semuanya akan bermula dari titik asal di mana hanya ada aku dan dirimu. Kita akan tinggalkan semuanya ke belakang, kita akan melupakan semuanya.
Mereka beruntung ada mobil yang melalui jalan besar dan gelap ini.
" Terima kasih, Tuan."
Laki-laki tua yang membawa mobil usang dan tua namun selesa itu tersenyum hangat.
" Tidak apa, anak muda. Istirahat lah, pasangan mu itu kelihatan lelah dan kau juga sepertinya kehabisan energi yang banyak."
Lu Han mengangguk. Menoleh ke sebelah kirinya, hanya melihat Sehun yang tidur dengan kepalanya menyandar di pundak Lu Han. Dia mengeratkan genggaman tangan mereka dan sebelah tangannya menyelitkan surai cokelat Sehun yang menutupi separuh dari wajah cantik itu.
Mereka akan baik-baik saja. Dan mereka akan memulakan kehidupan baru mereka di tempat tiada siapa pun yang mengenali mereka. Mengenali mereka sebagai keluarga dari Oh dan Lu yang besar. Yang tidak pernah akur dan bermusuhan semenjak dulu lagi.
Hey, semua ini. Semua perkara konyol dan berani ini. Semua yang aku lakukan hanya lah untuk kebahagiaan mu. Jika kau menangis aku juga akan menangis, jika kau tersenyum aku juga akan tersenyum. Dan ...
Jika kau pergi aku juga akan pergi.
Bang
Brukkk
Lu Han terbangun dengan teriakan Sehun yang memanggil namanya. Dengan pantas ia membuka matanya dan kaget saat melihat laki-laki tua itu tadi sudah terkulai layu bersama darah merah yang membasahi tubuhnya. Adrenalin di dalam badannya mengalir dengan deras saat melihat Sehun diheret oleh dua orang yang ia yakin suruhan Babanya untuk menghapuskan anak perempuan Oh.
" Tidak ! Jangan kalian berani menyentuhnya sedikit pun !" Dia berteriak, berlari keluar dari mobil itu dan menuju ke arah Sehun namun hanya beberapa langkah karna gerakannya terhenti saat melihat hunusan pisau yang tajam berkilat itu berdiri dekat dengan leher mulus kekasihnya.
" Tuan Lu sangat kecewa denganmu, Lu Han. Seharusnya kau ingat, apa yang keluarga Oh ini lakukan kepada keluarga mu."
Lu Han mengenggam tangannya erat sehingga kukunya memutih, rahangnya bahkan menjadi keras saat melihat raut Sehun yang kesakitan saat hujung pisau itu menekan masuk secara perlahan di lehernya.
" Ingat apa yang mereka lakukan kepada ibumu, Lu Han. Ingat tangisan yang adikmu keluarkan gara-gara keluarga Oh ini. Kau tidak ingat dengan itu semua ? Apa kau lupa ?"
Genggamannya melemah. Bahunya bergetar saat memori beberapa tahun yang lalu bermain di pikirannya . Teriakan ibunya, tangisan adiknya, tetap saja masih menghantuinya. Pembunuhan yang sadis oleh keluarga Oh. Pembunuhan yang sangat tidak berperikemanusiaan oleh keluarga Oh.
Lu Han mendongak, hatinya tersentak melihat senyuman manis yang Sehun ukirkan untuknya. Begitu manis, begitu halus dan selalu saja berhasil mempompa jantung Lu Han untuk berkerja dengan lebih laju.
Sehunnya tidak mempunyai kaitan langsung dengan pembunuhan kejam itu. Sehunnya mempunyai hati yang lembut. Sehunnya paling mengerti akan dirinya.
Apa ini salah kita karna saling jatuh cinta atau salah takdir ? Aku mencintaimu, kau mencintaiku. Jadi kenapa takdir begitu kejam sehingga tidak mengijinkan kita untuk bersatu ?
Kenapa kita tidak bisa menggapai cerita cinta kita sendiri ? Kenapa kita harus menjadi seperti Romeo dan Juliet ? Kenapa kita tidak bisa menjadi seperti cerita cinta Cinderella yang bertemu dengan pangerannya dan kemudiannya hidup bahahia selamanya ? Kenapa takdir memainkan kita seperti ini ?
" Han..."
Suara itu begitu lirih. Memanggilnya dengan penuh harapan.
" Maafkan aku, Han."
Tidak.
Sehun tidak salah apa-apa. Yang salah hanya takdir. Yang salah karna mereka berdua lahir dari keluarga yang salah. Keluarga yang sangat bertentangan. Jadi, Sehun tidak salah.
" Apa kau ingin kami yang membunuhnya atau kau yang menikamnya dengan tanganmu sendiri ?"
Pertanyaan itu jelas membuat Lu Han tersentak. Matanya memerah, ia maju selangkah, setidaknya untuk memberikan bogem mentah di wajah itu.
Berani sekali..
Berani sekali dia menanyakan soalan yang sangat jelas tidak pernah dan tidak akan Lu Han jawab.
" Berhenti di situ, Tuan Muda Lu. Jika kau tidak ingin membunuhnya biarkan kami saja dan kau duduk di situ sementara kami membunuhnya."
" Jangan menyentuhnya, sialan ! Lepaskan tanganmu ! Jangan berani menyentuhnya walau satu jari sekalipun !"
Suaranya hampir saja serak gara-gara berteriak sekuat itu. Jalanan yang besar dan kosong ini tidak menandakan ada mobil yang melaluinya dan setidaknya menolong mereka mungkin.
" Han, tidak apa."
" Sehun ?"
Sehun tersenyum lagi. Meskipun raut nya kelihatan seperti menahan sakit. Kakinya masih saja mengalirkan darah dan Lu Han bisa lihat wajah Sehun yang semakin pucat dan pucat.
" Mungkin dengan membunuhku bisa membalas segala perbuatan yang dilakukan oleh Ayahku. Aku sudah mengambil begitu banyak nyawa dari keluarga mu. Maafkan aku, Han. Maafkan aku karna mengambil semuanya darimu."
" Jangan berbicara seolah yang kau melakukan semuanya, Sehun ! Itu semua bukan salahmu, ini salahku. Seandainya aku bukan dari keluarga Lu, kau bukan dari keluarga Oh, semuanya akan menjadi baik-baik saja. Jadi jangan berbicara seperti kau yang salah."
" Tidak, semuanya salah memang dari dulu."
" Jadi, Tuan Muda. Kau ingin membunuhnya dengan tangan mu sendiri atau kami ? Tuan Lu sudah tidak sabar ingin melihat jantung perempuan ini."
Lu Han berlari menuju mereka namun sia-sia. Dua orang laki-laki datang dan menahan nya. Dia bisa saja melepaskan genggaman itu namun kedua nya mempunyai tubuh yang berotot dan besar dari dirinya.
" Jangan ! Jangan menyentuhnya, brengsek !"
" Kau ingin berbicara sesuatu kepada kekasih mu itu, Oh Sehun ? Sebelum aku membunuhmu ?"
Aku sudah berjanji untuk menjagamu dengan nyawa ku kan ? Jadi jangan menghalang ku, jika kau tiada di dunia ini. Tiada gunanya aku ada di sini. Tiada untungnya aku di sini jika aku tidak bisa mencium aroma mu, jika aku tidak bisa menyentuh kulit halusmu, jika aku tidak bisa mendengar suara halusmu. Tiada gunanya aku hidup tanpa dirimu.
" Maafkan aku, Han."
Kata-kata itu terakhir yang ia dengarkan sebelum semuanya terjadi. Sebelum hujung pisau yang tajam itu menancap tepat di dada kiri Sehun di mana jantungnya berkerja. Di mana jantungnya akan menjadi laju jika Lu Han ada di sisinya.
Lutut Lu Han melemah. Airmata juga mengalir dengan begitu saja. Pikirannya kosong serta merta. Saat ia melihat pistol yang tersimpan rapi di poket laki-laki yang sedang memegangnya itu, dia menariknya dan tanpa babibu menembak kedua laki-laki yang tadinya menahannya. Setelah itu melepaskan das tembakan kepada dua laki-laki yang menyentuh Sehunnya.
Bunyi tembakan bergema di jalanan yang kosong itu saat Lu Han terus dan terusan menembak jasad yang sudah mati.
Maafkan aku, semua ini terlalu berat. Bawa aku bersama mu. Semua ini jauh sekali dari mimpi yang kita ukirkan bersama. Meskipun kau selalu bilang, tidak kira betapa jauhnya jarak kita berdua. Kau selalu akan ada untukku. Aku tidak bisa berpikiran dengan jernih tanpa kau di sisiku, jadi maafkan aku jika aku juga pergi menyusulmu.
" Sehun, buka matamu, sayang. Hiks, Sehun."
Tangannya perlahan mencabut pisau yang masih berdiri tegak di dada kiri Sehun. Mengalirkan begitu banyak darah dan Lu Han terpaksa menutup luka itu menggunakan tangannya sendiri. Menghalang setetes lagi darah kekasihnya mengalir.
" Jangan menangis, Han." Suara itu begitu pelan. Lu Han saja hampir tidak mendengarnya.
" Kau ingat dengan janji ku ? Aku akan selalu ada untukmu, aku akan bertemu lagi denganmu. Mungkin di kehidupan yang akan mendatang."
Lu Han menggeleng laju. " Tidak, Sehunna. Tolong tetap sadar untukku. Jangan pergi, kumohon."
Dirinya sendiri sudah tidak peduli dengan darah yang melekat di wajahnya. Darah Sehun yang merah dan hangat.
Sehun mengukir senyuman untuknya. Mungkin untuk yang terakhir kalinya.
" Aku mencintaimu, Lu Han..."
Hening
Detakan jantung Sehun juga tidak terasa lagi. Mata indah yang sering membuatnya tersenyum kini sudah terkatup rapat. Tiada sebarang gerakan dari Sehun.
" Tidak ! Jangan, jangan lakukan ini kepadaku ! Sehun, bangunlah ! Sehun, kau sudah berjanji untuk hidup dengan ku ! Sehun !"
Teriakannya bergema di jalanan yang kosong. Teriakan yang begitu lirih dan penuh dengan terluka. Tangisan semakin deras mengalir membasahi wajah tampannya yang sudah bercampur dengan darah dan airmata.
" CUT !"
Gadis yang ada di pangkuan Lu Han bergerak begitu mendengar teriakan ' CUT '. Tepukan gemuruh juga kedengaran.
" Syabas. Kalian memang yang terbaik, tidak salah aku memilih pasangan suami isteri muda ini untik filem Romeo dan Juliet ! Filem ini pasti menjadi jackpot !"
Lu Han menghapus airmatanya. Tersenyum ke bawah, ke pangkuannya.
" Aigoo, my chagi cenggeng sekali. Lihat, ini airmata benaran atau palsu ? Apa sebegitu sedihnya saat aku mati tadi ?"
" Yakk ! Itu sudah pasti ! Ini semua ide mu untuk menerima tawaran Junmyeon untuk berlakon filem konyol dan sangat tidak masuk akal ini !"
Sehun tertawa kecil. Ia bangkit dari posisinya dan mengusap wajah tampan Lu Han yang masih basah dengan airmata dan darah palsuan itu.
" Filem ini kan seru, Han ! Dan airmata ini, kenapa begitu nyata ?"
Lu Han memegang tangan Sehun yang menekap di pipinya. Mengecupnya pelan dan menatap ke dalam mata Sehun yang jernih dan bersinar.
" Karna aku tidak bisa bayangkan hidupku tanpa mu."
Sontak pipi Sehun memerah. Ia melarikan pandangannya dan memutuskan untuk berdiri dari posisi mereka. Meninggalkan Lu Han yang ketawa kecil kerana tingkahnya.
" Lu Han sangat menyebalkan ! Jun, jangan pernah menawarkan filem dengan Lu Han menjadi hero nya lagi !"
Lu Han ketawa besar. Beberapa staff juga hanya mampu terkikik dan tersenyum melihat tingkah pasangan suami isteri yang masih muda itu.
" Hey, Han ! Kau menolak ku sedikit kuat dari rehersal kita ! Dan itu sakit !"
Jun Hyuk, laki-laki yang menjadi peran sebagai pembunuh Sehun tadinya itu menolak sedikit pundak Lu Han.
" Maaf, Hyuk. Pasalnya kau seperti memegang tangan Sehun terlalu kuat ! Isteriku itu tidak bisa disakiti."
" Heol, aku bahkan hanya mengenggamnya pelan ! Dasar laki-laki posesif !"
Lu Han ketawa besar lagi. Mengabaikan Jun Hyuk yang mmutar bola matanya malas. Matanya melirik Sehun yang masih berceletoh itu ini bersama dengan Junmyeon yang hanya mampu mendengar setiap bebelan dari Sehun, adiknya sendiri itu.
Seketika, memori menjadi Romeo tadi melintas di pikirannya.
Bayangan hidup tanpa Sehun membuat Lu Han sesak nafas.
Jadi dia lebih memilih...
... lebih baik menjadi rakyat biasa saja untuk Sehunnya.
####
BOOYAH !
Di harap para readers mengerti dengan jalan ceritanya. Jika tidak mengerti, langsung tanya yah ~~
Who wants double update ?
