The Best Father in the World

Naruto by Masashi Kishimoto

.

Chapter 2 : Believe

Shikamaru and Shikadai

.

.

Terkadang kebohongan dilakukan bukan untuk sebuah kejahatan. Kebenaran disembunyikan untuk menutupi kenyataan yang menyedihkan.

.

.

Jika boleh jujur, Shikadai akan mengatakan bahwa ayahnya adalah orang yang paling ia kagumi di dunia ini. Pria itu pintar, pekerja keras dan seorang ayah berkepribadian baik yang dapat mendidik anaknya dengan cerita penuh nasehat. Sungguh beruntunmg ibunya menikah dengan sang ayah.

Ayahnya, Shikamaru, nyaris bekerja sepanjang hari dan pulang hampir tengah malam. Kecuali hari sabtu. Pria itu akan pulang lebih awal, sehingga memiliki banyak waktu untuk menemani Shikadai dan mengisahkan banyak cerita masa mudanya yang menakjubkan.

Shikadai selalu puas dengan cerita itu. sebab ada begitu banyak nasehat yang dapat ia petik, itu lebih bermanfaat dari pada menghabiskan waktu untuk bermain game.

Seperti malam itu ketika ia menonton film kartun yang tengah menayangkan sebuah pemukiman di dekat lereng gunung.

"Itu mirip tempat yang pernah ayah kunjungi dulu. Film kartun itu pasti mengambil latar tempat di sana." Shikamaru berujar. Malam minggu adalah saat bersantai yang menyenangkan besama keluarganya.

"Benarkah?" Shikadai yang saat itu masih berumur 10 tahun bertanya antusias. Memperhatikan tempat yang ditayangkan di TV sebelum mematikannya dan fokus menatap sang ayah.

"Kenapa dimatikan TV nya?"

"Karena aku lebih tertarik dengan cerita ayah. Ayo lanjutkan yah!" mata bocah itu berbinar memohon.

Shikamaru menghela napas panjang. "Memangnya apa yang ingin kau tahu?"

"Apa saja, cerita ayah selalu menarik. Aku ingin mendengarnya hingga akhir." Ia duduk lebih dekat dengan sang ayah. Tetap fokus menatap pria yang masih terkekeh menatapnya tersebut.

"Baiklah. Ayah akan mulai dari kenapa ayah bisa sampai di Pulau itu."

"Pulau? Ayah tadi bilang pemukiaman di lereng gunung. Kenapa sekarang jadi pulau?"

"Dengarkan ayah dulu." Tangan kekarnya mengacak rambut putra tunggalnya itu dengan gemas. "Waktu ayah masih menuntut ilmu di Tokyo, ayah penasaran dengan pulau hijau yang sering disebut-sebut teman-teman ayah. Mereka mengatakan jika pulau itu begitu menakjubkan. Entah mereka tahu dari mana, padahal mereka belum pernah berkunjung ke sana."

Shikadai masih setia menanti kelanjutan cerita sang ayah. Jadi ia diam dan nyaris tak bergerak karena takut jika ia bergerak sedikit saja, sang ayah tak akan melanjukan ceritanya.

"Pada awalnya ayah kira itu cuma bualan mereka." Pria itu tertawa pelan. "Tapi karena rasa penasaran ayah yang tidak lagi bisa dikendalikan, maka ketika liburan semester ayah memutuskan untuk mencari tempat itu. tentunya secara diam-diam agar teman-teman ayah tidak tahu."

Nara muda itu mngernyitkan kening, kenapa sang ayah harus mencari desa itu secara diam-diam? Padahal mungkin saja, teman-temannya juga penasaran dengan tempat yang menakjubkan tersebut. Namun, ia terlalu malas untuk sekedar meloloskan pertanyaan singkat.

"Ayah pergi ke sana naik perahu kecil dengan diantarkan oleh nelayan muda seumuran ayah yang baik hati. Dia mengantarkan ayah secara cuma-cuma, tanpa bayaran sepeser pun. Padahal ayah sudah berusaha membujuknya. Nelayan itu bilang, ayah kelihatan terlalu miskin untuk ukuran turis asing yang tengah melakukan liburan. Jadi... ayah hanya mengucapkan terima kasih." Matanya menerawang ke depan, melamunkan hal-hal yang tak dapat dimengerti Shikadai. "Nelayan itu bernama Naruto, dia menceritakan banyak hal tentang pulsu hijau itu. Dan itu nyata. Pulau itu bukan sekedar bualan seperti yang ayah pikirkan sebelumnya, pulau itu benar-benar ada."

"Jadi ayah melihat pulau itu langsung? Bagaimana, apakah indah?" rasa penasarannya semakin membuncah, menggelitik ubun-ubunnya yang tak pernah berheni ingin tahu banyak hal.

"Tunggu sebentar. Perjalanan ke desa itu tidaklah mudah. Perahu kecil kami beberapa kali dihantam ombak dan nyaris tenggelam. Hujan turun begitu deras, seolah kami akan mati saja di sana. Langit begitu kelam seperti akan runtuh kapan saja, dan halilintar memecah langit dengan cahaya mengerikan. Guntur sahut-menyahut. Kami kedinginan di tengah lautan." Matanya kembali teralih pada bocah kecilnya. "Dan paginya, kami terdampar di sebuah pulau. Sebenarnya itu bukan terdampar, tapi itulah pulau tujuan kami. Dan Naruto sudah sering ke sana, hanya saja beberapa kali perjalanannya tak pernah mengalami hal buruk seperti yang terjadi kemarin."

Shikadai mengangkat alisnya, mulutnya setengah terbuka, mengekspresikan rasa takjubnya yang luar biasa.

"Makan malamnya sudah siap." Ibunya berkata dari ruang makan.

Shikamaru tersenyum. "Ayo makan dulu, ayah lapar sekali."

"Yah... kau belum melanjutkan ceritamu." Anak itu merengut, kesal dengan ajakan sang ibu.

"Kita bisa selesaikan lain kali, masih banyak waktu kan?" tangannya mengelus kepala Shiakdai dan menarik tangannya pelan untuk mengajaknya ke ruang makan, di mana sang ibu tengah menunggu dengan wajah pebuh senyum.

.

.

Tapi hingga beberapa hari kemudian. Cerita itu tetap dibiarkan menggantung tak berlanjut. Sang ayah sibuk bekerja. Dan meskipun Shikadai berusaha terjaga hingga malam, ia tak pernah bisa mempertahankan matanya tetap terbuka hingga tengah malam. Karena pada akhirnya ia akan jatuh tertidur dengan posisi tak elit di atas tempat tidurnya. Dan ketika cahaya matahari pagi mulai menyentuh wajahnya. Selimut tebal sudah membungkus rapi tubuhnya. Ibunya bilang ayahnya selalu mengecek ke kamarnya tengah malam dan menyelimuti tubunya, hanya saja anak itu tak pernah sadar.

Sarapan pagi tak begitu memberi kesempatan bagi mereka untuk bisa membicarakan banyak hal. Karena sang ayah akan bergegas pergi bekerja bahkan sebelum Shikadai sempat mengatakan 'selamat pagi.' Itu menyebalkan. Namun, ia tak memiliki pilihan lain kecuali menunggu sang ayah di sabtu malam depan.

.

.

Sabtu depan pun tak memberi kesempatan bagi mereka untuk dapat berbicara banyak. Selalu ada saja hal yang menganggu acara kebersamaan mereka. Mulai dari lampu kamar mandi yang mati, sehingga ayahnya harus turun tangan untuk membenahinya. Belum lagi tetangga sebelah mereka yang merupakan seorang nenek tua, dia mengeluhkan saluran airnya yang bocor. Shikadai kesal dengan nenek itu, yang terlalu banyak menyita waktu ayahnya. Karena barangkali memanggil tukang ledeng akan membantu segalanya. Namun, entah bagaimana ayahnya dengan penuh senyum tak masalah mulai membenahi saluran air itu. pria itu terlalu baik. Dan itu malah membuat bocah Nara tersebut mengumpat beberapa kali di dalam hati.

Malam itu ia tidur lebih awal. Berharap rasa dongkol yang menguasai hatinya hilang dan tak membuatnya semakin ingin memarahi siapa saja yang melintas di hadapannya.

Hari Minggu siang. Ketika ia pulang ke rumah dengan air mata yang berderai karena olokan Inojin, sang ayah mendekatinya. Mengajaknya duduk di teras rumah. Dan menenangkannya dengan kalimat-kalimat nasehat yang selalu membuatnya tenang.

"Naruto selalu bilang pada ayah, kadang orang lain akan menganggap kita aneh hanya karena kita tidak sama dengan mereka. Mereka mengolok kita hanya karena pemikiran kita berbeda dengan mereka, atau juga karena fisik kita yang tak sempurna di mata mereka." Pria Nara itu menghela napas panjang. "Tapi tak perlu sakit hati hanya karena ucapan pedas semacam itu. mereka boleh mengolok kita. Mereka boleh bilang bahwa kita orang konyol dan aneh. Tapi jangan berkutat dengan hinaan itu. jika bisa, tersenyumlah, dan tunjukkan pada mereka jika kau mampu melakukan yang lebih baik. Dan buktikan jika kau bisa lebih hebat dari mereka yang mengolokmu." Tatapannya teduh, mampu membuat putranya yang semula menangis terdiam tak bersuara.

Shikadai menghapus air matanya. Nama Naruto membuatnya teringat dengan cerita ayahnya yang belum selesai tentang pulau hijau tersebut. Maka dengan binar antusias ia berucap. "Ayah kau belum melanjutkan ceritamu. Ayo ceritakan padaku tentang pulau hijau itu."

Shikamaru tertawa pelan. Bahkan satu minggu telah lewat, namun ingatan putranya masih cukup kuat. "Baiklah, baiklah. Sampai mana kita waktu itu?"

Anak itu mengerutkan kening. Berpikir, berusaha keras untuk mengingat telah sampai mana cerita sang ayah. "Aku tahu. Ayah dan teman ayah terdampar di sebuah pulau."

"Ya. Kau mengingatnya dengan sangat baik. Ayah akan mulai ceritanya sekarang." Shikamaru menghela napas panjang. "Setelah kami sampai di pulau itu, kami melihat hutan lebat di tepi pantai. Naruto bilang itu adalah jalan menuju desa hijau. Kami menyusuri hutan itu hampir seharian, lelah sekali rasanya. Ketika matahari nyaris terbenam kami baru sampai di sana. Ya Tuhan... desa itu luar biasa indah. Tampak hijau sekali dari balik bukit, dan sebuah gunung berapi yang masih aktif tampak menjulang di ujung yang lain. Sebenarnya ayah cukup merinding membayangkan jika gunung itu tiba-tiba meletus. Barangkali kami semua akan mati di sana."

Shikadai menyimak dengan baik. Melupakan olokan Inojin dengan cepat. Ia menelan ludahnya, ngeri mendengar cerita ayahnya. Ya gunung aktif bisa meletus kapan saja. Dan itu tampak mengerikan.

"Kami menemui kepala desa di sana. Kepala desa itu menerima kami dengan sangat baik. Dan meskipun Naruto sudah sering pergi ke tempat itu, dia tetap takjub dengan keramahan penduduknya yang luar biasa." Shikamaru tersenyum, ada banyak kata yang berhamburan di otaknya. Dan benda jenius itu tengah merangkainya dengan begitu teliti."Ayah dan Naruto tinggal di sana selama satu minggu. Melihat bagaimana mereka menggembalakan kambingnya. Bercocok tanam dengan tanah vulkanik yang teramat subur. Udara segar di sana membuat kami merasa nyaman. Barangkali itulah surga dunia yang sesungguhnya."

"Ayah... apa mereka berpakaian?"

Pertanyaan itu membuat Shikamaru tertawa. "Tentu saja. Mereka membuat pakaian mereka sendiri dengan serat-serat kapas. Kehidupan mereka tidak kalah dengan daerah lain di Jepang."

Nara muda itu mengangguk paham. Barusan ia berpikir bahwa orang yang tinggal di daerah terpencil biasanya masih begitu tertinggal. Tapi nyatanya yang dikisahkan sang ayah tentang desa itu berbeda.

"Di sana tidak ada sekolah seperti di daerah kita. Para ibu-ibu di sana wajib memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Misalnya menulis dan membaca. Biasanya mereka melakukannya di pagi hari. Sebab siang hari para ibu-ibu itu akan disibukkan dengan kegiatan menenun."

"Hei yah, dari mana ibu-ibu itu belajar membaca dan menulis?" keningnya berkerut begitu serius, hingga kedua alisnya nyaris menyatu karena kerutan tersebut.

"Dahulu ada seorang pendatang dari luar yang mengajarkan membaca dan menulis pada penduduk di sana. Mereka belajar dengan baik. Pendatang itu memutuskan untuk menjadi bagian dari penduduk di sana hingga akhir hayatnya. Nah... sejak saat itu kepala desa mewajibkan penduduknya untuk bisa membaca dan menulis."

Selama kisah itu terus berlanjut, Shikadai sering menyela tiap kali timbul pertanyaan di benaknya. Ia suka saat seperti ini. Karena dengan mendengarkan kisah sang ayah beban pikirannya terlupakan sejenak. Namun, ia tak pernah menyangka jika ia akan tumbuh dewasa dan di saat-saat seperti itulah ia akan mulai bosan dengan hal-hal yang ia sukai ketika masih kecil. Manusia bisa berubah, lingkungan bisa mempengaruhinya. Beban hidup yang terlalu banyak juga bisa mempengaruhi. Pola pikir yang terlalu negatif kadang memunculkan hal buruk yang dapat menggeser kebaikan. Mematikan nurani yang bersih dari sifat tercela. Tapi sejatinya, goresan takdir Tuhan selalu berjalan sesuai rencanya.

.

.

Ketika Shikadai akhirnya keluar dari sekolah menengah pertamnya dan mulai masuk SMA. Tak tanggung-tanggung sekolah yang dipilhkan Shikamaru untuk putranya, dia menyekolahkan anak itu di sekolah paling bergengsi di kotanya. Melupakan biaya yang harus ditanggungnya. Kapan pernah ia memikirkan dirinya sendiri, ia merasa tanggung jawab seorang ayah sepenuhnya adalah untuk keluarganya, untuk anaknya. Jadi, ia selalu menginginkan yang terbaik untuk buah hatinya tersebut. Dan lagi, putranya begitu jenius. Ia tak pernah main-main soal masa depan anak itu.

Sebagai anak yang baik. Shikadai bukanlah bocah ugal-ugalan yang suka pergi keluar tiap malam dan berkumpul bersama teman-temannya. Bukannya ia seorang introvert yang tak memiliki teman, temannya banyak. Hanya saja, ia tahu waktu untuk mengkondisikan segala aktivitasnya agar berjalan sempurna.

Ia seorang remaja, dan pemuda itu tahu. Namun, tetap saja, ia lebih suka menghabiskan waktunya di rumah dengan hal-hal positif seperti membantu memangkasi tanaman di depan rumah yang mulai rimbun, atau juga sesekali membantu sang ibu mencuci piring. Bagi sebagian besar anak muda, itu mungkin pekerjaan konyol, tapi ia tak menganggapnya begitu. Terserah teman-temannya menilainya bagaimana, yang terpenting ia tak melakukan kesalahan yang menyangkut-pautkan mereka.

.

.

Bel istirahat siang baru 5 menit yang lalu berbunyi. Kelas sudah nyaris sepi karena penghuninya berebut keluar untuk pergi ke kantin. Namun, Shikadai tetap tenang di bangkunya. Mulai mengeluarkan buku bacaan dari dalam tasnya. Jika tidak pergi ke perpustakaan maka ia akan menghabiskan waktu istirahatnya di taman belakang sekolah yang cukup sepi.

"Kau tidak ke kantin?" Himawari, seorang gadis manis yang duduk tidak jauh darinya mulai mendekatinya.

Mata hitam pemuda ini hanya meliriknya sekilas, tersenyum tipis sebelum kembali ke arah buku di tangannya. "Ku rasa, tidak."

Bukannya gadis itu tak tahu kebiasaan si pemuda pendiam tersebut, tapi... setidaknya ia ingin memulai pembicaraan dengan orang yang membuatnya jatuh hati selama beberapa bulan terakhir ini. "Oh, kau mau ke perpustakaan?"

Shikadai mengangguk, dan mulai berdiri dari bangkunya. "Ya, aku memang ingin ke sana."

"Ya sudah kita ke sana bersama. Kebetulan aku juga mau ke sana." Jika dipikir-pikir lagi, memangnya kenapa ia ingin kesana? Ia tak begitu hobi membaca buku. Sekalinya melihat huru-huruf yang tercetak di dalam buku sudah mampu membuat matanya berkunang-kunang. Tapi... ya setidaknya ia bisa bersama dengan pemuda Nara itu.

"Menjijikan sekali." Inojin yang entah sejak kapan berdiri di dekat mereka mulai melontarkan kalimat. "Hei Himawari kenapa kau suka sekali berteman dengan anak kuli seperti dia?"

Shikadai terkejut dengan ucapan tak terduga itu, apa-apaan bocah Yamanaka itu menyebut ayahnya seorang kuli? Anak itu jelas tidak tahu siapa ayahnya. "Ayahku bukan seorang kuli. Kau salah menyebutkan pekerjaannya." Meskipun tampak tenang, namun kalimatnya barusan tetap terdengar membentak.

Himawari sampai dibuat tercengang dengan sikap Shilkadai. "Lagipula, kenapa kau peduli sekali aku berteman dengan siapa. Itu bukan urusanmu kan?"

Inojin tersenyum sinis, ia sama sekali tak peduli dengan tatapan Himawari yang seolah menyuruhnya segera pergi dari tempat itu. "Seolah kau anak orang terhormat saja. Ayahmu memang seorang kuli kan? Dan kau tidak mengakuinya? Oh ya Tuhan... anak durhaka." Nada kalimat terakhirnya membuat lawan bicaranya mengeratkan gigi geram.

"Ayahku seorang karyawan di perusahaan. Kalau kau tidak tahu, jangan mengada-ada." Rahangnya menegang. Ia melotot tak terima, sedangkan pemuda Yamanaka itu malah tertawa pelan.

"Inojin, hentikan. Kau selalu saja membuat masalah." Himawari mulai menarik tangan Shikadai untuk meninggalkan ruang kelas tersebut.

Apa yang bisa dilakukan Shikadai kecuali menurut. Ia muak melihat Inojin yang tampak begitu membencinya, lagipula apa salahnya sampai dibenci seperti itu. lebih menyebalkannya lagi ketika ayahnya disebut-sebut dalam urusan sepele ini.

"Hei, Nara. Kalau kau tak percaya, lihat saja sendiri pekerjaan ayahmu yang hanya seorang kuli bangunan itu. ada proyek pembangunan di dekat perpustakaan kota sebelah, itu jika kau masih ngotot ayahmu seorang karyawan yang terhormat." Kalimat itu terdengar samar-samar karena Shikadai sudah terlanjur keluar kelas.

"Jangan dengarkan dia. Dia memang suka membual." Himawari berusaha menenangkan, ia segera melepaskan genggaman tangannya ketika sadar jika ia sudah lancang menarik tangan pemuda itu.

Seolah sadar sikap salah tingkah Himawari, Nara muda ini malah berdehem. "Tentu saja." Ia pikir Inojin memang benar-benar tengah membual, kuli yang anak itu maksud pasti orang lain yang kebetulan mirip ayahnya. Lagipula tidak mungkin sang ayah yang berangkat kerja selalu memakai jas rapi ternyata hanya seorang kuli rendahan. Logikanya... itu tidak mungkin.

.

.

Mulut Shikadai menganga terbuka. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika ayahnya tengah sibuk dengan mesin yang tengah mengaduk pasir dan semen. Wajah lelah pria itu tergambar jelas, dan keringatnya membasahi wajahnya yang kian tampak tua. Hatinya seolah jatuh ke dasar perutnya, membawa serta rasa percayanya terhadap pria itu yang dulu begitu meluap-luap. Pada akhirnya ia memutuskan pulang dengan rasa kecewa yang melumuri hati dan pikirannya. Rasa kesalnya terlalu besar untuk bisa diungkapkan. Dan satu hal yang terus terngiang di kepalanya, bahwa ayahnya hanyalah seorang pembohong.

Malam itu, nyaris pukul 12, ketika ayahnya pulang dengan wajah sayu, ia masih terjaga dan duduk tak bisa tidur di sofa ruang tamu. Rasa lelah seolah sanggup mematahkan punggung sang ayah yang masih cukup kekar.

"Sudah larut malam begini, kenapa belum tidur?" Shikamaru menatapnya heran. Dan mulai mengunci pintu yang semula belum terkunci.

Shikadai mengabaikannya, mendecak kesal. Berdiri sembari menatap tajam pria yang sebelumnya begitu ia hormati dan banggakan tersebut. "Untuk apa ayah selalu mengenakan jas seperti itu?"

Alis Shikamaru mengernyit, matanya perlahan menyiratkan kekhawatiran. "Apa maksudmu?"

"Ayah selama ini membohongi kami? Ayah tidak benar-benar bekerja di perusahaan kan? Ayah hanya seorang kuli." Kekecewaan tidak bisa lagi disembunyikan, matanya menyiratkan rasa kesal dan marah yang tercampur menjadi kerlingan sebal. "Kenapa ayah melakukan ini?"

Pria itu diam, tak mampu menatap iris hitam putranya yang penuh gejolak amarah.

"Jawab aku yah!" suaranya agak meninggi. Untuk pertama kalinya ia berani membentak pria itu.

Shikamaru menghela napas panjang. "Karena ayah tahu. Pada akhirnya kau akan kecewa pada ayah jika mengetahui kenyataan ini. Ayah hanya tidak ingin kau malu karena memiliki ayah seorang kuli. Dan ayah memilih tak memberitahumu kebenarannya."

"Aku benar-benar kecewa sekarang. tapi bukan karena ayah adalah seorang kuli. Aku kecewa karena ayah memilih menyembuyikan semua ini dariku dan ibu." Anak itu menghela napas panjang. "Atau jangan-jangan ibu tahu soal ini dan kalian memang berencana menyembunyikan semua ini dariku?"

Shikamaru hanya diam. Kalimat Shikadai bergema di telinganya. Apa ia benar-benar salah selama ini karena menyembunyikan hal yang sebenarnya? Padahal ia kira itu adalah pilihan paling baik, agar anaknya merasa dirinya setara dengan anak-anak lain yang mungkin memiliki hidup lebih baik.

"Aku tidak suka ayah yang seperti ini, aku tidak suka dengan kau yang seorang pembohong." Anak itu meninggalkan sang ayah yang masih terdiam, menyesali sikapnya selama ini.

Pintu dibanting keras dari arah kamar Shikadai. Dan Temari muncul dari balik pintu kamar yang lain. Wanita itu tampak sedih dengan mata yang berkilau oleh air mata.

"Aku sudah katakan jika pada akhirnya dia akan tahu." Kakinya melangkah semakin mendekati suaminya. "Seharusnya kau memberitahukan yang sebenarnya tiap kali dia bertanya apa pekerjaanmu."

"Aku tidak tahu jika pada akhirnya akan begini." Tangannya yang penuh luka mengusap wajahnya dengan gusar.

Temari menepuk pundaknya untuk menenangkan. "Aku akan berusaha bicara dengannya. Dia akan mengerti."

"Semoga saja."

Dan percakapan malam mereka hanya berakhir disitu. Shikamaru terlalu lelah untuk bicara lebih banyak lagi, karena otot-otot di tubuhnya seolah memberontak ingin istirahat. Dan ia tak memiliki tenaga lebih untuk menolak keinginan tubuhnya.

.

.

Di sesi sarapan pagi mereka, hanya ada ia dan sang ibu, ayahnya sudah berangkat bekerja. Sang ayah telah terbiasa tak sarapan di rumah. Bahkan ia tidak tahu jam berapa laki-laki tersebut berangkat bekerja.

"Masih marah?" Temari bertanya ketika putranya hanya diam. Tidak seperti biasanya yang lebih dulu melontarkan banyak kalimat sehingga kebersamaan mereka tidak terasa hambar seperti saat ini.

Masih tak ada jawaban. Anak itu terus mengunyah rotinya seolah ia tak mendengar pertanyaan sang ibu.

"Maafkan kami, maafkan ayah dan ibu, oke?" ia mengamati lekat-lekat tinglah anak itu yang masih tak bergeming. "Kau mau mendengar penjelasan yang sebenarnya?"

Shikadai memelankan kunyahan di mulutnya. Mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah sang ibu. Meski tak mengatakan apapun, tapi ia cukup tertarik dengan tawaran ibunya itu.

"Ayahmu memang seorang karyawan perusahaan, tapi itu dulu. Dia dipecat 3 tahun lalu karena perusahaan tempatnya bekerja mengalami krisis keuangan. Waktu itu susah sekali mencari kerja. Sementara dia masih harus menghidupi kita, maka ketika ada lowongan pekerjaan sebagai kuli bangunan ia menerimanya begitu saja. Ayahmu tak berpikir bahwa itu mungkin akan sulit baginya yang tidak pernah bekerja menggunakan otot. Tapi ia tidak punya pilihan lain." Temari menghela napas panjang, air matanya menggantung di pelupuk matanya. "Dia tak mengatakan padamu karena dia takut kau akan malu memilki ayah yang hanya seorang kuli. Mungkin jika ada pekerjaan yang lebih baik ia akan berhenti menjadi kuli. Tapi mencari pekerjaan di kota sepadat ini tak mudah. Dan dia harus menerima kenyataan ini."

Shikadai tercekat mendengar penuturan sang ibu. Sesuatu seolah menyumpal tenggorokannya hingga tak mampu mengutarakan apapun. Jika ia adalah seorang anak perempuan mungkin ia sudah menangis histeris menyadari kesalahannya. Sayangnya, ia hanyalah seorang pemuda yang kadang kalap jika sedang marah. Maka, ia hanya bisa menahan tangisnya dan menyesali perbuatannya. Menyesali bentakannya pada ayahnya kemarin malam.

"Kau tahu? Ayahmu begitu menyayangimu. Dia pernah berkata pada ibu jika apapun akan dilakukannya untukmu. Dia ingin kau menjadi orang yang hebat suatu saat nanti. Dia ingin melihatmu sukses dan menikahi gadis yang kau cintai. Dia ingin melihatmu membangun rumah tangga yang damai dan sejahtera. Dia akan melakukan apapun, bahkan jika kau tak ingat apa saja yang dilakukannya untukmu." Air mata ibunya mengaliri pipi putihnya, berlinangan menyedihkan.

"Ibu, cukup, hentikan." Pria itu menghapus air matanya yang tidak sengaja turun. "Aku akan minta maaf pada ayah nanti." Dia meneguk air putihnya. Kemudian berdiri, membungkuk singkat sebelum keluar dari ruang makan.

Lagi-lagi Temari hanya menghela napas panjang. Menghapus air matanya yang masih tersisa. Putranya adalah sosok pria yang lembut dan pengertian. Dan mereka hanya cukup menjelaskannya dengan cara yang meyakinkan untuk membuat anak itu percaya dan paham.

.

.

Shikamaru memasuki kamar putranya. Anak itu sibuk dengan buku bacaannya, hingga tak menyadari kehadiran sang ayah. Pria itu berdehem, hanya untuk membuat buah hatinya tahu jika ia ada di situ.

Shikadai agak terkejut. Ia buru-buru memperbaiki posisi duduknya. "Ayah?"

"Ayah membelikanmu buku bacaan baru." Pria itu menyodorkan sebuah buku motivasi. Mengingat anaknya begitu gemar membaca buku, ia pikir buku motivasi cukup diperlukan untuk memberikan pemahaman yang baik bagi remaja seperti Shikadai.

"Terima kasih." Ia sempat heran mengetahui sang ayah telah berada di rumah pada awal malam seperti ini. Namun, akhirnya ia ingat jika ini hari Sabtu. Dan ayahnya memiliki banyak waktu luang. Meskipun tak lagi bekerja di perusahaan yang dulu, tapi ayahnya masih memiliki waktu libur yang sama.

Shikamaru duduk di dekat putranya yang sudah kelihatan melunak dibandingkan malam kemarin. "Ayah minta maaf ya."

Shikadai menghela napas, menutup bukunya. "Harusnya aku yang mengatakannya yah. Aku minta maaf. Aku keterlaluan."

"Seharusnya ayah memberitahumu sejak awal. Kau pasti mengerti. Ayah tahu kau pasti akan mengerti. Tapi entah bagaimana, ayah tetap menjalankan kebohongan itu." matanya menatap lekat wajah di hadapannya yang mulai menunjukkan sisi dewasanya. Anak yang dulu sering sekali menangis kini tumbuh menjadi remaja yang tampan.

"Sudahlah yah. Tidak perlu dibahas lagi. Aku mengerti."

Pria setengah baya itu terkekeh pelan. Reflek mengacak rambut putranya. "Nada bicaramu mengingatkan ayah dengan Naruto."

Kening Shikadai mengernyit mendengar nama yang disebut sang ayah. Seolah ia pernah mendengarnya. Detik berikutnya, ketika ia hendak melontarkan pertanyaan, ayahnya lebih dulu menguraikan jawabannya.

"Naruto itu teman yang baik. Dan dia selalu kesal tiap kali ayah membahas sesuatu berkali-kali." Senyumnya terulas jelas diantara bibirnya yang tipis.

Anak muda itu tak menyahut. Ia ingat sekarang siapa itu Naruto. Pria yang sering ayahnya sebut sebagai teman berpetualang di masa muda.

"Meskipun dia memang kadang aneh dengan tawanya yang begitu memekakkan telinga. Tapi ayah yakin kau akan nyaman jika bersamanya." Dia diam sejenak, hanya untuk mengamati ekspresi lawan bicaranya yang masih diam. "Mungkin jika kau melihatnya, kau akan mengira dia bukan benar-benar manusia."

"Memangnya kenapa yah?" Shikadai memotong cepat karena penasaran.

"Dia mirip, mmm... rubah. Maksud ayah, bukan benar-benar mirip. Sekilas. Tapi ini mungkin hanya pendapat ayah, karena Naruto memiliki garis menyerupai kumis kucing di kedua pipinya. Barangkali dia memang benar-benar manusia rubah." Tawanya terdengar renyah. "Naruto bisa menciptakan api dengan tangannya, tanpa korek api, bukankah itu hebat?" tawanya masih tersisa, mengeruk rasa lelahnya yang baru saja tergambar di jelas di antara sisa ekspresi yang masih tampak.

Shikadai hanya tersenyum. Ia senang melihat ayahnya bisa tertawa seperti itu, karena entah kapan terakhir ia melihat pria itu tampak sebahagia ini. Namun, ada satu hal yang mengganjal hatinya. Ciri-ciri yang digambarkan sang ayah tentang Naruto terasa sedikit mengkhayal. Bagaimana mungkin ada orang yang mirip rubah dan mampu menciptakan api dengan tangannya. Itu terdengar mustahil. Tapi, ketimbang memperdebatkan hal itu di sela tawa senang ayahnya, ia memilih diam.

Malam itu hingga nyaris tengah malam pun ia tak bisa tidur. Matanya terjaga, meski tubuhnya sudah nyaris sejam yang lalu terbaring di tempat tidur. Cerita-cerita sang ayah tentang petualangannya di masa muda kembali muncul ke permukaan memorinya satu-persatu. Dan segalanya terasa seperti fantasi kosong sang ayah. Siapa yang tahu jika dulu sang ayah bukanlah orang begitu suka berpetualang, lalu mengarang cerita agar tampak berkesan di depan anaknya. Yah... meskipun pikirannya keterlaluan karena membayangkan hal yang tidak-tidak, namun siapa yang tahu? Toh orang-orang di Kyoto tak begitu mengenal sang ayah di masa lalu. Karena ayahnya bukan orang asli Kyoto. Laki-laki itu berasal dari Sapporo.

Menjelang pukul 1 malam. Matanya baru bisa terpejam, dan dalam mimpinya ia melihat seorang wanita cantik bermata nak mutiara tengah mengenakan gaun putih cantik. Entah siapa wanita itu, dia tampak bak bidadari yang turun dari kahyangan.

.

.

Segalanya berjalan dengan baik selama tahun-tahun terakhir ini. Shikadai masuk Universitas ternama dan karena otaknya yang begitu jenius beasiswa seolah datang berbondong-bondong padanya.

Di waktu senggang, ia sering menelfon ke rumah. Menanyakan keadaan ayah dan ibunya saat ia tak bisa pulang karena banyaknya tugas kuliah yang terasa penuh di pundaknya. Kedua orang tuanya bisa mengerti, mereka beberapa kali mengingatkannya agar tidak mengabaikan makan ketika jam makan sudah tiba. Dari cara mereka bicara, kekhawatiran tampak jelas mengiringi kata-kata yang terlontar.

Namun, beberapa bulan belakangan ibunya tak pernah muncul mengiringi pembicaraan mereka. Hanya sang ayah yang selalu mengangkat telfonnya. Menanyakan kabarnya, menanyakan apakah ia sudah makan atau belum. Tiap kali ia bertanya di mana ibunya, sang ayah selalu menjawab bahwa wanita itu sedang sibuk tak bisa ikut dalam pembicaraan. Sekali dua kali ia memaklumi. Namun ketika jawaban ayahnya selalu sama tiap kali ia menelfon dan menginginkan bicara dengan ibunya, diam-diam ia mulai curiga. Seolah ada yang tidak beres namun tetap disembunyikan oleh pria itu.

Ketika libur semester. Shikadai menyempatkan diri untuk pulang. Melepas kerinduannya pada kedua orang tuanya. Dan ia juga ingin menanyakan pada sang ibu langsung, kenapa selama ini tak mau berbicara padanya.

Ketika bus telah berhenti di halte yang tidak jauh dari rumahnya. Shikadai mulai turun bersama penumpang lain. Menghela napas panjang ketika kakinya pertama kali mulai menginjak tanah Kyoto kembali. Ada sebersit rasa yang mengganjal di hatinya, entah rasa apa itu. namun, ia buru-buru menyimpulkan bahwa kerinduan yang berat terhadap kota kelahirannya mulai memberikan efek tak baik bagi otaknya yang lelah.

Tak sampai 10 menit taksi yang ia naiki telah menurunkannya di depan rumah sederhana orang tuanya. Ayahnya yang terkejut berseru tertahan sembari menghambur ke arahnya. Memeluknya erat dan menggumakan beberapa kalimat yang tak begitu jelas di telinganya.

"Ibu di mana yah?" itu adalah pertanyaan pertamanya ketika ia mulai memasuki rumah dan yang didapatinya malah Chouji, tetangga mereka, bukan sang ibu.

Shikamaru terperanjat dengan pertanyaan itu. sementara Chouji yang sudah berdiri dan hendak menyambut Shikadai dengan sebuah pelukan singkat mengurungkan niatnya. Pria gemuk itu mengerutkan alis, mengarahkan tatapan herannya pada Shikadai.

"Kau lupa?" Chouji bertanya.

"Lupa?" anak muda tersebut mulai tak mengerti arah pembicaraan ini. "Lupa apa?"

Wajah Shikamaru makin menegang ketika pria gemuk itu mulai membuka mulutnya dan mulai bicara.

"Ibumu sudah meninggal 2 bulan yang lalu." Chouji kira Shikadai akan menepuk keningnya, mengeluh bahwa ia menjadi semakin pelupa akhir-akhir ini. Dan karena kematian sang ibu, beban hidupnya terasa begitu berat. Namun, semua tak seperti yang ia duga.

"Ibu meninggal?" matanya melebar. Memancarkan ribuan pertanyaan yang tak terurai dengan jelas. Ia menatap tak paham ke arah sang ayah yang hanya diam terpaku dengan pandangan kosong ke bawah. "Ayah, apa benar ibu telah meninggal?"

Ketika Shikamaru tak kunjung menjawab, dan membiarkan kebisuan mengiringi mereka, Chouji tak tahan untuk mengungkapakan apa yang mengganjal di hatinya. "Shikamaru kau tak mengatakan yang sebenarnya pada putramu? Tapi waktu itu kau bilang bahwa Shikadai terlalu sedih hanya untuk menghadiri pemakaman Temari."

Pemuda itu merasa tenggorokannya tercekat, gelombang besar kekecewaan menguar bersama air yang mulai menggenangi pelupuk matanya. "A..ayah?" ia tak percaya telah dibohongi selama ini. "Ayah? Apa yang kau lakukan? kau selalu bilang ibu baik-baik saja, bahwa ibu tak mau mengobrol denganku karena dia sedang sibuk. Kau pembohong!" tak ada lagi sisa kesabaran dalam dirinya. Ini keterlaluan, benar-benar keterlaluan.

Chouji hanya diam dan tak bereaksi. Sementara Shikamaru mulai mengusap matanya yang berair.

"Ayah tahu ayah salah. Tapi... ayah melakukan ini agar kau tidak terlalu cemas dan mengkhawatirkan kami secara berlebihan. Ibumu yang meminta hal ini pada ayah sebelum kematiannya. Dia bilang bahwa kau perlu kondisi pikiran yang baik untuk menyelesaiakan kuliahmu."

"Kau pembohong!" Shikadai kembali membentak, menatap sang ayah penuh kebencian. Bagaimana mungkin ia tidak marah jika sang ayah merahasiakan kematian ibunya dan tak memberitahunya hingga beberapa bulan berlalu? Dan setelah setetes air matanya jatuh, ia lari dari rumahnya. Mengabaikan teriakan sang ayah yang tak berhenti memanggilnya.

.

.

Meski Shikadai masih sempat pulang ke rumah untuk mengambil uang dari sang ayah. Segalanya tak lagi sama dengan dulu. Anak itu seperti menganggapnya sosok asing. Dia hanya pulang untuk menengoknya sebentar. Paling lama 2 jam, kemudian pergi lagi. Pembicaraan mereka hanya berkisar 'sudah makan' atau 'bagaimana kabarmu?'. Tak ada senyuman ramah ataupun tawa bahagia yang mengiringi kebersamaan mereka.

Shikamaru tak pernah menyangka jika pada akhirnya akan begini. Tapi apa yang bisa ia lakukan sekarang? ia hanya berusaha tetap menjadi ayah yang baik. Bahkan jika anaknya tak mau lagi menggapnya sebagai ayah. Kadang di malam-malam yang sepi, ia meratapi nasibnya. Menangis dalam diam dan berharap hubungannya dengan buah hatinya kembali terjalin dengan baik.

.

.

Ketika mendekati semester akhir. Shikadai tak lagi berminat untuk mengunjungi sang ayah. Bahkan jika itu hanya sekedar kunjungan singkat sejam dua jam. Dan hal itu membuat Shikamaru khawatir tentang kesehatan putranya. Shikadai jarang bisa dihubungi dan untuk itu ia memutuskan untuk pergi ke Tokyo dan memastikan bahwa anaknya baik-bai saja.

Entah kapan terakhir kali ia pergi ke apartemen tempat putranya tinggal. Shikamaru lupa tempatnya, ia tak benar-benar paham dengan jalanan kota Tokyo yang begitu padat oleh jajaran kendaraan. Bangunan-bangunan tinggi penuh di mana-mana. Dan otak tuanya lambat untuk menyadari jika ia tak tahu arah jalan ke apartemen Shikadai. Berkali-kali ia tersesat, salah jalan. Hingga malam tiba, pria tua tersebut hanya berputar-putar di tempat asing yang semakin membuatnya tersesat. Bahkan ketika hujan turun, ia masih sibuk bertanya kesana kemari. Mengesampingkan kemeja lusuhnya yang mulai basah, dan angin yang berhembus makin dingin.

Ketika Shikamaru bertemu dengan seorang polisi, ia berusaha menyebutkan nama apartemen tempat putranya tinggal. Dan beruntungnya, polisi muda itu mau mengantarnya ke sana.

Nyaris pukul 9 malam ketika polisi itu bilang bahwa mereka telah sampai tempat yang dimaksud. Shikamaru turun dari motor si polisi. Membungkuk sedalam-dalamnya sembari mengucapkan terima kasih berkali-kali. Polisi itu menghela napas panjang, tersenyum dan mengangguk sebelum pergi meninggalkannya sendirian di depan bangunan susun namun cukup sederhana tersebut.

Shikamaru memasuki lobi apartemen, bertanya singkat pada seorang penjaga. Kemudian menaiki undakan tangga untuk menuju apartemen Shikadai.

Ketika pertama kali melihat ayahnya datang ke apartemennya. Bukan kaget bercampur rindu yang menghinggapi perasaan pemuda Nara itu. namun, kaget bercampur heran. Ia tidak habis pikir dengan kelakuan sang ayah yang terlalu berlebihan. Ketika orang tua seusia ayahnya lebih suka menikmati istirahat di rumah dengan tenang, pria di hadapannya ini malah memilih pergi ke kota semacam Tokyo hanya untuk menengoknya. Pria tua itu memang suka membuat masalah. Itu yang ia pikirkan.

"Ayah?" alisnya berkerut dengan banyaknya barang yang dibawa sang ayah. Ada dua buah tas cukup besar yang entah apa isinya.

Pria itu tersenyum. Mengguratkan keriput-keriput yang mulai tampak jelas di wajahnya yang kian menua. "Syukurlah. Kau terlihat cukup sehat. Ayah khawatir, jangan-jangan kau tak pernah pulang karena sakit."

Shikadai mendecak. Membuka pintu lebih lebar lagi untuk mempersilahkan sang ayah masuk. "Ayah kenapa repot-repot kemari?" ia memperhatikan pria itu yang mulai masuk ke dapur sementara dirinya mulai menutup pintu kembali.

"Kau lama sekali tak pulang, hampir 13 bulan. Dan ayah khawatir." Tangannya yang tak lagi sekuat dulu kini sibuk mengeluarkan sayur-sayuran dari dalam tas yang dibawanya. Ia juga mengeluarkan isi tas yang satunya lagi, dan ternyata isinya adalah buah-buahan. "Ayah membawakanmu banyak sayuran dari kota kita. Karena ayah pikir makanan di Tokyo pasti tidak sesehat di daerah kita."

"Ayah ini apa-apaan. Di sini banyak yang menjual sayur dan buah-buahan. Dan kupikir jauh lebih segar daripada..." ia menghela napas. Menghentikan kalimatnya ketika yang ia lihat sekarang sang ayah tampak begitu lelah dan menyedihkan. "Ya sudahlah. Nanti akan aku masukkan kulkas. Dan mungkin sekarang ayah butuh mandi dulu."

Tak ada yang dikatakan oleh pria tua tersebut. Karena detik berikutnya ia sudah pergi kemar mandi. Dan Shikadai sibuk mencarikan baju ganti untuk sang ayah.

.

.

Esok harinya, hari Minggu datang dengan sinar matahari redup yang begitu identik dengan pagi musim gugur. Hawa dingin menusuk tiap celah yang tersisa. Dan daun-daun maple berjatuhan di halaman apartemen yang tak begitu luas.

Shikadai menatap keluar jendela. Berkali-kali helaan napasnya terdengar kasar. Uapnya berhembus dan menempel di kaca jendela kaca. Jika saja ayahnya tak datang ke apartemennya ia pasti bisa mengajak teman-temannya ke apartemennya. Namun, ia harus rela membatalkan janji yang telah berhari-hari disepakati hanya untuk membiarkan waktunya bersama sang ayah tak terusik oleh siapapun. Pilihan ini terlihat tepat, tapi entah kenapa ia ragu dengan pilihannya. Sesuatu mengganjal hatinya. Membuatnya tak tennag dan kesal mendadak.

Jika dipikir-pikir lagi. Tidak masalah juga membiarkan sang ayah tinggal di sini selama beberapa hari. Lagipula mereka sudah lama tak saling bertemu. Dan meskipun rasa sayangnya pada pria itu tak sebesar dulu, namun ia tetap berusaha menghormati pria tua tersebut sebagaimana mestinya.

Hari itu Shikamaru memasakannya banyak makanan. Setelah kematian Temari dia mempelajari banyak resep makanan. Menurut Shikadai rasa masakannya tidak begitu buruk. Dan sebagai rasa terima kasihnya, anak itu mengacungkan jempolnya untuk memuji masakan Shikamaru.

"Ayah senang jika kau suka." Senyumnya terselip di antara garis sendu yang melintas di wajahnya. Ada gurat-guratan rindu yang terekspos sebagian, karena sebagiannya lagi berusaha untuk ditutupinya. Interaksi seorang anak lelaki dan sang ayah tidak akan sedekat dulu lagi, tidak akan sedekat ketika buah hatinya masih kanak-kanak. Dan mengingat kenyataan tersebut membuat hatinya sedih.

"Ya... aku tidak tahu jika ayah ternyata pandai memasak." Shikadai berusaha mengukir senyum di bibirnya. Diam-diam ia puas melihat senyum yang ditunjukkan sang ayah.

.

.

Senin, dini hari. Suara 'prang' keras memenuhi apartemen Shikadai. Pemuda itu yang tengah lelap dalam mimpi buru-buru melompat dari tempat tidur karena keterkejutan yang luar biasa. Napasnya memburu, dan demi memastikan apa yang sebenarnya terjadi, kakinya dengan cepat melangkah ke sumber suara.

Ayahnya berada di dapur dengan pecahan gelas yang berserakan di lantai. Tak ada bekas air di sana, dan itu berarti ayahnya tidak sedang meminum air. Entah apa yang dilakukan pria tua itu. Yang jelas dia telah mengganggu tidurnya yang baru saja nyenyak. Mengingat banyaknya tugas yang selesai ketika nyaris tengah malam dan sekarang jika kau melihat jam kau akan mendapati pukul 3 dini hari.

"Ayah, apa yang ayah lakukan?" tanyanya dengan mata yang masih tak bisa terbuka lebar. Kepalanya pening akibat bangun yang tanpa aba-aba.

"Ayah hanya-"

"Ayah benar-benar menyebalkan. Ayah tahu ini masih jam berapa? Dan ayah membuat keributan? Oh ayolah yah. Besok aku harus kuliah. Aku butuh istirahat tenang agar otakku bisa bekerja kembali." Entah pikirannya sudah penuh atau belum. Namun, rangkaian kata itu dilontarkan dengan penuh amarah dan bentakan.

Mata Shikamaru berkabut. Ia mengalihkan pandangan ke bawah karena tak mampu menatap wajah marah putranya lebih lama lagi. "Tadinya ayah ingin membuatkanmu sarapan. Barangkali besok kau akan bangun lebih awal dan ayah masih tidur. Tapi... ayah tak sengaja memecahkan gelas. Maafkan ayah."

Shikadai mendecak. "Ayah tak perlu lakukan itu. Aku terbiasa sarapan di luar." Kesal sekali rasanya. Karena setelah ini entah matanya bisa terpejam dengan tenang atau tidak. "Mengganggu saja." Dan tanpa ada kata lain yang lebih baik, ia membalikkan badan dan memasuki kamarnya.

Hati Shikamaru sakit. Bagaimana mungkin putra kecilnya yang telah ia rawat hingga menjadi pemuda sebesar itu tak lagi mau menghormatinya. Marah hanya karena ia memecahkan gelas di jam 3 pagi. Tidakkah anak itu pernah membayangkan betapa letihnya ia dan Temari dulu yang harus bergantian menimang Shikadai ketika tengah malam? Bahkan saat tubuhnya terasa remuk karena lelah bekerja di siang hari, ia tetap bangun ketika anak itu menangis. Ya Tuhan... apakah ini balasan yang diberikan oleh seorang anak yang telah dibesarkan oleh orang tuanya dengan penuh kasih sayang?

Air matanya nyaris menetes, namun buru-buru ia mengusap air itu. Tak seharusnya ia mengeluh seperti ini. Sejatinya memang kasih sayang orang tua terkadang tak bisa dibandingkan dengan kasih sayang anak kepada orang tuanya.

Kemudian ketika Shikamaru usai membuatkan putranya sarapan, ia pergi dari apartemen tersebut. Berpikir bahwa ia hanya membawa beban bagi buah hatinya. Dan kenapa juga ia harus tinggal di Tokyo jika rumah sederhanya di Kyoto lebih membuatnya nyaman.

.

.

Sebulan lebih insiden Shikamaru yang mendadak datang ke apartemen Shikadai, kemudian memecahkan gelas di pagi buta. Kejadian itu hampir terlupakan. Tertimbun oleh kenangan-kenangan baru yang lebih penting untuk diingat.

Shikadai tak begitu mempermasalahkan hal itu. semua terhapus dan tak lagi membuatnya kesal. Ia agak merasa bersalah ketika ingat bahwa ia sempat membentak sang ayah hingga ayahnya diam-diam pulang ke Kyoto tanpa memberi tahunya. Meski tahu dirinya salah, toh ia masih terlalu malas untuk pulang ke Kyoto. Tapi tak bisa disalahkan juga. Menjelang kelulusan tugasnya semakin banyak. Menumpuk bagai gunung yang sulit untuk didaki.

Di akhir pekan, ia dan teman-temannya tengah berkumpul di sebuah kafe dekat perpustakaan. Kafe itu agak sepi. Dan satu-satunya tempat favoritnya. Tak ada perbincangan yang lebih menarik. Mereka hanya berkutat dengan rencana masa depan. Tentang pekerjaan yang mungkin akan mereka masuki setelah ini dan beberapa hal yang mungkin menyangkut pernikahan.

"Oh tidak, tidak. Aku akan pergi ke Paris dulu dan berkeliling Paris sebelum benar-benar siap mencari pendamping hidup." Mitsuki berujar setengah tertawa.

"Ya Tuhan, kau pura-pura buta atau bagaimana, Samire tertarik padamu. Barangkali setelah lulus orang tuanya tiba-tiba mendatangimu dan menyuruhmu menikahinya." Iwabee berkata setengah bercanda.

"Mana mungkin begitu. Di Zaman modern seperti ini masih ada peamksaan semacam itu ya?" Mitsuki berkata sinis, memalingkan wajah kesalnya.

Di tengah gelak tawa mereka. Suara ponsel Shikadai tiba-tiba memecah perbincangan. Sebagian tak begitu peduli, namun sebagian lagi bahkan menghentikan tawa hanya untuk mengamati gerakan si pemuda Nara yang mulai mengangkat telfon.

"Ya hallo?" Shikadai mengerutkan kening ketika yang berbicara menggunakan nomor ponsel ayahnya bukan benar-benar suara sang ayah.

"Pulanglah cepat Nak. Ayahmu masuk rumah sakit. Paman takut..." suara Chouji terdengaragak tercekat. Seolah sesuatuberusaha ia sembunyikan namun tak mampu. "Cepatlah pulang. Dia merindukanmu."

Telfon ditutup sebelum ia bisa memberikan jawaban. Dan detik berikutnya ia telah memasukkan ponsel ke dalam saku celanannya. Berdiri dengan cepat seolah ia takut akan ketinggalan bus. "Maaf, aku harus segera pulang." Ia tak menjelaskan lebih. Kakinya melangkah cepat melintasi lantai kafe. Membiarkan teman-temannya yang serentak diam dengan tingkahnya yang mendadak kabur dari perbincangan.

.

.

Ketika pertama kali Shikadai memasuki kamar rumah sakit tempat ayahnya dirawat, ia menyaksikan tubuh orang tua itu terkapar tak berdaya di atas ranjang. Seolah tak ada lagi tenaga untuk bisa berjalan seperti sedia kala. Namun, satu hal yang terasa bagai menohok hatinya. Senyuman sang ayah tetaplah senyum-senyum tulus yang sering ia perlihatkan sejak dulu.

"Akhirnya ayah bisa bertemu denganmu. Ayah merindukanmu." Suara Shikamaru pelan, terdengar seperti bisikan yang dipaksakan.

"Ayah jangan banyak bergerak dulu." Shikadai berusaha menghentikan ayahnya yang beranjak duduk. "Maafkan aku yah."

Keriput-keriput di wajah pria tua itu terekpos jelas dengan banyaknya senyum yang coba dia torehkan. "Kau tak perlu minta maaf, tak ada yang harus dimaafkan. Seharusnya ayah yang minta maaf karena tak mampu menjadi ayah yang baik."

Hatinya sakit mendengar ungkapan itu. memori-memori lama bergantian mengisi benaknya. Kenangan masa kecilnya tak ada habisnya berputar acak di dalam sana. "Ayah yang kuat ya. Ayah harus kuat, aku sebentar lagi lulus dan setelah itu aku akan mencari pekerjaan. Ayah harus kuat untuk bisa melihatku sukses suatu saat nanti." Air matanya tarasa berkumpul di pelupuk mata, terasa berat dan mengganjal.

Hanya helaan napas yang terdengar, dan senyum yang sedari tadi ia tampakkan perlahan luntur.

"Aku akan berusaha membahagiakan ayah setelah aku bisa mendapatkan gaji. Ayah ingin pergi kemana? Ke London? Beijing? California? Atau Kanada?" air matanya benar-benar turun ketika ia tak kunjung mendapatkan jawaban dari sang ayah. Pria tua itu hanya diam dan mengamatinya lamat-lamat. Sementara itu tangannya memegang erat tangan sang ayah, seolah jika ia melepaskannya maka ia akan kehilangan sosok itu.

Chouji mematung di dekat pintu, berkali-kali mengusap air matanya. Ia mengenal mereka sejak dulu dan mereka seolah telah menjadi bagian dari keluarganya.

"Dengarkan ayah." Matanya yang berkabut menatap putranya sendu. "Melihatmu hari ini sudah lebih dari cukup ketimbang harus pergi ke luar negri. Ayah hanya ingin kau menjadi anak yang baik. Bisa menghargai orang lain, dan tak mudah menyerah, itu saja."

Setelah semua perjuangan yang dilakukan ayahnya, hanya itu yang diinginkannya? Ya Tuhan... ternyata malaikatmu begitu dekat, namun, terkadang manusia terlambat untuk menyadarinya. Tak ada lagi yang ingin ia katakan. Ia menangis, menagis pelan, karena bagaimana pun usahanya untuk menahan tangis tak lagi mampu ia lakukan.

.

.

Gerimis mengguyur pagi. Suasana pemakaman begitu ramai dengan datangnya teman-teman Shikamaru dan kerabat-kerabat dekat mereka. Meski pagi tak secerah biasanya. Namun, hal itu tak juga menyurutkan semangat mereka untuk menghadiri pemakaman si pria baik hati, Shikamaru. Orang-orang di kotanya terlanjur percaya jika pria itu adalah orang yang baik dan ramah, suka membantu, dan penyabar.

Meskipun penyesalan terasa seperti mencekik lehernya. Di sisi lain ia merasa sedikit bahagia dengan kepedulian orang-orang terhadap sang ayah. Nyaris semua dari mereka menitikkan air mata melepas kepergian almarhum ayahnya.

"Sudah, biarkan ayahmu tenang di sisi-Nya." Chouji yang sejak tadi berdiri di dekat Shikadai menepuk pundak anak itu. menenangkannya yang tampak begitu terpuruk.

Ketika pemakaman hampir bubar. Sesuatu membuat mereka yang hadir agak terkejut. Sebuah mobil berhenti di gerbang pemakaman. Lalu, seorang pria tua yang berjalan bersama seorang gadis tampak tengah menuju ke arah kerumunan. Gadis itu sangat cantik, begitu cantik hingga mampu membuat orang yang hadir di tempat itu terdiam, heran.

"Himawari?" satu-satunya kata yang mampu Shikadai ucapkan.

"Apakah kau Shikadai?" pria tua dengan garis-garis di pipinya yang menyerupai kumis kucing mulai bertanya saat sampai di hadapan si pemuda Nara.

Shikadai hanya mengangguk, masih terpaku menatap gadis yang pernah menjadi teman satu kelasnya.

"Namaku Naruto, Uzumaki Naruto." Ia mengulurkan tangan. "Dan ini anakku, Himawari."

Seraya mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Naruto. Shikadai terperanjat, Naruto benar-benar tampak seperti yang pernah diceritakan sang ayah. Dan ia merasa bodoh karena tidak tahu jika Himawari ternyata anak dari teman lama ayahnya.

Lalu malam itu ia mengetahui banyak fakta yang sempat ia ragukan. Pulau hijau yang dulu sering diceritakan sang ayah bukan hanya sekedar bualan atau pun dongeng masa lalu. Pulau itu benar-benar ada. Nama sebenarnya adalah Pulau Aogashima. Terletak beberapa ratus mil di selatan Tokyo, di Laut Filipina.

Sebenarnya tak ada yang harus diragukan soal ayahnya. Semua kebohongan yang dilakukan pria itu tak pernah merugikannya. Selama ini kebohongan tersebut hanya sebatas kebohongan wajar yang tak membuat siapapun rugi dan ia merasa bodoh ketika baru menyadarinya sekarang. bahkan kebohongan tentang kematian sang ibu, alasannya bisa diterima. Hanya saja sang ayah salah dalam menerapkan kebohongamn tersebut.

"Kau tahu? Ayahmu begitu menyayangimu. Dia pernah berkata pada ibu jika apapun akan dilakukannya untukmu. Dia ingin kau menjadi orang yang hebat suatu saat nanti. Dia ingin melihatmu sukses dan menikahi gadis yang kau cintai. Dia ingin melihatmu membangun rumah tangga yang damai dan sejahtera. Dia akan melakukan apapun, bahkan jika kau tak ingat apa saja yang dilakukannya untukmu." Air mata ibunya mengaliri pipi putihnya, berlinangan menyedihkan.

Satu kenangan lam akembali melintas di memorinya, dan ia tak memiliki alasan lagi untuk tidak mennagis dan merasa menyesal.

"Yah...seharusnya aku tahu sejak awal jika tak ada pria yang sepertimu lagi. Tidak ada orang yang brgitu mudahnya mau mengorbankan banyak hal untuk putranya yang tak tahu diri sepertiku. Kau selalu menjadi yang terbaik bagiku. Tapi... aku terlambat menyadarinya."

END

Terinspirasi dari novelnya Tere Liye yang judulnya 'ayahku bukan pembohong'.

Ada yang masih nunggu fic ini ga?

Maaf soal keterlambatan update, waktu selalu terkuras habis untuk urusan yang lain.

Oh ya, terlalu monoton ga? Kayanya konfliknya ga beda jauh sama yang chapter 1.

Okelah mohon dimaklumi kesalahan-kesalahan yang bertebaran di fic ini.

Terakhir, aku mau ngucapin makasih buat yang udah luangin waktu untuk review fic ini. Dan makasih juga yang udah fav and follow