# Can I Love you ?

# Sehun, Lu Han

# Hurt / Comfort

# Drabble prompt : Sehun adalah prostitusi yang mencintai ' client ' nya sendiri.

WARNING : MENTION OF NC/SMUT ! BOYXBOY ! PROSTITUTION !

####

Dream of Heaven.

Satu-satunya tempat di mana para lelaki yang menginginkan kesenangan, teman ataupun sekedar nasihat. Satu-satunya tempat di mana lelaki mendapatkan mimpi idaman yang mereka bayangkan. Satu-satunya tempat yang menjaga para sosok yang mereka gelarkan sebagai ' prostitusi ' ataupun koleksi manusia yang mempunyai paras indah meskipun mereka adalah seorang lelaki.

Ya, Dream Of Heaven.

Kau berminat ingin menjejakinya ? Mendalami kisah kisah mereka yang pahit, sakit dan pedih sehingga akhirnya mereka memilih untuk mengabdikan diri dalam rumah itu ?! Huh, kau pastinya tidak akan sanggup.

Kisah hidup mereka terlalu menyakitkan sehinggakan kau akan menangis saat mendengarnya. Kau akan mentertawakan mereka.

Mereka menutupi segala kesakitan itu dengan senyuman kesopanan di wajah indah mereka. Menutupnya seerat yang mungkin tanpa ada yang bisa mencerobohinya.

####

Terlihat satu sosok bertubuh mungil, dengan surai hitam yang hampir menutupi mata cokelatnya yang indah. Hidung nya kecil dan mancung, seolah menyempurnakan lagi pahatan indah itu. Bibir tipis nya kemerahan membentuk senyuman halus. Tingkahnya begitu sopan dan teratur. Siapa saja mungkin salah anggap dia adalah seorang gadis, nyatanya, dia hanyalah sosok lelaki yang sudah lama mengabdikan dirinya di dalam Dream Of Heaven itu.

" Tuan Sehun, dia sudah sampai dan sedang menunggumu di tempat biasa."

Secara automatis lelaki itu - Sehun - mendongak dan mengukirkan senyuman lebar. Ia meletakkan sapu tangan yang seharusnya ia siapkan jahitannya itu dan menuju ke lemari pakaiannya. Membelek kimono yang cocok untuk tubuh nya. Akhirnya ia mengeluarkan kimono merah muda dan menggunakannya asal. Setelah itu ia menuju ke meja hias dan meneliti kekurangan wajahnya. Setelah yakin tiada apa yang kurang, ia melangkah penuh anggun menuju ke hujung kamar yang sememangnya dikhaskan untuk para pelanggan mereka, dengan menolak pintu kayu itu ke sisi, Sehun melangkah masuk.

" Selamat datang, Tuan Lu. Senang bisa bertemu denganmu lagi." Postur tubuhnya begitu sopan. Ia bersimpuh dengan kedua tangannya di letak di atas pahanya dan kepala sedang menunduk hormat kepada sosok lelaki bersurai merah yang sedang duduk di atas tilam tanpa kasur itu.

" Sehunnie ! Kemarilah, dan jangan menggelarkan ku Tuan."

Umpama seekor kucing yang dipanggil tuannya, Sehun mendekati pemuda itu. Membiarkan lelaki itu menariknya dan ia tenggelam dalam hangat nya dekapan lelaki itu.

" Aku merindukan mu."

Deg deg deg

Pipinya memerah namun ia dengan sebaik mungkin mengontrol ekspresi wajahnya.

" Kemarin ada urusan penting yang menghalangku dari menemuimu. Maafkan aku, Sehun."

Sehun menggeleng pantas. " Tidak apa, Tuan Lu."

" Sudah kubilang jangan memanggil ku dengan embel embel Tuan, Sehunnie." Larang lelaki itu dengan nada manja membuat Sehun mau tidak mau tersenyum kecil. Sebelah tangannya naik untuk menekap pipi lelaki itu.

" Baiklah, Lu Han. "

Lu Han tersenyum layaknya anak kecil berhasil mendapatkan apa yang diinginkan sebelum kembali memeluknya.

" Kau persis sepertinya, Sehun. Apalagi saat kau tersenyum seperti itu, imut sekali."

Pahit.

Senyuman yang tadinya terukir indah untuk Lu Han kini berubah pahit. Seharusnya ia sadar, Lu Han datang kemari karna parasnya yang persis seperti mantan kekasih Lu Han yang meninggalkan nya demi untuk lelaki lain. Lu Han peduli padanya karna Sehun menyerupai kekasih lamanya.

Meski begitu, sedikit saja. Bisakah Sehun berharap lelaki itu mempunyai sedikit perasaan kepadanya ? Sedikit juga tidak apa.

Cupp

Sehun menutup matanya erat saat Lu Han memberikan kecupan polos di sekitar lehernya. Ciuman yang pertamanya adalah sebatas sentuhan polos kini berubah lebih intens. Lebih ghairah apabila lelaki itu menghisap kuat untuk mengukir tandanya di tubuh sang prostitusi. Malah sebelah tangan Lu Han perlahan membaringkan Sehun dan membuka ikatan kimono merah muda yang tadinya menutupi tubuh mungil nan halus itu.

" Kau indah, persis sepertinya. Aku menyukaimu, Sehunna." Bisik Lu Han lembut di telinganya sebelum mengecupnya ringan.

Sehun terbuai. Sepanjang ia menjadi pelayan di tempat ini, Lu Han adalah satu-satunya yang berhasil membuatkan perasaan yang namanya CINTA hadir dalam hidupnya. Tidak kira betapa ramai lelaki yang datang menemuinya, mendambakan nya, hanya Lu Han yang berhasil membuatnya menikmati setiap sentuhan itu.

" Ahh, Han. Pelan-pelan." Desahnya terlepas saat lelaki itu memasukkan miliknya ke dalam tubuhnya. Menyatukan mereka dalam kepekatan malam. Menyatukan mereka menjadi satu. Mendebarkan jantung Sehun setiap kali Lu Han berada di dalamnya.

Berbeda sekali.

Kedua tangannya memeluk erat leher Lu Han di saat lelaki itu mulai menggerakkan tubuhnya maju mundur. Sehun perlahan membuka matanya, menghiraukan tubuhnya yang bergerak seiring dengan tusukan Lu Han.

Deg

Deg

Jantungnya berdetak gila begitu melihat wajah tampan Lu Han.

Mata rusa yang sering bersinar itu terkatup rapat. Sementara mulutnya menderam rendah setiap kali ia bergerak. Kedua tangannya menyanggah tubuhnya agar tidak terlalu menindih tubuh mungil Sehun.

Tanpa sadar Sehun makin mengeratkan pelukannya. Memejam kembali matanya.

Tuhan, aku tau manusia seperti ku tidak pantas untuk merasakan rasa sayang yang kau anugerahkan. Tapi bolehkah ?

Bolehkah aku tetap mencintai Lu Han meskipun lelaki itu hanya menganggap ku sebagai pelampiasannya saja ?

Bolehkah ?

" Ahhh, Se Nahh, saranghae !"

Sehun mengabaikan airmatanya saat mendengar bukan namanya yang disebut dikala lelaki itu mendapat klimaksnya. Deruan nafasnya terasa hangat setiap kali Lu Han bernafas tepat di telinganya.

Hey, ini tugasnya.

Memenuhi setiap impian dan keinginan setiap lelaki yang datang ke sini, ke Dream Of Heaven ini. Jadi kenapa dia malah merasa sakit saat Lu Han meneriakkan nama mantan kekasihnya saat dirinya lah yang menjadi bahan kenikmatan untuk lelaki itu ?

Dia tidak punya hak kan ?

" Maaf, jika aku melukaimu, Sehunna."

Sehun pantas menggeleng. " Tidak, Han. Aku tidak terluka sama sekali."

Kedengaran kekehan terlepas dari Lu Han. " Tapi aku kasar tadinya. "

" Tidak apa. Ini sememangnya tugasku."

Sontak Lu Han mendengus kasar. Ia mengubah posisi mereka. Mengambil alih untuk menyandar di tilam empuk itu dan membawa Sehun masuk ke dalam dekapannya.

" Tidak. Bagiku kau terlalu rapuh untuk ini. Kau bukan seperti mereka yang lain. Kau dipaksa."

Sehun tersenyum kecil. Menyandarkan pipinya nyaman di atas dada Lu Han. Mendengarkan setiap detakan jantung itu.

Rasanya begitu mendamaikan.

" Sudah takdirku, Han."

" Andai saja aku menemuimu sejak dulu, semua ini tidak akan berlaku."

Mau bagaimana lagi ?

Ibunya sendiri bahkan tidak menginginkannya sehinggakan wanita itu menjualnya kepada Junmyeon, pemilik sekaligus lelaki yang pernah memiliki pengalaman yang persis sama sepertinya itu.

" Sudahlah. Hmm, Han ?" Ia mendongak. " Kalau bisa, ronde kedua ?" Pintanya. Tanpa menunggu jawapan dari Lu Han, Sehun menurunkan tubuhnya. Menyamakan bibirnya tepat kepada milik Lu Han.

" Tidak, jangan memberikan ku servis yang sama seperti yang lain, Sehun. Dan hentikan, Se Nah bukan perempuan seperti ini. " Lu Han berusaha untuk menolak Sehun.

Dan ia mengukir senyuman sinisnya.

" Han, tidak semua yang kau pikirkan itu benar. Mungkin saja dia lebih antusias dariku."

Panggg

Pipi kanannya berdenyut. Kepalanya bahkan berpaling ke kekiri. Ia bisa rasakan rasa darah akibat sudut bibirnya yang terluka.

Lu Han menamparnya.

Dengan pantas posisinya kembali seperti saat ia baru memasuki kamar itu. Kedua lututnya saling bertembung dan kepalanya ditundukkan hormat.

" Maafkan aku, Tuan Lu. Aku sudah lancang dan kurang ajar kepadamu. Maafkan aku, Tuan."

" Sehun - tidak. Ini salah paham."

Sehun menggeleng kecil. Masih dengan posisinya menunduk dalam. Ia menahan sesuatu yang pedih dari keluar melalui tubir matanya. Menahan dirinya dari kelihatan begitu menyedihkan di depan mata Lu Han.

" Tidak. Seharusnya aku harus sopan kepada sesiapa pun yang bertandang ke sini. Maafkan aku, Tuan."

" Astaga, Sehunnie. Aku seharusnya yang meminta maaf darimu. Maafkan aku. Maafkan aku, Sehunnie."

Mendengar panggilan itu membuatkan ia mendongak.

Mata rusa milik Lu Han berkaca. " Maafkan aku, Sehunnie. Aku melukaimu." Disertakan dengan sebelah tangan lelaki itu yang mengusap lembut pipinya.

Hahh, kenapa ?

Kenapa Lu Han mempunyai kuasa untuk membuatkan ia menjadi seperti ini ?!

" Berhentilah memanggilku dengan panggilan Tuan itu. Kau membuatku menjadi seperti orang luar, Hunnie."

" Baiklah, Han. Maafkan aku."

Lu Han membuat reaksi seperti ingin menangis yang membuat kan Sehun tertawa kecil.

" Dan berhentilah meminta maaf !"

####

" Aku tau kau menyukai anak muda itu, Hunna."

Sehun memejamkan matanya. Menyamankan posisinya dalam dekapan hangat Junmyeon. Sebelah tangan lelaki itu memeluknya posesif.

" Aku hanya melayan nya sama seperti yang lain, Jun."

Junmyeon menggeleng pelan. " Tidak apa, Hunna. Tidak apa untuk kita memiliki rasa itu. Hanya saja jangan biarkan ia semakin membesar dan melukaimu. Rasa itu akan menikam mu dari dalam sehingga membuat hanya kau yang bisa rasakan kesakitan itu. Aku tidak mau melihatmu terluka. Kau tau aku mencintaimu, kan ?"

Kedengaran desahan pelan lolos dari bibir mungil Sehun. Perlahan ia mendongak. Memerhati wajah tampan Junmyeon yang selalu ia kagumi saat pertama sekali ia melangkah masuk ke sini.

" Aku tau, Jun. Dan aku cukup beruntung bisa memiliki cintamu."

Junmyeon tersenyum lembut. Ia mengecup pelan dahi Sehun. Dan Sehun mengeratkan pelukannya.

Bagaimana ia bisa membalas perasaan lelaki itu saat wajah Lu Han lah yang sering terkunci dalam pikirannya. Di saat kehadiran Lu Han lah yang ia tunggu selama ini.

####

Dua bulan.

Ehh, ini sudah tiga bulan.

Tiga bulan tanpa menatap wajah itu.

Tiga bulan tanpa merasakan sentuhan dari pemilik tangan itu.

Tiga bulan tanpa mendengar suara dari seorang Lu Han.

Sehun membuang pandang ke jendela di mana menghubungkan jalan dengan tempat ini. Menunggu mobil hitam yang sudah ia kenali itu. Menunggu Lu Han keluar dengan senyuman menempel di wajahnya. Menunggu Lu Han datang untuknya.

Namun nihil.

Lu Han sepertinya sudah melupakan kehadirannya.

Apa Lu Han sudah menemui kekasih baru ?

Atau apa Lu Han sudah muak dengannya ?

Memikirkan itu saja membuatkan Sehun menangis. Mengabaikan sapu tangan yang berusaha ia siapkan untuk siapa lagi kalau bukan untuk Lu Han. Airmata nya menetes mengenai sapu tangan sutera itu.

" Sehun, kamar di hujung sedang menunggu mu."

Sontak ia menghapuskan airmatanya. Menarik nafas panjang sebelum menoleh kepada lelaki berparas cantik itu. " Kamar hujung ?"

" Iya."

Apakah itu Lu Han ?

Karna sepanjang Lu Han datang kemari, dia akan memilih kamar paling hujung untuk menemuinya.

Memikirkan itu saja membuatkan Sehun sedikit berharap. Ia menggapai kimono hitamnya. Dan mengacak sebentar surai hitamnya sebelum melangkah penuh teratur menuju kamar hujung itu.

Saat ia menolak pintu kamar itu, matanya menangkap imej lelaki yang tidak pernah ia kenali. Lelaki dengan surai kelabunya di sisir rapi. Tubuhnya setinggi menara Namsan - ini hanya bercanda - soalnya Sehun tidak pernah melihat orang setinggi ini !

" Kau pasti Sehun kan ?!"

Sontak keningnya bertaut.

" Iya, Tuan."

Lelaki jangkung itu mengukir senyuman lebar, di punggungnya ada beg gitar. Dia berlari mendekati Sehun dan memeluk lengan nya.

" Kau persis seperti apa yang Lu Han hyung katakan. Wajahmu cantik dan imut !"

Lu Han hyung ?

Lu Han ?

" Aku adiknya !"

" Ha ?"

" Park Chanyeol, adik tirinya Lu Han."

" Adik tiri ?"

Chanyeol tersenyum lagi. Ia menarik Sehun duduk di atas tilam. Kemudian tangan besarnya mengenggam kedua tangan Sehun yang lebih kecil dan mungil.

" Lu Han hyung ingin menyampaikan sesuatu kepadamu."

Lelaki itu mengeluarkan kalung dengan berbuahkan bintang. Sontak dadanya bergetar hebat.

" Ini ..."

" Dia sibuk. Dan baru kemarin pulang dari Eropah. Sekarang dia ke Beijing untuk mengurus bisnis. Jadi ia mendapatkan kalung ini untukmu. Jangan khawatir, aku kemari hanya karna untuk memberikan ini kepadamu."

Sehun menatap kalung itu. Mengabaikan detakan jantungnya yang semakin menggila. Jemarinya membelai pelan kalung itu.

Tanpa sadar bibirnya mengukir senyuman. Begitu halus dan kelihatan indah.

" Aku merindukannya."

" Lu Han hyung benar benar tidak berbohong saat mengatakan wajahmu persis seperti Se Nah noona. Kau bahkan lebih cantik darinya !"

Blush.

Benarkah ?

Benarkah ia lebih cantik dari perempuan yang sudah merampas hati Lu Han itu ?

Benarkah ?

Ya Tuhan, bisakah aku berharap.

" Aku harus pergi. Konser ku akan mulai sebentar lagi."

Konser ?

" Tuan menyanyi ?"

Chanyeol tersenyum bangga. " Aku akan menjadi penyanyi yang terkenal dan mengelilingi dunia !"

Sehun tersenyum kecil. Ia mengacak pelan surai kelabu itu. " Aku mendoakan kejayaan mu."

Mata bulat lelaki jangkung itu menatap kaku kepada Sehun. Matanya tidak berkedip membuatkannya kelihatan lucu dan menggemaskan.

" Astaga, kau imut sekali."

Sehun tertawa saat lelaki jangkung itu buru-buru berdiri dengan wajahnya yang memerah.

" Aku harus pergi."

" Selamat berjaya dan semoga kita bertemu lagi, Chanyeol."

Tanpa sadar, sebaris perkataan itu membuatkan anak muda jangkung itu semakin memerah dan berdebar. Merasakan perasaan yang tidak pernah dirasakan sama sekali.

####

Senyuman tidak pernah hilang dari wajah manisnya. Bahkan orang-orang yang mendiami Dream Of Heaven itu juga merasa heran kepadanya. Toh, mereka tetap membiarkannya tersenyum sendirian di tepi tasik buatan itu bersama dengan sapu tangan yang sudah jelas hampir siap itu.

" Hey, kau kelihatan nya senang sekali ?"

Sehun menoleh ke sisinya dan membiarkan Junmyeon duduk di situ.

" Aku memang sedang senang, Jun."

Mata Junmyeon terpaku kepada ukiran nama yang ada di sapu tangan sutera itu.

Lu Han & Sehun

Sejujurnya hatinya pedih.

Ia mencintai Sehun sama seperti bagaimana Sehun mencintai Lu Han. Dan Junmyeon berusaha sedaya upayanya untuk membuat Sehun mencintainya juga. Tapi, tidak kira betapa lembutnya sentuhannya saat ia bersama Sehun, lelaki itu tetap tidak akan memandangnya. Sehun hanya menganggapnya sebagai pelindung. Sebagai seseorang yang menerimanya.

Bukan sebagai lelaki yang mencintai nya.

" Jun, apakah salah jika kita mencintai seseorang ?"

Junmyeon menahan rasa pedih saat melihat sirat mata indah itu yang penuh dengan luka.

Sebetulnya ia ingin menghapuskan rasa sakit itu. Rasa pedih itu agar Sehun bisa tersenyum. Tersenyum bersama pancaran kebahagiaan dari matanya.

" Tidak salah, Sehunna. Perasaan cinta tidak pernah salah. Hanya, jangan biarkan perasaan itu memakan mu. Jangan pernah membiarkan rasa itu mengambil alih setiap sendi dari tubuhmu. Jangan biarkan rasa itu membunuhmu."

Kedengaran dengusan lemah lolos dari Sehun. Ia menunduk dalam sembari sebelah tangannya menyentuh kalung yang menghiasi lehernya.

" Aku hanya ingin mencintai, Jun. Apakah salah ? Apakah salah jika aku berharap dia juga ikut mencintaiku ? Setiap tindakannya membuatkan ku percaya bahawa dia juga ikut mencintaiku."

" Hunna," ia mengelus surai hitam itu penuh kasih sebelum ia memberikan kecupan lembut di pelipis lelaki manis itu. " Kita hanya bisa menilai seseorang itu dari matanya. Kita bisa mengetahui sedalam mana perasaan seseorang itu jika kita melihat matanya. Jadi, aku hanya tidak ingin kau terluka. Kau berharga untukku."

Sehun menggeleng kecil. Perlahan ia berdiri dari duduknya. " Aku... maafkan aku, Jun." Kemudian berlari kecil memasuki kamar tidurnya meninggalkan Junmyeon yang menatapnya penuh sayang.

" Hanya tetaplah di sisiku meskipun kau mencintainya dan bukan aku."

####

Sehun berlari kecil. Jantungnya berdebar kencang. Di tangan kirinya tersisip sapu tangan sutera yang sudah lengkap dan hanya menunggu untuk diberikan kepada Lu Han. Kimono ungu yang menutupi tubuhnya kelihatan begitu menawan saat ia berlari kecil. Bibirnya tidak berhenti untuk tersenyum sembari mengelus kalung yang tidak pernah ia lepaskan itu.

Lu Han datang menemuinya.

Setelah lebih enam bulan tidak menemui lelaki itu, akhirnya Sehun bisa menemuinya. Bisa menyentuhnya. Bisa menatapnya.

Ia menolak laju pintu kayu di mana sering menjadi pilihan Lu Han itu.

Di sana, sosok lelaki yang ia rindukan selama ini. Sedang berdiri membelakanginya dengan jas hitam menghiasi tubuhnya. Surai merahnya sudah tiada dan digantikan dengan warna hitam disisir rapi menampakkan dahi mulusnya. Dan saat ia menoleh kebelakang, senyuman yang sentiasa menghantui tidur malam Sehun itu terukir. Terukir hanya untuknya.

" Sehun, aku merindukanmu !"

Sehun tidak peduli. Ia menghambur ke dalam pelukan lelaki itu. Menghirup aroma yang begitu ia rindukan. Tersenyum saat mendengar kekehan yang ia rindukan itu.

" Aku tau kau juga merindukan ku, Sehun."

Dengan senyuman yang masih menempel di wajahnya, ia mendongak.

" Selamat datang, Han."

Sehun menutup matanya saat tangan Lu Han membelai surainya lembut.

Nyaman.

Nyaman sekali. Sentuhan ini, betapa Sehun merindukannya.

" Apa khabarmu ?"

" Baik-baik saja."

Ia melepaskan pelukan itu. Memerah saat melihat Lu Han tersenyum lebar.

" Aku punya sesuatu untukmu, Sehunna ! Kau tau aku ke Eropah kan ? Setelah itu aku ke Beijing."

Sehun mengangguk. Iya, dia masih ingat dengan jelas Chanyeol, adik tiri Lu Han itu datang memberitahunya.

" Kau tau aku menjumpai apa saat aku di sana ?"

Ia tersenyum lembut saat melihat sikap kebudakan Lu Han timbul saat ia antusias untuk bercerita kepadanya.

" Aku bertemu dengan Se Nah !"

Sontak senyuman yang sedari tadi terukir manis hilang.

Se Nah ?

Kekasih Lu Han ?

" Kau bertemu dengannya ?"

Lu Han mengangguk layaknya anak kecil.

" Kau tau apa dia bilang saat dia menemuiku ?"

Meskipun pahit untuknya, Sehun tetap menggeleng.

Ia bisa rasakan ada sesuatu yang akan terjadi.

" Dia bilang dia menyesal meninggalkan ku dulu. Terus dia bilang dia masih mencintaiku dan berharap agar bisa kembali bersama sama seperti dulu. Bisa kau bayangkan ? Se Nah mencintaiku ! Se Nah masih mencintaiku seperti mana aku mencintainya !"

" Aku akan menikah dengannya hari ini ! Oleh itu aku kemari untuk memberitahumu, setelah kami menikah kami akan menetap di Beijing."

Tidak.

Katakan ia hanya bermimpi. Sehun menundukkan kepalanya dalam. Mencoba menahan rasa sakit yang berdenyut dalam dadanya. Matanya memanas dan beberapa saat lagi mungkin airmata akan mengalir dengan deras.

Rasa pedih.

Rasa sakit.

Rasa tidak diingini.

Rasa keseorangan.

Kenapa ?

Kenapa Tuhan memberikannya ujian sesakit ini ?

Kenapa Tuhan menghadirkan perasaan ini jika balasannya hanya untuk disakiti ?

Kenapa ?

Kenapa orang-orang ini hanya tau untuk menikmati tubuhnya saja ?

Kenapa ?

Kenapa Lu Han tega memainkan nya seperti ini ? Memberikannya harapan yang selama ini ia cari ?

" Aku berbahagia untukmu, Han. Semoga kau dan Se Nah-ssi berbahagia."

Sehun sendiri tidak tau darimana ia mendapatkan kekuatan untuk mendongak dan tersenyum kepada lelaki di depannya itu.

Lelaki yang sudah merampas segalanya dari dirinya.

Lelaki yang sudah memberikannya indahnya perasaan cinta itu.

Lelaki yang Sehun anggap bisa membawanya ke jalan kebahagiaan.

Lu Han memeluknya. Mengusap surai hitamnya.

Kenapa aku merasa takut kehilangan saat aku sendiri tau bahawa aku tidak pernah dan tidak akan memilikinya.

Perlahan tangan nya naik dan membalas pelukan itu. Menggunakan sebesar tenaga nya untuk menahan sebarang airmata mahupun isakan lolos daripada mulutnya.

" Aku sudah menyiapkan pakaian untukmu dan juga mobil. Aku harap kau bisa mengikutiku."

Mengikutimu dan membiarkan ku semakin kelihatan seperti orang bodoh ?

Terima kasih saja.

" Aku harus menemani orang lain setelah ini. Maaf untuk menolak permintaan mu, Lu Han."

Kedengaran desahan kecewa dari sosok itu. Ia melepaskan pelukan dan kembali kepada postur tubuhnya yang sopan. Membungkukkan badannya 90 darjat kepada Lu Han.

" Selamat tinggal dan selamat berbahagia, Tuan Lu. Semoga Tuan menikmati setiap lawatan Tuan di sini. "

" Aku tidak akan melupakan mu, Sehunnie." Dan Sehun menerima kecupan halus di dahinya. Kecupan terakhirnya dari lelaki yang sangat ia cintai.

Sehun mengukirkan senyuman termanisnya. Menemani setiap langkah Lu Han yang menuju ke luar gerbang utama Dream Of Heaven, tempat idaman untuk para lelaki menunaikan mimpi mereka. Satu langkah lagi. Satu langkah lagi dan Lu Han tidak akan pernah kembali ke sini. Lu Han tidak akan pernah datang lagi.

" Jja, aku akan ke sini untuk melihatmu. Selamat tinggal, Sehun."

" Tuan Lu."

Lu Han menoleh kebelakang. " Ada apa, Sehun ?"

Sehun menyodorkan sapu tangan sutera itu kepada nya. " Hanya pemberian kecil dariku. Aku harap kau bisa menyimpannya."

Lu Han menyambutnya dengan senyuman di wajah tampannya. " Terima kasih, Sehunnie." Dan kembali jalan menuju ke mobil hitam yang tersadai di hujung jalan.

Sehun mengikuti arah tuju lelaki itu. Dan samar-samar ia bisa melihat sosok seorang perempuan sedang menunggu di dalam mobil itu. Tersenyum mesra saat Lu Han masuk ke tempat pemandu dan gengaman tangan nya menguat saat Lu Han memberikan kecupan yang sama kepadanya tadi.

Sehun tetap berdiri di gerbang utama itu sehinggalah mobil hitam Lu Han menghilang. Sehinggalah mobil hitam itu tidak kelihatan. Sehinggalah beberapa menit ia berdiri di situ. Matanya masih saja melekat ke arah jalanan kosong itu. Berharap bahawa apa yang terjadi barusan hanyalah mainan matanya saja. Berharap bahawa mobil Lu Han akan kembali ke sini. Berharap bahawa Lu Han akan datang untuk memohon maaf karna membohonginya.

Namun nihil.

Tetap saja kosong.

Oh Sehun, apa yang kau harapkan ?

Kau hanyalah bahan pelampiasannya.

Kau hanyalah singgahannya.

Perlahan ia kembali masuk. Mengabaikan beberapa temannya. Membiarkan kimono panjangnya saat ia berjalan. Ekspresi wajahnya tidak bisa dibaca.

Terluka.

Tersakiti.

Ia menuju ke kamar Junmyeon. Membukanya pelan dan tanpa kata ia masuk ke dalam pelukan hangat yang tidak pernah gagal menenangkannya. Ia menyamankan posisinya.

" Hey, kenapa, Sehunna ?"

" Dia pergi, Jun."

Jummyeon mengerutkan alisnya heran. Tangannya naik untuk mengusap surai halus milik Sehun.

" Dia akan menikah dengan perempuan lain. Dia pergi untuk selamanya, Jun. Dia pergi..." suaranya tersangkut.

Dan saat Junmyeon mengatakan sesuatu. Airmatanya mengalir tanpa bisa ditahan.

" Menangislah. Jangan tahan, Sehunna. Menangislah sepuasmu."

Sehun melakukan apa yang dikatakan oleh Junmyeon.

Ia terisak di dada Junmyeon.

Menangis sekuat hatinya.

Menangis sehinggakan ia tidak bisa mengeluarkan sepatah perkataan pun kepada Junmyeon.

Menangis sehinggakan ia kelihatan begitu menyedihkan.

Lu Han sudah pergi.

Lu Han pergi membawa hatinya.

Lu Han pergi setelah memberikan nya harapan bahawa lelaki itu juga memiliki perasaan yang sama sepertinya.

Lu Han.

Kumohon, kembalilah.

####

" Semoga Tuan senang dengan kunjungannya. "

Sehun membungkukkan badannya hormat. Setelah itu ia kembali masuk ke kamarnya. Mengambil sapu tangan sutera dan menyambung untuk menjahitnya.

" Aku merindukanmu."

Ia menutup matanya saat suara itu mengusiknya kembali. Meletak kembali sapu tangan itu, ia menarik kalung dari lehernya yang tidak pernah di tanggalkan itu.

Kalung ini.

Kalung pemberian Lu Han. Kalung yang sudah memberikannya harapan. Namun harapan itu hancur begitu saja.

Ini sudah dua minggu semenjak Lu Han pergi, semenjak ia menangis terisak dalam dekapan Junmyeon. Setelah itu ia berusaha keras untuk melupakan Lu Han. Untuk tetap tersenyum meskipun luka dihatinya semakin membesar. Untuk tetap kelihatan kuat di depan Junmyeon.

" Jun, apakah salah jika kita mencintai seseorang ?"

Sehun menutup matanya.

" Tidak salah, Sehunna. Perasaan cinta tidak pernah salah. Hanya, jangan biarkan perasaan itu memakan mu. Jangan pernah membiarkan rasa itu mengambil alih setiap sendi dari tubuhmu. Jangan biarkan rasa itu membunuhmu."

Mau bagaimana ?

Rasa cinta itu benar-benar sedang membunuhnya.

Ia sudah tidak bisa bertahan.

Setiap hari dia akan menunggu di jalanan dan berharap mobil hitam Lu Han akan datang.

Berharap Lu Han akan kembali.

Meskipun ia tau semua itu tidak akan pernah terjadi.

Meskipun ia tau Lu Han sudah bahagia bersama perempuan yang ia cintai.

Perlahan ia berdiri. Memasuki kamar mandi. Ia menyelupkan tangannya ke dalam tub mandi yang dipenuhi dengan mawar merah.

Bisakah ia melakukan sesuatu untuk menghilangkan kesakitan yang memakan dirinya ini ?

Bisakah ia melakukan sesuatu untuk membuatkan semuanya kembali normal ?

Perlahan jemari membuka ikatan kimononya. Menggapai pisau kecil nan tajam yang dibiarkan di meja nakas dan ia masuk ke tub mandi itu.

Ia menenggelamkan tubuhnya. Membiarkan kehangatan air itu dan wangi mawar memenuhi rongga hidungnya.

Perlahan, setiap memori mulai hadir dalam kepalanya.

Memori saat pertama sekali ia melihat Lu Han dan lelaki itu memeluknya erat sembari menangis kecil.

Memori saat Lu Han dengan senyuman menghiasi wajah tampannya dan sentuhan lembutnya.

Memori saat pertama kali ia jatuh cinta kepada Lu Han saat lelaki itu mengatakan ia begitu berharga. Begitu berharga untuk disakiti.

Memori saat adik tiri Lu Han memberikan kalung sekaligus harapan untuknya membesarkan perasaan itu.

Memori saat Lu Han kembali setelah enam bulan meninggalkan nya sendirian.

Dan memori saat Lu Han memberitahunya kekasih hatinya sudah kembali untuk menikah kepadanya.

Sontak matanya terbuka.

Sehun tidak bisa menghalang rasa sakit itu hadir. Ia tidak bisa untuk menahan airmata kembali mengalir membasahi wajahnya. Ia tidak bisa menahan isakan lolos dari bibirnya.

Ia menghapus kasar airmatanya.

Perlahan ia membawa pisau yang ada di tangan kanannya itu.

" Maafkan aku, Jun." Bisiknya lirih dan sedetik kemudian, darah merah sudah kelihatan.

Tuhan, maafkan aku.

Sehun perlahan menyandarkan punggungnya. Membiarkan tangannya bersandar di hujung tub mandi.

Setiap memori sepanjang perjalanan hidupnya bermain. Seolah pita rakaman yang dikhaskan untuknya.

Saat bagaimana pertama sekali ia dilahirkan penuh dengan rasa benci dari ibunya. Dibesarkan tanpa kasih sayang. Selanjutnya hanya berakhir di jual di tempat ini. Meskipun begitu ia bersyukur. Karna tempat ini satu-satunya yamg memberikan ia kasih sayang. Ia bisa mengenali Junmyeon.

Hahh, Junmyeon. Maafkan aku, Jun. Maafkan aku karna tidak membalas perasaan mu. Jika saja aku membuka lebar mataku, memandangmu sebagai lelaki yang ingin melindungi kekasihnya dan bukan memandangmu sebagai seorang kakak yang selama ini aku inginkan. Pastinya kehidupan ku lebih bahagia. Lebih tenang.

Dan kerana Dream Of Heaven ini jugalah ia menemui Lu Han.

Brakk

Kamar mandinya dibuka kasar.

" Sehunna ! Astaga, jangan. Ya Tuhan. Sehun !"

Samar samar ia melihat Junmyeon di pinggiran tub mandi. Wajah lembut itu begitu khawatir begitu takut.

" Jun..."

" Kumohon, jangan lakukan ini kepadaku, Sehunna. Tolong, jangan tinggalkan aku." Lelaki itu merintih, mencoba mengeluarkan Sehun dari tub mandi yang mulai bertukar warna merah.

" Maafkan aku, Jun."

" Bertahanlah. Sesiapapun, telepon ambulans !"

Sehun menggeleng kecil. Ia berusaha mengangkat tangannya. Namun sia-sia. Ia sudah tidak kuat untuk bergerak. Tangannya yang ingin bergerak itu juga terpaksa Junmyeon angkat dan menekapkan telapak tangan nya di pipi.

" Semoga kau menemui seseorang yang bisa menghargai cinta mu yang tulus, Jun. Maafkan aku mensia-siakanmu."

Sehun mencoba mengukir senyumannya. Pandangannya semakin kabur dan ia bisa rasakan detakan jantungnya yang melemah.

" Jangan berbicara seperti itu ! Kau tau aku hanya mencintaimu, Sehunna. Kumohon, tetaplah di sisiku. Aku akan menyuruh Lu Han ke sini. Aku akan membiarkan kau mencintainya. Jadi tetaplah di sini, Sehunna."

Sehun menggeleng pelan. " Aku sudah tidak bisa bertahan, Jun. Rasanya sungguh pedih saat cintamu tidak terbalas. Lebih baik aku pergi, aku tidak mau melukaimu."

Mungkin ini sudah saatnya.

" Maafkan aku, Jun."

Semuanya sudah gelap. Ia sudah tidak mendengar mahupun melihat apa-apa lagi. Rasa tenang ini yang ia cari dan kini ia mendapatkannya.

Sehun pergi, meninggalkan dunia, meninggalkan Junmyeon yang meratapinya. Meninggalkan Lu Han yang kini bahagia di sisi perempuan yang ia cintainya.

####

Mengapa aku takut untuk kehilangan mu sedangkan aku tidak memilikimu sekarang atau selamanya ?

####

Note : Chiey menangis saat menulisnya. T_T

SORRY FOR THE LATE UPDATE !

THIS IS DOUBLE UPDATE ! CHECK ANOTHER CHAPTER UPDATE !

PLEASE REVIEW TO LET ME KNOW HOW YOUR FEELINGS ABOUT MY ANGS FIC T_T TELL ME IF YOU CRY ALSO ~~

XOXO

KISS AND HUGS