The Best Father In The World

Naruto by Masashi Khisimoto

.

Chapter 3 : Dear My Father

Sai and Inojin

.

.

Tidak peduli berapa kalipun kau memakinya dan tak menyukainya, tidak peduli berapa tumpuk kebencianmu atasnya, kasih sayangnya akan selalu sama, tak berkurang sedikitpun

.

.

Menurut Sai hal yang paling membuatnya bahagia adalah hari dimana inojin lahir ke dunia. Putranya itu tampak begitu kemerahan, mungil dan rapuh. Dia lahir prematur. dan dengan segala upaya, dokter berusaha menangani si makhluk kecil tersebut.

Kebahagiaan sepasang suami istri itu seolah tak akan pernah padam. Tangis bayi mereka menjadi latar bagi senyum-senyum yang terkembang sempurna. Melegakan sekaligus mendebarkan. Namun, hal yang mengejutkan mau tak mau membuat kebahagiaan mereka agak menciut. Dokter mengatakan bahwa keadaan inojin tidak begitu baik. Bayi itu bisa saja tumbuh dewasa, tapi diperkirakan tak akan sesehat anak-anak lainnya. Ino sempat manangis dan Sai hanya bisa menenangkan dangan kekecewaan yang menggantung di ujung hatinya.

Lambat laun semua mulai terbiasa. Inojin yang keluar masuk rumah sakit karena tubuhnya yang sakit-sakitan. Semua organ yang dimiliki anak itu lemah, tak seperti anak-anak lain. Dan baik Ino maupun Sai hanya bisa berdoa dan berharap yang terbaik. Sementara harapan-harapan mereka seolah tersisih dan tak kunjung terkabul.

Sai hanyalah seorang buruh di pabrik pasta gigi, gajinya kadang tak cukup untuk membiayai keperluan rumah selama sebulan. Jadi ia kualahan mencari pinjaman kesana kemari untuk biaya rumah sakit putranya.

Sampai suatu hari ketika untuk kesekian kalinya ia datang ke rumah Shikamaru untuk meminjam uang, pria Nara itu tiba-tiba mengusulkan sesuatu padanya.

"Kau bercanda?" Sai mengerutkan kening setelah mendengar tawaran lawan bicaranya.

"Tentu saja tidak." Shikamaru memasang ekspresi seriusnya. "Lagipula dengan begitu kau akan bisa mendapatkan lebih banyak uang."

Wajah pucat Sai makin tampak pucat. "Kau yakin dengan menjadi badut semua akan jauh lebih baik?"

Shikamaru mengangguk. "Bayarannya tidak sedikit, kau hanya perlu memakai kostum badut dan menari bersama anak-anak kecil. Itu tidak sulit kan?"

Sai diam, merenung. Entah bagaiama ia begitu trgiur dengan ucapan Shikamaru. Lagipula pekerjaan itu patut untuk dicoba. Ia sedang membutuhkan uang, dan bukankah segala macam cara akan ia lakukan demi Inojin. Maka dengan penuh senyum ia menyetujui usulan Shikamaru itu.

.

.

Seperti hubungan ayah dan anak lainnya. Sai sangat menyayangi Inojin, begitu pun sebaliknya. Kasih sayang mereka layaknya sesuatu yang nyaris tak bisa diungkapkan lewat kata-kata.

Saat itu Inojin berusia 7 tahun. Duduk di kelas satu SD. Anak itu cukup pintar dan seringkali mendapat pujian dari guru karena aksinya yang mampu menjawab pertanyaan guru dengan baik. Semua memang awalnya baik-baik saja. Namun, kata-kata Boruto suatu siang saat acara istirahat membuatnya agak tersinggung.

"Kau itu cuma bocah ingusan yang kebetulan selalu beruntung." Boruto mendengus. Tak suka melihat pujian yang terus menerus dilayangkan guru pada bocah Shimura tersebut.

Sedangkan Inojin hanya diam. Ia tahu sejak awal jika Boruto tak menyukainya. Tapi selama ini ia tak pernah mempermasalahkan hal itu. Yang terpenting ia tak mengganggu kepentingan si Uzumaki. "Lalu apa masalahmu?"

"Masalahku?" Boruto terkekeh kesal. "Aku tak menyukaimu. Harusnya kau itu sekolah di tempat lain. Bukan di sini."

"Kau tidak punya hak untuk tak memperbolehkanku sekolah di sini. Ini sekolah umum. Ayolah bukan orang tuamu kan yang memlikinya." Ekspresinya datar. Dan meskipun ia engan meladeni kalimat-kalimat Uzumaki. Ia tak punya pilihan untuk tetap diam saja.

Ya... sekolah ini memang bukan milik orang tuanya. Dan ia makin dibuat kesal dengan gaya bicara inojin yang kalem tapi bernada sinis. "Dasar anak badut."

Semua teman-teman di kelasnya menertawakannya. Tawa itu begitu memuakkan hingga Inojin merasa gendang telinganya bisa pecah kapan saja. Ia menelan ludah, terlalu tersinggung hingga kepalanya terasa berkedut. "Jangan mengolokku!" Suaranya lantang hingga menghntikan tawa mereka.

Semua pasang mata di ruangan itu lekat memperhatikannya. Dengan bibir-bibir yang terkatup rapat akibat kemarahan yang terpancar dari manik biru laut Shimura.

"Kau memang anak badut kan?" Mata Boruto melotot ke arahnya. Menantang dengan sorot ejekan yang mengerikan.

"Aku tidak pernah membuat masalah denganmu." Inojin melangkah lebih dekat ke arah Boruto. Napasnya naik turun lantaran amarah yang seolah mencekik paru-parunya. "Tapi kenapa kau suka sekali mengolokku?"

Teriakan Inojin yang tepat di depan wajah boruto membuat bocah Uzumaki itu tak terima. Ia mendorong Shimura hingga bocah itu terjungkal dengan kepala membentur meja.

Bebrapa anak berteriak panik ketika melihat Inojin tak lagi bergerak. Mata anak itu mendadak trtutup. Mereka balik menyalahkan Boruto yang diam mematung dan masih tak percaya dengan apa yang dilakukannya. Matanya panas, ia ingin menangis mengetahui fakta tersebut.

Sebagian murid berhamburan keluar kelas untuk memanggil guru. Dan sebagiannya lagi tetap brada di kelas sembari mengerumuni tubuh Inojin yang tak sadarkan diri. Lagi pula apa yang mungkin diharapkan untuk dilakukan oleh para bocah umur 7 tahun? Mreka masih tak paham cara menyelamatkan orang lain.

.

.

Sai menghela napas panjang, matanya melirik sekilas pada Ino yang sibuk dengan kupasan apelnya. Sementara itu Inojin yang sejak beberapa jam lalu sadar tak mau mengatakan apapun.

"Sudah lebih baik kan?" Pria shimura itu berusaha bertanya. Meski ia sadar telah mengulang pertanyaan itu beberapa kali.

Mata biru Inojin menatap malas ke arahnya. Menampakkan gurat kecewa sekaligus kesal di saat bersamaan.

"Sayang. Jangan diam terus seperti itu." Ino tersenyum dan mengelus kepala putranya. "Ibu tahu ini pasti rasanya menyakitkan. Tapi ibu yakin, Boruto tak benar-benar ingin melukaimu. Dia hanya bercanda, intinya dia tak sengaja melukaimu."

Mengingat hal itu membuat bocah ini malah ingin menangis terisak. Boruto bukannya tidak sengaja. Ia jelas-jelas melihat sendiri bagaimana tangan si Uzumaki mendorongnya dengan kuat. "Aku mau pindah sekolah. Aku tidak mau satu sekolah dengan Boruto." Suaranya agak bergetar.

Sai dan Ino saling menatap. Seolah meminta pendapat satu sama lain. Namun, Sai lebih dulu duduk di dekat putranya. Berdehem sebentar sebelum benar-benar siap untuk mengungkapakan maksudnya. "Kau tahu nak? Ayah dulu juga sering bertengkar dengan paman Shikamaru, tapi lihat sekarang. Kami bahkan menjadi teman akrab. Sebenarnya pertengkaran diantara teman itu hal yang wajar. Poin pentingnya adalah bagaimana cara kita memperbaiki semuanya."

Bulir-bulir bening telah turun di kedua pipi bocah pucat itu. "Kalian hanya pandai bicara. Hidup di posisiku banar-benar tidak enak. Dia terus mengolokku Yah, bahkan mengolokmu. Dan aku tidak suka." Ia ingin berteriak keras, andai ini bukan di rumah sakit.

"Hei... sudah sayang. Jangan menangis. Baiklah... kami akan berusaha bicara dengan gurumu, oke? Jangan menangis lagi." Wanita pirang itu agak panik. Tangan lentiknya mengelus kepala anak itu dan berusaha menenangkannya.

Sai tertegun. Tak bisa mengatakan apapun. Sejujurnya ia mau-mau saja memindahkan Inojin ke sekolah lain. Namun, biayanya yang menjadi masalahnya. Sudah cukup dibebankan dengan kebutuhan sehari-hari yang seolah nyaris meretakkan punggungnya. Belum lagi jika Inojin harus bolak-balik ke rumah sakit. Pekerjaannya yang hanya seorang badut tidak benar-benar bisa memenuhi semua itu. Tapi apa boleh buat.

"Baiklah. Ayah dan ibu akan berbicara dengan gurumu."

Baru setelah itu tangis si bocah mulai agak mereda. Para orang tua kadang-kadang hanya terlalu takut jika anak mereka tumbuh tak bahagia. Namun, tak bgitu memikirkan jika terlalu memanjakan anak hanya akan membuat mereka makin egois. Terlepas dari semua itu, Sai dan Ino akan salalu menjawab bahwa mereka tak punya pilihan untuk tidak memenuhi keinginan putra tunggal yang begitu mereka sayangi tersebut.

.

.

Tidak ada pilihan lain bagi Sai dan Ino. Mereka benar-benar memindahkan Inojin ke sekolah lain. Anak itu terus memaksa, seolah ia lebih sengsara daripada sang ayah yang berjuang keras untuk memenuhi biaya di sekolah baru si bocah.

Di hari pertamanya sekolah. Baik Ino maupun Sai ikut mengantrkan putra mereka menuju tempat belajar barunya. Berharap segalanya akan baik-baik saja di tempat itu.

Seorang bocah perempuan menyapa Sai dengan senyuman lembut dan panggilan familiar. Gadis kecil itu mengaku bahwa Sai pernah hadir di acara ulang tahunnya. "Paman yang menjadi badut waktu itu kan?" Senyumnya menampakkn deretan gigi putihnya yang lucu.

Ada banyak pesta ulang tahun yang Sai hadiri, dan ia nyaris tak mengingat satu persatu anak yang pernah menjadi tuan rumahnya. Tapi ia tetap memaksakan senyumnya terkembamg sempurna. Meski otaknya sibuk mengingat gadis kecil tersebut.

"Namaku Sarada, Sarada Uchiha." Ucapnya penuh semangat. "Paman badut, siapa dia?" Telunjuknya mengarah pada Inojin, sementara Ino di samping putranya hanya terkikik karena gemas melihat tingkah bocah yang satu itu.

Sai berjongkok di depan si gadis rambut hitam tersebut.

Tersenyum makin lebar. "Namanya Inojin Shimura. Dia putraku."

Sarada mengangguk mengerti. "Hai Inojin. Senang brtemu denganmu." Ia melambaikan tangan mungilnya.

Inojin meringis aneh, entah bagaimana ia tak suka melihat gadis itu mengenal ayahnya. Sejak olokan Boruto waktu itu, ia memikirkan pekerjaan ayahnya berulang kali. Lalu pada akhirnya ia menyimpulkan, jika badut ternyata lebih tepat disebut menyeramkan daripada lucu.

"Bagus, kau sekarang memiliki teman baru." Ino berkata lembut sembari mengelus helaian pirang putranya. Sebenarnya ia ingin mngatakan agar Sarada mau mnjaga Inojin, tapi setelah dipkir-pikir tak seharusnya yang perempuan malah melindungi yang laki-laki.

Hari itu Sai dan Ino tak begitu khawatir lagi jika Inojin akan bertengkar dengan siswa lain. Karena dari cara siswa-siswa itu menerima Inojin, segalanya tampak lebih baik. Sejujurnya kehadiran Sai di sekolah itu lebih mnarik perhatian. Sebab sebagian besar mereka begitu menyukai sosok Sai yang biasanya tengah memakai kostum badut dan mampu menghibur anak-anak.

Namun entah pria itu sadar atau tidak jika putranya mulai tak menyukai profesi sang ayah.

.

.

Sarada anak yang baik, dan Inojin menyukainya. Gadis itu adalah teman satu-satunya yang tak pernah memanggilnya dengan julukan apapun yang menyakitkan. Di mana pun berada, berharap tak ada orang jahil ataupun jahat itu mustahil. Meskipun menurut Sai maupun Ino di sekolah baru Inojin akan memiliki lebih banyak teman. Kenyataannya itu hanya omong kosong yang berusaha mereka besar-besarkan. Satu-satynya yang membuat Inojin tetap bertahan di sekolah itu adalah Sarada. Alasannya tak bisa ia mengerti, tapi bersama Sarada membutanya sedikit tenang dan lupa bahwa ia tak senormal anak-anak lainnya.

Suatu hari seorang anak bernama Mitsuki menumpahkan bekal makan siangnya. Inojin kesal karena anak itu tak mau minta maaf padanya. Beralasan bahwa itu hanya sebuah ketidak sengajaan, jadi dia tak perlu meminta maaf.

"Aku tidak pduli, kau harus minta maaf padaku." Matanya sudah berkabut, menangis dalam situasi saat ini hanya akan mempermalukan dirinya.

"Aku tidak sengaja. Lagipula kenapa kau begitu mempermasalahkan hal itu?" Anak dengan rambut tak biasa itu mendecak. "Aku bisa menggantinya. Nanti aku akan pergi ke kantin dan mengganti bekalmu yang tumpah."

Tapi bukan itu yang diinginkan si bocah Shimura. Ia hanya ingin Mitsuki meminta maaf padanya. Karena bagaimanapum juga makanan kantin tak prnah membuatnya merasa lebih baik. "Ku bilang minta maaf padaku!" Ia nyaris berteriak. Wajahnya merengut karena kesal yang tak bisa ditampung. Dan ketika ia menatap bekal makannya yang tumpah ruah di lantai, hatinya terasa sakit. Padahal sang ibu sudah susah-susah bangun begitu pagi untuk membuatkannya bekal, tapi bekal itu tumpah sebelum ia sempat memakannya.

"Dasar anak manja." Alih-alih minta maaf, Mitsuki malah meninggalkannya tanpa rasa bersalah.

"Hei... kau, kembali, Mitsuki... kembali! Kau harus minta maaf." Teriakan Sarada tak membuat anak yang barusan keluar kelas kembali, aksi itu malah membuat teman-teman kelas mereka menatap mereka dalam diam.

Inojin berjongkok. Memasukkan kembali nasi kotor yang tercecer itu ke dalam kotak makannya. Dan meski emosinya nyaris membuat dadanya sakit, ia masih berusaha keras untuk menahan linangan air matanya agar tak tumpah.

"Sudah jangan hiraukan dia." Sarada berjongkok di samping Inojin. "Nasimu sudah kotor, nanti kau ikut aku memakan bekalku saja."

Serabutan bocah Shimura itu menghapus air matanya. Menatap lekat pada iris hitam gadis kecil di hadapannya. Rasanaya damai, dan ia tak bisa mengatakan apapun untuk mendeskripsikan betapa senangnya ia memiliki teman seperti gadis Uchiha itu. Dia wanita kedua setelah sang ibu yang membuatnya merasa bahagia dan berpikir bahwa ia tak benar-benar sendirian.

Di lain hari, Mitsuki suka sekali menjulukinya mayat hidup. Itu karena wajah Inojin yang kelewat pucat dan kadang tanpa ekspresi. Awal-awal hal itu masih bisa ditoleransi dan mendiamkannya adalah cara terbaik. Tapi, ketika nama ayahnya mulai dibawa-bawa dalam masalah sepele itu. Inojin tak punya pilihan untuk tetap diam tak bereaksi.

"Ku bilang diam! Kenapa kau suka sekali menggangguku?" Ddanya naik turun. Mengimbangi napasnya yang tak teratur.

"Akhirnya kau marah juga." Anak itu tertawa senang. Gurat-gurat jahil tampak jelas di wajahnya. "Aku hanya Mengatakan yang sebenarnya. Ayahmu memang cuma seorang badut, dan wajah pucatnya ketika tak sedang memakai make up banar-benar menakutkan." Ia bergidik, hanya untuk memperagakan ketakutannya.

Anak-anak lain tertawa. Dan meskipun berkali-kali Sarada mengatakan agar Mitsuki dan anak-anak lain tak lagi mengganggu Inojin, hal itu dibiarkan berlalu dan tak digubris sedikitpun.

"Kau boleh membenciku. Jangan sangkut pautkan ayahku." Ia mngusap air matanya. "Memang aku salah apa padamu? Ayahku salah apa padamu?" Sesenggukan tangisnya pecah.

Bukan simpati yang ditunjukkan Mitsuki. Dia malah tertawa keras. "Dasar cengeng." Sorakan anak-anak lain ikut menggema dalam ruang kelas itu.

"Diam!" Sarada berteriak semampu yang ia bisa. Wajahnya merah padam. Rasanya ia ingin memukul satu-persatu anak-anak nakal tersebut. "Berani kalian mengoloknya lagi. Aku akan mengadukan kalian pada pak guru Konohamaru."

Baru setelah itu tawa mereka benar-benar berhnti. Alasannya karena Konohamaru bukanlah guru biasa-biasa saja. Dia adalah guru yang begitu disiplin dan tak segan-segan memukul jika mendapati ada murid yang nakal.

Sarada merasa lega ketika ancamannya banar-benar berhasil. Hal yang ia lakukan berikutnya adalah menenangkan Inojin. Ya... menenangkan dengan bujukan apapun. Karena sejauh ini ia selalu berhasil membuat Inojin tenang dan tak lagi mempermasalahkan hal buruk yang baru saja dialaminya.

.

.

Ketika olokan teman-temannya menjadi begitu sering terjadi. Diam-diam Inojin sering mengamati sang ayah. Ia hanya ingin tahu betapa pucat wajah sang ayah. Hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Dan suatu hari ketika ia dan sang ibu tenagh duduk di teras rumah sembari membicarakan hal apa yang terjadi di sekolah, ia mulai memikirkan untuk bertanya sesuatu.

"Bu..."

"Ya?" Ino yng sedari tadi berceloteh tentang masa kecilnya menatap heran ke arah putranya. Mengernyitkan kening ketika anak itu tak kunjung melanjutkan kalimatnya. "Ada apa sayang?"

Sejenak Inojin menatap lekat sang ibu. Mengagumi betapa jernih warna mata wanita itu. Dan betapa sempurna wajah di hadapannya itu. Rambut pirang yang tampak begitu halus. Alis tipis yang melengkung sempurna. Bulu mata yang lentik dan mempesona. Ya Tuhan... ibunya seperti jelmaan bidadari. "Kenapa ibu menikah dengan ayah?"

Ino semakin mengernyitkan keningnya. Kepalanya agak miring untuk merenungkan kembali pertanyaan itu. Dan detik berikutnya ia tersenyum geli. "Mungkin itu takdir. Ibu brtemu dengan ayahmu juga bukan sebuah kesengajaan."

Inojin hanya diam. Ia tahu jika setelah ini, wanita itu akan berbicara panjang lebar tntang apa yang terjadi di masa lalu. Bukannya ia sebal atau bagaimana, tapi... mendengarkan cerita itu kelihatannya menjemukan.

"Ayahmu dulu seorang pemadam kebaran. Dan kami bertemu di toko roti saat insiden kebakaran yang nyaris meledakkan toko roti tempat ibu bekerja." Wanita ini menghela napas. "Hubungan kami semakin dekat. Jadi kami memutuskan untuk menikah ketika usia kami sama-sama 23 tahun." Ia tak berniat melanjutkan. Lagipula tak ada kisah yang begitu romantis dalam hubungan mreka. Karena Sai bukan tipe pria yang akan melakukan hal-hal romantis seperti yang pernah ia pikirkan. Pria itu tipe orang yang langsung pada topik dan tak begitu suka dengan basa-basi.

"Ya... kisah yang bagus." Tak ada senyuman. Bahkan ia tak benar-benar berpikir bahwa kisah itu luar biasa. Itu hanya kisah klasik yang terdengar terlalu biasa.

"Hanya itu yang ingin kau tahu?"

Inojin mendecak. "Sebenarnya bukan itu." Ia diam sejenak untuk mengamati ekspresi sang ibu. "Tadinya aku mau bertanya kenapa ibu mau mnikah dengan ayah. Apa dia spesial? Menurutku dia terlalu pucat. Dan ibu begitu cantik, tidak terlalu serasi."

Ino terkejut dengan ungkapan buah hatinya yang cukup keterlaluan itu. Namun ia pikir Inojin masih terlalu kecil untuk bisa membedakan mana yang baik dan tidak baik. "Sayang... kalau ibu tidak menikah dengan ayahmu, pasti kau tidak akan pernah lahir ke dunia ini."

"Ya... lebih baik begitu. Dari pada aku harus lahir dan menjadi anaknya." Ia mengmbungkan pipi. Kekesalannya akhir- akhir ini membuatnya selalu ingin marah di setiap kesempatan.

"Ya tuhan... Inojin apa yang kau katakan?"

Sementara Ino terus menasehati putranya dengan berbagai penuturan lembut tentang betapa berdosanya seorang anak yang tidak mau mengakui orang taunya. Sai berdiri di dekat jendela tempat Ino dan Inojin berbincang. Pria itu Mematung di sana dengan perasaan sedih yang membuncah. Ada segumpal rasa yang mengganjal di hatinya, merasuk pada tiap inci pembuluh darah hingga berakhir di matanya. Meskipun ia tak sampai menangis mendengar kata-kata kasar itu, tapi matanya terasa brkabut. Sebegitu bencinya kah putranya padanya?

.

.

Hidup mereka makin susah setiap harinya. Apalagi tubuh Inojin yang makin rentan sakit dan membuatnya sering bolak-balik rumah sakit.

Di ulang tahunnya yang ke 8. Anak itu bilang bahwa ia menginginkan sebuah mainan robot yang harganya membuat sai terkejut. Jelas terlalu mahal baginya. Dan ia tak bisa menyanggupi si buah hati. Membuat anak itu mengamuk dan tak mau makan nyaris 2 hari. Dapat di pastikan apa yang akan trrjadi selanjutnya. Keadaannya makin buruk dan jalan satu-satunya adalah membawanya ke rumah sakit.

Inojin semakin kesal lantaran robot yang di belikan ayahnya pada hari minggu itu tak seperti yang ia harapkan. Ia pikir ayahnya terlalu bodoh untuk paham apa yang ia inginkan. Jlas bocah ini tak sadar jika uang tak bisa di dapat dengan mudah. Terkadang Pikiran anak-anak tak pernah dipenuhi hal-hal tentang betapa susahnya orang tua mereka berjuang untuk bisa menafkahi keluarganya. Karena dunia mereka hanya di penuhi dengan kesenangan, kesenangan dan kesenangan.

"Buang ini. Aku tidak suka." Ia melempar robot kecil yang tak terlalu mahal ke arah ayahnya. Mainan itu tergeletak menyedihkan di lantai rumah sakit.

Sai merasakan jantungnya berdebar. Matanya beralih pada mainan itu. Beberapa saat ia hanya diam seperti itu.

"Inojin... apa yang kau lakukan?" Ino brusaha tetap bersabar menghadapi kelakuan putranya yang makin buruk tiap harinya.

Pelan Sai mengambil robot kecil itu dan menatapnya. "Ayah pikir kau mungkin bisa menerima ini sampai ayah bisa mmbelikan mainan yang kau minta itu." Nada sauranya sedikit bergetar. Membuat Ino yang masih berusaha menenangkan buah hati mereka nyaris menangis karena kesedihan yang bertumpuk di hatinya.

"Aku tidak mau. Tidak mau ya tidak mau." Bocah itu masih dalam pendiriannya. Tak sedikitpun sudi untuk melihat ke arah sang ayah.

Sai menghela napas panjang. Berusaha tetap menampakkan senyumnya bahkan ketika hatinya menjerit keras. "Ya sudah kalau begitu." Kakinya melangkah pelan keluar dari ruang tempat Inojin dirawat. Ia tak akan menangis bahkan jika matanya hampir tak mampu menampung genangan air itu. Baginya tak ada yang lebih menyedihkan ketimbang tangisan seorang ayah yang diperlakukan anaknya dengan buruk.

Ino mematung menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu. Sai adalah orang paling sabar. Dan ia mengeluh, kenapa Inojin yang sekarang menjadi seperti ini?

.

.

Udara terasa lebih dingin di luar ruangan. Beberapa kali Sai mengusap tangannya. Berharap rasa hangat akan membuatnya sedikit lebih baik, meski nyatanya, rasa hangat itu tak pernah hinggap di telapak tangannya.

"Kau tidak tidur?" Ino datang dari arah belakang. Berdiri di samping suaminya yang tengah memandang sebatang pohon maple yang berdiri sendirian di taman rumah sakit.

Sai menoleh. "Ku pikir kau sudah tidur."

"Belum." Ino menatap wajah Sai yang seperti bersinar di bawah lampu jingga taman. "Kau masih memikirkan sikap Inojin tadi?" Ya pastilah begitu. Tidak mungkin kata-kata menyakitkan itu bisa dilenyapkan begitu saja.

Tak ada jawaban. Sai lebih memilih menghela napas panjang ketimbang memberikan pernyataannya.

"Kau tahu Sai, ada banyak hal yang terkadang tak mampu kita pahami di dunia ini. Beberapa orang diuji dengan sakit yg teramat menyakitkan. Sebagian yang lain mendapat cobaan yang entah bagaimana rupanya. Itu adalah salah satu wujud bahwa Tuhan menyayangi makhluknya. Dia menguji bukan untuk memberikan hukuman, tapi dia menguji untuk mengetahui seberapa besar kemampuan kita untuk mengatasinya. sekaligus menunjukkan bahwa kasih sayangnya semakin tulus pada makhluknya." Wanita itu mengedipkan matanya yang mendadak terasa panas. Meski hatinya terasa sakit karena banyaknya cobaan yang menimpa keluarganya. Ia berjanji akan selalu berusaha tegar apapun yang terjadi.

Sai mengerling ke arah istrinya. Menampakkan ekspresi takjub yang terselip di antara gurat-gurat lelahnya. Istrinya tak cuma cantik fisiknya namun juga hatinya.

"Jangan mnyerah Sai. Inojin hanya perlu waktu untuk menjadi anak yang lebih baik. Aku yakin dia menjadi sedikit sensitif dan pemaksa karena tak bisa menerima keadaannya. Dia ingin menjadi normal seperti yang lainnya. Dan sayangnya itu mustahil." Jemari lentiknya mengusap matanya. Suaranya yang semula baik-baik saja mulai terdengar bergetar.

"Jangan menangis." Tangannya merangkul pundak istrinya. "Aku bisa memakluminya. Dia masih krcil. Ada saatnya di mana anak itu akan tumbuh menjadi anak yang baik dan tak akan memberontak lagi. Aku yakin itu."

Ino menutup wajahnya dengan kedua tangan dan terisak pelan.

Sai mulai menguatkan tekadnya lagi. Sejujurnya sejak menikahi Ino ia telah berjanji akan menjadi pemimpin keluarga yang baik, apapun yang terjadi. Apalagi semua ini menyangkut buah hati mreka. Jadi Sai tak lagi merasa bahwa itu adalah hal berat. Itu cuma sebuah hal kecil, masalah yang tak lebih besar dari setumpuk dokumen yang harus ditanda tangani.

.

.

Musim panas, ketika usia Inojin menginjak 9 tahun. Anak itu lagi-lagi masuk rumah sakit setelah terjengkang karena memaksakan diri ikut dalam permainan sepak bola di sekolah. Bocah itu selalu berusaha tampak baik-baik saja, seolah dirinya senormal anak-anak lainnya. Meski kenyataannya tubuhnya tak sekuat yang dibayangkan. Berapa kalipun ia menyangkal memiliki gangguan kesehatan, faktanya tubuh lelahnya nyaris tak peranh bisa diajak kompromi.

Sai menahan napas ketika menatap putranya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. D samping anak itu, istrinya duduk dan tak berhenti menangis. Ia pikir segalanya akan membaik bersamaan dengan bertambahnya usia anak itu. Tapi kenyataan berbanding terbalik dengan khayalannya.

"Apa yang dikatakan dokter?" Tanya Ino pelan. Ia menggenggam tangan putranya dengan sayang.

Sai menelan ludah. Menghela napas panjang. Ragu untuk mengatakan yang sebenarnya pada Ino. Wanita itu mudah sekali menangis dan awalnya ia pikir menyembunyikan semua akan lbih baik. Tapi... Ino juga tahu yang sebenarnya. "Inojin tidak akan sembuh 100 persen. Jantungnya mengalami kelainan bawaan. Dokter tak bisa memastikan jika umurnya akan sepanjang yang bisa mereka prediksikan."

Air mata wanita itu kembali lolos. Bibirnya bergetar ketika penglihatannya menyapu mata yang tertutup di hadapannya. Ia tak akan pernah mampu mlepas anak itu. Tak akan pernah.

"Tapi... mreka akan tetap brusaha agar Inojin bisa bertahan hidup." Tenggorokannya terasa tercekat. Bagaimana pun usaha manusia untuk mempertahankan segalanya, kekuatan Tuhan jauh lebih pasti. Dan jika Tuhan berkehendak mengambil Inojin dari mrreka. Hal itu lebih mudah dari pada usaha mereka mempertahankannya untuk hidup.

Tak ada jawaban dari Ino. Rasa sakit di dadanya membuatnya nyaris tak bisa melontarkan kata apapun. Apakah Tuhan begitu menyayangi keluarganya hingga membrikan cobaan sebesar ini?

"Sudah Ino... sudah... kita akan menghadapi semua ini bersama. Jangan menangis lagi." Tangannya menepuk pundak istrinya pelan. Berusaha menenangkan, meski dirinya sendiri tak kalah kacau dari wanita itu. Ada hal lain yang mnyita pikirannya. Bagaimana ia bisa melunasi biaya rumah sakit anaknya sekarang? Apakah ia harus meminjam uang lagi?

.

.

Tiap kali selesai menghibur anak-anak yang tengah merayakan ulang tahun mereka. Sai bergegas menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Inojin. Keadannya yang tak kunjung membaik membuat anak itu diharuskan tetap dirawat di rumah sakit. Sesekali ketika Ino pulang ke rumah untuk membersihakan rumah dan memasak untuknya, maka ia yang harus menjaga bocah tersebut.

Lama kelamaan melihat betapa menyedihkannya keadaan anak itu membuat Sai ingin menghiburnya. Hatinya jauh lebih sakit melihat wajah pucat buah hatinya yang makin pucat. Kenapa putranya harus menderita seperti itu. Bahkan jika bisa ia memohon pada Tuhan agar dirinya saja yang sakit dan putranya dibiarkan sehat. Ia ingin mlihat Inojin bisa menikmati masa kecilnya bersama teman-temannya. Berlari-lari di lapangan ujung kota untuk bermain layang-layang, atau mengejar bola dengan bertelanjang kaki. Betapa bahagianya orang tua yang memiliki anak sehat seperti yang ia bayangkan tersebut. Nyatanya ia selalu hanya berangan-angan.

.

.

Sore itu, ketika Ino masih belum kembali ke rumah sakit. Ia berniat menghibur Inojin dengan kostum badutnya. Jika anak-anak lain di luar sana tertawa melihat badut, besar kemungkinan bahwa Inojin pun akan merasa terhibur. Ya... ia harus mencobanya.

Namun, di luar dugaan. Ketika Sai berdiri di hadapan putranya dengan kostum badut. Anak itu malah mengubah arah pandangannya. Berbaring Membelakangi sang ayah. Bibirnya tertutup rapat dengan mata yang setengah melamun. Sai tak menyerah, ia berjalan ke arah tatapan Inojin. Lagi-lagi anak itu mengubah arah pandangnya.

Oke... ia tahu, itu tak berhasil. Maka dengan gerakan lemas tangannya mulai melepas kostum itu. Berdiri terpaku dan menatap punggung Inojin. Betapa ringkih tubuh kecil itu. Tapi kenapa beban penyakitnya tak bisa dihilangkan dengan mudah? Kenapa Tuhan membebaninya dengan penyakit itu? Salah apa yang pernah dilakukan bocah kecilnya di masa lalu? atau dosa apa yang pernah ia atau Ino lakukan?

Meski menghibur dengan mengenakan kostum badut tak berhasil membuat anaknya tertawa. Ia tak menyerah, pikirannya tengah sibuk mencari cara untuk menyusun rencana. Ia mungkin bisa melakukan hal lain. Bukankah kesukaan seorang anak tidak slalu sama. Jika anak-anak lain menyukai badut, barangkali Inojin tak menyukainya. Ya itu mungkin benar.

.

.

"Ya, hanya itu yang kupunya." Shikamaru menyerahkan beberapa tumpuk uang pada Sai. "Tapi jangan khawatir, kau tak perlu mengmbalikan secepatnya. Kembalikan jika kau benar-benar memiliki uang saja." Sai begitu tampak lelah di hadapannya. Dan ia tahu apa yang telah dialami teman baiknya tersebut.

"Terima kasih Shikamaru. Awalnya aku bingung mau meminjam pada siapa. Sekali lagi terima kasih." Tidak berapa lama setelah itu. Sai pamit untuk kembali ke rumah sakit dan menemui Ino serta Inojin.

Shikamaru hanya melepas kepergiannya dengan anggukan dan rasa iba yang begitu dalam.

Sementara itu. Sai tak benar-benar pergi ke rumah sakit. Ia mampir ke toko mainan. Mencari mainan robot terbaru yang mungkin akan membuat Inojin merasa senang. Ia bertanya pada si pelayan toko dan pada akhirnya benar-benar mendapatkan apa yang diinginkannya. Dengan pelan dan senyum yang terkembang sempurna ia melangkahkan kaki keluar toko mainan.

Ketika melewati toko bunga, entah kenapa ia ingin sekali membeli sebuket mawar untuk Ino. Maka ia langkahkan kaki lelahnya ke sana. Berbicara dengan semangat yang terasa memenuhi ubun-ubunnnya pada si penjual bunga. Dan setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, ia keluar dari toko bunga dengan senyum yang lebih cerah dibanding sebelumnya.

Sai membayangkan Inojin akan tersenyum memeluknya, kemudian Ino akan bilang bahwa tak ada pria yang lebih romantis dibanding dirinya. Itu pasti sangat menyenangkan. Lagi pula entah kenapa ia merasa tak memliki banyak waktu lagi untuk wejudkan banyak hal dalam hidupnya.

Pria shimura itu brdiri bersama para pejalan kaki lain yang hendak menyeberang. Kerumunan padat itu tengah menanti lampu tanda menyeberang bagi pejalan kaki menyala dengan gumaman tak sabar. Sebagian menggerutu karena merasa akan pulang terlambat, sementara sebagian lagi mengumpat karena tak sabar. Dan ketika lampu tanda menyeberang benar-benar menyala, kerumunan itu mulai berjalan melintasi jalanan yang luas. Sai tak ketinggalan, ia merasa lega ketika telah sampai di ujung lain jalanan.

Namun, rasa leganya mendadak sirna ketika tahu bahwa sebagian mawarnya tercecer di tengah jalan. Ia bergumam kesal. Bagaimana mungkin si pemilik toko bunga itu tak becus mengemas bunga pesanannya. Matanya bergulir ke arah lampu yang masih menunjukkan lambang pejalan kaki. Sai berlari ke tengah jalanan yang baru saja ia lewati. Merasa beruntung lagi ketika tangannya sempat memegang bunganya yang tercecer di jalanan. Tapi hal berikutnya yang terjadi benar-benar di luar perhitungannya. lampu berubah menjadi hijau secepat yang bisa dibayangkan. Mobil yang datang dari belakang mobil lain tak sempat melihatnya.

Tubuh Sai terpental jauh. Kepalanya membentur aspal yang keras. Hal terakhir ia ingat adalah teriakan orang-orang, kemudian entah kenapa bayangan masa lalunya kembali terulang. Ia mendengar suara tangis Inojin ketika baru lahir. Tangis haru Ino dan senyumnya sendiri yang masih teringat begitu pekat. Lalu Inojin tumbuh menjadi bocah yang lucu. Mereka memasukkannya ke sebuah taman kanak-kanak ketika usia Inojin 4 tahun. Lalu perlahan kesadarnnya hilang. Sebuah bayangan putih merengut segalanya.

Jalanan macet. Teriakan orang-orang bersahut-sahutan dari ujung timur hingga barat. Para wanita panik dan hanya bisa bicara dengan nada histeris. Sementara sebagian pria dewasa mulai mendekati tubuh Sai yang berlumuran darah. Mainan robot yang hendak ia berikan pada putranya masih tergenggam di tangannya yang longgar. Tapi bunga mawar merah itu tercecer mengenaskan di hitamnya aspal jalanan. Sebagiannya terlindas ban mobil yang menabrak pria Shimura Yang malang tersebut.

.

.

Kabar tentang Sai yang mengalami kecelakaan dan kehilangan nyawanya beredar dengan cepat. Seperti peluru yang melesat. Ino merasa pikirannya hancur saat itu juga. Beberapa kali tubuhnya kehilngan keseimbangan dan pingsan. Temn-temannya seperti Temari dan Hinata hadir di sana untuk menenangkanya.

Sementara itu Inojin yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit masih tak percaya dengan kabar tersebut. Bagaimana mungkin sang ayah yang siang tadi dilihatnya masih penuh senyum kini telah kehilangan nyawanya. Bahkan rasa usapan tangan pria itu di kepalanya masih begitu baru. Ada sesuatu yang terasa sakit dan mengganjal di dalam hatinya. Shimura sai tidak benar-benar mati kan?

.

.

"Aku menemukan ini. Dia menggenggamnya." Shikamaru menghela napas panjang. Duduk di dekat bocah kecil itu sembari mengulurkan sebuah kotak yang terbungkus kantong plastik. "Kupikir ini untukmu."

Inojin membiarkan air matanya berlinangan. Sementara tangannya menerima uluran benda itu. Gerakannya begitu pelan saat membuka apa isi dari kotak yang dibawa Shikamaru untuknya itu. "Robot?" Tangisnya makin terdengar keras.

Tangan Shikamaru mengelus kepala anak itu. "Sudah... jangan menangis lagi. Ayahmu akan makin sedih jika kau seperti ini. Relakan dia agar dia tenang di sana." Meski sejujurnya ia merasa begitu kehilangan sosok Shimura sai. Di mana mreka dulu berjuang bersama ketika masih SMA. Mengalami banyak hal sedih dan bahagia bersama-sama. Hingga akhirnya Sai memlih menikahi Ino dan dirinya menikahi Temari yang merupaka gadis dari kota sebelah. "Kau tahu Inojin... kadang kita tidak pernah menayadri betapa berharganya seseorang sampai kita kehilangan orang tersebut."

Tak ada jawaban. Inojin menggenggam erat mainan itu hingga rasanya ia kesal bercampur sedih. Kenapa ayahnya tak bilang jika akan mati. Kenapa ayahnya bgitu cepat meninggalkannya. Kenapa ayahnya malah memblikannya robot terbaru ini sebelum meninggalkannya dan terlalu banyak kenapa yang kebanyakan tak masuk akal untuk dipertanyakan.

"Sudah jangan menangis lagi."

Malam itu ia melihat betapa menyedihkannya mayat sang ayah. Wajah pucatnya tampak lelah namun damai disaat yang bersamaan. Apakah ayahnya tengah melihatnya diatas sana? Bocah itu masih menangis dan Shikamru dengan sabar terus menenangkannya.

Banyak kenangan berkelebat di benaknya. Bagaimana masa kecilnya yang begitu menyenangkan ia habiskan bersama sang ayah. Pria yang menurutnya adalah sosok pahlawan yang jarang disadari. Paman Shikamarunya benar, kita tidak pernah menyadari betapa pentingnya seseorang sampai kita kehilangannya. Seperti yang ia alami. Tapi penyesalan terbesarnya adalah ia sering mengacuhkan sang ayah. Selalu mengeluh kenapa memiliki ayah seperti Shimura Sai yang pucat. Sikapnya pada ayahnya juga begitu buruk. Ia menyesali semuanya, semuanya.

.

.

Musim panas masih tersisa. Matahri yang bersinar atas langit menunjukkan senyumnya yang merekah luar biasa. Awan-awan tipis tertiup angin ke arah selatan. semntara kicauan burung di dahan-dahan pohon terdengar merdu, mengalun bersama udara hangat yang terpancar tiap siang.

Inojin menatap keluar jendela. Secarik kertas dan papan kayu terletak di hadapannya. Tangannya tengah memegang pena dengan erat. Detik berikutnya ia menggerakkan pena itu agar menggoreskan sejumlah kata di kertas putih miliknya.

'Dear ayah...

Maafkan aku karena tidak pernah bersyukur telah memilikimu. Maafkan aku yang salalu nakal dan tidak pernah menjadi anak yang baik. Kadang-kadang aku menyesal telah memperlakukanmu dengan sangat buruk. Tapi entah bagaimana sikapku memang sulit dikendalikan tiap kali berada di hadapanmu.

Yah... aku rindu padamu. Aku rindu senyummu yang biasanya hadir menyambut tiap hari-hariku. Aku rindu candaanmu yang kadang tak lucu. Aku rindu semuanya tentangmu.

Akhir-akhir ini ibu jadi sering diam dan menangis sendirian. Dia pasti juga merindukanmu tapi tak pernah mengatakan apapun padaku. Wanita itu makin kurus tiap harinya. Dan aku khawatir, bagaimana jika ibu juga akan sakit. Siapa nanti yang akan merawatku dan menghiburku saat sedih?

Yah... aku tidak tahu kenapa Tuhan mengambilmu begitu cepat. Apakah ini hukuman untukku karena tak memperlakukanmu dengan baik? Atau karena ayah memang seharusnya pergi karena Tuhan merindukan ayah. Aku bosan di sini yah, kadang aku berharap kau hidup lagi. Dan orang-orang cuma membual soal kematianmu. Tapi berapa Kalipun harapan itu muncul. Semuanya tidak pernah seperti yang aku pikirkan.

Yah...terima kasih untuk robotnya. Aku akan memperlakukannya dengan baik. Dan tidak akan merusaknya.

Terakhir aku mau katakan bahwa aku sayang ayah. Ayah adalah ayah terbaik di dunia.'

Inojin menghntikan aksi tangannya dan menangis sesenggukan. Matanya benar-benar sakit dan tak mampu lagi menahan linangan air matanya.

"Kenapa sayang?" Sang ibu yang baru masuk ke ruang tempatnya dirawat tampak panik. Dan buru-buru mendekat.

Bocah pirang itu melipat suratnya. "Ibu belikan aku balon. Aku ingin mengirim surat untuk ayah."

Ino terkejut dengan prnyataan itu. Ia merasakan dadanya kembali sesak. Namun berusaha keras menanhan air matanya agar tak turun. Apapun lah demi Inojin. Meskipun keinginan putranya tampak mustahil tapi ia mengangguk. Mereka akan mengirim surat untuk Sai. Surat yang tidak akan pernah sampai.

.

.

Ada segurat rasa puas ketika melihat balon berwarna ungu itu melayang semakin tinggi dengan surat yang terikat di bawahnya. Senyum Inojin mengembang sempurna. Semntara Ino tak henti-hentinya mengusap air mata. Karena tak memungkinkan untuk pergi ke lapangan ujung kota, maka mereka melepaskan balon itu di taman rumah sakit yang cukup luas.

Angin yang bertiup ke arah barat membawa serta balon yang semakin melambung tinggi tersebut. Ukurannya semakin kecil dan kecil.

"Aku brharap ayah benar-benar akan membacanya."

Ino menoleh ke arah putranya. Masih melihat ekspresi pengharapan yang luar biasa besar di wajah kecil itu. Ia menahan kuat-kuat suara isakannya. "Apa yang kau tulis sayang?"

Anak itu masih sibuk menatap balonnya yang nyaris menyeruoai titik di angkasa yang luas. "Aku bilang bahwa aku sayang ayah. Ayah adalah ayah terbaik di dunia."

Ino menggigjt bibirnya. Kenapa baru sekarang Inojin mengatakan seperti itu. Tapi setidaknya ia tahu jika anak itu sebenarnya menyayangi Sai dengan tulus.

END

haduh... yg ini kok kayanya hancur banget, entahlah... semoga tdk terlalu mengecewakan. sebenarnya aku sempat ragu untuk upload yg bagian ini tapi... ya sudahlah terpaksa aku upload aja.

maaf jika ada banyak kesalahan dan typo bertebaran, dan makasih buat yg udah mau baca fic ini. jangan lupa review, berikan kritik dan saran kalian.