# The 49 day

# Sehun, Lu Han

# Angst

# Drabble prompt : Sehun hanya mempunyai 49 hari dan ia akan menghabiskannya bersama Lu Han.

####

Junmyeon, dokter muda itu mengerutkan alisnya. Ia meneliti kertas putih yang ada di tangannya itu, mengeluh pelan saat matanya sudah yakin dengan apa yang tercatit dalam kertas itu.

Laki-laki bersurai hitam itu mendongak. Memandang gadis yang sedang tersenyum lebar yang sedang duduk di depannya. Manis dan juga polos.

" Sehunna, menurut hasil analisa ini, kau hanya punya 49 hari. Aku bukanlah Tuhan untuk menentukan kadar hidupmu tapi hati mu sudah dijangkiti dengan sangat teruk. Kanker mu sudah memasuki tahap terakhir."

Sedetik senyuman manis itu menghilang. Digantikan dengan ekspresi kaget, tapi tidak lama. Senyuman kembali menghiasi wajah manis itu.

" 49 hari, oppa ?"

Junmyeon mengangguk, mengiyakan persoalan dari gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri itu.

" Aku akan memberi obat dengan dos yang tinggi."

Mendengar perkataan 'obat' membuat Sehun mengerutkan alisnya. Ia menggeleng kecil. " Aku tidak mau obat, oppa. Rasanya pahit. Lagian tidak akan menyembuhkan ku kan ?"

" Tapi Sehunna, kanker tahap terakhir ini sangat parah. Kau akan alami sakit yang amat dan bisa saja kau nanti batuk darah, Hunna. Jadi kumohon, bukan sebagai dokter peribadi mu tapi sebagai kakak laki-laki mu, tolong jangan pernah tidak mengambil obat ini sehari pun ! Sekurang-kurangnya ini bisa mengurangkan sedikit rasa sakitmu."

Sehun mengalah. Melihat bagaimana mata Junmyeon yang memandang memohon kepadanya, hatinya jadi luluh.

" Baiklah, Kim Junmyeon-ssi. Jika bukan karna mu, aku tidak mau mengambil obat itu."

Junmyeon dalam diam tersenyum lega. Ia merusak surai coklat itu pelan sebelum menghulurkannya botol obat berwarna putih.

Sang gadis mau tidak mau menyambut botol itu dan terus memasukkannya ke dalam tas sampingnya. Menyimpannya dengan selamat.

" Oppa. Bisa aku minta bantuan darimu ?"

Mata coklat bersinar itu menatap Junmyeon dengan sangat berbinar. Berharap laki-laki itu akan menyetujui apa-apa bantuan yang ia inginkan.

Dengan sedikit tidak rela, Junmyeon mengangguk. Hahh, ia tau jelas dengan sikap gadis ini. Baginya, Sehun sudah menjadi keluarga untuknya. Seorang dongsaeng yang ia inginkan selama ini.

" Baiklah. Katakan apa yang kau mau."

Sehun tersenyum lebar. Mata sipit itu bahkan membentuk bulan sabit. Membuat Junmyeon mau tidak mau ikut tersenyum.

Bagaimana ada seseorang yang tau sisa hidupnya cuma 49 hari bisa tetap tersenyum manis seperti ini ?

" Tolong jangan memberitau kepada sesiapapun tentang kanker ku. Tidak kepada ayah dan juga Lu Han."

Sontak senyuman di wajah tampan itu menghilang. Menatap Sehun dengan tatapan shock.

" Tidak bisa. Mereka juga harus tau keadaan mu, Hun. Sudah cukup aku membohongi mereka tentang kau tidak punya sebarang penyakit. Sekarang kau ingin aku tidak memberitau mereka yang Sehun yang mereka kasihi akan pergi selepas 49 hari ? Maaf saja, Hun. Jawapan ku tetap tidak."

" Tapi, oppa. Aku tidak mau mereka khawatir. Ayah lagi di luar negara. Aku tidak mau konsentrasi ayah terganggu. Dan kau tau Lu Han orang yang macam mana kan ? Dia bisa-bisa saja ikut bunuh diri untuk menyusul ku !"

" Maaf, Hun. Perkara ini cukup serius, Tuan Oh harus tau."

Sehun menggeleng kecil. Wajah manis yang sentiasa tersenyum lebar itu berubah. Berubah mendung dan kelam.

" Ayah tidak perlu tau apa-apa, oppa."

" Sehunna~"

" Ayah akan baik-baik saja bila aku sudah tiada. Ayah ku itu kuat. Jadi tolong, oppa. Biarkan kali ini saja, aku tidak mau orang-orang yang aku sayangi terluka. Biarkan mereka tetap melihat ku sebagai Sehun yang akan tetap tersenyum untuk mereka. Aku tidak mau mereka melihat ku sebagai Sehun yang akan mati selepas 49 hari."

Lama Junmyeon terdiam. Melihat bagaimana wajah manis itu mendung nan kelam. Bagaimana wajah manis itu sudah menyembunyikan banyak perkara yang begitu menyakitkan.

Hey, Oh Sehun itu hanyalah gadis berumur 20 tahun.

Sewaktu ia berumur lima tahun, ayah dan ibunya berpisah. Ibunya pergi meninggalkan nya ke China. Membina keluarga baru di sana, mengabaikan anak perempuannya yang masih kecil.

Ayahnya pula pengusaha yang berjaya. Menjayakan bisnis dengan usaha nya sendiri, tanpa mengira anak perempuannya yang sering di tinggalkan dalam Mansion Oh yang mewah dan punya segala-galanya.

Sehun hanyalah gadis yang hidup sendiri tanpa ayah dan ibunya. Hanya ada Lu Han, teman sekaligus kekasih nya yang sering ada dalam setiap langkahnya.

" Jadi, kau bisa kan membantu ku, oppa ?"

Junmyeon menghela nafas. Perlahan ia mengangguk, menyetujui permintaan dari sang gadis.

Sontak Sehun tersenyum lebar. Ia berdiri dan memeluk Junmyeon. " Terima kasih, oppa. Kau memang yang terbaik. Aku pergi duluan, nde !"

Gadis itu berlari kecil menuju ke luar kamar itu. Meninggalkan Junmyeon yang hanya menggeleng kepalanya, kesal dengan gadis itu.

" Hahh, Sehunna~ kau hanya membuat mereka bertambah sedih."

####

" Han ?"

Lu Han mengumam pelan. Matanya tetap di kaca tv, di mana perlawanan bola yang sedang berlangsung. Sembari sebelah tangannya menyumbat masuk keripik kentang ke dalam mulutnya.

" Aku mau ke China."

Sontak laki- laki bersurai hitam itu menoleh kepada Sehun yang duduk di sampingnya. Menatap gadis itu dengan penuh tanya.

Sehun tersenyum kecil. Ia melabuhkan kepalanya di paha laki-laki itu. Memainkan jemari kokoh Lu Han.

" Aku ingin bertemu dengan ibu sebentar saja. Meskipun ibu tidak ingin menemui ku, aku tetap ingin menemuinya. Sebentar saja pun tidak apa."

Lu Han seketika ingin protes namun begitu melihat anak mata itu yang memandangnya dengan bersinar, sinaran yang sering ia lihat setiapkali ayah Sehun pulang ke Mansion mewah Oh itu, ia sangat tau dengan sikap kekasihnya itu.

" Baiklah, aku akan ikut denganmu. Kemana pun kau pergi, aku tetap ingin pergi asal denganmu."

Sehun tersenyum manis. Ia mengecup jemari Lu Han sebelum menutup matanya, ingin tidur dalam dekapan hangat Lu Han itu.

Sejenak rasa sebak mengisi ruang hatinya.

Bagaimana keadaan Lu Han selepas ia pergi ?

Apa Lu Han akan mencari pengganti nya ?

Apa Lu Han akan menderita karnanya ?

Hahh, Sehun tidak punya jawapan untuk itu. Biarlah ia menghayati kasih sayang yang Lu Han curahkan untuknya selagi jantungnya masih berdetak.

Lu Han, teman sekaligus kekasihnya itu sudah terlalu lama bersamanya. Semenjak ia berusia 10 tahun lagi ia mengenal laki-laki itu. Sehinggalah ke hari ini, Lu Han menjadi kekasih dan temannya sekaligus. Ia mencintai Lu Han sepenuh hatinya, sama seperti Lu Han mencintainya.

Jadi dia berdoa kepada Tuhan.

Bahagiakan Lu Han meskipun ia sudah tiada dalam dunia ini lagi. Meskipun itu tanpanya, Lu Han harus tetap tersenyum dan tertawa.

####

Sehun meneliti alamat yang ada di tangannya, alisnya sesekali berkerut. Tidak lama begitu, bibirnya menguntum senyuman lebar. Ia memerhati rumah besar yang ada di depannya itu.

" Wah, rumah ini besar dan mewah, kan Han ?"

Lu Han mengangguk, menyetujui kata-kata kekasihnya itu. Ikut memerhati rumah besar yang baru pertama kali mereka lihat itu.

" Jadi, kau sudah bersedia ?"

Sang gadis mengangguk dengan penuh semangat. Ia menekan lonceng yang sudah tersedia beberapa kali. Senyuman tidak pernah hilang dari wajahnya meskipun dalam hati nya sudah berdetak kencang. Berdebar dengan penerimaan sang ibu yang sudah lama meninggalkannya.

Beberapa menit kemudian, seorang gadis datang membuka pintu.

Buat sedikit, Sehun mencoba menahan perasaannya sendiri.

Wajah gadis itu begitu sama dengan wajah ibunya. Begitu manis tidak seperti dirinya. Ia hanya mewarisi senyuman dan mata wanita itu. Berbeda sekali dengan gadis yang sedang berdiri di depannya ini.

" Mencari siapa ?"

" Kami mencari Lee SunHwa." Lu Han menjawab dalam bahasa mandarin. Laki-laki itu tau apa yang Sehun pikirkan meskipun gadis itu tidak mengatakan apa-apa.

" Ehh, kalian mencari ibu ? Emang ada apa ?"

Lu Han tersenyum. " Ada sedikit urusan. Jadi, bisa kami bertemu dengannya ?"

Gadis itu mengangguk pelan. Membuka lebar pintu utama itu, menampilkan mansion mewah dan memang jelas sangat mahal. Membuat Lu Han dan Sehun melopong sendirian.

" Han, ini rumah atau istana ?"

Lu Han berbisik di telinga Sehun pelan. " Separuh istana kali, Sehunna."

Sehun terkekeh kecil. Ia terus menerus memerhati sekeliling rumah itu. Kagum dengan halaman rumah yang dipenuhi dengan bunga warna warni. Mobil juga tersusun di garage.

" Kalian duduk dulu. Aku mau memanggil ibu."

Jika tadi gadis itu berbicara dengan mandarin, kali ini ia berbicara korea. Mengejutkan mereka berdua.

" Kau bisa berbicara korea ?!" Soal Sehun dengan sedikit kaget.

Gadis itu tersenyum manis. Mengangguk bagi menjawab soalan Sehun.

" Ibu ku orang korea. Jadi aku harus belajar bahasa ibuku."

Sehun harus mengakui sesuatu, ia cemburu dengan gadis ini. Sudahlah mewarisi wajah cantik ibunya, gadis itu dengan senangnya memanggil ibunya dengan panggilan ibu.

Hahh, sedang Sehun ?

Panggilan itu sudah tidak pernah lagi kedengaran semenjak ibunya pergi meninggalkan dia.

" Aku masuk duluan, yah."

Lu Han mengangguk. Perlahan ia menoleh ke sampingnya, memerhati gadis yang sedari tadi hanya mendiamkan dirinya.

" Hey, kau kenapa ? "

Sehun menggeleng kecil. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Lu Han, berusaha untuk mengumpulkan keberanian dalam dirinya.

Ia harus kuat !

" Kita bisa pulang jika kau tidak mau meneruskan ini."

" Tidak, Han. Aku akan tetap meneruskan rencana ini. Hanya sebentar, itu sudah cukup bagiku."

Laki-laki itu mendesah kecil. Ia menautkan jemarinya dengan Sehun. Menyalurkan kekuatan untuk kekasihnya itu.

Sementara gadis itu merasa sedikit takut.

Apa yang patut ia katakan jika ibunya sudah ada di depan mata ?

Apa yang patut ia lakukan jika ibunya tidak mengenalinya ?

Ia sejujurnya berharap ibunya akan tetap mengenalinya meskipun sudah bertahun lamanya wanita itu pergi meninggalkannya. Ia berharap ia ada tempat di hati wanita itu meskipun ia takut untuk berharap terlalu tinggi.

Lamunannya terhenti saat Lu Han berdiri. Membuat ia ikut berdiri. Ia ingin bertanya namun suara seorang wanita membuat jantungnya berdebar tidak karuan.

Deg

Deg

Jantungnya seakan ingin keluar saat matanya bertatapan dengan mata cokelat yang hampir sama dengannya itu.

Ibu

Ibu

Sehun ingin sekali berteriak. Menghamburkan tangisannya di pelukan hangat sang ibu. Setelah bertahun lamanya hanya menatap sang ibu melalui foto, kini, hari ini, Sehun sudah berhasil menemui ibunya, Sehun ingin mengatakan betapa ia rindu dengannya. Betapa ia berharap ibunya juga ikut merindukannya.

Ibu, masih ingatkah kau dengan anak perempuan mu ini ?

" Mereka mencari ibu. Katanya ada sedikit urusan." Gadis tadi berdiri di sebelah ibunya. Memeluk lengan wanita itu dengan manjanya.

Sehun menarik nafasnya, mengumpul semangat nya agar ia bisa berkata apa yang sudah lama bermain di pikirannya.

" Maaf menganggu, tapi bisa kah aku meminjam kamar mandi ?"

Gadis tadi mengangguk. Ia mengisyaratkan Lu Han agar mengikutinya masuk ke mansion mewah itu. Meninggalkan Sehun bersendirian dengan wanita itu.

" Ada apa anda mencariku ?"

Wanita itu mengukir senyuman nya. Begitu menghangatkan sekali. Sehun hanya mampu menatap setiap pergerakan wanita itu.

" Hey, anak muda. Anda tidak apa-apa ?" Wanita itu mengambil tempat di sisi Sehun. Memerhati wajah Sehun.

Sontak Sehun menggeleng laju. Ia tersenyum kalut.

" Aku baik-baik saja, Nyonya Lee."

Wanita itu menuang air yang entah bila sudah tersedia di atas meja kecil itu. Memberikan nya kepada Sehun.

" Minumlah, wajahmu sedikit pucat. Apa benar anda baik-baik saja ?"

Sehun mengangguk laju. Menggapai minuman yang disediakan itu dan meneguknya laju.

" Nyonya, apa nyonya tidak ingat kepadaku ?"

Kerutan di dahi wanita itu sudah mampu membuat lutut Sehun melemah. Ia seharusnya sadar. Ia seharusnya tau.

Mana ada orang yang akan mengingati mu setelah meninggalkan mu lebih dari sepuluh tahun lamanya.

" Apa kita pernah bertemu di mana-mana ?"

Sehun tersenyum kecil. Berusaha menutup sakit yang menyerang dadanya. Menutup sakit saat ibu nya sendiri tidak mengingatinya. Jemarinya bermain antara satu sama lain. Berharap Lu Han agar segera datang dan membawanya keluar dari mansion mewah ini.

Namun nihil.

Kekasihnya itu memang sengaja meninggalkan ia sendirian bersama ibunya.

" Mungkin nyonya sudah lupa. Tidak apa-apa lah."

" Tapi aku sepertinya sudah pernah melihatmu."

Sehun mendongak. Menatap mata ibunya. Menatap kehangatan tatapan itu.

Ibu.

Sekali saja, bisakah aku memeluk mu ?

" Nyonya, bisakah aku memeluk mu ?"

Wanita itu mengerutkan alisnya heran. Heran dengan permintaan Sehun yang secara tiba-tiba itu.

" Aku tau ini kedengaran konyol, tapi sebentar saja. Bisakah aku memeluk mu, nyonya ?"

Dengan sedikit keliru, wanita itu mengangguk. Membuka tangannya lebar.

Perlahan Sehun memeluk wanita itu. Menutup matanya saat rasa sebak mengisi dadanya. Tangannya bergetar saat wanita itu mengusap punggungnya.

Rasa ini begitu hangat.

" Ibu, kenapa ? Kenapa ibu memilih untuk meninggalkan ku dulu ?"

Tanpa bisa di kontrol, persoalan itu meluncur keluar dari bibirnya. Membuat wanita bergelar ibu itu kaget. Ia dengan pantas melepaskan pelukan itu. Menatap shock wajah Sehun.

Tidak.

Mungkin jika ibunya tidak ingat juga tidak apa. Lagian ia hanya punya beberapa hari lagi dalam dunia ini. Jadi Sehun lebih memilih untuk tetap merahsiakan segalanya.

" Maaf, nyonya. Aku hanya merindukan ibu ku. Jadi terbawa suasana." Ia tersenyum, senyuman yang bisa kau bilang pura-pura. Lebih baik seperti ini.

Sehun tidak mau menganggu kebahagiaan ibunya. Kebahagiaan ibunya lebih penting dari nya. Jadi ia lebih memilih untuk merahsiakan segalanya.

" Apakah ..."

" Rasanya lebih baik kami pergi duluan. Kami hanya menganggu waktu nyonya. Maafkan kami, nde." Sehun buru-buru berdiri dari duduknya. Membungkukkan badannya hormat dan mengesat airmatanya kasar. Ia harus tetap kelihatan kuat.

" Tapi ..." wanita itu menahan pergelangan tangan Sehun. Menghalang gadis itu dari menjauh darinya.

Sehun menggeleng kecil.

Ia seharusnya membiarkan ibunya tetap tenang dengan keluarga nya. Ia seharusnya tidak perlu datang ke China. Ia seharusnya tau, meskipun ibunya mengenalinya, wanita itu akan bertambah sedih jika mengetahui jangka hidupnya yang singkat ini.

" Maafkan aku, nyonya. Nyonya harus terus tetap bahagia di samping keluarga nyonya. Kami harus pergi."

Begitu ia melihat Lu Han keluar bersama gadis itu, ia berlari kecil. Menarik tangan Lu Han dan membungkukkan badannya sekali lagi sebelum bergegas keluar dari mansion mewah itu.

" Hey, Hun. Apa yang terjadi ? Kau menangis ? Apa ibumu mengenalmu ?"

Sehun hanya diam. Tidak menjawab, hanya berjalan cepat. Berjalan tanpa destinasi dan tujuan. Airmata yang sudah hilang itu kembali mengalir.

Ia sudah bertemu dengan ibunya, itu sudah cukup kan ?

Mungkin tidak, tapi Sehun tidak bisa egois. Ibunya bukan lagi ibunya. Ibunya sudah punya keluarga sendiri. Sehun hanya potongan memori yang harus dilupakan.

" Aku mau pulang, Han. Kita pulang yah ~"

Ia hanya berharap, Lu Han akan mengerti dan akan membawanya pulang hari ini dan saat ini juga. Biarkan ia menjauh dari negara ini.

" Baiklah."

####

Lu Han memeluk erat sosok Sehun. Sesekali memberi kecupan di pundak itu. Kekasihnya itu sudah terlalu asik dengan drama yang tersaji di depannya. Ia kadang ikut tersenyum saat melihat wajah manis itu tertawa dengan galaknya.

" Sehunna, aku mencintaimu." Bisiknya.

Gadis itu menoleh dan memberi kecupan di bibirnya. Memeluk nya erat.

" Aku tau. Dan aku juga mencintaimu."

Hahh, betapa ia mengasihi gadis ini.

Ia mencintai Sehun lebih dari hatinya bisa. Seluruh hidupnya hanya untuk Sehun. Ia tidak akan pernah memandang perempuan lain, baginya Sehun sudah cukup menyempurnakan hidupnya.

" Sehunna ?"

Sang gadis mengumam pelan. Konsentrasi nya kini penuh kepada Lu Han. Menatap nya penuh tanya.

" Kau mau menikah denganku ?"

" APA ?!"

Sontak Lu Han ketawa kecil. " Hey, kau tidak perlu kaget seperti itu !"

" Habisnya kau tiba-tiba bertanya seperti itu ! Apa kau sadar umurmu itu masih muda untuk mengahwini ku ?!"

" Kau lupa umurku sudah memasuki 24 tahun ?"

Sehun menggeleng kecil. " Ini belum bulan April, Han. Secara faktanya kau masih 23 tahun !"

Lu Han memutar bola matanya malas. Ia mengecup lembut hidung mancung itu. Mengabaikan pipi Sehun yang memerah, ia menyandarkan kepalanya di pundak Sehun. Menghirup aroma manis yang sering Sehun hasilkan.

" Aku tau, Hun. Tapi aku tetap ingin menikah denganmu."

" Tapi ini terlalu awal, Han. Bagaimana jika nantinya kau jatuh cinta lagi ?"

Jatuh cinta lagi ?!

Apa Sehun tidak tau hatinya ini hanya terisi dengan namanya saja ?

apa Sehun tidak tau ia rela mati untuk nya ?

Perlahan Lu Han melepaskan pelukan itu. Menjauhkan dirinya dari Sehun.

" Han..."

" Kau tau hanya kau yang ada di hatiku, kan ? Jadi kenapa kau berkata seperti itu ?"

" Han, kita berdua tidak tau masa depan. Mungkin saja kau akan menemui gadis yang bisa lebih membahagiakan mu lebih dari ku."

Lu Han menggeleng pantas. " Tidak. Hanya Oh Sehun yang akan menyempurnakan ku. Tidak ada gadis lain lagi yang bisa. Jadi hentikan kata-kata konyol ini !"

Sehun mendengus pelan. Ia berdiri dan memeluk nya dari belakang. Buat seketika, gadis itu mengharapkan sesuatu.

Sesuatu yang persis sama seperti Lu Han inginkan.

" Aku tau, Han. Tapi kita tidak tau apa yang Tuhan rencana kan untuk kita kan ?"

Tidak mendapat respon, Sehun meneruskan kata-katanya lagi.

" Aku juga ingin bahagia selamanya denganmu. Ayolah, kau juga tau itu kan ? Perkara yang aku inginkan juga sama dengan yang kau inginkan, Han. Tapi, andai saja. Andai saja jika suatu hari nanti akan terjadi apa-apa denganku, kau harus tetap hidup dengan bahagia. Meskipun bukan denganku, kau harus tetap tersenyum."

Sontak Lu Han memusing badannya. Memandang gadis itu takut. " Apa yang kau katakan ini, Sehunna ? Please, jangan berbicara sesuatu yang bisa membuat ku takut. Aku tidak akan pernah bisa untuk hidup tanpa mu !"

Sehun tersenyum.

Manis sekali.

Bahkan Lu Han tau, hatinya tetap bergetar tidak kira sudah berapa lama ia bersama gadis itu. Perlahan tangan halus itu mengusap pipinya.

" Aku begitu mencintaimu, Han. Jadi yang ku inginkan hanya kebahagiaan mu."

Kenapa Sehun bersikap seperti ini ?

Ada sesuatu yang tidak beres dengan kekasihnya ini. Lu Han tau.

" Dan hanya kau yang bisa memberikan ku kebahagiaan itu, Sehunna."

Sehun menggeleng kecil. Tubuh mungil itu memeluk nya.

" Degil sekali sih, kekasihku ini !"

" Karna itu, mau kah kau menikahi ku ?"

Sehun mendongak, memerhati mata nya dengan intens. Perlahan, bagaikan waktu berhenti, gadis itu mengangguk.

Mengiyakan permintaannya.

" Baiklah, aku akan menikahi mu."

####

" Ayah, kau tidak bisa pulang meskipun hanya sebentar ?"

" Maaf, sayang. Ayah harus menguruskan beberapa perkara lagi. Tapi jika kau ingin ayah pulang, mungkin ayah boleh uruskan."

Sehun mendesah pelan. " Tidak apa lah. Ayah. Aku mengerti. Tolong jaga kesihatan ayah."

" Ayah benar-benar minta maaf, sayang. Ayah akan usahakan untuk pulang dengan secepatnya."

Belum sempat ia ingin membalas, talian sudah dimatikan. Sehun menatap ponselnya, berharap ayahnya akan kembali meneleponnya namun nihil. Ponsel nya tetap senyap, tiada sebarang tanda akan berbunyi.

Sehun meletakkan ponselnya dan memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Setelah beberapa minggu berada di apartemen Lu Han, ia kembali ke mansion. Meluangkan masa untuk melihat tempat ia membesar itu.

Sebentar lagi, ia sudah tidak akan bisa menikmati ini semua. Junmyeon benar-benar tidak berbohong tentang kanker nya ini. Semakin dekat hari itu tiba, semakin ia tersiksa. Satu hari saja ia sudah menelan banyak obat yang Junmyeon berikan. Kadang ia akan terbatuk sehingga darah akan keluar dari mulutnya, menyesakkan dadanya.

" Cik muda Sehun."

gadis itu menoleh ke sampingnya, Pengurus Kim, pembantu sekaligus pengasuhnya sedari kecil itu memerhatinya dengan khawatir.

" Kenapa wajah mu pucat ?"

" Hanya kurang tidur, ahjussi."

" Tapi, cik muda."

" Astaga, berapa kali aku harus memberitahu mu agar berhenti memanggilku seperti itu, ahjussi ?!"

Sehun dengan sedikit kesal terus menuju ke dapur. Mengambil keluar es krim cokelatnya dan duduk di meja dapur itu. Sok kesal saat penjaganya itu datang duduk dengannya. Wajah tua itu kelihatan menenangkan meskipun sudah tua.

" Maafkan ahjussi, Sehunna."

" Tidak apa lah. Ahjussi, apa ahjumma dan Se Joung sihat ?"

Laki-laki tua itu mengangguk.

" Mereka sering bertanya khabar mu, Hunna. Se Joung juga bilang sudah rindu denganmu."

Sehun tersenyum manis. Bayangan Se Joung yang lebih muda darinya itu bermain di pikiran. Betapa ia turut merindukan anak kecil itu.

" Sampaikan salam ku kepada mereka, Kim Ahjussi."

Ia tidak tau lagi kapan ia akan bertemu dengan mereka. Mengikut anggaran hari yang Junmyeon katakan, ia hanya punya sepuluh hari lagi. Dan yang begitu membuat ia menyedihkan, hari terakhir itu berlaku tepat pada ulang tahun Lu Han.

Menyedihkan kan ?

Pengurus Kim memberikan senyuman kepadanya sebelum meminta diri untuk menguruskan perkara lain. Membiarkan Sehun bersendirian menikmati es krimnya.

Sepuluh hari ya ?

Hahh, kenapa rasanya cepat sekali berlalu ?

Apa memang pantas gadis berumur 20 tahun sepertinya mati terlalu awal ?

Ia sudah lama tidak pergi ke kuliah semenjak ia tau hayatnya tidak akan tahan lama. Tidak perlu kan jika kau tau hidupmu tidak akan tahan lama ?

Ia juga tidak mempunyai banyak teman selain dari Jongin. Itupun Jongin menyambung pelajarannya terus ke luar negara. Jadi ia tidak akan pernah berpeluang lagi menemui temannya yang satu itu.

Sehun berlari kecil saat ia mengingati sesuatu. Tanpa menghiraukan es krim nya yang akan mencair, Sehun menuju ke kamarnya. Membuka kasar lemari pakaiannya dan berusaha untuk mencari sesuatu.

Saat ia sudah berhasil menemukan kotak sederhana berwarna merah, ia mengeluarkannya dan membawanya ke kasur.

Gadis itu membukanya dan mengeluarkan sepasang gaun putih yang masih baru. Mengusapnya pelan.

Gaun ini pemberian ayahnya saat ia berusia 18 tahun. Saat itu ayahnya baru pulang dari Australia, dan ayahnya bilang saat ia melihat gaun putih itu, ia terus mengingatkannya kepada Sehun.

Mungkin ia akan menggunakan gaun ini saat terakhirnya nanti.

####

12 April

Lu Han membawanya ke Han River. Alasannya ingin melihat bintang yang berkedipan saat malam tiba. Seperti sekarang.

" Wahh, ternyata kekasih ku ini bisa romantis juga !"

" Yakk !"

Ia terkekeh kecil. Menyandarkan kepalanya ke pundak LuHan. Membiarkan laki-laki itu menyelitkan jemari mereka.

" Bintangnya sangat indah kan ?"

Sontak ia mendongak. Iya, Lu Han benar. Bintangnya kelihatan sangat cantik. Berkedipan di langit yang hitam. Bersinar meskipun tidak ramai yang akan melihatnya.

" Tapi tiada yang seindah Oh Sehun."

" Cheesy. Itu menggelikan, Lu Han !"

Giliran Lu Han yang ketawa kecil. Ia menolak pelan jidat sang gadis sebelum berdiri. Membiarkan Sehun duduk dan ia berdiri di depan gadis itu.

" Kau ingat soal pertanyaan ku tempoh hari ?"

" Soal yang mana, Han ?"

" Soal aku akan menikahi mu ?"

Sehun mengangguk.

" Jadi, hari ini aku ingin melamarmu."

Tanpa bisa dikontrol, Sehun berdiri. Menatap shock kepada Lu Han yang hanya tersenyum manis.

" Oh Sehun, sudikah kau menikahi ku ?!"

" Tapi, Han... kita sudah berbincang soal ini kan ?!"

" Tidak salah jika menikah di usia muda, Hun. Lagian aku ingin menjagamu sepenuhnya."

Sehun menggeleng.

Tidak, ia tidak mau mengikat Lu Han. Jika ia perlu menjauhi Lu Han, ia akan lakukan asal laki-laki itu bahagia.

" Maaf, Han. Aku tidak bisa."

Kekecewaan jelas kelihatan di wajah tampan itu. Meski begitu ia tetap berusaha mengukir senyuman.

" Kau butuh waktu ? Kau bisa ambil seberapa banyak waktu yang kau inginkan, Hun."

Sehun menggeleng kecil. Ia berdiri membelakangi Lu Han.

" Aku tetap tidak bisa, maafkan aku."

Buat pertama kalinya Sehun membiarkan dirinya pulang terus ke Mansion tanpa Lu Han.

Dan buat pertama kalinya Sehun merasakan keinginan untuk hidup lebih lama lagi.

####

3 days to go

Keadaannya sudah bertambah sangat teruk. Junmyeon sering datang ke mansion dan hampir saja ingin menangis saat melihatnya batuk darah berulang kalinya. Wajahnya juga semakin kurus dan pucat. Selera makannya juga menipis. Sehun bagaikan mayat hidup yang menanti kematiannya.

Mengikut jangkaan yang Junmyeon berikan padanya, beberapa hari lagi atau lebih tepatnya dalam tiga hari ke depan merupakan hari terakhirnya di muka bumi ini. Jika Tuhan berbaik hati padanya, mungkin Sehun sempat untuk memberikan hadiah kecil yang sudah lama disimpan untuk Lu Han. Jika tidak, Junmyeon yang akan menghantar hadiah itu.

Sehun berdiri di depan cermin hias, memerhati bagaimana kontur wajahnya yang dulu Lu Han sering katakan cantik dan berseri kini sudah bertukar pucat dan kurus. Matanya dikelilingi dengan lingkaran hitam atau kau bisa panggil dark circles. Pipi nya yang dulu berisi kini semakin tirus hanya menyisakan tulang pipi saja.

Sehun sendiri takut dengan pantulan dirinya.

Perlahan telunjuk kanannya di angkat naik dan menyusuri setiap sudut wajahnya.

Kenapa ?

Kenapa kehidupan nya begitu tragis begini ?

Apa Tuhan tidak membenarkan nya untuk bahagia barang sebentar pun ?

Tanpa sadar, airmata menetes laju menuruni pipinya. Isakan nya juga kedengaran.

Sehun menangisi takdirnya yang begitu menyedihkan.

Sehun menangisi takdirnya yang menjauhkan dia dari Lu Han.

Sehun menangisi dirinya sendiri.

Tidak ada satupun yang inginkan dirinya.

####

" Ada sesuatu yang tidak beres dengannya, Jongdae. Beberapa hari ini, aku tidak pernah menemuinya lagi dan dia juga tidak pernah menghubungi ku. Aku khawatir dia kenapa-napa."

Jongdae menghirup Latte yang masih panas itu sebelum kembali fokus untuk menganalisa setiap perkataan yang dikeluarkan oleh teman nya.

" Mungkin dia lagi ingin sendirian ?"

Lu Han menggeleng pantas. " Tidak mungkin, Dae. Sepanjang aku mengenalinya, ia tidak pernah sendirian. Aku selalu ada di sisinya."

Sontak Jongdae memutar bola matanya malas. " Mungkin gara-gara itu dia menjauhkan jarak nya drngan mu, Lu ! Kau melekat padanya like 24 per hour. Who's stand it ?!"

" Tapi..."

Mungkin Jongdae benar jyga. Mungkin Sehun inginkan masa bersendirian dan memikirkan semua perkara yang terjadi. Tapi tetap saja ia masih merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

" Kalau kau masih panasaran begitu, kenapa tidak pergi ke Mansion nya saja, Lu ? Mungkin Sehun lagi sakit atau ingin benar-benar sendirian."

Lu Han mendesah pelan. Ia membuang pandangan ke luar jendela, memerhati setiap orang yang berjalan ke sana ke mari tanpa tujuan. Bayangan Sehun mengekori setiap langkahnya, jadi katakan bagaimana dia bisa tenang saat sosok yang kau sangat cintai tiba-tiba menjauhkan diri darimu ?

Lu Han tidak habis pikir !

Pertama, Sehun menyuruhnya untuk mencari perempuan yang bisa mencintainya lebih dari Sehun mencintainya.

Kedua, Sehun menolak lamaran yang sudah ia impikan di mana Sehun akan menajdi miliknya yang abadi buat selama-lamanya.

Dan ketiga, Sehun menjauhkan diri nya dari Lu Han.

Semua kejadian itu membuatkan Lu Han sendiri tidak bisa duduk dengan tenang. Ada sesuatu yang tidak beres.

" Aku akan ke Mansion Oh."

" Han, berikan Sehun ruang. Ayolah, dia tidak pergi untuk meninggalkanmu. Mungkin dia hanya ingin sendirian. Kau tidak akan pernah mengerti gadis, tau !"

" Tapi, Jongdae..."

Jongdae mendiamkannya dengan merangkul pundaknya. " Ayolah. Berikan dia waktu sendirian dan sementara itu, berikan ia sesuatu yang bisa membuat ia makin jatuh cinta kepadamu !"

Lu Han mendesah lemah. Meskipun jauh dalam sudut hatinya, ia ingin sekali menjejaki mansion Oh dan memastikan keadaan Sehun dengan kepala matanya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi ? Jongdae a.k.a teman menyebalkan nya ini benar-benar tidak ingin meninggalkannya sendirian.

####

49 day passed

Sehun bohong saat ia ingin mati dengan tenang di atas kasurnya tanpa ayah mahupun Lu Han mengetahui kematiannya sudah dekat.

Sehun bohong saat mengatakan ia siap menghadapi kematian ini walhal dalam hatinya begitu berharap ia mendapat kesempatan untuk menjadi milik Lu Han seutuhnya meskipun cuma satu hari.

Dan Sehun berbohong saat Junmyeon bertanya apa prosesnya begitu sakit dan ia menjawab tidak sama sekali. Padahal setiap malam ia akan menangis untuk melawan penyakit itu.

Seperti apa yang ia katakan tempoh hari, di sinilah Sehun. Di atas kasurnya dengan menggunakan gaun putih pemberian ayahnya. Surainya dibiarkan terlepas.

Menyedihkan sekali.

Perlahan ia menoleh ke sisinya dan tersenyum kepada Junmyeon.

" Oppa, bisakah kau menelepon ayahku sebentar ? Aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepadanya." Suaranya tidak begitu kedengaran namun ia tahu, Junmyeon pasti mendengarnya. Karna setelah itu, Junmyeon mendekatinya bersama ponsel ditangannya.

" Ayah ?"

" Sehun, sayang, kenapa suara mu seperti ini ? Kau sakit ?"

Sangat, sangat sakit , ayah.

" Hanya demam biasa. Ayah masih belum bisa pulang ? Aku merindukan mu."

Sehun tersenyum kecil saat mendengar tawa ayahnya yang begitu jarang sekali dapat didengar.

" Aigoo, sebentar lagi, Sehunnie. Urusan ayah akan selesai. Apa yang Sehun inginkan kali ini ?"

Kebahagiaan.

" Sehun hanya ingin ayah tetap bahagia. Tetap tersenyum meskipun Sehun tidak akan ada nantinya."

" Apa yang kau bicarakan, Sehun ?"

Ia mengatup matanya erat saat merasakan dadanya semakin perih. Tidak, bukan sekarang. Biarkan aku berbicara sepuasnya dngan ayah ku dulu. Ayahku yang sunyi. Ayahku yang begitu kasihan.

" Selamat tinggal, ayah. Maafkan aku di atas segalanya."

" Sehun, kau tidak salah apa-apa. Kau anak ayah yang paling baik. Ayah menyayangimu."

Sehun tersenyum manis. Tidak sadar air mata sudah mengalir di sudut matanya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, gadis itu menekan punat merah. Menyerahkan kembali ponsel itu kepada Junmyeon.

" Oppa, terima kasih untuk segalanya. Kau sudah banyak membantuku."

Junmyeon menggeleng pelan. Ia mengusap surai Sehun penuh kasih, layaknya seorang kakak kepada adik nya. " Maafkan oppa karna tidak bisa membantumu sejak awal lagi. Maafkan oppa. Maafkan oppa, oppa tidak sanggup tidak memberitahu Lu Han soal ini."

Mata Sehun automatis membulat. Tidak, Lu Han tidak bisa mengetahui soal ini. Dia tidak bisa tau soal kematian nya ini. Dan belum sempat ia ingin memarahi Junmyeon, pintu kamarnya dibuka kasar.

" Oh Sehun !"

Wajah lelaki itu begitu huru hara. Surai hitam yang sering ia usap itu berantakan. Matanya memerah seolah dia baru saja habis menangis. Tanpa kata, ia berlari meluru ke arah Sehun.

" Kau tega sekali... tega sekali menyembunyikan ini semua dariku." Suaranya bahkan serak dan tersekat sekat. Tangannya bergetar saat ia menyentuh pipi tirus milik Sehun.

" Maafkan aku, Han."

Lu Han menggeleng lemah. Ia menyandarkan dahinya di lengan Sehun. " Aku tidak mau memaafkanmu. Kau harus bangun dan mentraktir ku Bubble tea. Kau harus bangun dan bawa aku kemana pun aku mau. Kau harus bangun, Oh Sehun."

Dengan tenaga nya yang masih tersisa, ia mencoba untuk menyentuh surai itu terakhir kalinya. Junmyeon sudah lama menunggu di luar saat Lu Han menyergah masuk tadinya.

" Kau tau aku tidak bisa bangun kan ? Berbicara saja sudah menjadi satu kesulitan untukku, Han."

Lu Han mendongak. Matanya memerah dan sedetik kemudian airmata mengalir begitu saja. Ia terisak. Tidak peduli kalau Sehun menggelarnya sebagai lelaki yang tidak manly.

" Jangan pergi. Hiks, kumohon, jangan tinggalkan aku."

Sebak.

Sakit.

Perih.

Jantungnya berdetak. Sakit saat melihat belahan jiwanya itu menangis seperti ini. Ia hanya ingin melihat senyuman Lu Han, bukan tangisan dan isakan seperti ini.

" Jangan menangis, Han. Kau kelihatan jelek."

Lu Han menggeleng pelan. " Tidak sebelum kau berjanji kau akan tetap di sini. Kau sudah berjanji untuk menikah dengan ku, Sehunna. Kumohon, hiks, aku tidak bisa hidup tanpamu."

" Aku ingin kau meneruskan kehidupan tanpa ku, Han. Lupakan aku. Jangan pernah mengingati ku sedetik pun. Menikahlah dengan gadis lain, aku ingin sekali melihat anak mu nantinya. Kau tersenyum dikelilingi oleh anak-anak mu. "

" Tidak ! Aku tidak mau ! Aku... hiks aku tidak mau anak kalau bukan kau menjadi ibunya ! Aku tidak mau !"

Sehun tersenyum lemah. Mengabaikan rasa jantungnya yang berdetak semakin perlahan. Ia menekap pipi Lu Han.

" Han, aku juga ingin. Ingin sekali menjadi ibu untuk anak-anak mu tapi mau bagaimana lagi ? Tuhan lebih menyayangiku."

" Tidak. Kau tidak bisa berkata seperti itu ! Kau sudah berjanji."

Sehun terbatuk kecil. Namun, darah tetap saja keluar dari mulutnya. Lu Han yang melihatnya buru-buru mengelapnya menggunakan telapak tangannya sendiri.

" Hidupku tidak akan lama, Han. Mungkin sedetik kemudian nafasku sudah berhenti. Jadi, berhentilah mencintaiku. Berhentilah mengingatiku. Kau bisa hidup tanpa ku."

" Tidak, bagaimana aku bisa hidup tanpa mu ?! Aku tidak bisa !"

Sehun tersenyum lagi. " Kau pasti bisa, Han. Pasti...bisa."

Kenapa ?

Kenapa pandangan ku semakin kabur ?

Kenapa detak jantungku semakin menghilang ?

Kenapa Tuhan mengambil nyawaku terlalu awal ?

" Sehunna, jangan pergi. Aku mencintaimu. Jangan pergi, Sehunna."

" Aku juga, Han. Aku... sangat mencintaimu..."

Dan smuanya gelap. Aku sudah tidak bisa mendengar suara mu.

Aku sudah tidak bisa menyentuh kulitmu.

Aku sudah tidak bisa melihat mata indahmu.

Maafkan aku, Lu Han.

####

" Sehunnnnnnn !"

Lu Han mengguncang pelan pundak Sehun. Tangannya yang berlumuran darah itu menekap kedua pipi tirus kekasihnya.

" Hey, sayang, please. Buka matamu. Jangan menakutkan ku seperti ini. Bangunlah, Sehunna. Please, jangan hiks jangan buat aku sepeeti ini. Sehunna." Ia mengecup pelan kedua kelopak mata Sehun, berharap bahawa mata indah itu akan terbuka.

Namun nihil.

Nafas Sehun bahkan sudah tiada.

" Sehun..."

Lu Han menggeleng. " Tidak, kau tidak bisa meninggalkan ku sendirian ! Kemana pun kau pergi, aku akan pergi. "

" Lu Han, Sehun sudah tiada."

Lu Han mengabaikan Junmyeon yang berusaha untuk memisahkannya dari sosok kekasihnya itu. Kekasihnya yang seperti tidur dengan lena. Dengan gaun putih membaluti tubuh mungilnya, Sehun kelihatan indah. Meskipun pipi itu sudah sekakin tirus, meskipun mata indah yang sering menghipnotisnya itu sudah terkatup rapat. Meskipun bibir itu sudah tidak tersenyum untuknya lagi.

Sehun tetap kelihatan yang paling indah di matanya.

" Sehun, kumohon. Bangunlah. Hiks, SEHUN !"

####

" Hey, Lu Han ! Bangun, idiot ! Kenapa kau berteriak seperti ini ?"

Lu Han menepis kedua tangan mungil yang menepuk pipinya berulang kali. Ia sendiri bisa rasakan kedua pipinya basah dek karna airmatanya.

" Sehun, kumohon."

Kedengaran dengusan lemah dari seseorang. Ia menepuk kedua pipi sang lelaki itu dengan menggunakan tenaga yang sedikit kuat.

" Lu Han, bangun !"

Dan tepat setelah itu, kedua kelopak matanya terbuka. Ia bahkan terduduk di atas kasur besar. Kedua matanya meliar sekeliling dan berhenti di wajah cantik di hadapannya itu.

" Sehun ?" Automatis sebelah tangannya naik, merasakan pipi tembam itu. Pipi yang sangat berbeda dari apa yang dilihat sebelumnya. " Sehun, ini benaran kau ?"

Sementara perempuan itu mendengus kasar. Ia sememangnya sedang menggunakan dress putih sementara itu surainya dibiarkan beralun. Wangi parfum vanilla itu membuatkan adrenalin yang ada dalam tubuh Lu Han berkerja dua kali lebih keras. Matanya memerhati setiap pahatan indah di depannya itu.

" Emang ada Sehun lain yang kau kenali ? Hahh, Han. Ini sudah pukul 9 pagi. Se Han akan lewat ke sekolahnya. Sudah kubilang jangan menonton drama larut malam. Kau bisa-bisa membawa drama itu masuk ke dalam mimpi mu !"

Mimpi ?

Keningnya berkerut. Matanya tetap saja menatap bingung kepada sosok Sehun yang menuju meja rias mereka dan menilik sebentar wajahnya. Dan saat mata mereka bertatapan, wanita itu kembali mendekatinya. Cumanya, kali ini ia duduk di pangkuan Lu Han.

" Bermimpi tentang ku lagi ? Kali ini kenapa ? Aku mempunyai penyakit yang sarat atau sedang berselingkuh di belakang mu ?"

Huh ?

Tunggu sebentar, minda ku tidak bisa beradaptasi sepenuhnya. Sesaat tadi aku melihat Sehun sedang terlantar kesakitan di atas kasur dan sekarang ia malah sedang tersenyum ke arahku ?

Sebentar.

" Itu cuma minpi, Han. Ayok bangun, Se Han sudah menunggu di bawah."

" Se Han ?"

Sehun memutar bola matanya malas. " Lu Se Han, anak mu. Kau tidak mengenalinya ? Aduhh, bangun Han."

Anakku ?

Aku punya anak bersama Sehun ?

" Baba ! Mama ! Kenapa kalian lewat sekali ?!"

Muncul satu sosok kecil di depan kamar mereka. Sosok itu mempunyai surai sehitam milik Sehun, hidung mancung warisan darinya sendiri, bibir tipis milik Sehun dan mata dari nya.

" Se Han, tunggu sebentar. Baba mu lagi dalam alam mimpi. Duduk lah di bawah, sebentar lagi Mama dan Baba akan turun, okay sayang ?"

Bukannya menjawab, anak itu malah mendengus kecil. Ia menghilang dari balik kamar.

" Jja, apa sekarang kau bisa mengingati semuanya ?"

Ingat ?

" Sehun, kau masih hidup kan ? Kau masih ada kan ?"

" Astaga, Han. Aku sedang duduk di pangkuan mu dan apa kau masih berpikir aku hanyalah ilusi ?!"

Perlahan tangannya mengusap pipi itu. Halus dan mulus.

Ini benaran Sehun.

Sehun yang dicintainya.

Sehun kekasihmya.

" Sehunnie !" Teriaknya kecil dan memeluk sedikit kuat sosok mungil itu. " Aku pikirkan kau menghilang !"

Kedengaran desahan pelan lolos dari bibir mungil Sehun. Ia mengusap surai milik suaminya itu.

" Lain kali jangan menonton drama-drama sedih itu. Kau sampai terbawa dalam mimpi !"

Syukurlah.

Syukurlah semuanya hanya mimpi.

Perlahan Lu Han mendongak. Menatap jauh ke dasar anak mata Sehun.

Sinar kebahagiaan.

Sinar penuh cinta.

Sinar keikhlasan.

Benar, Sehunnya masih ada di sisinya. Betapa ia bersyukur semua itu hanyalah mimpi, hanyalah mainan tidur. Ia tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa Sehun.

" Aku mencintaimu, Sehunna. Sangat dan sangat mencintaimu."

Sehun tersenyum manis. Ia mengecup pelan pelipis Lu Han. Memeluk sosok itu erat. " Aku juga, Han. Aku mencintaimu sepenuh hatiku."

Dan jantungnya selalu berhasil berdebar saat Sehun mengungkapkan kalimah suci itu.

" Jja, sekarang pergi mandi. Kita akan bersama-sama menghantar Se Han ke sekolahnya. Dia sudah menunggu dibawah."

Lu Han tersenyum lebar. Ia mengecup lembut rahang isterinya itu. Menarik haruman khas milik Sehun agar dia bisa menjejak kembali ke alam realiti.

" Han..."

" Dua menit saja. Kau tidak tau betapa aku takut saat aku melihat kau menutup mata tanpa membukanya tadi."

Sehun mendesah pelan. Ia mengusap surai Lu Han. Membiarkan suaminya itu menebar ciuman di sekitar wajahnya.

" Baba ! Lepaskan mama sekarang juga. Se Han tidak akan ke sekolah jika baba tidak berhenti mengigit mama !"

Blush

Buru-buru Sehun melepaskan dirinya dari Lu Han. Menarik Se Han kembali turun ke lantai bawah.

" Han, kami menunggu mu di bawah."

Lu Han terkekeh kecil. Ia mengacak surainya sebentar dan bangkit dari kasurnya.

" Ya Tuhan, terima kasih karna itu semua hanya mimpi saja !"

Ya, karna Lu Han tidak akan tau bagaimana untik hidup tanpa Sehun. Sehun yang manis. Sehun yang cantik. Sehun yang cemberut.

Hahh, Sehun adalah segalanya.

####

Kekeke ~ Maaf yeorobun, Lu Han hanya bermimpi. Semua itu hanya dalam mimpi. Mohon di mengerti jalan ceritanya.

Double update !

Mian for the late update !

Review are welcome ~~

HUGS&KISSES