The Best Father In The World

Naruto by Masashi Khisimoto

Chapter 4 : The One

Sasuke and Sarada

.

.

Nyaris pukul 9 malam ketika Sarada menginjakkan kakinya di teras rumah. Seragam sekolahnya masih melekat lengkap di tubuhnya. Beberapa saat ia hanya mematung karena takut jika ayahnya tiba-tiba muncul dan menceramahinya dengan berbagai nasehat yang lebih mirip gertakan.

Ia menghela napas panjang. Semoga kakinya bisa melangkah dengan cepat, lalu ia bisa sampai kamar tanpa ketahuan pria pemarah itu. Ya... hal itu patut dicoba.

Namun, segalanya tak sesuai rencana. Baru juga kakinya melangkah namun suara baritone sang ayah sudah menyusup ke gendang telinganya.

"Harusnya jam pulangmu sudah lebih dari 5 jam lalu. Kenapa terlambat?" Iris hitam sang ayah menatapnya lekat. Membuat nyali gadis remaja itu makin menciut.

"Itu yah...mmm... tadi-"

"Jawab yang benar!"

Sarada berjingkat. Suara ayahnya selalu saja membuatnya terkejut. Entah bagaimana ia sanggup hidup bersama pria kolot dan keras seperti sang ayah. "Aku dari perpustakaan yah." Ia memelankan suaranya. Nyaris menangis karena ketakutan.

"Kau tahu jika seorang gadis tak baik keluyuran malam-malam, kau pikir ayah tak ke perpustakaan untuk mencarimu? Nyatanya kau tidak ada di sana. Pergi kemana kau?" Gurat-gurat marah tampak jelas menghiasi wajah pria itu.

"Aku... aku..." Sarada tak mampu menjawab. Tangisnya pecah dan seolah dadanya terlalu sakit untuk mengungcapkan apa maksudnya. Bibirnya bergetar, tak mampu mengucapkan apapun. Hal seperti ini nyaris selalu terjadi, gadis itu merasa terbiasa dengan kemarahan ayahnya yang tak pernah mau mendengar penjelasannya.

"Masuk kamar sekarang! Dan sebagai hukumannya ayah akan memotong uang jajanmu." Tangannya dengan gerakan tegas mengarah ke kamar putrinya.

Tanpa di suruh lagi, si gadis yang masih menangis segera berlari menuju kamarnya. Menutup pintu dengan pelan dan segera membanting tubuhnya di tempat tidur. Menangis di sana seolah tangisannya tak akan berhenti.

Ia merutuk dalam hati. Kenapa ia harus tinggal dengan sang ayah? Kenapa ibunya pergi begitu saja tanpa peduli padnya. Jika saja ia tahu di mana ibunya, mungkin pilihan terbaik adalah memilih tinggal dengan wanita itu. Tapi sayangnya ia malah tidak tahu bagaimana paras sang ibu. Sebab ayahnya tak pernah menyimpan foto wanita itu. Hal yang selalu pria tersebut katakan ketika ia bertanya tentang bagaimana wajah sang ibu adalah, 'wanita sialan itu tak patut diingat'. Ya... kadang ia berpikir barangkali ibunya pergi meninggalkannya juga karena sang ayah yang kelewat temperamen.

Malam itu ia malah tertidur setelah lelah menangis. Tubuh lelahnya tak lagi bisa diajak kompromi. Sebenarnya ia tak bohong jika dari perpustakaan kota. Hanya saja ia sempat mampir ke rumah teman untuk menyelesaikan tugasnya di sana. Barangkali ayahnya sampai di perpustakaan ketika ia telah meninggalkan tempat tersebut.

Sasuke membawa nampan berisi makanan dan segelas air putih. Namun, ketika pertama kali membuka pintu kamar putrinya, ia mengurungkan niat awalnya untuk menyuruh gadis itu makan. Sebab anak itu tampak begitu kelelahan. Tangannya dengan pelan kembali menutup pintu. Sejujurnya, sasuke hanya terlalu khawatir hingga tak mampu mengkondisikan emosi negatifnya.

.

.

"Ayahmu marah-marah lagi?" Izumi, sang bibi bertanya di tengah kesibukannya memasukkan sayur-sayuran segar ke dalam kulkas.

Sarada yang bertumpu dagu, hanya menatap sekilas ke arah sang bibi. "Mungkin itu salah satu hobinya." Dia merengut kesal. Beruntungnya sang ayah telah berangkat bekerja. Meskipun ini hari minggu tapi entah acara apa yang membuat sang ayah tetap pergi ke tempat kerjanya.

Wanita itu terkekeh pelan. Tanpa menghentikan aktivitasnya, ia masih sempat mengerling ke arah sang keponakan. "Dia hanya terlalu khawatir padamu." Ia menarik napas panjang, kembali menutup kulkas ketika tak ada lagi yang perlu dimasukkan. "Kau tahu. Trauma yang berlebihan." Ia duduk di dekat Sarada.

Gadis itu tak lantas bertanya. Ia hanya diam menunggu kelanjutan kalimat sang bibi.

"Ayah dan ibumu menikah di usia yang terlalu muda. Setelah melahirkanmu wanita itu malah kabur dengan pria lain. Aku pikir wanita itu memang kurang ajar. Apa yang kurang dari Sasuke? Dia tampan dan waktu itu dia juga cukup mapan untuk menjadi pemimpin rumah tangga yang baik. Dan aku masih ingat, dia tak sekeras sekarang." Wajah Izumi begitu serius ketika kata demi kata mulai terlontar dari mulutnya.

"Benarkah? Lalu kenapa dia bisa menjadi semengerikan sekarang?" Sarada antusias bertanya.

"Sudah kubilang. Dia mengalami sejenis trauma, mungkin. Trauma akan kehilangan wanita yang disayanginya untuk kedua kalinya. Tapi... dia menggenggammu terlalu erat." Matanya yang menawan tak lepas dari wajah manis di sampingnya.

"Aku bahkan berpikir bahwa ayah tak benar-benar mencintai ibu." Ia melihat sorot mata sang bibi yang menyiratkan pertanyaan. "Dia selalu menyebut ibu wanita brengsek, wanita sialan, jalang dan entahlah lainnya aku lupa."

"Dia masih tak bisa menerima ibumu meninggalkannya. Ya sudahlah... bibi memang tak berhak ikut campur urusannya." Izumi berdiri dari kursi. menyebabkan suara decitan pelan yang tak begitu di sadari. "Yang jelas, dia menyayangimu."

Sarada tak menjawab. Ia tak benar-benar tahu ungkapan itu sungguhan atau tidak. Lagipula ayahnya tak pernah berkata demikian. Jelas pria itu terlalu enggan untuk sekedar mengatakan bahwa dia menyayangi putrinya.

"Bibi harus segera pulang. Sesekali bermainlah ke rumah kami. Paman Itachimu merindukanmu." Jemari lentiknya mengelus pelan kepala sang keponakan.

"Lalu kenapa paman Itachi tidak kemari saja?"

"Ya Tuhan... anak ini. Pamanmu mana tahu kapan kau memiliki waktu luang. Dan lagi, kadang dia terlalu sibuk untuk bisa keluar dan berkunjung kemari." Izumi sudah hampir keluar dari ruang makan.

"Dan bibi menyuruhku ke sana? Paman mungkin terlalu sibuk untuk sekedar menemuiku." Ia mulai berdiri, membetulkan posisi kacamatanya sebelum berjalan mengikuti bibinya yang menuju pintu keluar.

"Entahlah... kau sebagai keponakan yang baik seharusnya tidak memperlakukan pamanmu seperti itu. Dia selalu bilang bahwa kau adalah keponakan yang paling disayanginya."

Sarada berdiri di ambang pintu. Menatap Izumi yang mulai menaiki motornya. "Lain kali jika sempat aku akan berkunjung ke rumah kalian." Setelah dipikir-pikir lagi, bagaimana mungkin Itachi tak menyayanginya. Pasalnya keponakan yang dimiliki pamannya hanya dia seorang.

"Ya sudah, bibi pulang sekarang." Wanita itu mulai menyalakan motornya.

"Hati-hati bi." Tak yakin juga sang bibi akan mendengarnya. Sebab kalimatnya terlalu pelan untuk bisa didengar. Setelah wanita itu menghilang di tikungan jalan bersama motornya, Sarada baru masuk kembali ke dalam rumah.

.

.

Sarada mematut dirinya di depan cermin, memastikan bahwa penampilannya sudah cukup bagus. Lagipula ini akan mnjadi malam yang menyenangkan, di mana satu-satunya hal yang ia inginkan akhirnya nyaris bisa dilakukan. Sejak siang tadi, ia dan teman-temannya sudah berencana pergi ke karnaval. Kebetulan sang ayah bilang bahwa malam ini dia pulang telat karena harus lembur.

Ia mengambil tas selempang kecilnya, mengecek jam tangannya sekali lagi. Dan helaan napasnya terdengar lega ketika masih mendapati pukul 18.35 di sana.

Langkahnya pelan ketika keluar dari kamar, lagipula apa yang harus ia khawatirkan? Sementara jam pulang sang ayah masih tersisa sekitar 5 jam lagi.

Namun, segalanya tak sama lagi ktika suara derap sepatu terdengar menggema di ruang tamu. Gadis muda itu merasakan aliran darahnya terasa begitu nyata, jantungnya brdegup semakin cepat, dan rasa panas mendadak memenuhi ubun-ubunnya. Sejujurnya ia ingin segera lari dari tempat itu, namun keinginan lainnya adalah bersemhunyi di balik pintu. Tapi waktu tak memberikannya banyak kesempatan. Belum sempat kakinya kembali melangkah, sosok sang ayah sudah berdiri tegak di tengah ruang tamu.

Alis pria itu terangkat, keningnya berkerut menunjukkan keheranannya saat menangkap putrinya dengan dandanan cantik berdiri mematung di pintu masuk antara dapur dan ruang tengah.

"A..ayah?" Matanya membulat, otaknya bekerja begitu lamban hingga membuatnya ketakutan jika tiba-tiba sang ayah bertanya tempat yang akan ia tuju.

"Mau kemana?"

Ia sudah menduga jika pertanyaan itu yang akan terlontar. Dan kepulangan sang ayah yang begitu cepat benar-benar diluar perkiraan. Sekarang ia tidak tahu apa yang harus dikatakan, mengingat jantungnya berpacu terlalu cepat hingga rasanya seperti akan melompat dari rongganya. "Aku... kupikir, kupikir ayah akan, ayah akan mengizinkanku..mmm... pergi ke karnaval." Ia mencicit seperti seekor tikus yang tertangkap basah namun tak bisa berkutik untuk melarikan diri.

Sasuke semakin mendekat ke arah putrinya, menatap lebih dekat anak itu Hingga ia bisa melihat ujung rambut anak itu tampak gemetaran. "Kembalilah ke kamarmu, ayah tidak mengizinkanmu pergi."

Meski tahu jawabannya akan seperti itu, entah kenapa mata gadis itu tetap terbelalak terkejut. "Tapi... tapi yah, aku, aku sudah..." matanya terasa berkabut mengingat janjinya yang begitu bermuluk muluk pada teman-temannya.

"Tidak ya tidak, kau mngerti? Lagipula ini malam, nak. Tidak baik anak perempuan keluyuran malam-malam begini." Tatapannya tajam, mengikis keberanian putrinya yang semakin menipis.

Sampai kapan ayahnya akan berkata demikian, ia sudah 17 tahun, demi Tuhan... ia bukan lagi anak kecil yang jika keluar rumah di malam hari akan tersesat. Dan lagi, betapa konyol peraturan dari pria kolot macam Sasuke. Yang hanya menyuruh belajar, belajar dan belajar, oh... anak muda butuh untuk sedikit bersenang-senang kan? Lagipula yang ia inginkan cukup sederhana, hanya pergi ke karnaval. Bukan pergi tidak jelas dan terpengaruh gaya hidup bebas yang melanggar banyak norma.

"Masuk ke kamrmu!" Tangannya mnunjuk ke arah kamar putrinya. Wajahnya yang lelah menunjukkan betapa tidak inginnya ia berdebat malam ini, karena yang diinginkannya adalah istirahat, ya istirahat.

"Tapi ayah..."

Sasuke menghela napas panjang. "Masuk ke kamarmu!" Ia membentak, wajahnya kian mengeras.

Sarada tak habis pikir dengan kelakuan sang ayah yang berlebihan. Dan kali ini ia tak bisa melakukan apapun lagi. Dengan langkah kesal yang berusaha ia tutupi, ia menuju kamar. Menangis pelan setelah pintu kamarnya tertutup. Ia benci Sasuke, ia benci laki-laki itu. Dan kenapa Tuhan menakdirkannya menjadi anak pria keras kepala seperti sang ayah, yang egoisnya bukan main. Apa salahnya pergi ke karnaval bersama teman-teman dekatnya? Itu kedengaran bukan hal yang membahayakan kan?

Tangannya lemas ketika mengetikkan sebaris pesan pada teman-teman dekatnya bahwa ia tak jadi ikut ke karnaval. Ayahnya marah, dan itu satu-satunya alasan masuk akal yang bisa ia berikan, karena sifat pria itu sudah umum di kalangan teman-temannya.

.

.

"Kupikir ini bagus." Sarada berucap sembari menunjuk sebuah sepatu olah raga berwarna putih dengan selingan warna biru tua. Tampak cukup elegan dan berkelas.

Boruto yang semula masih mengedarkan pandangan ke setiap etalase yang memajang sepatu-sepatu yang tampak mengagumkan, mengalihkan pandangan ke arah yang ditunujuk si gadis. Tersenyum tipis sembari berucap. "Menurutmu begitu?" Ketika mendapti anggukan dari lawan bicaranya, ia tak lagi bingung untuk memilih. Tangannya mulai meraih benda tersebut dan membawanya menuju kasir.

Sementara itu, Sarada tetap menunggu sembari mengamati beberapa sepatu yang sempat menarik perhatiannya. Karena tak sampai 3 menit, pria itu sudah kembali ke sampingnya dengan wajah yang lebih ceria.

"Tidak sia-sia aku mengajakmu untuk menemaniku, wanita di kasir itu juga bilang jika, aku tak salah pilih sepatu." Komentarnya seolah Sarada baru saja memenangkan lotre untuknya.

"Benarkah?" Mau tak mau, senyumnya ikut terkembang di bibir tipisnya.

Pemuda Uzumaki itu mengangguk, lalu menarik pelan tangan gadis di sampingnnya itu. "Sekarang ayo pulang, aku antar ya."

"Eh, tapi..."

Tidak mempedulikan keraguan yang terpancar dari sorot lawan bicaranya, Boruto tetap menggandeng tangan gadis itu hingga membuatnya gugup mendadak.

Namun sebuah suara familiar menggertak mereka. Suara seorang laki-laki yang sarada kenal sebagai Sasuke, dan ia tak habis pikir, kenapa pria itu ada di tempat ini?

"Lepaskan tangan anakku!" Nada suaranya begitu dingin, hingga membuat si bocah Uzumaki segera menuruti perintah tersebut.

Sarada merasakan jantungnya seperti melompat-lompat dalam rongga dadanya. Rasa tak nyaman akibat kehadiran sang ayah nyaris membuat perutnya keram. Belum lagi ketakutannya jika ayahnya akan memarahi Boruto habis-habisan.

Boruto tak mampu mengatakn apapun. Ia menundukkan kepalanya, sembari berharap ini akan cepat berakhir. Pasalnya ia tak pernah menyangka jika gertakan ayah Sarada sudah mampu membutanya gemetaran. Bukan omong kosong jika tuan Uchiha ternyata memiliki sifat yang begitu keras, seperti yang dibicarakan teman-temannya.

"A-ayah, bagaimana..." tak sempat kalimatnya selesai sang ayah sudah lebih dulu memotong.

"Kemari!" Ia dengan paksa menarik tangan putrinya ke sampingnya. Menatapnya tajam, seolah mata dengan iris hitam itu mampu membunuh siapa saja yang melihatnya. "Dan kau." Telunjuknya mengarah pada Boruto yang masih menundukkan kepalanya. "Beraninya kau menggandeng tangan anakku, selain itu kau juga terlalu berani membawanya keluar tanpa seizinku." Napasnya memburu, dia jauh lebih menyeramkan dibandingkan banteng yang sedang marah.

"Aku, aku, aku minta... maaf paman." Bocah itu membungkuk beberapa kali, sebelum berjalan pelan meninggalkan tempat itu, namun ketika posisinya cukup jauh, dia melangkahkan kakinya lebih lebar lagi hingga akhirnya berlari sekencang-kencangnya. Jelas, Sasuke membuatnya takut.

Sarada merengut, merasa malu, takut sekaligus sedih di saat bersamaan. Ayahnya benar-benar keterlaluan, banyak temannya yang berusaha menjaga jarak dengannya. Alasannya sederhana, mereka takut jika berurusan dengan ayah si gadis. Karena pria itu begitu keras dan terlalu kolot.

"Ayah..."

"Ayo pulang!" Kali ini nadanya tidak setinggi tadi. Dan dengan pelan pandangannya yang semula mengikuti arah kepergian Boruto mulai melirik putri semata wayangnya. "Ayah melarangmu bergaul dengan bocah seperti dia!"

Sarada mendengus sembari mengikuti langkah sang ayah. Ayahnya nyaris selalu bilang seperti itu tiap kali teman Sarada memiliki sifat yang tak sesuai dengan kriterianya. Oh demi Tuhan, mungkin Sasuke memang pantas tak bergaul dengan siapapun. Karena pria itu terlalu egois untuk mau paham bahwa setiap orang memiliki karakternya yang berbeda, dan diantara karakter itu, bisa saja sebagian baik dan sebagiannya lagi tidak. Namun, kadang yang terpenting menjadi seseorang yang terlalu pemilih membuatmu sulit berteman dengan siapapun.

"Dengarkan ayah, pulang sekolah harus segera pulang. Bukan keluyuran seperti tadi, kau punya rumah, dan kau juga hafal jalannya, kenapa mesti pergi tidak jelas bersama bocah laki-laki sok pemberani seperti anak tadi."

Sarada tetap diam. Benci mendengar nasehat semacam itu selalu terlontar dari mulut menyebalkan sang ayah. Lagipula kenapa juga pria itu ada di tempat ini, bukankah dia harus bekerja? Setelah beberapa saat mengamati, ternyata ayahnya membawa sekantong plastik roti dan selai. Mungkinkah pria itu pulang cepat dari tempat kerjanya, kemudian pergi ke minimarket? Ah, kenapa juga ia harus peduli. Yang jelas saat ini, ia benci laki-laki itu. Kenapa Tuhan memberikan ayah seperti pria itu? Dan kenapa juga ibunya meninggalkannya tinggal bersama orang yang terlalu keras mendidiknya, hingga membuatnya lelah untuk hidup lagi.

Serentetan kalimat Sasuke masih saja menghujaninya ketika langkah-langkah mereka mendepak di paving jalanan. Tapi, Sarada memilih merutuki nasibnya ketimbang mendengarkan nasehat itu dengan sukarela. Tanpa sadar, air matanya telah meleleh.

.

.

"Semoga saja ada, semoga saja." Mulutnya tak berhenti menggumamkan kalimat itu sementara tangannya sibuk mengobrak-abrik lemari sang ayah. Berharap pria itu tak segera pulang, kemudian memergokinya tengah melakukan hal tak seharusnya seperti saat ini.

"Ya Tuhan... di mana ayah meletakkannya, jangan sampai dia membuang semua foto ibu." Ia cemas bukan main, dan lagi jantungnya yang tak berhenti bertalu-talu, membuat tubuhnya merasa sedikit panas karena gemetar.

Kali ini ia beralih ke lemari dekat tempat tidur Sasuke, berdoa berkali-kali agar menemukan foto wanita yang sejak lama ingin di ketahuinya tersebut. Napasnya memburu sementara tangannya tak berhenti menggeledah tiap ruang dalam lemari itu, hingga ketika tangannya tak sengaja menarik sebuah dokumen, secarik foto usang jatuh ke lantai. Butuh beberapa saat bagi Sarada untuk menyadari hal tersebut, dan matanya berhenti berkedip selama beberapa detik hingga tangannya tergerak untuk mengambil benda itu.

Foto tersebut memperlihatkan seorang wanita yang tersenyum tipis, bunga terselip di belakang telinganya. Dia memiliki rambut sebahu dengan warna merah muda pucat, dan mata hijaunya terlihat begitu memukau. "Cantik sekali."

Sesuatu dalam hatinya begitu yakin jika itu adalah foto wanita yang tengah ia cari, maka dengan gerakan tergesa, gadis itu berusaha membereskan semua benda yang sejak tadi ia porak-porandakan. Sebelum sang ayah pulang, ia harus sudah menghilangkan jejak.

Malam itu, ia memilih tak keluar kamar sama sekali. Membiarkan ayahnya beberapa kali mengetuk pintu kamarnya untuk menyuruhnya makan malam. Tapi demi Tuhan, Sarada makin tak suka dengan sikap sok perhatian sang ayah. Ia lebih memilih bergelung di dalam selimut sembari menatap foto kusam di genggamannya. "Benarkah kau adalah ibuku?"

.

.

Sarada menghela napas panjang. Mengalungkan tas selempangnya hingga mengait pada pundak kurusnya. Ketika ia baru saja keluar dari pintu kamar, ia telah melihat sang ayah duduk santai dengan TV yang menyala. Acara berita pagi di hari Minggu tak pernah ia lewatkan. Sebab, kapan lagi bisa menikmati hari libur, sementara nyaris setiap hari ia disibukkan dengan urusan kantor.

"Mau kemana?" Seperti biasa, nada pertanyaan itu tak pernah terdengar menyenangkan.

"Aku ingin ke rumah paman Itachi." Jawabnya singkat, berharap sang ayah akan percaya.

"Kau coba berbohong, nak?" Meski matanya tetap fokus ke arah layar TV. Tapi Sarada bisa merasakan tatapan tajam sang ayah yang terasa mengintimidasi.

"Aku tidak bohong yah, kah bisa menelfon paman Itachi nanti. Aku benar-benar akan ke sana, karena paman bilang, dia merindukanku." Ia mengembungkan pipinya. Kesal dengan sikap ayahnya yang berlebihan, lagipula ia tak akan melibatkan temannya lagi dalam urusannya, karena akibatnya bisa fatal. Ayahnya yang pemarah bisa saja memarahi satu-persatu dari mereka hingga putrinya tak lagi memiliki teman untuk bergaul.

Kali ini, pria itu tertarik untuk menatap ke arah anak gadisnya. Mengamati ekspresi putrinya dengan tatapan serius. "Dan jika kau bohong?"

Sarada menghela napas panjang. "Jika aku bohong, ayah boleh tak memberiku uang saku selama sebulan." Mengesalkan sekali.

Sasuke tersenyum, kemudian mengangguk pelan. "Deal."

"Ya sudah kalau begitu, aku pergi dulu." Kakinya mulai melangkah meninggalkan ruang keluarga.

"Sampaikan salam ayah pada paman dan bibimu." Sasuke berteriak ketika putrinya sudah hampir keluar dari pintu depan. Kendati demikian, suaranya yang memekakkan masih terdengar jelas di telinga gadis itu.

"Ya, baiklah akan aku sampaikan." Jika saja Sasuke tahu apa yang sedang ingin ia ketahui hingga mau repot-repot datang ke rumah pamannya. Mungkin ia akan di kurung di rumah sampai bertahun-tahun. Dan ia bergidik membayangkannya.

.

.

Itachi tengah membaca koran ketika Sarada sampai di sana, pria itu tersenyum lebar melihat keponakan tersayangnya datang tanpa memberitahu terlebih dulu.

"Ya Tuhan, kau datang tiba-tiba sekali." Uchiha sulung ini melipat korannya, dan berdiri sembari memberikan pelukan singkat pada sang keponakan.

Sarada tersenyum. "Aku merindukan paman dan bibi."

"Bibimu ada di dalam." Pria itu berjalan memasuki rumahnya dengan Sarada yang mengekor di belakangnya. "Izumi... Sarada datang."

"Iya, iya..." wanita itu keluar dari dapur dengan ponsel yang tergenggam di tangannya. "Ayahmu barusan menelfon, memastikan apakah kau sudah sampai di sini atau belum."

Gadis itu mendecak, duduk di kursi ruang makan dengan pandangan kesal. "Ayah mungkin berpikir aku membohonginya."

Itachi terkekeh dan ikut duduk di sebelahnya. "Dia benar-benar menyayangimu."

Ketika matanya bertemu dengan mata sang paman. Ia sempat berpikir bahwa mungkin menyenangkan menjadi anak dari pamannya. Pria itu cukup sabar dan pengertian, sikapnya 180 derajat berbanding terbalik dengan sang ayah. Lagipula paman dan bibinya juga belum dikaruniai anak hingga detik ini.

"Paman sendiri tidak habis pikir, Sasuke yang dulunya penakut dan cengeng sekarang menjadi seorang ayah yang sangat keras." Dia menggeleng beberapa kali.

Izumi mengulurkan ponsel ke arah sang suami. "Kabarkan padanya jika Sarada sudah sampai di sini. Dan katakan juga, kadang-kadang dia juga harus memberi putrinya sedikit kebebasan." Setelah ponsel itu diterima oleh Itachi, kali ini pandangannya fokus ke arah sang keponakan. "Mau bantu bibi membuat kue?"

Dengan semangat gadis itu mengangguk, buru-buru mengikuti langkah sang bibi menuju ke dapur.

Sementara sang paman, mulai sibuk berbincang dengan ayahnya lewat telfon.

"Sudahlah, jangan diambil hati. Ayahmu terlalu berlebihan menyayangimu, dan seharusnya kau bersyukur." Wanita itu menuju ke arah kulkas, mengeluarkan sekotak telur dan membawanya ke arah meja. "Dia takut kehilanganmu seperti dia kehilangan ibumu, maka tidak ada cara lain selain menggenggammu dengan erat."

Sedari tadi Sarada mengamati sang bibi yang mondar-mandir di dapur dan menyiapkan segala bahan untuk kue yang akan mereka buat. "Ayah terlalu keras kepala untuk tetap dipertahankan, mungkin ibu tidak salah telah meninggalkannya. Hal menyedihkannya Kenapa dia tidak membawaku juga?"

Tak habis pikir dengan jawaban keponakannya, Izumi menghentikan kegiatannya menuangkan tepung ke dalam wadah. "Ya Tuhan, apa yang kau katakan?"

Gadis itu tersenyum canggung ketika sadar jika ucapannya memang keterlaluan.

"Dengarkan bibi, usiamu belum genap setahun ketika dia mendadak kabur dengan pria lain. Kau tidak tahu betapa kacaunya ayahmu waktu itu, dia harus mengurusmu. Selain itu, dia juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kalian. Tak jarang aku dan pamanmu menginap di rumah kalian untuk membantunya mngurusmu." Dia menggelengkan kepalanya, dan menghela napas panjang. "Ibumu tidak memikirkanmu, ayahmu mncoba menghubunginya juga tidak kunjung mendapt respon. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menceraiakn ibumu. Ya... hanya hari itu saja, wanita itu mau datang. Dan dia menghilang, kami tidak tahu bagaimana kabarnya sampai sekarang."

Ibunya sejahat itu ya? Ia diam beberapa saat dan tetap menatap sang bibi yang mulai kembali pada aktivitasnya. "Memangnya... ibu, ibu berasal dari mana?"

Lagi-lagi Izumi menatap sang keponakan dengan pandangan tak habis pikir, responnya jauh melenceng dari yang ia pikirkan. Seolah Sarada begitu penasaran dengan sang ibu ketimbang membenci wanita yang dengan tega telah meninggalkannya.

"Aku hanya ingin tahu." Jantungnya berdebar melihat tatapan sang bibi.

"Fukushima, ibumu berasal dari sana." Ya lagipula apa salahnya memberikan jawaban untuk pertanyaan yang sederhana itu.

Sarada mengangguk, entah kenapa rasanya sedikit melegakan mengetahui hal itu.

"Kau bisa ambilkan cokelat di kulkas?"

Tanpa menjawab, gadis itu sudah berjalan ke arah kulkas. Mengambil benda yang disebutkan sang bibi. Namun sebagian pikirannya tak lagi berada di tempat itu, ia mulai berandai-andai bagaimana keadaan ibunya sekarang, apa dia bahagia? Atau...

"Jangan melamun begitu, apa yang kau pikirkan?"

Alih-alih menjawab, Sarada hanya tersenyum tipis, berusaha tampak biasa agar bibinya tak berpikir macam-macam tentangnya.

.

.

Ada banyak keraguan yang mengganjal pikiran Sarada. Sepulang sekolah sore itu, ia dengan cekatan mulai memasukkan beberapa helai pakaian dan uang tabungannya ke dalam tas ranselnya. Berpikir beberapa kali, apakah aksinya kali ini akan berakibat fatal? Tapi ia sudah tidak tahan lagi tinggal di sini. Dan lagi, rasa penasarannya terhadap sang ibu terlalu besar untuk diabaikan begitu saja.

Ketika jam di dinding tepat menunjuk pukul 5, ia buru-buru keluar dari kamar. Menghela napas panjang dengan langkah-langkah berat yang begitu membebani. Tapi, jika ia tetap berada di tempat ini maka segala pertanyaan yang begitu meracuni pikirannya tak akan pernah terjawab. Maka, sekali lagi ia menghela napas panjang dan semakin memantapkan langkahnya untuk meninggalkan rumah ini. Berharap tabungannya akan cukup membantu hingga ia benar-benar sampai di rumah sang ibu.

.

.

Namun, semua tak semudah yang ia pikirkan. Setelah perjalanan panjang menggunakan kereta cepat. Ketika untuk pertama kalinya kakinya menapak di tanah Fukushima, ia malah bingung harus kemana. Pasalnya ia tak benar-benar tahu di mana sang ibu tinggal. Ya Tuhan... kenapa ia begitu naif, sebab Fukushima bukanlah kota yang kecil, dan ia merasa terlalu bodoh karena baru menyadarinya.

Kakinya melangkah melewati jajaran bangunan yang menjulang tinggi, perasaan takut mulai menyelimutinya. Apalagi ini sudah malam, dan kota itu begitu tampak asing di matanya.

Mungkin ini yang dikhawatirkan sang ayah jika ia keluar sendirian, karena dunia luar tidak selalu bersahabat. Matanya beberapa kali nyaris menumpahkan air mata. Tapi ia menahannya, sebab ia tahu, ini sebuah resiko yang harus ditanggungnya untuk bisa menuntaskan keingin tahuannya yang begitu membuncah.

Sarada menuju minimarket yang berdiri di samping sebuah rumah makan China. Tenggorokannya begitu kering dan ia membutuhkan air untuk membasahinya.

Ia menghela napas panjang ketika kembali keluar dari minimaket. Memandang berkeliling sembari tetap melangkahkan kakinya. Meneguk berkali-kali air putih dalam botol yang digenggamnya, dan tak berhenti berdoa agar Tuhan tak membiarkannya kebingunan sendirian.

Tak satupun orang dikenalnya disini, dan lagi mereka begitu sibuk dengan urusan masing-masing hingga tak mau repot-repot menoleh pada orang asing. Kakinya lelah, gadis itu merasa begitu frustasi hingga menangis terduduk di dekat sebuah taman kecil. Ini nyaris tengah malam, dan dinginnnya udara terasa begitu menggigit.

Ketika angin dari arah utara baru saja berhembus dan lalu-lalang kendaraan sudah mulai jarang. Seseorang menepuk pundaknya, gadis itu terlonjak dan nyaris berlari jika saja sang pelaku tak segera membritahukan identitasnya.

"Apa ada masalah, nona?"

Sarada yang baru menyadari jika itu polisi, serabutan menghapus air matanya. Ia bahkan bingung harus mengatakan apa, namun satu hal yang terlintas di benaknya. "Pak, tolong saya. Saya tersesat." Tangannya gemetaran sembari mengulurkan secarik foto usang pada si polisi.

Polisi itu menerima foto tersebut. Menatapnya dalam diam, kemudian kembali lagi menatap Sarada.

"Saya mencari wanita itu."

.

.

Rasa panik dan khawatir membuat Sasuke ingin menendang benda-benda di hadapannya. Ini sudah tengah malam, dan putrinya tak ada di rumah. Awalnya ia pikir anak itu berada di rumah sang kakak, namun kakaknya mengatakan Sarada tak berada di sana. Semua teman-teman putrinya yang baru saja dia hubungi berkata bahwa mereka benar-benar tak tahu di mana anak itu.

Pria itu mengacak rambutnya frustasi, ia tak menemukan Sarada di manapun meskipun telah berkali-kali mengelilingi tempat biasa anak itu prgi. Putrinya terlalu penakut untuk pergi terlalu jauh, ia berpikir begitu. Jadi, apakah anak itu diculik? Atau dia dibunuh seseorang? Banyak sekali hal negatif yang berkeliaran di otaknya, dan semua itu nyaris membuatnya kesulitan untuk bernapas.

Sudah berkali-kali ia berusaha menghubungi anak itu, tapi tampaknya ponselnya memang sengaja ditinggal di rumah. Hal ini membuat Sasuke makin bingung, sebenaranya pergi kemana putrinya itu.

.

.

Menjelang pagi, gerimis mulai membahasi sebagian wilayah Fukushima. Dan si polisi dengan kesabaran yang masih tersisa beberapakali mengetuk pintu sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Dan si gadis menggosokkan telapak tangannya untuk menghangatkan tubuhnya. Baru setelah ketukan ketiga, seseorang dari dalam mulai membuka kunci. Suara 'ceklek' pelan terdengar jelas sebelum seorang pemuda muncul dari balik pintu.

"Oh, tuan Sasori." Pemuda itu mengucek matanya, merasa bahwa kesadarannya belum penuh. "Ada apa?" Dari caranya bicara, tampaknya mereka sudah lama saling mngenal.

Sang polisi yang dipanggil Sasori sedikit mendekat pada si pemuda. Pandangannya sekilas mengarah pada Sarada yang berdiri kedinginan. "Gadis ini mencari ibumu, biarkan dia masuk. Kurasa dia memiliki urusan penting hingga harus jauh-jauh datang dari Kyoto untuk menemui ibumu."

Pemuda yang ternyata bernama Akira tersebut mempersilahkan keduanya masuk, sebab udara di luar benar-benar tak bersahabat. Dari percakapan singkat mereka, Sarada mengetahui jika si polisi ternyata dekat dengan keluarga yang ia sendiri tak begitu paham dengan anggotanya, karena wanita yang sejak tadi ia cari tak kunjung keluar.

Dan saat Sasori mulai berdiri dari sofa ruang tamu, Akira tampak tak ingin membiarkan sang polisi buru-buru pergi.

"Tapi aku harus pulang, keluargaku menungguku di rumah." Dia tersenyum tipis ke arah Sarada. "Mari nona." Dan langkah cepatnya membawanya keluar dari ruang tamu tersebut.

Kemungkinan, Akira ingin mengantarkan Sasori hingga ke teras depan. Namun, keterburu-buruan polisi tadi tak memberikannya kesempatan untuk melakukan kegiatan yang biasa ia lakukan untuk mengantar tamu hingga keluar pintu.

Lalu sekarang, mereka berdua hanya duduk canggung. Bingung apa yang harus dikatakan, terlebih ini pertama kalinya bagi Sarada bertemu dengan pria asing.

"Mmm... aku... aku akan panggilkan ibu." Ia berdiri dan menuju sebuah kamar yang letaknya tidak begitu jauh, entah kenapa ia sendiri jadi bingung hingga lupa bahwa tujuan awal si gadis datang ke rumahnya adalah untuk bertemu dengan sang ibu.

Sarada hanya diam selama beberapa menit. Entah apa yang dilakukn Akira, yang jelas hal itu membuat sang gadis jengah menunggu. Lalu, detik berikutnya, pemuda itu muncul dengan seorang wanita awal 40 tahunan. Wanita itu duduk di kursi roda, tubuhnya tampak kurus dan menyedihkan.

Gadis itu membandingkan si wanita dengan foto lusuh di genggamannya. Air matanya lolos bersama tubuhnya yang teburu-buru memeluk si wanita ringkih tersebut. "Ibu..." setelah kerinduan panjang yang membuatnya lelah membayangkan raut sang ibu, akhirnya kini ia benar-benar bisa bertemu wanita itu.

Baik Akira maupun ibunya tampak terkejut, tapi tak satupun mengeluarkan suara. Pikiran wanita ini Berusaha menerka-nerka, hingga kemudian ia nyaris memekik ketika ingatannya yang kabur mulai penuh. "Kau..."

"Aku Sarada, Sarada Uchiha. Putrimu." Isakannya tak lagi bisa ditahan.

Wanita itu merasakan hatinya seolah jatuh ke dasar perutnya. Dadanya begitu sesak hingga tak mungkin lagi baginya untuk menahan tangis yang telah lama ia sembunyikan. "Ya Tuhan...nak, bagaimana kau bisa sampai di sini?"

Sarada melepaskan pelukannya, menatap dalam diam wajah yang tetap cantik meski terlihat menyedihkan. Dengan satu tarikan napas, ia mulai mengulang satu-persatu hal yang dialaminya. Sisa malam mereka habiskan dengan perbincangan panjang lebar tentang berbagai macam hal.

.

.

Helaan napas Sasuke terdengar semakin berat, sementara Itachi yang sejak tadi diam tak ingin keheningan tetap menyelimuti celah diantara mereka.

"Kau benar-benar sudah bertanya pada teman-temannya?"

Uchiha bungsu itu mengangguk, matanya tampak sedikit memerah akibat tak tidur semalaman. "Aku mengunjungi tiap rumah mereka. Dan Sarada tidak ada di sana. Ini yang aku takutkan." Ia mengakhiri kalimatnya dengan desisan pelan.

Izumi tak berkomentar apa-apa, ia takut bukan main. Mengingat Sarada tak pernah hilang secara misterius seperti ini.

"Dia juga tidak membawa ponselnya." Nada bicara Sasuke seolah mengekspresikan bahwa dia lelah, dan nyaris putus asa.

Itachi melirik Izumi sekilas. "Bisa saja dia diculik. Kita perlu meminta bantuan polisi."

Pria yang paling muda hanya menatapnya, diam, seolah mempertimbangkan usulan sang kakak.

"Tunggu sebentar." Izumi menyela. "Beberapa hari yang lalu, Sarada bertanya padaku tempat ibunya tinggal. Apakah..."

"Ya tuhan..." tanpa banyak berkata lagi, Sasuke segera berdiri dan pergi dari rumah Itachi tanpa permisi.

Keduanya langsung berdiri, mengejar sang adik, namun mereka kalah cepat. Sebab, motor Sasuke sudah keluar dari gerbang rumah mereka.

"Menurutmu, apakah Sarada benar-benar berada di Fukushima?" Izumi bertanya di tengah kekalutan yang tampak jelas dalam raut wajah sang suami.

"Kita tidak akan pernah tahu jika hanya diam saja di sini."

.

.

Menjelang malam, Sarada tengah melipat baju di kamar sang ibu ketika mendadak Akira masuk dan duduk di dekatnya. Sejenak, mengamati kegiatannya sebelum mulai berkata dengan ragu-ragu.

"Kenapa ibu tidak pernah mengatakan apapun padaku tentangmu."

Tangan kurus gadis itu menghentikan aktivitasnya, mengarahkan pandangan perlahan pada adik laki-lakinya yang terpaut 2 tahun darinya. "Ibu tidak mengatakan apapun?"

Pemuda itu menggeleng. "Dia hanya mengatakan, dosanya di masa lalu terlalu banyak."

Diam, Sarada tak tahu harus berkomentar bagaimana. Tak pernah terlintas di benaknya bahwa kehidupan ibunya begitu mengenaskan seperti ini. Tapi, entah bagaimana ia merasa nyaman disini, meski ada banyak hal yang tak ia pahami.

"Apakah ibu pernah menikah dengan ayahmu?"

Ia tersentak dengan pertanyaan itu. Dan bahkan sejak menginjakkan kaki di rumah ini, sama sekali tak terlintas di pikirannya soal suami baru ibunya setelah wanita itu meninggalkan ayahnya. "Tentu saja. Ayahku bilang, ibu meninggalkan kami ketika usiaku belum genap setahun. Kau tidak tahu bagaimana rasanya ditinggalkan ibumu sejak kecil kan? Dan hidup dengan ayah kupikir bukan pilihan yang tepat. Sebab ayahku terlalu protektif, dia melarangku melakukan banyak hal. Hingga aku merasa seperti hidup di dalam penjara."

Ketika melihat Akira yang masih fokus mendengarkan kelanjutan kalimatnya, maka ia kembali berucap. "Aku benar-benar penasaran dengan ibu, maka aku pergi kemari."

Pria muda itu mengerutkan keningnya, apakah tindakan meninggalkan sang kakak membuat ibunya merasa berdosa setiap hari. "Jangan berpikir kehidupan kami menyenangkan, aku tidak ingin kau menyalahkan ibu soal apapun. Sebab, ayah meninggalkannya ketika usiaku baru 7 tahun. Ayah pergi begitu saja setelah mengetahui bahwa kecelakaan mobil yang dialami ibu membuat kakinya lumpuh."

Mata Sarada terasa berkabut, rasa sesak di dadanya mulai membuatnya kesulitan untuk bernapas. "Dia meninggalkan aku dan ayah demi ayahmu, lalu semudah itukah ayahmu mencampakkannya?"

"Ayahku bukan orang baik kak-" kalimat itu dibiarkan menggantung tak selesai. Sebab sebuah ketukan pintu di luar membuat keduanya terlonjak.

Ketukan pintu itu terlalu keras dan beruntun, membuat Akira segera berlari ke arah pintu. Sarada mngekor di belakangnya. Selama sang adik Membukakan pintu, gadis itu menemukan sang ibu tengah duduk di sofa, dengan kursi roda yang berada tak jauh darinya.

Akira mundur ketika tahu yang datang adalah pria asing dengan ekspresi tak menyenangkan. Sementara Sarada nyaris tersedak karena ketakutan.

"A..ayah?"

Sakura, mengarahkan pandangan pada mantan suaminya dengan tatapan terkejut. Bagaimana tidak, selama bertahun tahun tak bertemu, detik ini ia kembali dihadapkan dengan pria yang dulunya begitu ia cintai.

"Sarada ayo pulang." Gertakannya begitu keras.

"Ti.. tidak. Aku ingin di sini." Ia mencicit, berusaha melawan ketakutannya terhadap sang ayah.

"Ayah bilang, pulang sekarang!" Ketika putrinya masih saja menggeleng, darahnya terasa naik ke ubun-ubun. Membuat kepalanya seolah mengeluarkan uap panas. "Itu ibumu. Kau puas sekarang? Kau bangga memilikinya? Kau menyayanginya setelah apa yang dia lakukan padamu? Dia mencampakkanmu ketika umurmu belum genap 1 tahun. Apa dia pernah peduli padamu? Sampai kau sebesar ini dia tidak pernah berusaha mencarimu untuk sekedar tahu bagaimana keadaanmu. Dia menganggapmu seolah tak pernah lahir dari rahimnya. Lalu kenapa kau begitu semangat untuk bisa bertemu dengan jalang seperti dia?"

"Ayah cukup!!" Air matanya menetes ketika serentetan kalimat sang ayah terasa begitu menyakiti telinganya. Bahkan ia tak berani menatap wajah sang ibu.

Akira mematung di dekat pintu. Masih tak paham dengan situasi saat ini. Sehingga ia memilih diam dengan perasaan campur aduk.

Sasuke terkekeh, ia tak menyadari adanya kursi roda yang berada di dekat mantan istrinya. Bahkan, meskipun sekarang tampak kurus tapi ia mengakui dengan sejujurnya jika Sakura masih terlihat cantik seperti dulu. "Setelah apa yang dilakukannya padamu, kau masih mau membelanya? Kau bahkan bolos sekolah untuk menemuinya, Oh ya Tuhan..."

Pelan, tangannya mulai menggenggam jemari ibunya. Berusaha menguatkan sang ibu agar tidak termakan kata-kata kasar ayahnya. "Seberapapun usahaku untuk membencinya, aku tak pernah bisa yah. Dia ibuku, sampai kapanpun dia ibuku. Kau tidak bisa membohongiku jika aku pernah lahir dari rahimnya." Air matanya semakin meleleh di kedua pipinya, rasanya ia ingin berteriak sekeras-kerasnya.

"Terserah, terserah apa maumu. Kupikir aku memang benar-benar bodoh telah melakukan perjalanan jauh hanya untuk menyusulmu ke tempat semacam ini." Ia mendecih, lalu dengan langkah cepat keluar dari rumah sederhana itu.

Sarada tak berani mengikuti sang ayah. Maka dengan segera ia memeluk Sakura, menangis di sana dengan air mata yang seolah tak ada habisnya.

Air mata Sakura menetes. Namun, tak ada suara tangis. Dan Akira tak bisa melakukan apapun, ia kembali menutup pintu ketika dirasa Sasuke telah jauh dari rumah mereka.

.

.

"Ada yang ingin ibu katakan malam ini."

Samar-samar kalimat itu masuk ke gendang telinganya, tapi Sarada tak memiliki kekuatan lagi untuk sekedar menghentikan tangisnya dan menatap sang ibu.

"Ibu tidak pernah berniat meninggalkanmu dan ayahmu. Ibu terpaksa, sebab saat itu ibu tak memiliki pilihan lain." Sakura memuluai ceritanya malam itu. Jam di dinding kamar nyaris menujuk pukul 11 mlam.

Suasana yang sepi membuatnya berpikir bahwa Akira pasti sudah tidur. Ia menghela napas panjang, menatap mata sayu sang ibu yang mengarah kosong ke depan.

"Sai mengancam ibu. Sebelum mengenal ayahmu, ibu dan Sai memiliki hubungan baik. Tapi sikapnya berubah ketika ibu akhirnya menikah dengan ayahmu. Lalu dia mengancam akan membunhu kakek dan nenekmu jika ibu tak menikah dengannya. Sarada, ibu benar-benar tidak tahu apa yang harus ibu lakukan. Apalgi saat itu ibu tengah mengandungmu. Ibu menyimpan semua rahasia itu rapat-rapat dengan kekhawatiran yang nyaris melumat pikiran ibu. Ibu bilang pada Sai bahwa ibu akan menyanggupi permintaannya setelah kau lahir. Ibu akan meninggalkan ayahmu. Lalu semua terjadi begitu saja." Air matanya mengalir lembut melewati pipinya.

"Kenapa ibu tak mengatakannya pada ayah? Ayah pasti bisa melakukan sesuatu jika ibu mau jujur." Ia bisa membayangkan posisi ibunya saat itu.

"Bagaimana mungkin ibu melakukan itu. Kakek dan nenekmu bisa saja dibunuh, dan lagi terlalu beresiko jika melibatkan ayahmu dalam masalah itu." Dia berhenti sejenak untuk menarik napas. "Lagipula saat itu, ibu pikir ayahmu adalah orang baik. Dan dia pasti mampu membesarkanmu sendirian. Jadi tekad bulat ibu meninggalkannya terasa semakin nyata setiap harinya. Kemudian ibu menikah dengan Sai, setahun kemudian Akira lahir. Akira tidak terlahir sesehat dirimu, dia lahir prematur dengan tubuh mengerikan seperti agar-agar. Itu membuat ibu makin tak tega padanya."

Sarada mengusap air matanya. Merasakan wajahnya yang kian basah tiap kali kalimat menyedihkan sang ibu meluncur dari bibir tipisnya. "Tapi Sai meninggalkanmu bu. Akira bilang padaku jika ayahnya bukanlah orang yang baik."

Dan.. ya, itu benar. Apakah Akira sudah berbicara banyak? "Apa yang Akira katakan padamu?"

"Bahwa ayahnya meninglkan ibu ketika ibu mengalami kecelakaan dan kaki ibu lumpuh."

Sakura makin tak mampu menahan air matanya. Sejak awal ia memang tak pernah mencintai Sai. Tapi rasanya begitu sakit ketika ia ditinggal begitu saja sementara Sai kabur dan menikahi wanita lain. Namun, ia tak akan mengatakan fakta ini pada putrinya. Biar saja anak itu pikir bahwa Sai pergi entah kemana.

"Ayah banyak berubah bu, setidaknya itu yang dikatakan bibi Izumi padaku. Aku bahkan tidak menyangka jika dulunya ia begitu baik. Alih-alih sekarang dia mirip monster penjaga penjara." Meskipun tangisnya belum berhenti, tapi rasanya ia ingin terkikik sendiri mndengar julukannya terhadap sang ayah. "Dia melarangku keluar malam. Harus pulang tepat waktu. Tidak boleh bergaul dengan pemuda manapun dan ya... hidupku serba dibatasi. Aku jengah."

Sakura mengelus kepala putrinya. "Ibu paham. Tapi dia terlalu menyayangimu."

Sarada terdiam, kalimat pendek sang ibu terus terngiang di kepalanya. Bukannya ia tak pernah mendengar ungakapan semacam itu, sang bibi bahkan begitu sering mengatakannya. Tapi ini lain, ini ibunya yang mengatakannya.

Malam itu setidaknya Sarada tahu jika ibunya bukanlah wanita jahat yang sering disimpulkan sang ayah. Wanita itu hanyalah korban ketidak adilan, namun terlalu bodoh dalam bertindak. Mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur terjadi. Yang bisa dilakukan hanya memperbaiki yang masih bisa diperbaiki.

.

.

5 hari kemudian

Sore ketika Sarada sibuk dengan aktivitas menyiram bunga di halaman depan. Ia dikejutkan dengan datangnya sebuah taksi biru muda. Taksi itu berhenti tepat di depan rumah ibunya. Awalnya ia pikir itu mungkin sang ayah yang akan memaksanya pulang. Namun, dugaannya salah. Karena yang muncul adalah sosok pria yang mirip sang ayah.

Ia buru-buru mematikan kran airnya dan mendekat ke arah sang paman. Pria itu menatapnya begitu dalam. Matanya tak berkedip selama beberapa saat hingga sebuah kalimat keluar dari mulutnya.

"Paman harap kau mau pulang kali ini."

Sarada menggeleng, ia tahu itu yang akan dikatakan pamannya sejak awal.

"Demi Tuhan nak, ayahmu begitu menyayangimu dan kenapa kau malah meninggalkannya seperti ini." Wajah lelah Itachi tak dapat menyembuyikan kekesalannya. Dan meskipun ia dikenal cukup sabar, namun kali ini ia pun mungkin tak habis pikir dengan tindakan nekat Sarada.

"Aku tetap tidak mau pulang paman. Aku suka disini. Tidak ada yang mengaturku harus ini, harus itu. Aku tidak suka tinggal dengan ayah."sikap manis yang selalu ia tunjukkan kali ini kalah dengan emosinya yang sedikit naik.

Uchiha sulung itu menghela napas panjang. "Apakah kau tetap tidak mau pulang jika paman bilang bahwa ayahmu sedang sakit?"

Gadis itu mematung di tempat. Sakit? Ayahnya sakit?

.

.

Ayahnya terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Tidak berada di rumah sakit seperti yang ia perkirakan sebelumnya. Namun kedaanya cukup buruk, sang ayah yabg tidak begitu menyukai suasana rumah sakit bersikeras tak ingin dibawa ke sana. Dan itu bukanlah pilihan yang tepat.

Pamannya menjelaskan bahwa sang ayah sering tidak makan beberapa hari ini karena memikirkannya. Hal itu tentu berpengaruh terhadap lambungnya, mengingat ayahnya mmliki penyakit asam lambung yang bisa kambuh kapan saja. Dan sekalinya kambuh, penyakit itu seolah melumat lambung dengan begitu mengerikan. Terlihat jelas dari bibir pucat ayahnya dan tubuhnya tampak sedikit lebih kurus.

"Ayah...aku minta maaf, aku minta maaf. Ayah harus sembuh ya." Sarada menangis sembari memeluk tubuh ayahnya.

Sasuke memang tak menangis tapi kehadiran putrinya sudah cukup membuatnya terharu. "Ayah akan sembuh, tapi ayah mohon tetaplah tinggal bersama ayah."

Gadis itu mngangguk, terlalu bersemangat hingga air matanya semakin turun dengan deras. "Aku akan tetap tinggal dengan ayah, tapi ada satu syarat."

Sasuke mengernyit, menerka-nerka apa yang mungkin diinginkan putrinya.

"Aku membawa ibu kemari, dan aku ingin ayah memaafkannya." Kalimat itu terdengar pelan dan ragu-ragu, namun ia begitu berharap ayahnya akan menyanggupinya.

Pria itu menggeleng. "Kau bisa meminta yang lain, dan ayah bisa mengabulkannya. Jangan yang satu itu."

"Hanya memaafkannya yah. Dan aku akan tinggal dengan ayah." Barangkali ayahnya masih marah, sebab pria itu tak tahu yang sebenarnya.

Itachi muncul dari balik pintu dan mendorong kursi roda yang ditempati Sakura. Selama beberapa saat, si bungsu Uchiha itu hanya mengamati mereka dalam diam. Tak mengatakan apapun, sebab rasa herannya mengalahkan egonya untuk tak lagi pduli pada wanita yang telah meninggalkannya tersebut.

"Tinggalkan kami berdua. Ada yang ingin ku bicarakan dengan Sasuke." Sakura berucap ketika ia telah banar-benar berada di samping sang mantan suami.

Sementara Itachi kini menuntun Sarada untuk keluar dari ruangan tersebut. Ada banyak hal yang ingin Sarada wujudkan, meskipun keluarga kecilnya tak akan bersatu lagi, tapi ia berharap ayahnya tak akan melarangnya bertemu sang ibu. Bagaimana pun juga, wanita itu tetap ibunya. Dan ayahnya tak memiliki hak untuk mlarang hal itu.

.

.

Lewat beberapa hari. Keadaan Sasuke makin membaik seiring waktu berputar. Sarada merasa cukup bahagia dengan hal itu, belum lagi fakta bahwa ayah ibunya tak lagi bermusuhan seperti dulu. Meskipun sang ibu harus kembali ke Fukhusima, dan merawat Akira di sana. Tapi Sasuke mengizinkan Sarada untuk mengunjunginya kapanpun dia mau. Asalkan tidak mengganggu jam sekolahnya.

"Yah.."

"Ya?" Sasuke mengarahkan pandangan pada putrinya yang berdiri di sampingnya. Senyumnya terkembang sempurna.

"Ada yang ingin aku katakan." Pandangannya fokus ke bawah, di mana kendaraan berlalu lalang di jalanan depan rumah mereka. Lampu-lampu jingga di jalanan membias pada wajah mereka yang diliputi kegembiraan, seolah tak ada habisnya.

"Apa?"

Kali ini, iris hitam itu mengarah pada sang ayah. Memancarkan berjuta rasa terima kasih yang berbaur dengan rasa haru. "Aku sayang ayah. Aku bahkan berpikir bahwa ayah adalah satu-satunya ayah terbaik di dunia."

Sasuke terkekeh pelan mendengar pujian putrinya. Ya jika Sarada bilang seperti itu, maka dia bisa apa kecuali menikamti pujian kecil itu.

END

oke aku tahu fic ini yg paling abstrak dibanding yg kemarin-kemarin. semoga readers semua ga kecewa, please dont judge me :'(. sebenarnya ragu mau dipost apa engga, tapi ya... pada akhirnya aku post juga, nanggung padahal cuma kurang 1 chapter aja. terlepas dari suka atau engga nya, aku serahkan pada kalian.

sekian... terima kasih