Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.
Sebelum membaca, aku ingin mengingatkan kepada kalian para pembaca untuk tolong meninggalkan review/ pendapat kalian di kolom komentar.
Review apapun itu, karena aku tidak akan bisa mengetahui kelebihan dan kekurangan ceritaku jika kalian tidak menuliskan pendapat kalian. Dan tolong untuk berhenti menggunakan komentar 'Next', 'Lanjut' dan lain sebagainya.
Karena komentar seperti itu hanya membuatku kesulitan sulit untuk mengembangkan cerita ini dan juga akan menyulitkanku untuk meningkatkan kemampuan menulisku.
Jujur saja, menulis koreografi perkelahian itu susahnya minta ampun, bahkan memakan waktu sampai berhari-hari. Dan di chapter ini akan dipenuhi dengan banyak koreo-koreo yang benar-benar fresh dari pemikiranku itu sendiri.
Jadi kesimpulannya, semoga kalian bisa memberikan review/ komentar kalian perihal chapter ini, entah itu mengomentari plotnya, alur ceritanya atau bahkan koreografinya itu sendiri.
Atau kalian bahkan bisa berkomentar dengan apa yang ingin kalian lihat di chapter-chapter selanjutnya.
Kalau begitu sekian, selamat membaca~.
(Total kata: 10.200).
.
.
.
.
.
Hutan Senju - War Area, Sunday at 5:03 pm.
"WORYAAAA!".
Pasukan lapis ketiga RWK maju menyerang Dokan, Izumo, Kotetsu beserta pengikut mereka.
"Ayo habisi mereka, Kotetsu!" Izumo maju terlebih dahulu.
"Ya!" Kotetsu menyusul di belakangnya.
"Jangan melupakanku dasar duo sialan!" Dokan juga berlari mengekor Izumo dan Kotetsu.
Pengikut mereka bertiga yang melihat itu otomatis melakukan hal yang sama, dengan penuh semangat, mereka juga berlari menerjang pasukan lapis ketiga RWK.
"Makan ini!" Izumo melancarkan tendangan lurus ke perut orang yang berada di depannya.
*Syut*
Orang tersebut berhasil menghindarinya sehingga membuat tendangan Izumo tidak mengenainya, namun sayang tendangan yang berhasil ia hindari itu mengenai temannya yang berada di belakang.
"Bodoh!" Izumo tersenyum tipis.
*Dugh*
Tendangan Izumo berhasil membuat orang tersebut terjungkal ke belakang. Hal itu secara tidak langsung berhasil menarik perhatian dari orang yang tadi berhasil menghindari tendangan Izumo.
"Jangan menoleh saat berkelahi bodoh!" Kotetsu yang melihat ada anggota RWK yang tidak memperhatikannya langsung mengokang sebuah pukulan kanan kuat di sisi tubuhnya.
"Huh?!" mendengar suara dari Kotetsu membuat orang tersebut pun kembali menatap ke depan.
*Bugh*
"Guhk!"
Sebuah Uppercut kanan dengan keras menghantam rahang orang tersebut, tidak berhenti di situ Kotetsu kembali mengayunkan tangan kirinya yang sudah ia genggam kuat menuju ke sisi kepala kanan orang yang berhasil ia pukul tersebut.
*Bugh*
Dan Hook kirinya itu berhasil membuat lawannya terjatuh menghantam tanah dengan keras sehingga membuatnya pingsan seketika.
"Minggir!" Dokan berlari menerobos Izumo dan Kotetsu yang berdiri di depannya.
"APA-APAAN KAU?!" teriak Izumo dan Kotetsu yang marah karena Dokan menabrak jatuh mereka berdua.
Pasukan lapis ketiga RWK yang melihat Dokan yang berlari ke arah mereka secara tidak sadar menghentikan langkah mereka.
Dokan yang melihat itu menyeringai tipis. Setelah saat merasa jaraknya sudah cukup dekat, ia pun melompat sambil memiringkan sedikit badannya ke samping.
*Hop*
Pasukan lapis ketiga RWK mematung ketika melihat tubuh besar Dokan yang terlihat akan menindih mereka. Dan benar saja didetik selanjutnya tubuh Dokan yang besar itupun jatuh menindih tubuh beberapa dari mereka.
*Doom*
"Guhahh!".
"Ghh!".
Gerakan Flying Body Press dari Dokan berhasil dieksekusi dengan baik, hal itu terbukti dengan adanya dua orang yang sedang ia tindih kini sedang kesulitan untuk bernafas akibat menerima berat tubuh Dokan yang secara tiba-tiba menghimpit tubuh mereka.
(Flying Body Press merupakan sebuah gerakan yang biasa digunakan oleh para pegulat WWE).
Dokan yang melihat itu tersenyum miring, ia kemudian mencoba untuk bangkit akan tetapi. . .
*Dugh* *Dugh* *Dugh*
Rentetan tendangan dari pasukan RWK yang berada di sekitarnya mencegahnya untuk bangkit, hal itupun membuatnya langsung meringkuk melindungi kepalanya.
Saat itu juga Dokan merasa menyesal karena sudah melakukan gerakan tadi, ia termakan egonya karena ingin memamerkan kemampuannya kepada para Kohai-nya.
"Dasar tidak berguna!" Izumo-Kotetsu beserta pengikut mereka langsung datang dan memberikan bantuan kepada Dokan dengan cara menghajar pasukan RWK yang sedang menginjak-injaknya.
Melihat kelakuan konyol dari Dokan membuat Naruto beserta pasukan yang ia pimpin mengeluarkan sweatdrop mereka.
"D- dia tadi mau ngapain sih?" Naruto menoleh ke arah Shikamaru.
Shikamaru yang mendengar itu hanya mengangkat kedua bahunya tidak tahu dan tidak mau tahu soal apa yang tadi coba dilakukan oleh Senpai mereka.
"Oh iya, bisakah kalian membantu mereka?" Sasuke meminta kepada pasukan KHS yang diam untuk segera memberikan bantuan kepada pasukan DIK (Dokan, Izumo dan Kotetsu) yang kini sedang kewalahan melawan pasukan lapis ketiga RWK.
"Serahkan pada kami!" mereka pun segera berlari menuju tempat kejadian perkara.
"Ah, anak buah Neji, tunggu!" panggil Shikamaru ketika melihat Shigure berlari melewatinya. Hal itupun sontak membuat langkah Shigure terhenti.
"Ada apa, Nara-san?".
"Duduklah disini, ada suatu hal yang ingin ku beritahu padamu".
Shigure yang mendengar itu hanya menuruti permintaan dari Shikamaru, ia pun kini duduk menghadap orang terkuat kedua di kelas 1C itu.
"Lee, Shimura, kalian juga duduklah disini!" ajak Shikamaru kepada Lee dan Sai yang berdiri di sebelahnya.
Lee dan Sai hanya menganggukkan kepala mereka dan kemudian ikut duduk di sebelah Shigure.
Bersamaan dengan itu, Midare yang tadi ditugaskan untuk mengamankan Baiu kini kembali bergabung dengan pasukan.
"Hahh hahh hahh, tugas beres!" Midare memegangi kedua lututnya sambil mencoba mengatur alur nafasnya yang berantakan.
"Ah kebetulan, Midare duduklah disini, ada hal yang ingin ku sampaikan kepadamu!" ujar Shikamaru.
"B- baiklah, Shika-san!" Midare juga ikut duduk berhadapan dengan Shikamaru.
"Baiklah langsung saja, aku mau kalau kalian berempat. . . ".
"Apa lagi yang si Putri tidur itu rencanakan?" Naruto mengangkat sebelah alisnya penasaran.
Kali ini giliran Sasuke yang mengangkat bahunya sebagai jawaban dari pertanyaan Naruto.
"Kau dan Shika sama saja! Kalian berdua tidak asyik, hmph!" Naruto bersedekap dada sambil membuang muka.
"Laki kok ngambekkan" gumam Sasuke pelan.
"Apa kau bilang, Teme?!".
Kembali ke tempat Shikamaru dan yang lainnya berada.
"Sampai sini, apa kalian sudah paham?" Shikamaru menatap Lee, Sai, Shigure dan Midare secara bergantian.
"Ya, tentu saja!" jawab mereka berempat secara bersamaan.
"Bagus, kalau begitu mohon bantuannya ya?".
.
.
.
.
.
Lima menit kemudian.
"Ini yang terakhir!".
*Dugh*
"Ghk!".
Sebuah sundulan keras dari Dokan mengakhiri perlawanan dari pasukan lapis ketiga RWK.
"Kerja yang bagus, Badak!" Izumo dan Kotetsu menghampiri Dokan yang kini sedang menormalkan nafasnya. Dokan yang melihat kedua rekannya mendekatinya hanya mendengus pelan.
Dokan kemudian mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, ia tersenyum tipis ketika melihat kalau tidak ada lagi pasukan RWK yang berdiri.
Namun beberapa detik kemudian Dokan mendecih kesal ketika melihat ada beberapa dari anggotanya yang ia bawa ternyata berhasil dikalahkan oleh pasukan RWK yang tadi mereka lawan.
Begitu juga dengan anggota yang dibawa oleh Izumo dan Kotetsu, beberapa dari mereka juga berhasil dijatuhkan. Sehingga membuat jumlah total orang yang tadi mereka bawa (15 orang) kini tersisa 10 orang saja, termasuk mereka bertiga (Dokan, Izumo dan Kotetsu).
Sama halnya dengan pasukan yang dipimpin oleh Naruto, setengah dari mereka telah berhasil dikalahkan, dan setengahnya yang masih bertahan kini berada dalam kondisi yang sangat buruk.
"Setelah ini kita akan menghajar mereka kan?" ujar Kotetsu menatap tajam para personel dari RWK 9 Street Beasts yang tersenyum meremehkan melihat mereka bertiga.
"Ya, setelah itu kita akan menghadapi duo Kamizuru sialan itu" respon Izumo yang menatap Kurobachi dan Jibachi yang sedang berdiri diam di sebelah Kimimaro.
"Kau benar, ayo kita kalahkan mereka berdua seperti biasa, Izumo!" Kotetsu menyeringai ketika menyadari kalau ia dan Izumo akan menghadapi rival mereka.
Izumo yang mendengar perkataan Kotetsu hanya menganggukkan kepalanya.
"Kheh, kalian berdua terlalu percaya diri, apa kalian tidak lihat kalau di sana ada Ryūsui-san dan Yudachi? Mereka berdua bukanlah lawan yang kalian bisa anggap remeh!" Dokan akhirnya membuka suara setelah tadi hanya diam mendengarkan kedua rekannya berbicara.
Sebuah fakta menarik, Dokan saat masih Freshmen merupakan anggota dari Fraksi yang dipimpin oleh Ryūsui.
Flashback On.
Hal itu bermula ketika ia yang pada saat itu sudah menguasai kelasnya dan ingin memperluas kekuasaannya dengan mengajak duel Ryūsui yang pada saat itu memiliki geng terlemah yang ada di angkatan Sophomore, yakni Fraksi Ame.
Kemudian jika Dokan berhasil mengalahkan Ryūsui maka hal itu akan membuat Fraksi Ame secara otomatis berada didalam kendalinya.
Setelah itu semua terjadi maka ia akan menggunakan kekuatannya itu untuk menguasai angkatannya dengan membalaskan dendamnya kepada Itachi yang saat itu menjadi Raja kelas 1 setelah orang itu menghajarnya sampai babak belur di Freshmen War sebulan yang lalu.
Namun semua rencana yang sudah ia susun sedemikian rupa harus gagal karena ternyata Ryūsui berhasil mengalahkannya dengan hasil yang cukup meyakinkan.
Beberapa hari setelah perkelahian itu, Ryūsui tanpa pikir panjang langsung merekrut Dokan untuk masuk ke dalam Fraksinya. Dokan yang mendapat tawaran yang baik itupun segan untuk menolak, dan alhasil ia bersama teman sekelasnya pun akhirnya bergabung dengan Fraksi Ame.
Dan disaat itulah ia berkenalan dengan Yudachi, murid yang sekelas dengan Shisui, orang yang menghajar Yudachi sampai sekarat saat Freshmen War dulu.
Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka semakin dekat sehingga bisa dibilang kalau mereka adalah teman baik.
Tibalah saatnya ketika Ryūsui membutuhkan sosok Wakil dari Fraksinya, hal itupun membuat Dokan dan Yudachi mulai berkelahi demi menunjukkan siapa lebih kuat diantara mereka berdua, dan siapapun yang keluar sebagai pemenangnya akan menjadi Wakil Ketua dari Fraksi Ame.
Ryūsui yang melihat persaingan itu menyetujuinya, namun dengan syarat siapapun yang kalah tidak perlu berkecil hati dan yang menang tidak boleh membuang persahabatan mereka.
Dari perkelahian sengit mereka, Yudachi memenangkan dua dari tiga perkelahian mereka, sehingga membuat Yudachi secara resmi menjadi Wakil Ketua dari Fraksi Ryūsui.
Dan sampailah dimana Yahiko bersama Fraksi Akatsuki mulai bergerak, keseimbangan Fraksi Ame mulai hancur.
Saat itu, setiap harinya Fraksi Ame selalu dihajar tanpa ampun oleh Fraksi Akatsuki, sehingga membuat banyak dari anggota Fraksi Ame memilih keluar dan bergabung dengan Fraksi besar yang ada di Sophomore saat itu, yakni Fraksi Akatsuki dan juga Fraksi Uchiha Empire.
Hal itupun membuat Fraksi Ame menyisakan hanya 3 orang saja, yakni Ryūsui, Yudachi dan Dokan.
Namun itu tidak lama karena beberapa saat kemudian Itachi datang kepada Dokan dan menawarkannya untuk masuk ke dalam Fraksinya, demi berlindung dari serangan Fraski besar yang kian hari semakin agresif.
Dokan menyetujui hal itu didalam hati, namun ia tidak langsung menerimanya karena ia mau memberitahukannya dulu kepada Ryūsui dan Yudachi.
Dan ternyata mereka berdua menolak penawaran Dokan dengan kasar sekaligus mencap Dokan sebagai seorang pengkhianat.
Perlakuan mereka berdua membuat Dokan merasa sakit hati dan merasa terkhianati, disaat itu juga ia pun memutuskan untuk keluar dari Fraksi Ame untuk bergabung dengan Fraksi Uchiha Empire seorang diri tanpa mereka berdua.
Flashback Off.
"Kita menang jumlah, apa kau pikir kita akan menghadapi mereka satu persatu? Jangan bercanda!" ujar Kotetsu membalas perkataan Dokan.
"Kotetsu benar, kita menang jumlah dan kita akan menggunakannya untuk melawan orang-orang itu, belum lagi masih ada sisa dari pasukan yang dipimpin oleh Namikaze disini, jadi tidak alasan bagi kita untuk tidak menggunakan tenaga mereka" Izumo membenarkan perkataan rekannya.
"Tch!" perkataan Izumo dan Kotetsu berhasil membuat Dokan terdiam.
"Senpai dan teman-teman yang lain!" suara Shikamaru berhasil menarik perhatian DIK dan orang-orang yang berada di dekat mereka bertiga.
Shikamaru kemudian berjalan mendekati mereka, mereka yang melihat otomatis mendekat dan saling merepatkan posisi mereka karena sepertinya Shikamaru akan memberitahu mereka sesuatu.
"Ada sesuatu yang ingin ku sampaikan kepada kalian" ujar Shikamaru.
Mereka yang dimaksud pun diam mendengarkan.
"Baiklah langsung saja, aku mau kalian melakukan ini. . . ".
Beberapa saat kemudian, keheningan yang tadi sempat terjadi kini berubah menjadi sorak sorai setelah melihat seseorang berjalan mendekati mereka.
Hal itu otomatis membuat Shikamaru menoleh ke arah yang dimaksud untuk melihat siapa orang yang membuat pasukan KHS terlihat senang seperti ini.
Hal yang sama dilakukan oleh Naruto, Sasuke, Sai, Lee, Shigure dan Midare yang berada di belakang Shikamaru.
"Yo, Sepertinya peperangan ini seru sekali, apa aku boleh ikut?" tanya orang tersebut.
"K- kau?!" ujar Shikamaru, Naruto, Sasuke dan yang lainnya.
Seketika mereka tersenyum menyeringai ketika melihat orang tersebut.
'Inilah yang disebut dengan kemenangan absolut!' Shikamaru tidak bisa menahan perasaan senangnya ketika orang itu akhirnya datang untuk membantu mereka.
Shikamaru menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja kau boleh bergabung dengan kami-"
"Shisui-nii!".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"I'm the King!"
Disclaimer: [Naruto] Masashi Kishimoto
Created by: Holocaust
Genre: Action, comedy, school, martial arts, slice of life, etc.
Pairing: No pair for today my friend!.
Warning: Typo berantakan , Alternative Universe, OOC, NoMagic, NoChakra, Just a regular human! and many more.
Summary: Naruto telah menjadi Raja Freshmen, Masalah barupun muncul ketika para Senior di kota Konoha sedang mengalami kekosongan, tiba-tiba para Freshmen dari Sekolah tetangga melakukan serangannya kepada murid KHS sehingga hal tersebut berhasil memicu terjadinya perang besar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sebelumnya, ditempat Chōji vs Jirobo.
"HNGGG!".
Chōji dan Jirobo saat ini sedang beradu kekuatan dengan melakukan Grappling Hold. Mereka melakukan itu demi mencari celah untuk saling menjatuhkan ataupun melakukan sebuah bantingan.
'Sekarang!' Jirobo melihat adanya celah langsung mencoba meraih satu kaki Chōji untuk melakukan Ankle Pick Takedown.
*Sweep*
'A- apa?!'.
Dengan timing yang sempurna, Chōji menarik kakinya ke belakang sehingga membuat Jirobo kehilangan keseimbangannya dan membuatnya hampir jatuh tersungkur ke depan.
*Hap*
Chōji pun dengan sigap menangkap tubuh Jirobo, kemudian Chōji mengangkat tubuh Jirobo sedikit ke atas demi menciptakan momentum bantingan yang kuat.
"HAAAA!".
Dan kemudian Chōji membanting Jirobo menggunakan gerakan Gutwrench Suplex, sebuah gerakan bantingan yang berhasil membuat punggung Jirobo menghantam tanah dengan sangat keras.
*Doom*
"Gahk!".
Melihat itu membuat Chōji kembali mendekati Jirobo dan mencoba untuk menguncinya, akan tetapi Jirobo sudah lebih dulu menarik kaki Chōji sehingga membuat Chōji juga ikut terjatuh.
Berhasil dibuat terjatuh membuat Chōji dengan cepat menarik kakinya dan berguling menjauh dari Jirobo.
"Hahh hahh, kau kuat juga!" Jirobo bangkit dari posisi berbaringnya, hal yang sama dilakukan oleh Chōji.
"Begitu juga denganmu" balas Chōji.
"Gerakan bantinganmu tadi lumayan, tapi sayangnya itu cuma keajaiban saja karena tadi aku lengah sehingga kau berhasil membantingku, akan ku pastikan kalau kau tidak akan bisa melakukan itu lagi!" Jirobo menatap Chōji rendah.
"Huh? HAHAHAHA" Chōji tertawa keras mendengar perkataan Jirobo.
"Kenapa kau tertawa?! Apa kau menertawaiku?!" Jirobo memelototi Chōji.
"Hahahaha, Huff. M- maaf, aku tertawa karena kau mengingatkanku kepada seseorang yang- hahaha, aduh maaf maaf!" Chōji memegangi perutnya mencoba mengendalikan tawanya.
Hal itu benar-benar lucu bagi Chōji, ia seketika mengingat lawannya dulu yang memiliki berat hampir 120kg bisa ia banting dengan cukup mudah, sehingga membuat orang itu langsung mengeluarkan alasan konyol demi menutupi rasa tidak percayanya dan juga demi menutupi rasa malunya, persis seperti yang dilakukan oleh Jirobo ini.
"Kau!" Jirobo maju menerjang Chōji yang masih mencoba untuk meredam tawanya.
Tanpa membuang waktu Jirobo langsung menabrak tubuh Chōji dan kemudian dengan cepat menjatuhkannya ke tanah.
*Doom*
Melihat upayanya berhasil membuat Jirobo berganti posisi dan kini sedang menindih tubuh Chōji guna menahan Chōji supaya tidak bisa bangun dari posisinya.
Ia kemudian melancarkan rentetan pukulan ke wajah Chōji yang berada di bawahnya, sebagian besar pukulannya masuk ke wajah Chōji.
"RASAKAN INI BANGSAT!" ujar Jirobo sambil melepaskan pukulan demi pukulan ke wajah Chōji.
"Cuma segitu?" tiba-tiba Chōji melepaskan diri dan langsung mengambil alih posisi atas sehingga membuat Jirobo kini bergantian berada di posisi bawah.
"A- APA?! Bagaimana bis- ahk!" perkataan Jirobo terhenti ketika mulutnya dihadiahi oleh sebuah bogem mentah dari Chōji. Hal itupun membuat Jirobo secara refleks mengangkat kedua tangannya demi melindungi wajahnya dari pukulan Chōji.
Chōji yang melihat itu langsung menarik tangan kiri Jirobo dan kemudian menahan tangan tersebut di sisi tubuh Jirobo yang bersentuhan dengan tanah sehingga membuat tangan kirinya tersebut menjadi tidak berfungsi akibat mobilitasnya dibatasi oleh tangan Chōji yang memeganginya.
(Lebih spesifiknya silahkan lihat gerakan The Dagestani Handcuff dari Khabib Nurmagomedov).
Chōji kemudian menghajar Jirobo menggunakan tangan kanannya yang terbebas, Jirobo yang berada dalam posisi aneh seperti itu tentu berusaha melindungi wajahnya menggunakan tangan lainnya yang bebas, yakni tangan kanannya.
Akan tetapi pukulan Chōji tetap berhasil menerobos masuk menghantam wajah Jirobo sehingga membuat Jirobo frustrasi karena tidak bisa berbuat apa-apa.
"Sekarang ayo bicara, apa kau ikut memukuli Lee?" tanya Chōji ditengah kegiatan menghajarnya.
*Bugh* *Bugh*
"Ugh, maksudmu murid si Green Beast itu? Uhk, Kalau iya memangnya ada yang salah dengan itu- uhk!" jawab Jirobo disela-sela pembantaian yang Chōji lakukan kepadanya.
Tidak mau kalah ia mencoba mengayunkan tangan kanannya untuk menghajar Chōji.
*Bugh* *Bugh*
Beberapa pukulan dari Jirobo berhasil mengenai Chōji, walaupun kekuatan pukulannya itu sangat jauh berkurang.
"Tch, jawablah dengan benar!".
*Bugh*
"Guhh!".
Merasa kesal, Chōji pun melepaskan sebuah pukulan kuat ke hidung Jirobo sehingga hal itu berhasil membuat sedikit darah mengalir keluar dari tempat tersebut.
'Gila, Orang ini benar-benar kuat! Bagaimana caranya dia bisa menahan tubuhku, menahan satu tanganku dan memukulku diwaktu yang bersamaan?! Walaupun pukulannya lemah di posisi seperti ini akan tetapi aku akan kalah jika tidak segera melepaskan diriku dari posisi aneh ini!' batin Jirobo yang mulai frustrasi.
*Bugh* *Bugh*
"Sekali lagi, apa kau ikut memukuli Lee?!" tanya Chōji lagi sambil menyarangkan beberapa pukulan ke wajah Jirobo.
"Ghk. Tidak, saat aku sampai ditempat itu Ketuaku sudah lebih dulu menghabisinya!" jawab Jirobo jujur. Baginya tidak ada gunanya berbohong karena hal itu tidak ada gunanya jika ia terus dihajar seperti ini.
"Apa itu benar?" tanya Chōji lagi sambil terus melepaskan pukulan-pukulan ke wajah Jirobo.
"Tch, kalau kau tidak percaya tanya saja kepada temanmu itu!" Jirobo berhasil menahan beberapa pukulan dari Chōji akan tetapi pukulan yang lain masih bisa mengenainya.
Merasa jengkel, Jirobo kembali memberikan balasan ke wajah Chōji dengan melepaskan beberapa pukulan ke wajah lawannya tersebut, akan tetapi Chōji sudah lebih dulu menyembunyikan wajahnya di belakang kepala Jirobo sehingga membuat upaya Jirobo itu menjadi sia-sia.
'Sial, apa aku sudah kalah?!' batin Jirobo yang semakin kalut karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk membalikkan keadaan. Ia merasa seperti sedang melawan beruang yang memegang penuh kendali tubuhnya.
*Bugh* *Twitch*
"Hrrk?!".
Tiba-tiba Chōji melepas kekangannya dan kini merubah posisinya dengan mengalungkan kedua tangannya ke leher Jirobo yang terbebas.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menguncimu sampai pingsan, dengan begitu kau tidak akan terluka lebih jauh lagi!" Choji menguatkan Rear Naked Choke-nya.
Wajah Jirobo mulai pucat ketika merasakan kalau cekikan dilehernya semakin kuat. Seketika sebuah ingatan muncul di kepalanya. Sebuah ingatan yang menunjukkan sosok Kidomaru yang mengajarinya sesuatu saat mereka masih SMP.
"Ini adalah kuncian yang menjengkelkan karena kuncian ini sangat mematikan jika berhasil menjerat lehermu!" Kidomaru memperagakan gerakan RnC kepada Jirobo (Rear Naked Choke).
"Tapi karena ini bukanlah pertandingan resmi jadi gunakan apa saja untuk melepaskan dirimu dari kuncian ini, dan cara yang paling ampuh adalah. . .
"Menusuk matanya!".
*Stab*
"AAHK!" Chōji memegangi kedua matanya yang ditusuk oleh Jirobo, hal itu secara langsung membuat kunciannya kepada Jirobo terlepas.
"Hahh hahh hahh- uhuk uhuk" Jirobo menarik udara dengan rakus, ia kemudian tersenyum miring ketika melihat triknya berhasil.
"Aku berhutang padamu, Kido!" gumam Jirobo.
Ia kemudian berdiri dari posisinya dan kini menatap benci Chōji yang sedang berguling kesakitan di bawahnya. Melihat itu membuat Jirobo mengeluarkan senyum sadisnya.
"Sekarang giliranku menyiksamu! Matilah!" dengan begitu, Jirobo langsung menendang serta menginjak-injak Chōji yang masih kesakitan tanpa ampun.
Selang beberapa detik Jirobo menginjak-injak Chōji, Chōji akhirnya berhasil meredakan rasa sakit di matanya, ia pun dengan cepat melindungi sisi kepalanya sekaligus berupaya untuk mencari celah agar bisa melakukan counter demi melepaskan diri dari posisi yang tidak menguntungkan ini.
Jirobo kemudian menarik kaki kanannya ke belakang, berniat menyarangkan sebuah tendangan keras ke perut Chōji.
Chōji yang melihat itu langsung menggeser posisi tubuhnya yang tadinya menyamping kini menjadi lurus sehingga membuatnya berhadapan langsung dengan Jirobo.
"Rasakan ini!" Jirobo mengayun kuat kakinya. Ia yang tadinya ingin menendang perut Chōji kini berubah target ingin menendang kepala Chōji.
"Orang curang tidak akan pernah menang!".
*Dugh*
"Ahk?!".
Chōji menendang salah satu tulang kering Jirobo menggunakan bawah sol sepatu pantofelnya sehingga membuat Jirobo menghentikan tindakannya dan segera menarik kakinya yang terasa sangat sakit itu.
Kemudian Chōji memberikan tendangan sapuan kepada satu kaki tumpuan dari Jirobo sehingga membuatnya terjatuh.
"Hahh hahh hahh, aku akan mengalahkanmu! Persetan dengan kuncian, aku akan menghajarmu sampai pingsan!" Chōji menatap Jirobo marah.
"Kheh, kau pikir kau bisa melakukannya?! Ini baru permulaannya saja, kau tidak tahu seberapa kuat aku! Aku bisa memakanmu hidup-hidup, bocah!" balas Jirobo tidak mau kalah.
Mereka kedua kembali berdiri dan kemudian mereka secara bersamaan melepaskan pukulan kuat ke wajah mereka masing-masing.
"HAA!/ ORYAAA!"
*Bugh* *Bugh*
.
.
.
.
.
Bersamaan dengan itu, ditempat Neji vs Kidomaru.
*Dugh*
"Guh!".
Tendangan Kidomaru berhasil mengenai sisi perut Neji sehingga membuat Neji sedikit terdorong ke samping.
Kidomaru kembali mendekati Neji dan kemudian mengayunkan sebuah pukulan tangan kanan yang mengincar rahang Neji.
*Syut*
Neji berhasil menghindarinya dengan menundukkan sedikit tubuhnya. Kidomaru mendecih kesal namun didetik selanjutnya ia menyambungnya dengan Head Kick menggunakan kaki kirinya yang mengincar sisi kepala kanan dari Neji.
*Tap*
Neji berhasil menangkisnya dengan menggunakan tangan kanannya. Ia kemudian dengan cepat melakukan pukulan counter ke arah perut Kidomaru yang terbuka lebar.
*Bugh*
"Ugh!".
Pukulan tersebut berhasil membuat Kidomaru sedikit terhentak ke belakang dan dengan posisi kaki kiri yang masih belum menyentuh tanah.
Neji yang melihat itu dengan cepat memangkas jarak dan segera meraih kaki Kidomaru tersebut, kemudian ia dengan cepat memanfaatkan kaki itu untuk menciptakan sebuah bantingan.
*Doom*
"Ghk!".
Neji berhasil menjatuhkan Kidomaru menggunakan gerakan Kibisu Gaeshi, yakni sebuah gerakan bantingan yang berasal dari beladiri Judo.
Tidak mau kehilangan momentum, Neji langsung menduduki perut Kidomaru guna membatasi pergerakannya sekaligus membuat pernafasan Kidomaru menjadi kacau.
Kemudian Neji melesatkan rentetan pukulan ke wajah Kidomaru tanpa rasa bersalah sedikitpun.
*Bugh* *Bugh* *Bugh*
Tidak mau terkena pukulan lebih banyak, Kidomaru langsung melindungi wajahnya menggunakan kedua tangannya.
'Sial, lagi-lagi dia bisa menekanku seperti ini! Apa cuma segini saja levelku?' batin Kidomaru frustrasi.
"Ayo melawan dasar pecundang!" ujar Neji disela-sela aktivitas memukulnya.
*Bugh* *Bugh* *Bugh*
"Ghk!".
Pukulan Neji terus menghujani wajah Kidomaru sehingga membuat pertahanan Kidomaru goyah dan meninggalkan memar di beberapa bagian wajahnya.
'Sial, mataku mulai mengabur!' perasaan kalut mulai memenuhi Kidomaru, ia benar-benar frustrasi karena sepertinya ia sebentar lagi akan pingsan.
Dalam kondisinya yang seperti itu, Kidomaru mengingat sesuatu yang diajarkan Jirobo kepadanya saat SMP dulu.
"Sekarang giliranku Kido, jika kau berada dalam posisi seperti ini salah satu jalan keluar yang paling ampuh adalah menarik kepala orang yang memukulmu untuk mendekat ke sisi kepalamu" jeda Jirobo.
"Kenapa? Karena dengan begini kau bisa mencegah orang itu untuk melepaskan pukulannya" sambung Jirobo.
Kidomaru langsung meraih belakang kepala Neji dan langsung menariknya mendekat ke sisi wajahnya. Hal itupun sukses membuat pukulan Neji terhenti sejenak.
"Kau masih punya akal rupanya!" Neji menarik dirinya menjauh dari posisi clinch tersebut.
'Sial apalagi yang harus ku lakukan?!' batin Kidomaru yang masih berusaha untuk menahan Neji yang semakin menjauh dari posisi clinch-nya tersebut.
"Setelah itu tarik kepalanya dan bantinglah wajahnya ke tanah dengan gerakan cepat!Persetan dengan kata curang, ini Street Fight, bukan pertandingan resmi!" ujar Jirobo.
"Tapi kau harus ingat jika orang yang kau lawan tidak lengah dan masih memiliki tenaga yang lebih kuat darimu maka tingkat keberhasilan teknik ini akan menjadi sangat kecil!" sambung Jirobo.
Mata Kidomaru seketika membulat ketika ia mendapatkan sambungan dari ingatannya yang sebelumnya.
'Akan kulakukan itu walaupun keberhasilannya hanya 1 persen!' batin Kidomaru kembali.
"ORYAAA!".
*Syut*
"Huh?!".
*Dugh*
Gerakan Kidomaru berhasil membuat Neji mencium tanah dengan keras, hal itu juga membuat Kidomaru akhirnya terlepas dari kekangan dari orang yang paling ia benci itu.
Kidomaru kemudian menyempatkan untuk menyelipkan sebuah tendangan lurus dengan tenaga yang lumayan ke kepala Neji yang baru ia banting tersebut.
Setelah itu Kidomaru dengan cepat berguling menjauh dari Neji demi menormalkan kembali alur pernafasannya sekaligus mencoba untuk mengembalikan kesadarannya yang hampir hilang.
"Hahh hahh hahh".
"Hanya itu yang kau bisa? Teknik kotormu itu tidak akan pernah bisa mengalahkanku!" Neji menatap murka Kidomaru yang berada tidak jauh dari dirinya.
"Kheh, terus pertarungan yang sebelumnya bagaimana? Siapa yang menang? Siapa, huh?!" Kidomaru membalas perkataan Neji sengit.
"Berhentilah merengek karena Ini adalah pertarungan jalanan, bukan turnamen beladiri bodoh yang sering kau ikuti itu! Kita tidak butuh aturan disini!" tambah Kidomaru kembali.
"Hahahaha, orang lemah akan selalu mencari alasan untuk membenarkan tindakannya. Akui saja kalau kau hanyalah seorang pecundang!" Neji tertawa merendahkan, ia kembali berdiri sambil terus menatap tajam Kidomaru.
Melihat itu membuat Kidomaru juga ikut berdiri sambil terus menatap benci Neji.
"Tch, bilang saja kalau kau takut dengan tindakanku barusan? Asal kau tahu, itu semua baru permulaannya saja!" Kidomaru menjeda perkataannya.
"Karena kali ini aku tidak akan menahan diriku lagi untuk menghabisimu!" sambung Kidomaru.
"Baiklah kalau begitu, keluarkan lah semua trik kotormu! Lagipula trikmu itu tidak akan merubah hasil yang sudah tertulis tentang pertarungan ini yang mengatakan kalau akulah yang akan menang!" ujar Neji yang kembali memasang stance Karate-nya.
"Baiklah, kau yang minta!" ujar Kidomaru yang merangsek menuju tempat Neji yang sudah siap untuk menyambutnya.
"ORRAAAA!".
.
.
.
.
.
Ditempat Kiba vs Sakon.
Kondisi mereka berdua sama-sama berada dalam keadaan yang buruk, wajah Kiba yang sudah babak belur sejak tadi kini semakin menjadi.
Sama halnya dengan Sakon, ia yang dalam keadaan bersih ketika ikut berperang harus mendapatkan luka yang lumayan banyak akibat dikeroyok oleh pasukan KHS. Ditambah lagi pertarungannya melawan Kiba semakin menambah luka-lukanya sekaligus memperparahnya.
Kini mereka berdua sedang menatap satu sama lain setelah tadi mereka beradu serangan selama beberapa menit tanpa henti.
"Hahh hahh, bahkan dengan kondisiku seperti ini pun kau tidak bisa mengalahkanku, menyedihkan!" Kiba menatap remeh Sakon menggunakan mata kirinya, sedangkan mata kanannya sudah hampir tertutup akibat benjol yang menutupinya.
"Hahh hahh, kau bicara apa? Aku baru memulainya, yang tadi itu cuma serangan pemanasan!" Sakon menyeka darah di sudut bibir.
Kiba yang mendengar itu tertawa pelan.
"Berdarah-darah kau bilang pemanasan? Sepertinya aku terlalu keras memukul kepalamu sehingga membuatmu mengatakan hal yang idiot seperti itu" Kiba mulai meregangkan otot-otot tubuhnya yang sempat kaku.
"Aku serius, pertarungan yang sebenarnya baru akan dimulai!" Sakon juga mulai melakukan apa yang Kiba lakukan.
"Baiklah, ayo mulai ronde kedua!" Kiba kembali maju menerjang ke arah Sakon yang masih berdiri diam.
Kiba kemudian melesatkan pukulan kanan lurus ke arah rahang Sakon. Sakon yang melihat itu berupaya untuk menahan gerakan tersebut.
Sebelum pukulan lurusnya berhasil ditangkis oleh Sakon, Kiba tiba-tiba memutar badannya dan melepaskan sebuah Spinning Back Fist menggunakan tangan kirinya menuju ke telinga Sakon.
*Syut*
Sakon ternyata membaca tipuan itu, ia berhasil menundukkan kepalanya sehingga membuat pukulan Kiba meleset. Sakon kemudian melepaskan counter berupa sebuah pukulan ke ulu hati Kiba yang terbebas tanpa pertahanan.
*Bugh*
"Uhk!".
Kemudian Sakon menyambungnya dengan melancarkan serangan lutut ke wajah Kiba.
*Syut*
Kali ini giliran Kiba yang berhasil menghindarinya, ia berhasil menarik kepalanya ke samping sehingga membuat serangan tersebut hanya mengenai udara kosong.
Didetik yang sama Kiba juga melepaskan sebuah pukulan kanan ke arah rusuk Sakon yang terbebas.
*Tap*
"Kau pikir aku tidak tahu kalau kau mau menyerangku disitu?" Sakon berhasil menangkap tangan kanan Kiba.
Ia kemudian menarik Kiba mendekat dan berniat melakukan bantingan Soei Nage. Akan tetapi Kiba berhasil mempertahankan tubuhnya dan sekaligus melancarkan sebuah sundulan ke dagu Sakon.
*Dugh*
"Ugh!".
Pegangan Sakon di tangan Kiba pun terlepas, merasa memiliki peluang, Kiba memutuskan untuk menyerang Sakon menggunakan combo cepatnya.
Ia melepaskan Hook kanan ke rusuk kiri Sakon.
Disambung dengan Uppercut ke ulu hati Sakon menggunakan tangan yang sama.
Kemudian ia melepaskan pukulan kiri lurus yang menghantam rahang Sakon dengan sangat telak sehingga membuat Sakon terhentak ke belakang.
Lalu Kiba dengan cepat melepaskan sebuah Roundhouse Kick menggunakan kaki kanannya yang berhasil mendarat di leher Sakon sehingga membuat Sakon semakin kehilangan keseimbangannya.
Yang terakhir, sebagai gerakan penutup, Kiba dengan cepat memutar badannya dan melesatkan Spinning Back Kick menggunakan kaki kirinya yang sukses menghantam dada Sakon dengan sangat keras.
"Guhk!".
Sakon pun dibuat terhempas jauh ke belakang akibat menerima rentetan serangan cepat dari Kiba, sehingga membuatnya kini jatuh terkapar menghadap langit senja yang mulai menggelap.
"Hahh hahh hahh, aku menang! Hahh hahh" Kiba tertunduk memegangi kedua lututnya kelelahan.
Beberapa detik kemudian, Ia lalu menegapkan tubuhnya dan berjalan tertatih-tatih menuju ke pinggir lapangan untuk beristirahat sekaligus menyudahi kontribusinya terhadap peperangan melawan RWK yang saat ini masih berlangsung.
Tanpa ia sadari, sosok Sakon yang tadi terbaring lemas kini mulai berdiri.
"Heh, hahahahahaha! Kau pikir ini sudah berakhir, Inu?!".
*Deg*
Perkataan Sakon membuat Kiba melebarkan kedua matanya, ia pun secara refleks menoleh ke belakang dan mendapati sosok Sakon yang ternyata sudah kembali berdiri. Walaupun postur Sakon yang sekarang tidak se tegak yang tadi.
"Seperti yang kubilang, itu tadi hanya pemanasan!" Sakon tersenyum lebar dengan wajah yang dipenuhi oleh memar, luka lecet dan bekas darah yang mengalir turun ke dagunya.
Hal itu secara langsung membuat senyum Sakon benar-benar terlihat sangat mengerikan.
'Apa-apaan dia ini?! Apa dia masih manusia?!' Kiba benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat, bagaimana bisa orang ini masih bisa berdiri setelah menerima serangan mengerikannya?.
Secara tidak sadar Kiba mulai meneguk ludahnya kasar, juga keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya.
Tapi itu tidak berlangsung lama karena Kiba dengan cepat menggelengkan kepalanya, mencoba membuang perasaan takut yang sempat menggerogotinya.
"Sekarang ayo kita mulai pertarungan yang sebenarnya, Inu!" Sakon berjalan dengan langkah yang terseok-seok menuju Kiba yang masih diam ditempatnya.
'Sial, tenagaku benar-benar terkuras habis oleh seranganku yang tadi, kalau begini tidak ada pilihan selain aku harus lebih bertahan dan mengandalkan counterku' batin Kiba.
Kiba kemudian kembali menghadap Sakon, ia sudah menetapkan kalau kali ini ia akan bertarung lebih defensif dan akan memfokuskan sisa tenaganya untuk melakukan counter yang kuat untuk mengalahkan Sakon.
Walaupun Sakon masih bisa berjalan, namun Kiba tahu kalau Sakon juga sudah mencapai batasnya, ia yakin dengan berapa pukulan saja pasti Sakon akan pingsan.
Jadi keputusan Kiba yang memilih untuk lebih bertahan dan sesekali melakukan counter adalah pilihan yang sangat tepat.
"Siap atau tidak, aku datang!" Sakon mempercepat langkahnya menuju tempat Kiba.
"Bring it on!" Kiba semakin menguatkan pijakan kakinya demi menyambut serangan yang akan Sakon lepaskan padanya.
"ORRYAAAA!".
.
.
.
.
.
Tidak jauh dari tempat Kiba vs Sakon, ada pertarungan yang juga sama sengitnya antara Shino vs Ukon yang sedang berlangsung.
Ukon melesatkan Head Kick menggunakan kaki kanannya yang mengincar sisi kepala kiri dari Shino.
*Syut*
Namun Shino berhasil menghindarinya dengan mudah, ia kemudian melepaskan pukulan Ura Zuki menggunakan tangan kanannya ke perut Ukon.
*Bugh*
"Ugh!".
Ukon berhasil menahannya menggunakan kedua punggung tangannya, namun hal itu membuat merasakan kesemutan akibat kuatnya dampak dari pukulan Shino yang menghantam tangannya.
Shino lalu menyambung gerakannya dengan melepaskan Kagi Zuki (Pukulan Hook) menggunakan tangan kirinya ke sisi perut kanan (liver) dari Ukon yang terlihat memiliki celah.
'Kena kau!' batin Shino.
*Tap*
"?!".
Diluar dugaan, Ukon berhasil menahan pukulan mematikan Shino yang mengincar livernya. Dengan cara ia menekukkan tubuhnya ke bawah sembari mengangkat lutut kanannya untuk memblok pukulan Shino tersebut.
Kemudian Ukon meluruskan kakinya tersebut ke depan (menendang) mengenai tepat di dada Shino sehingga membuatnya yang masih terkejut harus terdorong ke belakang.
*Dugh*
"Guhh!".
Ukon yang melihat adanya kesempatan tentu tanpa pikir panjang langsung mengambilnya.
Ia kembali memangkas jaraknya dengan Shino dan kemudian ia melompat sambil mengarahkan lutut kanannya ke dagu Shino.
*Dugh*
"Ghk!".
Serangan Ukon berhasil mengenai rahang Shino sehingga membuat Shino terpaksa mendongak ke atas sekaligus membuatnya mulai kehilangan keseimbangannya.
Sesaat setelah Ukon mendaratkan kedua kakinya ia kemudian melanjutkan serangannya dengan melepaskan pukulan Hook kanan yang lagi-lagi berhasil mengenai rahang Shino sehingga membuat keseimbangan Shino semakin buruk.
Hal itu membuat Ukon mengeluarkan senyuman sadisnya.
"MATI KAU SERANGGA PENGANGGU!".
Seperti orang kehilangan kendali, Ukon melepaskan variasi pukulan yang mengenai ulu hati, rusuk kiri, pipi kanan dan belakang telinga kiri Shino sehingga membuat keseimbangan Shino semakin goyah namun dirinya tidak menampakkan tanda-tanda kalau ia akan jatuh.
Melihat lawannya tidak jatuh membuat Ukon semakin melebarkan senyum sadisnya. Membuatnya kini berniat untuk melepaskan pukulan terakhirnya yang berupa Hook kanan yang akan ia arahkan ke rahang Shino dengan sekuat tenaganya.
"AKU MENANG!".
*Syut* *Bugh*
"Guhah?!".
Ukon terhempas jauh ke belakang. Hal itu membuat Ukon terheran-heran dengan apa yang barusan menimpanya.
Ia pun berpikir, kenapa dia bisa terlempar ke belakang? Bukannya tadi dia yang melepaskan pukulan pamungkasnya?.
'A- apa yang sebenarnya terjadi?!' batin Ukon menatap sosok Shino yang masih berdiri di depannya.
Sedetik kemudian, muncul rasa sakit dirahang kirinya, hal itu pun sontak membuatnya memegangi rahangnya tersebut.
"Hahh hahh hahh, berdiri lah, aku belum mati!" ujar Shino.
"Ugh!" Shino tiba-tiba jatuh terduduk memegangi area perutnya yang sakit akibat dihajar oleh Ukon tadi.
Shino kemudian mengingat kejadian tadi, ketika Ukon mengayunkan pukulan penutupnya kepadanya.
Sebelum pukulan Ukon mengenainya, Shino ternyata sudah lebih dulu melepaskan sebuah pukulan lurus yang mengenai rahang Ukon sehingga membuat pukulan penutup Ukon meleset dan sekaligus membuat Ukon terhempas ke belakang akibat terkena pukulan kuat dari Shino tersebut.
Selagi Shino sedang sibuk dengan pikirannya, Ukon sudah kembali berdiri dari duduknya.
"Hahh hahh, ternyata kau tadi cuma menggertak saja!" Ukon memegangi kedua lututnya lelah.
Melihat hal itu membuat Shino ikut berdiri sambil mengikuti apa yang Ukon lakukan saat ini, yakni memegangi kedua lututnya.
"Ugh, bukan gertakan namanya kalau aku berhasil membuat wajahmu hancur seperti itu" Shino tersenyum mengejek setelah melihat kondisi wajah Ukon yang benar berantakan akibat ulahnya yang sebelumnya.
"Tch, kau pikir kondisi wajahmu lebih baik dariku? Malahan wajahmu jauh lebih hancur dariku, dasar bodoh!" Ukon menunjuk-nunjuk Shino dengan ekspresi kesal.
"Makanya lepas kacamata hitam bodohmu itu supaya kau bisa melihat dengan jelas, dasar payah!" sambung Ukon.
"Kau bodoh atau bagaimana? Walaupun aku melepas kacamataku ini, aku tetap tidak akan bisa melihat wajahku sendiri, aku memerlukan cermin supaya aku bisa melihat wajahku sendiri, dasar idiot!" Shino yang biasanya kalem kini mulai menunjukkan ekspresi kesalnya.
"Pfft, Kau bisa bicara panjang rupanya! Hahaha, apakah kau melakukan itu untuk menghibur dirimu agar kau tidak terlalu sedih jika kalah nanti?" Ukon menatap Shino dengan tatapan mengejek.
"Omonganmu semakin ngelantur, daripada kau bicara sembarangan, lebih baik kita akhiri ini!" ujar Shino kembali kalem, tidak termakan dengan provokasi yang dilakukan Ukon kepadanya.
Shino lalu menegapkan tubuhnya, bersiap untuk kembali berkelahi.
"Baiklah kalau itu maumu!" Ukon merangsek maju menuju tempat Shino.
"MATI KAU BANGSAT!".
*Bugh*
.
.
.
.
.
Hutan Senju - War Area (RWK Side), Sunday at 5:10 pm.
'S- Shisui?! Shisui muncul disaat yang seperti ini?!' batin para Petinggi RWK (Kurobachi, Jibachi, Ryūsui dan Yudachi) yang menatap tidak percaya kalau orang itu akan muncul disaat-saat akhir.
Kimimaro mengeraskan rahangnya, jika orang itu ikut berperang maka kemenangan akan semakin jauh dari tangannya.
Sebelum peperangan terjadi, Kimimaro sebenarnya sudah mengatur rencana sedemikian rupa untuk mengantisipasi jika seluruh Sophomore dan Freshmen KHS turun perang.
Ia sudah mengatur segala siasat dan taktik perang kepada anak buahnya, mulai dari meletakkan tiap-tiap anak buahnya ditempat yang paling cocok untuk mereka, sampai memberikan mereka Formasi baru yang sebulan ini ia kembangkan, yakni Formasi Lingkaran Semut 2.
Ketika melihat kalau KHS tidak turun dengan full tim membuat Kimimaro sangat percaya diri dengan pasukannya.
Akan tetapi diluar dugaan, ternyata pasukan KHS yang kehilangan sosok Sophomore terkuat mereka berhasil memukul mundur pasukannya dan bahkan beberapa kali menguasai jalannya peperangan.
Ditambah lagi adanya kejadian yang tidak terduga dengan munculnya 'Regu Penyelamat' disaat ketika pasukan lapis ketiganya hampir menyapu rata pasukan KHS.
Namun tetap saja, semua hal itu masih bisa ia antisipasi dengan taktik cemerlangnya, itulah kenapa ia selalu tenang selama ini.
Tapi ketika melihat orang itu muncul disaat-saat seperti ini membuat Kimimaro mulai kehilangan ketenangannya, karena bagaimana pun juga ia tahu kalau orang itu akan menjadi faktor pembeda yang mampu menghancurkan segala rencana yang telah ia buat.
Sama seperti peperangan setahun yang lalu.
"Ryūsui, siapa orang itu?" tanya Ugatsu mewakili rasa penasaran dari temannya yang lain.
"Uchiha Shisui, saat aku masih di KHS dulu, orang itu merupakan Freshmen terkuat di KHS- ralat, orang itu merupakan Freshmen terkuat di kota ini dan bahkan di perfektur ini (Nara)!" balas Ryūsui yang terdengar cukup gemetar, dan wajahnya juga terlihat cukup tertekan.
Yudachi yang berada di sebelah Ryūsui hanya diam mendengarkan, sorot matanya tak lepas dari sosok Shisui, wajah Yudachi kini terlihat pucat ketika melihat orang yang dulu selalu 'membantainya' ternyata ikut berperang juga.
Personel 9 Street Beasts yang mendengar perkataan Ryūsui mulai merasakan perasaan tidak enak, karena bagaimana pun juga, mereka jarang melihat Ketua mereka seperti ini.
Setahu mereka, Ketua mereka ini (Ryūsui) adalah orang yang tidak pernah takut jika berhadapan dengan orang lain, walaupun orang yang ia lawan jauh lebih kuat darinya.
Melihat ekspresi dan gestur Ketua mereka seperti itu membuat mereka juga mulai merasakan hal yang sama, perlahan-lahan rasa takut mulai menggerogoti hati mereka ketika tatapan mereka terpaku pada sosok yang baru bergabung ke dalam peperangan itu.
'Uchiha Shisui, ya? Seberapa kuat orang itu sampai membuat Ryūsui/ Ryūsui-san takut seperti ini?' batin mereka secara kompak.
.
.
.
.
.
Hutan Senju - Outer Field (SC Students Side), Sunday at 5:10 pm.
"Loh, mau apa Shisui disitu? Apa dia mau ikut berperang juga?" ujar Yamato yang terlihat cukup bingung.
"Kau benar, bukannya tadi dia bilang kalau dia hanya ingin menonton saja bersama Itachi dan si Topeng itu (Tobi)?" Aoba menimpali perkataan Yamato. Dirinya juga terlihat bingung.
"Berbicara soal Itachi dan si Topeng itu, kira-kira dimana tempat mereka menonton ya?" sambung Aoba.
"Jika dilihat dari arah datangnya para Sophomore KHS (Dokan, Izumo, Kotetsu dan para pengikut mereka) tadi, aku yakin mereka ada di sebelah sana!" jawab Raido sambil menunjuk arah kanan mereka.
"Kenapa kau begitu yakin, Raido?" tanya Yamato.
"Ya karena Shisui juga datang dari arah sana, begitu saja harus dijelaskan, Baka" balas Raido sambil mengecilkan volume suaranya diakhir perkataannya.
Aoba dibuat terkekeh pelan ketika mendengar ledekan Raido diakhir perkataannya. Sementara Yamato menaikkan sebelah alisnya.
Sial, sepertinya dia dengar juga.
"Hah? Kau pikir aku tidak dengar perkataanmu barusan?! Kau mau berkelahi hah?!" Yamato menarik almamater Raido dan kemudian mulai menggoncang-goncangkannya.
Raido hanya diam tidak melawan, lebih tepatnya ia malas meladeni kelakuan Yamato yang kadang random itu.
Seluruh murid SC yang melihat mereka seperti itu hanya bisa sweatdrop. Mereka benar-benar heran kenapa dua orang ini bisa menjadi orang terkuat di angkatan mereka (Sophomore).
"Hahh, apa kalian tidak bosan seperti itu? Tiap hari selalu bertengkar karena hal-hal yang sepele" Aoba memegang kepalanya pusing.
Yamato yang mendengar itu langsung melepaskan pegangannya dari almamater Raido sambil menatap datar Aoba. Sementara Raido menarik-narik almamaternya supaya tidak kusut akibat kelakuan Yamato barusan.
Mereka kemudian kembali memfokuskan perhatian mereka ke area peperangan. Menatap Shisui dengan penuh selidik.
'Apa yang kau rencanakan, Shisui?' batin mereka kompak.
.
.
.
.
.
Hutan Senju - War Area, Sunday at 5:03 pm.
Kembali ke tempat para murid KHS yang kelihatannya baru saja mendiskusikan sesuatu bersama Shisui.
"Aku mengerti, kau memang jenius, Shika-kun!" Shisui tersenyum lebar sambil menepuk-nepuk pelan punggung Shikamaru.
"Terimakasih Shsiui-nii, kami mengandalkanmu" Shikamaru sedikit menundukkan kepalanya.
"Serahkan padaku, aku tidak akan mengecewakan kalian!" Shisui tersenyum tipis.
"Yo Shisui-nii, setelah ini berakhir apakah ada traktiran ramen untukku?" ujar Naruto yang mendekat sambil memamerkan senyum lebarnya.
"O- oy, kenapa kau tiba-tiba minta traktiran ramen, Baka Naru?" Shisui tersenyum canggung ketika mendengar perkataan Naruto yang tidak ada kaitannya dengan topik yang sedang mereka bahas.
"Anggap saja sebagai permintaan maaf karena datang terlambat, bagaimana kau setuju kan?" Naruto merangkul Shisui yang lebih tinggi darinya, tidak lupa sambil memasang wajah pebisnisnya.
Shisui yang melihat ekspresi Naruto seperti itu hanya bisa sweatdrop.
'Apa semua Namikaze seperti ini jika sedang bernegosiasi dengan seseorang?' batin Shisui yang masih mempertahankan senyum canggungnya.
"Apa-apaan kau ini, kenapa tiba-tiba kau minta Shisui-nii mentraktirmu ramen?" Sasuke menjeda perkataannya.
"Sasuke kau lah penyelamatk-!"
"Dan kenapa kau tidak memintanya untuk mentraktir kita semua?" tambah Sasuke sambil tersenyum jahil.
"YEAAAAH!" teriak mereka yang mendengar perkataan Sasuke.
"Sialan kau Sasuke! Kukira kau akan membelaku! Kesini kau!" Shisi melepaskan rangkulan Naruto dan langsung memiting leher Sasuke.
"Ayolah, aku hanya bercanda, Shisui-nii!" ujar Sasuke yang sedang dipiting oleh Shisui.
"Hmph, tidak kakakmu, tidak kau, kalian berdua selalu menipuku!" balas Shisui sengit, ia kemudian melepaskan pitingannya dileher Sasuke.
Pasukan KHS yang melihat itu sontak tertawa pelan, mereka benar-benar tidak menyangka kalau Wakil Ketua Uchiha Empire bisa diajak bercanda seperti ini.
Selagi mereka sibuk menertawakan Shisui, tanpa mereka sadari ada seseorang yang berjalan mendekat ke arah mereka.
"OY KIRISAME APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriakan dari Ryūsui membuat seluruh pasukan KHS menoleh ke asal suara tersebut.
"AKU AKAN MENUNJUKKAN KEPADA KIMIMARO-SAN, KALAU AKU BISA MENGALAHKAN KOHAI BODOHNYA INI!" balas Kirisame yang menatap tajam sosok Sasuke.
Kirisame benar-benar tidak menyukai Sasuke karena sosok panutannya (Kimimaro) selalu memuji-muji kemampuan orang itu.
Ketuanya itu selalu mengatakan kalau Sasuke adalah bakat alam yang benar-benar sulit untuk ditandingi, kemampuan tinju dari orang itu benar-benar luar biasa untuk anak seusianya.
Kirisame yang memiliki gaya bertarung tinju tentu merasa penasaran dengan kehebatan tinju dari Sasuke ini.
Kirisame penasaran, kenapa Ketuanya selalu menganggap tinggi Sasuke sampai-sampai Ketuanya itu meragukan kemampuan tinju yang dimiliki oleh dirinya.
"Kimimaro-san, bagaimana ini? Apa kita harus maju juga?" tanya Ryūsui kepada Kimimaro yang ada di belakangnya.
"Biarkan saja, ini adalah salah satu cara untuknya mempelajari teknik tinju tingkat tinggi dari Sasuke" balas Kimimaro tenang.
"Bagaimana kalau dia dikeroyok? Tidak ingatkah kau saat Sakon dan Ukon maju tadi? Mereka berdua dikeroyok oleh pasukan KHS!" ujar Ryūsui.
"Selama ada orang itu (Shisui), pasukan KHS tidak akan berani macam-macam" ujar Kimimaro kembali.
"Tch, kalau perkataanmu salah maka aku dan yang lainnya akan langsung turun membantunya! Dan kau tidak boleh menahan kami!" ujar Ryūsui yang tidak mau lagi menatap Kimimaro.
"Silahkan saja, aku tidak peduli asalkan kalian menjanjikanku kemenangan" Kimimaro melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Kembali ke tempat pasukan KHS.
Kirisame berhenti ketika merasakan jaraknya cukup dekat dengan pasukan KHS.
"UCHIHA SASUKE! AKU MENANTANGMU DUEL TINJU SATU LAWAN SATU!" teriak Kirisame menatap tajam Sasuke.
Sasuke yang mendengar tantangan itu tersenyum miring, akhirnya ada orang yang mengajaknya untuk beradu tinju.
Berbeda dengan Sasuke, pasukan KHS yang melihat Kirisame datang sendiri membuat mereka ingin segera untuk menghabisi anak itu.
"Apa-apaan bocah ini?".
"Apa dia mau mati datang kesini sendirian?".
"Kita hajar saja bocah itu!".
"Ya kau benar, ayo!".
"Jangan ada yang mengambil mangsa Sasuke-kun, biarkan mereka berduel satu lawan satu!" perkataan Shisui membuat pasukan KHS yang tadinya mau maju untuk mengeroyok Kirisame seketika terdiam.
"Terimakasih, Shsiui-nii!" Sasuke berjalan pelan melewati satu demi satu murid KHS yang menghalangi jalannya.
Tidak butuh waktu lama, ia akhirnya sampai di depan Kirisame yang sedang melakukan pemanasan.
"Namamu Kirisame, benar? Aku akui kalau kau cukup berani menantangku sendirian" ujar Sasuke sambil meregangkan otot-otot tangannya.
"Aku tidak peduli dengan pengakuanmu, aku akan mengalahkanmu dan aku akan menunjukkan kepada Kimimaro-san, kalau aku lebih hebat darimu!" ujar Kirisame yang mengakhiri kegiatan pemanasannya.
"Hooh, jadi ini soal pembuktianmu kepada Kimimaro-senpai? Jujur saja aku tidak tertarik" ujar Sasuke yang juga mengakhiri kegiatannya yang sebelumnya.
"Tapi karena kau sudah berani datang kesini untuk menantangku satu lawan satu, maka akan ku ladeni kau dengan sepenuh hati" sambung Sasuke.
Mereka berdua pun memasang stance tinju mereka masing-masing. Sasuke denganstance tinju cepatnya, dan Kirisame dengan stance tinju balance-nya
'Southpaw ya?' batin Kirisame melihat Sasuke yang ternyata kidal.
Didetik selanjutnya Sasuke dengan cepat memotong jaraknya dan segera melepaskan 3 Jab ke wajah Kirisame.
Kirisame dengan mudah menghindarinya dengan cara memundurkan tubuhnya.
Kirisame berasumsi kalau Sasuke sedang mengukur jangkauan tinjunya menggunakan Jab-nya, itulah kenapa dirinya bisa menghindari pukulan Sasuke dengan mudah.
Merasa cukup, Sasuke kemudian dengan cepat melakukan Side-Step ke kanan dan langsung melancarkan sebuah Hook kanan ke arah rusuk kiri Kirisame.
'Mudah sekali!' batin Kirisame sembari menurunkan tangan kirinya untuk memblok pukulan Sasuke.
*Bugh*
"Guh?!".
Ternyata Hook kanan itu hanya umpan saja, karena tujuan Sasuke yang sebenarnya adalah melepaskan Hook kiri ke rahang Kirisame. Dan pukulannya itu berhasil mengenainya sehingga membuat Kirisame terdorong ke samping.
Sasuke yang melihat itu langsung memberikan variasi pukulan cepat ke area kepala dan perut Kirisame.
Kirisame dengan cepat mengangkat kedua tangannya dan segera memblok serta membelokkan pukulan dari Sasuke. Akan tetapi usahanya itu seperti sia-sia karena sebagian besar pukulan Sasuke berhasil menembus pertahanannya dan tentunya meninggalkan rasa sakit di area yang terkena pukulan tersebut.
Kirisame dibuat mundur secara terpaksa akibat menerima rentetan pukulan dari Sasuke. Sasuke yang melihat itu hanya diam ditempat, tidak berniat untuk melanjutkan serangannya.
Karena bagi Sasuke, pertarungan ini terlihat sudah berat sebelah. Jika ia terus menghajar Kirisame, maka anak itu akan menderita luka serius, terutama di bagian kepalanya.
Sasuke yang menjunjung tinggi sportivitas tentu tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Oy, kau serius berkelahi atau tidak?" Sasuke menurunkan kedua tinjunya. Ia menatap datar wajah Kirisame yang mulai menunjukkan luka lebam serta lecet di pipi kanannya.
"Hahh hahh, aku masih belum serius! Angkat kembali kedua tinjumu sialan!" Kirisame menatap benci Sasuke.
'Sial, aku tidak pernah melawan orang yang memiliki tinju sehebat ini sebelumnya, terlebih lagi orang ini Southpaw!' batin Kirisame frustrasi.
Ia tidak terbiasa melawan orang yang bertangan kidal, itulah kenapa ia dibuat sangat kesulitan untuk mengantisipasi pukulan-pukulan yang dilayangkan Sasuke kepadanya.
'Aku tidak bisa mengandalkan counter, aku harus menyerangnya lebih dulu!' Kirisame kembali mendekati Sasuke sambil mengangkat kedua tinjunya di depan wajahnya.
"Hahh, merepotkan saja" Sasuke yang melihat itu ikut mengangkat tinjunya ke atas.
Kirisame kemudian melepaskan Jab ke wajah Sasuke dan kemudian menyambungnya dengan melepaskan Hook kiri ke telinga Sasuke.
Akan tetapi Sasuke berhasil dengan mudah menghindarinya, dengan cara ia sedikit memundurkan kepalanya demi menghindari Jab dari Kirisame, kemudian ia menundukkan tubuhnya ke samping kiri demi menghindari Hook kiri dari Kirisame.
Kemudian Sasuke dengan cepat mendaratkan sebuah Uppercut kiri ke liver Kirisame sebagai counter-nya.
*Bugh*
"Ugh!".
Tubuh Kirisame terangkat karena menerima pukulan telak dari Sasuke. Kemudian ia jatuh berlutut memegangi perutnya yang terasa sangat sakit itu.
Sasuke yang melihat itu kembali berhenti, ia sudah kehilangan niatnya untuk bertarung All out melawan Kirisame.
"Kuhargai keberanianmu, tapi keberanian saja tidak cukup untuk melawanku" ujar Sasuke datar.
Tidak mau berbasa-basi lagi, Sasuke langsung berbalik meninggalkan tempat tersebut.
"Kau pikir mau kemana?" Kirisame kembali berdiri setelah berhasil menekan sedikit rasa sakit yang ada di livernya.
"KIRISAME, SUDAH CUKUP!" teriak Ryūsui, ia sudah tidak bisa melihat anak buahnya dipecundangi dengan tanpa perlawanan oleh Sasuke.
Ryūsui tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut karena bagaimana pun juga, Kirisame masih muda, anak itu masih berusia 15 tahun.
Jika anak itu terus melawan, maka anak itu akan mendapatkan luka yang akan menyulitkannya di kemudian hari.
"DIAM! AKU MASIH BELUM SELESAI DISINI!".
"KAU-".
"Inilah kesempatanmu Kirisame, keluarkan semua kemampuanmu dan kalahkan Sasuke!" perkataan Kimimaro memotong perkataan dari Ryūsui.
Perkataan Kimimaro itu membuat semua orang menatapnya tidak percaya.
Apa orang ini buta? Apa dia tidak melihat kalau anak buahnya itu tidak bisa melakukan apa-apa terhadap Sasuke? Bahkan satu pukulan pun belum ada yang mengenai Sasuke.
"Kimimaro, apa yang kau-!"
"Diamlah Ryūsui, jika anak itu mau menjadi lebih kuat dia harus melewati tantangan ini!" Kimimaro kembali memotong perkataan Ryūsui.
"Tch, apa kau buta? Apa kau mau Kirisame mati? Dilihat darimana pun juga, Kirisame sudah kalah! Bahkan kau juga tahu kalau Kirisame tidak akan bisa mengalahkan Sasuke!" balas Ryūsui sengit.
"Asal kau tahu, Kirisame benar-benar menganggapmu sebagai panutannya, namun kau bersikap seperti tidak memperdulikan keselamatan anak itu! Panutan macam apa yang ingin membuat fansnya terbunuh dengan ucapan bodohnya?!"ujar Ryūsui kembali.
"Aku tidak pernah menyetujuinya untuk menjadikanku sebagai panutannya, jika anak itu mau lebih kuat dari yang sekarang maka dia harus bisa menghadapi lawan yang jauh lebih hebat darinya!" balas Kimimaro yang mulai menunjukkan rasa jengkel kepada Ryūsui.
"Kau benar-benar tidak punya hati! Aku akan pergi membantu Kirisame, ayo teman-teman!" Ryūsui berjalan meninggalkan tempatnya.
Begitu juga personel RWK 9 Street Beasts yang berjalan mengekor di belakangnya.
Kurobachi dan Jibachi yang melihat perseteruan itu merasa tidak enak hati, terlebih Jibachi yang telah membuat ini semua terjadi.
"Kimimaro-san, bukannya itu berlebihan?" Kurobachi membuka suara.
Kimimaro hanya diam tidak membalas perkataan dari Kurobachi.
'Ini semua salahku' batin Jibachi.
.
.
.
Kembali ke tempat Sasuke vs Kirisame.
Kirisame benar-benar dibuat tidak berkutik dengan pukulan dari Sasuke. Pukulan demi pukulan terus saja menghujam tubuhnya tanpa ampun.
Ia mulai merasa kalau tubuhnya tidak sanggup lagi menahan rasa sakit yang tiap detik bertambah di tubuhnya.
Disisi lain, Sasuke memang sudah tidak lagi menghajar kepala Kirisame, karena ia tidak mau membuat anak itu geger otak. Jadi ia pun memutuskan untuk menghajar tubuh anak itu dengan menghindari titik vital yang mampu menimbulkan luka dalam pada tubuhnya.
Akan tetapi tindakannya itu tetap tidak mampu membuat Kirisame menyerah, walau berapa kali pun harus terjatuh, anak itu terus saja bangkit dan terus melepaskan pukulannya kepada Sasuke.
*Bugh*
"Uhk!".
Kirisame kembali terjatuh setelah menerima pukulan di sisi perut kirinya.
"Hahh hahh, menyerahlah, jika kau terus melawanku kau hanya akan menyiksa dirimu sendiri!" ujar Sasuke yang mengelap keringat yang turun dari dahinya.
"Ghuh, a- aku tidak akan menyerah, aku tidak bisa menyerah sebelum aku mengalahkanmu, uhuk!" Kirisame bersusah payah untuk bangkit.
Tekad Kirisame membuat Sasuke teringat dengan sahabat pirangnya. Hal itu membuat Sasuke sedikit tersenyum.
"HENTIKAN ITU!" Ryūsui bersama anak buahnya datang dan langsung menyerang Sasuke.
Sasuke berhasil menghindarinya serta memblok serangan dari mereka, walau dirinya harus dibuat terdorong kebelakang.
"JANGAN MENGAMBIL MANGSAKU!" teriak Kirisame.
"Apa yang kau bicarakan, bodoh?! Satu-satunya mangsa yang ada disini adalah kau! Orang itu berada jauh diatas levelmu! Jika kau terus melawannya kau akan-".
"DIAM!" Kirisame memotong perkataan Oboro.
"Kiri-yan, Oboro benar, kau sudah kalah" timpal Ugatsu.
Kirisame yang mendengar itu hanya mendecih kesal, tidak lama kemudian ia menangis karena ia benar-benar merasa tidak berguna karena telah kalah secara memalukan melawan Sasuke.
"Lagipula kau masih muda, kau masih memiliki banyak waktu untuk meningkatkan kemampuanmu" ujar Yudachi menenangkan.
"Hiks. . . Aku hanya beda satu tahun dengan orang itu, tapi kenapa perbedaan kemampuanku sangat jauh dengannya?! Kenapa hah?!" Kirisame memukul tanah frustrasi.
"Jika kau terus membandingkan dirimu dengan orang lain maka kau tidak akan bisa mencapai versi terbaik dari dirimu" ujar Ryūsui.
"Apa maksudmu, Ryūsui-san?" Kirisame mendongak menatap Ryūsui.
"Sudahkah kau membandingkan dirimu yang sekarang dengan dirimu yang dulu? Kau tahu, dibandingkan dirimu yang dulu, kau yang sekarang jauh lebih hebat dan juga jauh lebih kuat" ujar Ryūsui kembali.
Perkataan Ryūsui membuat Kirisame terdiam, ia dibuat kembali mengingat dengan dirinya yang dulu, sebelum dirinya bergabung dengan RWK.
Ia yang dulu adalah anak yang benar-benar tidak peduli dengan sekitarnya, ia dulu selalu menjadikan anak buahnya sebagai umpan ketika tawuran dengan murid sekolah lain.
Ia dulu tidak peduli dengan namanya tanggung jawab, ia juga tidak peduli dengan dirinya jika disebut sebagai pengecut dan lain sebagainya.
Ia juga tidak peduli jika harus memenangkan pertarungan dengan cara yang kotor dan tidak terhormat.
Ketika mendapatkan tantangan yang lebih berat dan lebih hebat, ia selalu melarikan diri dan meninggalkan anak buahnya untuk dihajar sampai mereka bonyok.
Mengingat itu membuat Kirisame sadar kalau dia sudah jauh berkembang dari dirinya yang dulu. Kini matanya terbuka lebar, menyadari kalau perkataan Ryūsui berhasil mengguncang pikirannya.
Bersamaan dengan itu, pasukan KHS yang tadi diam menonton kini berjalan maju menanantang pasukan RWK 9SB yang tadi mengeroyok Sasuke.
"Kau tidak apa-apa, Sasuke?" tanya Naruto.
"Ya, aku baik-baik saja" balas Sasuke.
"Naruto, anak itu mengingatkanku padamu kau tahu?" Sasuke kembali mengeluarkan suaranya.
"Ya aku mengerti apa maksudmu, aku berani bilang kalau anak itu bisa menjadi ancaman yang serius untuk generasi KHS yang selanjutnya" ujar Naruto yang tersenyum simpul menatap Kirisame yang dibantu untuk duduk oleh Kagari dan Mubi.
Pasukan KHS dan pasukan RWK 9SB kini berhadapan, bersiap-siap untuk menyerang satu sama lain.
"Teman-teman, ingat dengan rencana yang dibuat oleh Shika-kun! Jangan lupa dengan sasaran kalian!" perintah Shisui.
"SIAP SHISUI-SAN!" jawab mereka serempak.
"Lama tidak bertemu, Shisui" Ryūsui menatap tajam Shisui. Disebelahnya ada Yudachi yang juga menatap tajam Shisui.
"Yo, bagaimana kabar kalian berdua, Ryūsui-senpai, Yudachi?" Shisui menunjukkan seringainya.
"Kami baik, oh iya sampaikan salamku kepada Kakakmu dan juga Yahiko".
"Sayangnya kakakku sudah tidak ada di Konoha. Lalu Yahiko? Kenapa kau tidak sampaikan saja sendiri kepadanya?" ujar Shisui dengan sedikit berbohong. Shisui kemudian meregangkan otot-otot bagian atasnya.
"Mungkin nanti ketika aku menemuinya secara langsung, sekaligus mengirimnya ke ke alam lain" Ryūsui juga melakukan hal yang sama dengan Shisui, begitu juga dengan para pengikutnya.
"Sudah selesai temu kangennya?" ujar Naruto yang berdiri paling depan pasukan KHS.
"Ah maaf aku terbawa suasana, Kapten. Silahkan ambil alih" Shisui tertawa pelan sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Kau tidak perlu memanggilku seperti itu Shisui-nii!" ujar Naruto sweatdrop.
Ia kemudian kembali menghadap ke depan, setelah itu ia menarik nafas dan mengembuskannya secara perlahan.
Bagai menunggu aba-aba dari Naruto, pasukan KHS dan pasukan RWK 9SB kini sudah berancang-ancang untuk menyerang satu sama lain.
"LAST MAN STANDING, HERE WE GO!" Naruto maju menuju pasukan RWK 9SB.
Begitu juga dengan pasukan KHS dan pasukan RWK 9SB itu sendiri, mereka sama-sama maju menyerang satu sama lain.
"ORYAAAAA!".
Tiba-tiba Naruto menghentikan lajunya ketika dirinya hampir berbenturan dengan pasukan RWK 9SB. Hal itupun meninggalkan pertanyaan besar dipikiran mereka (RWK 9SB), bingung dengan apa yang sedang Naruto lakukan.
Ryūsui yang berada paling dekat dari Naruto tanpa kompromi langsung melayangkan pukulannya ke wajah Naruto. Akan tetapi. . .
"Kau bagianku!".
*Dugh*
"Guhh!".
Tendangan Shisui lebih dulu mendarat di dada Ryūsui sehingga membuatnya terdorong ke belakang.
Di detik yang sama pasukan KHS yang berada di belakang Naruto tiba-tiba membelah melewati sisi kanan dan kiri Naruto yang berdiri diam, dan kemudian mereka menuju ke tujuan mereka masing-masing.
Sehingga mereka hanya meninggalkan sosok Naruto, Sasuke dan Shikamaru yang terdiam di tempat mereka masing-masing.
Mereka melakukan persis seperti apa yang Shikamaru rencanakan.
Berterimakasih lah kepada otak jenius Shikamaru dan juga berterimakasih lah kepada Lee dan Shisui yang telah memberi mereka informasi tentang kemampuan dari pasukan RWK 9SB.
Pasukan KHS yang terpisah itu pun maju ke tujuan mereka masing-masing.
Midare mengincar Kirisame.
Shigure mengincar Mubi.
Lee mengincar Kagari.
Sai mengincar Oboro.
Dokan mengincar Yudachi.
Izumo dan Kotetsu mengincar Murasame.
Shisui mengincar Ryūsui, Ugatsu dan Suika.
Sementara 11 orang murid KHS yang tersisa memiliki pergerakan yang lebih mobile karena mereka akan menjadi tim pemberi bantuan jika saja salah satu dari mereka (Shisui dan yang lain) membutuhkan bantuan.
Rencana pertama dari kesebelas muridKHSitu adalah menahan dua personelRWK 9SByang tidak memiliki lawan. Kedua orang yang dimaksud itu adalah. . .
Ugatsu dan Suika yang berhasil meloloskan diri dari kerumunan dan kini sedang berlari menuju ke tempat NSS (Naruto, Sasuke dan Shikamaru) berada.
"Tahan mereka! Mereka berdua itu bagianku juga!" perintah Shisui kepada 11 orang murid KHS disela-sela pertarungannya melawan Ryūsui.
"SIAP, SHISUI-SAN!" mereka yang dimaksud pun langsung menghadang laju dari Ugatsu dan Suika.
Tanpa membuang waktu mereka bersebelas langsung memukul Ugatsu dan Suika untuk mundur menjauh dari tempat NSS berada.
"Sial! Bagaimana bisa mereka merencanakan hal ini?!" ujar Suika sambil mencoba menahan serangan dari pasukan KHS yang mengeroyoknya.
"Guh, ini kesalahan kita karena membiarkan mereka untuk berbicara tadi!" Ugatsu merespon perkataan dari Suika, sembari melakukan hal yang sama dengan rekannya itu.
"Uhk, kau benar! Ini semua salah Kimimaro-san yang terlalu santai dan membiarkan mereka mengatur rencana seperti ini!" ujar Suika.
Mereka berdua pun berhasil dipukul mundur menuju tempat Shisui yang sedang melawan Ryūsui.
"Huff!".
*Bugh*
"Ughk!".
Pukulan lurus Shisui berhasil mengenai tengah jidat Ryūsui sehingga membuatnya sedikit terdorong ke belakang. Didetik selanjutnya Shisui menangkap tubuh Ryūsui dan langsung membantingnya ke tanah dengan sangat keras.
*Doom*
"Guhk!".
"Shisui-san, ini dia pesananmu!" ujar seseorang dari 11 orang pasukan KHS.
"Simpan saja disana, terimakasih ya!" Shisui berbalik sambil menunjukkan cengirannya. Ia kemudian berjalan menuju tempat Ugatsu dan Suika yang menatap horor dirinya yang baru saja membanting Ryūsui dengan sangat mudah.
"Ugh, kau belum mengalahkanku bangsat!" Ryūsui kembali berdiri sembari menepuk-nepuk celananya yang kotor akibat terkena debu.
Melihat itu membuat Ugatsu dan Suika memisahkan diri dan mengepung Shisui dengan membentuk segitiga sama kaki bersama Ryūsui.
Ryūsui.
Shisui.
Ugatsu. . . . . . . Suika.
"Oy oy oy, mengepungku seperti itu tidak keren tahu, hoam" Shisui menguap malas.
"Tch, katakan itu pada pasukanmu yang tadi!" ujar Ugatsu.
"Mengoceh lah sesukamu, karena setelah ini kami akan menghajarmu sampai sekarat!" Suika tersenyum miring.
"Jangan menganggap remeh kami, Shisui!" Ryūsui menguatkan kuda-kudanya.
"Ya ya ya, terserah kalian" perkataan Shisui membuat mereka bertiga mendecih kesal karena kembali diremehkan oleh Shisui.
"Jadi kapan kalian akan menyerangku?" ujar Shisui kembali yang kini menunjukkan tatapan serius.
"HAAAAA!".
Mereka bertiga pun maju menyerang Shisui secara bersamaan.
"Ini yang aku suka! Jangan coba-coba untuk mengecewakanku oke?!" Shisui memperkokoh posisi kakinya, siap menerima serangan dari ketiga arah yang berbeda.
.
.
.
.
.
Berpindah ke tempat Naruto, Sasuke dan Shikamaru.
"Seperti biasa, rencanamu benar-benar berjalan dengan sangat mulus" Sasuke membuka suara.
"Berterimakasih lah kepada Lee dan Shisui-nii yang memberikanku informasi yang cukup tentang kesembilan orang itu" ujar Shikamaru santai.
"Jika tanpa mereka mungkin aku akan mengeluarkan strategi yang keliru, hoam mendokuse" Shikamaru menguap malas.
"Yosh, sekarang jalan kita terbuka lebar menuju ketiga orang itu" ujar Naruto yang ikut ke dalam pembicaraan ini.
Mereka bertiga kemudian menatap tempat Kimimaro, Kurobachi dan Jibachi berada.
"Nee Shika, kau akan mengambil yang mana?" tanya Sasuke.
"Si pirang yang berkacamata itu, dia orang yang pernah aku hajar saat aku dan Naruto menunggu kalian di taman" jawab Shikamaru.
"Aku memilihnya karena orang itu memiliki gaya bertarung yang dominan menggunakan kaki, sama sepertiku" sambung Shikamaru.
"Hn begitu ya, terus yang wajahnya sangat boros itu? Gaya bertarung apa yang dia miliki?" tanya Sasuke sambil menunjuk Kurobachi.
"Hm maksudmu si Paman RWK itu? Dia menggunakan gaya bertarung Kickboxing, sama seperti gaya bertarung keduamu" bukan Shikamaru yang menjawab, tapi Naruto.
"Menarik, tunggu dulu, kenapa kau bisa tahu? Apa dia orang yang kau lawan saat bersama Shikamaru di taman beberapa hari yang lalu?" tanya Sasuke kembali.
"Ya kau benar" jawab Naruto santai sambil mengorek-ngorek bekas darah yang mengering dari dalam lubang hidungnya, (baca: mengupil).
Sasuke dan Shikamaru yang melihat itu sweatdrop.
'Yang benar saja, dia masih bisa mengupil disaat yang seperti ini?' batin mereka berdua kompak.
"Yosh, kalau begitu ayo kita ke tempat mereka bertiga!" ujar Naruto setelah menyentilkan hasil 'galiannya' ke sembarang tempat.
Dengan begitu Naruto pun berlari memutari pasukannya yang sedang baku hantam dengan pasukan RWK 9SB.
Dan di belakangnya ada Sasuke dan Shikamaru yang berlari mengikutinya.
.
.
.
.
.
Mereka bertiga pun akhirnya tiba di hadapan Kimimaro, Kurobachi dan juga Jibachi.
Kimimaro yang melihat itu langsung berdiri dari dahan pohon yang ia duduki dan memberikan mereka bertiga sebuah applause.
*Prok* *Prok* *Prok*
"Harus kuakui, aku tidak menyangka kalau kalian akan berhasil melewati semua pasukanku" Kimimaro menatap sinis sosok Naruto, Sasuke dan Shikamaru secara bergantian.
"Tapi perjuangan kalian itu semua percuma karena kalian akan kalah disini" Kimimaro membunyikan jari-jari tangannya.
Kurobachi dan Jibachi yang berada di sebelahnya menelan ludah mereka pahit.
Bagaimana tidak, setelah melihat kemampuan Naruto, Sasuke dan Shikamaru. Di dalam hati mereka kini sudah tertanam rasa takut kepada mereka bertiga.
Tapi mereka berdua dengan cepat membuang perasaan bodoh itu, mereka harus menang jika tidak maka pengorbanan yang dilakukan oleh teman-teman mereka akan menjadi sia-sia.
"Oh ayolah, setelah semua ini kau masih menganggap remeh kami? Wow, aku tidak bisa berkata-kata kau tahu?" ujar Naruto dengan nada sarkastik sambil menatap datar Kimimaro.
"Lagipula kalaupun kalian mengalahkan kami disini, apakah kemenangan kalian bisa disebut dengan kemenangan? Dan apakah kalian akan puas dengan hasil itu?" ujar Naruto dengan nada yang sama.
"Apa maksudmu?" tanya Kimimaro.
"Maksudku, apa kalian tidak merasa hina jika kalian berhasil mengalahkan kami dengan kondisi kami yang seperti ini sedangkan kalian masih dalam keadaan yang fresh seperti itu?" sorot mata Naruto berubah dingin.
Perkataan Naruto membuat Kimimaro, Kurobachi dan Jibachi membulatkan mata mereka.
Perkataan Naruto benar, jika nanti mereka menang apakah kemenangan mereka itu bisa disebut dengan kemenangan?.
Jika saja kondisi Naruto, Sasuke dan Shikamaru masih fresh seperti mereka maka kemenangan tersebut akan terasa sangat layak disebut sebagai kemenangan.
Tapi sayangnya kondisi Naruto, Sasuke dan Shikamaru benar-benar berada dalam keadaan yang buruk.
Jika mereka berhasil mengalahkan Trio NSS, bukankah itu sebuah hal yang hina? Mengingat kondisi mereka (Kimimaro, Kurobachi dan Jibachi) berada dalam kondisi yang tidak tersentuh sama sekali?.
Sasuke dan Shikamaru yang mendengar itu tersenyum miring. Sial, si kuning ini memang jagonya kalau urusan memainkan mental orang lain!.
Kembali ke sosok Kimimaro yang sedang berpikir keras.
Tidak mau terbuai dengan perkataan Naruto, Kimimaro dengan cepat mengeluarkan dirinya dari permainan mental yang Naruto coba tanamkan di dalam kepalanya.
"Kheh, jangan bilang kau dan kedua temanmu ini minta dikasihani? Sungguh menyedihkan!" Kimimaro tersenyum remeh sambil memandang rendah Naruto.
"Aku tidak pernah bilang begitu, kaunya saja yang menyimpulkan perkataanku seperti itu" Naruto menyeringai.
"Baiklah, akan kujawab pertanyaanmu yang sebelumnya. Kami akan merasa biasa-biasa saja ketika kami mengalahkan kalian, karena kalian bukan lah tujuan utama kami" Kimimaro menatap dingin Naruto.
"Lagipula kemenangan tetaplah kemenangan, salah sendiri karena babak belur seperti itu" tambah Kimimaro yang masih menatap dingin Naruto.
"Huh? Hahahahahaha!" perkataan Kimimaro membuat Naruto tertawa lepas. Kimimaro yang mendengar itu cukup tersinggung.
"Hahaha, aku mengerti sekarang, kukira kalian orang yang hebat, ternyata kalian tidak lebih dari sekumpulan para pecundang!" Naruto memberikan senyuman sinisnya.
"Sasuke, Shika, siapkan diri kalian, ayo kita kalahkan para pecundang ini!" Naruto membunyikan jari-jari tangannya, tidak lupa ia juga membunyikan lehernya yang ia rasa lumayan kaku.
"Hn/ Ya!" Sasuke dan Shikamaru kemudian melemaskan otot-otot mereka yang sempat kaku.
"Kuro, Jiba, jangan beri ampun kepada mereka!" perkataan Kimimaro membuyarkan lamunan Kurobachi dan Jibachi yang ternyata masih memikirkan perkataan Naruto barusan.
"Siap, Kimimaro-san!" jawab mereka secara bersamaan.
Kimimaro, Kurobachi dan Jibachi pun melakukan hal yang sama dengan Trio NSS.
Beralih ke Shikamaru dan Jibachi.
"Oy Megane-chan, bagaimana kalau kita bertarung lagi? Aku tahu kau masih penasaran untuk mengalahkanku" ujar Shikamaru yang menatap Jibaci tepat di matanya.
"Tch, dengan senang hati, lagipula melihat kondisimu yang seperti itu membuatku yakin kalau aku akan menang mudah!" balas sengit Jibachi.
"Hooh begitu kah? Aku cuma berharap kalau seranganmu bisa mengenaiku kali ini, jangan seperti yang sebelumnya ya, kau mengecewakanku waktu itu!" Shikamaru menatap Jibachi main-main.
"Akan kubunuh kau!" Jibachi langsung maju menerjang Shikamaru.
Berpindah ke Sasuke dan Kurobachi.
"Oy paman, kau bagianku" Sasuke menginterupsi Kurobachi yang sedang melihat adiknya menyerang Shikamaru.
"Kheh, kau adik Itachi kan? Kau dan kakakmu sama-sama menyebalkan!" Kurobachi mengerutkan keningnya ketika melihat wajah stoic Sasuke.
Sasuke yang mendengar itu hanya tersenyum miring, ia kemudian memasang stance tinju cepatnya sambil maju mendekati Kurobachi. Kurobachi yang melihat itu ikut memasang stance Kickboxing-nya.
Beralih ke Naruto dan Kimimaro.
"Sekarang sisa kau dan aku, aku akan menghajarmu sampai membuatmu menyesal karena telah mengusikku dan teman-temanku!" Kimimaro berjalan mendekati Naruto.
"Itupun kalau kau bisa melakukan itu, manusia uban" Naruto juga ikut berjalan maju menuju Kimimaro.
Saat merasa jarak mereka cukup dekat, mereka pun melepaskan serangan mereka. Naruto dengan Overhand kanan andalannya, Kimimaro dengan Curve Knee kanannya.
"ORYAAAA!".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued~.
