# My answer is You

# Sehun, Lu Han

# Romance / School-life

# Drabble prompt : Terkadang Sehun memikirkan, apakah satu ciuman bisa mengubah persahabatan mereka ?

####

Terkadang Sehun memikirkan, apa kalau dia mencium temannya itu, apakah persahabatan sejak kecil mereka ini akan terputus ?

Atau apakah Lu Han akan membencinya ?

Sehun tidak tau.

Hanya saja, perasaan cintanya terhadap Lu Han itu sudah lama terpendam semenjak ia melihat Lu Han kecil. Melihat bagaimana ada anak yang seumuran dengannya itu tidak mempunyai ekspresi sama sekali ?

Dia kelihatan begitu dingin dengan mata rusa yang menyembunyikan beribu rahasia yang Sehun sendiri tidak tau.

" Kau mengelamun ?"

Suara dalam dan datar milik Lu Han membuatkannya sadar dalam lamunannya. Buru-buru diletak majalah Ceci yang dipegangnya tadi. Mata sipitnya menoleh ke arah Lu Han yang sedang bermain video game di pinggiran kasur nya.

Jangan heran kenapa Sehun yang notebene nya seorang gadis bisa dengan seenaknya duduk di atas kasur seorang lelaki. Jawapannya, senang saja.

Sehun dan Lu Han itu sudah berteman semenjak mereka berumur 5 tahun lagi. Jadi, bagi mereka ini biasa-biasa saja.

" Kau lapar ? Kau ingin makan sesuatu ?"

Sang teman menggeleng pelan. Konsentrasi nya masih kepada video game yang terpapar di depan mereka. Rambut hitam yang Sehun tau sangat lembut dan halus - karna dia sering merusak surai itu - hampir menutupi mata dingin nya. Hidung mancung nya kelihatan sangat pas sekali dengan tampangnya yang tampan. Dan...

Bibir itu. Sehun ingin merasakan bagaimana lembutnya bibir yang dihiasi dengan parut kecil itu.

' Astaga, Oh Sehun ! Apa yang kau pikirkan ?! Kau sudah gila ?!'

Sehun tanpa sadar mendengus lemah. Ia memperbetulkan rambut cokelatnya yang sempat berantakan gara-gara berguling di atas kasur Lu Han. Ia melirik jam tangannya dan merutuk kesal.

" Oh mai gad, aku harus pulang. Ibu pasti membebel di rumah." Sehun mengambil tasnya yang tergeletak di samping Lu Han dan mengecek wajahnya di cermin.

Sebelum keluar dari kamar, ia mengintip di jendela kamar Lu Han yang memaparkan dengan jelas rumah nya. Sehun bisa melihat mobil ayahnya terparkir di luar menandakan ayahnya itu sudah pulang. Ibu pasti sedang menyiapkan makan malam.

" Kau tidak mau ikut makan malam di rumah ? Lagian, In Jung ahjussi tidak ada kan ? "

Lu Han menggeleng pelan. " Bibi Kim sudah menyiapkan makanan. Besok saja, Hun." Ucapnya tanpa melarikan pandangannya dari layar tv di mana video game itu sedang dipermainkan.

Sehun dalam diam mendesah kecewa. Tidak lama ia mencoba mengukir senyuman.

" Baiklah ! Besok kau harus makan malam di rumah yah ! Aku akan memberitau ibu ! Sampai besok, HanHan." Ucap Sehun dengan terlebih ceria disertai dengan usapan lembut di puncak kepala Lu Han.

Setidaknya hari ini Sehun bisa melupakan niatnya ingin mencium teman dekatnya sendiri.

####

Terkadang Sehun ingin mengecup Lu Han setiap kali lelaki itu mengatakan bahawa mereka hanya sebatas teman saja. Tapi mau bagaimana lagi ?

Bukankah sememangnya mereka hanya sebatas teman ?

Sehun menatap dari kejauhan sosok Lu Han yang sedang bermain bola basket bersama teman-temannya. Seragam sekolah nya kelihatan basah gara-gara keringat dan surainya ikut basah, mungkin gara-gara keringat dan juga air yang sengaja disiram ke atas puncak kepalanya.

" Oii, sampai kapan kau akan menatap nya seperti itu ? Luahkan saja perasaan mu, Oh Idiot Sehun !"

Dengan mendengus kesal, Sehun menjeling tajam kepada sumber suara yang menurutnya sangat sumbang dan nyaring sekali.

" Diamlah, Kim Jongdae ! Kau tidak mau menelan buku ku kan ! Dan jangan berbicara sekuat itu, bisa saja ada orang yang mendengarnya." Bentak nya pelan. Matanya menatap tajam kepada sosok lelaki merangkap teman Lu Han sekaligus teman nya juga.

Jongdae memutar bola matanya malas. Rambut cokelatnya yang tersisir rapi itu membuatkan dia sedikit tampan. Yah setidaknya itu lebih baik daripada rambut ramyun nya. Lelaki itu ikut melabuhkan bokongnya di sebelah Sehun. Mengikut arah pandangan Sehun.

" Kau seperti stalker disebalik topeng, Sehunnie. Bagaimana rasanya mengintip teman dekat sekaligus cinta hatimu itu dari kejauhan begini ? Dan kuperingatkan sekali lagi, Lu Han itu lelaki yang tidak peka. Kau harus meluahkan perasaan mu."

Sehun menarik nafas panjang sebelum melepaskannya bersama keluhan. Rambutnya yang diikat tinggi itu sedikit menyamankan. Ia memutuskan untuk menutup buku tebalnya dan memilih memfokuskan pandangannya kepada Jongdae. Setidaknya dengan begini, dia bisa meredakan detak jantungnya yang berdetak bagai gila gara-gara Lu Han.

" Kau gila ? Hubungan persahabatan kami bisa putus gara-gara perasaan ku, Dae. Aku lebih memilih untuk tetap di sisi nya sebagai teman saja. Terima kasih atas nasehatmu, Jongdae."

" Ayolah, Sehun. Sedikit berani untuk cinta pertama mu. Kalau Lu Han menolak mu, tidak apa. Aku ada." Jongdae memperlebarkan senyumannya. " Aku siap mengobati luka dihatimu dengan cinta ku."

Otomatis Sehun memukul kepala temannya itu. " Kau gila. Aku tidak mau memiliki teman segila kau."

Jongdae terkikih. Ia melirik - tanpa pengetahuan Sehun - ke arah Lu Han dan smirk terpampang di wajah tampannya saat melihat temannya itu menatap mereka berdua dengan tampang yang sedikit tidak suka.

" Ayolah, Sehun. Aku kekurangan apa ? " Jongdae menekap kedua belah pipi mulus Sehun, memaksa gadis itu untuk menatapnya.

" Lepaskan, idiot !"

Dia ketawa besar. " Tidak akan. Katakan apa yang kurang dengan ku ?!"

Sehun mencoba menarik kedua tangan Jongdae yang menekap pipinya namun nihil. Tenaga lelaki itu mana bisa ditandingi dengan tenaga nya.

" Apa yang kalian lakukan ?"

Sontak keduanya mendongak.

" HanHan, lihat teman mu ini ! Dia membuli ku !" Adu Sehun tanpa menyadari lelaki itu melirik tajam kepada tangan Jongdae yang menyentuh kedua pipinya.

" Jongdae, kalian bukan kanak-kanak lagi. Lepaskan Sehun."

Seperti biasa, Lu Han begitu pintar menyembunyikan perasaan nya dengan suara datar dan dingin itu. Ia mengambil posisi di sebelah Sehun dan mengambil botol air yang sememangnya sering dibawa oleh Sehun.

" Kau tidak asik, Sehunna. Padahal aku kan hanya bertanyakan apa kekurangan ku sampai kau tidak bisa menerima ku."

Lu Han hampir saja tersedak namun ia dengan pantas mengontrol dirinya. Lelaki itu mengacak surai nya yang basah, menyebabkan Sehun ikut terkena akibat ia mengacaknya.

" Ewww, HanHan. Seragam sekolah ku basah gara-gara keringat mu !" Teriak Sehun histeris. Ia mengeluarkan handuk kecil dan mengelap pelipis Lu Han.

" Jangan dekat dengan ku kalau kau tidak mau terkena keringat ku, Sehun."

" Mau bagaimana lagi ? Hanya aku yang bisa diharapkan untuk mengelap keringat mu, Han."

Jongdae tersenyum lembut melihat kedua interaksi temannya itu. Hahh, sudah jelas keduanya saling mencintai jadi kenapa masing-masing tidak ingin mengakuinya ? Dan Tuhan, sekarang dia bahkan seperti dahan yang tidak dipedulikan di sini. Perlahan ia berdehem kuat.

" Ehhemmmm."

Lu Han meliriknya dibalik anak rambutnya yang basah.

" Kalian kelihatan seperti pacar yang menebar kemesraan di depan teman kalian yang kesunyian ini."

" Kami ti-tidak..."

" Jangan gila, Jongdae. Kami berdua hanya sebatas teman. Sama seperti mu. "

Gerakan Sehun yang mengelap keringat Lu Han sempat berhenti. Rama-rama yang tadinya sempat berterbangan bebas di dalam perutnya seperti ditembak bertubi-tubi.

Jadi, aku akan tetap menjadi sebatas teman, huh ?

Sehun mendengus lemah. Ia menyerahkan handuk kecil itu kepada Lu Han.

" Aku lupa aku harus pulang awal. Ibu mau aku membantunya menyiapkan makan malam. Aku pergi duluan !" Tanpa menunggu sebarang jawapan dari kedua sosok lelaki yang sempat binggung melihatnya tiba-tiba saja berdiri, Sehun berlari selaju yang mungkin. Meninggalkan Lu Han yang mengontrol ekspresi wajahnya. Buktinya rahang lelaki itu berubah keras. Meninggalkan Jongdae yang tersenyum jahil.

" Hey, HanHan. "

Lu Han menoleh ke arahnya dengan tatapan kesal. Sesekali matanya kembali melirik ke arah sosok Sehun yang semakin menghilang dari pandangan.

" Apa ?!"

" Wow, kau kelihatan galak, Han. " Lelaki bermarga Kim itu tercengir. Ia menyimpangkan tangannya di bahu lebar Lu Han. Berbisik tepat di telinga lelaki itu. " Hanya sebatas sahabat, eum ? Tapi kenapa ada yang berbeda di mata mu saat melihat ' teman dekat ' mu itu ?"

" Apa yang kau coba katakan, Jongdae ? "

Lu Han menepis kasar tangan temannya itu. Ia kembali mengelap keringatnya menggunakan handuk yang ditinggalkan oleh Sehun tadi.

" Ayolah, HanHan. " nada Jongdae kedengaran menggoda Lu Han. Seolah lelaki itu mengetahui apa yang tersirat di dalam pikirannya.

" Akui saja perasaan mu dan semuanya akan baik-baik saja. I love you, you love me. We are happy big family ~ " Jongdae sedikit bernyanyi saat mengatakan perkataan terakhir. Masih dengan menatap ke arahnya dengan tatapan jahil.

" Shut the nonsense, Jongdae. Dan jangan memanggilku ' HanHan'. Hanya Sehun yang ku benarkan untuk memanggilku seperti itu."

Lu Han menggapai tas nya sebelum berdiri lalu meninggalkan Jongdae yang masih tersenyum-senyum di sana.

" Ckk, keras kepala !"

####

Terkadang Sehun ingin memeluk Lu Han saat lelaki itu merasakan dia tak punya siapa-siapa di dunia ini.

" Mama, aku ingin ke sebelah. HanHan lagi sakit dan In Jung ahjussi tidak pulang untuk beberapa bulan ke depan."

" Jangan lupa bawa obat, Sehunnie."

Sehun mengimbangkan mangkok bubur yang ada di tangannya dan tas yang dipenuhi dengan obat yang ada di samping kanannya. Menendang pintu utama rumahnya dengan kaki kiri, Sehun memperlajukan langkahnya ke arah rumah di sebelah kanan itu.

" Bibi Kim !?"

Ohh lupa. Bibi Kim lagi bercuti. Aduh, bagaimana...

Kriettt

" Siapa ?"

Sehun memerhatikan sosok sang teman mulai dari kaki sehinggalah ke wajah tampannya yang sedang pucat.

Tanpa kata, ia menerobos masuk. Langkah kakinya terus menuju ke ruangan dapur lalu meletakkan mangkok bubur yang tadinya dibawa. Kemudian ia mengambil baskom dan memenuhkannya dengan air hangat.

" Tidak sopan sekali !"

Seolah tidak mendengarnya, Sehun kembali ke ruang tengah. Meletakkan baskom yang dipenuhi air dan juga handuk kecil itu di atas meja. Tas yang masih bersandeng di bahunya diselongkar.

" Kau sakit dan tidak mengkhabarkan ku ?! Dasar idiot !" Rutuk Sehun sembari menyelupkan handuk itu ke dalam air hangat lalu mulai mengelap wajah tampan Lu Han.

" ..."

" Kau seharusnya tidur di atas kasur. Bukan di atas sofa ini, HanHan. Badan mu bisa makin bertambah sakit. Dan kenapa juga kau tidak membawa selimut lebih ?! Aduh, kenapa teman ku seidiot ini ?"

" Sehun..."

" Bagaimana kalau badan mu makin dingin ? Meskipun kau mempunyai lima heater di dalam rumah, kau tetap masih perlu menggunakan selimut !"

" Hey, Hun..."

" Aku tidak tau kenapa kau membiarkan Bibi Kim mengambil cuti di waktu seperti ini. Kau sendirian di sini dan ..."

" Sehun ! Kau berisik dan kepala ku bertambah pusing."

Sehun sedikit tersentak. Tapi tidak lama ia kembali menekap handuk kecil di dahi panas Lu Han. Ia menghiraukan kata-kata Lu Han barusan dan memilih untuk mengambil bubur yang sudah disiapkan oleh mama nya itu. Gadis itu kembali ke ruangan tengah.

" Kau bisa duduk ?"

" Aku hanya sakit, Sehun. Bukannya menunggu mati."

Pokk

" Auwwww !"

" Kalau kau mau mati, biarkan aku yang memutuskan nyawamu. Tapi bukan sekarang, usia mu masih muda. Sekarang diamlah dan buka mulut mu selebar yang mungkin !"

Lu Han ingin protes - Sehun melihat itu - tapi dia memilih untuk mengalah dan membuka mulutnya. Menelan bubur enak buatan ibu Sehun itu meskipun kerongkongnya terasa sakit saat ia berusaha untuk menelannya.

Baru beberapa suapan, Lu Han sudah menolehkan kepalanya agar Sehun tidak menyuapnya. Petanda bahawa ia tidak ingin meneruskan lagi acara mari-makan-bubur itu.

" Aku sudah kenyang. Aku mau tidur."

Sehun meletakkan mangkok itu. Ia membuka dua pil panadaol dan menyuakannya di depan bibir Lu Han.

" Aku akan ke atas mengambil selimut tambahan."

Sehun buru-buru berlari naik ke ataa dan menangkap selimut milik Lu Han. Ia kembali turun ke bawah dan menyelimutkan Lu Han.

" Jja, aku akan tetap ada di sini. Jadi tidurlah dengan nyenyak."

Lu Han tersenyum lemah. Ia menghulurkan tangannya dengan perlahan, menyentuh surai lembut milik Sehun dengan mata yang hampir terpejam.

" Terima kasih karna selalu ada, Sehunna."

Mungkin gara-gara efek obat, huluran tangan itu terjatuh kembali.

" Idiot, jika aku tak ada, siapa yang akan mengurusmu ?!" Bisik Sehun pelan. Ia memperbaiki letak kedua tangan Lu Han dan menatap wajah tenang Lu Han yang sedang tertidur itu.

" Hahh, kau semakin tampan saat tidur, HanHan. " Sehun memerhati setiap lekukan wajah Lu Han, menghapal setiap ciptaan Tuhan yang indah itu. Bagaimana mata nya yang terpejam erat. Bagaimana nafasnya yang teratur.

Sehun merebahkan pipinya berdekatan dengan sisa sofa yang diduduki Lu Han. Tersenyum lembut melihat wajah pujaan hatinya sedekat ini. Hahh, bahkan jantungnya sudah berdetak tidak karuan semenjak tadi.

Lama ia menatap wajah tenang Lu Han sehinggalah akhirnya gadis itu memutuskan untuk ikut mengikuti Lu Han di alam mimpi. Thank god, besok hari sabtu. Setidaknya Sehun bisa menjaga Lu Han sehingga lelaki itu sihat semula.

Dia baru saja ingin mengatup matanya jika saja suara Lu Han yang bergetar itu tidak kedengaran.

" Eommaa~ eomma."

Sontak matanya terbuka.

" Jangan tinggalkan aku~ "

Suara itu begitu lirih. Begitu takut akan kehilangan.

Dan Sehun tau sekali tentang kejadian yang sudah merenggut ibu Lu Han jauh darinya. Ibunya yang kemalangan dan tidak bisa diselamatkan. Ibunya yang kelihatan parah, menghulurkan tangan kepada Lu Han kecil. Memikirkan kenangan lalu membuatkan Sehun masih bisa merasakan sakit yang amat untuk Lu Han.

Sontak ia mengenggam lembut kedua tangan kokoh Lu Han yang bergetar. Mencoba menyalurkan tenaga nya untuk Lu Han. Mencoba memberitau Lu Han bahawa dia tidak sendirian.

Ada aku di sini. Ada aku yang akan menyalurkan cinta untuk mu agar kau selalu kuat.

Di saat seperti ini, Sehun mengharapkan dia bisa memeluk Lu Han agar lelaki itu tau dia tidak bersendirian di dalam dunia ini.

####

Terkadang, ketika Sehun tidak bisa memikirkan dengan benar, Sehun akan melakukannya !

Sehun akan mengecup Lu Han !

Hari itu, Sehun bersantai di atas kasur milik Lu Han - seperti biasa - sembari membelek majalah Ceci keluaran baru. Ia bersorak saat melihat wajah tampan milik Chanyeol - Idol terkenal - menghiasi cover majalah tersebut.

Setelah beberapa hari selepas Lu Han jatuh sakit, Sehun sering memastikan agar lelaki itu menjaga kesihatannya. Tidak jarang ia membawa makanan yang dimasak oleh ibunya saat Bibi Kim tidak ada di rumah.

Wangian maskulin yang pastinya dari Lu Han membuatkan Sehun melirik ke arah temannya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil di atas kepalanya. Tetesan air dihujung surainya membuatkan Sehun harus menahan air liurnya dari terjatuh.

Ugh, dia tampan sekali.

Sehun sendiri bisa merasakan rona di pipinya mulai menjalar menghiasi wajahnya. Tidak mau dilihat oleh Lu Han, Sehun kembali bersorak ceria menatap wajah tampan Chanyeol.

" Kyaaa, Park Chanyeol tampan sekali. Belum lagi suara deep nya, hahhh, lelaki idaman setiap perempuan !"

Dia tau sekarang pasti suaranya kedengaran bergetar dan konyol. Buktinya temannya itu menatapnya dengan tatapan aneh. Sebelah alisnya naik keheranan.

" Aku baru tau kau menyukai lelaki seperti itu." Suara nya terkesan tanpa emosi.

" Lelaki seperti itu menjadi idaman setiap perempuan, HanHan. "

Yah, mungkin aku tidak termasuk. Karna di mata ku cuma ada kau, Lu Han idiot !

Setelah itu keadaan kembali hening. Sehun mengintip di balik majalah yang dipegangnya dan tersentak saat matanya bertembung langsung dengan sepasang mata yang kelam itu.

Buru-buru dia kembali berpura-pura asik dengan bacaan nya.

Astaga, aku hampir kedapatan !

Beruntung bunyi ponsel lelaki itu berdering kuat meminta untuk diangkat.

" Yeobosaeyo ?"

"..."

" Aku tidak bisa ikut latihan hari ini."

Ohh, dia ada latihan bola basket ?

" Minho, aku sudah bilang dia bukan yeojachingu ku. Dia hanya sebatas teman."

Dorr

Seperti peluru yang menembak jantung nya bertubi-tubi, Sehun berdetak sakit. Ia meletak majalah Ceci itu kembali di atas kasur dengan gerakan lemah.

Mungkin memang selamanya status mereka hanya sebatas teman saja. Seharusnya Sehun tidak mengharap lebih.

Seharusnya Sehun tau Lu Han tidak akan pernah melihatnya lebih dari sebatas teman sedari kecil. Selamanya di mata lelaki itu, Sehun tetaplah hanya teman nya saja.

" Aku tetap tidak bisa."

Sehun menarik nafas panjang sebelum melepaskannya dengan dengusan lemah. Ia beralih untuk berdiri dan memilih untuk pulang saja.

Kau bisa katakan untuk merawat hatinya yang terluka.

Mendengar Lu Han berkata seperti itu seolah menolak nya sekaligus.

Huh, secara terangan lelaki itu tidak bisa menerima nya sebagai seoran kekasih apalagi jika dia meluahkan perasaan ?

Bisa-bisa Lu Han tidak akan pernah berbicara dengannya lagi.

Sehun baru saja ingin melangkah pergi jika tangan Lu Han yang kosong tidak memegang pergelangan tangannya.

" Nanti saja, Minho. Sekarang aku lagi sibuk."

Dia berdiri kaku di depan temannya itu. Menatap wajah tampannya yang tidak pernah gagal mendetakkan jantung nya dengan laju.

Mata kelam dan datar nya menatap Sehun seolah melarangnya daripada pergi.

Sehun tenggelam dalam lautan mata hitam itu. Mencari sinaran agar dia bisa memancarkannya dengan terang.

" Ya, aku -"

Cupp

Bagaikan baru tersadar dari mimpi, Sehun berdiri tegak sembari menekup bibirnya.

Apa yang aku lakukan ?!

Rasa panas mulai menjalar memenuhi setiap sudut wajahnya. Tak ada perkataan yang bisa dikeluarkan.

Barusan itu, Sehun mengecup Lu Han tepat di bibir !

Bahkan saat ia kembali menatap temannya, Lu Han kaku melihatnya. Matanya membulat dan Sehun bisa mendengar si pemanggil mengulang nama nya berulang kali.

Oh tidak.

Aku baru saja melanggar batasan hubungan persahabatan yang sudah terjalin begitu lamanya !

Apa yang sudah aku lakukan ?!

Tidak tau ingin melakukan apa lagi, melihat reaksi lelaki itu membuatkan lutut Sehun melemah.

Lu Han masih bingung. Melihatnya dengan mata nya yang bulat.

Airmata rasanya ingin mengalir begitu saja, Sehun buru-buru menghentakkan tangannya dari pegangan Lu Han.

" Maaf !" Dan bergegas berlari meninggalkan Lu Han yang masih terkejut dengan perlakuannya.

Dia berlari bersama airmata yang mulai mengalir, mungkin menangisi kebodohannya. Dan saat ia membuka pintu utama Lu Han dengan lebar, ia berpapasan dengan Jongdae.

" Sehun, kau kenapa ?!"

Mengabaikan pertanyaan dari teman nya itu, Sehun menepis kedua tangan Jongdae yang memegang kedua pundaknya kemudian berlari secepat yang mungkin ke arah rumahnya.

Dia sudah melakukan perkara bodoh yang selama ini hanya ada di benaknya saja !

Bagaimana aku bisa berdepan dengan nya setelah ini ?

####

" HanHan, apa yang sudah kau lakukan kepada Sehun ? "

Lu Han masih belum bisa beradaptasi dengan apa yang barusan terjadi.

" Dan kenapa dia menangis ?"

Sontak Lu Han mendongak. " Dia menangis ?"

Jongdae menatap nya dengan tatapan menyelidik. " Apa kau sudah melakukan sesuatu yang aneh kepadanya ?"

Lu Han merona saat mengimbas momen beberapa detik yang lalu. Ia menutup wajahnya dari tatapan Jongdae, tidak mau lelaki itu melihat wajah nya yang sedang merona hebat.

Kenapa ? Kenapa Sehun mengecupnya ? Apakah gadis itu juga ikut menyimpan perasaan yang sama sepertinya ?

Huh, emangnya perasaan apa ?

" Atau kau sudah berhasil meluahkan perasaan mu ?!" Jongdae bertanya antusias diiringi dengan mata yang bersinar terang.

Hening

Lu Han tidak menjawap atau bersuara sedikit pun. Lebih memilih untuk memproses setiap kejadian yang baru saja berlaku.

" Oi, aku berbicara dengan mu, HanHan !" Jongdae menendangnya perlahan.

" Diamlah, Kim Jongdae !"

####

Sehun tidak tau bagaimana mau berdepan dengan Lu Han lagi. Matanya sudah puas mengalirkan airmata sehingga membengkak dan membuatkan dia harus menutupinya dengan kaca mata besar milik Seojun, kakak lelaki nya itu.

Semangatnya sudah terbang ke langit. Seumur hidupnya, baru pertama kali dia datang ke sekolah tanpa Lu Han di sisinya. Memangnya apa yang kau harapkan ?

Sehun bisa berbicara seperti biasa dengan Lu Han ?

Sudah pasti tidak !

Demi Tuhan, kemarin dia sudah mencium teman dekatnya ! Setelah itu berlari keluar tanpa menjelaskan apa-apa. Sudah pasti Sehun tidak tau bagaimana mau berbicara lagi dengan Lu Han !

" Kau seperti mayat hidup, Sehunna !"

Sang gadis mendongak lemah. Melirik Baro seketika sebelum kembali menyembamkan wajahnya di atas meja. Tidak mempedulikan teman-teman nya yang melihatnya heran.

Heran kenapa gadis itu tidak masuk ke kelas dengan Lu Han.

" Kau sakit ?"

Sehun menggeleng pelan. Gerakan yang menandakan dia tidak apa-apa. Merasa putus asa, Baro kembali duduk di kerusinya. Meninggalkan Sehun sendirian.

" Kau harus menjelaskan perkara kemarin, idiot !"

" ..."

" Apa yang sudah kau lakukan kepada nya ? "

"..."

Suara riuh di luar kelas itu sedikit sebanyak membuatkan Sehun terganggu namun dia tetap memilih untuk mengistirahatkan seketika matanya yang masih pedih.

" Lu Han ! Kau tidak bisa begini terus ?!"

Sontak matanya membulat. Lu Han ? Dia sudah sampai ? Oh tidak, apa yang harus aku lakukan ? Pura-pura tidur ?

Iya, pura-pura tidur.

Dan Sehun melakukan apa yang dia pikirkan barusan. Mengatup matanya seerat yang mungkin karna dia belum bersedia untuk melihat Lu Han sekarang.

Samar-samar dia bisa mendengar derap langkah yang laju kini menuju ke arahnya. Detik kemudian, kedua pundaknya sudah di pegang kuat oleh sosok lelaki bersurai cokelat. Duh, siapa lagi kalau bukan Drama Queen, Kim Jongdae ?!

" Lihat ?! Kenapa dengan my Sehunnie ? Mata indah mu bengkak dan kau kelihatan jelek, Sehunna ! Apa yang terjadi sebenarnya ?!"

Buat seketika pipi Sehun memanas mengingatkan kejadian kemarin di tambah lagi lelaki yang dia kecup kemarin kini sudah mengambil tempat di sisinya.

" Sehunnie seperti mayat hidup !"

" Jongdae, lepaskan." Ucap Sehun pelan. Ia mencoba melepaskan kedua tangan Jongdae namun nihil. Lelaki itu sibuk memeriksa setiap sudut wajahnya. Tidak peduli dengan teman sekelas mereka yang mulai melihat ke arah mereka dengan keheranan.

" Tidak, aku tidak akan lepaskan sampai kau belum memberitau alasan kenapa matamu bengkak seperti ini, Oh Sehun-ssi !"

Tanpa sadar Sehun memutar bola matanya malas. Tidak mau meladeni sikap berlebihan teman nya itu. Menggunakan tenaga nya yang masih tersisa, Sehun menolak kedua tangan Jongdae menjauh. Kemudian kembali menyembamkan wajahnya ke lipatan dua tangannya. Mengelakkan matanya dari bertatapan dengan mata hitam milik Lu Han.

" Sehun -"

" Duduk di tempat kalian !"

Suara nyaring Jongdae terpotong dengan kehadiran Kim Seonsaengnim yang datang untuk memulaikan pelajaran. Hahh, betapa Sehun ingin mengucapkan ucapan terima kasih nya kepada guru Matematika itu. Berkat darinya, Jongdae sudah melesat ke kerusinya.

Sehun bukanlah bermaksud untuk melirik Lu Han tapi akhirnya mata mereka berdua bertembung.

Blushhh

Buru-buru dia membuang pandang ke luar jendela. menghiraukan bunyi detakan jantungnya yang menggila dan kedengaran terus di telinga nya sendiri.

Tuhan ! Bagaimana aku bisa hidup setelah ini ?!

####

Lu Han benar-benar tidak mempedulikannya.

Seharian berada di sekolah rasanya begitu melemaskan, belum lagi lelaki itu tidak ada tanda-tanda akan bersikap seperti dulu. Seperti sebelum Sehun mengecupnya tepat di bibir !

Sehun menjambak surainya kesal. Memeluk lututnya erat sembari melihat beberapa teman sekelasnya bermain basket bola. Huh, sekarang kan waktu P.E. Dan Sehun tidak punya tenaga mengikuti sikap hyperaktif mereka. Dari kejauhan dia bisa melihat Lu Han asik bermain bola basket. Seperti biasa, lelaki itu kelihatan tampan meskipun di basahi dengan keringat.

Ia menghapus airmata yang ingin menuruni pipinya lagi. Memperbaiki letak kaca mata besarnya agar tak ada siapa pun melihat kondisi menyedihkannya ini.

Grepp

Pundaknya di peluk kemas. Menerusi wangian ini saja bisa Sehun tau. Siapa lagi kalau bukan Kim Jongdae ? Si penyibuk sedunia.

" Wae yo, Sehunna ? Mata mu masih merah dan hidung mu berhingus. Apa kau menangis lagi ?" Suaranya tidak kedengaran mendesak. Lebih kedengaran lembut dan memahami. Sedikit sebanyak Sehun merasa tenang dengan sikap ini. Jongdae hanya berada dalam mode ini jika Sehun atau Lu Han memiliki masalah.

Sehun menggeleng laju. Memejamkan matanya untuk menghapus sebarang bukti kalau dia menangis kemudian menatap Jongdae dengan senyuman paksa.

" Tak ada apa-apa, Jongdae. Hanya sedikit lelah."

Jongdae menusuk pipi nya menggunakan jemari nya. Menusuknya berulang kali sebelum menekup pipi tembamnya.

" Kau tidak bisa berbohong padaku, Sehunna. Matamu mengatakan segalanya. "

Benar, dia tidak bisa membohongi teman nya yang satu ini. Merasa terharu karna Jongdae begitu khawatir padanya plus masalah nya bersama Lu Han, Sehun menangis di situ juga. Tidak menutupi wajahnya dari tatapan hangat Jongdae. Tidak peduli kalau wajahnya yang sedang menangis itu sangatlah jelek. Dia melepaskan segalanya di depan Jongdae. Airmata berjejeran seperti air terjun membasahi wajah cantiknya.

Jongdae hanya diam, memeluk kemas tubuh mungil Sehun sembari mengusap punggungnya, berharap usapan itu bisa menenangkannya sedikit.

" Kau menangis seperti anak kecil, Sehunna."

Sehun malah makin terisak kuat. Membebel perkataan yang tidak bisa ditangkap oleh pacaindera pendengaran Jongdae. Jadi dia memutuskan untuk tetap menenangkan gadis itu sehinggalah dia kembali tenang.

Matanya mencari sosok Lu Han dan menjeling tajam ke arah lelaki itu yang sedang melihat ke arah mereka. Ekspresi nya tidak datar seperti selalu. Lebih kepada marah dan kesal.

Nanti saja kau, Lu Han idiot ! Akan ku habisi kau karna menyakiti Sehunnie ku !

####

Dorr

Pintu kamarnya terbuka kasar dan menampakkan sosok Jongdae dengan ekspresi kesal. Tanpa satu kata, lelaki itu menarik kerah milik nya dengan kasar. Membawanya berdiri dari kasurnya.

" Kau membuat dia menangis, Lu Han !"

" Kau tidak akan mengerti, Jongdae."

Genggaman pada kerahnya semakin kuat. Seolah Jongdae melampiaskan kemarahan nya pada pegangan itu.

" Buat aku mengerti. "

Hening.

Lu Han tidak memilih untuk melihat ke arah lelaki itu. Dia lebih memilih untuk melarikan pandangannya kepada setiap sudut kecuali ke arah Jongdae.

Lima detik kemudian, Lu Han akhirnya mengalah.

" Aku mencintai Sehun."

Sontak pegangan itu longgar. Pandangan Jongdae yang tadinya penuh amarah kini berubah bersinar.

" Tapi kenapa kau membuatnya menangis ?"

Dengusan lemah lolos dari Lu Han. " bisa kah setidaknya kau melepaskan pegangan mu ? Aku tak bisa bernafas dengan benar seperti ini."

" Opps, sorry. Hehehe." Jongdae terkikih pelan. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur milik Lu Han. Menunggu kata-kata seterusnya keluar dari Lu Han.

" Tapi aku takut, Jongdae. Aku takut untuk mengakuinya."

Jongdae mendengus sok dramatis. Ia mengubah posisinya dan menatap ke arah Lu Han yang berdiri di samping jendela kamarnya.

" Tak ada yang perlu ditakutkan, Lu Han. Cinta itu sememangnya sudah natural. Kau jatuh cinta dan mengakuinya, apa yang menyeramkan di sana ?"

" Aku takut Sehun akan pergi meninggalkan ku jika aku mengatakan aku mencintainya. "

" Apa kau idiot atau apa ? Hargh, aku tidak mengerti dengan kalian berdua. Saling mencintai tapi tidak mau mengakuinya. "

Lu Han mendengus lemah.

" Bagaimana kalau cinta ini tidak selamanya ? Aku... aku tidak mau kehilangan Sehun. Setidaknya dengan menjadi teman nya bisa membuatkan kami berdua bersama selamanya. "

Jongdae melempar bantal empuk milik Lu Han tepat di wajah si pemilik bantal. Rutukan kesal kedengaran.

" Kau mengkhawatirkan perkara yang tidak penting. Seharusnya kau memberi peluang kepada cinta yang ada dalam hati kalian berdua untuk berkembang mekar. Biarkan waktu yang menjadi bajanya. Aku yakin Tuhan sudah mentakdirkan kalian berdua, Lu. Sehun ada karna kau ada begitu juga sebaliknya."

Lu Han memproses apa yang barusan dibicarakn oleh temannya itu. Mengimbas semua kenangan nya bersama Sehun.

Sewaktu dia baru saja berpindah ke perumahan ini dan disambut dengan salam perkenalan serta senyuman semanis madu dari Sehun.

Sewaktu dia kehilangan ibunya dan Sehun datang kepadanya meskipun dia tidak menangis histeris. Namun dia hanya mampu menetes kan airmata di depan Sehun.

Sewaktu mereka berdua memasuki sekolah yang sama ditemani dengan sikap ceria Sehun.

Sewaktu mata mereka bertembung dan senyuman otomatis terukir di bibir Sehun yang khusus untuknya.

Sewaktu Sehun mengecupnya dua hari yang lepas, bagaimana kecupan itu berhasil menerbangkan semua rama-rama dalam perutnya.

Hahh, betapa Sehun memang hanya ditakdirkan untuknya.

Seolah baru tersadar dari mimpi panjang, Lu Han bergegas memegang kedua tangan Jongdae.

" Kau harus membantu ku, Jongdae !"

" er.. okay. Tapi sebelum itu, bisakah kau melepaskan tangan ku ? Aku meremang dengan sikapmu yang tiba-tiba, Lu !"

Sontak Lu Han melepaskan gengamannya dan tersenyum konyol.

" Baiklah, apa rencana mu ?"

####

Sama seperti hari-hari kemarin, Lu Han masih tidak mempedulikannya.

Dan hatinya masih sama.

Mencintai Lu Han, pada masa yang sama, terluka dengan sikap lelaki itu.

Jongdae sudah lama pergi bersama Lu Han begitu bel berbunyi. Menyisakan nya sendirian di ruang kelasnya itu.

Menggapai tas nya dengan lemah, Sehun berjalan longlai keluar dari kelas. Menerusi koridor sekolah yang sunyi dan menuju ke lemari simpanan kasut untuk menukar kasutnya.

" Oh Sehun ?"

Sehun menoleh lemah ke sumber suara itu.

Seorang lelaki yang memiliki rambut hitam yang disisir rapi menampakkan dahi mulusnya. Mata nya bulat seperti perempuan. Namun, Sehun bisa melihat otot lelaki itu menerusi lapisan seragam sekolahnya. Dan Sehun tau sekali siapa lelaki di depannya ini.

" Nde, Minseok sunbaenim ?"

" Kau mengenali ku ?" Riak wajah tampan itu kelihatan kaget.

Huh, bagaimana dia tidak mengenali lelaki itu.

Kim Minseok, kakak kelasnya yang kaya dan populer di kalangan gadis di sekolah. Terkenal dengan wajah tampannya dan sikap nya yang tidak pernah sombong. Setiap minggu mendapat luahan perasaan dari gadis. Sangat pintar dan mahir dalam sepak bola.

Lelaki itu memang menarik.

Tapi masih tidak mampu untuk menarik perhatiannya dari Lu Han.

" Kenapa, sunbaenim ? Ada yang bisa aku bantu ?"

Lelaki itu kelihatan gelisah dan samar-samar Sehun bisa melihat pipinya merah. Ahh, dia jadi ingat kejadian itu lagi.

" Aku punya sesuatu yang penting untuk mu."

Sehun memperbaiki tasnya. Menatap lelaki itu dengan bingung. Sebenarnya dia ingin terus pulang saja tapi melihat wajah tampan kakak kelasnya yang sedang gelisah itu membuatkan dia tidak sampai hati.

" Aku-"

" Ya, sunbaenim ?"

Minseok menarik nafas panjang dan menatap tepat kearahnya.

" Aku sudah lama menyukaimu, Oh Sehun. Dan aku ingin kau menjadi kekasih ku !"

Sontak matanya membulat.

Ehh ?

Apa yang dia dengar barusan adalah benar ?

Kim Minseok, lelaki populer di sekolah sedang meluahkan perasaan kepadanya ?!

" Apa ?"

" Kau tak perlu menjawab nya sekarang. Ambil waktu sebanyak yang kau inginkan." Dia masih kelihatan gelisah dan merah di pipinya makin menjadi-jadi.

Bagaimana ?

Apa yang harus dia katakan ?

Tapi Sehun mencintai Lu Han.

Mencintai lelaki yang tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman saja.

Dan didepan nya ada lelaki yang menyukainya. Bersedia untuk menutupi luka di hatinya.

" Maaf, sunbae. Aku-aku tidak yakin untuk berhubungan dengan mu. "

" Sehunna, kau tak perlu menjawapnya sekarang. Aku sudah lama menyukai mu dan berharap kau bisa memberikan jawapan yang baik. Jadi, jangan menjawap nya sekarang. Atau apa kau mempunyai seseorang yang kau sukai ?"

Mempunyai seseorang yang disukai, eum ?

Ada, tapi lelaki itu tidak akan pernah melihat ke arahku lebih dari sekedar teman saja.

" Aku mempunyai seseorang yang aku cintai, Sunbaenim. Tapi dia tidak akan pernah melihat ke arahku. " ucapnya disertakan dengan senyuman yang menyedihkan. Matanya sudah memanas.

Hahh, kenapa dengan mengingatkan Lu Han saja bisa membuatkan dia seperti ini ?

" Aku-aku bisa menjadi tempat untuk kau melupakan nya."

Perkataan itu membuatkan Sehun mendongak kaget.

Melupakan Lu Han ?

Apa dia bisa ? Melupakan lelaki yang ia cintai selama ini. Selama hidupnya 17 tahun. Bisakah dia melupakan lelaki itu begitu saja ?

" Aku tidak tau, sunbaenim. Aku tak tau apa aku bisa melupakan nya begitu saja. Dia lelaki yang sangat berbeda dengan mu. Dia... dia lebih dingin. Tidak pernah tersenyum lebar ataupun bergaul dengan teman sekelas yang lain. Dia mudah jatuh sakit kalau kehujanan dan begitu keras kepala. " sebak di dadanya semakin menyakitkan. Pikirannya hanya dipenuhi Lu Han, Lu Han dan Lu Han. " Meskipun begitu, dia hanyalah lelaki yang lemah. Lelaki yang butuh perhatian. Lelaki yang tidak mau menunjukkan kelemahan nya kepada orang lain kecuali aku. Aku-" tes. Tes. Airmata membanjiri wajahnya. Hahh, beberapa hari ini dia bertukar menjadi gadis cenggeng gara-gara Lu Han sialan itu. " Aku hiks, aku tidak bisa melupakan nya begitu saja. Dia... dia cinta pertamaku. Meskipun dia tidak akan pernah membalas perasaan ku. Aku-"

" Sehun.."

Grepp

Sepasang tangan memeluknya dari belakang. Mendorongnya masuk ke dalam dada bidang seseorang yang Sehun sangat familiar. Bisa diketahui dari wangian yang Sehun rindukan beberapa hari ini.

" Maaf, sunbaenim. Dia milikku dan aku belum dan tidak akan pernah melepaskan nya kepada siapa pun."

Bahkan suara dalam dan datar itu juga terlalu Sehun rindukan.

Kakak kelasnya itu mendesah lemah sebelum akhirnya mengalah dan memilih untuk pergi. Sehun hanya bisa mendengar ' Aku akan merampasnya darimu jika kau membuatnya kembali menangis !' Dari Minseok sebelum isakan nya kembali kedengaran.

" Sehun..."

Sehun meronta kasar sehingga akhirnya di lolos dari pegangan itu. Masih tetap membelakangi Lu Han. Tidak mau lelaki itu melihat wajahnya yang berantakan. Lagian, semua ini disebabkan dia !

" Sehun, maafkan aku. "

Sehun menggeleng kasar. Seenaknya lelaki itu memperlakukannya seperti ini setelah dia tidak mempedulikannya beberapa hari yang lalu. Memang pada awalnya semua itu salah nya. Salahnya karna mencium lelaki itu dengan seenak jidatnya. Tapi Lu Han tetap saja tidak berhak mempermainkannya seperti ini kan !

" Aku mau pulang ! Jangan ganggu aku !"

Seolah tidak mendengar apa yang ia katakan, Lu Han beralih mengenggam halus pergelangan tangannya dan menariknya pergi.

" Lepaskan, Lu ! Lepas, idiot !"

" ..."

Tanpa suara Lu Han tetap menariknya. Mengabaikan pukulan yang dilemparkan untuknya. Mengabaikan teriakan nya yang meminta untuk dilepaskan.

Cengkaman itu terlepas begitu mereka sampai di dalam sebuah kelas yang Sehun yakin kelas musik. Beberapa peralatan musik terdampar di sana. Ia menunggu Lu Han untuk berkata namun lelaki itu tetap saja diam. Pada akhirnya, Sehun memutuskan untuk pergi saja.

Sampai kapan pun dia tidak akan pernah tau apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran lelaki itu.

I may seem strong

I may be smiling

But there are many times when I'm alone

I may seem like I don't have any worries

But I have a lot to say

Detingan piano mengisi ruangan itu dan suara merdu Lu Han menerpa telinganya. Mencairkan kekerasan di hatinya.

Perlahan Sehun menoleh kebelakang. Kaku di tempatnya saat melihat Lu Han menyanyi dengan menatapnya dengan tatapan hangat dan dipenuhi dengan cinta ? Dan kapan Jongdae ada di di sana dengan tersenyum - seperti biasa - ke arahnya sambil terus memainkan piano. Hahh, dia selalu tau Jongdae mempunyai bakat dalam seni.

The moment I first saw you, I was so attracted to you

I didn't weigh out my thoughts and just talked

The answer is you

my answer is you

I showed you my everything

You are my everything because I was so sure

I should've be more careful

I should've saved myself

So I wouldn't get heart

I've never felt like this before, like my breath will stop

Sehun berdiri kaku di sana. Tak tau apa dia harus menerpa untuk memeluk lelaki itu atau diam di tempatnya, menunggu Lu Han menghabiskan nyanyiannya. Jejak airmata masih kelihatan namun dia tidak peduli. Baginya, saat ini suara Lu Han adalah segalanya.

Tidak.

Lu Han adalah segalanya.

My head is filled with thoughts of you

Your face, the sound of you laughter

The answer is you

My answer is you

I showed you my everything

You are my everything because I was so sure

I couldn't say that I've waited for you

So I'm writing then erasing

Being curious about your day takes up all of my day

I'll wait for you, you, you

Open your heart, you you

I can't help my heart

You are my everything

Tangisan bahagia kini mengalir. Perlahan, seiring dengan nyanyian itu, Lu Han mendekatinya. Dengan wajah tampannya yang bersinar gara-gara sinaran matahari jingga yang memasuki ruangan itu membuatkan dia kelihatan berbeda.

Tapi dia tetap sama.

Lu Han yang dia cintai.

It'll be forever, my love

Don't leave, just let me stay by your side

No matter how much I think about it

Because it's you

Cupp

Dahinya dikecup hangat. Menyalurkan segala perasaan yang tidak diterungkapkan oleh Lu Han. Perasaan yang terkubur lamanya.

The answer is you...

Begitu dentingan piano semakin kedengaran perlahan, Lu Han mendekapnya. Mengusap kepalanya sayang. Perlahan kedua tangan mungil Sehun membalas pelukan itu. Menyembamkan hidung mancungnya ke dada bidang lelaki itu.

" Be mine, Sehunna. Maafkan aku karna tidak jujur dengan perasaan ku selama ini."

Tangisannya makin kedengaran. Membiarkan Lu Han melihat sisi nya yang jarang ia tunjukkan itu. Jongdae sudah lama pergi, menyisakan mereka berdua diiringi dengan senyuman hangat dari temannya itu.

" Aku sudah lama mencintai mu tapi tak mau mengakui perasaan ku selama ini. Jadi, sekarang aku akan menebuskannya. Jadilah teman dan juga kekasih ku. "

Perlahan Sehun mendongak. Tidak peduli airmata yang membasahi wajahnya dan hidungnya yang berhingus. Ia tersenyum dalam tangis saat melihat Lu Han merona hebat. Mata kelam nya dilimpahi cahaya.

" Jangan menatap ku lama-lama. "

Bukannya mendengar, Sehun malah malar menatapnya.

" Berikan jawapan mu dan berhentilah menangis ! Kau seperti anak kecil !"

" Tentu saja aku mau, idiot !"

Lu Han tersenyum. Kelihatan begitu manis sekali sehingga berhasil menerbangkan rama-rama di dalam perut Sehun. Ia menangis lagi, tertawa dalam tangisannya saat melihat Lu Han panik dengannya.

" Kenapa kau malah bertambah menangis ?! Hentikan tangisan mu !"

Tangan kanan Sehun naik untuk menyapu airmata nya namun Lu Han menahannya. Lelaki itu malah mengelap airmata nya mengunakan lengan bajunya. Tersenyum hangat sembari mengucapkan kalimah yang selama ini ia nantikan.

" Aku mencintaimu, Sehunna."

####

Romance in high school ! Wohoo, karna banyak yang kesal gara-gara chapter angst Chiey,Chiey nulis romance nih .

Bagaimana ?

Chiey tidak pakar dalam perkara romantis. Jadi maaf deh kalau ada kekurangan.

Lastly, let me know apa yang kalian pikirkan tentang chapter ini.

Kiss&Hugs.