"Bibi! Apakah ini cocok untukku?" kata Renjun sembari memakai jepitan di rambutnya
"Hmm... menurutku ini lebih cantik" kata Taeyong dan memakaikannya ke rambut Renjun
"Nona, kau sangat pintar memilih jepitan itu. Dia terlihat lebih manis dan cantik" puji penjual jepit
"Baiklah aku mau yang ini Bi!" ujar Renjun dengan cengiran lebarnya
"Bibi aku ambil yang itu, terimakasih"
Setelah membayar Taeyong mengajak Renjun menuju tempat dimana banyak sekali bunga dan ada pohon sakura di setiap jalannya. Renjun sangat senang dan berlarian di hamparan bunga dan Taeyong hanya bisa tersenyum melihat tingkah keponakannya sembari menikmati pemandangan gugurnya bunga sakura yang menenangkan perasaannya untuk saat ini.
"Ternyata kau suka kesini Taeyong"
"Putera Mahkota, sedang apa tuan disini?"
"A-Aku hanya ingin mengambil beberapa bunga sakura untuk Puteri Doyong"
Mendengar pernyataan yang menohok hatinya, Taeyong pun hanya diam dan menghampiri Renjun yang ternyata sedang merangkai bunga hingga menjadi mahkota bunga. Sebenarnya Jaehyun datang kemari karena tidak sengaja melihat Taeyong dan Renjun di pasar sehingga dia mengikutinya diam-diam sampai sini.
"Wah cantik sekali mahkotanya" ujar Taeyong riang
"Ini akan lebih cantik jika Bibi memakainya"
Renjun memakaikan mahkota bunga tersebut ke kepala Taeyong dan memekik girang karena memang sangat cocok untuk Taeyong.
"Bibi kau terlihat seperti Yang Mulia Ratu" ucapnya girang
"Benarkah?" ujar Taeyong sembari berpose layaknya Ratu di hadapan Renjun lalu tertawa bersama
Jaehyun yang melihat interaksi Taeyong dengan anak kecil tersebut tersenyum senang. Jaehyun pun membayangkan Taeyong dengan dirinya bermain di hamparan dengan anak mereka yang lucu dan im- tunggu, apa yang dia pikirkan? Dia baru menyadarinya bahwa sebentar lagi dia akan menikah dengan Doyong mungkin beberapa bulan lagi saat menginjak umur 23 tahun.
"Kenapa kau masih ada disini Yang Mulia" ujar Taeyong membuyarkan lamunannya
"Apa?"
"Kau bilang kau ingin mengambil bunga sakura untuk Puteri?" ucap Taeyong datar
"Ah aku sedang tidak ingin" ujarnya dan langsung pergi dari tempat tersebut
Dasar Jaehyun aneh batin Taeyong dan bermain lagi dengan Renjun hingga mereka pun terpaksa pulang karena Luhan menemukan mereka bermain di hamparan bunga hingga larut sehingga dengan terpaksa dia menjewer telinga Taeyong dan Renjun hingga ke paviliun barat.
...
"P-Panglima Lee! Ada yang gawat!" seru prajurit penjaga yang ada di pos depan desa
"Ada apa?"
"Prajurit di perbatasan dengan kerajaan Silla datang dengan keadaan terluka parah dan dia ingin bertemu dengan Anda untuk menyampaikan berita dari kerajaan Silla"
"Baiklah aku akan segera ke sana, dan tolong panggil Kapten Lee" ucapnya dan dengan tergesa-gesa Xiumin menuju barak prajurit
"Nona Lee!" panggil prajurit tersebut
"Ada apa? Kenapa kau pucat?"
"Anda harus segera ke barak prajurit Nona, karena ada prajurit yang terluka parah"
"Bagaimana bisa? Baiklah kita menuju ke sana secepatnya"
Taeyong dan prajurit tersebut langsung menuju barak prajurit dengan perlengkapan tabibnya. Sesampainya di barak, Taeyong langsung menuju tempat tidur prajurit yang terluka parah dan mulai mengobatinya dengan seksama.
"P-Panglima, saya ingin menyampaikan berita dari kerajaan Silla. Mereka ingin mulai menyerang kita karena pasokan kebutuhan untuk penduduk di sana tidak sampai tuan" kata prajurit yang terluka dengan terbata-bata
"Apa? Bagaimana bisa? Bukannya setiap bulannya kita selalu mengirim pasokan kebutuhan untuk mereka?" ujar Xiumin yang mulai emosi
"Benar tuan, prajurit pengawal pun selalu mengantarnya. Namun kerajaan Silla mengatakan bahwa barangnya tidak sampai di kerjaan selama 6 bulan ini tuan"
"Pasti ada hambatan selama perjalanan. Taeyong kita harus membicarakan ini dengan Raja"
"Benar kak, mari"
Taeyong dan Xiumin berangkat menuju istana utama untuk menemui Raja. Setelah mereka bertemu dengan Raja, mereka langsung memulai rapat dengan pengurus kerajaan lainnya terutama bagian pemasok kebutuhan kerajaan Silla dan Jaehyun pun diundangn dalam rapat tersebut.
"Yang Mulia, ada apa gerangan engkau mengadakan rapat mendadak seperti ini?" ujar salah satu pengurus kerajaan
"Panglima Lee berkata, ada permasalahan yang terjadi di perbatasan dengan kerajaan Silla. Panglima Lee, silahkan jelaskan permasalahannya" tegas Raja
"Yang Mulia, prajurit menyampaikan pesan dari kerajaan Silla bahwa pasokan kebutuhan untuk warga kerajaan Silla tidak sampai ke mereka selama 6 bulan lebih Yang Mulia" ujar Xiumin
"Itu tidak mungkin!" sergah pengurus bagian pasokan kebutuhan untuk kerajaan
"Saya yakin sudah mengirimnya setiap bulan, seperti yang Anda minta Yang Mulia" tambahnya
"Saya juga berpikir seperti itu, kita tahu sendiri bahwa setiap bulannya kita mengirimkan pasokan tersebut dengan rutin. Kenapa selama 6 bulan ini bisa tidak tersampaikan?" ucap Jaehyun
Mereka yang ada di ruangan tersebut berfikir keras tentang permasalahan in karena hal ini tidak lazim terjadi. Taeyong berfikir sangat keras sehingga mengerutkan keningnya dan Jaehyun yang melihatnya hanya bisa tersenyum geli namun langsung terdiam, ingat dia akan menikah beberapa bulan lagi.
"Saya ada usulan, Yang Mulia. Mungkin dengan cara ini kita bisa mengetahui siapa dalang dari hilangnya pasokan selama 6 bulan ini" ucap Taeyong
"Bagaimana Kapten Lee?" tanya Raja penasaran
"Perhitungan saya, pengiriman pasokan akan dilaksanakan 2 hari lagi. Saya akan mengawalnya dengan menyamar sehingga saya bisa dengan mudah untuk mengetahui siapa dalangnya karena saya yakin banyak yang tidak mengetahui wajah saya" jelas Taeyong
"Tetapi apakah itu tidak berbahaya Kapten Lee?" tanya Jaehyun
"Saya rasa tidak tuan, Anda melihat sendiri kemampuan saya bukan? Saya rasa ini bukanlah masalah yang berat. Jika saya tidak dapat melawannya, saya akan memberikan tanda meriam merah di langit untuk mempermudah komunikasi antar pos"terang Taeyong dengan strategi yang terlintas di benaknya
"Sehingga pasukan Hwarang dan Wonhwa akan berjaga di pos di desa, di perbatasan jangan ada pasukan apapun agar tidak menimbulkan kecurigaan pada pelaku. Di pos penjagaan, akan saya tugaskan seseorang untuk melihat tanda yang mungkin akan saya munculkan sehingga dia akan memberitahu pasukan untuk menyusul pasokan sedangkan saya akan berusaha untuk melawan mereka dengan sebisa saya" lanjutnya
"Baiklah, usulan Kapten Lee saya terima. Apakah ada yang keberatan dengan keputusan saya?" tanya Raja
"Yang Mulia, apakah tidak bahaya jika Kapten Lee di tugaskan sendiri? Saya mengajukan diri untuk ikut serta dalam misi ini bersamanya" ucap Jaehyun
"Tuan, ini akan sangat berbahaya bagi tuan karena banyak yang mengetahui wajah Anda. Sebaiknya Anda tidak perlu ikut dalam misi ini" ujar Taeyong
"Tidak bisa! Aku tetap akan turut serta atau kita batalkan saja misi ini" kata Jaehyun dengan sedikit penekanan
"Aku tau bahwa kau tangguh tetapi kau tetap saja perempuan, maka aku akan membantumu" lanjutnya
"Baiklah, Putera Mahkota akan mendampingi Kapten Lee dalam misi ini. Sudah kita putuskan, silahkan melakukan persiapan untuk misi ini" putus Raja
"T-Tetapi Ya-"
"Yongie jangan membantah" bisik Xiumin
Taeyong pun hanya pasrah dengan keputusan Raja, padahal dia melakukan ini sembari menjauh dari Jaehyun sementara karena pertahanannya untuk tidak jatuh hati lagi kepada Jaehyun mulai runtuh perlahan seiring waktu.
...
"Puteri Doyong, Ratu meminta untuk bertemu Anda" ujar salah satu dayang istana
"Baik, terimakasih" kata Doyong sembari menuju tempat Ratu berada
"Yang mulia Ratu, ada kepentingan apa Anda hingga memanggil saya kemari?" tanya Doyong
"Tidak apa, aku hanya ingin berbincang dengan calon menantuku. Duduklah"
"Kau teman main Kapten Lee kan? Bagaimana menurutmu Taeyong sekarang?"
"A-Ah saya rasa Kapten Lee sangat menawan dan pandai dalam melakukan apapun Yang mulia. Ada apa Yang mulia bertanya hal tersebut?" tanya Doyong penasaran
"Aku hanya ingin tau pendapatmu saja" ucap Ratu penuh teka-teki bagi Doyong
"Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan menggantikan posisimu meski aku ingin. Aku hanya ingin menjodohkannya dengan sepupu Jaehyun, Pangeran Yuta dari kerajaan Silla" lanjutnya dengan angkuh
Mendengar itu, Doyoung mulai gelisah bahwa dia mungkin saja akan tergeser jika Taeyong tetap berada disini karena Ratu mulai berpaling darinya dan Doyoung tak dapat membiarkan kedudukannya sebagai calon Ratu nantinya tersisih dan Jaehyun yang akan jatuh ke tangan Taeyong. Karena dari dahulu Doyoung memang tidak bisa menang dari Taeyong, hanya dengan ini Taeyong dapat dikalahkannya, karena Taeyong tidak se-ambisius dirinya untuk menjadi Ratu dan istri Jaehyun.
...
Persiapan untuk melakukan misi sudah dimatangkan dan malam ini mereka akan memulai misi tersebut. Seluruh prajurit sudah dalam posisi masing-masing dan Taeyong memberikan arahan dari rencananya kepada Hwarang. Taeyong tidak main-main dengan tindakannya yang mungkin saja membahayakan nyawanya belum lagi dengan menjaga Putera Mahkota yang keras kepala.
"Maksud kapten kita hanya menunggu di pos pengintai paling luar? Kenapa tidak mendampingimu? Bagaimana jika kau terluka?" tanya Moonbin
"Aku akan didampingi oleh Putera Mahkota, aku akan baik-baik saja" jawab Taeyong tegas
"A-Apa?! Bukannya kita yang seharusnya menjaga Putera Mahkota?" tanya Soonyoung
"Aku juga yang akan menjaganya, kalian hanya perlu fokus dengan tanda yang mungkin akan aku berikan saat aku tidak sanggup melawan"
"Kapten, itu sangat berbahaya!" seru Soonyoung tidak terima
"Kalian meremehkanku karena aku wanita?!" teriak Taeyong dengan wajah cemberutnya
Manis sekali – batin Soonyoung
Aku jadi ingin menikahinya – batin Yongguk
Jika saja aku tidak menikah dengan Eunwoo bisa saja aku terpikat – batin Moonbin
Aku ingin menjadikannya kakakku! – batin Eunwoo
Ah jadi merindukan adikku – batin Himchan
Bahaya, Soonyoung bisa saja berpaling dariku – batin Jihoon
"Baiklah terserah kau saja kapten" ujar Jihoon santai
"Kalian sudah mengerti rencananya, jadi silahkan bersiap dan laksanakan!" tegas Taeyong
"Baik!" jawab pasukan Hwarang beserta Wonhwa serempak
TBC
