# My red thread of destiny.
# Lu Han, Sehun, Baekhyun # Hurt / Angst # Drabble prompt : Memutuskan hubungan itu tidak mudah. Apalagi jika kekasih yang sangat kau cintai.

Note : Sehun!GS, Seputar kisah bagaimana perasaan orang yang memutuskan dan diputuskan.

Sehun menatap intens ponsel putih yang berada di genggamannya. Tidak lama, pandangannya berubah sayu. Ia tidak ingin mengakuinya tapi jauh di lubuk hati yang paling dalam.. dia merindukan sepasang mata mirip rusa yang sering menatapnya sayang.

Namun kini, mata itu seolah bukan untuknya lagi. Pandangan itu, sudah tidak ada lagi untuknya.

Mendesah lemah, ia menyandarkan kepalanya di ranjang. Posisinya yang sedang duduk di sebelah ranjang, kamar yang tidak diisi dengan cahaya. Sehun benar-benar mirip gadis yang baru saja putus cinta. Meskipun hakikatnya hubungan cintanya bersama Lu Han masih berjalan. Tapi semuanya seperti hambar.

Hubungan yang dulunya dihiasi dengan cinta kini berubah seratus persen.

Menatap dinding langit kamarnya, ia mengimbas kembali momen momen indahnya bersama Lu Han.

Bagaimana sehabis kuliah, Lu Han akan datang mengambilnya. Dengan senyuman semanis madu, Lu Han kelihatan bercahaya. Sehun sering merasa iri melihat bagaimana senyuman itu selalu bisa menenangkan hatinya yang sedang kacau.

Ia mengimbas bagaimana Lu Han selalu memegangnya erat. Seolah ingin dunia tahu bahawa dia adalah milik Lu Han dan tak ada satupun yang bisa mengambilnya.

Senyuman hadir tanpa sadar saat imbasan di mana lelaki itu sibuk mempoutkan bibirnya sepanjang hari hanya karna Sehun terpaksa membatalkan pertemuan mereka gara-gara tugasan.

Imej-imej Lu Han seolah bermain di mindanya. Menyesakkan dadanya, membuatkan matanya terasa panas, membiarkan rama-rama yang sering berterbangan di dalam perutnya mati secara perlahan. Sehun memeluk lutut, membenamkan wajahnya dan bahunya mulai bergetar.

Bagaimana ?

Bagaimana hubungan yang dulunya hangat kini berubah dingin.

Bagaimana pandangan hangat itu tidak ada lagi untuknya.

Malam itu, buat pertama kalinya Sehun menangis. Merintih sehingga akhirnya ia tertidur dengan posisi yang cukup menyakitkan...

Bunyi gesekan kasut di atas gelanggang bola basket, angin malam yang sedikit dingin namun tidak mengoyahkan semangat nya untuk tetap bermain bola orange itu. Keringat sudah lama mengalir di pelipis dan potongan lehernya.

Saat bola itu masuk ke dalam jaring, Lu Han membaringkan tubuh lelahnya. Menatap langit kelam yang dihiasi bintang sambil cuba mengatur nafasnya yang tidak teratur.

Kenapa rasanya ada yang kurang ?

Ada yang kosong.

Di dalam hatinya, ada lubang yang kosong. Dan tidak kira betapa lelahnya ia, Lu Han tetap tidak bisa memikirkan bagaimana lubang itu bisa hadir.

Dan saat satu senyuman, satu tawa, satu sosok hadir, ia bisa merasakan lubang itu mengecil meskipun tidak tertutup secara sempurna.

Ia membawa lengan kirinya untuk menutup matanya. Tidak ingin pikirannya melayang jauh karna ia bisa merasakan pelipisnya berdenyut.

Ungkapan ' Maafkan aku' atau ' Aku masih mencintaimu tapi tidak bisa meneruskannya ' , seolah tersekat di kerongkongnya. Meskipun ia mencoba sedaya upaya menghidupkan kembali cahaya dalam hubungan mereka yang mulai retak, Lu Han tetap tidak bisa seenaknya menyuarakan setiap apa yang terbuku di dalam hatinya.

Dia sendiri tidak tahu di mana silapnya. Di mana salahnya sehingga hubungan yang dulunya sangat ia cintai itu kini berubah seratus.. tidak lebih tepat dua ratus persen berubah total. Dan Lu Han buntu memikirkan bagaimana ingin mengatur hubungan ini.

Ia masih bisa jelas melihat raut terluka di wajah cantik yang sering ia puja itu saat dirinya sendiri menolak setiap permintaan untuk bertemu. Menggunakan setiap alasan agar lubang di hatinya tidak membesar melihat raut terluka tersebut.

Namun, saat ia mencoba melakukan sesuatu atau apapun, ia seolah tertahan. Tertahan apabila momen indah mereka bermain di depan mata seolah filem lama.

Sejujurnya Lu Han masih mencintainya, Sehun. Iya, dia sangat dan sangat mencintai gadis itu. Hell, even all of her. Lu Han mencintai semuanya. Rambut hitamnya yang sehalus sutera, hidung mancung yang sering berubah merah saat cuaca dingin, mata cokelat yang memancarkan kepolosan dan keindahan, bibir tipis yang sering mengerecut kedepan saat ia berbicara, tawa indah yang sering mempompa adrenalinya melaju, sentuhan halus yang selalu berhasil menenangkan nya dan... dan haruman citrus serta bunga yang manis yang sudah sebati dalam dirinya.

Lu Han mencintainya.. Dan mungkin masih mencintainya.

Tapi entah di mana silapnya, hubungan ini.

Tanpa sadar, setetes air asin keluar dari hujung mata rusanya.

' Mungkin penghujung kisah cinta ini sudah tiba...'

Suasana kafe itu menyenangkan dan lumayan.

Melodi yang indah, kehangatan yang cukup selesa dan hot choco nya juga enak.

Sehun menekapkan kedua telapak tangannya pada gelas putih yang berisi hot choco kesukaannya itu. Mafela putih masih setia melilit di lehernya, di luar kafe, salju putih menghiaskan setiap permukaan. Seolah lukisan putih yang mengagumkan. Orang-orang yang melalui jalanan, semuanya pada menggunakan pakaian tebal. Mengekalkan suhu mereka untuk tetap normal meskipun nyatanya masih saja dingin.

Perlahan Sehun kembali menghirup minuman hangat itu, membiarkan tengkoroknya hangat dengan cokelat favoritnya.

Saat ia kembali ingin memerhatikan keadaan di luar, hatinya menghangat.

Di sana, ada sosok yang begitu ingin ia capai. Begitu ingin dibawa masuk ke dalam pelukannya namun Sehun khawatir, ia khawatir sosok itu akan menolaknya.

Sosok Lu Han yang sedang merempuh salju putih, hidung mancungnya tenggelam ke dalam mafela kelabu - bukankah itu pemberian Sehun saat ulangtahun nya ? - sementara jaket panjang menghiasi tubuh atletisnya. Hahh, sudah berapa lama hatinya tidak merasa hangat dengan perasaan indah ini ?

Dentingan loceng berbunyi saat sosok itu memasuki kafe tersebut. Mata rusanya mencari sosok Sehun dan saat pandangan mereka bertemu, ia melangkah ke arah nya.

Hahh..

Dia di sana.

Terasa dekat tapi jauh untuk digapai.

Sehun meluruskan pandangannya, memerhatikan sosok itu meskipun nyatanya Lu Han tidak melihatnya. Senyuman lirih menghiasi wajahnya, apa sebegitu...

" Maaf, Tao lagi sibuk menarikku. Hah, kau sudah memesan minuman ? Sudah berapa lama kau menunggu di sini ?"

Nyatanya suara itu tetap berhasil menjadi suara favoritnya. Suara yang kini berubah. Tiada nada sayang di sana, hanya datar...

Matanya terasa pedih namun Sehun berusaha mengedipkannya berulang kali, menghalang sebarang air asin daripada terjatuh.

" Baru sepuluh menit ? Lagian aku suka dengan hot choconya. Em, kau tidak memesan apa-apa ?"

Lu Han membuka mafelanya, " Hah ? Tidak. Aku hanya ingin berhenti sebentar. Lagian aku sudah minum."

Bersama siapa ?

Di mana ?

Apa airnya enak ?

Kenapa.. kenapa rasanya aneh berbicara dengan mu ?

Sehun menutup matanya sebentar, menarik nafas panjang sebelum membuka kelopak matanya. Berusaha untuk kelihatan kuat. Berusaha untuk menerima apapun yang bakal dikatakan oleh sosok di depannya itu.

" Sehun.."

" Lu Han..."

Keduanya sontak mendongak begitu mendengar nama mereka dipanggil secara serentak. Tidak lama, senyuman - aneh - hadir.

" Kau duluan." ungkap Lu Han pelan. Pandangannya tidak terarah kepada Sehun melainkan mafela putih yang ada di leher gadis itu.

" Tidak, kau saja. "

" Hun, kau saja. Lagian aku.. aku bisa menunggu kok."

Menunggu ? Memang sampai kapan kau bisa menunggu ku, Lu ?

" Baiklah. Hmm, apa kau makan dengan benar beberapa hari ini ? Kenapa kau kelihatan kurus ?"

Bibir Lu Han membentuk senyuman kecil, ia menyandarkan punggungnya ke belakang. " Aku makan dengan benar dan kau tidak perlu khawatir, Hun. Aku.. aku baik-baik saja."

" Oh, um, baiklah."

Keadaan menghening seketika. Masing-masing seolah tenggelam dengan pikiran mereka. Dentingan piano yang dimainkan oleh pemilik kafe ini, siapa lagi kalau bukan Baekhyun ? seolah menggambarkan suasana untuk mereka berdua.

Sehun mendongak saat mendengar desahan lelaki di hadapannya itu.

" Bagaimana kita bisa menjadi seperti ini, Sehunna ? Seperti orang asing, rasanya aneh."

Sehunna, iya, seharusnya kau memanggilku seperti itu. Dengan nada sayang, dengan nada cinta. Bukan seperti ini. Bukan seperti nada kelam ini.

" Aku sudah berpikir secara mendalam, berpikir di mana salahku sehingga hubungan kita bisa retak yang hanya menunggu kapan saat nya untuk berpecah. "

Berpecah, hahh, bukankah ini yang akan kita bicarakan ?

" Keretakan ini bukan dari salah siapapun, Lu. Mungkin saja, kita berdua tidak siap. " Sehun tertawa hambar. " Mungkin saja kita berdua masih mentah."

Lelaki itu menatapnya sekilas, hanya sekilas sebelum memberikan senyuman ringan kepada Baekhyun yang tersenyum ke arah mereka.

" Hahh, mungkin kau benar, Hun. Kita berdua masih mentah. Masih takut dengan hubungan ini."

Iya, aku merasa takut.

Merasa takut dengan apa yang bakal kau katakan..

" Justeru itu, aku inginkan noktah dalam hubungan ini. Biarkan arus membawa kita berdua. Jika benar kau benang merah yang ditakdirkan untukku, kita akan bertemu kembali. Mengukir kisah cinta ini dengan versi yang baru. Dengan versi yang lebih indah dan lebih kuat. "

Konyol, Sehun tersenyum kecil mendengar perkataan cheesy dari mulut lelaki itu.

" Benang merah tidak wujud, Lu. Sepanjang mana pun benang itu, ia akhirnya akan putus dan bisa digantikan dengan benang merah yang lain. Mungkin tidak akan sama tapi setidaknya tetap bisa mengukirkan sesuatu yang lebih indah kan ?"

Ia bisa melihat senyuman nenyedihkan hadir di wajah tampan itu. Sebelum digantikan dengan sengihan kecil.

" Tapi bukankah ini akan mematangkan kita ? Tidak ada perkara yang kekal dalam dunia ini. Tidak kira bagaimana kuatnya kita melindunginya, tidak kira bagaimana kuatnya kita memeluknya. "

" Kau benar. Tidak ada yang kekal. "

Entah kenapa, dentingan piano yang dimainkan oleh Baekhyun itu berubah sayu. Membuatkan hati pedih Sehun merintih. Berteriak ingin memeluk lelaki di depannya ini.

" Kau tau, Hun ? Hah, tidak. Kau pasti mengetahuinya. " Lu Han mendekat. Mengukir senyuman yang disukainya. " Kalau kau adalah gadis yang paling aku cintai. Melepaskan mu bukan berarti aku berhenti mencintaimu. Hanya saja.. semuanya kelihatan berantakan. Aku berusaha memperbaikinya tapi semuanya tetap kelihatan kaku... aku.."

Kebuntuan lelaki itulah yang membuatkan Sehun mengenggam tangan yang ada di depan nya itu. Senyuman manis, bukan senyuman lirih ataupun senyuman menyedihkan, diukirkan khusus untuk lelaki yang sudah mengenggam hatinya itu.

" Kita manusia, Lu. Bukan semuanya mengikut apa yang kita rencana kan. Kita manusia, lemah dan hanya mampu merencanakan. Yang melaksanakannya hanya Tuhan. Mungkin benar, di mana silapnya dalam hubungan ini kita tidak bisa mencarinya. Mungkin karna itu takdir bukan memihak kepada kita. " ungkapannya begitu lembut. Meskipun hakikatnya ia berusaha untuk tetap kuat.

Lu Han ikut tersenyum. Mengelus pipi lembut milik Sehun seolah mengelus sesuatu yang sangat berharga.

" Hahh, aku benar-benar bodoh. Memikirkan semuanya akan berjalan lancar seperti apa yang aku rencanakan, seperti apa yang kita rencanakan. Walaupun hakikatnya semua itu tidak akan berlaku tanpa izin Tuhan. "

Tawa kecil lolos. Meskipun dada terasa sesak, mata terasa pedih, Sehun akan kelihatan kuat.

" Well, I guess that came from a Chemistry guy, huh ?"

Lu Han ikutan tertawa. Buat seketika semuanya terasa kembali seperti dulu, namun tetap ada yang kurang. Jurang itu tetap tidak bisa di dekatkan.

Sekali lagi, dentingan piano Baekhyun membawa suasana. Kedua sosok itu terdiam.

" Jadi.. apa memang begini akhirnya ? Kisah cinta kita berdua ?" bisikan Lu Han itu seolah menghunus jantungnya.

Perlahan lelaki itu menyandarkan dahinya dengan dahi mulus Sehun.

Suasana seolah hanya ada mereka berdua. Tidak ada Baekhyun yang memainkan melodi yang menyedihkan itu, tidak ada nyonya tua dengan anak kucingnya yang sedang duduk di sebelah mereka.. Thats it, hanya ada mereka berdua.

" Aku akan menjadi lelaki yang lebih matang dan lebih berani. Dan setelah itu, benang merah ini. Benang takdir ini, akan aku gapai dan menyambung nya semula. "

" Biarkan takdir yang membawa kita, Lu. "

" Hahh, maafkan aku, Sehunna. Maafkan akuu."

Dan sedetik kemudian, semua kehangatan itu menghilang.

Sehun mendongak melihat kekasihnya - bukan, Lu Han bukan kekasih nya lagi - melilitkan mafela kelabunya dan menghulurkan tangannya kepada Sehun.

" Apapun terjadi, kita tetap berteman kan ?"

Apa bisa ?

" Um, sampai kapanpun itu. Kita tetap berteman.." Dan menyambut huluran tangan itu. Hanya sebentar karna sedetik kemudian, sosok lelaki itu berjalan keluar.

Masa seolah berdetik perlahan. Punggung lelaki itu semakin menghilang, semakin menjauh.

Hubungan ini..

.. akhirnya dinoktahkan.

Sehun kembali menekap gelas putih itu, mencoba meraih kehangatan nya namun nihil. Kehangatan itu sudah menghilang. Sudah pergi.

Dadanya semakin sesak. Nafasnya semakin sukar untuk di atur. Sehun tidak bisa mendengar apa-apa selain retakan yang ada di dalam hatinya.

Setetes demi tetes, air asin itu jatuh. Membasahi wajahnya dan mafela putih pemberian Lu Han. Dadanya sesak, mengenggam tempat di mana rasa sakit itu terasa, Sehun berharap. Setidaknya rasa itu menurun namun nihil.

Rasanya tetap pedih dan sakit.

Sehun... menangis terisak di sana. Menghentikan dentingan piano karna sang pemain instrumen itu sudah menghilang. Sang pemain piano itu sudah berlari kecil kearahnya bersama raut khawatir.

" Hey, Sehun, kau tidak apa-apa ? "

Suaranya berbeda. Sehun tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Namun, saat ia mendongak, wajah khawatir milik Baekhyun terpamer.

Dia tidak mahu kelihatan lemah, namun hubungan ini membuatkan ia terasa lemah. Seolah seluruh jiwanya disedot keluar. Membiarkan tubuhnya terdampar lemas. Terdampar tidak berdaya.

" Semuanya.. berakhir..." bisiknya lirih sebelum Baekhyun membiarkannya menyandar di dada lelaki itu.

Dentingan loceng terasa tidak terdengar saat ia keluar daripada kafe itu. Kedua tangannya yang berada dalam jaket bergetar.

Bukan bergetar kerana kedinginan.

Bukan bergetar kerana ketakutan.

Kedua tangannya bergetar karna ia khawatir, ia akan kembali berlari memasuki kafe tersebut dan memeluk sosok mungil yang sedang memberikan tatapan terlukanya saat ia menghulurkan persahabatan.

Lu Han kembali meneruskan langkahnya. Dadanya terasa sukar untuk berdetak normal. Matanya terasa sakit, seperti ada yang mendesak untuk keluar. Kedua telinganya tidak bisa menangkap sebarang bunyi, seperti ada sesuatu yang hilang.

Ia tidak tahu di mana kaki panjang nya membawa pergi. Yang ia tahu, ia ingin pergi jauh. Jauh daripada sosok kesayangannya itu. Jauh daripada bisikan...

' Hahh, betapa bodohnya seorang Lu Han melepaskan gadis yang dicintainya. '

atau

' Betapa bodohnya seorang Lu Han membuatkan gadis pujaannya tersiksa seperti itu.'

Langkahnya terhenti saat lengannya di tarik kasar.

Saat ia menoleh, wajah aneh seorang lelaki memarahinya kesal. Malah orang-orang yang tidak dikenalinya juga menatapnya heran. Dan saat Lu Han menatap kedepan, matanya melihat mobil yang melaju melimpasi lintasan di mana ada garisan hitam dan putih di sana.

Ohh.

" Lihat di mana kamu berjalan, anak muda. " Ucap orang asing itu. Lu Han mengangguk pelan. Menatap lampu yang memancarkan pelbagai jenis warna. Salju putih semakin ganas turun mewarnakan kota Seoul.

Meskipun begitu, Lu Han menyukai warna putih yang menghiasi jalanan ini.

Karna warna putih itu warna favorit seseorang yang baru saja ia patahkan hatinya.

" Lu Han !"

" Hey, Lulu..."

" Hahah, melucukan, Xiao Lu."

" Han ? Lebih enak Lu Han !"

" Hanhan, begitu ?"

" Luuuu !"

Tidak.

Jemarinya semakin bergetar. Pandangan menjadi kabur dan lututnya melemah saat itu juga sehingga tanpa sadar ia terduduk di sana. Membiarkan orang-orang di sekelilingnya berjalan mendahuluinya.

Kenapa ?

Benang merah takdir yang kujaga dengan baik bisa tersimpul mati seperti ini sehingga harus di putuskan ?

Senyumannya.

Tawa halusnya.

Semuanya bukan milikku lagi. Semuanya sudah menjauh dariku.

Oh Tuhan, kenapa sekejam ini takdir mu ?

Sehun, cinta nya, hidup nya, jiwa nya.

Sehun nya yang cantik.

Kini sudah terlepas dari genggamannya.

Seperti burung merpati putih yang polos dan indah, menerbangkan sayap nya untuk terbang ke atas udara. Meninggalkan Lu Han. Walhal, Lu Han lah yang menoktahkan hubungan yang sedia retak ini.

" Semuanya... sudah berakhir ?"

Enam tahun kemudian..

Dua pasang benang merah yang dulunya tersimpul mati.

Dua pasang benang merah yang perlahan-lahan berusaha untuk bercantum kembali.

Sehun memejamkan matanya erat saat angin kuat mencoba membawanya semua pergi. Setelah yakin angin sudah tidak sekencang tadi, ia membuka matanya.

Hahh, Kota Seoul masih saja indah.

Sudah berapa lama dia pergi ? Setahun ? Tidak, tidak. Lebih tepatnya lima tahun. Iya, lima tahun. Namun Seoul seakan tidak berubah. Saljunya masih saja polos, dingin dan sama.

Tersenyum kecil, Sehun kembali mengatur langkahnya. Surai dark brown nya terasa lembut meskipun potongan nya hanya separas bahu. Wedges setinggi enam inci itu membuatkan ia sedikit yakin saat berjalan dan memasuki sebuah kafe. Kafe yang dulunya pernah menoktahkan sebuah hubungan.

dan juga ...

Dentingan loceng berbunyi saat ia membuka pintu kafe tersebut. Senyuman lebar semakin mencantikkan wajah matangnya saat ia melihat satu sosok familiar di kaunter kafe. Sosok lelaki berambut hitam dan tersisir rapih. Wajah tampannya tidak seperti dulu. Kalau dulu lebih keanakkan sekarang malah lebih matang. Dan saat mata mereka bertembung, senyuman yang membuatkan bibirnya terbentuk empat segi itu membuatkan hati Sehun menghangat.

Dan juga...

... memulakan sebuah hubungan.

Arghhh, gagal habis nih !

Bagaimanapun, Chiey akan usahakan untuk ngupdate ff Chiey yang lain. Terima kasih kepada yang sudah review.

Dan chapter ini khusus untuk exolweareone9400.

Omake :

Dentingan piano yang merdu menghiasi ruangan kafe yang dulunya kecil kini sudah kelihatan lebih besar. Meja-meja sudah terisi oleh golongan tua, muda dan tidak kira seorang siswa mahupun seorang pekerja.

Suasana sedikit menghangatkan, sangat berbalik dengan suasana di luar sana.

Dingin.

Sehun merehatkan dagunya di atas telapak tangan sembari memerhati sosok yang memainkan alunan merdu tersebut. Pandangan mereka sesekali bertemu dan senyuman bertukar. Hatinya tidak pernah gagal untuk terasa hangat.

" Nyonya, bisa buatkan satu esspreso dan hantarkan ke depan ?"

Nada menggoda itu membuatkan Sehun melirik ke sisinya dan menemukan Minhyuk, salah satu pekerja di kafe itu kini memasang smirknya.

Ia melepaskan dengusannya. " Minhyuk-ssi, esspresso juga membutuhkan aku untuk membuatnya ? Kan ada Hana ?!"

" Nyonya Byun, meskipun pemilik kafe ini adalah kekasih mu, tidak berarti nyonya bisa duduk di sini dan sibuk memerhatikan Baekhyun kesayangan nyonya itu."

Sehun memutar bola matanya malas. Menjeling tajam kepada lelaki yang muda lebih tiga tahun darinya itu dan beranjak dari posisinya setelah menghadiahkan sebuah jitakan tepat di dahi anak muda itu.

Tangannya laju menyediakan pesanan esspresso yang diminta itu. Huh, memangnya jenis minuman mudah seperti ini juga butuh dia yang menyediakannya ?

Benar sih dia Batista dalam kafe ini, hell, dia juga pergi ke luar negara untuk menjadi Batista dalam kafe milik Baekhyun ini. Belajar selama lima tahun itu cukup lama untuk menjadi profesional menyediakan minuman ini. Tapi demi Tuhan, esspresso ?

Bahkan bukan batista saja tahu menyediakannya.

Setelah selesai, Sehun meletak minuman pahit itu di atas talam. Melirik ke arah Minhyuk dan mendesah saat melihat lelaki itu sibuk mengelap meja. Tidak ada pilihan lain, ia keluar dari dapur dan memberikan pesanan itu kepada Hana yang sedang berada di kaunter pesanan.

" Hana, esspresso sudah siap. Dan tolong khabarkan kepada Minhyuk untuk membuatnya sendiri. Demi Tuhan, bahkan anak saudaraku bisa membuat esspressi sendiri !" Bebelnya tanpa sadar bahawa ada sepasang mata mirip rusa sedang melihatnya dengan tatapan kaget.

" Sehun ?"

Kaget dengan suara itu, Sehun menoleh dan terima kasih kepada Hana karna ia sudah mengambil pesanan itu. Jika tidak, bisa saja minuman pahit itu membasahi lantai kafe milik kekasihnya ini.

" Lu Han ?"

Dan disinilah mereka, dengan ditemani alunan merdu piano yang dimainkan oleh Baekhyun dan dua gelas minuman yang ia sediakan sendiri.

Suasana hening seketika, keduanya tidak tahu bagaimana ingin memulakan bicara. Bahkan Sehun sendiri masih bisa merasakan rasa sakit saat melihat lelaki di depannya itu.

" Kau kelihatan baik-baik saja. "

Mendengar suara rendah itu, Sehun mendongak. Menatap mata rusa yang sering ia katakan sebagai bahagian favoritnya yang ada pada Lu Han. Namun itu dulu.

Sekarang... mungkin tidak.

" Ah, iya. Seperti yang kau lihat, aku memang baik-baik saja."

Hatinya tercuit saat melihat senyuman yang diukirkan oleh Lu Han. Uh, ada sesuatu yang tidak beres. Dia tidak mahu atau menginginkan perasaan ini.

Perasaan bersalah. Entah terhadap Lu Han atau terhadap ... Baekhyun ?

" Aku jadi teringat... disinilah tempat terakhir kita bertemu."

Mengungkap kisah lama, Sehun ingim lari.

" Um, iya. Disinilah hubungan kita terletak noktah."

Ia tidak tahu suaranya kedengaran lirih jika tidak Lu Han yang menatapnya dengan tatapan bersalah dan sedikit memohon ?

Memangnya memohon untuk apa ?

Memohon untuk mengerti ?

" Sehunna, "

Deg

Sehun meremas kuat helaian blouse putih yang ia gunakan saat itu. Mendengar bagaimana suara itu memanggilnya membuatkan jantungnya tidak karuan. Matanya meliar ke sana kemari, asal bukan kepada lelaki di depan nya itu.

" Benang merah itu, masih bisakah kembali ? "

Dan ia memejamkan matanya saat mendengar pertanyaan yang seolah merayu itu.

Mungkin jawapan nya bakalan iya kalau soalan itu ditujukan lima atau enam tahun yang lalu. Sekarang sudah berbeda. Mereka berdua sudah dewasa.

" Lu, aku.."

" Aku sudah berusaha meluruskan kembali benang merah kita yang tersimpul. Setelah melepaskan mu, aku seolah sehilangan arah. Dan menyadari, bahawa kehadiran mu lah yang aku butuhkan. "

Sehun menatap lelaki di depan itu. Wajah tampan nya masih sama. Masih seperti dulu namun lebih kelihatan matang dan dewasa. Mata rusanya masih sama, hidung mancungnya bahkan parut kecil yang ada di bibir bawah itu juga masih ada.

" Benang merah kita sudah lama tersimpul mati sehingga membuatkan kita harus memutuskannya, Lu. "

" Dan bukankah kita bisa kembali mencoba mengikatnya semula ? "

Sehun memejam matanya sebentar. Benar, momen indah mereka masih ada. Masih terasa segar di mindanya namun begitu ia membuka matanya, senyuman hangat Baekhyun mencairkannya.

Baekhyun yang sedang melihat ke arah mereka dengan tatapan khawatir, mungkin khawatir benang merahnya akan diambil jauh namun saat mata mereka bertembung, tatapan khawatir itu berubah kepada tatapan hangat yang dipenuhi dengan rasa cinta sehingga membuatkan Sehun ikut tersenyum.

Kebahagiaan ?

Memangnya apa arti kebahagiaan jika bukan dengan melihat senyuman bisa membuatkan kau merasa kehangatan ?

Benar, lelaki di depan nya ini pernah mengisi setiap sudut dalam hatinya, huh, bahkan sekarang masih ada sudut yang tersisa untuknya.

Namun, lelaki yang sedang memainkan piano itu juga sudah berusaha keras memenuhi sudut hatinya meskipun tidak sepenuhnya terisi karna sebahagian diri Sehun masih mengharapkan Lu Han. Masih mengharapkan bahawa lelaki itu akan muncul kembali dan membawanya pergi.

Sama seperti sekarang.

" Tidak kira bagaimana kuatnya atau berulang kali benang merah kita terikat. Satu hari nanti, benang itu pasti akan melonggar dan akhirnya kembali putus, Lu. Aku.." buat sekilas, ia melirik Baekhyun. Lagi. Sebelum memindahkan pandangannya kepada Lu Han yang sedang menatapnya dengan tatapan memohon.

Ohh, memohon untuk kembali bersama.

" Aku sudah menemukan benang merah yang lebih kuat, Lu. Yang siap melilitku dengan cinta yang besar sehingga akhirnya aku tidak bisa bebas. Yang siap melindungi ku daripada tersimpul mati tidak kira di mana aku berada. Jadi maafkan aku, Lu. Benang merah ini, aku belum dan tidak merancang untuk memutuskannya. Ini sudah saatnya kau juga mencari benang merah takdir mu." ucapnya yakin. Ia mengenggam sebentar tangan Lu Han sebelum melepaskannya. Senyuman manis mengukir wajahnya.

Sehun bisa melihat raut terluka di wajah tampan itu sebelum pemiliknya berusaha menutupnya dengan senyuman lirih.

" Hahh, mungkin kau benar. Tapi maafkan aku, Sehunna, aku juga masih ingin bertahan dengan potongan benang merah ku. Mungkin ini hukuman ku karna sudah melukaimu."

Sehun menggeleng pelan. " Tidak, Lu. Dan kumohon lepaskan benang merah itu untuk kau bahagia. Aku juga menginginkan sahabat ku untuk bahagia."

" Akan aku usahakan. Dan aku harap kita masih berteman, Sehun. " Ia melirik sebentar arloji miliknya sebelum mengambil kot hitamnya. Dan juga mafela kelabu yang sangat Sehun kenali itu.

" Maaf, aku harus pergi. Dan aku turut mendoakan kebahagiaan mu, Sehunna."

Mereka berjabat tangan sebentar sebelum masing-masing melemparkan senyuman. Dan Lu Han meluru keluar setelah melilitkan mafela kelabu itu di lehernya.

Sehun tidak bisa menafikan kalau ada sedetik rasa sakit di dadanya melihat Lu Han yang meluru keluar. Rasa sakit saat melihat bagaimana lelaki itu masih menyimpan mafela pemberiannya.

Ia menundukkan pandangannya. Menghalang air asin yang bodohnya ingin keluar.

Hey, kau sudah memiliki benang merah yang baru. Benang merah yang lebih menyayangi mu.

Dan saat setetes air matanya keluar, ia merasakan kehangatan. Kehangatan saat seseorang memeluknya dari belakang. Perlahan Sehun mendongak, menatap terus ke dalam anak mata yang melihatnya dengan penuh kasih dan sayang.

" Tidak apa, aku ada di sini. Menangislah jika ingin menangis." Ucap suara merdu itu penuh pengartian. Mengusap surai nya penuh kasih. Dan sesekali melabuhkan kecupan di puncak kepalanya.

" Hahh, kenapa aku harus menangis saat kau ada di sini bersama ku, Baek ?" Ucapnya ikhlas sebelum menenggelamkan hidung mancungnya ke dada lelaki itu. Membalas pelukan itu.

" Terima kasih karna ada untukku, Baek. Terima kasih dan aku mencintaimu."

Ia bisa mendengar tawa halus dari kekasihnya itu. Sekaligus membuatkan hatinya menghangat.

" Aku juga, Sehunna. Aku juga sangat mencintaimu..."

Mengabaikan senyuman menggoda dari Minhyuk, wajah memerah Hana dan pelanggan yang datang, Sehun menjinjitkan kakinya untuk melabuhkan kecupan di dahi lelaki itu.

Benang merah ku, iya, Tuhan, izinkan aku untuk tetap mengenggam benang merah ini.

See ya in next chapter. _