Di paviliun keluarga Lee, Taeyong berjalan menuju ruangan ayahnya. Terlihat tuan Lee sangat gelisah karena puterinya yang baru saja datang sudah mendapat tugas yang menurutnya sangat berat untuk tugas pertama yang dijalaninya sebagai kapten pasukan. Taeyong yang melihatnya langsung menenangkan ayahnya sebelum dia berangkat melaksanakan misinya.

"Ayah, aku masih nanti malam perginya. Jangan pasang wajah seperti itu, aku jadi tidak ingin meninggalkanmu" ucap Taeyong lembut melihat wajah sedih ayahnya

"Aku masih merindukanmu tetapi kau akan pergi lagi" kata tuan Lee

"Aku akan baik-baik saja di sana, dan aku hanya pergi selama 2-3 hari saja"

"Tak bisakah Xiumin mendampingimu? Aku begitu khawatir denganmu"

"Ayah. Seluruh warga hingga Kerajaan Silla sudah mengetahui kakak, kemungkinan misi ini akan gagal jika lawan kita melihatnya"

"Aku baik-baik saja ayah, aku janji akan pulang dengan selamat" sambungnya dengan memberi tuan Lee pelukan sebelum dia berangkat

"Baik-baik di jalan puteriku" ucap tuan Lee sembari memeluk puteri kesayangannya.

...

Malam telah tiba, Taeyong sudah menggunakan pakaian dayang kerajaan dan membuatnya terlihat sangat cantik. Jaehyun saja terpukau dengan penampilannya yang sangat berbeda dengan pakaian yang biasa Taeyong gunakan. Jika saja pasukan Hwarang tidak berpasangan, mungkin mereka akan berebut melamar Taeyong namun disayangkan di pasukan Hwarang mereka bersama pasangannya yang memiliki tugas sebagai Wonhwa (dua pasukan wanita hebat) dan tabib namun bisa saja mereka bertarung jika diperlukan karena kemampuan wanita Hwarang tidakdapat di remehkan.

"Kapten, pasokan untuk kerajaan Silla sudah siap. Kita akan berangkat sebentar lagi" ucap prajurit

"Baik, aku akan memeriksa perlengkapan yang akan ku butuhkan nantinya" ucap Taeyong

Taeyong menyingkap sedikit roknya dan memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih seputih salju dengan ikatan di bagian paha dan betis yaitu tempat untuk pedang kecil dan juga beberapa meriam untuk tanda pasukan. Jaehyun yang melihatnya hanya bisa menahan nafasnya. Puteri Mahkota saja tidak seputih dan mulus dia, padahal Puteri banyak sekali melakukan perawatan untuk kulitnya batin Jaehyun.

"Apa yang kau lihat?" ucap Taeyong dingin kepada Jaehyun

"A-Aku hanya lihat apakah kakimu baik-baik saja" ucap Jaehyun asal

"Dasar aneh" timpal Taeyong sembari menurunkan roknya dan berjalan menuju kudanya.

Taeyong sudah berada di atas kuda putih kesayangnya sedangkan Jaehyun tampak ragu melihat kudanya. Jaehyun pun berjalan mendekati Taeyong sembari menarik-narik pelan roknya

"Ada apa tuan?" tanya Taeyong datar

"Kau tau kan aku tidak bisa berkuda" cicit Jaehyun

"Lalu?"

"I-Itu...I-Itu ah susah sekali" gerutu Jaehyun

"Apa kau baik-baik saja tuan?" tanya Taeyong yang semakin tidak mengerti

"Aku baik, aku hanya ingin berkuda denganmu" ucap Jaehyun lancar

"A-Apa? Bukannya tuan akan berkuda dengan prajurit di barisan depan?" tanya Taeyong

"Aku hanya inginnya denganmu, atau kita batalkan saja misinya" ucapnya dengan sedikit penekanan

"Hah...baiklah silahkan naik tuan" ucap Taeyong pasrah

...

Selama perjalanan Taeyong terus mewaspadai area tersebut dan mulai merencanakan rencana selanjutnya jika dia memang dapat mengatasi para pencuri tersebut. Pasukan pun mulai memasuki wilayah hutan yang merupakan perbatasan Kerajaan Goguryeo dan Kerajaan Silla. Keadaan sekitar sudah mulai berubah ditambah dengan suasana sunyi, bunyi yang terdengar hanya langkah kuda dan derit kayu.

Tiba-tiba terlihat panah yang melesat ke arah mereka dengan jumlah yang tidak banyak namun cukup membuat beberapa prajurit lengah. Fokus Taeyong terpecah karena khawatir dengan pasukannya dan sebilah panah melesat dan mengenai lengan kirinya.

"Argh!" teriak Taeyong sembari memegangi lengan kirinya yang tertancap anak panah

"Taeyong! Kau baik-baik saja?!" teriak Jaehyun panik karena Taeyong terkena serangan

Tetapi Taeyong mengabaikan perhatian Jaehyun kepadanya dengan berpikir keras. Dia melihat ke segala arah dan matanya menangkap sebuah tempat yang cukup untuk menahan serangan pemanah.

"Pasukan! Pergi ke tempat di sana, kita mundur terlebih dahulu dan berlindung! Kumpulkan semua pasukan yang terluka sebisa kalian, namun jika berbahaya kita bisa atasi setelah kita melawan mereka!" perintah Taeyong dan langsung disetujui oleh pasukannya

Mereka langsung berlindung di tempat yang Taeyong maksud dan melakukan beberapa kali perlawanan dengan memanah. Taeyong terduduk lemah dengan nafas terengah menahan sakit di lengan kirinya, keringat dingin pun sudah mengalir membasahi wajah dan lehernya.

"Taeyong! Kau harus segera di obati. Kita harus panggil tabib!" seru Jaehyun dan akan melepas meriam namun Taeyong menahan tangannya dengan lembut

"Ini tidak bisa di lepas sekarang, jika kita lepas maka rencana kita akan sia-sia. Bantu aku mencabutnya" ucap Taeyong dan mulai menarik anak panahnya perlahan

Jaehyun yang melihatnya tidak tega, sangat! Taeyong sangat kesakitan disini, sehingga dengan berat hati Jaehyun membantu Taeyong menarik anak panah tersebut. Taeyong mulai sedikit kehilangan kesadarannya karena banyaknya darah yang keluar setelah anak panah tercabut, dengan sigap Jaehyun menangkap tubuhnya dan membaringkan Taeyong di tanah dengan kepalanya berada di paha Jaehyun.

"Taeyong apa kau masih sanggup? Ku rasa kita harus menyalakannya, aku tidak ingin kau tewas karena misi ini!" tegas Jaehyun

"T-Tuan tidak perlu khawatir. A-Aku akan baik-baik saja" jelas Taeyong sembari menyamankan diri mengalaskan kepalanya pada paha Jaehyun

Jaehyun membiarkan Taeyong beristirahat sejenak, dan meminta bantuan salah satu prajurit untuk menghentikan pendarahan di lengan kiri Taeyong. Beberapa lama menunggu akhirnya para pemanah tersebut dapat di lumpuhkan. Taeyong merasa dirinya sudah cukup beristirahat dan bangkit untuk melihat keadaan sekitar.

Taeyong bersyukur karena pasukannya yang terkena serangan tersebut masih bisa terselamatkan, setidaknya dia masih bisa menyembuhkan mereka dan beristirahat sejenak untuk para prajurit.

"Kapten Lee! Apa kau masih sanggup?" tanya salah satu prajurit

"Aku tidak apa-apa. Hanya dengan beristirahat sejenak aku akan mulai pulih. Setelah pengobatan ini kita berangkat lagi menuju kerajaan Silla" ucap Taeyong

Jaehyun menganggap bahwa misi ini tidak mungkin dapat di lanjutkan. Nyawa para pasukan bisa jadi pertaruhannya diperjalanan ini. Namun jika mereka tidak melakukan ini, kerajaan Silla akan menyatakan perang dan terjadi pemutusan persahabatan kedua kerajaan yang sudah di laksanakan sejak lama apalagi keluarga kerajaan Silla merupakan keluarga Jaehyun juga.

Saat Taeyong tengah mengobati beberapa pasukan terakhir yang terluka, seorang prajurit datang dengan seseorang yang asing dan tampak kakinya tertusuk anak panah mendekati barak darurat mereka.

"Cepat kau beritahu Kapten Lee mengapa kau menyerang kami!" perintah prajurit tersebut

"Hei, ada apa ini?" tanya Taeyong tidak mengerti

"Kapten, aku menemukan dia tertinggal dari pasukan yang menyerang pasukan tadi. Kakinya tertusuk anak panah sehingga saya bisa membawanya kemari" jelas Prajurit

"Tuan, saya ingin bertanya. Kenapa kau menyerang pasukan kami?" tanya Taeyong bersamaan dengan mengobati luka di kakinya

"M-Maafkan saya. Saya harus melakukan ini, untuk anak dan isteri saya" jelas tuan tersebut sembari menahan sakit di kakinya

"Apa maksud anda tuan?"

"Saya melakukan ini karena terpaksa, kami hanyalah penduduk di desa kawasan Kerajaan Silla. Saat pasokan untuk kerajaan Silla, mereka tidak memberi kami sepeserpun. Kami bahkan sudah bekerja untuk Kerajaan Silla dengan merelakan tiga perempat lahan kami yang hasilnya akan di ambil oleh Kerajaan. Sehingga selama ini kami mencuri pasokan tersebut untuk penghidupan kami yang serba kekurangan" jelas tuan tersebut dengan murung

"Kami hanya ingin lahan kami kembali dan kehidupan kami yang normal. Semenjak Pangeran Yuta berkuasa, kami tidak berdaya" sambungnya

"Pangeran Yuta?" tanya Jaehyun

"Kau mengenalnya Putera Mahkota?" tanya Taeyong

"Dia...sepupuku. Bagaimana dia bisa tega seperti itu?" gumam Jaehyun

"Baiklah tuan, aku akan mengutus salah satu prajurit untuk mengantarkanmu dan membawa pasokan ini ke desa kalian. Jangan khawatir, aku akan menyelesaikan masalah ini. Ini sudah di luar batas wajar. Berhati-hatilah di jalan"

Setelah Taeyong mengutus salah satu prajurit untuk mengantarkan tuan tersebut, Taeyong dan pasukan pun melanjutkan perjalanan mereka tanpa membawa pasokan. Sesampainya di Kerajaan Silla, Taeyong dengan tegas meminta langsung prajurit Kerajaan Silla untuk mempertemukannya dengan Pangeran Yuta. Awalnya para prajurit Kerajaan Silla tidak menyanggupinya namun setelah penasihat kerajaan tiba, mereka diminta untuk masuk ke istana untuk bertemu dengan Pangeran Yuta. Taeyong beserta rombongannya pun masuk ke istana dan mereka berhenti di paviliun timur tempat Pangeran Yuta berada. Mereka baru tiba langsung di sambut oleh Pangeran Yuta.

"Selamat datang di Kerajaan Silla, ada apa kalian kemari" ucap Pangeran Yuta secara langsung

"Saya Lee Taeyong, sebagai perwakilan yang di utus Kerajaan Goguryeo tentang masalah pasokan yang tidak masuk ke Kerajaan Silla" ucap Taeyong tenang

"Ah Taeyong, nama yang indah seperti pemiliknya"

Yuta tersenyum melihat kecantikan Taeyong, seorang dayang yang diutus untuk bertemu dengannya? Apa maksud bibinya itu? Apa dia bersungguh-sungguh mencarikan pasangan hidup? Mungkin Taeyong yang akan menjadi permaisurinya kelak dan mungkin akan menjadi Ratu di Kerajaan Silla ini.

"Terimakasih untuk pujiannya, Pangeran" ucap Taeyong lembut dan tersenyum menawan

"Ah, berarti benar kata Ratu. Baiklah kau bisa langsung masuk ke paviliun ku kita berbicara berdua saja mengenai ini" ajak Yuta dengan menggenggam tangan Taeyong

"Lepaskan tanganmu dari Taeyong!" bentak Jaehyun

Yuta yang tak asing dengan suara itu langsung menengok ke arah Jaehyun dan tersenyum meremehkan.

"Putera Mahkota. Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau harusnya menyiapkan pernikahanmu yang sudah dekat ini? Dan apa urusanmu jika aku memegang Taeyong?" cerca Yuta

Jaehyun yang disindir sedemikian rupa oleh Yuta hanya bisa terdiam. Dia pun menyadari mengapa dia melarangnya. Yuta melihat Jaehyun yang hanya terdiam pun langsung bergerak membawa Taeyong kedalam paviliunnya dan Taeyong hanya pasrah di bawa oleh Yuta karena dia sendiri bingung, mengapa Jaehyun membentak hingga seperti itu.

Jaehyun yang tersadar pun geram karena dia tidak di perbolehkan masuk untuk mengikuti Taeyong dengan Yuta sehingga dia dan prajurit hanya bisa menunggu di luar hingga Taeyong keluar dari pavilliun tersebut.

TBC

Maaf yaaa~
Seharusnya updatenya itu kemaren, tapi karena ada kepentingan jadi sekarang deh hehe.
Oh iya, buat kalian yang gak suka nunggu aku kasih tau nih jadwalnya.

Jadwal updatenya setiap selasa, kamis dan sabtu. jadi sekitaran itu sih. kalo gak update di hari itu harap di maklumi ya~!

LOVYA~!