# Playlist of Our Love

# Sehun, Lu Han

# Romance, Hurt & Comfort, Fluffy, Angst

# Drabble prompt : Its a songfic !

Note : Sehun!gs

A/N : Setiap lagunya berbeda cerita ya pamirsa sekalian ^3^

XXXXX

Bad Things - Camila Cabelo ft Machine Gun Kelly

Am I out of my head, am I out of my mind ?

If you only knew the bad things I like

Don't think that I can explain it

What can I say, its complicated

Sehun memerhatikan pergerakan Lu Han dengan tatapan penuh dengan kagum, cinta dan kasih. Jaket kulit hitam yang tersarung di badan tegap kekasihnya itu membuatkannya semakin tampan. Meskipun wajahnya sedikit cantik - dan Lu Han tidak suka dilabel sebagai cantik, baginya Manly adalah perkataan yang benar - Sehun tetap menyukai laki-laki kelahiran China itu.

Kesunyian malam membuat suara mereka lebih jelas, lebih kuat dan mereka tidak peduli jika sudah membangunkan kawasan perjiranan tersebut.

Sehun sering dilabel sebagai gadis yang sopan santun, baik dan juga tidak pernah menolak untuk membantu siapa pun namun mereka tidak tahu jika gadis cantik itu lebih memilih Lu Han, laki-laki bermasalah, sering keluar ke kelab malam atau parti liar, rokok atau alkohol sudah menjadi satu kemestian. Bahkan wajah tampan nya dihiasi beberapa piercing dan tattoo di sekitar punggung tangannya; ukiran Sehun ada di sekitar leher nya dan Sehun sedikit - banyak sebenarnya - bangga setiapkali melihat namanya terukir di badan kekasihnya itu.

Malam itu, sama seperti malam sebelumnya, Sehun ikut menyamakan langkahnya bersama Lu Han dan keduanya tertawa. Saat mereka berada di depan gedung di mana boneka dan juga baju-baju cantik ditayangkan sebagai perhiasan di kedai mereka, Lu Han menghentikan langkahnya.

" Babe, kau inginkan boneka itu ?" Lu Han melingkarkan tangannya ke leher Sehun. Jemari telunjuknya menghala ke hadapan di mana boneka rusa yang duduk dengan polosnya. Sehun melarikan matanya ke arah yang ditunjuk dan tersenyum manis.

Boneka rusa mengingatkannya kepada Lu Han, jadi..

Sehun mengangguk kepalanya.

Dan Sehun sedikit menyesali jawapan nya karna sedetik kemudian Lu Han sudah melempar batu yang cukup besar untuk memecahkan kaca gedung tersebut dan berlari mengambil boneka rusa tersebut.

" Lu ! Kita bisa ditangkap oleh polisi peronda di sini !" Ujarnya kalut, sesekali melirik ke belakang. Meskipun tiada satu orang pun di sana - kecuali Sehun dan Lu Han - , bisa jadi ada polisi peronda kan !

Bukannya takut, Lu Han malah tercengir lebar bersama boneka yang sudah ada di tangannya itu. Sehun mau tidak mau tersenyum lembut melihat senyuman lebar kekasihnya.

" Untuk Oh Sehun, aku rela ditangkap. Nah, boneka rusa untuk kekasih ku yang cantik." Lu Han menghulurkan boneka itu. Sang gadis mendesah lemah, ia menatap boneka tersebut dan memutuskan untuk menerimanya dan memeluknya erat.

Ini salah namun sepertinya sedikit menyenangkan.

" Hey ! Siapa di sana ?! Berhenti kalian !"

Lu Han melirik ke sumber suara itu dan sembari terkekeh, ia menggapai tangan mungil Sehun dan mulai berlari untuk menjauhi dua sosok polisi peronda yang sudah melihat jenayah kecil mereka.

" Pak Polisi sudah datangggggg."

Sehun bisa saja di marahi oleh kedua orang tuanya jika ketahuan tapi saat ini, momen ini, Sehun bukan nya takut malah ia menikmati nya. Dengan Lu Han yang menggengam tangan mungilnya, angin malam yang membelai wajahnya saat mereka berlari, boneka yang Lu Han curi hanya untuk Sehun ada dalam dekapannya. Semuanya terasa menyenangkan.

Mereka berlari dan terus berlari sehinggalah Lu Han menariknya memasuki lorong jalan yang gelap dan bersembunyi di sana. Nafas mereka tidak teratur namun Sehun tersenyum konyol.

" Babe, kau tidak apa-apa ?"

Dengan posisi nya yang berada dalam dekapan Lu Han, Sehun mendongak dan jujur saja ia tidak pernah tidak kagum dengan wajah tampan Lu Han - karna dia seperti Pangeran yang keluar dari manhwa - dan saat Lu Han memberikannya senyuman lembut itu, Sehun bisa merasakan jantungnya yang laju berdetak bukan sepenuhnya karna larian mereka barusan.

" Hmm, aku baik-baik saja, Lu."

Sehun yang sopan dan manis, tidak menyukai laki-laki yang baik. Ia lebih memilih Lu Han. Lu Han yang nakal. Lu Han yang penuh dengan piercing. Lu Han yang penuh dengan tattoo. Lu Han yang begitu mencintainya. Lu Han yang mengukir namanya di leher.

Dan buat pertama kalinya ia tidak pernah menyesal menggunakan alasan - bermalam di rumah teman - hanya untuk menghabiskan waktunya bersama Lu Han.

All of me - John Legend

Cause all of me, loves all of you

Love your curves and all your edges

All your perfect imperfections

Give your all to me, I'll give my all to you

Cause you're my end and my beginning

Pertengkaran kecil itu tidak seharusnya menjadi besar seperti ini. Baru kemarin mereka duduk di sofa ruang tamu dan saling bergantung dan sekarang...

Bahkan mata mereka tidak melihat antara satu sama lain. Meskipun sepasang mata yang satu itu kosong dan gelap.

" Aku... " Lu Han mendesah lemah. " Aku tidur di luar malam ini." Dan mengambil kunci mobil serta ponsel dan dompet nya sebelum keluar daripada apartemen yang dikongsi bersama Sehun itu.

Lu Han melirik ke sosok yang duduk di pinggiran kasur itu sebentar sebelum kembali meneruskan langkahnya.

Saat ia sudah duduk di dalam mobil, pikirannya dipenuhi dengan Sehun. Pertengkaran kecil itu seharusnya tidak berubah menjadi sebesar ini. Bahkan ia tidak bisa menunjuk siapa yang salah dan siapa yang benar. Tapi itu tidak penting, salahnya atau bukan, Lu Han pada akhirnya akan pertama meminta maaf dan melutut pada Sehun.

Karna Lu Han tidak ingin hidup tanpa ada Sehun di sisinya.

" Kau hanya inginkan kesempurnaan ! Bahkan diriku tidak bisa menepatinya, Lu Han. " Sehun hanya mengeluarkannya dengan nada yang perlahan namun telinga Lu Han bisa mendengarnya dengan cepat. Dengan sedikit marah, Lu Han ikut berdiri dan menatap Sehun.

" Apa yang kau katakan, Oh Sehun ?! Jika aku mementingkan kesempurnaan, aku sudah lama bersama Sayoung !"

Lu Han tau, seharusnya ia tidak menyebut nama wanita itu - tidak seperti ini; dalam keadaan marah seperti ini - karna ia bisa melihat riak wajah Sehun berubah. Mata cokelat yang hangat itu bersinar dengan air mata. Lu Han jadi ingin membawa nya ke dalam dekapannya namun ia tahan.

" Huh ? Barusan kau menyebut Sayoung ? Lu-Lu Han, kau masih menginginkan cinta pertama mu itu ?!" Suaranya begitu lemah, begitu menyakitkan sekali dan membuatkan hati kecil Lu Han ikut kesakitan.

Sontak Lu Han menggeleng laju, berusaha untuk menggenggam kedua tangan halus Sehun namun gadis itu menepisnya kasar.

" Tidak. Shit! Sehun, dengarkan aku..."

Sehun menggeleng laju, air mata yang bergenang di kelopak matanya sudah mengalir deras. Rambut cokelatnya yang halus ikut bergerak saat ia menggeleng laju.

" Kau bisa pergi, Lu Han. Kehadiran ku hanya menyukarkan mu. Aku hanya menjadi beban untuk mu. Kau bisa pergi. Sayoung atau Cho Ah atau siapa pun, kau layak untuk wanita yang lebih sempurna dariku. Aku - hic!- aku hanya wanita buta yang kau kasihani. "

Hatinya seperti digenggam saat melihat Sehun terisak. Gadis itu sudah terisak sembari terduduk di pinggiran kasur. Lu Han mengambil posisi untuk duduk berlutut di lantai dan di antara kedua kaki Sehun.

" Sehun, sayang, kita hentikan saja pertengkaran ini. Hmm ? Aku juga ikut sakit saat melihat mu menangis, Sehun-ah. "

Sehun menggeleng, sekali lagi. " Pergilah, Lu Han. Aku tidak ingin bersama mu malam ini. Biarkan aku bersendirian. " Mata cokelatnya yang cantik - mata favorit Lu Han - kelihatan hangat dan indah namun kosong, meskipun ia bertatapan dengan Lu Han, tiada apa-apa yang terpancar di sana.

Lu Han ingin protes namun menghentikan niatnya dan bangkit dari posisinya.

" Aku.. aku tidur di luar malam ini."

Lu Han mendengus kasar dan meletak dahinya ke stereng mobil. Mencoba melupakan pertengkaran nya bersama Sehun meskipun hasilnya tidak akan pernah bisa. Dan wajah terluka Sehun mengisi setiap sudut mindanya.

" Ahh, mengapa Oh Sehun itu bodoh sekali ~ " Desahnya. Lu Han mengubah posisinya untuk menyandarkan punggungnya.

Mengapa sih kekasihnya itu idiot sekali ?

Apakah ia tidak tahu Lu Han tidak akan pernah bisa lari dari pesona nya ? Apakah dia tidak tahu bahawa Lu Han mencintainya ? Tidak kira kekurangannya. Kesempurnaannya. Lekuk tubuhnya. Parut kecilnya. Segalanya. Lu Han mencintai segala yang ada pada Sehun.

Ia terkubur dalam indahnya Oh Sehun dan bangun saat mendengar deringan ponselnya. Tanpa melihat pemanggil, Lu Han menjawab.

" ... Lu Han ? Maafkan aku. Aku -hic!- aku tidak memaksudkannya. Lu Hannn, ackk!" Sontak panik mengisi jiwanya.

" Sehun ? Helo ? Oh Sehun, kau tidak apa-apa kan ? Jawab aku, Oh Sehunnnn !" Mendengus kasar saat tidak mendapat apa-apa jawapan, Lu Han buru-buru keluar daripada mobilnya dan berlari masuk ke apartemen.

" Sehun ? " Panggilnya - dengan nada yang kalut - saat ia membuka pintu apartemen dengan nafas yang terengah-engah. Matanya meliar ke sana ke mari dan jantungnya berdetak semakin laju saat melihat sosok Sehun yang terbaring di ruang dapur dikelilingi dengan beberapa peralatan dapur. Tangannya sedikit bergetar saat melihat pisau dapur yang terbaring tidak jauh dari kekasihnya itu.

Tidak tidak tidak tidak!

Buru-buru ia menuju ke ruang dapur, " Sehun ? Sehun-ah, jawab aku, sayang. Please, jangan membuat ku khawatir seperti ini, sayang."

Mungkin saja Lu Han akan menghentak kepalanya di lantai jika Sehun tidak membuka matanya. Ia menghembus nafas lemah saat melihat mata kosong Sehun masih terbuka dan kedua tangan mungilnya menggengam kaos nya erat.

" Lu Han ? Lu Han, maafkan aku. Aku tidak memaksudkan apa-apa dari perkataan ku. Maafkan aku."

Lu Han membawa Sehun ke kamar mereka. Membaringkannya sebelum ikut membaringkan tubuhnya di sana.

" Hush, semua nya akan baik-baik saja. Sehun-ah, aku tidak butuh kesempurnaan jika aku bisa memiliki mu. "

Sehun yang ada dalam dekapannya semakin masuk ke dalam dadanya. Air mata masih mengalir namun kehadiran Lu Han berhasil menghilangkan kegelisahan yang ada di dalam hatinya.

" Maafkan aku, Lu. Maafkan aku."

Lu Han membelai surai halus itu dan sesekali mengecup pelipis Sehun penuh kasih.

" Aku mencintai mu, Sehun-ah. Segala kesempurnaan mu. Segala kekurangan mu. Segala lekuk tubuh mu. Segala parut yang ada padamu. Segalanya. Aku mencintai mu, Sehun-ah. Jadi kumohon, jangan pernah meminta ku untuk mencari kesempurnaan jika dirimu saja sudah mampu menyempurnakan ku. "

Sehun memeluk tubuhnya erat. Seerat yang mungkin.

" Karna aku sudah memberikan segala yang ada padaku, khusus hanya untuk mu, Sehun-ah."

Attention - Charlie Puth

I know that dress is karma, perfume regret

You got me thinkin' about when you were mine

And now Im all upon ya, what you expect

But you're not coming home with me tonight

You just want attention, you don't want my heart

Maybe you just hate the thought of me with someone new

You just want attention, I knew from the start

You're just making sure Im never getting over you

Lu Han harus jujur bahawa hatinya itu masih menjadi milik kepada seorang perempuan yang mempunyai mata dingin namun hangat dengan warna cokelatnya, hidung mancung yang sering menjadi mangsa kecupan Lu Han, bibir mungil yang tipis, leher yang indah yang selalu penuh dengan kissmark dari Lu Han dan rambut warna warni nya yang terasa lembut saat Lu Han mengelusnya.

Meskipun hatinya berkata jangan, namun ia harus melakukannya. Ia harus move on dari cinta itu untuk tetap hidup dan bernafas. Oleh itu, Lu Han mengikuti nasihat daripada pakar patah hati, Kim Jongdae yang sudah baik hati mengenalkannya dengan seorang gadis yang cukup cantik dan sopan santun - semua sikapnya berbalik sekali dengan kekasihnya yang dulu -.

Hujung minggu itu, Lu Han dan juga kekasih baru - tidak, Lu Han masih menganggapnya sebagai teman saja - memasuki kelab malam di mana Jongdae mengadakan pesta ulangtahun nya.

Lu Han kurang yakin namun tetap mengukirkan senyuman terpaksanya kepada Shin Ae yang menempel disisinya. Mungkin tidak terbiasa dengan suasana kelab. Musik berdentum dengan kuat, wanita dan lelaki saling menari sembari menggesek tubuh mereka masing-masing.

" Lu Han, teman sehidup semati ku, selamat datang ke pesta ulangtahun ku !"

Jongdae memberikan smirk handalan nya saat melihat gadis yang ada di sisi Lu Han itu sebelum ia mendekat dan berbisik.

" Sehun juga datang. Oh, dan dia datang dengan laki-laki China yang tinggi. " Dan memberikan senyuman termanisnya kepada gadis yang datang bersama Lu Han. Berbeda dengan senyuman jahil untuk Lu Han.

Okay, Lu Han seharusnya tidak terkesan dengan kata-kata Jongdae barusan namun mau bagaimana lagi, mendengar Oh Sehun tidak datang bersendirian membuatkan bokongnya tidak senang duduk.

" Lu Han ? Bisakah kita duduk ? Aku tidak selesa disini."

Oh, Lu Han harus akui ia sedikit terlupa dengan kewujudan sosok yang ada di sisinya itu.

" Kau duduk di sofa dulu. Aku akan kembali sebentar lagi."

Lu Han tau rasanya tidak manly sekali meninggalkan seorang gadis begitu saja apalagi kekasihnya - teman, garisi itu ! - namun ia butuh melihat mantan kekasihnya.

Meskipun dengan surai warna warninya, Lu Han tidak bisa mencarinya dengan mudah dalam kerumunan orang yang ada di dalam kelab. Mata rusanya mencari ke sana ke mari dan hampir berputus asa dan ingin kembali menemani Shin Ae namun langkahnya terhenti saat matanya bertatapan langsung dengan Sehun yang sedang menggerakkan tubuhnya sesuai dengan rentak lagu.

Oh, surainya sudah bertukar. Bukan warna warni tapi blonde. Perlahan matanya turun ke bawah dan Lu Han menelan airliurnya kasar saat melihat one-piece dress yang tersarung di tubuh yang dulunya pernah ada dalam dekapannya itu. One-piece dress sialan. One-piece dress yang selalu menjadi favorit Lu Han dan Sehun tau itu.

Ludahnya terasa kasar saat Sehun memberikannya senyuman miring. Mata tajamnya dihiasi dengan eyeliner dan Lu Han harus menahan dirinya daripada berlari ke arah gadis itu.

Seiring dengan rentak musik, Sehun kembali meneruskan tariannya dan mata cokelat itu masih bertatapan dengan Lu Han.

Ini salah.

Oh Sehun adalah satu-satunya gadis yang sudah berhasil memecahkan tembok China yang ada di dalam hatinya. Bukan itu saja, dia juga adalah satu-satunya gadis yang juga berhasil memecahkan hatinya sehingga berkecai. Mereka sudah bersama tiga tahun dan Lu Han hampir saja, ah tidak, dia bahkan sudah membelikan cincin untuk melamar gadis itu.

Lu Han tau.

Gadis itu hanya inginkan perhatiannya. Huh, Sehun sememangnya tipikal gadis seperti itu. Perhatian. Kasih sayang. Tapi dia tidak pernah menginginkan hati Lu Han sepenuhnya.

Mata gadis itu seolah bersinar saat melihatnya tidak digandengi oleh satu ekor manusia yang bernama perempuan di sisinya. Huh, apakah ia ingin tahu jika Lu Han berhasil move on darinya ?

Lu Han tidak tahu berapa lama mereka saling bertatapan namun genggaman tangannya menguat saat pinggang ramping milik Sehun didekap kemas oleh sosok laki-laki tinggi. Namun Sehun masih tetap melihat ke arahnya.

Tips-tips yang diberikan Jongdae tidak berguna. Bahkan lelaki kotak itu seharusnya tidak pernah memberikan apa-apa tips dari awal.

Pikirannya seketika terbangun saat melihat Sehun dan laki-laki tinggi itu berjalan ke arahnya.

Dan saat ia berpapasan dengan Sehun - bahkan pundak mereka saling bersentuhan - Lu Han menderam rendah.

Sialan ! Bahkan perfume gadis itu juga masih sama - pemberian Lu Han saat ulangtahun Sehun yang ke dua puluh tiga -. Lu Han mengacak surainya kasar.

" Shit !"

Starving - Hailee Steinfeld ft Zedd

I didn't know that I was starving till I tasted you

Don't need no butterflies when you get me the whole damn zoo

By the way, by the way, you do things to my body

I didn't know that I was starving till I tasted you

Sehun menatap laki-laki yang duduk dua meja darinya itu dengan khayalan yang indah menempel di wajahnya. Dagunya diletak di atas telapak tangan sembari mata cokelatnya menatap setiap pergerakan laki-laki itu dengan tatapan... lapar ? Itu yang sering Jongin katakan padanya setiapkali mereka melihat Sehun menatap laki-laki tersebut.

" Euww, semakin hari kau semakin menggelikan, Oh Sehun. "

Sehun tidak mempedulikan kata-kata Jongin dan tetap meneruskan acara pentingnya itu. Malangnya, acara-mari-menatap- tersebut terhenti saat laki-laki - sumber tatapannya - berdiri dan berjalan keluar dari kafeteria kampus bersama-sama temannya.

Ohh tidak, bahkan bokong laki-laki itu juga terlihat mengagumkan !

" Oh Sehun ! Air liur mu sudah cukup membasahi meja makan ini. " Sekali lagi Jongin ia tidak pedulikan.

Besok dan besok dan seterusnya, Sehun tetap saja masih melihat - lebih tepatnya menatap - laki-laki itu dari kejauhan. Sehun tidak berani berdepan secara langsung dengannya karna ia sendiri tidak ingin mempercayai apa yang akan keluar dari mulutnya sendiri jika sudah berhadapan dengan sumber tatapannya itu.

Jongin telat sekali lagi. Kim Idiot Jongin yang menyukarkan Oh Sehun yang cantik, yang imut dan lucu ini. Jongin seharusnya bersyukur karna memiliki teman sesabar Sehun.

Tidak ingin menjadi tembok di pinggir pagar kampus, Sehun memutuskan untuk menunggu Jongin di padang kampus. Ehem, sekaligus menatap laki-laki idamannya yang sedang asik bermain sepak bola bersama teman-temannya.

Ohhh, dan Sehun sedikit berterima kasih kepada Jongin - meskipun barusan ia merutuk temannya itu - karna sumber tatapannya ada di sana. Dengan rambut dark marun nya yang sudah basah gara-gara keringat, bahkan Sehun bisa melihat abs - oh tuhan - dia harus memastikan liurnya tidak kelihatan sebelum kembali memerhatikan laki-laki itu.

Malangnya, detik bahagianya cuma seketika karna Kim Idiot Jongin sudah datang dengan nafas tersengah dan keringat di pelipis - okay, Sehun memaafkan nya - dan laki-laki itu menarik Sehun menjauhi padang kampus untuk pulang.

" Sehun, kau harus mengurus fanatik mu terhadap laki-laki China itu."

Hari yang indah lagi, hari di mana Jongin mengajaknya untuk belajar di perpustakaan dan Sehun berhasil mengisi waktunya menatap laki-laki itu dari kejauhan.

" Sehun ? "

Sehun mendesah lemah saat raut Jongin menghalang penglihatannya.

" Jongin, relax. Aku cuma ingin memerhatikannya dari jauh. Lagian, kau tidak tau berapa banyak fanatik selain dariku yang gila padanya ?! Jadi kau tidak perlu khawatir dan biarkan aku menatapnya. "

Jongin menggeleng pelan sebelum dia kembali mengambil buku dan mulai belajar. Meninggalkan Sehun dengan dunia kecilnya.

Untung seorang laki-laki, Jongin sedikit berisik. Tapi, mungkin saja apa yang Jongin katakan itu benar. Mungkin Sehun seharusnya mengungkapkan perasaan nya kepada laki-laki itu. Dan seorang Oh Sehun akan melakukannya dengan jiwa yang tegar dan berani !

Pakkk !

Sehun meletak tangannya di permukaan lokar bersebelahan dengan pundak laki-laki itu - yang ditatapnya selama ini - dan mendongak. Surai cokelatnya sedikit berantakan namun Sehun tidak peduli.

" Hey, sunbaenim ! Keluarlah dengan ku karna aku sudah tidak tahan dengan kelaparan ku. "

Laki-laki itu memberikannya tatapan bingung. Okay, ini sedikit menonjol karna Sehun berani-beraninya menahan laki-laki itu di kawasan loker - tempat penyimpanan buku-buku mereka - dan anak-anak lain mulai berhenti untuk melihat mereka berdua dengan tatapan tertarik.

Jongin yang melihatnya dari kejauhan hanya mampu menggeleng putus asa sembari menepuk jidatnya. " Anak itu sudah gila."

" Umm, bukankah seharusnya kau ke kafeteria dan makan ? "

Sehun, masih dengan tatapan sok manly masih menatap mata rusa laki-laki itu.

" Aku tidak butuh makanan jika aku bisa memakan mu, sunbaenim ! Lagian tubuh ku yang menginginkannya !"

Bagaimana ada seorang gadis dengan rasa tidak malu mengatakan kata-kata itu ? Bahkan laki-laki itu sontak memerah dan ia bisa mendengar teman-temannya tertawa keras di belakang.

" Hoobae, kau tidak mabuk kan ? Hentikan kekonyolan ini dan masuk ke kelas mu !"

Sehun menggeleng laju. Jika tadi hanya tangan kirinya yang mengurung laki-laki yang jelas lebih tinggi darinya itu, ia kini meletak kedua tangannya.

" Lu Han sunbae ! Keluarlah dengan ku !" Mungkin karna suara tegasnya atau sikap konyolnya, Lu Han sedikit kagum dan tertawa kecil.

" Baiklah. Sebelum itu, perlu kuingatkan, Oh Sehun... " Sedetik kemudian, Lu Han mengubah posisi mereka. Sehun kini terperangkap dengan kedua tangan Lu Han. Okay, ia ingin bertanya mengapa Lu Han mengetahui namanya namun rasa rama-rama yang sedang berterbangan dalam perutnya itu membuatkan Sehun menunda pertanyaan itu nanti.

" ... bahawa disini akulah yang akan memakan mu. "

I hate you, I love you - Gnash ft Olivia O'brien

All alone I watched you watch her

She is the only thing you've ever see

How is it you never notice ?

That you are slowly killing me

Penyakit Hanahaki adalah penyakit yang lahir dari cinta satu sisi, di mana pasien muntah dan batuk dari kelopak bunga ketika mereka menderita cinta sepihak. Infeksi dapat diangkat melalui operasi, tetapi perasaan akan hilang bersama dengan kelopak bunga tersebut.

Dan Sehun tidak akan pernah mempercayainya jika saja ia tidak memuntahkan daisy putih yang cantik namun ternoda dengan darah merah.

Ini konyol, pikirnya karna bagaimana bisa penyakit seperti ini bisa wujud ? Bagaimana bisa seseorang memuntahkan kelopak bunga hanya karna cinta sepihaknya ? Bagaimana...

Sehun membenci penyakit gila ini namun tidak sanggup untuk menghilangkan perasaan nya untuk Lu Han.

Sedikit kelelahan, Sehun akhirnya tertidur di dalam tub mandi yang dingin dan kosong itu.

" Sehun-ah, kau kelihatan kurus. Semuanya baik-baik saja ?" Lu Han meletak telapak tangannya di dahi Sehun dan raut khawatir yang menempel di wajahnya membuatkan Sehun tersenyum kecil.

" Aku baik-baik saja. Oh iya, bagaimana dengan pertemuan mu dengan Hana ? Apa menyenangkan ?" Ah, seharusnya ia tidak membangkitkan persoalan ini namun saat melihat raut wajah Lu Han, Sehun tidak menyesal bertanya.

" Hana sangat imut dan lucu, Sehun ! Kau harus melihatnya. Oh, mungkin kalian berdua bisa menjadi teman ?"

Meskipun Sehun harus menderita.

" Bisa, Lu. Apapun untukmu, pasti bisa."

Dan malam itu ia batuk kelopak mawar merah. Berselerak di pinggir kasurnya ditemani dengan senyuman hangat Lu Han saat memikirkan kekasihnya.

" Sudah berapa lama anda menghidapi nya, Nona Sehun ?"

" Hmm, tiga bulan ?"

" Ah, Nona saya sarankan, jalani operasi jika nona ingin terus hidup."

Okay, perbualan nya bersama dokter Kim tadi siang sedikit menyeramkan. Memangnya apa yang harus ia lakukan ? Apakah dengan membuang perasaan itu bisa memperbetulkan keadaan ? Tetapi perasaan ini... Sehun tidak pernah ingin hilang.

Meskipun ia harus memuntahkan kelopak bunga setiap malam.

Sehun merutuk kesal saat ia mulai merasakan ingin memuntahkan sesuatu - apalagi kalau bukan bunga ?! - saat ia makan siang bersama Lu Han dan juga Hana, gadis mungil dan imut, sama seperti yang Lu Han katakan.

Ia menutup mulutnya dengan pantas. Dan buru-buru menuju ke toilet kafe sebelum memuntahkan sepucuk mawar merah. Rasanya sakit sekali dan tanpa dipinta Sehun menangis kecil.

Entah karna kesakitan memuntahkan bunga tersebut atau kesakitan melihat bagaimana Lu Han menatap Hana sama seperti tatapan yang Sehun berikan kepada Lu Han.

Tepat setahun Sehun menghidapi penyakit tersebut, gadis itu akhirnya terdampar di rumah sakit. Lebih daripada lima wayar menyucuk ke tubuh nya yang semakin mengurus. Beberapa kelopak mawar merah, daisy putih, tulip kuning dan bunga lainnya berselerak di keliling kasur rumah sakitnya.

Bahkan doktor yang merawatnya hanya mampu memberi tatapan simpati terhadapnya karna Sehun tidak ingin menjalani operasi pembuangan infeksi itu.

Sehun membuang pandangannya ke luar jendela, menikmati padang hijau yang terbentang luas dan angin yang membelai wajahnya. Rambut hitamnya yang dulu panjang kini sudah dipotong sehingga ke paras bahu. Hahh, rasanya mendamaikan. Meskipun terkadang ia akan terbatuk dan kelopak bunga akan keluar dari mulutnya.

" Sehun...? "

Sontak ia melirik ke pintu kamar dan kaget saat melihat Lu Han masuk dengan riak wajah yang bingung serta khawatir saat melihatnya seperti ini.

" Lu. Kau baik-baik saja ? Aku sudah lama tidak menemui mu."

Lu Han meliarkan pandangannya dan saat menyadari kelopak bunga yang mengelilingi kasur serta lantai kamar itu buru-buru ia berdiri di sebelah Sehun.

" Sehun-ah, kenapa kau tidak pernah mengatakan nya padaku ?!" Ucapannya sedikit terdesak, kedua tangannya menggenggam tangan Sehun yang lebih kecil dan lemah.

" Hah, seharusnya kau tidak melihat ku seperti ini, Lu Han. Aku kelihatan jelek meskipun dikelilingi oleh bunga-bunga ini. Bunga-bunga ku."

Lu Han menggeleng pelan. Matanya kelihatan bersinar dengan air mata dan Sehun baru menyadari betapa ia merindukan sosok itu. Tanpa ia sedari, tangan kurusnya naik dan membelai pipi halus Lu Han.

" Lu Han ku semakin tampan. Apakah Hana menjagamu dengan baik ? Apakah kau bahagia dengan nya ? "

Laki-laki itu mengangguk, memegang tangan Sehun yang masih menempel di wajahnya. Hatinya terasa sakit saat merasakan tangan yang dulunya sering memegangnya erat itu kini sudah berubah kurus, lemah.

" Hana... sudah menjadi tunangan ku, Sehun-ah. "

Sehun memuntahkan lebih banyak daisy putih setelah Lu Han pulang.

Sebentar lagi, pikirnya. Waktunya akan tiba. Dia akan pergi dan membawa cinta yang ada dalam hatinya itu bersama. Dia akan pergi dan membiarkan bunga cintanya mekar bersama nya.

Perasaan ini, meskipun menyakitkan namun indah. Meskipun ia tidak bisa memiliki, tidak mengapa. Asalkan Lu Han tersenyum, asalkan Lu Han tertawa. Asalkan Lu Han bahagia.

Maka Sehun juga akan bahagia.

Baginya, cukup dengan Lu Han yang menemaninya beberapa hari ini. Meskipun ia banyak membicarakan Hana dan Sehun terpaksa membatukkan kelopak bunga dari mulutnya, Sehun tidak peduli.

Namun, saat suatu hari ia memuntahkan sepucuk bunga matahari penuh, tengkoroknya terasa pedih, matanya berair. Terasa begitu menyiksakan dan Lu Han terpaksa melihat nya dengan tatapan terluka.

" Sehun-ah, apakah karna ku ? Sakit ini, apakah karna cinta mu padaku ?" Meskipun Sehun sudah terbaring lemah gara-gara memuntahkan bunga matahari itu, ia masih bisa memikirkan siapa yang memberitahu Lu Han ?

" Yixing. Dia yang mengatakannya padaku. Sehun-ah, kumohon jangan pergi. Aku akan membalas perasaan mu. Tidak, aku akan mencintaimu. Aku akan menyayangi mu. Jadi, Sehun-ah, jangan pergi. Tetaplah di sisi ku. " Sehun bisa melihat Lu Han memegang bunga mataharinya itu sembari menangis kecil. Berlutut di pinggir ranjang dan sebelah tangannya membelai rambut nya pelan.

Namun Sehun tahu, ia selalu tahu.

" Lu, aku mencintaimu. Ah, aku cukup bahagia bisa mengatakannya kepadamu. Aku mencintaimu, Lu Han. Maafkan aku karna menyembunyikannya tapi aku mencintai mu, Lu Han. Terima kasih untuk segalanya. Kau berarti dalam hidupku, ingat itu. Selamat tinggal, Lu. "

Hari itu Sehun pergi. Dan mawar putih menghiasi makamnya. Musim bunga menjadi nadinya.

Lu Han menyandarkan punggungnya ke pinggir kasur. Jas hitamnya kelihatan berantakan namun ia tidak peduli. Bahkan ponselnya yang berdering berkali-kali ia tidak pedulikan.

Mata rusanya hanya menatap bunga matahari - bunga Sehun - dan tanpa sadar matanya berair. Dadanya terasa sesak dan ia berteriak kesal saat senyuman indah Sehun merasuk pikirannya.

" Sehun-ah ! Ahhh, Sehun-ah. Ahhhhhh. Sehun - hic! - Sehun-ahhhhhhhhh." Ia merengek. Meminta. Memohon. Meskipun tidak akan pernah bisa membangunkan temannya itu kembali.

Dalam matanya yang terasa kabur karna air mata, Lu Han menemui kelopak mawar biru di pangkuannya.

Mawar biru membawa maksud satu kemustahilan. Tidak akan pernah mampu digapai oleh seseorang. Tidak akan pernah mampu untuk dimiliki.

Dan Lu Han memuntahkan sepucuk mawar biru selepas itu.

Into you - Ariana Grande

A little less conversation and a little more touch my body

Cause Im so into you, into you

Lu Han tipe laki-laki yang tidak banyak bicara namun setiap pergerakannya mempunyai maksud yang mendalam dan berarti lebih daripada perkataan nya sendiri.

Oleh itu, Sehun lebih menyukai Lu Han berbicara dengan sentuhannya tidak kira hanya dengan kecupan-kecupan ringan yang hinggap sekitar wajahnya atau saat laki-laki itu menggenggam tangan mungil nya erat dan menghadiahkan ciuman di bibirnya tanpa aba-aba.

Karna kekasihnya itu tidak terlalu mahir dengan kata-kata.

Namun ia harus akui perasaan cemburu sering hadir saat Hana dan Baekhyun menebar aura dilamun cinta mereka di hadapan Sehun. Mereka bahkan dengan tidak tau malu saling meluahkan perasaan mereka di hadapan Sehun.

Toh, Lu Han pernah mengatakan ' aku mencintaimu ' meskipun cuma sekali - sewaktu Lu Han meluahkan perasaan nya dan meminta Sehun untuk menjadi kekasihnya - namun Sehun masih menghargainya dan mencintai Lu Han sama banyak meskipun situasi itu sudah berlalu dua tahun yang lepas.

Akan tetapi, Sehun masih tetap ingin mendengar laki-laki itu mengucapkannya sekali lagi. Sekali saja !

" Han ? "

Bibir Lu Han yang bermain di sekitar lehernya terasa menggelikan namun menyenangkan. Kedua tangan mereka saling berkait dan posisinya yang sedang berada dalam dekapan hangat Lu Han membuatkan Sehun terasa nyaman dan dicintai.

" Kenapa, Hun ?"

Buat seketika Sehun memainkan jemari Lu Han yang terletak di atas perutnya itu. Memikirkan apa dia harus mengutarakannya atau menyimpannya saja.

" Bisakah kau mengatakan... hmm ' aku mencintai mu' ?"

Tawa kecil yang hadir dari kekasihnya membuatkan pipi Sehun bersemu kemerahan. Argh, semuanya karna si Baekhyun dan Hana yang PDA di hadapannya tadi siang !

" Apakah setiap perbuatan ku tidak menjelaskan betapa aku mencintaimu, Hun ? Aku bisa mengatakannya setiap saat jika kau inginkan." Kecupan kini naik di sekitar leher lalu ke telinganya. Tangan Lu Han kini menyusup masuk ke gaun tidur nya. Buat seketika Sehun menutup matanya erat. Membiarkan tangan hangat Lu Han menyentuh tubuhnya.

" Bukan, bukan seperti itu, Han ! Ahh~ aku cuma... cemburu ?" Okay, ini memalukan. Lu Han pasti mentertawakannya jika mendengar alasan keanakkannya itu.

Bahkan suara Lu Han terasa rendah dan mengasikkan di daun telinganya. Tangan mungil Sehun juga berusaha untuk menyentuh kekasihnya itu meskipun ia tidak bisa berkonsentrasi sepenuhnya karna kini Lu Han sudah mulai menyerang rahang dan juga bibirnya.

" Cemburu ? "

" Habisnya Baekhyun dan Hana menebar PDA di hadapan ku tadi siang. Lagian, pertama dan terakhir kali kau mengatakannya sudah berlalu dua tahun yang lepas. "

Sehun bisa merasakan posisi mereka sudah berubah. Entah bagaimana kini mereka saling bertatapan atau lebih tepatnya Sehun kini sudah duduk di pangkuan Lu Han. Pipinya makin terasa panas saat mata mereka saling bertatapan.

" Aku mencintai mu, Sehun-ah. Kukira hanya dengan sentuhan atau tindakan sudah cukup untuk membuktikannya padamu."

Ahh, persetankan dengan Baekhyun dan Hana. Karna Sehun selalu tau setiap tindakan mahupun sentuhan Lu Han terhadapnya, gadis itu bisa merasakan betapa Lu Han mencintai nya meskipun tidak diungkapkan dengan kuat dan jelas dengan kata-kata.

" Okay, kita hentikan perbualan konyol ini dan ayo lanjutkan."

Dan malam itu sekali lagi Lu Han membuktikan betapa ia mencintai Sehun dengan setiap sentuhan nya dan desahan rendah nya.

Oleh itu, Sehun memutuskan ia lebih menyukai Lu Han yang mengalirkan rasa cintanya melalui sentuhan dan tindakan. Ia tidak butuh pengungkapan jika mata rusa itu sudah menjelaskan semuanya.

XXXXXXX

Bagaimana dengan chapter ini ? Please Review karna aku butuh dukungan dan juga pendapat kalian.

Dan terima kasih pada yang masih mendukungku dan bersama ku~

Oh, dan drabble ini ada part two nya ! ^3^

Sampai ketemu di chapter seterusnya~