"Duduklah" kata Yuta

"Apa yang Ratu bicarakan padamu?" sambung Yuta

"Apa maksud anda Pangeran?" tanya Taeyong tidak mengerti

"Bukankah Ratu mengutusmu kemari untuk bertemu denganku dan merencanakan perjodohan itu?"

"A-Apa? T-Tunggu dulu. Saya kemari bukan untuk itu"

"Lalu ada apa kau meminta untuk bertemu denganku?"

"Saya menginginkan pengembalian lahan dari rakyat pedesaan dekat perbatasan Kerajaan Silla dan juga pembayaran hasil panen dari tiga perempat lahan mereka" ucap Taeyong tegas

"Apa urusanmu dengan Kerajaanku?!" ucap Yuta dengan sedikit emosi

"Anda mempermasalahkan pasokan dari Kerajaan Goguryeo bukan? Mereka para petani yang memintanya sehingga pasokan tersebut di antar ke pedesaan mereka dan itu masih belum cukup untuk mengganti pengambilan yang Anda lakukan pada mereka" kata Taeyong sengit

"Dasar rakyat lemah" gumam Yuta

Taeyong yang mendengar hal itu langsung tersulut emosi. Dia bangun dan langsung menarik pakaian Yuta sehingga mereka berdua berhadapan sangat dekat. Mungkin sedikit dorongan, bibir mereka akan bertemu jika situasinya tidak seserius ini.

"Lemah anda bilang? Mereka bekerja dengan keras dengan ladang mereka hingga hidup serba kekurangan karena hasilnya kau ambil begitu saja Pangeran terhormat!" geram Taeyong

"Kau jika marah semakin cantik. Tapi untuk dayang tidak sopan sepertimu, aku tidak akan mengembalikannya dan akan menyatakan perang dalam waktu dekat ini!" ucap Yuta lantang dan mendorong kasar Taeyong hingga dia terdorong dan terjatuh karena pertahanannya yang lengah

"Maaf tuan, aku bukanlah seorang dayang" ucap Taeyong dan berdiri menatap sengit pada Yuta

"Aku adalah pemimpin pasukan" sambungnya

"Kau? Pemimpin pasukan? Yang benar saja!" kata Yuta diselingi tawa dan berhadapan dengan Taeyong

"Kecuali satu hal"

Yuta mulai mendekati Taeyong namun Taeyong tidak pernah takut terhadap apapun sehingga dia hanya diam dan mengamati Yuta meski hanya berjarak beberapa centi saja. Yuta membelai pipi kanan Taeyong dan mendekatkan bibir nya pada telinga Taeyong.

"Kau harus menjadi permaisuriku" bisiknya

Taeyong terkejut mendengar hal tersebut dan ingin memukul perut Yuta namun sebelum hal itu terjadi Taeyong terdorong hingga menuju tembok dan kedua tangannya tertahan di atas kepalanya. Taeyong melakukan segala cara agar bisa terbebas namun dia hanyalah wanita tidak berdaya untuk saat ini, dia menatap Yuta sengit saat wajah Yuta mulai mendekat padanya.

"Apa yang ka-mphh!"

Yuta mencium bibir Taeyong dan melumatnya kasar. Taeyong kaget namun dia tidak bisa berbuat apapun, dan dia mulai terbuai dengan ciuman Yuta namun dia harus tetap pada pediriannya, dia harus mengembalikan lahan milik rakyat tersebut. Dengan sekuat tenaga dia menendang ke arah selangkangan Yuta dan membuat juta jatuh tersungkur. Dengan kasar Taeyong mengusap bibirnya dan memandang rendah Pangeran Yuta.

"Inikah sikap seorang Pangeran?" ucap Taeyong dengan nada dingin

"Jika kau tidak mengembalikan lahan rakyatmu, aku akan menyiksamu hingga mati" sambungnya

Taeyong menyingkap roknya dan mengambil pedang yang sudah ia siapkan sebelumnya. Taeyong sudah dengan posisi berperang dan memperhatikan Yuta yang mulai bangkit berdiri meski menahan sakit di selangkangannya, aset membuat keturunannya kelak. Yuta melihat Taeyong yang serius dan menakutkan tersebut langsung angkat tangan.

"O-Okay, turunkan pedang itu" ucap Yuta perlahan

"I-Iya iya! Aku akan mengembalikannya! Aku berjanji!" teriak Yuta menyerah dengan ketakutan

"Hn dasar lemah" ejek Taeyong

"Aku tidak ingin kehilangan wajahku yang tampan ini oke? Kau hampir menghancurkan masa depanku" ucap Yuta ketus

"Aku ingin secepatnya kau mengembalikan lahan milik rakyatmu dan aku janji pasokan dari Kerajaan Goguryeo akan tiba disini, aku sendiri yang akan menjamin kepastiannya" ucap Taeyong

"Kau yang akan mengantarnya sendiri kan?" tanya Yuta

"Jika aku tidak ada tugas, aku yang akan mengantarkannya. Jika ada tugas maka akan ada Wonhwa yang akan mengantarkannya"

"Baiklah, tapi ingat. Kau akan tetap menjadi permaisuriku" ucap Yuta diselingi kedipan nakal dan senyumannya yang menurut Taeyong sedikit menawan, hanya sedikit

Taeyong memutar bola matanya jengah dengan sikap Yuta dan dia langsung keluar karena memang urusannya di sana sudah selesai. Yuta mengikutinya sekedar mengantar calon permaisurinya-menurutnya- kembali ke pasukannya. Taeyong pun memandang Yuta dan membungkuk sekilas sebagai penghormatan.

"Selamat jalan calon permaisuriku, aku akan berkunjung beberapa hari lagi!" teriak Yuta

Taeyong yang mendengarnya langsung melempar pedang kecilnya dan menatap Yuta sengit, namun sayangnya di hadang oleh penasihatnya dan membuat Taeyong menggeram rendah karena tidak mengenai Yuta. Bagaimana bisa Pangeran dengan kekuasaannya itu bertindak konyol berteriak bahwa dia calon permaisurinya, dihadapan pasukannya dan Putera Mahkota pula.

Jaehyun yang mendengar teriakan Yuta mengeratkan genggamanya, dia merasa tidak nyaman di dadanya.

"Apa yang mereka bicarakan? Kenapa Yuta berkata seperti itu?" gumam Jaehyun dan merekapun pulang dengan hasil baik karena Taeyong.

Selama perjalanan pulang, Taeyong merasa pusing dan nampak lemah. Dia merasa tenaganya berkurang drastis padahal dia tidak berperang atau kelelahan. Taeyong yang curiga langsung merobek balutan di lengan kirinya serta kain lengan gaunnya dan ternyata benar dugaan Taeyong. Anak panah yang sempat tertancap di lengan kirinya mengandung racun.

Pasukannya melihat lengan Taeyong yang berwarna kontras tersebut tersentak kaget karena mereka tidak merasakan apapun dan luka mereka baik-baik saja setelah diobati Taeyong. Mereka tersadar kalau Taeyong tidak sempat mengobati dirinya sendiri dan mementingkan keselamatan mereka. Segera mereka menyalakan meriam untuk memberi tanda pada Hwarang dan Wonhwa sedangkan mereka menetap di tempat tersebut untuk beristirahat dan menunggu bala bantuan.

Tidak lama kemudian Hwarang dan Wonhwa datang, mereka yang melihat keadaan Taeyong terbaring dengan wajah pucat dan lengannya yang berwarna ungu gelap itu langsung menghampirinya.

"Kapten Lee! Apa yang terjadi?!" teriak Moonbin panik

"Kau tidak apa-apa Putera Mahkota?" kata Yongguk setelah melihat keadaan Taeyong

"Aku tidak apa, Kapten Lee yang berada di depan sehingga dia menghalangi anak panah tersebut dariku. Tabib Jihoon segera obati lukanya, aku takut akan menyebar lebih jauh lagi" perintah Jaehyun yang cemas melihat kondisi Taeyong

Dia terluka karena berada di depan Jaehyun, dan Jaehyun merasa bahwa dia seorang lelaki yang lemah dan hanya bisa berlindung di belakang Taeyong. Setelah mendengar perintah dari Putera Mahkota, Moonbin menggendong Taeyong dan membaringkannya di gerobak kosong yang sengaja mereka bawa untuk jaga-jaga. Jihoon pun naik menuju gerobak tersebut dan mulai mengobati Taeyong yang menurutnya sudah cukup parah.

Selama menunggu pengobatan Taeyong, Hwarang dan Wonhwa memeriksa keadaan sekitar dan menanyakan kejadiannya kepada Jaehyun. Setelah mendengar hal tersebut, Hwarang merasa kesal karena dengan gampangnya mereka menyetujui rencana dari Taeyong dan sekarang nyawanya dipertaruhkan karena rencana itu.

"Soonyoung-rang!" teriak Jihoon

Segera Soonyoung yang sedang beristirahat tersebut mendekati isteri cantik namun galaknya yang berprofesi sebagai tabib bagi Hwarang dan Wonhwa.

"Ada apa?" tanya Soonyoung

"Kapten Lee, keadaannya semakin melemah. Kita harus membawanya pulang. Peralatanku disini tidak lengkap, aku bisa menahan penyebarannya selama kita pulang" ucap Jihoon khawatir

Sontak Soonyoung berlari menuju pasukannya dan menjelaskan apa yang dikatakan oleh isterinya tersebut. Jaehyun yang khawatir tersebut langsung menaiki gerobak dengan alasan dia tidak bisa berkuda, dan mereka pun segera berangkat pulang dengan kecepatan penuh. Selama perjalanan, Jaehyun menggenggam erat tangan Taeyong yang sekarang terlihat kesakitan dan pucat pasi. Jihoon yang melihat hal itu hanya bisa terdiam dan terheran karena selama yang ia tau, Putera Mahkota hanya mencintai Puteri karena mereka terlihat mesra di paviliun timur, tempat dimana Puteri tinggal.

Sesampainya di Kerajaan Goguryeo, mereka langsung menuju tempat Jihoon kerja sebagai tabib istana. Dibaringkannya Taeyong di tempat tidur dan Jihoon dengan cekatan memberikan pertolongan pada Taeyong. Pada Hwarang dan Wonhwa dengan khawatir berada di depan pintu bersama dengan Jaehyun yang duduk di tempat yang sudah di sediakan.

"Aku rasa kita harus memberitahu Panglima Lee dan Kasim Lee. Mereka harus tau keadaan Kapten Lee sekarang" usul Yongguk

"Ku rasa itu benar, aku akan menuju paviliun keluarga Lee" kata Eunwoo dan segera berangkat menuju paviliun keluarga Lee

Keluarga Lee langsung datang disaat Eunwoo memberitahu keadaan Taeyong dan mereka semua berkumpul di depan pintu dengan khawatir. Mereka berdoa semoga Taeyong baik-baik saja, dan Xiumin merasa paling terpukul disini. Coba saja dia memaksakan untuk ikut bersama Taeyong, mungkin dia tidak akan berada di dalam sana menahan sakit.

Tak berapa lama kemudian, pintu sudah terbuka dan Jihoon keluar dengan tersenyum menenangkan mereka yang menunggu dengan tegang.

"Kapten Lee dapat terselamatkan, penyebaran racunnya tidak secepat yang aku perkirakan. Kapten Lee memang hebat" ucap Jihoon

Mereka semua yang menunggu menghela nafas lega, bersyukur bahwa Taeyong tidak terluka parah. Xiumin meminta ijin untuk menemui Taeyong dan dia masuk menghampiri Taeyong yang terlihat mulai membaik. Xiumin menggenggam tangan Taeyong dengan erat seakan jika dia melepaskannya, dia akan kehilangan adik kesayangannya yang jahil tersebut. Sesekali dia mencium kening adiknya berharap dengan itu kesakitannya akan berangsur hilang.

Penasihat Park datang menuju tempat tabib dan mengatakan pada Jaehyun kalau Raja dan Ratu beserta Puteri Mahkota meminta untuk dia menemui mereka. Dengan berat hati, Jaehyun berjalan meninggalkan tempat tersebut dan menuju istana utama.

Beberapa hari kemudian, Taeyong yang sudah beranjak pulih namun masih dalam perawatan Jihoon sehingga dia diberi istirahat selama pemulihannya dan terbebas dari tugas apapun. Taeyong yang sedang berada di taman istana, duduk tenang menghadap hamparan bunga yang diminta oleh Doyoung, teman kecilnya yang akan menjadi permaisuri Jaehyun.

"Terkadang kita harus bisa menjaga apa yang kita cintai, meski hal tersebut dapat membunuh kita. tak apa, selama dia masih bisa bernafas aku akan tetap mencoba untuk bernafas karena jantungku berdetak hanya karnanya. namun jantungnya berdetak bukan untukku" ucapnya

Taeyong hanya bisa tersenyum pahit, dia harus bisa merelakan Jaehyun yang akan menikah sebentar lagi. Entah dia harus datang ke acara tersebut atau dia bisa saja berpura-pura belum pulih. Tapi sama saja jika dia tidak datang, dia tidak menghargai kemurahan keluarga kerajaan kepada keluarganya. Tiba-tiba ada sepasang tangan kekar namun hangat menutup kedua matanya.

"Kak, aku sedang tidak ingin bercanda" ucapnya lirih

"Sayangnya aku bukan kakakmu" ucap Yuta

TBC

Sorry yaaa baru update sekarang, semoga kalian tetep review dan suka sama ceritaku, LOVYA!