Hetalia Axis Powers © Hidekaz Himaruya. Penulis tidak mendapatkan keuntungan materiil apapun dari fanfiksi ini. Standard warning applied. South Italy/Liechtenstein; AU.

Entri untuk #SecretValentine2018


when the sun kissed your eyes

.

Mungkin karena bahkan dalam ingatan-ingatan paling awalnya pun, Lovino telah berada di sana. Ia selalu berada dalam bola kaca yang membangun dunia Liesel; nyaris dua puluh empat per tujuh di bawah atap yang sama, lalu bersekolah di tempat yang sama pula, dan berlibur bersama-sama. Kecuali pada beberapa minggu setiap musim panas tiba. Herr Romulus biasa membawa Lovino dan Feliciano ke Italia untuk bertemu sanak saudara mereka yang menurut Lovino tersebar di seantero negeri sana. Liesel sendiri hanya pernah mengunjungi Roma.

Lovino bilang, Jerman benar-benar payah jika dibandingkan dengan Italia—makanannya payah (kecuali semua makanan yang dimasak Papa!), kebun anggurnya payah, mataharinya payah, dan pantainya sangat-sangat payah—tapi, di Italia tak ada Liesel. Jadi ia terpaksa kembali ke Jerman, ke Dresden yang baginya luar biasa membosankan. Begitulah.


Liesel tahu Lovino tak seharusnya hadir di pesta tehnya, yang penuh dengan kue-kue menggemaskan, kikikan riang dan gaun berenda milik gadis-gadis kecil teman sebayanya, serta boneka-boneka mereka. Tapi Lovino duduk dengan santai, meminum tehnya, menyantap pudingnya (aku yang membuatnya bersama Papa!), dan mengabaikan komentar soal bagaimana anak laki-laki tak seharusnya berada di dapur.

("Tentu saja aku ada di dapur, tolol, aku ini anaknya juru masak.")

Ia mengabaikan pula jeritan kaget kawan-kawan Liesel tentang cara berbicaranya yang menurut mereka terdengar seperti 'seorang pelaut', aku suka jalan-jalan naik kapal, apa masalahmu?—tantangnya. Liesel yang berusia delapan tahun berpikir, inilah mengapa aku tak punya teman perempuan selain Elizabeth.

Nanti, ia pun akan memproklamirkan diri sebagai suami Liesel, ayah dari boneka beruang yang kerap dibawa gadis kecil itu ke manapun, juga pemilik toko kue luar angkasa yang menggunakan kapal bajak laut terbang untuk berjualan—karena pesawat tempur terlalu sederhana baginya, dan menurut Lovino, bau besi membuatnya ingin muntah. Lima menit kemudian Elizabeth memutuskan bahwa ia adalah bandit yang menjarah toko kue Lovino, dan mereka mulai mengibarkan bendera perang di atas meja makan, mengusir tamu-tamu lainnya. Liesel memijat kening seperti yang ayahnya (juga ayah Ludwig, dan Ludwig sendiri) sering lakukan tiap kali mereka dihadapkan pada situasi yang seperti kata Lovino… tolol.

Anak-anak perempuan itu akan mengadu pada ibu mereka, yang mengadu pada ibu Liesel, soal anak juru masak keluarga Beilschmidt yang seharusnya dikirim saja ke asrama, supaya satu atau dua kali mencicipi cambuk atau tamparan—dan sungguh, seharusnya dijauhkan dari Liesel yang cantik dan baik hati. Tapi omelan-omelan itu memantul bahkan sebelum masuk ke telinga kanan Lovino, dan tak seorang pun di kediaman keluarga Beilschmidt tega mengayunkan tangan pada si sulung Vargas yang tengil.

Itu hanya satu cerita.

Cerita lainnya adalah bagaimana ia, dengan tangan dan kaki gemetar, serta gaun yang nyaris sobek, memanjat salah satu pohon birch di kebun belakang. Tak ada anak kucing manapun yang perlu diselamatkan; Liesel hanya ingin mendengar (lagi) bagaimana Lovino menyebutnya sebagai anak perempuan paling mengagumkan di dunia—yang bahkan lebih mengagumkan dibandingkan Elizabeth, dan secara otomatis, semua anak perempuan lain yang pernah ada. Liesel menatap ke bawah dengan wajah pias. Ia benci memanjat pohon, meski Lovino memandangnya dengan mata berkilat-kilat dari batang di sebelahnya. Terutama ketika Elizabeth dan Gilbert, sepupu Liesel, memutuskan bahwa ini saat yang tepat untuk menjadi bajak laut dan menjatuhkan satu sama lain ke 'laut' di bawah sana. Sebelum Basch datang lalu meneriaki mereka semua untuk turun.

Petang itu Lovino mengetuk pintu kamarnya, dengan telinga merah pedas dan betis penuh lecet. Sepertinya Herr Romulus mulai menganggap serius nasehat para nyonya tentang hukuman ala asrama. Liesel mengompres betis Lovino dengan sapu tangan kesayangannya selagi Lovino bergelung bersama anak kucing yang didapatnya entah dari mana, diam-diam menangis.

Siang tadi pun, Liesel mendapatkan ceramah panjang-lebar tentang bagaimana ia adalah seorang anak perempuan, dan anak perempuan yang baik tidak mengangkat gaun mereka tinggi-tinggi lalu memanjat pohon—yang berarti Liesel bukan lagi anak perempuan yang baik; dua kali karena hari ini ia telah mengecewakan ibunya, dan jika Liesel melakukannya lagi, maka salah seorang dari mereka harus pergi—Lovino ke Italia, atau Liesel ke asrama wanita di ujung lain kota sana.

Ia menggeleng cepat-cepat, berjanji untuk tidak akan melakukannya lagi. Selain karena memanjat pohon bukan hal favoritnya, ia pun tak ingin berpisah dengan Lovino, satu-satunya sahabatnya. Prospek bermain bersama Lovino tentu lebih menggiurkan dibanding menjadi anak perempuan yang baik, tapi Liesel tak akan bilang pada siapapun. Kecuali Lovino, tentu saja.

"Masih banyak yang bisa kita lakukan." Lovino datang dengan setumpuk buku keesokan harinya, "Dan hal-hal brutal bukan salah satunya."

Lanjutnya, "Lagipula, semuanya hanya menjadi brutal jika Gilbert dan Elizabeth ikut bergabung. Kita harus mengganti teman."

Maka hari-hari selanjutnya diisi dengan menggunakan mengawasi Ludwig dan Feliciano bermain; yang lebih seperti Liesel dan Ludwig berulang kali mencegah Lovino dan Feliciano menciptakan kekacauan baru. Di penghujung sore, Feliciano tak berhenti menangis, sementara Lovino bertambah pedas merah di telinganya.

Karena itu rutinitas terbaik bisa jadi yang seperti ini; Lovino mengekori tiap langkah Herr Romulus di dapur, sedangkan Liesel duduk di sisi lain meja, menggambar cemilan-cemilan yang ingin disantapnya hari itu—karena menurut Lovino, ia payah dalam menggambar. Herr Romulus selalu memperhatikan gambar Liesel dan menambahkan komentar-komentarnya, dan segera saja, dapur menjadi markas baru mereka.

Mungkin impian Lovino untuk menjadi pemilik toko kue luar angkasa yang menggunakan kapal bajak laut terbang bisa jadi kenyataan.

end


a/n:

Karena chapter sebelumnya punya kadar angst yang lumayan, jadi ini semacam kid-fic untuk penyegar(?). Masih di dalam AU yang sama dengan chapter satu, hanya berbeda timeline. Semoga bisa menghibur! /hehe