Yuta terlihat sedang berjalan-jalan mengelilingi wilayah istana, sebenarnya jika ada Taeyong disisinya dia tidak akan berjalan seorang diri seperti saat ini. Taeyong sedang sibuk dengan Raja dan pasukannya karena akan melakukan ekspedisi ke daerah yang belum terjamah oleh Kerajaan Goguryeo, rencananya Kerajaan ingin melebarkan sayapnya untuk menambahkan kekuatan pada Kerajaan itu sendiri.

"Yuta!" teriak Jaehyun

"Ah, Jaehyun. Kau tidak ikut dalam rundingan?"

"Tidak, untuk misi kali ini Taeyong tidak mengijinkanku untuk ikut andil di dalamnya. Takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan" jelas Jaehyun
Sebenarnya Yuta sedikit terbakar api cemburu, Taeyong sungguh perhatian pada Jaehyun dengan tidak mengijinkannya mengikuti misi kali ini, sedangkan dia saat menawarkan diri untuk ikut langsung di setujui olehnya.

"Oh begitu" ucap Yuta singkat

Mereka berjalan beriringan hingga tiba di istana utama, Jaehyun dan Yuta melihat ada Doyoung sedang duduk di kursi yang menghadap hamparan tanaman bunga, tempat dimana Yuta bertemu dengan Taeyong saat pertama kunjungan ke istana sebelum pernikahan Jaehyun dilaksanakan.

"Sungguh kau beruntung, Jae. Istrimu terlihat sangat cocok denganmu, dia terlihat selayaknya seorang penerus Ratu di kerajaan ini. Ku dengar, dia sudah bersama denganmu semenjak 10 tahun yang lalu?" tanya Yuta

"Ya, dia menemaniku selama 10 tahun. Aku senang sekarang dia sudah menjadi istriku"
Jaehyun memandang Doyoung penuh kasih sayang, diapun tersenyum saat Doyoung melihatnya dan membungkukkan pelan badannya dan tersenyum. Yuta pun ikut tersenyum, melihat interaksi mereka Yuta yakin, dia tidak mungkin bisa cemburu pada Jaehyun karena Jaehyun sudah memiliki Doyoung.

"Melihat kalian, aku jadi ingin segera menikahi Taeyong" celetuk Yuta

Jaehyun membeku mendengar perkataan Yuta, dia merasa hatinya tidak nyaman saat Yuta mengatakan bahwa dia akan menikahi Taeyong. Dia tidak rela Taeyong bersama dengan Yuta, dan juga orang lain. Dia merasa dirinya aneh, perasaan apa yang sedang di alaminya ini?

"Yuta!"
Taeyong berteriak dan melambaikan tangannya dari istana utama dan segera berlari menuju Yuta berada. Yuta tersenyum lebar saat melihat tingkah Taeyong yang manja padanya sehingga dia membentangkan kedua tangannya dan berjalan beberapa langkah kedepan. Dengan sigap dia menangkap Taeyong yang menubrukkan badannya pada dada bidang Yuta dan tertawa kecil, sungguh Taeyong malu dengan tingkahnya sendiri dan memeluk Yuta erat, sangat erat.

"Maafkan aku, aku harus meninggalkanmu tadi" ucap Taeyong pelan

"Tidak apa-apa, aku tau itu urusan Kerajaan dan juga ini pekerjaanmu bukan? Tidak usah menyesal seperti itu, sekarang kau sudah bersamaku"
Yuta mengecup pelan kening Taeyong dan mengusak rambutnya pelan. Melihat pemandangan di depannya membuat Jaehyun membuang muka, hatinya semakin tidak nyaman, debaran yang menyakitkan dan rasa ingin menarik Taeyong dari pelukan Yuta semakin besar sehingga dia langsung pergi begitu saja melewati Taeyong dan Yuta yang bercanda bersama.

Doyoung memandang Jaehyun sedikit kesal, ternyata apa yang selama ini dia khawatirkan terjadi juga, Jaehyun mulai tertarik dengan Taeyong. Dia meninggalkan tempat tersebut dan mengejar Jaehyun, sekedar untuk menenangkannya dan memberi perhatian agar dia tidak menemui Taeyong lagi.

Sebenarnya, Jaehyun tidak boleh ikut dalam misi ini karena Doyoung. Beberapa jam sebelum rundingan dengan Raja dimulai, Doyoung menemui Taeyong yang sedang berjalan menuju istana utama. Doyoung menghadang jalan Taeyong, dan langsung menatap mata Taeyong tajam.

"Ku dengar kau akan masuk dalam pasukan Jaehyun, benar?" tanya Doyoung dengan nada dingin.

"Benar, tuan puteri. Ada yang bisa saya bantu?"

"Bisa kau melarang Jaehyun untuk pergi bersama kalian?"
Tentu saja permintaan ini membuat Taeyong kebingungan, bukankah tugas seorang putera mahkota yang kelak akan menjadi raja untuk turut serta dalam pelebaran kekuasaan kerajaan?

"Saya tidak mengerti, tuan puteri. Mengapa tuan putera mahkota tidak diperbolehkan untuk melaksanakan tugas penting ini? Ini juga sebagai jaminan dia untuk menjadi calon raja kelak" jelas Taeyong

Doyoung menggigit bibir dalamnya pelan, sedikit memutar otaknya untuk menjawab perkataan Taeyong. Dengan tersenyum dia menjawab.

"Kau tau sendiri bukan, aku dan Jaehyun baru saja menikah. Aku ingin menikmati hariku bersamanya untuk beberapa waktu saja. Dan juga Ratu mengutusku untuk segera mendapatkan keturunan. Jadi, apakah kau bisa melarang Jaehyun untuk ikut?"

Taeyong tersentak pelan mendengar perkataan Doyoung, hatinya sedikit tersakiti dengan kenyataan bahwa seseorang di depannya ini merupakan isteri dari pria yang memiliki hatinya dulu. Melihat ekspresi Taeyong, Doyoung tertawa di dalam hati. Dia sudah berhasil membuat Taeyong untuk segera menghilang dari pandangan Jaehyun, hanya dengan cara ini dia bisa menyingkirkan Taeyong dari jangkauan Jaehyun.

Setelah berpikir cukup lama dan menimbang apa yang akan dia katakan dalam rundingan tersebut, dia memutuskan untuk menuruti perkataan Doyoung dengan berat hati. Memang apa hak dan wewenang dia tidak mengikuti perintah keluarga kerajaan? Yang ada dia akan diberhentikan dan diungsikan dari kerajaan ini. Sehingga dalam rundingan, Taeyong melarang Jaehyun ikut andil dalam pekerjaan ini dan menyarankan Yuta untuk menggantikannya. Dia berharap, keputusan yang dia ambil itu benar.

...

Beberapa hari menuju keberangkatan untuk pelebaran kekuasaan, Yuta mengajak Taeyong berkuda mengitari kerajaan dan berhenti di atas bukit yang memperlihatkan luasnya kerajaan Goguryeo. Taeyong dan Yuta duduk bersandar pada pohon besar yang ada di atas bukit tersebut, saling menggenggam tangan.

"Taeyong, aku ingin bertanya sesuatu" ucap Yuta

"Apa yang ingin kau tanyakan?"
Taeyong mengalihkan pandangannya dan fokus pada Yuta, melihat Yuta yang sedang memejamkan matanya, menikmati sejuknya angin yang menerpa tubuhnya.

"Apa kau masih…memiliki perasaan itu pada Jaehyun?"
Yuta membuka matanya dan menatap lurus pada Taeyong, membuat Taeyong tersentak dan terdiam. Mengapa Yuta menanyakan hal itu dalam keadaan ini? Dia tidak mengerti, sungguh. Perasaannya saat ini kepada Jaehyun mungkin mulai pudar dan tergantikan dengan perasaan nyaman serta aman saat berada di dekat Yuta, apalagi dekapannya.

"Untuk perasaanku kepada putera mahkota, jujur aku katakan masih belum sepenuhnya menghilang. Tapi-"

Taeyong memotong ucapannya dan langsung melumat bibir Yuta. Yuta bingung namun dia menikmati apa yang Taeyong lakukan padanya. Taeyong terlarut dalam ciumannya dengan Yuta, dengan berani dia berpindah di pangkuan Yuta dan memeluk lehernya.

Kepalanya bergerak ke kanan dan kiri mengikuti alur ciuman mereka yang terlihat intens. Taeyong memutus ciumannya saat dirasa pasokan udaranya menipis. Dengan muka memerah dan masih memeluk leher Yuta serta duduk di pangkuannya dengan tangan Yuta memeluk pinggangnya Taeyong menatap Yuta dengan tatapan memuja.

"Aku nyaman dengan seluruh perlakuanmu kepadaku, dan aku mohon tetap berada disisiku, apapun yang terjadi"
Yuta mendengar hal tersebut langsung tersenyum lembut dan memeluk Taeyong lebih erat. Dia sangat mencintai wanita ini, dia akan melakukan apapun untuk tetap berada disisinya meski nyawa adalah taruhannya.

"Aku tidak menyangka kau berani melakukan itu lebih dulu, sekarang kau mulai berani hm?"
Yuta mencium sudut bibir Taeyong, dan melihat wajah Taeyong yang sepenuhnya memerah. Taeyong yang malu pun menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Yuta, sungguh dia sangat malu entah keberanian dari mana dia bisa melakukan hal ini.

"Diamlah" ucap Taeyong pelan dan disambut tawa Yuta yang menjengkelkan.

"Baiklah, baiklah. Apa yang ingin kau lakukan setelah ini?"
Yuta membelai rambut Taeyong yang indah dengan perlahan dan beberapa kali mencium pucuk kepalanya.

"Aku hanya ingin seperti ini hingga sore nanti. Kita tidak akan memiliki waktu seperti ini lagi setelahnya" ucap Taeyong pelan

"Ada satu hal lagi yang mengganggu pikiranku" ucap Yuta

"Apa itu?"
Taeyong berpindah tempat dari pangkuan Yuta ke depan Yuta sehingga dia berhadapan langsung dengan Yuta.

"Kenapa kau melarang Jaehyun untuk ikut? Kau tau, aku sedikit tidak suka saat dia bercerita kepadaku" ucap Yuta dengan ketus.
Taeyong tersenyum melihat Yuta yang terlihat cemburu dengan larangannya pada Jaehyun.

"Baiklah akan aku bocorkan suatu rahasia. Tuan puteri yang memerintahkan ku untuk melarang tuan putera mahkota dalam perjalanan nanti. Dia berkata bahwa Ratu meminta mereka untuk segera mendapatkan keturunan. Dan juga, mereka baru menikah beberapa hari aku rasa mereka butuh waktu untuk bersama beberapa waktu kedepan" jelas Taeyong

"Kau tidak percaya dengan ucapanku?"
Taeyong berkata lembut dan memandang Yuta yang terlihat tidak percaya dengan ucapannya. Taeyong menghela nafas pelan dan menggenggam tangan Yuta.

"Yuta, mereka sudah menikah. Aku sudah memilikimu disisiku, untuk apa aku masih berharap padanya? Mana mungkin aku melakukan hal yang tidak masuk akal? Dan hentikan pikiran anehmu! Aku sudah bersamamu hampir berbulan-bulan dan juga aku selalu berkata jujur padamu bukan?"

Yuta menatap Taeyong dengan seksama, memang mereka sudah menikah dan Taeyong juga selalu berkata jujur. Dan dia selalu disisi Tae- tunggu dulu.

"Jadi yang kau maksudkan, kau menerimaku disisimu?" tanya Yuta pelan

"Tentu saja, bodoh! Kau selama ini kemana saja?!"
Taeyong kesal dengan Yuta yang terlalu lambat berpikir, dan dia beranjak menuju kudanya dan menaikinya dengan perasaan kesal yang luar biasa. Yuta masih terdiam di bawah pohon dengan ekspresi konyolnya yang terlihat bahagia sekali

"Cepat naik atau kau ku tinggal! Dasar tuan-berpikir-lamban!" teriak Taeyong yang menyadarkan Yuta dan bergegas naik ke kudanya dan mereka kembali menuju istana dengan perasaan lega.

Mungkin perjalanan nanti merupakan langkah besar mereka dalam membangun sebuah hubungan, dan mereka sudah melewati fase dimana sebuah hubungan harus saling percaya dan selalu mengutarakan hal yang mengganggu pikiran mereka masing-masing agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara mereka.

….

Taeyong sedang sibuk mempersiapkan peralatan untuknya di bawah rok seperti biasanya, karena Raja tidak ingin dia menggunakan zirah perang dan mengharuskannya menggunakan gaun layaknya seorang puteri kerajaan. Untuk berjaga-jaga dia membawa pedang kecilnya dan mengatur rambutnya agar tidak terlalu mengganggu saat dia akan berperang-jika dibutuhkan.

Hwarang dan Wonhwa juga sudah bersiap hanya tinggal Yuta yang bingung mempersiapkan dirinya , karena kemampuan bela dirinya menggunakan tangan kosong, bukan dengan senjata. Taeyong yang melihat Yuta kebingungan segera menemuinya dan membantu mempersiapkan dirinya.

Para pasukan yang melihat ketelatenan Taeyong pun tersenyum, sungguh mereka sangat beruntung memiliki Kapten dengan kemampuan yang sama dengan Hwarang serta Wonhwa dan Tabib mereka, sehingga mereka tidak perlu khawatir jika kekurangan kekuatan dan juga bagian kesehatan karena mereka yakin Taeyong bisa melakukannya.

"Kapten Lee, Tabib Jihoon mungkin tidak bisa mengikuti ekspedisi ini dikarenakan dia tengah mengandung" kata Soonyoung

"Ah, Soonyoung-rang. Selamat atas kehamilan tabib Jihoon, aku berharap semoga perempuan" ucap Taeyong dan tertawa kecil.

"T-Terimakasih Kapten Lee" ucap Soonyoung sedikit sungkan dengannya

"Hei, Kapten Lee. Kapan kau akan menyusul kak Jihoon?" ucap Himchan usil

"Iya! Kau kapan akan menyusul?" sambung Eunwoo

"Y-Ya! N-Nanti juga akan menyusul kok! T-Tunggu waktunya saja" ucap Taeyong terbata-bata dengan wajah yang sudah memerah padam

Melihat hal itu, Hwarang dan Wonhwa tertawa puas. Kapan lagi mereka bisa bercanda seperti ini disaat menegangkan dan beberapa waktu lagi mereka tidak tau apakah perang akan pecah atau berjalan dengan lancar. Yuta tersenyum geli melihat calon isterinya itu tersipu malu karena kejailan pasukannya, dia juga tidak sabar untuk berkata seperti Soonyoung bahwa Taeyong tidak dapat ikut ekspedisi karena dia tengah mengandung.

Setelah mereka bersiap, mereka pun berangkat dengan kecepatan sedang. Taeyong yang biasanya menggunakan kuda kesayangannya sekarang tidak lagi karena dia satu kuda dengan Yuta, lebih tepatnya terpaksa karena Yuta tidak ingin apa yang beberapa bulan Taeyong alami terjadi lagi. Pelebaran kawasan Kerajaan berjalan dengan baik dan disambut ramah oleh rakyat perbatasan. Taeyong disana belajar bagaimana caranya menyulam, menjahit, membuat anak panah, dan banyak hal lagi yang berguna baginya di hari kedepannya.

Yuta menemui Taeyong yang sedang mengasuh seorang anak balita dengan rambut panjang yang merupakan salah satu anak dari penduduk sana. Taeyong terlihat sangat senang mengasuhnya, sedangkan Yuta menahan diri untuk tidak menikahi Taeyong detik ini juga.

"Kau senang sekali hari ini, Taeyong" kata Yuta

"Tentu saja, aku sangat senang mengasuh anak, apalagi anak perempuan manis seperti dia. Dia mengingatkanku dengan Renjun" ucap Taeyong

"Bersabarlah, beberapa bulan lagi kau akan mendapatkan anak sendiri, dan mirip denganmu" ucap Yuta gamblang

Taeyong tersenyum menatap Yuta dan tertawa kecil, tidak menyangka bahwa beberapa minggu lagi dia akan menikah dengan pria frontal di depannya ini dan akan mendapatkan keturunan manis ataupun tampan.

"Aku akan bersabar menunggu, Yuta. Karena aku tau waktu itu akan segera datang kepadaku"

TBC

Hei, it's Heavyhea!
Sorry soalnya gak pernah update karena emang lagi gak ada inspirasi dan banyak tugas besar serta praktikum yang menanti. Tapi jangan khawatir, aku tetep cicil perharinya sampe jadi trus aku update deh. So, keep reading my story and see ya! LOVYA!