Di pagi hari Taeyong terbangun karena sudah terbiasa bangun pagi setelah menikah dengan Yuta sebulan lalu, dia sudah bersiap di dapur untuk memasak sarapan pagi. Taeyong memang sengaja tidak membiarkan dayang berada di paviliunnya karena dia bisa mengurus paviliun dan suaminya dengan baik, juga mengurangi kemungkinan jika Yuta menginginkan selir, itu pemikiran Taeyong.
Taeyong terlihat sibuk di dapur sehingga Yuta mempunyai rencana untuk berbuat jail padanya. Yuta berjalan diam-diam dan memeluk Taeyong dari belakang yang membuat Taeyong hampir menusukkan pisau padanya.
"Yuta! Untung saja aku tidak menusukkan pisau dapur ini ke perutmu" teriak Taeyong kesal
"Maafkan aku. Habis tadi waktu aku bangun kau tidak ada disampingku" ucap Yuta
"Kau bukannya sudah terbiasa dengan aku yang bangun pagi? Aku sedang menyiapkan sarapan untuk kita"
"Aku hanya ingin kau libur sehari saja, dan membuat cucu untuk ibu dan ayah kita"
.
.
.
Beware for rated
.
.
.
Yuta berbisik di telinga Taeyong dan meniup-niup kecil telinganya membuat Taeyong merinding sendiri. Bahkan tangan nakal Yuta sudah merambat ke payudaranya. Jika tidak di hentikan, Yuta akan berbuat lebih berani.
"Y-Yuta nnhh nanti ada yang meli-hat" ucap Taeyong terbata-bata
"Tidak ada, mana mungkin Jaehyun atau Doyoung bangun pagi sayang"
Yuta terus menggoda Taeyong bahkan dia menyingkap rok Taeyong dan mengelus lembut paha dalam Taeyong membuat Taeyong melemas karenanya.
"L-Lakukan dengan ce-pat mmhh"
Yuta tersenyum senang, dengan cepat dia menyikap rok Taeyong dan meminta Taeyong untuk menungging serta menurunkan celana dalamnya. Sebelum memasukkan miliknya nanti, dia memasukkan jarinya dan menggerakkannya di dalam kewanitaannya membuat Taeyong melengguh nikmat sembari bertumpu pada dinding sebelah pintu dapur. Sekalian berjaga-jaga siapa tau tiba-tiba ada yang masuk sedangkan mereka sedang melakukan 'ehem'. Tidak puas hanya satu jari, Yuta menambah 2 jarinya untuk memperlancar miliknya nanti masuk ke sana.
Saat Taeyong berdesah nikmat, Yuta mendengar ada langkah kaki menuju arah dapur. Segera dia membekap mulut Taeyong namun masih tetap menggerakkan jarinya keluar masuk di kewanitaan Taeyong dan berbisik pada Taeyong untuk menahan desahannya yang memabukkan itu.
"Kemana mereka? Bahkan ini masih pagi. Atau mereka sedang berkeliling?" ucap Jaehyun yang berada di luar dapur
Taeyong mengigit bibirnya dan menggerakkan tubuhnya melawan arah jari Yuta membuat Yuta mengerti bahwa Taeyong hampir sampai. Yuta menaikkan tempo gerakannya dan membuat Taeyong kewalahan bahkan lututnya sudah bergetar tidak sanggup menahan berat tubuhnya dan kenikmatan dari tangan Yuta yang berada di dalam miliknya.
"Mungkin sebentar lagi mereka tiba, lebih baik aku melanjutkan tidurku" kata Jaehyun dan beranjak dari tempatnya tadi menuju kamarnya.
Yuta mendesah lega dan melepas bekapan tangannya di mulut Taeyong sedangkan Taeyong yang sudah terangsang hebat berdesah tidak karuan. Yuta paling suka melihat istrinya memohon untuk segera ditunggangi seperti sekarang. Sepasang mata sayu itu melihatnya dengan kabut nafsu yang menebal.
"Y-Yuta aku akhhh"
Taeyong tersentak menjemput kenikmatannya dan hampir terjatuh jika Yuta tidak menahan terengah-engah karena dia sudah menahannya cukup lama sedangkan Yuta yang takjub melihat istrinya bisa menahan selama itu. Yuta mendudukan Taeyong di lantai dengan paha mengangkang sedangkan Yuta menyingkap hanboknya dan melepas celana dalamnya. Miliknya sudah keras dan sangat menginginkan berada di dalam sana sebelum Taeyong yang menggenggam miliknya.
"S-Sayang apa yang ka-"
"Giliranku untuk memuaskanmu sayang" ucap Taeyong disertai desahan genit
Yuta terkejut mendengar Taeyong berubah liar dan dengan senang hati dia menyanggupinya. Taeyong meminta Yuta untuk mendekat padanya sedangkan Taeyong yang bersandar pada dinding, tangannya mengocok pelan miliknya dan menjilat kepalanya membuat Yuta melengguh nikmat. Pertama kali Yuta merasakan sensasi asing itu karena sebelumnya dia langsung saja memasukkan batangnya itu di kewanitaan Taeyong.
Karena bosan hanya menjilatinya saja, Taeyong dengan berani memasukkan milik Yuta ke dalam mulut mungilnya itu, menyelimuti batang kebanggaan Yuta dengan kehangatan mulutnya. Yuta menggeram dan mencengkram pinggiran meja yang berada di samping Taeyong, kenikmatan yang tiada tara bagi Yuta bertambah saat Taeyong memaju mundurkan kepalanya serta memainkan lidahnya di sepanjang batangnya membuat desahan Yuta lolos begitu saja.
Taeyong bisa merasakan bahwa milik Yuta mengeras di dalam mulutnya yang membuat Taeyong memaju mundurkan kepalanya lebih cepat dan memberi hisapan bahkan terkadang menggigit kecil batangnya yang membuat Yuta tersiksa.
"S-Sudah sayang, waktu kita tidak banyak ingat?" ucap Yuta setelah menarik miliknya dari mulut Taeyong yang membuat desahan kecewa dari Taeyong
"Sebaiknya kita melakukannya dengan berdiri, mungkin akan lebih cepat mendapat anak" ucap Yuta dengan kekehan ringan
Taeyong hanya sanggup mengikuti perkataan Yuta karena dia sudah tidak tahan untuk segera di gagahi suaminya ini. Taeyong menungging dan menghadap pada dinding di depannya, berpegangan pada dinding karena dia khawatir tidak bisa menahan kekuatan Yuta nanti. Yuta bahkan membuka hanbok Taeyong menyisakan hanbok dalaman saja lalu menurunkan roknya agar payudaranya bisa dia nikmati. Yuta menyingkap hanboknya dan milik Taeyong yang dia taruh di pinggangnya dan mulai memasukkan miliknya di kewanitaan Taeyong.
Keduanya menggeram nikmat saat milik Yuta masuk sepenuhnya di dalam liang kewanitaan Taeyong. Yuta bergerak sembari memijat payudara Taeyong yang membuat Taeyong mendesah keras karena kedua titik sensitifnya dimainkan oleh Yuta, Taeyong bahkan sudah tidak peduli jika mereka ketahuan, dia sudah tidak bisa menahan kenikmatan yang diberikan oleh Yuta.
"A-Ahh mmhh Y-Yhh Yuta ngghh" desah Taeyong
"Terus sayang nnhh sebut namaku dalam desahanmu" ucap Yuta dan mengecup punggung Taeyong yang terekspos di depannya bahkan dia memberikan tanda dari tengkuk Taeyong hingga bagian tengah punggungnya.
Taeyong menggerakkan badannya berlawanan arah, dia sudah ingin sampai tetapi Yuta sepertinya sedang mempermainkannya membuat Taeyong menggeram tidak suka. Yuta hanya tertawa kecil dan menarik kedua tangan Taeyong ke belakang membuat Taeyong berdiri sedangkan kejantanan Yuta melesak lebih dalam dan membuat Taeyong menjerit penuh kenikmatan.
"Memohonlah sayangku" desah Yuta tepat ditelinganya
"A-Aku sshhh mo-hon akhh!" ucap Taeyong lirih
"Aku tidak mendengarnya sayang" bisik Yuta
"Oohh! Tuhan! Lebih cepat ngghh" teriak Taeyong
Yuta dengan semangat menggenjot Taeyong cepat dan kuat membuat Taeyong menjerit-jerit penuh kenikmatan. Taeyong bahkan tersentak-setak karena perlakuan Yuta dan tubuhnya sudah sepenuhnya menempel pada dinding di depannya. Yuta mencengkram pinggang Taeyong dan bergerak semakin brutal, dia akan segera sampai.
"Akhh! Y-Yuta mmhh aku mau AKHH!"
Taeyong teriak dan bergetar saat mendapatkan pelepasannya namun Yuta masih tetap menggerakkan miliknya hingga beberapa saat Yuta menggeram dan meremas pinggang Taeyong. Taeyong bisa merasakan pelepasan Yuta di bawah sana, keduanya melengguh nikmat. Yuta memeluk Taeyong dari belakang dan mengecup leher hingga bahu Taeyong.
"Sekali lagi hm?" tawar Yuta
"Astaga, ini sudah hampir siang nahh mmhh"
Yuta sudah menggenjot miliknya lagi di bawah sana sedangkan Taeyong pasrah dengan kemesuman Yuta di pagi hari. Untuk sarapannya bisa dia pikirkan nanti, saat ini dia hanya ingin melakukan kewajibannya sebagai istri, melayani suaminya yang sangat mesum.
.
.
.
Mereka berempat berkumpul di ruang tengah dan menikmati sarapan mereka. Taeyong bisa menyelesaikan masakannya dibantu Yuta dengan terpaksa karena setelah aktivitas mereka Taeyong langsung memukul kepala Yuta dan beranjak untuk mandi lagi. Taeyong juga memerintahkan Yuta untuk membersihkan 'cairan mereka' yang berceceran di lantai dapur. Yuta melirik Taeyong yang terlihat makan dengan tenang.
"Kalian tadi pagi kemana? Apa kalian berkeliling?" tanya Jaehyun
"Y-Ya kami berkeliling, tuan" jawab Taeyong
"Tapi saat aku ingin mandi, aku mendengar suara-suara aneh dari arah dapur" ucap Doyoung
Yuta dan Taeyong bertatapan dengan keringat dingin meluncur dari leher mereka. Taeyong menyenggol kaki Yuta, dan menggerutu tanpa suara ke Yuta. Memberi semacam kode untuk Yuta, namun pada dasarnya Yuta memang berpikiran lambat dan sedikit bodoh, ya hanya sedikit, Yuta bingung dengan kelakuan Taeyong. Jaehyun melihat mereka bertingkah aneh, atau jangan-jangan mereka melakukan sesuatu?
"Kalian tidak melakukan sesuatu kan?" tanya Jaehyun penuh selidik
"Apa? Tidak, kami bahkan baru kembali agak siang tadi"ucap Yuta gelagapan
"Mungkin aku salah dengar, kita lanjutkan saja sarapannya" ucap Doyoung
Yuta dan Taeyong bernafas lega, untunglah Doyoung tidak menaruh curiga tentang apa yang sudah mereka perbuat di dapur tadi pagi. Setelah sarapan, Taeyong meminta Yuta untuk membereskan meja tadi, dia beralasan
"Kau membuatku susah jalan bodoh! Bagian bawahku terasa menyakitkan dan aku tidak bisa mencuci itu semua, aku masih terlalu lemas" ucap Taeyong ketus
Maka Yuta akan melakukannya dengan terpaksa, dia tidak bisa melawan istrinya ini jika tidak mereka akan lama mendapatkan keturunan dan cucu untuk kedua orang tuanya karena Taeyong menolak untuk melakukan 'ehem'.
Mereka berkumpul dan mulai melancarkan aksi mereka untuk mencari tahu apakah alasan dibalik rakyat desa ini tidak ingin bergabung dengan Kerajaan Silla maupun Kerajaan Goguryeo. Taeyong bersama Doyoung sedangkan Yuta bersama Jaehyun, mereka juga menyamar dengan pakaian petani di sana sedangkan Taeyong dan Doyoung dengan pakaian tabib.
Taeyong berjalan di belakang Doyoung sembari melihat keadaan di sekitarnya, lingkungan kumuh dan tidak banyak rakyat yang berada di luar kecuali mereka sedang menjalankan aktifitas mereka untuk mencari nafkah. Mereka saat ini berada di pasar yang ada di desa itu dan menyelidiki beberapa tempat sebelum berpindah ke daerah selanjutnya.
Saat berada di toko tanaman herbal, terjadi keributan di tengah pasar. Seluruh penjual dengan panik menutup toko mereka. Taeyong masih belum mengerti kenapa mereka terlihat sangat ketakutan, bahkan pemilik toko tanaman herbal ini mengusirnya.
"Maafkan aku tabib, tapi aku harus menutup tokonya" kata penjual itu panik
"Ada apa tuan? Kami ingin melihat tanaman yang kau punya" ucap Taeyong
"B-Baiklah kau masuk dulu, aku ingin menutupnya"
Taeyong dan Doyoung masuk lebih dalam serta menunggu penjual itu menutup tokonya dan terburu-buru menuju tempat Taeyong dan Doyoung. Taeyong mulai kebingungan dengan penjual ini, namun dia hanya bisa menenangkan penjual itu. Dia masih belum tau permasalahannya.
"Tuan, ada apa? Kenapa kau terlihat panik?" tanya Doyoung
"Apa tabib tidak tau?"
"Ah maaf, kami baru saja pindah karena sebelumnya kami berada di balik gunung" ucap Taeyong
"Pantas saja anda tidak tau, tabib. Mereka beberapa suruhan dari Kerajaan Baekje, mereka suka menjarah toko kami, jika kami tidak memberikan pajak seperti yang mereka pinta, toko kami akan di rusak"
"Kerajaan Baekje? Bagaimana bisa?" tanya Doyoung
"Bukankah Kerajaan Baekje selalu memberi kebutuhan pada rakyat desa ini?"
Taeyong beruntung memiliki kakak seperti Xiumin yang menjadi panglima di Kerajaan Goguryeo dan sempat mempelajari kondisi di beberapa wilayah dari kakaknya dan sebagian di asrama dulu.
"Itu sebelum Ratu terbunuh. Ku dengar, puterinya mengambil alih tempat Ratu itu saat ini sehingga 3 bulan ini mereka menarik semua pasokan dan suka menjarah pada desa-desa terpencil. Bahkan kami di ancam jika kami menyetujui masuk ke kawasan Kerajaan Silla maupun Kerajaan Goguryeo mereka akan meratakan desa kami" jelas penjual itu dengan ekspresi sedih
"Puteri, anda tau siapa Puteri Kerajaan Baekje?" bisik Taeyong pada Doyoung
"Seingatku, dia adalah Puteri Sicheng. Salah satu keturunan dari China, anak semata wayang dan juga dia belum menikah" ucap Doyoung dengan lirih
Taeyong mengangguk mengerti dan melanjutkan untuk mencari informasi sebelum tiba-tiba beberapa prajurit dengan lambang Kerajaan Baekje membuka paksa toko hingga merusak toko itu. Taeyong yang geram berjalan dan menghadang prajurit itu.
"J-Jangan no-"
"Tenang saja tuan, dia akan baik-baik saja" kata Doyoung dan mengajak penjualnya untuk bersembunyi bersamanya di balik meja.
"Maaf tuan, apa yang kalian lakukan? Kalian merusak toko ini tanpa alasan yang jelas" ucap Taeyong menahan emosinya
"Oh nona, apa yang kau lakukan disini? Kami ingin menagih pajak tempat ini karena dia sudah menunggak 1 bulan" kata pemimpinnya
"Pajak? Bukankah disini tanah milik rakyat juga?" tanya Taeyong
"Memang. Tapi ini perintah Ratu dan ini sudah lama berlaku. Nona tidak bisa membantahnya"
"Perintah ini bahkan baru 3 bulan, sedangkan mereka lebih lama berada di tanah ini daripada Ratu"
"Nona, jangan menghalangi kami, atau kau akan kami habisi" geram prajurit itu
"Silahkan jika kau berani melawan seorang wanita, tuan" ucap Taeyong memancing amarah prajurit itu
Taeyong tidak melihat saat prajurit itu mencekiknya dan membawanya keluar toko serta membantingnya ke tanah membuat Taeyong terbatuk pelan. Doyoung terperangah melihat Taeyong di bawa oleh prajurit itu dan menghadang pemilik toko yang akan membantu Taeyong.
"Tuan, sebaiknya anda kembali ke rumah anda. Disini tidak aman" ucap Doyoung
"T-Tapi nona itu-"
"Tidak usah khawatir, sebentar lagi suami kami datang untuk membantunya. Kembalilah" ucap Doyoung meyakinkan pemilik toko itu dan di balas dengan anggukan singkat lalu dia berlari kembali ke rumahnya
Doyoung masih bersembunyi di dalam toko sembari berharap Jaehyun dan Yuta segera datang lalu membantu Taeyong. Doyoung tidak bisa membantu Taeyong, dia tidak mempelajari bela diri sama sekali, yang dia lakukan hanya belajar dan belajar.
"Nona, ku peringatkan sekali lagi. Jangan mengganggu kami" ucap prajurit itu dengan menatap remeh Taeyong
Taeyong bangkit dan tersenyum sinis, dia merasa tertantang saat ini. Tidak peduli dengan bagian bawahnya yang nyeri dan dia di kepung oleh prajurit Kerajaan Baekje. Taeyong meraba kedua sisi pinggangnya dan berkeringat dingin, dia melupakan pisau kecilnya. Diliriknya ke beberapa toko dan pandangannya menemukan tongkat panjang di salah satu toko.
"Aku tidak peduli dengan hal itu, kau sudah mengganggu ketenangan desa ini tuan" ucap Taeyong sinis
"Rupanya kau sedang cari mati nona" ucap prajurit itu dan bersiap dengan senjatanya
"Katakan itu pada dirimu sendiri"
Taeyong langsung menerjang beberapa prajurit dan melawan mereka dengan tangan kosong. Bodohnya dia melupakan sabuk untuk meletakkan pisau kecil di kedua sisi pinggang yang diletakkan di dalam pakaiannya seperti biasa. Saat ini dia harus melumpuhkan prajurit ini dengan tangan kosong. Saat mendapat celah untuk mengambil tongkat yang dilihatnya tadi, Taeyong langsung berlari dan meraih tongkat itu.
Dia mulai menyerang lagi hingga setengah prajurit tumbang. Beberapa saat kemudian dia melihat ada tambahan prajurit yang datang menuju ke arahnya. Taeyong mendesah berat, bisa-bisa dia kalah jika prajurit lain akan berdatangan. Dengan tenaganya yang tersisa dia menghabisi seluruh prajurit, dia hampir saja kalah dari banyaknya prajurit yang tergeletak babak belur di hadapannya. Kaki Taeyong melemas, sepertinya dia sudah mencapai batasannya hingga terjatuh di tengah lapangan.
"Nona tabib, kau hebat sekali bisa menghabisi sebagian prajuritku"
Taeyong tersentak mendengar suara itu, Taeyong mendongak dan matanya bertatapan dengan Ratu Kerajaan Baekje yang sedang menunggangi kuda di hadapannya. Taeyong memandang sengit Ratu itu, bagaimana dia bisa memakai pakaian dari sutera indah sedangkan rakyatnya menderita?
"Tidak sopan sekali kau memandangku seperti itu! Di wilayah Kerajaanku!" teriak Ratu
"Aku tidak membutuhkan sopan santun untuk berhadapan dengan Ratu kejam sepertimu" ucap Taeyong dingin
"Prajurit, tangkap tabib itu!" perintah Ratu
Beberapa prajurit maju untuk menangkap Taeyong namun dia melawan para prajurit membuat Ratu geram. Saat Taeyong hampir menang, dia merasa lehernya tertusuk beberapa jarum. Pandangan mata Taeyong mengabur dan terjatuh di tanah. Sebelum kehilangan kesadarannya dia melirik Doyoung yang syok di dalam toko dan Taeyong menggeleng pelan lalu menyuruhnya untuk tetap disana hingga suaminya kembali.
"Bagus sekali, Haechan. Tidak salah aku membawamu bersamaku" ucap Ratu
Haechan hanya menunduk singkat dan tersenyum pada Ratu. Setidaknya pekerjaannya tidak terlalu merepotkan saat ini. Dia memandang Taeyong yang tergeletak di tanah, tadi saat melihat Taeyong bertarung dia merasa bahwa wanita itu lawan yang tangguh, tidak mungkin dia melawannya. Bisa-bisa dia bernasib sama dengan prajurit yang berceceran di depannya.
"Prajurit, bawa dia ke kerajaan dan kurung dia di bawah tanah. Kita kembali sekarang" perintah Ratu
Tubuh kecil Taeyong diangkat dengan mudah dan dibawa menuju Kerajaan Baekje, sebagai tahanan. Doyoung menatap nanar kepergian Taeyong, dia tidak bisa melakukan apapun saat ini. Dia langsung keluar dan berlari ke arah Yuta dan Jaehyun amati. Dia harus bertemu mereka dan menyelamatkan Taeyong dari Ratu kejam Kerajaan Baekje.
"Bertahanlah sebentar, Kapten Lee"
TBC
