Yuta berjalan menyusuri daerah pinggir desa bersama Jaehyun dengan pakaian layaknya petani, sesekali dia memeriksa rumah yang tampaknya sudah tidak dihuni lagi. Beberapa kali mereka berpapasan dengan rakyat desa tersebut yang terlihat sedih dan tertekan. Mereka mulai curiga dengan Kerajaan Baekje, sepertinya mereka memperlakukan rakyatnya layaknya budak.

"Yuta, sepertinya tidak ada masalah yang berarti di tempat ini" ucap Jaehyun

"Aku rasa juga begitu. Sebaiknya kita ke tempat Taeyong dan Doyoung berada" ucap Yuta yang ditanggapi dengan anggukan oleh Jaehyun

Saat ditengah perjalanan menuju tempat istri mereka berada, mereka bertemu dengan seseorang yang sedang berlari ketakutan. Sontak mereka melihat ke belakang orang itu dan menemukan prajurit bersenjata tengah memburunya. Jaehyun menarik orang tersebut berlindung di belakangnya dan Yuta yang menghadang prajurit itu.

"Tunggu sebentar. Ada masalah apa ini tuan?" tanya Yuta

"Orang yang berada di balik kalian itu kabur saat diminta untuk membayar pajak!" bentak prajurit

"Pajak? Untuk apa dia membayar pajak?" tanya Jaehyun

"Kalian pendatang baru? Lahan untuk kalian bekerja itu dikenai pajak tuan, seharusnya anda sudah tau jika datang ke desa ini"

Yuta mengeratkan genggamannya, ingin membunuh prajurit yang ada di depannya ini sebelum Doyoung datang dengan berlari tergesa-gesa kea rah mereka. Mereka memandang aneh Doyoung yang berlari sendirian, bukannya mereka harus memeriksa daerah pasar?

"Jae-hyun, k-kau Y-Yuta Tae-yong-"

"Sayang, bernafaslah terlebih dulu. Katakan dengan perlahan" ucap Jaehyun sembari mengelap keringat di sekitar wajah dan leher Doyoung

Doyoung mulai bernafas dengan normal, dia mulai menangis dan Jaehyun yang khawatir beranjak memeluk istrinya ini. Doyoung tidak pernah menangis di hadapan Jaehyun sebelumnya yang membuat Jaehyun maupun Yuta bingung dibuatnya.

"T-Taeyong dia dibawa ke Kerajaan, d-dia pingsan mereka para prajurit menghajarnya d-dan d-dan aku hiks tidak bisa berbuat apapun. Taeyong melarangku untuk membantunya. Jaehyun hiks"

Doyoung menangis keras di pelukan Jaehyun dan Jaehyun menenangkannya. Sedangkan Yuta dengan emosi dia menghajar prajurit yang ada di hadapannya hingga tidak bisa melawan lagi. Sampai titik dimana prajurit tersebut menyerah dan Yuta mengeluarkan pisau kecil lalu diarahkan ke perpotongan leher prajurit itu.

"Katakan dimana Kerajaan Baekje?!" bentak Yuta

"D-Di balik hutan itu. Ampuni aku tuan! Jangan bunuh aku! Anak dan istriku sedang menunggu di rumah" ucap prajurit tersebut memohon pada Yuta

Yuta mengikat prajurit itu ke pohon didekatnya dengan tali yang dibawanya tadi lalu dengan wajah memerah penuh emosi beranjak menuju Istana Kerajaan Baekje sebelum Jaehyun mencekal tangannya.

"Yuta, jangan terburu-buru. Kau bisa di tangkap oleh mereka" ucap Jaehyun menenangkan Yuta yang dirundung emosi

"Jaehyun, aku tidak bisa diam saja sedangkan istriku mereka tahan!" teriak Yuta

"Aku tau! Maka dari itu kita harus menyusun rencana untuk menyelamatkan Taeyong dari sana" jelas Jaehyun

Yuta terdiam mendengar perkataan Jaehyun dan mengusap kasar wajahnya. Dia sudah terpengaruh emosi sehingga tidak dapat berfikiran jernih. Jaehyun mengajak mereka untuk kembali ke rumah dan membuat beberapa rencana menyelamatkan Taeyong dari Kerajaan Baekje serta mendengarkan penjelasan beberapa informasi yang di dapat Doyoung tadi.

...

Taeyong terbangun dengan pusing mendera kepalanya dan rasa sakit di lehernya. Taeyong baru menyadari dia sudah tidak di pasar lagi, dia tidak tau berada di mana sekarang tetapi dia melihat pagar besi di hadapannya. Taeyong mencoba membukaknya tetapi tidak bisa, pintunya diberi gembok, mengurungnya di tempat gelap dan pengap itu. Tenaga Taeyong masih belum pulih dan dia hanya bisa duduk menunggu orang yang datang nanti. Tak lama kemudian, seseorang mendatangi Taeyong dengan wajah angkuhnya, Taeyong memandang sengit orang itu.

"Nona, benarkah kau seorang tabib? Bagaimana bisa seorang tabib bertubuh kurus dan kecil melawan setengah prajurit milikku?" tanya Ratu

"Saya hanya seorang tabib yang tinggal di balik gunung, Yang Mulia Ratu" ucap Taeyong dengan penekanan di bagian akhir

"Baiklah. Tetap saja kau akan diberi hukuman karena sudah membuat kekacauan di desa"

"Saya tidak membuat kekacauan, saya hanya menegakkan keadilan bagi rakyat!"

Ratu tertawa mendengar penuturan dari Taeyong, menegakkan keadilan? Dia juga tidak lebih dari sampah dimata Ratu. Melanggar peraturannya maka dia akan diperlakukan seperti sampah. Ratu memerintahkan penjaganya untuk membuka pintu dan dia masuk ke dalamnya. Ditendangnya perut Taeyong sampai dia puas dan Taeyong terbatuk hingga mengeluarkan darah.

"Itu tidak seberapa, Nona. Mungkin aku akan mengangkatmu jadi tabib istana jika kau berkelakukan sopan"

Ratu meninggalkan Taeyong yang masih terbatuk dengan memegangi perutnya yang terasa sangat menyakitkan itu. Keningnya mengerut saat mengingat perkataan Ratu kejam tadi, dia mungkin akan menjadi tabib istana, mungkin dia bisa mendapatkan banyak informasi yang dia butuhkan untuk menyelesaikan permasalahan ini.

Keesokan harinya, Taeyong dibangunkan paksa oleh penjaga dengan menyiramkan seember air ke tubuhnya. Taeyong menggeram rendah pada penjaga itu, jika dia tidak dikurung mungkin penjaga itu akan dia lempar ke tebing.

"Kau sudah bangun?" tanya Ratu

Taeyong terkejut melihat Ratu yang berada di dalam kurungannya, sontak dia menunduk sopan supaya dia diangkat menjadi tabib istana, untuk melancarkan rencananya. Ratu tersenyum melihat Taeyong yang mulai bersikap sopan padanya. Ratu pun memanggil dayang Istana untuk membawakan pakaian serta menggiring Taeyong untuk membersihkan dirinya. Taeyong langsung mengikuti arahan dari dayang tersebut serta meminta beberapa tanaman obat, memar di perutnya masih nyeri.

"Kau sudah mengerti rencananya bukan? Kami akan menunggu di hutan, berhati-hatilah" ucap Jaehyun

Yuta mengangguk mengerti dan segera berangkat setelah menggunakan zirah prajurit yang diikatnya di pohon kemarin. Yuta bersikap selayaknya prajurit dan bergabung dalam pasukan. Ternyata yang Yuta ikat kemarin termasuk pasukan khusus sehingga dia bisa masuk dan memeriksa Istana Kerajaan. Saat sedang memeriksa, dia melihat Taeyong sedang berada di belakang Ratu dengan membawa nampan diatasnya terdapat beberapa mangkok berisi tanaman obat dan masuk ke ruangan yang dia yakini kamar Ratu.

Yuta bersembunyi di belakang kamar itu dan mendengarkan semua percakapan Ratu dengan Taeyong lalu tersenyum. Istrinya memang cerdas, dia bisa memanfaatkan situasi mendesaknya dengan baik. Saat Taeyong keluar dari kamar Ratu, tiba-tiba mulutnya dibekap dan dia di bawa ke belakang Istana. Karena panik, Taeyong memukuli leher prajurit itu karena bagian yang terbuka hanya itu.

"Sayang! Sayang! Ini aku akh-" ucap Yuta kewalahan dengan pukulan menyakitkan Taeyong

"Astaga- Yuta!"

Taeyong memekik dan memeluk Yuta erat, dia juga terisak pelan. Meski dia terlihat berani, dia tetaplah seorang wanita. Taeyong merasa ketakutan dan Yuta menenangkannya, dia tau mungkin berat bagi Taeyong diperlakukan kejam oleh seseorang bahkan dia adalah seorang Ratu, pemimpin Kerajaan Baekje.

"Baiklah, sekarang kita harus menyelesaikan masalah ini dan kita pulang oke?" ucap Yuta sembari menangkup kedua pipi Taeyong

Taeyong mengangguk pelan dan memeluk Yuta sekali lagi setelah melepas pelindung kepala Yuta. Dia masih merindukan suaminya yang bodoh ini, tetapi pekerjaan mereka menunggu. Yuta mencium kening Taeyong lama dan mengecup bibirnya sebelum dia memakai pelindung kepalanya lagi dan melancarkan aksinya. Yuta menjelaskan rencana yang sudah di buat oleh Jaehyun dengannya kemarin dan akan dilaksanakan pada siang ini. Taeyong mengangguk mengerti dan kembali ke tempat tabib yang disediakan Ratu sedangkan Yuta kembali menyusuri wilayah Istana.

"Yang Mulia Ratu, untuk obat yang kau inginkan membutuhkan perjalanan yang panjang, beberapa tanamannya berada di dekat hutan" jelas Taeyong

"Baiklah, beberapa dayangku akan mengambilkannya untukmu-"

"Biarkan aku ikut bersamanya, mereka tidak akan mengerti tumbuhan mana yang akan dipakai, bisa saja yang mereka bawa beracun" potong Taeyong

Ratu Sicheng memandang Taeyong dalam, mencari celak kebohongan di matanya namun dia tidak menemukannya, Ratu menyetujui permintaan Taeyong dan membiarkan Taeyong mencari tanaman yang ada di hutan itu. Setelah Taeyong dan beberapa dayang pergi, Ratu Sicheng memerintah Heechan untuk mengawasi Taeyong dari jauh dan dengan segera dia berangkat mengawasi Taeyong agar tidak kabur dari Kerajaan Baekjae sesuai perintah Ratu Sicheng.

Taeyong berjalan dengan santai menuju hutan, sesekali bercanda tawa dengan dua dayang yang menemaninya mencari tumbuhan herbal. Heechan merasa tidak ada yang aneh dengan Taeyong namun dia tetap mengawasinya tanpa tau di belakangnya ada seseorang yang mengikutinya diam-diam. Saat Taeyong fokus mencari tanaman herbal, tiba-tiba mulutnya dibekap dan lehernya dicekal dari belakang.

"Aroma ini, ah- sudah mulai bergerak rupanya" batin Taeyong

Dayang itu berteriak dan memohon untuk melepaskan Taeyong dari dekapan orang itu yang mengenakan pakaian serba hitam dan hanya terlihat matanya saja. Heechan yang mendengar keributan itu langsung berlari dan mencoba melawan orang itu namun dia tidak menyadari bahwa orang lain sedang mengincar dirinya juga. Dia tidak punya pilihan lain, dia harus melawan orang itu demi mendapatkan Taeyong.

"Berhenti disitu tuan, atau saya akan melukai tabib ini" ucapnya

"Jangan bercanda, kau tidak akan berani melakukannya bukan?" ucap Heechan meremehkan

Orang itu mengeluarkan pisau kecil dan menyayat kecil leher Taeyong hingga mengeluarkan darah yang tidak bisa dibilang sedikit membuat kedua dayang berteriak histeris. Taeyong mengerang dalam kukungan orang itu, badannya juga melemah karena kondisinya tidak baik untuk saat ini.

Heechan terkejut, orang itu tidak main-main rupanya, saat ingin melawan orang itu tengkuknya terhantam sesuatu dengan keras dan membuat dirinya limbung hingga terjatuh di tanah. Orang itu berjalan ke hadapan Heechan dan menurunkan penutup wajahnya membuat Heechan membelakkan matanya tidak percaya.

"Halo, Calon adik iparku" ucap orang itu

"P-Pangeran Yuta?! Bagaimana bisa-"

"Jika Kun tau tentang ini, dia bisa membatalkan pernikahan kakakmu. Tetap disini dan biarkan aku yang menyelesaikannya. Jangan mencoba untuk melawanku"

Yuta menangkap jarum yang dilemparkan oleh Heechan dan menempatkannya pada leher Heechan yang langsung pingsan seketika. Setelah mengamankan dayang beserta Heechan di gubuk dalam hutan Jaehyun membuka penutup wajahnya dan meminta maaf pada Taeyong. Yuta geram dan ingin membalas Jaehyun namun Taeyong menghadangnya dan berkata dia baik-baik saja. Yuta kemudian menarik Taeyong menjauh lalu mengobati luka di leher Taeyong, sedangkan Taeyong hanya tersenyum dan mengikutinya saja.

"Ini yang kau bilang baik-baik saja?! Kau bahkan terlihat lemas dan pucat!" seru Yuta

"Yuta aku ti-"

"Nakamoto Taeyong! Berhentilah berkata kau tidak apa-apa tetapi kau terluka parah seperti ini, kau membuatku sangat khawatir"

Yuta memandang Taeyong sedih dan juga khawatir, dia tidak sanggup melihat Taeyong terluka seperti ini. Taeyong tersenyum mendengar ketegasan dari Yuta, memang dia berlebihkan mengatakan kalau dia baik-baik saja meski sejujurnya dia sangat lemah saat ini.

"Aku tau, tetapi ini tugas kita bukan? Menjaga persatuan Kerajaan dan setiap aku terluka aku tau kau selalu ada di depanku menjagaku dan mengobatiku, terimakasih sayang"

Yuta tersenyum lega mendengar perkataan Taeyong dan memeluknya erat. Sekali lagi dia jatuh cinta pada wanita ini, wanita keras kepala tetapi tangguh dan mengayomi rakyat Kerajaan. Yuta mencium kening Taeyong cukup lama dan membantu Taeyong berdiri. Ada beberapa hal lagi yang harus mereka selesaikan dan mereka bisa pulang.

TBC

.

.

Hei gais! i'm back with this ff wkwkwk

maaf ya kalo updatenya lama, biasalah terlalu banyak ide malah yang lama terbengkalai, oh iya sebenernya aku butuh saran kalian. mending aku upload disini aja atau di wattpad juga? gatau kepikiran aja ke wattpad ehe.

So that's from me and i miss you all sooooo much! LUVYA!