Makasih yg udah review. Maaf ga bisa bales satu2. Aku nyimpulin dari pertanyaan kebanyakan apakah Naruto psikopat? Hmmm, I don't think so. But he is an abuser.


.

Naruto adalah milik Masashi Kishimoto

.

.

.


Semua Untuk Cinta

By Rampantt

Cinta Platinum


.

.

.

.

Hadiah itu cantik. Sebuah rantai platinum dengan berlian yang lebih murni dari mata Hinata, dengan hati sebagai liontinnya - seharga $ 12.000. Sesuatu yang sepadan dengan memar ini, pikirnya. Wanita bermata opal itu meraba gelang itu dengan setengah hati. Naruto selalu melakukan ini. Kapan pun pria itu memukulnya, dia akan meminta maaf dan memberinya hadiah berupa barang mewah – sudah biasa.

Naruto tampaknya berpikir dia bisa memperbaiki segala sesuatu hanya dengan menghadiahkan barang mewah yang berkilat padanya. Rupanya pria itu tidak cukup pintar untuk menyadari bahwa permintaan maaf akan butuh lebih dari sekedar itu. Rupanya Hinata begitu murah sehingga barang material cukup untuk memperbaiki hatinya yang patah. Kelihatannya…

Tatapan wanita itu mengarah ke mata biru suaminya. Ekspresi pria itu penuh harap saat dia melihat wajah Hinata. Dulu suaminya tampan, Hinata ingat. Naruto banyak tersenyum saat masih muda dan hampir tidak pernah marah. Pria itu akan memegangi tangannya dan mengajaknya jalan-jalan atau berkencan. Dia akan mengatakan betapa cantiknya Hinata dan betapa Hinata berarti baginya.

Hinata ingat bagaimana Naruto menatapnya dulu, seolah-olah Hinatalah satu-satunya hal di dunia ini. Naruto juga sering menceritakan kisah romantis tentang pangeran dan putri, tentang cinta yang tak berbalas yang secara ajaib menjadi berbalas. Dulu suaminya baik dan manis, lembut dan peduli.

Hinata merindukan suaminya – suaminya yang dulu. Dia merindukan tahun-tahun mereka bersama sebelum pemukulan dimulai, sebelum penghinaan dan pelecehan, sebelum semuanya menjadi pahit. Dia merindukan kehidupan lama mereka. Mereka dulu bahagia ...

Hubungan mereka sekarang tidak seperti itu, tidak seperti dulu lagi. Naruto tidak lagi memegang tangannya atau menceritakan kisah-kisah manis, Hinata bahkan beruntung bisa menerima pujian tidak langsung dari suaminya.

Yang mereka miliki sekarang adalah sakit hati dan kepahitan. Hinata merasa seolah hatinya hancur kembali saat ia membalik liontin hati itu.

"Ini indah," katanya pelan.

Hal ini sepertinya menyenangkan hati Naruto karena ia mengembangkan senyuman yang menurut Hinata tampan tiga tahun yang lalu.

Keduanya duduk bersama di ruang tamu mereka, lutut mereka saling bersentuhan.

"Aku senang, wanita di Tiffany mengatakan bahwa gelang ini populer di kalangan wanita muda, jadi aku pikir kau mungkin menyukainya."

Dan Hinata pasti menyukainya … tiga tahun yang lalu.

Hinata hanya mengangguk, mengalihkan pandangannya sekali lagi.

"Sini, biar aku membantumu memakainya."

Si pirang mengambil gelang dari tangannya, jari-jarinya menyentuh jari-jari Hinata, menyebabkan wanita itu merinding. Naruto tidaklah bodoh, dia segera menyadari betapa tegangnya istrinya. Bukan hanya itu, wanita itu juga agak tersentak saat Naruto mendekatinya.

"Relaks," katanya lembut saat ia mengikat gelang di pergelangan tangan Hinata.

Mudah saja dia berkata - dia bukan orang yang dipukul kan?

Hinata berharap dia punya keberanian untuk mengusir pria itu sama seperti yang dia lakukan dalam imaginasinya. Oh banyak, ada banyak hal yang akan dia katakan pada suaminya. Dia berharap peran mereka bisa dibalik; dia ingin Naruto merasakan. Betapa kecilnya dia setiap kali pria itu menyeretnya berkeliling rumah, betapa kotornya dia setiap kali pria itu memberinya hadiah mewah sesudahnya, seolah-olah dia adalah pelacur dengan bayaran tinggi.

Sang istri dengan cepat mengingatkan dirinya sendiri bahwa suaminya tidak akan pernah harus membayar saat mau melakukan hubungan seks dengannya. Mengapa Naruto harus jika dia bisa melakukannya kapanpun ia mau? Kadang Hinata bertanya-tanya apakah dianggap pemerkosaan jika seorang istri dipaksa berhubungan seks dengan suaminya ... Mungkin, tapi tentu saja Naruto tidak akan peduli dengan hal semacam itu. Tidak, dalam pikiran Naruto, Hinata adalah miliknya, sesuatu yang pria itu beli dari keluarganya.

Naruto bisa melakukan apapun yang dia inginkan pada Hinata kapan pun dia mau. Hinata bukanlah orang di matanya, dia adalah objek, barang; sesuatu yang bisa dikontrol pria itu sepenuhnya. Tidak yang lain.

Hinata mengatakan 'tidak'? Tidak akan pernah. Hinata membela dirinya sendiri? Sangat bukan dia. Ada orang lain yang terlibat dalam pernikahan mereka? Sebaiknya tidak.

Hinata terlalu takut pada Naruto, tentang apa yang mungkin pria itu lakukan jika Hinata mengatakan kepada orang lain bahwa dia tidak bahagia. Tentu, dia memikirkannya, berkali-kali. Tapi kenyataannya adalah tidak ada jalan untuk kabur dari pria itu.

Dia terikat dengan Naruto, selamanya dan selalu. "Sampai maut memisahkan mereka". Hinata berpikir bahwa kematianlah satu-satunya cara dia bisa meninggalkan suaminya, setidaknya saat itu dia tidak perlu merasakan apapun.

"Terima kasih," katanya pelan kepadanya, menarik pergelangan tangannya ke belakang dan meletakkannya di pangkuannya.

Sesaat mereka sama-sama diam, Hinata bisa merasakan Naruto menatap wajahnya, tapi wanita itu memilih untuk tetap diam. Dia tidak ingin berbicara dengan suaminya. Sebenarnya, dia senang jika Naruto pergi saja. Bukankah Naruto punya 'bisnis' untuk diurus seperti malam-malam lainnya ketika dia tidak membanting tubuh Hinata ke perabotan dan dinding rumah?

"Hinata ..."

"Hn?" tanyanya pelan, menatap tangannya.

"Lihat aku."

Ragu-ragu mata Hinata beralih untuk memandang mata biru suaminya. Pria itu menatapnya untuk beberapa saat, mengamati wajah Hinata secara seksama. Wanita itu tersentak saat Naruto menyentuhnya, menyebabkan alisnya sedikit menekuk.

"Ya Tuhan, Hinata ... aku tidak akan menyakitimu," kata pria itu.

Oh begitu? Maaf atas kekeliruanku," pikir Hinata pahit pada dirinya sendiri, mengendalikan keinginan untuk memutar matanya. Bukan salahnya jika tubuhnya takut dengan keberadaan Naruto.

"M-maaf," ujarnya.

Naruto menangkup wajah istrinya di tangannya, ibu jarinya menyentuh pipi Hinata.

"Aku mencintaimu," ujar pria itu pelan, mencondongkan tubuhnya mendekat.

Sang istri memejamkan mata, tidak ingin melihat suaminya berbohong lagi di depannya. Naruto tidak mencintainya. Dia tidak mungkin mencintainya.

Naruto, yang menganggap menutupnya mata Hinata sebagai penerimaan, menutup jarak di antara mereka dan menekan bibirnya yang dingin dan pecah-pecah ke bibir istrinya.

Mata Hinata berkedip terbuka untuk bertemu dengan tatapan tajam Naruto, yang setengah terpejam dan menatapnya balik. Hinata tidak ingin dicium oleh pria itu, tapi dia tahu lebih baik untuk tidak menolak. Kecuali jika dia menginginkan anting-anting sebagai pasangan gelangnya.

Jadi, dia duduk di sana, tetap diam saat Naruto menggerakkan bibirnya, lidahnya berusaha masuk dan mengeksplorasi mulut Hinata.

Hinata bisa merasakan matanya memanas saat pria itu memperdalam ciumannya, mendesak suara kecil darinya. Untungnya dia telah belajar bagaimana memalsukan sesuatu, bagaimana berpura-pura menerima hasrat pria itu. Dan jika dia harus menyombongkan diri, dia bisa mengatakan dia ahli dalam hal ini.

Tangan Naruto bergerak dari wajahnya ke bawah lehernya, menarik Hinata mendekatinya sampai tubuh mereka saling menempel. Hinata menutup matanya saat tangan pria itu bergerak untuk memijat payudara kirinya. Butuh hampir semua keinginannya untuk menahan diri -dia benci saat Naruto menyentuhnya seperti itu.

Tangan Naruto melanjutkan eksplorasinya hingga sampai di pahanya, memegang kedua erat-erat dan mengayunkan tubuhnya sehingga kedua paha itu sekarang mengapit tubuh Naruto. Kemudian, seperti yang Hinata perkirakan, Naruto berdiri bersamanya dan membawanya menaiki tangga dan ke kamar tidur mereka, bibirnya melumat kasar bibir Hinata. Ketika mereka sampai di tempat tujuan, Naruto melemparkannya ke tempat tidur dan merangkak di atasnya, matanya berkeliaran di tubuh Hinata dengan lapar.

Tangan pria itu dengan serakah mulai bekerja pada bajunya, melepas kancing-kancing dengan tergesa-gesa.

Hinata di sisi lain tidak begitu bersemangat seperti suaminya; Matanya menatap kosong ke langit-langit. Dia benci tangan dingin yang kasar itu menggerayangi badannya, dia benci nafas di kulitnya, dia membenci ini, dan dia membenci suaminya.

.

.

.

.

"Hadiah yang lain ya?" Ino bertanya, melengkungkan alisnya pada benda kecil mungil yang menggantung di pergelangan tangan Hinata.

Wanita pemalu itu mengangguk, tersenyum sedikit pada temannya.

"Bagus, ya?" dia berkata, mengangkat pergelangan tangannya untuk menunjukkan.

"Hn."

Ino menatap temannya sejenak, tidak mempercayai permainan yang Hinata lakukan bahkan sesaat. Kapan pun Hinata mulai bertingkah aneh, dia akan muncul beberapa hari kemudian dengan hadiah baru yang mewah. Itu sudah dapat diprediksi sekarang.

"Itu hadiah ketiga yang dia berikan padamu bulan ini," Sakura menimpali.

Itu adalah yang ketiga kalinya Naruto memukulnya bulan itu.

"Dia pasti sangat mencintaimu," kata Ino sambil memutar sendok di cangkirnya.

Ya benar… Hinata berpikir dalam hati.

"Iya nih."

Sakura menyeringai tiba-tiba saat pikiran kotor terlintas dalam pikirannya.

"Hinata pasti memberinya sesuatu yang ekstra untuk menerima perlakuan istimewa semacam itu ..."

Ino tertawa saat wajah Hinata memerah. Dia tidak memberikan sebanyak yang pria itu renggut darinya.

"Ne, Hinata, katakan padaku apa yang harus kulakukan agar Lee meluangkan banyak hal padaku," Sakura terkikik, menyenggol lengan wanita pemalu itu.

Biarkan dia menggunakan wajahmu sebagai kantung tinju?

Hinata hanya tersenyum pada temannya, pipinya masih merah. "Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan Sakura ... N-Naruto suka memberi aku hal-hal ..."

Ya, mata lebam.

"Aku tahu," katanya sambil tersenyum kepada temannya. "Kalau saja aku bisa menemukan pria sepertimu."

"Kau bisa memilikinya," kata Hinata pelan, membalas tatapan bertanya dari kedua temannya.

"Apa maksudmu, Hinata? Pasti kau bahagia?" tanya Ino, bersiap jika Hinata akhirnya mengatakan yang sebenarnya.

Wanita bermata putih itu menatap teman-temannya dan tersenyum lembut.

"Tentu saja aku bahagia. Hanya saja t-terkadang cintanya sedikit ... intens ..."

Itu salah satu cara untuk mengatakan itu.

"Ah," desah Ino sekali lagi, menganggukkan kepala pelan.

"Baiklah aku akan dengan senang hati melepaskannya dari tanganmu untukmu, Hinata. Kita bisa bertukar pasangan, aku akan bersama Naruto-kun dan kau bersama Lee."

Sebagian dari diri Hinata menyetujui hal tersebut. Naruto mungkin akan memperlakukan Sakura jauh lebih baik daripada dia memperlakukan Hinata. Pria itu sendiri mengatakan bahwa dia berharap menikahi wanita berambut pink itu, bukan Hinata. Lagi pula, Hinata selalu menganggap Lee baik, sedikit hiperaktif, tapi jauh lebih baik daripada bajingan narsis yang dia panggil suami. Paling tidak, Lee akan membuatnya merasa sangat penting; dia telah melihat cara Lee memperlakukan Sakura. Hinata sanggup melakukan apa saja untuk mendapatkan hal seperti itu.

Wanita berambut gelap itu hanya tersenyum dan tertawa pelan mendengar perkataan temannya.

"Aku akan mengatur surat-suratnya," candanya.

Kalau saja itu bukan lelucon.

.

.

.

.

"Uzumaki-san."

Hinata mendongak dari komputernya untuk melihat bosnya keluar dari kantornya dan menghampirinya.

"Apakah kau membuat salinan yang aku minta?"

"Oh, ya ... ini dia," katanya lembut, menyerahkan setumpuk kertas.

"Terima kasih."

Dan setelah itu pria itu menghilang ke kantornya sekali lagi.

Uchiha Sasuke tidak berbohong saat dia mengatakan pada karyawannya bahwa dia tidak menuntut banyak dari mereka. Satu-satunya yang dia minta hari itu adalah membuat salinan artikel prospektif untuk majalah - selain itu pria itu melakukan segalanya sendiri seperti yang dia katakan.

"Ne, Kau tidak berpikir dia akan memecat kita kan?" ujar Tenten dari sisi lain ruangan.

Hinata mengalihkan tatapannya dari pintu kantor bosnya yang tertutup ke temannya yang berambut cokelat.

"Aku tidak tahu ..."

Sepertinya memang demikian. Pria itu sepertinya tidak membutuhkan mereka, tidak seperti Fukumi-san yang sepertinya tidak tahu bagaimana melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri. Hinata hanya senang dia tidak meminta mereka untuk menyeka pantatnya, meski memang terlihat seperti yang diinginkan bajingan itu. Jujur, bekerja untuk Uchiha Sasuke itu seperti berlibur.

"Aku harap tidak, aku butuh pekerjaan ini. Kau sangat beruntung karena kau bahkan tidak perlu bekerja."

Itu benar. Naruto menghasilkan uang cukup banyak, sehingga Hinata tidak harus bekerja jika dia tidak mau. Pada usia 27, sangat sulit dipercaya bahwa suaminya bisa mendapatkan pekerjaan sebagai politisi.

"Uzumaki-san gajinya pasti besar ya?"

"H-hn ..." Hinata menjawab malu-malu.

Tenten mendesah kecil. "Pasti menyenangkan memiliki suami yang mampu membelikanmu apa pun yang kau inginkan. Itu gelang yang indah ngomong-ngomong ..."

Hinata tersipu malu.

"Tidak begitu indah sebenarnya," katanya pelan pada dirinya sendiri.

Tenten melengkungkan alis, saat Hinata meletakkan tangannya di telapak tangannya.

"Bagaimana bisa, kau bahkan tidak harus berada di sini sekarang, kau bisa pergi ke spa, mendapatkan pijatan atau semacamnya. Kau mungkin juga bisa berpergian setiap tahun."

Hinata hanya tersenyum lembut. Itu benar; mereka memang menjalani hidup yang nyaman ... yah secara materil.

"Kenapa kau bekerja, Hinata-chan?"

Hinata ragu pada awalnya. Dia tidak ingin mengatakan kepada Tenten bahwa dia bekerja sehingga dia tidak terpaksa harus bunuh diri karena tinggal di rumah sepanjang hari.

"Hanya ... ada yang harus kulakukan . ... selain aku suka f-fashion jadi ..."

"Ah ..." desah Tenten, mengetukkan jarinya di meja.

"Uzumaki-san."

Hinata mengalihkan pandangannya dari Tenten untuk menemukan bosnya yang menjulurkan kepalanya dari pintu - sepertinya agak di luar karakternya dan membuat Hinata ingin sedikit tersenyum, tapi dia menahannya.

"Hn?"

"Kemarilah sebentar."

Sambil mengangguk, dia berdiri dan mulai berjalan ke ruangan atasannya.

"Tutup pintunya," kata pria itu saat Hinata masuk.

Hinata melakukan apa yang diperintahkan, dia menutup pintu.

Mata opalnya mengawasi punggung Sasuke. Sedangkan mata Sasuke tertuju pada kertas di tangannya, membaca dengan saksama. Lalu tiba-tiba bosnya itu menatapnya, menilainya untuk beberapa saat..

"Katakan padaku, bagaimana ini terdengar?"

"Eh?"

Dia menatap atasannya sedikit bingung.

"Bagaimana pendapatmu tentang ini? Kau wanita, katakan padaku, apakah kau ingin membeli ini setelah kau membaca artikelnya?"

Dia menyerahkan kertas itu kepada Hinata dan menunggu tanggapannya dengan sabar.

Dengan gugup, Hinata menatap kertas di tangannya, membaca dalam diam.

'... dan lemon pasti cukup untuk membuat kulitmu bersinar.'

'... .setiap hari selama seminggu dan kau akan melihat hasil'

'... untuk Jepang selama tiga tahun.'

Wanita berambut gelap itu menatap atasannya.

"S-sejujurnya?"

"Hn."

"Ini kelihatan tidak benar ... Bawang dan lemon? Di wajah seorang gadis, itu terdengar aneh ... saya tidak akan membelinya ..."

"Aku tidak berpikir begitu."

"H-Hn ... B-baik kalau begitu ..."

"Tidak. Sebenarnya, aku ingin kau menyampaikan ini kepada penulisnya dan katakan kepada mereka bahwa aku bilang ini sampah."

Hinata terkejut bahwa Uchiha Sasuke benar-benar membutuhkannya untuk melakukan sesuatu, dia mengangguk kepalanya dan meninggalkan ruangan dengan kertas di tangannya.

"Jadiiii ... Apa yang dia katakan? Dia tidak memecatmu kan?" ujar Tenten ketika Hinata keluar.

"T-Tidak ... dia eh ... meminta aku untuk mengerjakan sesuatu."

Tenten mengangkat alisnya. Pria itu telah jelas menyatakan ia tidak akan meminta bantuan dari mereka. Yah, setidaknya itu berarti mereka tidak akan dipecat.

Tanpa menunggu tanggapan dari Tenten, Hinata berangkat untuk mencari penulis artikel yang dimaksud..

"Uchiha-san mengatakan kepadaku untuk memberitahu Anda b-bahwa artikel yang Anda tidak dapat diterima," katanya gugup setelah menemukan penulis, Seji.

Laki-laki itu menatap ke arahnya sebelum menyambar kertas itu dari tangannya, menggumamkan makian.

"Apakah dia mengatakan alasannya?"

Hinata ragu-ragu sebelum menjawab.

"Dia meminta saya u-untuk membacanya dan saya -"

"Jadi kau orang yang tidak menyukainya," Seji menuduh, "Apa yang membuat kau seorang hm ahli?"

"Saya h-hanya ... dia a-meminta untuk -"

"Untuk apa? Mengapa dia meminta pendapatmu? Kau berharap aku percaya itu? Apakah aku terlihat bodoh?"

Hinata hanya menggeleng. Penulis itu marah dan melempar kertas ke wajahnya.

"Katakan padanya bahwa aku menyarankannya untuk membaca artikel ini sendiri dan tidak meminta asistennya untuk melakukannya. Itulah pekerjaanmu kan, asisten? Kau pikir kau siapa ...?" Seji berteriak padanya.

"Datang ke sini mengatai tulisanku seperti kau tahu saja ... Kenapa kau masih berdiri di sini? Aku bilang pergi!"

Hinata mengangguk sebelum berbalik dan bergegas kembali ke mejanya, berusaha keras untuk menahan air matanya.

"Hinata-chan? Apakah Kau baik-baik saja?" kata Tenten ini.

Wanita opal bermata mengangguk, mengeringkan matanya dengan punggung lengan bajunya.

"Hn."

"Uzumaki-san, kau melakukan apa yang aku minta?"

Hinata mendongak dari mejanya untuk menatap mata oniks atasannya. Laki-laki menatap penuh harap, menunggu jawaban atas pertanyaannya.

"T-tidak, saya ... M-maaf."

Laki-laki itu mendengus kesal.

"Tentu saja tidak ... Aku seharusnya tahu lebih baik. Berikan aku kertasnya," perintah Sasuke mengulurkan tangan.

Dengan gugup, Hinata menganggukkan kepalanya dan menyerahkan kertas kepada bosnya. Uchiha Sasuke mendengus kecil selagi dia menyambar kertas dari wanita itu dan berjalan menyusuri lorong.

Ketika pria itu kembali ia tampak benar-benar kesal; alisnya berkerut dan bibirnya hanya berupa garis tipis. Rasa bersalah dan malu melingkupi Hinata, memikirkan bahwa dia telah mengecewakan bosnya. Bukan hanya karena Sasuke bosnya, hanya saja Hinata benci mengecewakan orang lain -dia adalah orang yang berusaha sebaik mungkin untuk membuat orang senang.

"Kau baik-baik saja?"

Hinata melihat Tenten yang mengawasinya cemas. Dia hanya tersenyum dan mengangguk, tidak ingin Tenten ikut repot dengan masalah pribadinya.

"Aku b-baik-baik saja."

Jelas Tenten tidak percaya dengan kata-kata itu. Wanita berambut coklat itu tahu bahwa temannya Uzumaki Hinata, tidak baik-baik saja. Wanita yang rapuh itu jelas telah mengalami sesuatu ... Ada memar dan bagaimana dia tersentak atau mundur setiap kali ada orang di dekatnya. Sekarang, dia tampak seolah-olah akan menangis. Apakah seseorang mengatakan hal yang begitu buruk padanya sehingga dia bersikap demikian? Mungkin ... tapi, hal itu bukan hanya terjadi hari ini, hal itu terjadi setiap hari. Wanita malang itu tampak seperti dia bisa hancur berkeping-keping kapan saja.

"Uh huh…"

.

.

.

.

"Kau tampak jauh ..."

Hinata mendongak dari piringnya, menyadari suaminya menatapnya, mata biru itu mengawasinya.

"M-maaf," katanya pelan, mengalihkan lagi pandangannya ke piring. Sang istri mulai menyingkirkan brokolinya ke pinggir piring, jelas tidak tertarik pada sayuran hijau.

"Kau tidak seharusnya takut begitu padaku," kata sang suami pada akhirnya, tidak dapat mentolerir keheningan di antara mereka.

Wanita berambut gelap itu menganggukkan kepalanya cepat; ke atas ke bawah, sebelum memasukkan brokoli tadi ke mulutnya.

Naruto menatap istrinya, mencoba untuk meruntuhkan dinding yang telah Hinata buat di antara mereka. Hinata tidak mengizinkannya masuk; Hinata tidak akan mengizinkannya melihatnya. Seringkali, Naruto merasa seperti dia bahkan tidak tahu siapa Hinata. Dia tinggal dengan orang asing. Hinata selalu tampak begitu jauh darinya. Bahkan ketika mereka bercinta, Naruto bisa mengatakan bahwa istrinya berharap berada di tempat yang lain. Istinya tidak menyukainya; ia bisa merasakannya.

"Hinata."

Wanita itu menatapnya, matanya dingin dan kosong, seakan jiwanya tidak ada di sana. "Ya?"

Naruto mengamatinya untuk beberapa saat, tidak yakin kenapa ia memanggil istrinya. Apa yang harus ia katakan?

"Aku sedang berpikir ..." katanya. Istrinya hanya menunggunya untuk melanjutkan dengan sabar.

"Mungkin kita bisa jalan-jalan ... pergi ke tempat yang bagus."

Hinata memandang suaminya. Mengapa pria itu tiba-tiba menjadi begitu baik padanya? Biasanya Naruto tidak ingin menghabiskan waktu yang tidak penting bersama dengannya.

"Aku-aku tidak tahu apakah aku bisa c-cuti ..."

Naruto mengerutkan kening.

"Apa maksudmu kau tidak bisa cuti? Aku bahkan tidak mengatakan kapan kita akan jalan-jalan." Bagi Naruto tampaknya seolah-olah Hinata bahkan tidak ingin menghabiskan waktu bersamanya. Apa itu masalahnya? Di sini dia, berusaha menyenangkan wanita itu, namun semua yang Hinata lakukan hanyalah menolaknya. "Kau jalang tidak tahu berterima kasih, Kau tahu itu, kan?"

Hinata tidak menjawab, dia tahu lebih baik. Di saat seperti ini, sesuatu dia katakan hanya akan membuat Naruto lebih marah dari yang sekarang.

"Jawab aku, sialan!"

Atau diam juga bisa menjadi bumerang dan membuat Naruto marah. Jujur, tidak mungkin dia bisa menang dari Naruto. Apa yang harus dia katakan mengenai hal itu? Apa jawaban yang benar? Ya, dia adalah jalang tidak tahu berterima kasih? Tidak, dia bukan jalang tidak tahu berterima kasih? Kedua jawaban tampaknya hanya akan membuat Naruto semakin marah.

"N-Naruto aku -"

Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya pria itu telah berdiri dan mendekatinya. Jari-jarinya mencengkeram rambut Hinata, membuat Hinata mendongakkan kepalanya. Mata opalnya menatap Naruto, menatap mata biru itu penuh dengan kemarahan. Hinata bisa merasakan napas panas pada kulitnya. Dia bisa merasakan air mata di matanya, tapi ia tahu lebih baik untuk tidak membiarkannya jatuh.

Pria itu menekankan dahinya ke dahi Hinata, menatap dalam matanya. Perlahan-lahan, cengkeraman pada rambutnya berkurang. Dia bisa merasakan suaminya mulai tenang sedikit.

"Aku mencintaimu," bisik pria itu lirih.

Hinata menutup matanya; mencegah air matanya untuk jatuh.

"Aku juga mencintaimu," dustanya.

.

.

.


To be continued


.

.

Terima kasih sudah membaca. Aku terus terang prihatin dengan wanita yang berada dalam hubungan KDRT, mengapa mereka mau bertahan dengan orang yang menyakiti mereka. Menurut kalian gimana? Sampaikan pendapat kalian di kotak review ya :D