Terima kasih untuk reviewnyaa, mungkin benar alasan perempuan takut pergi karena mereka memikirkan banyak hal. Well enjoy this chap!


.

Naruto adalah milik Masashi Kishimoto

.

.

.


Semua Untuk Cinta

By Rampantt

Cantik


.

.

.

.

Angin berhembus kencang dan Uzumaki Hinata masih terjaga. Dia bergegas keluar dari rumahnya. Rambutnya yang berwarna biru kehitaman bergoyang di belakangnya saat dia berlari. Bulu-bulu halus di tangannya berdiri terkena udara malam. Tank top putih dan celana ungu tua yang dia kenakan tidak cukup untuk melindungi dirinya terhadap udara malam yang dingin.

Jantungnya berdegup kencang, saat kaki telanjangnya menyentuh tanah basah yang dingin. Dia harus pergi, dia harus melarikan diri.

"Hinata!"

Dia mendengar seseorang meneriakkan namanya. Tidak! Dia tidak akan membiarkan dirinya ditangkap orang itu.

"KEMBALI KE SINI, SIALAN! AKU MENCINTAIMU!"

"Pembohong!" teriak Hinata sambil memaksa tubuhnya bergerak lebih cepat.

Hinata berbelok di sudut, entah bagaimana sekarang dia berada di kantornya. Dia berlari di sepanjang koridor, melompati tumpukan majalah yang berhamburan di lantai. Dia bisa merasakan jari-jari orang itu menyentuh punggungnya, menyebabkannya tersentak dan memaksa tubuhnya bergerak lebih cepat lagi.

"Pergi!" dia menangis. Air mata mengaburkan pandangannya.

"SIALAN KAU, Hinata! KAU MILIKKU!"

Hinata menjerit keras, paru-parunya seakan ingin meledak saat ia berbelok lagi. Dia bisa melihat meja kerjanya dari sini-haruskah dia bersembunyi di sana? Tidak, itu hal yang bodoh.

'Pikirkan Hinata ... Pikirkan!' Dia menjerit pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba, pintu kantor bosnya terbuka. Hinata masuk ke dalamnya, membanting pintu di belakangnya tertutup.

"Hinata! Hinata!"

Dia bisa mendengar orang itu menjerit saat mulai menggedor-gedor pintu, berusaha sekuat tenaga untuk memaksakan pintunya terbuka.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Wanita bermata opal itu mendongak dan mendapati bosnya menatapnya. Pupilnya yang gelap berlawanan dengan pupil Hinata yang terang.

"Aku -"

.

.

Hinata terbangun, tubuhnya menyentak ke atas dari tempat tidurnya. Wanita itu melihat ke sekeliling kamarnya, bingung. Apa yang ... Tatapan matanya perlahan jatuh pada suaminya yang terbaring telanjang di sampingnya. Kenangan dari malam sebelumnya kembali, membuat perutnya mual.

Perlahan-lahan, agar tidak membangunkan Naruto, ia turun dari tempat tidur. Ia menghindari cermin saat ia menuju ke kamar mandi. Dengan tergesa-gesa, Hinata menggosok kulitnya dengan bersih. Dia mengerutkan kening pada memar merah kecil yang Naruto tinggalkan padanya. Dia benci saat Naruto melakukan itu. Dia benci merasa bahwa dia adalah milik Naruto dan tidak ada yang bisa dia lakukan tentang hal itu. Dia harus menemukan cara untuk meninggalkan suaminya.

Setelah bersih, dia keluar dari kamar mandi dan menyanggul rambutnya. Sang istri bisa merasakan tatapan panas di punggungnya. Hinata menggigit bibir bawahnya, gugup.

"Selamat pagi," katanya lembut kepada suaminya, memutar kepalanya untuk melakukan kontak mata sebentar kemudian kembali ke kegiatannya lagi.

Naruto terdiam sebentar saat dia melihat Hinata memakai celana dalam. Dia ingat pertama kalinya bercinta dengan Hinata, wanita itu sangat malu menunjukkan celana dalamnya. Tapi beberapa tahun belakangan, nampaknya Hinata tidak begitu peduli lagi.

Kebanggaan membesar di diri Naruto saat ia melihat ruam-ruam merah yang ada di punggung dan leher istrinya. Naruto yakin bahwa semalam ini adalah malam yang menyenangkan-dia berutang pada istrinya.

"Pagi," balasnya sambil duduk sehingga punggungnya menekan papan tempat tidur mereka.

Hinata diam, tidak benar-benar ingin memulai pembicaraan. Sebagai gantinya, wanita itu mengenakan pakaiannya sendiri, menarik celana jins biru diikuti bra dan sweater kuningnya. Perlahan, dia membiarkan rambutnya turun dari sanggulnya dan mengeringkannya dengan handuk, merasa puas dengan rambut yang tergerai di punggungnya.

"Apa yang akan kau lakukan hari ini?" dia mendengar suaminya bertanya.

"Bekerja," jawabnya pelan.

"Apakah kau bercanda? Ini hari Sabtu! Tidak bisakah kau libur?"

"T-tidak ..."

"Ini tidak dapat percaya. Bagaimana jika aku ingin menghabiskan waktu denganmu?"

"Naruto ... tolong ... ini masih pagi ..." Hinata memohon.

Suaminya terdiam beberapa saat, mengamati saat Hinata memasang ikat pinggang pada celana jinsnya. Wanita itu tidak mungkin serius berbicara dengannya seperti itu. Bukan seperti itu seharusnya.

"Apa yang baru saja kau katakan padaku?"

Hinata menggigit bibir bawahnya sambil mengencangkan ikat pinggangnya, memperpanjang keheningan di antara mereka.

"Aku tidak ingin bertengkar, Naruto ..."

Naruto menatap punggung istrinya, menonton saat Hinata memakai gelang yang ia belikan. Seringkali, Naruto merasa dia tidak bisa memahami Hinata. Tentu dia berbuat kesalahan sekali-sekali, tapi kemudian dia berusaha keras untuk memperbaikinya. Tapi tak ada respon positif sama sekali dari wanita itu. Sebagian besar Hinata hanya mengatakan apa yang ingin dia dengar dan kata-kata Hinata akan membuatnya diam. Istrinya sepertinya tidak suka berbicara dengannya. Pria berambut pirang itu mengerutkan keningnya.

Hinata di sisi lain bersyukur ketika Naruto tidak mengatakan apa-apa. Namun, dia bisa merasakan Naruto menatap lurus ke arah punggungnya, mungkin menahan diri dari memukulnya seperti yang ia inginkan.

"Jam berapa kau akan pulang?"

Hinata akan dengan senang hati memberitahu Naruto jika dia memang ingin memberitahu Naruto - dia wanita dewasa, bodoh. Hinata tidak harus menjelaskan dirinya kepada pria itu. Tapi ia tahu lebih baik; Dia tidak butuh suaminya untuk mematahkan lehernya pagi-pagi.

"Sekitar pukul empat," jawabnya.

Naruto, sepertinya menerima jawaban ini, menganggukkan kepala dan berbaring di tempat tidur.

"Bagus, aku ingin mengajakmu makan malam."

Sang istri menekan keinginan untuk bertanya mengapa, dia hanya menganggukkan kepalanya.

"Baiklah."

Hinata melakukannya lagi. Wanita itu hanya mengatakan 'baiklah' karena itulah yang Naruto ingin dengar dan bukan karena dia juga ingin bersama dengan Naruto. Apa itu masalahnya? Sang suami memperhatikan istrinya selagi berdandan, menambahkan warna merah muda ke pipi. Istrinya cantik, Naruto tahu, tapi tentu saja dia tidak akan mengatakannya kepada Hinata. Hinata tidak akan menghargai pujian itu.

.

.

.

.

"Oke, Uzumaki -san, kali ini tolong jangan mengacaukannya. Yang harus kau lakukan adalah memegang tombol rekam, sangat sederhana bahkan kau pun bisa melakukannya. "

Hinata mengangguk gugup, jari-jarinya menggenggam perekam di tangannya. Sasuke, bosnya menatapnya, tampak jengkel.

Terkadang wanita itu seolah-olah bisa hancur kapan saja jika dia mengatakan hal yang salah padanya. Seringkali Uchiha Sasuke menemukan dirinya ingin meminta maaf atau bahkan berbuat baik pada Hinata.

Bagi Sasuke, Uzumaki Hinata adalah seseorang perlu dilindungi, diurus bahkan. Sayang sekali itu bukan pekerjaannya - dia akan membiarkan orang lain menangani hal itu, karena dia sendiri punya hal lebih penting untuk ditangani.

"Baiklah, mari kita pergi," katanya pada saat ia mulai berjalan menyusuri lorong ke ruang konferensi.

Sang asisten mulai mengikuti di belakang atasannya, memaksa kakinya yang pendek untuk mengikuti langkah bosnya yang panjang. Memasuki ruangan, mereka berdua duduk di meja bundar, Hinata di samping bosnya.

Hanya ada keheningan selama mereka menunggu tamu untuk diwawancarai. Uchiha Sasuke adalah orang yang pelit berkata-kata – yang tentu saja sangat sempurna bagi Hinata karena dia juga tidak sedang ingin berbicara. Alih-alih, pikirannya terfokus pada suaminya dan apa yang akan terjadi malam ini.

Dia sama sekali tidak menantikan waktu kencan mereka - ia lebih suka menelan silet daripada menghabiskan waktu dengan suaminya. Setidaknya mereka tidak akan sendirian ... dia tidak akan harus berurusan Naruto yang marah. Tanpa sadar Hinata mendesah lelah, yang dibalas dengan tatapan bertanya dari atasannya.

"M-maaf ..."

"Hn," balas Sasuke, mengalihkan pandangannya dari si asisten.

Apa masalah wanita itu? Sasuke tidak bisa menekan rasa ingin tahunya. Mungkin wanita itu bosan menunggu tamu mereka. Jika memang begitu, Hinata harus bisa belajar tentang kesabaran, terutama di bidang pekerjaan yang dia tekuni sekarang ini.

Tiba-tiba pintu ruang konferensi terbuka, mengingatkan mereka akan kehadiran tamu mereka.

Fuwa Sho.

Bintang pop berambut pirang itu masuk ke dalam, wajahnya nampak bosan. Dia sama menariknya seperti yang di TV Hinata perhatikan. Di belakangnya tampak manajernya yang yang tersenyum kepada Sasuke dan Hinata.

"Kami sangat senang Anda bersedia diwawancarai, Fuwa -san," kata Sasuke, bangkit berdiri.

Hinata mengikuti bosnya, berdiri dengan gugup. Selama bertahun-tahun bekerja untuk majalah mereka, dia tidak pernah bertemu dengan seorang selebriti.

"Hn," adalah respon acuh tak acuh bintang itu.

Sang selebriti duduk di kursi di seberang Sasuke dan Hinata, memberi tanda mereka duduk juga.

"Oke Pertanyaan pertama -." Sasuke mulai dan Hinata menekan tombol rekam. "Dimana Anda dibesarkan?"

"Kyoto."

"Warna kesukaan?"

"Tidak ada."

"Gadis seperti apa yang Anda sukai?"

Bintang pop itu perlahan merenungkan jawabannya. "Aku lebih suka dengan gadis rumahan yang sederhana. Seseorang yang tidak melemparkan dirinya padaku dan bisa melakukan percakapan yang sebenarnya."

Sasuke tidak percaya kata-kata itu. Dari tabloid, Fuwa Sho digambarkan sebagai playboy kelas atas. Tapi dia tetap melanjutkan, ia hanya tidak akan menggunakan pertanyaan di wawancara yang tercetak.

Sesi ini berlangsung selama satu jam, Sasuke menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang berada di benak hampir setiap gadis remaja di Jepang. Hinata bertanya-tanya jika bosnya merasa sedikit malu menanyakan hal seperti itu, terutama mengenai lawan jenis. Tapi Sasuke tampaknya tidak sama sekali terpengaruh oleh isi pertanyaan - ini adalah bisnis baginya.

"Baiklah, terima kasih untuk waktu Anda, Fuwa -san," kata Sasuke setelah beberapa waktu berlalu, bangkit berdiri dan memberikan Hinata tanda untuk mengakhiri rekaman.

"Hn."

Itulah yang semua penyanyi katakan sebelum mereka meninggalkan ruangan. Manager Fuwa mengikuti di belakang, diam-diam menasihatinya tentang tingkah laku.

"Selebriti ..." kata Sasuke sambil mendesah saat ia merapikan tumpukan kertas yang tergeletak berserakan di atas meja.

Hinata tidak memberikan respon, dia hanya menunggu petunjuk lebih lanjut dari bosnya.

"Mari kita pergi," kata Sasuke akhirnya, setelah mengumpulkan kertas dan mulai berjalan keluar dari ruang rapat.

Sang asisten mengangguk dan mengikutinya keluar, melihat punggung sang atasan saat mereka menyusuri lorong bersama.

Ada sesuatu tentang pria itu, sesuatu yang Hinata tidak yakin dia suka atau tidak, tapi menarik perhatiannya. Sasuke tidak sepenuhnya baik ataupun jahat padanya – pria itu sebenarnya bersikap acuh tak acuh padanya.

Namun entah bagaimana Hinata tertarik pada pria itu. Dia sendiri tidak bisa menjelaskan. Dia tahu apa yang dia rasakan bukanlah perasaan romantis ataupun yang lainnya; dia mengira itu hanya rasa ingin tahu atau mungkin sesuatu yang lain yang dia belum tahu namanya.

Sasuke adalah kebalikan dari Naruto, Hinata baru menyadari ini. Well, kebalikan dari Naruto yang dia cintai dan nikahi. Naruto yang baik dan terbuka, riang dan ramah. Bosnya akan tetapi adalah pribadi yang pendiam dan tidak bersahabat, bahkan terlihat sombong. Namun Hinata tidak merasa bosnya jahat, Sasuke sama sekali belum pernah menyinggung perasaannya.

Sebaliknya pria itu menarik minatnya. Hinata mendapati dirinya ingin bercakap-cakap dengan Sasuke, tapi tidak yakin apa yang harus dia katakan. Apa tepatnya hal yang akan dia katakan kepada seorang pria seperti Uchiha Sasuke? Hinata tidak yakin ... Bahkan dia tidak yakin kenapa dia ingin berbicara dengan pria itu. Seperti ada kekuatan magnetis yang menariknya begitu saja.

Dia tidak akan mengakuinya kepada siapa pun kecuali dirinya sendiri, tetapi sering kali dia mendapati dirinya memikirkan Uchiha Sasuke. Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang benar-benar layak disebutkan, hanya pikiran sepintas- benar-benar samar-samar. Dan mimpi di malam sebelumnya, apa maksudnya itu?

Tentu, dia telah bermimpi untuk melarikan diri dari Naruto jutaan kali, tapi tidak pernah ada orang selain Naruto dan dirinya sendiri yang ada dalam mimpi itu. Menemukan Sasuke di akhir mimpi sedikit mengkhawatirkan.

Mengapa Hinata tidak bisa berhenti memikirkannya?

Sasuke tidak mengatakan sesuatu yang istimewa padanya, atau apapun yang membuat Hinata memikirkannya. Si asisten yakin dia tidak memiliki perasaan untuk bosnya yang dingin itu - dia baru saja mengenal Sasuke. Semua yang Hinata tahu tentang Sasuke hanyalah dari pengamatan yang dilakukannya secara diam-diam. Itu aneh.

.

.

Di sisi lain, Sasuke bisa merasakan asistennya menatap punggungnya tetapi memutuskan untuk mengabaikan. Dia terbiasa dengan wanita yang menatapnya dan menjadikannya objek ketertarikan seksual. Sejujurnya, ia sama sekali tidak tersinggung dengan rasa ingin tahu seksual yang melibatkan dirinya.

Seperti laki-laki lainnya, ia merasa bangga. Dia akan memperbolehkan Hinata untuk terus menatap, bahkan mungkin berfantasi tentang dirinya. Lagipula apapun yang Hinata lihat dan apapun imajinasinya bukanlah urusan Sasuke.

"Uzumaki -san," katanya tiba-tiba berhenti.

Hinata karena tidak siap menabrak punggung atasannya. Dia terhuyung mundur, wajahnya memerah.

"M-maaf, Uchiha -san!" Wanita itu meminta maaf dengan segera, tangannya bergetar gugup.

Sasuke tampak penasaran, Hinata tahu, ujung-ujung bibirnya sedikit naik.

"Tidak apa-apa, santai Uzumaki -san."

Hinata mengangguk gugup, tidak yakin apa yang harus dilakukan sekarang.

Sasuke menatapnya lagi, sangat tertarik. Wanita malang ini tampak seperti bisa meledak karena gugup. Sesuai dugaannya; dia harus berhati-hati dengan Hinata agar tidak mengucapkan sesuatu yang salah.

"Apakah kau ingin makan malam?" tanya Sasuke pada akhirnya, memasukkan tangannya ke saku.

Mata Hinata melebar sedikit saat ia menatap bosnya. Makan malam? Makan malam. Kata itu tampak asing baginya, seolah-olah dia tidak pernah mendengar kata itu sepanjang hidupnya. Dia terdiam beberapa saat, mengolah otaknya untuk mencari definisi kata 'makan malam'. Makan malam. Makanan. Baiklah. Oke.

"A-Aku tidak bisa ..." akhirnya dia menjawab.

Alis Sasuke berkerut. Dia tidak bisa? Apa maksudnya dia tidak bisa? Seorang wanita baru saja menolaknya, ini yang pertama kalinya. Agak membingungkan sebenarnya.

"Kenapa tidak?" tanya pria itu, sangat penasaran dengan jawaban yang akan diberikan.

"Saya ada janji su-suami saya."

Suami? Mata Sasuke berpindah ke tangan kiri Hinata. Dia melihat cincin berlian berkilau di jari wanita itu. Lucu. Sasuke tidak pernah menyadarinya.

"Ah, aku mengerti," kata pria itu akhirnya.

"M-maaf."

"Tidak masalah, serahkan perekam yang tadi padaku, dan kau boleh pergi."

Hinata mengangguk dan memberikan perekam kepada Sasuke, tidak dapat mengabaikan sengatan ketika jari pria itu menyentuhnya.

"Hinata."

Eh?

Wanita cantik itu memalingkan wajahnya dan melihat suaminya datang ke arahnya- Naruto tampak marah. Apa yang suaminya lakukan di sana?

"Siapa ini?" tanya Naruto.

Eh?

Hinata mengalihkan pandangannya ke Sasuke, baru kemudian menyadari tangan mereka masih bersentuhan. Dengan gugup ia menarik tangannya kembali.

"I -ini adalah atasanku, Naruto, Uchiha -san."

Naruto menatap pria yang tadi berbicara dengan istrinya. Mereka hampir sama tinggi; satu-satunya perbedaan adalah rambut dan mata mereka yang kontras.

"Uzumaki Naruto. Suami Hinata," Naruto memperkenalkan diri, memajukan tangannya untuk berjabat tangan.

"Uchiha Sasuke," jawab bosnya, menjabat tangan Naruto.

Keduanya tampak saling menatap sebelum akhirnya Hinata memecah keheningan di antara mereka.

"A-apa yang kau lakukan di sini, Naruto?"

Si pirang mengalihkan pandangannya ke istrinya, alisnya berkerut kesal.

"Kau terlambat jadi aku datang untuk mencari tahu."

Terlambat? Sekarang baru pukul - tatapannya beralih ke jam dinding - enam tiga puluh. Sial. Naruto benar-benar akan membunuhnya kali ini.

"Aku minta m-maaf, Naruto, Aku tidak sadar -"

"Tidak apa-apa, sayang. Apakah kau sudah selesai bekerja? Aku ingin cepat kembali ke restoran."

Hinata berbalik melihat Sasuke yang memberinya anggukan kepala kecil. "I-iya."

"Baik. Kalau begitu ayo pergi. Senang bertemu Anda, Uchiha -san," kata Naruto, menggenggam tangan istrinya di dan menariknya menjauh.

Wanita bermata opal itu melirik Sasuke dari balik bahunya sebelum berpaling dan pergi dengan suaminya.

Well. Itu aneh. Uchiha Sasuke bisa merasakan ketegangan antara asistennya dan suaminya. Hinata berubah menjadi gugup, lebih dari yang biasanya. Wanita itu benar-benar takut pada suaminya. Sasuke tahu. Tapi kenapa?

Tentu, Naruto kelihatan sangar dan Hinata adalah tipe orang yang bisa ditakuti dengan mudah. Tapi bukan seharusnya Hinata tidak takut dengan suaminya sendiri. Dan tatapan Hinata, seolah-olah dia ingin Sasuke melakukan sesuatu, melindunginya mungkin. Pasti ada sesuatu yang terjadi di antara pasangan Uzumaki.

.

.

.

.

Mereka duduk diam di mobil Naruto, sang pria menggenggam erat roda kemudi sampai buku-buku jarinya memutih.

"Kau tidak bisa menelponku?" tanya pria itu.

Hinata menatap tangannya, menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab pelan. "Aku tidak s-sadar."

"Omong kosong, kau tahu itu," balas Naruto anehnya tampak tenang.

Hinata memejamkan mata, menahan air mata agar tidak jatuh.

"Lihat aku, Hinata. Lihat aku sialan!" Naruto meneriakinya, meraih dagunya dan memaksanya untuk menatap.

Mata putih Hinata terbuka, berkaca-kaca karena air mata.

"Berhenti menangis. Berhenti!"

Hinata terisak dan mengedipkan matanya, mencoba menahan air mata.

"Kadang-kadang aku merasa kau sengaja melakukan hal-hal yang membuatku marah. Kau senang membuatku marah ya kan? Ya kan?" Teriak Naruto.

"T-tidak aku -"

"Jangan membohongiku! Mengapa kau lebih suka berada di mana saja asal tidak denganku? Kau akan melakukan apa pun untuk menjauh dariku bukan? Ya kan?"

"T-tidak Naruto aku -"

"Kau apa? Kau menyesal? Kau cinta padaku? Yang benar saja, Hinata! Simpan omong kosong itu... Apa yang kamu lakukan bersamanya, huh? Apa yang kalian berdua lakukan sehingga kau lupa waktu? "

Hinata menatap suaminya. Naruto sangat marah, itu pasti. Matanya merah dan kelihatan gila, giginya kelihatan saat dia menunggu Hinata untuk menjawab.

"Aku ... kami ... kami ..."

"Jalang kau sebaiknya menjawab pertanyaanku. 3 ... 2 ..."

"Kami melakukan wawancara! Aku... ada begitu b-banyak p-pertanyaan, Naruto. A-aku k-kesal. Aku i-ingin segera p-pergi, s-sungguh! Kau h-harus percaya padaku ..." Hinata memohon padanya.

Naruto melepaskan dagunya dan menatapnya. Istrinya masih tetap cantik meskipun ketakutan. Bahkan dengan matanya yang berkaca-kaca dan kulitnya pucat karena ketakutan, dia masih tetap wanita tercantik yang pernah Naruto lihat sepanjang hidupnya.

Kalau saja Hinata mencintai Naruto, sama seperti Naruto mencintainya. Kalau saja Hinata merasakan apa yang dia rasakan, melihat apa yang dia lihat, mereka bisa bahagia.

Setelah ia meninggal, mereka tidak pernah sama lagi. Hinata tampak begitu dingin, begitu jauh dari Naruto. Naruto ingin terhubung dengan istrinya, tapi wanita itu tidak mengizinkannya, tidak membiarkannya masuk. Siapa istrinya?

"Kau bohong," kata Naruto datar. "Kenapa aku harus percaya padamu?"

"Karena aku ... aku mencintaimu," jawab Hinata.

Naruto tahu itu kebohongan. Kebohongan tragis yang indah.

Dia membungkuk dan mencium istrinya, menyatukan bibirnya dan bibir Hinata. Hinata menanggapi seperti yang dia inginkan, jari-jari Hinata menggapai rambut Naruto dan bibirnya bergerak di bawah bibir Naruto. Untuk sesaat Naruto lupa dia marah, lupa bahwa pernikahan mereka berantakan. Akhirnya dia mundur, menatap wajah istrinya.

"Itu saja tidak cukup," katanya pada akhirnya, alisnya berkerut.

Tidak, tentu saja. Hinata tidak mencintainya, yang dilakukan wanita itu hanyalah berbohong padanya. Yang Hinata lakukan hanyalah mencoba untuk menyenangkan hatinya, menghindar daripada menghadapinya. Wanita itu tidak mau berurusannya dan jujur itu membuatnya kesal.

"Aku muak melihatmu."

Hinata menahan isak tangisnya. Suaminya kejam. Kenapa? Kenapa Naruto melakukan ini padanya? Kenapa ia tidak meninggalkannya sendiri? Tidak mengganggunya lagi? Membiarkan dia hidup tanpa pria itu?

Hinata bahkan tidak akan meminta cerai, dia tahu itu buruk untuk karir politik Naruto. Dia hanya ingin jauh dari suaminya. Dia tidak menginginkan pernikahan ini lagi.

"Naruto aku -" Hinata memulai, air matanya menetes ke pipi.

Tiba-tiba dia tidak bisa berhenti. Dia terus terisak dan terisak, dadanya naik turun secara histeris.

Naruto akan memukulnya. Naruto akan mendiamkannya. Hinata panik, jantungnya mulai berdetak kencang dan keringat bermunculan di kulitnya.

"Hentikan itu sialan! Hentikan! Hentikan!"

Dan seperti yang Hinata tahu, tinju Naruto mengayunkan ke arahnya, mengenai hidung dan bibirnya. Darah keluar dari lubang hidung dan mulutnya. Tubuhnya terbanting ke pintu, kepalanya mengenai jendela. Hinata menutup matanya. Semuanya menjadi gelap.

.

.

.


to be continued


.

.

Saya juga belum berumah tangga, tapi memiliki paman yang sekiranya sama seperti Naruto. That really makes me sad

Btw mohon maaf saya baru update saudara-saudara.