Warning : Mengandung unsur typo, EYD (Ejaan Yang Disemrawutkan), serta OOC. Harap berhati hati apabila menemui kriteria yang sudah saya sebutkan.
*SUICCHON*
Akashi Seijuurou. Kapten basket berambut merah menyala. Tipikal pemimpin tanpa cela. Perilakunya sempurna. Intinya ia dambaan calon mertua, incaran para wanita.
Akashi sedang baper tingkat maksimal. Inginnya ada sesuatu yang dapat menghiburnya di saat ia tengan bosan serta baper seperti saat ini. Karena jelas kebaperan bagi seorang Akashi Seijuurou adalah hadas besar dan tidak mungkin hilang hanya dibasuh air mineral saja.
Berusaha stay calm di balkon lantai 5 di rumahnya yang langsung menghadap ke arah pemandangan pebasket pebasket kece, Akashi iseng saja membuka jejaring sosialnya. Dan pucuk dicinta ulam pun tiba, salah seorang rekannya tengah berstatus soal betapa kerennya sebuah situs berjudul 'Layanan Konsultasi Dokter Midorima'
Akashi dengan segala keabsolutannya bertandang ke situs tersebut. Ingin tertawa. Ingin menguji. Ingin menghibur diri. Terlebih ingin membuktikan seberapa keren orang bernama 'Dokter Midorima' itu hingga sosok rekannya yang biasa berpikir soal basket, oppai, dan seseorang yang ia sebut sebut sebagai Tiger itu dapat mengalihkan perhatiannya.
Rupanya username 'A. Daiki Gantengz' dan postingan permasalahannya telah menyita perhatian Akashi seluruhnya. Akashi tersenyum licik disaksikan angin yang mengibarkan rambutnya di balkon lantai 5 di rumahnya.
"Saa.. Mari sedikit berdiskusi, Dokter.'
.
.
.
Bolehkan aku menguasai dunia?
A. S(e)i Raja Merah, informasi mengenai umur dan lokasi telah diblokir oleh internet positif.
.
Takao mengernyitkan dahi.
Pertanyaan macam apa ini? Pertanyaan abg labil berusername A. Daiki Gantengz kemarin saja sudah cukup mengobok obok pemikirannya sebagai ahli kesehatan dan om om yang sehat, sebagai balasannya ia harus menggali kebijaksanaannya yang terpendam dan membuka ideologi masa remajanya lagi untuk menjawab pertanyaan seputar 'menembakkan bola tjinta ke ring di hatinya'.
Sekarang rasa rasanya seperti sedang dipaksa membongkar identitasnya sebagai wibu semi otaku yang tindakan selanjutnya bisa mencemarkan nama baik si dokter hijau. Pasalnya, pertanyaan seputar menguasai dunia hanya terlontar oleh seorang wibu ladur yang membanggakan waifu la*ur. Hanya tercetus oleh wibu yang bertapa brata di muka layar kaca untuk menyaksikan tayangan bernama 'anime'. Kemungkinan besar anime ninja ninjaan.
Ah wibu.
Takao kokoronya lelah menghadapi wibu. Padahal ia sendiri tak beda jauh dengan wibu.
Sambil menyemil fosil astor dari masa pralebaran kemarin, Takao mengetik balasan untuk username A. S(e)i raja merah.
.
.
Terimakasih untuk adik A. S(e)i Raja Merah karena telah mempercayakan permasalahannya untuk dibahas serta didiskusikan bersama saya.
Kiranya sekarang waktunya saya menjawab kegundahan hati Adik yang kasusnya belum pernah saya temukan sebelumnya.
Pertama tama, bagaimana kalau saya panggil Adik dengan Asei saja? Agar lebih akrab. Kata orang, tak kenal maka tak sayang bukan? Tadinya saya mau panggil situ Adik Asi. Namun terdengar seperti istilah medis yang biasa saya senangi. Oh iya, Adik Asei boleh panggil saya 'Dokter Midorima Jenius'.
Sudahkah Adik menonton serial Gintama? Saya yakin Adik sudah tidak asing lagi, mengingat foto profil Adik Asei bergambar wajah remaja ganteng berambut merah sedang selfie bersama Elizabeth. Adik Asei pasti yang pakai kostum Elizabeth. Hm.. Sudah saya duga. Adik Asei cosplayer rupanya.
Jadi, Adik pasti sudah tidak asing dengan Takasugi Shinsuke. Takasugi itu jahat. Kalau Adik hendak menguasai dunia berdasarkan wangsit Takasugi, sebaiknya lupakan saja lah dik.
Namun andai Adik tetap ngotot, Adik setidaknya harus memiliki skill berpedang sehebat Gintoki atau Kenshin Himuro. Atau memiliki skill menembak seakurat Kaizuka Inaho maupun Midorima Shintarou, yang mana saya sendiri. Jika syarat tersebut terpenuhi, boleh lah Adik menantang duel Takasugi satu lawan satu. Duel jan ken pon. Seperti yang biasa saya lakukan bersama asisten saya. Yang penting bukan berkelahi. Dosa dan tidak bermanfaat.
Namun yang kiranya perlu saya ingatkan andai Adik menang duel adalah bahwasanya menguasai dunia itu tidak akan senikmat saat Adik bermain dengan aset pribadi di malam hari dengan dibumbui sebatang sabun mandi. Bayangkan berapa banyak lahan di bumi ini yang harus Adik pikirkan agar bisa menghasilkan padi dan kapas sesuai simbol pancasila? Berapa banyak kemacetan jalanan yang akan menghantui mimpi indah Adik saat malam menjelang? Belum lagi kalau nanti spesies sebangsa dan sejenis Farhad Annas mengkritik Adik habis habisan. Mungkin Adik bisa tahan. Tapi lama lama pasti eneg lah ya.
Nasihat dari saya, kalau Adik Asei saja masih sering galau memikirkan akan menjadikan Nico atau Kotori sebagai waifu, masih bisa baper ketika rewatch Aldnoah Zero pas endingnya season pertama kemarin, masih bingung terhadap orientasi jati diri ketika dihadapkan pada sosok Hideyoshi maupun Totsuka Saika, ataupun masih berharap Furihata dibuatkan karakter song agar Adik bisa ikut bernyanyi bareng, sebaiknya Adik pendam dalam dalam keinginan Adik soal mendominasi dunia dalam segenggam tangan Adik.
Mengapa?
Karena kalau Adik Asei saja masih sering terbawa arus dan masih sangat berkemungkinan untuk dipengaruhi orang lain, bagaimana bisa Adik menjadi suri tauladan yang baik bagi berjuta bahkan bermilyar adik adik kita diluar sana?
Camkan nasihat saya baik baik, Dik.
Adik Asei masih muda belia. Masih sangat mungkin merubah dunia daripada menguasainya.
Saya lihat Adik memiliki imajinasi yang bagus. Adik sesungguhnya bisa dikatakan jenius setingkat saya. Jadi, banyak banyak belajar, berdoa, dan berusaha. Agar kelak masa depan Adik terjamin sehingga Adik pantas mengubah dunia dan menjadikan diri Adik sebagai suri tauladan yang baik bagi berjuta adik adik kita diluar sana.
Kelak, jika Adik berhasil mengubah dunia, mengharumkan nama bangsa, saya tak akan segan memasang foto Adik sebagai foto wajib di kamar anak saya. Agar anak saya mencontoh Adik dan menjadikan Adik sebagai panutan dan impian masa depannya.
Doakan saja saya cepat menikah dengan asisten saya dan punya momongan yang sehat dan kuat.
Just pull the sun into your heart.
Salam merdeka,
Midorima Shintarou
.
.
.
Takao agak baper ketika menuliskan 'doakan saja saya cepat menikah dengan asisten saya dan punya momongan yang sehat dan kuat'. Sedikit membuatnya terharu namun gamblang ia aminkan dengan 'Amin' yang keras serta panjang.
Nafasnya mendesah lega menjawab pertanyaan wibu ladur tersebut. Merasa seperti mencapai sesuatu. Namun nampaknya ia tak sadar akan sesuatu juga. Tak sadar akan kericuhan diluar sana yang ia timbulkan lewat beberapa paragraf sebagai jawaban kegundahan seseorang lantaran orang yang bersangkutan membagikan halaman situs Takao di semua jejaring sosial yang ia gandrungi.
*SUICCHON*
"Semua cowok itu sama. Kalau ngga kurang ajar ya berarti maho. Tinggal kamu mau pilih yang mana."
Wanita bohay berambut pink itu tengah menegaskan doktrinnya pada wanita berambut coklat yang tengah menyemil keripik singkong. Nampak si rambut coklat berhenti mengunyah dan ingin menegaskan kembali apa yang masih mengganggu di benaknya.
"Yakin? Coba tanya Dokter Midorima." Tandasnya singkat.
*SUICCHON*
Catatan pojok :
Hey hey! Saya balik, hey!
Ini chapter dua! Ngga nyangka bisa update chapter dua XD.
Yak. Sedikit curhat ya.
/kapan kamu ngga curhat nak?!
Jadi disini saya rasa Akashi cukup...
Alay.
Dan agak wibu.
Tapi entahlah mengapa kalau menyangkut pertanyaan ababil tersebut hanya nama Akashi yang terlintas di benak saya?!
Maaf, Dik. Maafkan aku yang menistakanmu.
Dan kalau tidak ada aral melintang, saya balik lagi dengan chapter tiga.
Salam untuk kalian dan kapten wanita di seberang sana kalau kau membaca,
Suicchon
