"Atsushi.. Sudahlah. Jangan terus terusan bersedih."

Yang dipanggil Atsushi merunduk. Merenungi sebatang Umaiubo dengan tatapan penuh duka cita yang mendalam.

"Ah.. dunia ini kejam." Balas Atsushi si ungu menjiplak salah satu ucapan heroine yang tidak menye dari serial raksasa pemakan manusia.

"Jangan bersedih. Nanti kita tanyakan pada Dokter Midorima ya." Si tahi lalat di bawah mata mencoba mengadakan negosiasi demi meluluhkan kedukaan yang hampir menjadi fosil bagi sosok ungu yang diketahui bernama Murasakibara Atsushi.

"Hee.. Siapa itu, Muro-chin?"

Si tahi lalat tersenyum, menepuk kepala Murasakibara dengan penuh feromon pemikat sesama lelaki yang sangat kuat hingga tumpah-tumpah.

"Dokter jenius yang bisa menjawab segala kegalauan anak muda."

"Hoo.."

*SUICCHON*

Takao saat itu baru saja pulang menonton Attack On Pettan di Blitz Megaplex. Seseorang yang hatinya sedang baik memberinya 2 tiket nonton, yang mana tentu saja salah satunya ia berikan pada Midorima. Midorima bahagia bahagia saja mumpung tidak bayar, Takao tak kalah bahagianya dan diam diam mendoakan supaya si manusia baik hati dilimpahi keturunan yang berkualitas. Usut punya usut ternyata si pengirim tiket adalah lelaki berambut biru tua yang mengaku bernama Daiki yang puas akan solusi yang Takao berikan berminggu minggu yang lalu. Takao jelas tahu karena si Daiki ini duduk tepat di belakangnya dan berkali kali mengucapkan terimakasih pada Midorima. Midorima jelas bingung tiada tara.

Takao pun lalu ingat. Daiki itu lelaki yang terindikasi homo kemarin. Masih anak SMA tapi tubuhnya alamak seksi sejagad raya. Apalagi dengan tatapan tajam dan kulit tan terbakar yang mengkilap. Kecengan si Daiki ini juga bisa dibilang tak kalah seksi nan atletis. Dengan alis cabang dan rambut merah hitam yang tidak biasa. Mungkin efek rivalitas yang ditimbulkan menjadikan keduanya beraura sama. Hanya saja menurut Takao, kecengan Daiki ini lebih imut nan unyuk.

"Live actionnya ngga bagus bagus amat ya, Shin-chan."

Iseng Takao membuka obrolan sambil Log in ke situsnya yang saat ini tengah ramai netizen yang mengadukan keraguan, kegundahan, maupun kegalauan.

"Tidak seperti yang kuharapkan, nanodayo."

"Memangnya kau berharap apa? Eren mengawini Rivaelle?"

Midorima tidak berucap. Ia hanya menaikkan kacamatanya. Takao pun jadi menyimpulkan bahwa Midorima penunggang kapal EreRi.

"Kopi untukmu, Takao."

Midorima yang keluar, kembali sejurus kemudian dengan membawa dua cangkir kopi yang masih mengepulkan asap.

"Woaaah! Tumben nih, Shin-chan!"

"Bukan apa apa, nanodayo. Hanya saja nanti malam kau harus menemaniku melakukan riset. Aku tidak mau Asistenku menjadi tidak fokus karena mengantuk, nodayo."

Lagi lagi Midorima menaikkan kacamatanya yang menurut Takao sudah tepat pada tempatnya. Mungkin pengganti tersipu malu ala ala shoujo manga.

"Ciiie Shin-chan! Hahahaha.. Ya Ok! Makasih yak!" Balas Takao namun tak sempat terdengar Midorima berhubung manusianya sudah keluar ruangan.

Takao mulai fokus ke layar laptopnya. Fokus ke situs yang baru saja dibukanya. Agak sedikit kaget melihat 50 postingan masuk ke situsnya. Rata rata berisi pertanyaan wajar yang jawabannya bisa Takao copy-paste dari situs lain. Namun diluar itu, ada pula yang mengirimkan artwork Midorima dalam berbagai ukuran, mulai dari chibi hingga SD alias Super Deformed.

Ada pula satu pertanyaan yang membuat rasa mengantuk Takao sirna seketika. Seseorang dengan identitas diri yang jujur sekali. Murasakibara Atsushi.

.

.

.

Mengapa harga Umaiubo dan Cheetoz naik?

Murasakibara Atsushi, 16 tahun - Yosen.

.

.

.

Belum sempat mengetik balasan saja Takao sudah mulai berpikir. Mengapa siswa dari sekolah yang terkenal kaya raya bergaya Eropa bisa bisanya mempersoalkan masalah kenaikan harga jajan? Harusnya bagi siswa yang terkenal kaya kaya, kenaikan harga Umaiubo itu terasa sesepele kenaikan harga permen Mintz.

Sambil menyeruput kopi bak sesosok jurnalis, Takao membalas pesan pesan di situsnya satu persatu. Serta menyimpan pertanyaan unik soal kenaikan harga Umaiubo untuk dijawab nanti selepas melakukan riset bersama Midorima.

.

.

.

"Atsushi, lihat! Dokter Midorima membalas pesanmu!"

"Hee.. Sini lihat.." Murasakibara malas meraih ponsel kakak kelasnya yang bernama Himuro Tatsuya. Mencermati beberapa paragraf yang tertera disana.

.

.

.

Selamat malam menjelang pagi, Adik Murasakibara.

Maaf pesan Adik baru bisa saya balas saat ini pada pukul 01.00 dini hari. Hal tersebut diakibatkan oleh aktifitas saya yang belum tuntas bersama asisten saya.

Jadi, berdasarkan diskusi saya bersama asisten saya, pertanyaan Adik disebabkan oleh beberapa perkara yang akan kita bahas pada diskusi kali ini.

Pertama karena kurs Dollar terhadap Rupiah.

Adik pasti tahu kondisi perekonomian di negara kita saat ini. Dimana perekonomian kita tengah merosot tajam, jatuh, merangkak, merayap, susah sekali move on seperti baru saja diputus kekasih pujaan hati. Dalam kondisi terpuruk, seterpuruk melihat mantan sudah menggandeng gebetan, pasti diikuti dampak harga barang pokok yang mengalami kenaikan tajam yang biasanya tidak diimbangi dengan kemampuan daya beli masyarakat.

Apakah Umaiubo termasuk? Apakah Cheetoz termasuk? Apakah Taro dan Chitato juga termasuk? Sudah pasti. Terutama soal Umaiubo dan Chhetoz. Baru baru ini saya dengar bahwa kurs Dollar terhadap Rupiah mencapai Rp. 14.045,00. Merasa tidak asing? Ya, meskipun kita bukan berasal dari kalangan yang ahli di bidang valas, namun setidaknya kita tahu bahwa angka yang barusan saya sebutkan adalah angka delivery service dari Maji Donald. Yang berarti sedikit banyak telah membuat Umaiubo cemburu, panas, kokoronya berasap hingga berujung menaikkan harga jual.

Solusi dari saya, Adik Murasakibara hendaknya mengurangi menyemil Umaiubo tiap hari. Beralihlah ke Beng Beng atau Momogi yang tidak menaikkan harga jual. Ya meskipun ukurannya agak dikurangi tapi yang penting harganya tidak menyerupai ABG labil yang selfie setiap hari.

Atau Adik Murasakibara lebih baik menyemil bakwan dari kantin sekolah saja. Lebih hemat, lebih mengenyangkan, dan lebih menyenangkan. Apalagi bakwan di kantin sekolah biasanya enak dan nikmat.

Yang kedua karena Adik Murasakibara tidak tinggal di pulau jawa.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa harga barang pokok di luar pulau Jawa memiliki perbedaan yang cukup signifikan apabila dibandingkan dengan harga barang pokok yang beredar di pulau Jawa. Bagi saya pribadi hal ini cukup tidak adil. Kokoro saya bahkan sering nyut nyutan melihat harga yang tertera pada sebuah kemasan yang menunjukkan perbedaan harga. Sebagai contoh adalah majalah Bobo. Apakah warga di pulau Jawa terlalu sering berdemo turun ke jalan hingga pemerintah mau tak mau harus menurunkan harga? Saya pikir hal tersebut masih menjadi sebuah misteri antara pemerintah dan masyarakat.

Namun jelas hal tersebut memicu kita untuk lebih berhemat dan bekerja keras. Adik Murasakibara pun sudah pasti harus berhemat. Meski Yosen punya asrama lelaki dimana sandang pangan dijamin pihak sekolah, namun hal tersebut tidak lantas membuat Adik Murasakibara boleh menjadi ladur alias laki durhaka dengan jajan sana jajan sini seenak jidat.

Saya tahu Adik tengah berpikir 'uang, uang siapa? Masalah buat lo?', ya memang hak Adik untuk jajan apapun yang Adik mau. Namun apabila sudah dikehendaki, ya jangan mengeluhkan soal kenaikan harga Umaiubo. Be gentle and just pull the sun into your heart!

Solusi dari saya, sebaiknya Adik Murasakibara segera beresi celana Adik yang masih berceceran di kamar, masukkan koper, jangan lupa bawa sikat gigi, sabun mandi, kekasih hati dan lekas bergegas menuju Kantor Dinas Transmigrasi terdekat di kota Adik untuk ikut transmigrasi kloter kedua atau ketiga menuju pulau Jawa.

Dijamin hidup Adik disana makin merdeka bin jaya dengan harga harga yang terjangkau bin ekonomis. Adik tidak perlu khawatir soal tempat bernaung karena Bibi saya membuka bisnis kos kosan Mahasiswa di sekitaran jalur pantai selatan dimana antara supir bus dan pembalap liar ala Tokyo Drift bagai tiada kasta. Tapi saya tidak sarankan Adik untuk ikut berkejaran via kendaraan, terlalu riskan.

Dan yang menjadi penyebab permasalahan terkahir adalah adanya produk pesaing.

Baru baru ini saya merewatch serial Gintama, saya menemukan fakta bahwa Katsura Zura diangkat sebagai maskot makanan ringan Nmaiubo, menemani Takasugi sebagai maskotnya Yakulk dan Kurokono Tasuke sebagai maskotnya Pokkari. Nampaknya Umaiubo yang melihat produknya dijiplak, disaingi oleh produk serupa bernama Nmaiubo pasti mau tak mau terbakar juga. Ibarat Umaiubo adalah api kecil yang menari nari dengan unyunya, maka sebut saja Nmaiubo adalah kerosin. Kerosin dan api itu klop. Cocok secocok mantan ngajak balikan.

Maka jangan heran ataupun kaget apabila Umaiubo menaikkan harga jual demi usaha menjegal produk saingan. Hal tersebut jelas masih waras dan masih wajar. Yang tidak waras adalah fans yang menolak rivalitas dan persaingan secara sah dan sehat wal afiat.

Solusi dari saya, Adik Murasakibara boleh setia namun tersakiti dan menjadi maso dengan bertahan pada Umaiubo, akan tetapi tidak najis juga mempertimbangkan move on ke Oreo atau Nmaiubo. Semua sah dan hukumnya sunah. Karena menurut spekulasi saya, jelas sekali yang namanya kesetiaan itu indah tiada duanya. Namun mencoba hal baru juga merupakan pengalaman serta pelajaran hidup yang tidak bisa diremehkan. Semuanya baik dan Adik Murasakibara boleh pilih yang mana saja selama Adik tidak merasa dirugikan.

Sesungguhnya, inti dari solusi yang saya berikan dalam diskusi kita kali ini adalah berhemat, berjuang, dan bekerja keras. Agak agak menyerupai jargon Shounen Jump. Namun memang itulah tujuan utamanya. Memotivasi kita untuk berhemat, berjuang, dan bekerja keras demi tuntutan hidup yang semakin berat dari waktu ke waktu, ya salah satunya kenaikan harga Umaiubo. Itu hanya mewakili salah satu dari sekian perkara saja. Dan seperti yang kita ketahui, di luar sana pun banyak kasus serupa yang melanda barang barang yang lebih diperlukan seperti sembako misalnya.

Menyikapi kasus seperti ini, hendaknya Adik Murasakibara bisa melihat sisi positif yang terkandung di dalamnya. Berpikir jernih dan menjadikan kenaikan harga Umaiubo serta Cheetoz sebagai pemicu semangat dalam berhemat serta mengelola pengeluaran dengan lebih bijaksana dan berhati hati.

Baiklah, saya rasa saran dari saya sudah cukup untuk Adik renungkan. Kalau begitu, sampai jumpa di lain kesempatan. Oh iya, nanti saya kirimi alamat saya kalau Adik Murasakibara ingin berterimakasih dengan mengirimkan stok Cheetoz ataupun Umaiubo untuk sebulan.

Be gentle and just pull the sun into your heart!

Salam hemat,

Midorima Shintarou.

.

.

.

"Bagaimana Atsushi?"

"Murochin.. belikan Umaiubo untukku ya.."

Murasakibara nampak memelas.

"Kau tidak belajar sesuatu dari saran Dokter Midorima?"

"Dokter Midorima bilang aku harus berhemat. Jadi, tolong ya Murochin.."

Himuro menghela nafas. Kemudian tertawa tulus ikhlas sambil menepuk puncak kepala Murasakibara.

"Nanti aku jadi pacar Murochin deh.. Tolong ya Murochin."

Senyuman tulus Himuro digantikan oleh ekspresi shock yang mencengangkan.

"Baiklah. Berapa yang kau mau?"

Lalu nampaknya benih cinta bersemi disebabkan oleh kenaikan harga Umaiubo.

*SUICCHON*

Lelaki berambut biru muda itu sungguh lah mungil nan menggemaskan. Namun siapa sangka ia pernah dicampakkan partner yang ia anggap sebagai cahayanya? Siapa sangka perjuangan mengalahkan rekan rekannya dulu terasa seberat memanjat ke dirgantara? Siapa sangka ia bisa tersenyum namun kokoronya perih melihat cahaya barunya bersama cahaya lamanya? Jelas, hidupnya keras penuh perjuangan.

*SUICCHON*

Catatan pojok :

Halo! Halo! Kembali lagi dengan Suicchon di chapter 4.

Chapter kali ini terasa asdfghjkl. Plis saya ngga tahu soal perekonomian rakyat sehingga saya meraba raba saja dalam menjawabnya XD

Lalu setelah semua member Kiseki No Sedai lengkap berkonsultasi, saya berniat membuat beberapa chapter lanjutan tapi saya macet ide. XD

/curhatdia

Boleh lhoh yang mau konsultasi ke Dokter Midorima XD nanti akan dijawab om Takao. Dengan syarat harus pertanyaan yang gokil segokil gokilnya.

/cieiklan!

Ok. Sekian dari saya.

Salam untuk kalian semua dan kapten wanita di luar sana andai kau baca.

SUICCHON.