Warning : Mengandung unsur typo, EYD (Ejaan Yang Disemrawutkan), serta OOC. Harap berhati hati apabila menemui kriteria yang sudah saya sebutkan.

*SUICCHON*

Takao suntuk!

Sesuntuk suntuknya manusia di dunia saat ini adalah Takao. Ia sungguh bosan. Pasalnya Midorima tiba tiba bertitah agar Takao menjaga apotek besutan mereka berdua yang dinamai 'Kazunari Maju Lancar', sementara dirinya tengah seminar dan outbond di kawasan pegunungan bersama rekan rekan se profesi sesama dokter. Takao ditinggal bersenang senang. Bukannya ikut senang, Takao berang bukan kepalang.

Akhirnya, dengan membawa serta segala perasaan eneg terhadap Midorima, Takao nekat menggantungkan jas putih kebesarannya lalu melenggang pergi. Para perawat bertanya kemana gerangan Takao akan melenggang. Sambil tersenyum dengan senyuman irit bagai motor matic injeksi diisi bensin premium, Takao menjawab ringan tanpa dosa dengan satu kata sejuta makna.

Mangkal.

Semata tujuannya hanya ke taman pusat kota. Dimana Takao bisa menemukan banyak hiburan disana. Seperti misalnya Takao yang selalu asyik saja menyaksikan hiburan berupa 2 preman yang saling berkejaran. Salah satunya adalah preman unik yang mengenakan setelan bartender dan mengangkat vending machine untuk dilemparkan pada mangsanya. Orang bilang dia debt collector. Namun di mata Takao tak lebih dari seorang preman.

Namun tak sesuai dugaan. Taman pusat kota tak nampak ramai seperti biasanya. Hanya ada beberapa pasang anak SMA yang memadu kasih sambil menikmati kue, beberapa lansia yang bermain catur, sepasang anak muda yang bermain basket, serta siswa SMA berambut biru muda yang duduk di spot kesukaan Takao. Nampak merenung.

"Coklat dik?" Tawar Takao sambil menyodorkan coklat Silver King Chunky Bar yang rela Takao bagi pada si bocah SMA agar bisa dinikmati bersama sambil duduk duduk ceria.

"Makasih Om, tapi saya sukanya vanilla." Tolaknya halus.

"Oh ya sudah. Kalau saya sukanya wanita."

Si bocah biru menatap Takao dengan tatapan datar. Namun Takao mengartikan tatapannya seolah berkata 'garing om'.

"Om bahagia ya sepertinya."

Takao serasa ingin berteriak 'bahagia dengkulmu?' tapi malu.

"Yah bahagia ataupun tidak, yang penting menikmati hidup dalam kondisi apapun."

"Hidup itu keras ya Om."

Anak biru itu nampak mendesah lelah. Takao jadi agak sedikit prihatin.

"Kalau kamu menganggap hidup itu keras karena dunia keras terhadapmu, maka tunjukan seberapa keras anu kamu pada dunia ini." Ucap Takao sambil mengunyah coklatnya yang entah mengapa terasa dipenuhi kacang medey.

Sementara bocah biru itu terdiam. Takao sih mengasumsikan anak itu tengah mencari salurnya antara dunia dan kata 'anu' yang sarat ambigu.

"Hidup itu seperti diperkosa dik. Kalau bisa melawan, lawanlah. Kalau tidak bisa ya nikmati saja. Tinggal kamu tipe yang mana. Kalau mau melawan ya tunjukkan seberapa keras anu kamu." Lanjut Takao ketika anak itu tak kunjung memberikan respon yang berarti.

"Sudah lah, Om. Saya tidak bicara dengan om om asing yang mesum."

Takao sweatdrop sebesar nuklir.

"Maksud Om begini, dik. Anu itu kan terdiri dari 3 huruf. Satu huruf konsonan yang diapit oleh dua huruf vokal. Masing masing huruf mewakili elemen elemen penting kalau kamu mau hidup enak. 'A' yang paling pertama dalam 'Anu' adalah Aksi."

"Maksudnya bagaimana, Om?"

Bocah biru itu nampak tertarik pada argumen Takao.

"Hidup itu harus dipenuhi aksi. Adik kalau mau menjadikan hidup ini enak pun kalau tidak mau beraksi ya sama saja bohong. Dasar dari kehidupan yang kita jalani adalah aksi. Dimana ada aksi, disitu sebuah kehidupan akan terus berlangsung. Bayangkan saja proses pembuahan tidak ada aksi, bagaimana jadinya?" Takao mencoba membuat komunikasinya menghasilkan sebuah timbal balik.

"Ya jadi tidak ada anak dikandung badan kan, Om?"

Takao menggeleng serius sekali. Menampik jawaban si anak yang sesungguhnya sudah benar adanya.

"Salah. Jadi tidak ada JAV, dik. Anyway oshi saya Tsubasa Amami."

"Oh."

Anak di samping Takao diam. Merasa obrolan ini agak percuma kalau terus berpusar pada proses pembuahan maupun bintang JAV sengetop Tsubasa Amami.

"Lanjut tidak, dik?" Tawar Takao.

"Boleh, Om."

"Ya jadi aksi itu memang penting. Berpikir juga penting, dik. Namun berpikir saja tanpa direalisasikan dengan aksi, jadinya apa? Tidak ada hasilnya juga kan?"

Anak berambut biru muda itu terdiam. Nampaknya tengah berpikir dan mencerna sesuatu. Takao melihatnya sebagai kesempatan untuk melanjutkan argumennya.

"Tapi sering sering sih kebanyakan aksi, kebanyakan gaya terus malah gagal. Ye gak?"

"Iya, Om. Kayak saya. Susah susah membuktikan ke kawan saya kalau saya lebih hebat, eh gagal juga."

"Nah kalau begitu, pakai huruf 'N', dik. Kan 'anu' masih punya dua huruf."

Anak disamping Takao mengerjapkan matanya. Kepo.

"Yang 'N' apa, Om?"

"Niat. Perkuat lagi niatmu dalam melakukan aksi. Sering kita sudah melakukan aksi namun gagal gara gara kita niatnya kurang. Istilahnya sih kurang diniati dari hati. Hasilnya sudah bisa diduga. Jadi nanggung. Meski selesai pun tidak akan sempurna."

"Iya, Om. Seringnya sih begitu. Tapi kata Om tadi, kalau aksi itu poros kehidupan, niat itu apanya?"

Takao memejamkan matanya. Nampak berpikir keras. Anak disampingnya terus menunggu. Bersiap menyimak apa yang akan jadi jawaban Takao.

"Kalau di kincir air, aksi itu kincirnya sedangkan niat itu airnya. Kalau di JAV, niat itu pelakunya sedangkan aksi itu adegan coblosannya. Bisa membayangkan?"

"Bisa, Om."

"Niat itu yang membuat segala sesuatunya akan berjalan."

Anak biru itu mendongak. Menerawang ke angkasa. Takao mengikutinya sambil mengunyah coklatnya yang tinggal beberapa gigitan saja.

"Om. Kadang kalau niatnya kurang kuat, mau melakukan aksi jadi malas ujung ujungnya hasilnya tidak maksimal."

Takao mengangguk. Sekali dua kali menjilati jari jarinya yang berlumur coklat.

"Niat itu ternyata penting banget ya Om."

"Nah itu tahu kamu dik. Bahkan beberapa orang bilang kalau melakukan sesuatu tapi tidak didasari niat sama saja percuma. Tidak mau kan kalau susah susah dijalani tapi jadi sia sia gara gara tidak niat?"

"Iya, Om. Tapi kenapa ya Om, sudah niat sudah pakai aksi tapi tetap saja gagal?" Desahan berat bak meratap terdengar berasal dari manusia yang duduk di samping Takao.

"Ya jadi begini dik. Yang tadi Om bilang kan tunjukkan seberapa keras 'anu' kamu. Makanya kamu harus keras dalam aksi, keras dalam niat juga. Kalau dua huruf itu tidak berjalan sesuai apa yang kamu rencanakan, setidaknya kan masih ada satu huruf tersisa."

"'U' kan, Om?"

"Ya."

Takao menghadapkan tubuhnya ke anak yang duduk disampingnya. Fokus memberikan wejangan terakhir pada si anak yang galau soal kehidupan.

"Ya. 'U' mewakili upaya maupun usaha. Karena merupakan alfabet terakhir dan sebagai final, maka huruf 'U' ini harus kamu jalankan dengan benar benar maksimal. Ada kalanya hal hal yang kita perjuangkan tidak berjalan mulus. Ya gagal lah, ya malas melanjutkan lah, banyak kendala bisa juga. Namun itu semua dikarenakan faktor 'anu' tanpa huruf 'u'. Tidak sempurna. Nah terutama keinginan yang butuh usaha keras biasanya yang cepat gagal atau malah berkali kali tidak berhasil. Lha yang gampang gampang kayak bikin anak aja nggak bisa sekali coba, apa lagi yang levelnya seberat otaku henshin jadi riajuu?"

Anak itu lagi lagi terdiam. Setuju dengan argumen Takao.

"Saya kira usaha ini lebih seperti faktor kunci keberhasilan dalam hidup enak."

Bocah biru itu menambahkan penalarannya. Takao mengangguk mantap.

"Benar. Memang upaya itu kuncinya. Tapi kalau kunci saja tanpa ada pintu, kamu mau membuka apaan? Pintu itu bukan rok waifu, dik. Butuh kunci untuk dibuka, bukannya butuh angin untuk menerbangkan agar bisa diintip pantsunya. Kamu butuh kunci, tapi juga ciptakan dulu pintumu agar bisa kamu buka dan masuk ke ruangan dimana disana ada hidup enak menanti."

Takao membenarkan posisi duduknya menjadi menyender ke kursi taman sambil menerawang ke angkasa. Mengingat serta mawas diri terhadap kehidupannya selama ini yang mana terbilang biasa biasa saja. Takutnya ia sok sokan bijaksana memberikan wejangan pada ABG yang galau soal jati diri, namun ia sendiri tidak mengaplikasikannya dalam kehidupan.

"Kalau masih gagal bagaimana, Om?"

"Ya tetap berusaha. Keraskan lagi anu kamu. Lebih keras dan lebih keras lagi. Biar nanti gampang masuknya."

Anak yang ikut ikutan bersandar itu tidak tersenyum maupun berekspresi apapun. Takao sedikit curiga jangan jangan bocah disampingnya ini disfungsi emosi atau bagaimana.

"Saya kira situ cuma om om madesu yang mesum. Ternyata Om cukup bijak juga ya."

Takao menyeringai songong. Ah. Sudah ia duga ia memang tampan dan bijaksana.

"Ya, Om kan memang bijak bawaan lahir, dik. Jarang lho menemukan orang seperti om ini."

Hening.

"Om."

"Ya, dik?"

"Om sudah menunjukkan pada dunia seberapa keras anu om?"

Takao hampir saja tersedak ludahnya sendiri saat ditanyai pertanyaan se blak blakan tadi. Takao mau menjawab apa?! Seberapa keras 'anu'-nya kan hanya ia tunjukkan pada Midorima, bukan kepada dunia.

"Ehm."

Berdehem dulu lah. Agar canggungnya sedikit hilang.

"Errrr.. sepertinya tadi om bilang bahwa ada 2 tipe manusia di dunia ini. Yang menikmati saat diperkosa dan yang melawan saat diperkosa. Om itu tipe yang pertama, dik. Dulu sih sudah menunjukkan 'anu' tapi seiring waktu om berubah jadi tipe yang lebih menikati saat diperkosa."

Takao canggung gila. Tangannya menggaruk garuk rambut padahal tidak gatal.

"Om maso?"

Lagi lagi bocah itu bertanya blak blakan.

"He? Y-ya.. ya gitu deh."

Lalu keduanya terdiam. Memandang langit yang mulai berwarna lembayung senja. Obrolan keduanya nampak berhenti di sana.

"Om lihat dua orang yang one on one di sebelah sana?"

Takao mengikuti arah yang ditunjuk bocah itu. Ada 2 orang anak muda yang saling one on one di lapangan basket di pinggir taman. Takao sampai hafal sekali siapa mereka. Itu si Daiki dan kecengannya.

"Kenapa?"

"Itu hasil kegagalan 'anu' saya yang tidak keras, Om."

Iseng Takao memalingkan pandangan dari arah lapangan di mana mereka one on one ke bocah di sampingnya. Anak itu memandang dua lelaki yang saling berkejaran dengan tatapan sendu yang luar biasa. Daripada dibilang sendu, lebih cocok dikatakan nestapa dan merana.

Takao langsung tanggap. Rupanya pernah ada jalinan cinta antar pria bermotifkan bangun segitiga diantara mereka.

"Mereka pasti punya 'anu' yang lebih keras dari 'anu' kamu, dik." Takao membalas sembari mengingat ingat ia pernah tahu bagaimana kisah keduanya sebelum bersama.

"Ya, Om. Sekarang sih saya sudah ikhlas. 'Anu' saya tidak ada apa apanya dibanding mereka."

Lalu hening lagi.

"Om."

"Hah?"

"Om suka es krim?"

"Suka. Rasa stroberi apalagi."

Anak itu bangkit. Meninggalkan Takao bersama langit yang sudah berubah gelap. Takao suntuk lagi. Dalam jangkauan matanya hanya ada sepasang lelaki yang sibuk one on one, dan lelaki pirang yang nampak seperti orang hilang namun auranya cemerlang.

Angin malam berhembus pelan. Dingin terasa menyentuh kulit Takao yang hanya berbalut kaos bertuliskan 'Oppai is Justice' berwarna oranye.

Rencananya malam ini ia tidak akan kembali ke klinik maupun ke rumah sakit. Apalagi ke apotek. Malas lah pokoknya. Lagipula kan tidak ada Midorima. Tidak ada Midorima sama saja hampa. Ya syudah lah. Main gaple saja bersama Otsubo atau duel Yu-Gi bersama Miyaji. Cupu cupu begitu Takao itu duelis lho. Decknya saja sampai dinamai karakter favorit.

"Om."

"Hah? Eh! Bangke! Jangan bikin kaget dong, dik."

"Saya dari tadi sudah disini, Om."

Takao jelas kaget sekali tiba tiba ada bocah biru yang sudah duduk di sampingnya. Tangannya masing masing membawa cone es krim Cornetto.

"Om yang stroberi."

"Wew. Makasih ya dik."

"Justru saya yang berterimakasih, Om."

Baru sekali itu. Sekali itu Takao melihat bocah biru itu tersenyum. Manis dan menyejukkan.

Dari kejauhan lelaki pirang yang Takao sangka orang hilang tadi berlari tergopoh gopoh mendatangi mereka berdua sambil memanggil 'Kurokocchi'. Hingga kemudian bocah biru yang dipanggil 'Kurokocchi' ini dipeluk. Erat, erat sekali sepertinya. Ah, satu lagi lelaki yang terindikasi homo.

"Lepas, Kise-kun."

"Sudah sore ssu. Ayo pulang."

"Nanti. Es krimku belum habis."

Takao tersenyum dalam hati. Anak ini meskipun gagal dalam meraih cinta, hidupnya pun keras, setidaknya ada orang yang tulus menyukainya. Takao bisa lihat itu dari pancaran matanya.

Dibanding Takao. Takao tidak ada apa apanya. Cintanya pada Midorima saja tidak bisa bertepuk tangan. Apalagi sampai tulus ikhlas dicintai Midorima. Mustahil semustahil Seo Yuzuki berubah jadi sefeminim dewi.

"Takao."

Merasa dipanggil, Takao menoleh semangat sekali. Dari suaranya sepertinya orang yang familiar.

Benar. Ada Midorima disana. Di kejauhan sedang berjalan ke arahnya sambil menenteng jas kebesaran profesi mereka yang berwarna putih.

"Shin-chan!"

"Ayo kembali, Takao." Ajak Midorima sambil menyodorkan jas lab ke Takao.

"Ahahahah.. Aku tunggu lama banget lho, Shin-chan!"

"Memangnya aku mau menjemputmu? Jangan pede, nanodayo."

Takao lagi lagi tertawa.

Ia pakai jasnya setelah menghabiskan cone es krimnya bak anak SD. Keduanya pergi dari sana setelah Takao pamit pada si anak biru dan mengucapkan terimakasih sudah mau menemani Takao mengobrol serta es krim stroberinya.

"Kurokocchi kenal dia?"

"Tidak. Tapi tadi yang berkacamata memanggilnya 'Takao'".

"Kukira namanya Midorima shintarou ssu. Jas labnya tadi tertulis 'Midorima Shintarou' ssu."

Mereka berdua terdiam. Fokus pada punggung kedua orang yang perlahan hilang di kegelapan malam.

"Terlihat seperti om om yang bahagia ssu."

Anak yang dipanggil 'Kurokocchi' itu tersenyum. Lebih lebar dan lebih tulus ikhlas dari senyuman yang sebelumnya.

"Ya. Dia memang om om yang bahagia, Kise-kun..."

*SUICCHON*

"Kenapa ya aku sering dibilang cantik?"

Namanya Kise. Model yang digadang gadang fansnya segudang.

*SUICCHON*

Catatan pojok :

Wow. Ngga nyangka udah sampai ke chapter 5. Padahal kemarin bawaanya males melulu mau bikin chapter 5. XD

Di chapter kali ini sih saya mengubah format konsultasinya menjadi konsultasi langsung. Perbedaannya besar kah? O.o ah yang penting Om Takao tetap membagi kebijaksanaannya lah. XD

Jugaaaa terimakasih banyaaak pada Shiznami, Kayuyu, Kim Victoria, Maccaron Waffle, Maichiro Yuu, serta semua guest yang sudah bersedia curhat ke Om Takao dan rela curhatannya dipakai sebagai ide chapter selanjutnya.

/woiwoi

Masih Open P.O!

/dikiralapak?

Masih buka jasa lho. Om Takao siap menjawab pertanyaan yang masuk. Dengan syarat pertanyaan harus gokil segokil gokilnya. Tidak melayani pertanyaan selevel 'bagaimana cara berhenti merokok?' Serta 'bagaimana membuat telur rebus?' XD

Oke.

Salam untuk kalian semua dan kapten wanita di seberang sana kalau kau baca.

SUICCHON