Warning : Mengandung unsur OOC, Typo, garing, dan segala siluman dunia perfanfiksian.
*SUICCHON*
LAYANAN KONSULTASI DOKTER MIDORIMA - PENGAKUAN
Takao ingat betul.
Semasa ia SMA, acara Dokter Oz itu dibawakan oleh pria tampan dengan bintang tamu tak kalah menawan. Bahasannya seputar kesehatan fisik dan penyakit penyakit yang menyertainya serta penawarnya bisa didapat dimana. Waktu itu tayangan Dokter OZ tidak tinggi ratingnya di kalangan anak anak muda seperti Takao. Entah menurut Takao letak menariknya dimana, akan tetapi anak anak remaja pada masanya nonton GGS. Ganteng Ganteng Semriwing. Kalau tidak nonton bakal dibully tidak kekinian. Persetan lah dengan kekinian kekinian. Takao tak suka. Takao sukanya jelas bermain Point Blank atau Counter Strike di warnet dekat sekolahnya.
Itu dulu.
Sejam yang lalu acara Dokter Oz dengan format terbaru sudah tayang. Pangsa pasarnya ditujukan untuk umum. Yang jadi pertanyaan, mengapa pemirsanya ibu ibu dan remaja wanita? Simpan saja rasa penasaran mengenai keberadaan lightstick hijau yang dilambai lambaikan sembari teriakan yel yel menggelegar bagai halilintar yang memenuhi studio. Itu teriakan Fangirls. Fans yang menamai diri Midorimaniac akan mulai bergoyang geyal geyol kesana kemari sambil ngechant sembari pembawa acaranya keluar.
Itu Dokter Oz yang tayang sekarang.
Dokter Oz format terbaru juga merupakan tayangan favorit Takao yang sudah sebulan ini menjadi seorang Madesu, maji desu. Ia dipecat dari profesinya sebagai asisten dokter. Ia tak berpekerjaan, tak berkegiatan, dan tak berpenghasilan. Mau dijuluki apa kalau bukan Om Om Madesu level pro? Maka, untuk mengisi kegiatannya yang cumaa itu itu saja, ia sempatkan nonton Dokter Oz. Yang mana pembawa acaranya adalah Dokter muda kece badai berambut hijau dan berkacamata.
Itu dokter yang selalu membuat Takao baper setiap kali ia muncul di layar kaca dalam iklan sosis yang berjargon 'Dokter Makan So nice', iklan shampoo anti ketombe maupun iklan BPJS kesehatan. Ia juga muncul dalam serial 'Tujuh Manusia Cyborg' dan sebagai pembawa acara Dokter Oz. Saking seringnya muncul dimana mana, maka sering pula Takao dibuat baper. Tiap si dokter menampakkan diri, Takao selalu makan banyak nasi. Namun kenyataan menampar Takao kejam. Ia baper dan bukannya laper.
Dokter hijau itu pulalah yang merenggut pekerjaan Takao. Memecatnya, mempurnatugaskan Takao secara sepihak. Takao sama sekali tidak diajak berkongsi terlebih dahulu. Ya syudah lah, Takao pasrah. Ia bisa apa? Bagaimanapun dokter berkacamata itu lebih berhak atas segalanya. Apa lah daya Takao yang hanya asisten? Yang hanya kawan seperjuangan semasa SMA?
Yang namanya nasi sudah menjadi bubur ya mau bagaimana lagi? Ia menanak nasi dengan terlalu banyak air. Terlalu dingin, terlalu lembek. Ibarat nasibnya adalah nasi, maka nasibnya saat ini sedang hancur. Ya andaikata jarum jam itu bisa diputar balik dan menimbulkan efek terhadap waktu yang berlalu, Takao ikhlas memutar jarum jam hingga tangannya patah untuk bisa mengembalikan waktu.
Kalau disingkat menjadi 2 kata hasilnya adalah Takao menyesal.
.
.
.
"Takao kita perlu bicara."
Midorima sore itu datang ke klinik. Takao sedang sendirian dan bermalas malasan nonton Dragon Ball ketika si pemilik klinik datang. Kebetulan sore itu adalah episodenya saat Krilin berpulang ke haribaan. Takao ikut bersedih meski poin Takao untuk ikut bersedih tidak mutu sekali.
"Ada apa, Shin-"
Belum selesai Takao menuntaskan pertanyaannya, ditariklah tangan kecil itu dari depan tv. Menuju ruang periksa pasien.
Takao tidak dapat poinnya ketika Midorima tiba tiba mengganas parasnya dengan tangan menggenggam tangan Takao keras. Ekspresinya tidak tergambarkan.
"Jelaskan, nanodayo." Perintah Midorima sambil menunjukkan ponsel androidnya yang menunjukkan header suatu situs bertuliskan 'Layanan Konsultasi Dokter Midorima'. Nada bicaranya melambat 2 ketukan dengan penekanan tanpa teknik falsetto.
Rasa rasanya Takao ingin menyusul Krilin saat itu juga. Lebih baik berpulang ke haribaan lebih cepat daripada harus dimintai pertanggungjawaban, ditanyai atas ulah sok oke sok kecenya Takao. Beneran, Takao ingin mati saja.
"Ehm. Shin-chan, sudah berapa kali kau membuka internet minggu ini? Kalau lebih dari dua kali nanti ketiban sial lho. Heheheh.. hhahhahah." Garing sekali Takao tertawanya.
Midorima tidak ikut tertawa karena jelas baginya tidak ada yang lucu. Ia menatap Takao dengan tatapan yang sinisnsya dahsyat meluap luap. Midorima tengah menunut jawaban, meminta pertanggungjawaban.
"Maaf ya, Shin-chan."
"Aku bukan butuh maafmu, nanodayo. Aku butuh penjelasanmu."
Hening.
"Aku tidak tau mau mulai dari mana."
Takao duduk di ranjang pasien yang fungsinya sudah beralih menjadi tempat dudukan Takao. Takao niatnya menyamankan diri dahulu. Siap tahu nanti ada seesuatu yang tidak diinginkan. Firasat Takao dari tadi agak tidak enak. Kayak ada pahit pahitnya bagai iklan le mineral.
"Aku cuma iseng saja kok, Shin-chan."
"Jadi maksudmu menjelek-jelekkanku di dunia maya itu iseng? Memakai namaku untuk kesenanganmu itu iseng? Keisenganmu itu keluar batas, nanodayo."
"Bukan maksudku begitu.."
Takao menghela nafas lelah dan merasa serba salah.
"Shin-chan, aku minta maaf. Maaf aku sudah keterlaluan. Maaf aku usil melebihi apa yang biasa aku lakukan terhadapmu."
"TAPI BUKAN BEGINI CARANYA, TAKAO!"
Takao saat ini berumur 30 tahun dan midorima hanya terpaut beberapa bulan dari umurnya. Namun selama 30 hidup dan 15 tahun menjalin kisah susah dengan Midorima, baru kali ini ia melihat Midorima seberang itu. Baru kali ini Midorima berteriak dengan suara menggelegar. Terlebih itu ditujukan padanya dan sukses menabrak dan menendang kokoronya bengis.
Takao tidak bisa bohong karena ia masih ingat dosa, ia tidak bisa bohong bahwa nyalinya menciut melihat metamorfosis Midorima di hadapannya ini. Midorima yang biasa ia kenal tsundere sekarang nampak siap tempur dan nampak sudah dewasa. Ya, Takao selalu menganggap Midorima kekanak-kanakkan oleh sifat tsunderenya yang makin kumat dari musim ke musim. Takao takut, sungguh.
Perkara takutnya Takao bukan ditimbulkan oleh kemarahan Mdorima. Ia hanya takut membayangkan prospek hubungannya dengan Midorima kedepannya. Ia sering susah mengkode garis keras, namun Midorima tidak mungkin tidak mengabaikannya. Khawatirnya Takao nantinya ia akan jauh dari Midorima karena perkara seperti ini. Jujur, ia tidak siap berada dalam radius tidak terhitung dari Midorima. Ia sungguh tidak siap.
"Takao, aku percaya padamu selama ini. Sekalipun aku tak pernah meragukanmu, nanodayo. Aku tak percaya kau melakukan hal seperti ini padaku."
"Shin-chan.."
"Aku tidak mengerti Takao."
Takao hening. Diam seribu bahasa sejuta kata.
Takao menghela nafas sebelum bersiap bertaruh hidup dan mati.
"Karena aku ingin sepertimu, Shin-chan. Kau berguna bagi semuanya. Kau bisa menolong semua orang, yang hampir mati sekalipun. Kau selamatkan hidup mereka. Kau bisa apa saja. Kadang aku merasa kalau kamu terlalu jauh untuk bisa kujangkau. Langkahmu terlalu lebar untuk aku bisa jalan bareng sejajar sama kamu. Aku pun enggak mau buat kamu nunggu aku yang hanya butiran tablet yang kamu gerus habis habisan. Aku bisanya apa? Hanya menyumpal mereka dengan kata kata penyemangat untuk tetap hidup. Untuk tetap sehat.
Kalau kamu nanya kenapa, ya karena aku suka. Aku suka dengan hal seperti ini. Paling enggak aku bisa sedikit berguna dengan berbagi cerita ke orang orang. Coba ada berapa banyak orang yang ingin ceritanya didengar? Berapa banyak yang bermasalah sedang mencari solusi? Tak terhitung lho. Shin-chan. Bahkan yang bukan orang sakit sekalipun, pasti punya masalah.
Untuk itu Shin-chan, biarpun aku ngga banyak berguna kayak kamu, aku ingin berguna bagi orang orang. Ingin membuat mereka paling tidak tersenyum dan sejenak menertawakan masalah mereka sendiri. Karena ketika seseorang bisa menertawakan masalahnya sendiri, berarti dia cukup kuat untuk menghadapi masalah yang sedang mereka hadapi. Cobaan itu bagian dari kehidupan. Ketika seseorang menganggap bagian hidupnya sebagai kawan, ia akan melalui semuanya dengan mudah.
Aku ingin berguna untuk orang lain dengan caraku sendiri. Aku ingin bikin orang orang tersenyum dan menyadari bahwa hidup mereka terlalu berharga buat diratapi dan membuat mereka sadar bahwa banyak hal lucu dalam kehidupan ini. Aku maunya aku ada untuk mereka yang ingin didengar, diperhatikaan, atau sekedar berbagi cerita.
Untuk itulah tujuanku, Shin-chan. Aku minta maaf kalau aku sudah keluar batas."
Midorima jatuh terduduk di kursinya. Pelipisnya dipijat pijat puyeng. Ia stress merasakan tingkah laku Takao yang kadng keluar nalar lelaki normal. Ia bukannya capek, Midorima hanya merasa berada dalam kondisi sulit.
"Shin-chan.. maaf ya. Kamu ngambek ya?"
"Jangan bicara padaku, Takao."
Takao jelas merasa bersalah sekaligus salah tingkah. Ingin minta maaf tapi Midorima sudah memblokir protokol utama penghubung komunikasi mereka berdua. Takao hanya berpikir Midorima mendadak menjadi om om plin plan, tadi minta penjelasan sekarang menolak diajak berbicara.
Kalau diibaratkan Takao seperti dipaksa memakan buah simalakama. Kalau dimakan, Titan akan menghancurkan 3 dinding suci. Kalau tidak dimakan, 3 dinding suci akan dihancurkan titan. Sama buruknya. Ya, karena buah simalakama sesungguhnya adalah kalimat aktif dan pasif untuk mendeskripsikan kondisi krusial.
"Takao, kenapa haarus namaku, nanodayo."
"Karena kau Midorima Shintarou."
Tangan yang usil menggerayangi pelipis itu berhenti bergerak.
"Maksudmu?"
"Ya karena kamu Midorima Shintarou. Yang bisa meyakinkan orang orang bahkan ketika kamu tidak berbicara sekalipun.'
Midorima tersentak. Sebegitu iri kah Takao padanya? Begitukah pandangan Takao terhadapnya?
Midorima tanpa sepatah kata pun bangkit. Takao mengikuti berdiri. Ketika si pria hijau menarik gagang pintu , Takao menarik sebelah tangan Midorima. Siklusnya begitu, saling berkesinambungan bagai siklus bulanan wanita.
"Shin-chan! Aku…." Kata kata Takao tidak selesai karena Midorima sudah menatapnya sinis.
"katakan pada hakim, nanodayo."
Bangke. Midorima dengan kejamnya berniat menyeret kasus keusilan Takao ke meja hijau. Dengan tuduhan pencemaran nama baik seperti yang sering Takao tonton di infotaiment selebriti. Tak menyangka saja ia dapat giliran main permainan yang sejenis. Takao berpikir sebaiknya ia segera mencari jampi jampi atau pelet agar Midorima mengawininya dan bukannya menuntutnya. Tapi nampaknya yang Takao perlukan adalah pertobatan, pengakuan dosa berhubung dosanya sudah tumpah dan meluber kemana mana.
Takao ambruk di ranjang pasien. Mempuk puk bantal bersarung putuih sambil tersenyum nyalang. Sedih dan kesalnya bukan main. Dongkol sudah memenuhi relung hatinya. Mentok sudah otaknya difungsikan. Ia sudah tidak ada ide lagi untuk meneruskan semua ini. Sebaiknya pasrah saja.
Sementara Midorima yang sedang kesal di luar sana mulai bersikap ambigu. Kemejanya ia lepas beberapa kancing, lengan kemejanya mulai ia lipat sebatas siku hingga menampakkan jam rolex hasil kreditan dari rekan kerjanya yang namanya hampir mirip. Midori. Bedanya kalau Midorima pintar menembakkan bola, kalau Midori pintar menembak dengan senapan mainan. Kacamatanya pun ia lepas sementara ia mengusap usah kelopak matanya. Pusing dan pening.
Namun takdir tidak bisa diajak nongkrong di warnet, tidak bisa diajak kong kalikong. Maka, ketika tiba seorang model berambut kuning alay dan lebay, Midorima menjadi sangat terkejut. Situasinya sedang tidak cocok untuk ia bekerja saat ini. Apalagi menurut pandangannya yang tak berkacamata, model tersebut adalah Kise Ryouta. Si model androgini penggaet semua kalangan. Cantik diantara para batangan, tampan diantara pemelihara lobang.
"Hai. Dokter Midorima ya? Boleh ngobrol sebentar, ssu?"
Midorima mulai merasa tidak enak. Perasaannya bagai digonjang ganjingkan bumi. Sangat tidak enak.
"Mari masuk kalau mau periksa, nanodayo."
"Oh tidak perlu, ssu. Saya bawa kru. Nanti memenuhi tempat kalau masuk. Takut pasien situ terganggu, ssu."
Rupanya lelaki ini datang bukan untuk mengeluhkan gejala gejala tidak bugar pada tubuhnya. Namun Midorima tau lelaki ini akan mengeluhkan gejala gejala epilepsi pada bidang profesinya. Buktinya, buat apa seorang model mendatangi dokter kalau bukan minta diperiksa? Bawa kru lagi. Mungkin sebaiknya Midorima mulai bereksyen sok sok galak sambil berkata 'Ini apa apaan ada kamera?' lalu menoyor kameranya satu persatu.
"Silahkan duduk di depan kalau begitu." Ujar Midorima mempersilahkan sementara kamera kamera menyorot wajah rupawannya.
"Jadi, ada perlu apa?"
Model pirang itu tersenyum. Mengeluarkan sebuah lembaran penting yang bahkan sampai dilaminating segala. Sebuah surat dokter berketarangan hamil.
"Berkaitan dengan surat ini….."
.
.
.
"Shin-chan. Aku minta maaf!"
Takao saat itu duduk di sofa berwarna hijau. Berhadapan dengan Midorima yang tengah mengelus elus bantal kodok arna hijau yang disarankan Oha Asa untuk Midorima bawa kemana mana berhubung nanti malam adalah malam jumat yang cukup kritis untuk para penyandang cancer.
"Ya, nanodayo."
Tanggapan Midorima selalu dingin. Takao masih belum bisa mencerna apakah Midorima memaafkannya atau tidak. Karena seperti kata pepatah, dalamnya lautan bisa diukur, dalamnya perasaan manusia hanya Tuhan yang tau.
Takao hampir setiap hari meminta maaf pada Midorima. Meskipun Midorima mengacuhkannya, ia tetap pantang mundur. Tabu baginya kalau meminta maaf belum dimaafkan. Takao rela menyiksa diri yang penting dimaafkan Midorima. Ya, Takao memang maso kok.
"Kamu memaafkanku?"
"Ya, nanodayo."
Jawaban Midorima lagi lagi sama. Takao sudah mulai malas bertanya sejujurnya. Namun ya daripada tidak ngobrol, takut nanti atmosfirnya jadi berat kalau ia tak memulai obrolan. Berhubung Takao ini sudah hapal betul tabiat Midorima yang tidak akan memulai obrolan kalau tidak benar benar darurat medey medey.
"Jadi aku boleh bekerja lagi?"
Midorima sudah mau angkat bicara ketika ponselnya yang berkaret kondom hijau berdering nyaring memecah hening. Telepon dari agensi. Katanya ada pemotretan bersama model kawakan Kise Ryota. Midorima agak malas begitu tau siapa partner sesi fotografinya kali ini.
Ya. Model pirang Kise Ryota yang dari awal pertemuan mereka sudah sering berbuat ulah. Mulai dari memaksa Midorima menjadi partner talkshow Hitam Putih hingga seenak jidat mengusulkan Midorima sebagai host acara Dokter Oz.
Agensi cukup jeli melihat kelebihan Midorima yang sangat kalem itu. Serta cukup bisa melihat kerupawanan Midorima untuk dijual di layar kaca. Semua tak lepas dari usul dan pengaruh Kise Ryota yang sudah menjadi model disegani meski masih berusia belia.
Namun yang saat itu Midorima takuti hingga menyetujui semua permintaaan Kise bukan soal ancaman Kise untuk membeberkan rahasia bahwa ada orang lain di balik situs Layanan Konsultasi Dokter Midorima, bukan pula soal paksaan Kise agar Midorima membintangi talkshow Dokter Oz Indonesia.
"Shin-chan.. Bagaimana? Aku dimaafkan? Aku masih boleh bekerja tidak ya?"
Midorima bangkit. Melangkah tenang menuju pintu.
"Apa memintamu untuk menjadi dokter pribadiku dan tinggal bersamaku belum menjawab segala pertanyaanmu, nanodayo?"
Midorima benar benar menghilang dibalik pintu. Tersenyum saat Takao tidak melihat. Apalagi yang lebih bahagia selain menyanding Takao selamanya? Menjadi dokter pribadinya selamanya? Karena jelas yang Midorima takutkan hanyalah kehilangan Takao. Ia akan pertahankan Takao selamanya, termasuk dari si model pirang yang akan mengambil Takao jika rencananya tidak berhasil.
Takao sendiri dan sedang kesal setengah mati.
Namun lama lama Takao tersenyum juga. Sudah menemukan jawaban kegundahannya selama ini. Ia tak perlu khawatir lagi soal Midorima. Karena Takao yakin. Ketika hari kemarin adalah pelajaran untuknya, hari ini adalah ujian dalam kehidupannya, akan tetap remidi menanti di hari esok. Ya, Tuhan tidak tidur dan Tuhan selalu memberi kesempatan.
.
.
.
*SUICCHON*
Catatan Pojok :
Hehe. Hai.
Maaf kalau sudah mem-php kalian para reader yang mau baca fic saya XD
Sampai di chapter 7. Chapter final yang saya sendiri baper ketika mau update ._.
Saya hanya ingin mengucapkan terimakasih banyak sudah menemani saya hingga chapter 7. Sudah ikut menyumbangkan pemikiran. Jujur saja, membaca konsultasi kalian yang via pm maupun kolom review membuat saya selalu bersemangat dan merasa selalu didukung. Banyak dari kalian yang turut mencerahkan pemikiran saya saat saya ternyata sedang WB. (terutama pas chapter 7 ini)
Dan saya menjadi bersemangat lagi ketika membuka pm dan masih banyak yang mau curhat ke dokter gadungan seperti om Takao. Dan yang paling membuat saya terharu adalah pm yang menanyakan LKDM kapan mau di update. X'D Terimakasih semuanya! Terimakasih banyak!
Kalau begitu, sampai jumpa di fic saya yang lainnya.
Jangan lupa bubuhkan review ya
.
Salam untuk kalian semua dan kapten wanita di seberang pulau sana.
SUICCHON.
