Warning : mengandung unsur OOT, EYD (Ejaan yang Dimawut mawutkan), serta siluman perfanfiksian lainnya.
SUICCHON
"LAYANAN KONSULTASI OM TAKAO"
.
.
.
Midorima sudah jadi aktor papan atas, makanya sering songong sekarang. Takao sih bisanya cuma membatin betapa eneg dirinya terhadap Midorima. Mentang mentang terkenal dan berduid bukan berarti ia bebas mengurung Takao dan meminta Takao sebagai dokter pribadinya. Ia kan juga mantan dokter. Masa iya dokter butuh dokter? Apakah dokter tidak bisa mengobati dirinya sendiri? Sudah lah. Takao pusing dan ngadat otaknya kalau dipakai berpikir keras. Lebih keras sedikit saja bukan cuma otaknya yang ngadat, namun mulutnya akan mulai berbuih. Ia sakaw.
Midorima semalam beralibi sakit pinggang. Takao kira Midorima mulai encok berhubung profesinya saat ini memaksa tubuhnya untuk bergerak kesana kemari. Terutama saat ia syuting serial '7 manusia cyborg'. Raganya dipaksa menantang bahaya. Tanpa stuntman. Takao pikir Midorima mulai mengikuti jejak kegregetan om maddog. Ah tapi Takao tak ingin suudzon dulu.
Berkat sakit pinggangnya Midorima semalam, pagi ini Takao terkapar di sofa ruang tengah. Habis habisan dimodusi Midorima semalaman. Katanya sakit pinggang, tapi sakit pinggang mana yang bisa sembuh hanya dengan meminta obat via elusan tangan saja? Modus bukan? Ya. Takao terkapar seusai praktek dokter dokteran. Kata Midorima ia ingin berada di ruang nostalgia. Nostalgia dari zimbabwe apa? Malah ia yang menjadi pasien dan bukannya Midorima. Takao bahkan sempat yakin semalam Midorima mendadak terserang epilepsi lantaran gerakan gerakan sarat maknanya mengundang petaka.
Pagi ini Takao bangun dengan wajahnya tertutup koran sindo sementara kepalanya berbantalkan majalah trubus. Sakit kokoronya diperlakukan demikian. Mentang mentang sesungguhnya ia maso bukan berarti Midorima bebas memperlakukannya bak kucing kesepian butuh dekapan si tuan. Tangannya meraih koran yaang baru terbit itu dan melirik berita apa yang menjadi fokus utama koran itu.
'Seluk Beluk Percintaan Sasuke dan Sakura yang Mengharukan.'
'Mitologi Bocah Loli.'
'Pahlawan Sekali Hantam'
Ah. Tema yang sangat mainstream sekali. Takao sampai bosan tiap hari baca koran isinya itu itu saja. Ia tidak peduli soal kisah cinta dalam pertempuran ninja. Ia tidak peduli juga soal rekomendasi anime loli loli. Lagipula ia kan tidak demen pada loli. Beralih pada majalah trubus, yang ia temukan hanya artikel mengungkap rahasia sukses dibalik Boku No Pico live action. Mungkin seharusnya ia beli majalah gaul atau BL! Boys Live saja yang ada bahasan soal husbandonya.
Masih setengah malas, Takao bangkit dan memakai kembali busananya sebelum mencuci muka untuk kemudian ia pergi. Jalan jalan pagi mencari angin. Siapa tahu ketemu cyborg tampan berambut pirang. Atau kalau beruntung ia bisa jogging bareng. Sambil mengobrol soal kemungkinan meciptakan blasteran produk lokal dengan gen robot.
Yang sayangnya langkahnya bukannya mengarah ke taman dimana banyak pemuda pemuda kece berotot bisep trisep subur sedang berolah raga. Namun ke mall terdekat. Ke Timezone. Wahana permainan anak anak kekinian. Wahana pelampiasan otaku jones. Masih sepi berhubung mall tersebut baru saja dibuka. Hanya ada sepasang pemuda yang bertanding mini basket.
Ah lagi lagi itu Daiki yang pernah mengiriminya keluhan virtual. Bersama pasangannya yang berambut merah. Takao berdiri di permainan sampingnya. Bermain UFO catcher. Sambil sesekali mengawasi bagaimana tangan kekar Daiki ini menyentuh nyentuh pinggang si merah.
Si merah nampak geli sebelum akhirnya melarikan diri ke toilet. Yang sialnya Takao mendadak merasa makan malam cumi asam pedasnya semalam serasa akan mendobrak keluar dari jalur pencernaanya. Makanya ia mengekor bak stalker di belakang si merah.
"Ahomine kefred!"
Takao iseng menengok manusia di sampingnya yang mengumpat kesal.
"Kenapa dik?"
Si merah itu menoleh sebelum menjawab sambil memasuki bilik kamar mandi.
"Depresi kak."
Takao ikut masuk ke bilik kamar mandi sebelahnya.
"Wah anak muda bisa depresi juga rupanya. Hahahah.."
Anak disebelahnya tidak menyahut. Melainkan terdengar suara zipper yang dibuka. Zipper celana jeans, berhubung bocah yang bersangkutan sudah menahan HIV. Hasrat ingin Vivis.
"Iya kak. Soalnya pacar saya ini bikin keki."
Polos sekali bocah ini. Pedhe saja ia curhat pada orang tak dikenal macam Takao.
"Hmmm…."
Seperempatnya Takao mendesah, seperempatnya lagi berjuang 'mengeluarkan alien dari pemerintahan'. Sementara tersisa setengah ia gunakan untuk berpikir. Susah juga berpikir sambil 'mengusir alien dari bakufu'.
"Pacarmu yang biru tadi ya?"
Suara suara ambigu menyahut dari bilik sebelahnya sebagai jawaban. Takao mendadak keki.
"Ahh.. iya kak."
Seperempatmya si bocah mendesah lega, seperempatnya mendesah pasrah, setengahnya lagi mendesah galau. Sedih rasanya harus bergalau di ruangan pembuangan limbah manusia.
"Hooohhh."
Itu bukan desahan melainkan suara Takao yang sedang berusaha 'mengusir amanto dari bakufu' yang sok sokan disamarkan dengan gumaman maklum bin faham.
"Jangan jangan pacar saya enggak mencintai saya secara tulus kak."
Loh. Polosnya anak ini kebangetan deh. Ibarat pengendara motor, anak ini ikhlas ditilang dan didenda di tempat meski penilangan tidak sesuai prosedur. Alias illegal.
"Ya siapa suruh kamu pacaran ama laki. Kakak aja enggak punya pacar."
Lagi lagi suara benda terjatuh ke dalam air menyahut ucapan takao.
"Ya siapa suruh kakak jones."
Bangke. Bocah sekarang minta diperdagangkan secara illegal. Dijawab halus, jawabannya ngajak tawur.
"Kak, gimana ya biar tahu seseorang ikhlas mencintai apa enggak?"
"Hnnghhh…"
Hitung hitung balas dendam, Takao menyahut via suara ambigu.
"Mencintai seseorang itu ibaratnya seperti motor dan bahan bakarnya dik."
"Maaf kak. Pacar saya enggak naik motor."
Remaja sekarang naik apa kalau tidak naik motor? Transjakarta? Masih ada rupanya pemuda pemudi yang naik transjakarta. Takao saja jalan kaki.
Agak pedih juga dimasa masa hape layar senggol dan kendaraan bahan bakar biosolar seperti sekarang ia masih jalan kaki. Kepepetnya naik angkutan umum. Transjakarta, ata trans trans yang lain yang tidak makan biaya mahal. Takao tidak naik motor. Ia malas perpanjang pajak dan mengurus SIM. Pernah sekali dirinya kena tilang, keluar duid lah seratus ribu. Pedih sekali kala itu. Padahal seratus ribu itu dana bertahannya selama seminggu. Pola defense ekonominya sedang melambai lambai.
"Pernah mendengar perumpamaan 'kalau enggak ninja, enggak akan cinta'? atau perumpamaan 'kalau bukan F.U, aku enggak love you'?"
"Tapi saya bukan cabe cabean kak."
Takao terdiam. Dia benar. Yang di sampingnya adalah pemuda kekar berotot dengan wajah sangar namun polosnya tak tertandingi. Ia mana mungkin berpikir soal 'kalau enggak ninja enggak akan cinta'? mana sampai otaknya soal 'kalau bukan F.U, aku enggak love you'? harus lebih sederhana kalau ingin membuat lelaki yang mencintai lelaki memahami cinta.
Memang salah Takao juga. Membuat perumpamaan yang sedikit krussial. Ia pikir anak anak masa kini memang mengusung-usungkan jargon 'kalau enggak Ninja enggak akan cinta, kalau bukan F.U aku enggak love you'. Rupanya ada juga yang tak paham. Untunglah di dulu berada dalam masa 'kalau mau ngeceng, daku wajib bonceng'. Ya, ia korban jargon Midorima saat itu.
"Cinta dan penggunanya itu seperti motor dan bahan bakarnya, dik."
"Kok?" tanya suara di kamar mandi sebelahnya singkat.
"Kalau kamu mau motormu menghasilkan performa terbaik, bukan kah kamu bakal pakai bahan bakar terbaik? Syukur syukur kalau bahan bakarnya ramah lingkungan."
Hening.
"Hubungannya sama pacar saya apa kak?"
Duh. Siapa saja tolong dobrak bilik kamar mandi yang sedang Takao pakai dan taboklah kepalanya keras keras agar tidak kopyor menghadapi anak absurd di sebelaahnya ini.
"Ya kan tadi saya bilang soal perumpamaan!"
"Oh maaf.. maaf kak.."
"Ibaratnya manusia dan orang yang dicintainya itu adalah motor dan bahan bakar. Sebut saja pertamina. Karena hubungan dengan yang tercinta disimbolkan dengan pertamina."
"oke pertamina."
"PERTAMINA adalah perasaan cinta, dan memiliki dirinya."
"Agak maksa ya kak.."
Takao tertawa renyah. Menertawakan kebodohannya sendiri. Sesekali merasa geli dengan situasinya. Mirip terjebak dalam situasi awkward, bak gandengan bersama gebetan, tapi dipalak oleh mantan. Situasinya sulit.
"Nggghhh.. ya anggap saja begitu. Kamu sebagai motor coba menilik lagi bagaimana hubunganmu dengan pacarmu itu. Kalau kamu dikasih premium, berarti kamu masih belum dimaksimalkan performanya. Alias pacarmu cuma menganggap kamu tidak lebih dari 'kendaraan'. Hanya mau tubuhmu mungkin?"
Susah nih. Perut Takao terasa mulas sekali, namun cumi asam pedasnya semalam membandel bak noda iklan deterjen. Takao dipaksa ngeden.
"Kok bisa premium sih kak?"
"Ya soalnya premium itu 'perasaan milikku yang paling umum'. Jadi cinta dia ke kamu cuma biasa biasa aja. Kalau anak anak muda bilang perasaan cinta itu perasaan paling istimewa berarti mereka otaknya rada geser. Mentang mentang bisa move on dari mantan bukan berarti mereka boleh menggeser geser otaknya seenak Taku Iwasaki bikin ost Noragami yang kontroversial itu."
Tidak ada suara mengudara dari bilik mungil di sampingnya.
"Bener sih kak. Jadi sebaiknya saya harus apa? Terus bagaimana saya tahu pacar saya memberikan saya bensin premium atau produk pertamina lainnya?"
Si merah hitam bak malaikat beneran bernama Taiga di bilik samping Takao mulai mempertanyakan keotentikan argumen Takao yang mulai bisa ia pahami.
"Ya kalau kamu suka digrepe berarti dia cuma mau gratisan saja. Maunya di subsidi melulu tapi pengen dapet yang bagus bagus. Jangan mau dikasih premium."
"Hooh…"
Taiga nampaknya udaah selesai menjawab panggilan alam. Ia keluar. Membasuh tangannya sambil berpose di depan cermin.
"Ck, gua ganteng mennn!" gumam Taiga sambil geleng geleng memperhatikan pantulan dirinya di cermin.
"Dek?" Takao memanggil karena merasa respon si merah tak sebanding dengan usahanya memberikan pencerahan.
"Apa kak?"
"kamu sudah keluar? Ngomong kek. Kefred nih."
"Sorry kak. Kakak juga buruan keluar dong. Saya masih mau nanya nanya nih kak."
Takao keluar sejurus kemudian, nampak pucat pasi menahan kemelut panas pada jalur pengeluarannya yang rupanya tadi sehabis didobrak residu cumi asam pedas.
"Jadi kalau dia sering menggrepe badan saya berarti dia cuma memberikan bensin premium? Terus saya harus apa kak? Move on dan balikan sama mantan?"
Takao mencuci tangannya dan menatap pantulan Taiga di cermin.
"Ingat dik. Kalau kamu berhasil keluar dari kenangan mantan itu baru namanya Move On. Tapi kalau kamu balikan sama mantan berarti kamu bloon."
"Iya juga sih kak. Lagian saya enggak punya mantan kok."
'ya tadi napa bilang?' batin Takao lelah.
"Kamu harus bisa membedakan mana itu perlakuan bensin premium atau bensin pertamax. Hatimu tuh dipakai dik, jangan cuma mau digrepe doang."
Taiga nampak salah tingkah sambil melempari pantulan wajah Takao yang poker face dengan tisu yang digulung kecil kecil.
"Pertamax apa lagi tuh kak?"
"Pertamax itu perasaan cinta maximal. Jadi motor manapun bagus performanya kalau dipakaikan pertamax. Karena apa? Selain lebih irit, mesin yang digunakan pun tidak akan cepat ngupil. Tarikannya juga lebih enak dik."
"Masa?"
"Ya coba aja kamu digrepe dengan cinta dan digrepe dengan nafsu enakan mana?"
Taiga sekali lagi nampak salah tingkah.
"Saya masih belum tau dia tulus ke saya apa enggak."
"Nanti kamu tahu kok dik. Karena ketulusan seseorang itu seperti motor. Tiap orang beda dalam menunjukkan ketulusan cintanya seperti apa. kalau pacarmu itpe motor matic injeksi, dia akan menunjukkan kelembutan padamu. Kalau tipe motor ninja, dia akan menunjukkan seberapa gentle perlakuannya terhadapmu."
"Hm.. gitu ya kak."
"Sudah jangan terlalu dipikirkan. Kamu kan masih muda. Belajar dulu yang benar. Jangan kayak sinetron, pacaran mulu giliran belajar langsung pura pura sakaw. Jangan juga kayak cabe cabean. Kalau enggak ninja…."
"'enggak akan cinta, kalau bukan F.U aku enggak love you' kan kak?"
Ahh rupanya si merah ini sudah meresapi segala bentuk ajaran dan aliran Takao. Takao yakin sekali anak ini kelak akan jadi manusia yang benar dan sesuai dengan asas kebaikan. Seperti Takao.
Takao tersenyum, beranjak dari ruangan penuh bau lemon meninggalkan si merah yang tersenyum yakin.
Syukurlan hari ini ia bisa membantu anak abg meski poin bantuannya tidak bermutu. Ya sudah tak apa. ia yakin anak tadi pasti memetik sebuah pembelajaran. Seperti misalnya akan mulai menggunakan bbm tanpa subsidi serupa pertamax. Karena jelas masa sekarang penggunaan bbm subsidi mulai keluar jalur. Ia tak ingin anak anak muda mengikuti jejak sebuah kesalahan.
Dalam arti, kalau seseorang ingin hasil maksimal, ia butuh usaha dan pengorbanan diri sendiri. Bukannya bantuan subsidi untuk menggapai apa yang ia inginkan. Karena Takao sendiri juga yakin. Pasti ada sebuah perasaan puas ketika seseorang mampu mendapat apa yang ia inginkan dengan kucuran keringatnya sendiri.
.
.
.
"Hoi, baka!"
Taiga kaget sekaget kagetnya ketika seorang lelaki seumuran dengannya yang dicurigai merupakan pacarnya itu keluar dari salah satu bilik kamar mandi. Menyeringai songong seolah memergoki pencurian beha.
"Jangan bikin kaget lo!"
"Gua denger lo ngomong apa ama kakak yang tadi!"
"Oh. Oke…"
"Lo ragu gue cinta apa enggak ke elo kan?"
Taiga nampak salah tingkah untuk ketiga kalinya dalam fic ini.
"Yok abis ini ke penginapan. Gua mau buktiin seberapa besar cinta gua ke elo."
.
.
.
*SUICCHON*
Catatan pojok :
Hai. Kembali lagi bersama saya di Layanan Konsultasi dokter Midorima yang sudah berganti format menjadi layanan konsultasi om Takao sejak after chapter ini rilis.
Saya pas ngomong kalau chapter kemarin itu final Cuma bohong kok. Saya bohong.
Ini juga awalan dari konsultasi konsultasi kalian yang sudah masuk. Kedepannya, saya akan mengupas problem kalian ya.
Oiya, saat ini saya sedang nangkring di fic Husbando Today bersama Frea Alluka. Kalau nunggu ini nggak update update, tagih saja saya disana XD
Sekali lagi, maaf sudah membohongi kalian dan terimakasih bagi yang nantinya akan review maupun sudah membaca :3
Salam untuk kalian dan Sensei wanita di luar sana
Suicchon
