Warning :
Mengandung unsur OOC, EYD (Ejaan Yang Diselewengkan), lawakan tidak bersungguh-sungguh, dan siluman siluman perfanfiksian lainnya.
.
.
*SUICCHON*
Layanan Konsultasi Dokter Midorima
.
.
.
Kehujanan, baju hingga dalaman kebasahan, pulang kemalaman, setelan belanjaan tak terselamatkan, dan Takao kesepian.
Sungguh cocok untuk lelaki yang besok pagi didapuk untuk mengisi acara di sekolah yang digadang- gadang prestisius tempat anak-anak orang kaya bersekolah. Agak-agak Takao merasa merinding membayangkan besok mata mata inosen anak dibawah umur akan mentapnya penuh kekaguman. Syukur-syukur penuh kekaguman, kalau penuh kejijikan Takao tidak ingin memikirkan tengah menguatkan batinnya agar setrong.
Sudah kesepian, butuh belaian, butuh kehangatan tak boleh terlewatkan.
Pucuk dicinta ulam pun datang. Mantan didamba, ngajak balikan. Itulah yang Takao rasa saat baru pulang ke apartemen Midorima.
Ada sosok berbalut handuk dengan proporsionalitas tubuh sangat sangar bin sadis mengobrak-abrik intuisi lelaki Takao yang agak seret akhir-akhir ini. Sosok yang tengah menanggalkan kacamatanya dan menggeleng-geleng jengkel melihat Takao basah kehujanan dan pulang kemalaman.
"Darimana saja, nanodayo?"
"Belanja. Besok kan mau ngisi acara di Teiko."
"Tadi kamu ngga titip aku aja, kan biar sekalian aku mampir, nanodayo."
"Ukuran dadaku saja kamu tidak tahu kan Shinchan, jadi gimana mau beliin aku setelan?"
"Kamu ngga punya dada, Takao."
"Kamu benar, Shinchan."
"sudah sana mandi, nanodayo." Usir Midorima agar Takao lekas berlalu dari depan wajahnya.
"Kamu enggak mau mandiin aku?"
Takao mengedipkan sebelah matanya memberi sinyal.
Mematunglah Takao karena Midorima mematung duluan. Mengawang-awang sesuatu sebelum kemudian tersenyum kalem.
"Lain kali ya."
Lalu Takao merasa ingin dieksekusi mati saat itu juga.
.
.
Midorima biasanya akan memberikan tatapan gahar padanya kalau ia iseng-iseng memberi kode untuk anuan tengah malam nanti. Sejujurnya Takao hanya ingin melepas kerinduan mendalam. Biasanya Midorima tak kalah rindunya pada Takao, namun sungguh misterius. Malam ini Midorima nampak sangat berbeda. Kalem tenang dan tidak terlalu tsundere.
Justru Takao yang dibuat ketar-ketir oleh tingkah Midorima saat itu. Seusai mandinya khatam tanpa acara ritual bermain sabun mandi, Midorima sudah menunggu Takao di depan TV. Duduk di sofa sambil membaca katalog obat-obatan apotek serta berbagai merk alat kontrasepsi.
Dua cangkir kopi mengepul masih panas. Yang satu sudah bekas diseruput terbukti oleh tanda ampasnya yang menempel di bibir cangkir. Satunya masih utuh dengan aroma kopi dan susu yang khas. Midorima membuatkan kopi susu untuk Takao. Favorit Takao, Midorima tahu pasti itu.
Takao ini lelaki dewasa, jadi ketika Midorima bergeser sedikit posisi duduknya, Takao langsung tanggap. Ada tempat disitu yang dipersilakan khusus untuknya meletakkan diri. Undangan tak langsung untuk sebuah obrolan penting.
Karena jelas, kalau obrolan tak penting bukan disitu tempatnya, bukan begitu caranya mempersilakan tempat untuk ditempati. Karena kalau obrolannya tak penting, berlangsungnya bukan di sofa, tapi di kasur busa .Karena kalau obrolan tak penting, bukan diam sebagai awalan, namun erangan sepanjang permainan. Takao peka akan hal sepele seperti itu.
Namun tak pernah terbersit dalam benak maupun sanubari Takao bahwa ia akan terlibat dalam sebuah obrolan yang tingkat pentingnya ia perkirakan akan melebihi rapat paripurna. Sungguh Takao tak berkeinginan. Terakhir ia ingat ia terlibat pembicaraan penting dengan Midorima, pembicaraan mereka hampir berujung pada kasus tuntutan Midorima pada Takao soal pecemaran nama baik. Berujung pada pemecatan Takao dari klinik Midorima dan berujung karir cemerlang Midorima sebagai artis papan atas.
Dengan pembicaraan penting, Takao paham beberapa hal akan terjadi. Entah hal yang bahagia atau hal penuh duka lara yang akan terealisasi. Namun ada hal yang Takao ingin dan Takao amini dalam setiap ingin tetap bersama Midorima.
Sehelai handuk diberikan Midorima pada Takao. Handuk hijau yang menjadi saksi betapa anugerah Tuhan tak bisa didustakan. Handuk milik bersama yang sering Takao gunakan untuk mengelap dan menggosok benda tumpul. Handuk yang meskipun sering kali tercium apek dan tengik namun seusai dipakai Midorima akan kembali harum mewangi. Midorima tak ubahnya Downy.
Takao sudah duduk. Sudah menyamankan diri. Sudah pasang tampang kalem siap menerima berita badai maupun topan. Namun Midorima juga nampaknya masih belum tertarik membuka obrolan ketika Takao duduk di sampingnya sambil meniup-niup cangkir kopi susunya.
Barulah ketika Takao selesai menyeruputnya, Midorima berdehem ringan. Takao mafhum. Midorima ingin ia menyamankan diri dengan atmosfernya nanti.
"Bagaimana kopinya? Enak?"
"Enak. panas. Dan manis."
Takao tidak menggombal. Bukan waktunya.
"Apoteknya ramai tidak?"
"Cukup ramai sejak warga tahu pemilik apoteknya ternyata pembawa acara dokter Oz."
Midorima lagi lagi tersenyum. Makin was-was saja hati Takao. Gundah gulana tak berkesudahan.
"Hmm gitu ya, nanodayo."
Takao mengangguk.
"Fanpagemu cukup ramai, nanodayo."
"Semua berkat dirimu, Shinchan."
"Ada gadis disana yang kau suka? Kulihat kau banyak akrab dengan para wanita. Banyak pula yang tergila-gila padamu, Takao."
Midorima sudah pasti tengah cemburu, namun entah mengapa ucapannya tak berdinamika bak tengah menyembunyikan fakta soal hati dan perasaannya.
"Shinchan, kita tidak duduk-duduk untuk membahas kopi dan apotek kan? Atau juga gadis muda dan fanpage kan? Jujur, kopi dan apotek itu bukan bahasan ber-plot berkualitas."
Takao mengelak. Sakit kalau ngotot dibahas. Ia tak sakit, ia hanya sakit melihat Midorima yang sering menatapnya seperti terluka tiap Takao membicarakan orang lain.
"Sudah kuduga kau tahu maksudku, Takao. Aku jujur saja kalau begitu."
"Silahkan, aku menunggu."
Dusta ini. Takao tak pernah ingin mendengar pernyataan penting dari Midorima.
"Aku mau menikah."
Perih.
Ah ampas kopi di cangkir Takao terlihat mengambang malas. Takao juga mengambang nyawanya. Jiwanya bak terbelah pecah-pecah. Satu melayang ke nirwana, yang lainnya dibumikan secara paksa. Mirip ampas kopi. Sekalinya tidak tenggelam ke dasar air, melah mengambang memperkeruh tampilan saja. Tidak menyatu, tidak menjadi satu dengan cairan sehingga menghasilkan harmonisasi yang tiada dua.
Bosan melirik ampas kopi yang membikin kopi susunya bertampilan jelek, Takao melirik cangkir Midorima. Sama-sama digenggam dengan tangan, sama-sama masih hangat, tapi permukaannya bedarupa. Air kopi Midorima sedikit beriak tadi. Rupa-rupanya si penikmat tengah gundah dan bimbang hingga tangannya sediki gemetar menggenggam cangkir.
Apa pula sebetulnya yang mesti dibimbangkan oleh Midorima? Karir terus menanjak, pundi-pundi rupiah mengalir tanpa henti, wanita-wanita mengantri ingin dipersunting jadi istri, lantas batu manakah yang membuat Midorima tersandung hingga cangkir kopinya beriak lembut?
Takao kah batu itu?
Takao kah batu yang selama ini menyandung Midorima hingga dirinya tak kunjung bangkit? Takao kah batu penghalang masa depan si dokter yang digadang-gadang memiliki masa depan cerah? Lantas apa yang manusia lakukan jika saja menemukan batu yang menyandung? Ya disingkirkan atau dibuang, tak satupun yang berniat mengantongi batu sandungan untuk dipajang di dinding kamar. Gila apa?
Sama-sama batu tapi beda perlakuan. Kalau batu loncatan saja dipuji-puji, dipuja-puja, bahkan kalau bisa dipigura, dipiguralah itu batu loncatan. Sedang kalau batu sandungan, boro-boro didiamkan. Kalau menyandung ya dibuang. Padahal batunya sama-sama diam tak manusia lucu dimana-mana.
Takao juga batu. Batu sandungan untuk masa depan Midorima. Begitulah otaknya terus membuat kesimpulan akan arah obrolan ini.
"Dengan wanita mana?"
Bukan penasaran sesungguhnya. Takao hanya ingin terlihat wajar. Seperti seorang kawan lama yang akan mendukung apapun yang akan dilakukan kawannya. Bukan nampak seperti lelaki dengan kisah hidup lika liku laki-laki tak laku-laku.
Takao bersandar, menyeruput kopi susunya sok santai. Tak lagi terasa semanis seruputan pertama. Ya memang. Semakin lama kopinya semakin mendominasi, atau mungkin perasaan Takao saja yang terlalu mendominasi sehingga kopinya terasa tak lagi sedap.
"Seorang fans yang dipaksa menikah denganku, nanodayo."
"Kamu nyaman dengannya?"
"Biasa saja, nanodayo. Aku ingin lebih nyaman lagi."
"Nyaman itu alami. Ngga bisa kamu paksa paksa seenak jidat begitu, Shinchan."
Tidak nyaman terus tegak seperti itu, Takao menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Menghela nafas halus untuk menghalau galau yang bisa datang kapan saja.
"Ya tapi bisa diciptakan, nanodayo. Sudahlah Takao. Kita sama-sama tahu diri kita masing-masing. Kita bukan lagi remaja. Sudah tak pantas lagi bermain-main dengan usia."
Takao menerawang langit-langit.
"Kau benar, Shinchan. Nyaman itu tak dapat dipaksakan namun dapat diciptakan."
Midorima menggenggam erat cangkirnya, makin beriak saja permukaan kopi hitamnya.
"Dan kau tentu tahu. Nyaman berujung pada perasaan suka."
"Dan perasaan suka berujung pada cinta. Dah, dah kelar itu Shinchan."
Pukul 12 malam. Tepat tengah malam dan keduanya tidak sekalipun kelepasan menguap. Tidak Takao, tidak pula Midorima. Takao saja yang biasanya mudah mengantuk malah sama sekali tidak terkantuk-kantuk. Dan terang saja, Midorima yang biasanya terjaga tetap waspada.
Situasinya berkalang hening. TV penghuni apartemen sebelah nasih menyala. Penghuninya masih menonton tayangan olahraga sambil sesekali bersorak sorai ketika skor tercetak. Takao sebetulnya tertarik untuk ikut menyaksikan. Namun mengingat Barca sudah mengobrak abrik hatinya, pupuslah sudah harapannya akan kejayaan tim raksasa sepak bola tersebut.
Narator yang berkicau soal skor dan aksi-aksi lapangan sama sekali tak membuat Takao tertarik. Namun tetap saja masih bisa jadi penghibur hati Takao yang tengah lelah. Masih mampu jadi penjeda hatinya yang tengah lara.
"Carilah wanita Takao, dan menikahlah."
"Ya besok ketika ada wanita yang merestui perselingkuhanku denganmu, Shinchan."
Midorima meletakkan cangkirnya ke meja kecil di depannya.
"Wanita seperti itu tak mugkin ada."
"Ada. Makanya kamu perlu memperluas duniamu. Semakin luas duniamu, semakin banyak koneksimu, semakin sempit semestamu, Shin-chan."
Midorima melepas kacamatanya. Memijit-mijit pelipisnya bingung dan frustasi.
Hatinya tak bisa lepas dari Takao. Namun bila tetap bersamanya, Midorima hanya akan jadi penghalang untuk perkembangan Takao. Ia hanya akan menjadi sangkar besi untuk kebebasan Takao. Jujur, tak selamanya burung yang berkicau di sangkar itu enak dipandang.
Dan Midorima tak tahan melihat Takao yang sering kali mengawang-awang melihat keluar memimpikan sebuah kebebasan.
"Dunia ini ibaratnya celana dan isinya, Shinchan."
Midorima mendongak penasaran. Sungguh analogi yang sangat tidak profesional. Namun Midorima hafal tabiat Takao. Hafal benar bagaimana ia akan menyambungkan sesuatu yang ambigu dengan situasi tertentu. Meski sesungguhnya tidak salur namun lama kelamaan ada logikanya juga.
"Kenapa bisa nanodayo?"
"Semakin kamu mencari koneksi, mencari rangsangan, semakin sempit pula duniamu."
"Hidup bukan soal urusan horny, Takao."
"Ya tapi kalau hidupmu tidak horny mana tahu tujuan hidupmu."
Midorima ikut menyadarkan punggungnya di sofa berwarna hijau dengan bantal oranye bunga-bunga norak tersebut. Tersenyum lelah sambil menghalau galau.
Memang betul akhir-akhir ini hidupnya terasa seperti tak punya tujuan. Tujuan awalnya menjadi artis pun karena kesepakatannya dengan si model kuning yang awalnya ingin menjadikan Takao sebagai bintang reality show. Midorima tak rela Takao jadi terkenal dan direbut dari sisinya, maka ialah yang mengorbankan diri menjadi artis. Apa saja asal bukan Takao yang diambil dari sisinya.
Dan seolah tahu kekhawatiran dari dokter hijau, si kuning ini memanfaatkan kelemahan si dokter dengan mengambil keuntungan berupa kontrak kerja dengan si dokter. Si kuning tersenyum puas, dan si dokter sedikit was-was.
Namun kini tujuan hidup itu sedikit blur. Bukan karena disensor KPI, bukan karena dicekal FPI. Karena si manusia yang selama ini bak cawan suci, dijaga-jaga jangan sampai jatuh ke layar kaca, sudah mulai dikenal warga. Bukan warga masyarakat sembarangan. Namun warga dunia maya yang rata-rata wanita ayu yang meresahkan Midorima.
Meski om-om tapi Takao selalu nampak lucuk dimata Midorima. Dan pasti juga di mata wanita di luar sana. Tak rela Midorima kalau Takao miliknya dipertimbangkan jadi suami dari seorang wanita.
Maka, daripada Midorima terus terusan was-was, terus-terusan memendam lara melihat si pujaan hati digoda wanita dan merindukan kebebasan, sebaiknya Midorima saja yang melepaskan diri dulu.
"Kamu butuh tempat kalau ingin bebas, Takao."
"Tapi kalau tak dirangsang mana tahu jalan mana yang akan kamu tuju, mana tahu lobang mana yang akan kamu masuki, shinchan."
"Kebebasan tak butuh lobang, Takao."
"Ya, dan kamu mau selamanya gundal gandul tak punya tujuan? Tak tahu nikmatnya perjuangan?"
Midorima terdiam. Ia sungguh paham maksud Takao. Soal hidup dengan bersemangat, dengan sebuah tujuan. Namun bisakah Takao menjangkau tujuannya jika tetap bersamanya? Bisakah Takao meraih keinginannya jika masih saja dihalangi batu sebesar Midorima? Jujur, Midorima merasa tak ubahnya batu kali.
Namun satu pernyataan Takao membuatnya tersenyum.
Takao tak ingin bebas tanpa dirinya. Tak ingin gundal gandul tanpa arah dan tujuan. Ia masih butuh Midorima untuk tetap di sisinya.
"Takao."
"Apa?"
"Menurutmu hubungan kita ini apa, nanodayo? Kau butuh aku karena hasratmu saja ya?
"Kukembalikan kata-katamu. Kita tahu diri kita masing-masing. Kita bukan lagi remaja. Dan tentu hubunganmu denganku bukan hanya cinta antar remaja SMA. Cinta seperti itu sudah lama terlewat."
Midorima menatap Takao lekat lekat. Hendak menegaskan apakah si tersangka memiliki perasaan yang sama dengannya atau tidak.
"Lalu?"
"Nafsu, perasaan sayang, saling percaya, saling menjaga, persahahabatan, dan kedewasaan. Itu tak lagi terasa berbeda, Shinchan."
Midorima kembali mengenakan kacamatanya dan menggeser duduknya agar lebih rapat pada tubuh Takao. Ditepuklah puncak kepala dari rekan hidupnya yang berambut hitam.
"Dan juga cinta jangan lupa, nanodayo. Tapi bukan berarti aku cinta."
"Yang barusan pasti sedang tsundere kan? Sudahlah. Om-Om seusia kamu tak pantas sok-sokan tsundere."
Dan sejak itu Takao mengerti.
Alasan menikah bagi keduanya hanyalah alasan klise untuk merebut perhatian satu sama lain. Cukup cegah dan pernikahannya batal. Sesimpel itu.
Midorima tak akan menikah dan tak lagi berpikiran untuk meninggalkan Takao dalam sebuah kebebasan tak berujung. Dan Takao lah rangsangan yang akan menemani Midorima menuju tujuan yang akan ia capai.
Karena cinta bagi mereka tak melulu soal kangen-kangenan dan saling cemburuan. Namun juga soal pengertian, pemahaman juga soal saling meghargai. Karena cinta bagi mereka juga merupakan sebuah penyampaian perasaan tanpa kata, tanpa bahasa.
.
.
.
"Halo dokter."
"Ya, dengan siapa nanodayo?"
"Ini Kise, ssu! Pliiiis deh!"
"Apa maumu?"
"Jadi datang ke Teiko bareng omTakao kan?"
"Jadi kenapa, nanodayo?"
"Ketua OSISku sedang reservasi hotel buat besok langsung temui ketua OSIS Teiko di hotel ya, ssu."
"Ok."
Midorima meraba manusia yang terbaring di sampingnya. Mengedip-ngedipkan matanya malas dan tak bertenaga.
"Siapa, Shinchan?"
"Kise. Ngomongin soal reservasi hotel."
"Ohh. Ya sudah. Bangunkan aku pagi-pagi besok."
"Enak saja kau mau lanjut tidur, nanodayo."
Meski penerangannya minim, namun Takao bisa melihat mata hijau yang berkilat penuh arti dan senyuman penuh kode.
Kelar sudah malam Takao.
.
.
.
*SUICCHON*
.
.
Catata pojok :
Saya update malam malam begini. XD
Pertama, makasih buat beta reader saya yg baru, Mbak Nezumi Shizuka. Sorry ya situ saya kejar kejar dari tadi sore XD Nggak enak nih jadinya XD
Ya. Ini chapter kedua belas. Memasuki chapter Teiko arc(?). Kali ini saya turunkan humornya. Berat mau masukin humor XD
Ohiya. Om Takao masih buka lapak. Sekarang tersedia Om Takao versi cyber. Silahkan yang mau curhat bisa ke fp 'Berbincang Bersama Om Takao'
Bersedia memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun?
Salam untuk kalian semua dan kapten wanita di luar sana,
.
Suicchon
