Warning : Mengandung unsur typo, EYD (Ejaan Yang Disemrawutkan), BL, OOC. Harap berhati-hati apabila menemukan kriteria yang telah saya sebutkan.
.
.
*SUICCHON*
"LAYANAN KONSULTASI DOKTER MIDORIMA"
.
.
Sepulang event di Teiko, Takao lelah. Lelah hati, lelah pikiran.
Peringatan ulang tahun Teiko sudah terlewat sekitar sebulan yang lalu. Lelahnya masih bisa Takao rasakan sampai malam ini dia duduk-duduk jaga apotek sambil membaca postingan di situsnya.
Sudah sebulan namun tiada suatu peningkatan apapun yang Takao dapat sepulang dari event di sekolah prestisius Teiko. Takao saja tidak membuat suatu peningkatan apapun. Peningkatan soal apa? Takao tidak ingin peningkatan apa-apa. Yang Takao ingin tingkatkan cuma menghindari drama di event jejepangan serta menghindari menyebarkan berita hoax.
Jika disinggung soal peningkatan hubungannya dengan dokter Midorima 'Oz' Shintaro, Takao tak bisa berucap banyak selain bergumam ia lama tak 'bercocok tanam' semalaman. Intensitas melakukan aktivitas 'pertanian' berkurang banyak seusai acara di Teiko. Bagaimana tidak? Saking terkenalnya Midorima, ia tengah tertangkap kamera sedang berada di sekolah prestisius. Seusai itu, pemberitaan di mana-mana dan segera saja Midorima didapuk jadi maskot guru ganteng idaman siswi-siswi SMA. Imbasnya ia kebanjiran job mulai dari jadi bintang iklan hingga model di video Awkarin yang berikutnya.
Sedangkan aktivitas Takao selain jaga apotek, membalas konsultasi yang ditujukan padanya, membelai kapal cantik dan memutar gacha, hanyalah aktivitas sepele. Seperti berusaha mati-matian mencegah keterlibatan Midorima dalam proyek lagu Awkarin selanjutnya setelah kemarin di video Badass sempat ingin melibatkan Midorima. Hanya itu.
Daripada merecoki sistem kerja Midorima, Takao pikir akan lebih bijak menjawab konsultasi yang masuk ke situsnya. Asal tahu saja, seorang pembaca yang budiman menjadikan situs Takao menjadi situs yang benar-benar populer. Imbas dari kepopulerannya yang melalang buana ke sudut-sudut jagad maya membuat Takao harus berkali-kali menghela nafas dan memutar otak. Lelah sekaligus harus cerdik mengakali kliennya yang kebanyakan mengajukan pertanyaan bertendensi curhat dadakan.
Malam ini, Takao dapat pertanyaan bukan bertendensi curhat dadakan.
.
.
.
'Om, saya akan melakukan lawatan persahabatan ke bumi bersama seorang putri dan rombongannya. Akan tetapi saat browsing di Google, saya banyak menemukan teori bahwa bumi itu datar dan bukannya bulat seperti yang kami kira selama ini.
Hal tersebut tentunya akan berimbas pada penggunaan BBM serta titik koordinat di mana kataphrakt kami akan mendarat. Untuk menentukan hal tersebut, dibutuhkan rumus rumit dan proses yang panjang.
Maka, untuk mengantisipasi pengeluaran yang tidak perlu, saya ingin bertanya kepada Om Takao.
Bumi itu bulat atau datar?
Sekian.
S. Troyard, 16 tahun – Vers.'
.
.
.
Malam itu sruput demi sruput ia menikmati kopi susunya. Sembari menepis sepi serta rindu akan kepulangan Midorima dari syuting. Sejak banyak pekerjaan, Midorima jarang pulang. Takao sampai bosan menebak kapan pekerjaan Midorima selesai hingga ia bisa pulang. Kemungkinan pekerjaan Midorima baru akan selesai menjelang pemilihan gubernur mendatang. Tentu saja pekerjaan manapun akan diliburkan untuk merayakan pesta demokrasi suatu negeri. Takao harap pekerjaan Midorima juga serupa.
Setiap sruputan minuman hangatnya, Takao berpikir. Ada sebuah pertanyaan yang bertentangan dengan prinsipnya. Selain bimbang antara harus menjawab atau diabaikan, Takao juga tengah memikirkan jawaban atas pertanyaan tersebut. Saking banyaknya Takao berpikir, ia bahkan sudah menggasak 3 cangkir kopi susu yang membuat maghnya kumat.
Bukan. Takao tidak punya prinsip apapun soal bentuk bumi. Takao tidak peduli soal bentuk bumi sama seperti ketidakpeduliannya terhadap gosip yang belakangan muncul tentang sosok remaja yang memperjuabelikan photopack ilegal sosok Takao di Teiko. Takao tahu ia ganteng, tapi perkara beredarnya photopack Takao di kalangan siswi Teiko, Takao tidak yakin. Siapa pula yang ingin mengkoleksi foto om-om madesu yang bahkan hanya dengan menunjukkan fotonya saja dapat menimbulkan demo massal anak kepada bapaknya?
Prinsip Takao adalah tidak terlibat dalam berita hoax.
Relasi antara pertanyaan dalam situsnya serta berita hoax baginya terlihat jelas sejelas screenshoot-an warga maya soal naik level dan memenangkan item SSR dalam sebuah gacha game RPG. Kejelasannya memuakkan. Serta kesamaan keduanya ialah tidak berpihaknya dewa RNG dan kebenaran padanya. Takao merasa tergarami. Agak salty.
Meski gacha memuakkan, tapi Takao ketagihan. Serupa dengan menjawab pertanyaan pada situsnya. Meski memusingkan, tapi Takao tetap keasyikan. Selain karena jiwa masonya yang sudah kritis serta kronis, Takao rela pusing menjawab pertanyaan karena ia merasa bertanggung jawab pada siapapun penanya yang rela membikin akun di situs Takao hanya untuk 3 kali kesempatan berkonsultasi padanya. Yang mana sebetulnya kebanyakan penanya hanya menyinggung Midorima semata. Lagi-lagi Takao tergarami.
Kalau sudah begini, Takao tidak punya opsi selain mengguyur diri sendiri di tengah kabar simpang siur soal bumi itu bulat atau datar. Akan tetapi, Takao percaya sepenuhnya pada dirinya sendiri. Meski nantinya tubuh Takao akan basah oleh hoax dan kebohongan, namun ia tidak akan masuk angin karenanya. Bagi Takao, mengarungi lautan hoax itu asin. Kalau tidak ingin lebih asin, sebaiknya Takao tetap mempertahankan kewarasannya agar tak lagi tergarami.
.
.
.
'Selamat malam, Adik Troyard. Atau selamat apapun di Vers sana berhubung di tempat saya sekarang sedang malam hari.
Terima kasih saya ucapkan pada Adik serta rombongan Adik atas kesediaannya melawat ke bumi. Serta sampaikan salam hormat saya pada tuan putri yang nama serta wajahnya belum saya ketahui.
Mungkin nantinya sambutan masyarakat bumi pada rombongan Adik tidak akan semeriah antusiasme warga terhadap lawatan rombongan sultan dari Timur Tengah (Adik bisa googling di mana itu Timur Tengah), akan tetapi bukan berarti kami tidak mempersiapkan sambutan apapun.
Adik harap maklum. Tidak mudah mempersiapkan sambutan untuk alien (itu sebutan kami untuk makhluk luar angkasa). Teknologi kami yang paling maju hanya pesawat terbang yang memakan waktu lebih dari satu jam untuk menempuh Jogja-Jakarta. Yang terbaru ini ada pula Grab dan Uber yang entah mengapa didemo beberapa kalangan.
Teknologi kami tentu saja belum dapat disejajarkan dengan teknologi dari Vers. Apalagi sampai melampaui teknologi dari Vers yang mana saya yakin teknologi Adik bisa menempuh Vers-Bumi dalam waktu beberapa menit saja. Tentu saja, suatu saat pun kami berharap dapat menciptakan benda terbang canggih serupa Deucalion maupun Dioscuria.
Soal teknologi angkutan yang masih rendah tersebut, saya sarankan pada Adik dan rombongan untuk tidak memaksakan diri naik angkutan umum di bumi. Percayalah Dik, angkutan di bumi itu berbahaya untuk makhluk bumi itu sendiri. Angkutan yang di darat rawan pencabulan. Angkutan yang di laut rawan ditenggelamkan dan diledakkan. Serta angkutan yang di udara rawan jatuh dan puingnya tidak ditemukan. Terdengar sangat mengerikan bukan? Tapi itulah bumi.
Kalau Adik tetap meragukan soal sambutan, yang dapat saya katakan hanya sebuah kalimat yang terdiri tidak lebih dari lima kata.
Kami menyediakan oksigen bersih.
Kemudian, perkara bentuk bumi. Bumi kami.
Katakan saja penduduk bumi itu kecerdasannya rendahan. Maklum, katanya kami hanya evolusi dari primata, makanya kecerdasannya rendah. Kami bahkan tidak tahu bentuk planet kami sendiri. Ini merupakan kenyataan yang sangat memalukan. Saya sendiri malu mengakui bahwa saya merupakan salah satu penduduk yang berkecerdasan pas-pasan.
Karena kecerdasan kami yang pas-pasan tersebut, kami jadi kerap sekali meributkan banyak hal. Kami meributkan barang ori atau kawe, kami meributkan ojek lokal atau gojek (salah satu angkutan di bumi juga), beberapa juga meributkan kapal InaSure atau InaAssey. Sangat banyak hal yang kami ributkan.
Tentu saja bentuk bumi pun senasib dengan bentuk oppai. Sama-sama kami ributkan apakah lebih baik berbentuk bulat atau berbentuk datar.
Ada yang punya fetish datar. Sukanya yang datar-datar. Sebagai contoh jalan aspal dan oppai wanita. Kalangan ini pun melampirkan fetish mereka pada pandangan mereka soal bentuk bumi. Menjadikan mereka mati-matian memperjuangkan dan membela pendapat mereka bahwa bumi itu datar. Tidak sedikit yang bahkan punya pandangan 'Flat is justice' meski tidak semuanya seperti itu.
Ada pula golongan penyuka bulat-bulat. Seperti misalnya tahu dan oppai wanita. Salah satu jemaatnya yang senang bulat tapi bukan bulatan tahu adalah salah seorang pemain Ice Skating perwakilan Jepang yang kemarin sempat diributkan karena mengharapkan 'something round and gold' dari pelatihnya yang orang Rusia. Lihat kan? Kami meributkan banyak hal memang.
Penghuni kelompok bulat-bulat pun banyak yang mendukung teori bahwa bumi berbentuk bulat seperti yang ada dalam pemikiran mereka.
Saya sendiri berada di tengah-tengah antara bulat dan datar. Saya penghuni sisi netral. Saya bukan pecinta yang bulat-bulat tapi saya mendukung bahwa saat ini bentuk bumi itu bulat. Saya pun tidak terlalu suka yang bulat-bulat. Bahkan, bulatan yang saya sukai hanya oppai wanita saja. Nanti kalau Adik sudah sampai di bumi akan saya kenalkan beberapa sosok yang betul-betul 'bulat'. Oh iya, oshi saya sekarang berganti dari Tsubasa Amami ke JULIA.
Akan tetapi saya sendiri tidak munafik. Bagi saya yang datar pun bisa nampak menarik. Namun, siapa yang dapat saya bohongi? Saya lelaki. Menyukai yang 'datar' hanya membuat saya seperti wibu meski kadang saya memang suka. Akan tetapi, benda 'datar' ketika dibuka, wahana apa yang akan saya temui? Tidak ada!
Lantas alasan apa yang saya punya untuk mendukung bentuk bumi jika saya tidak berada pada kubu manapun?Adik bertanya pada saya, yang mana artinya Adik akan menerima apapun jawaban dari saya. Namun untuk mempercayai jawaban dari saya, itu terserah Adik.
Saya yakin bumi itu berbentuk datar dan bulat. Hal ini didasari dari usia bumi.
Awal mula bumi terlahir tentu saja bentuknya datar. Datar dan tidak ada apapun. Tidak ada isian di dalamnya sehingga membuat bumi yang baru terlahir tidak menarik untuk dilirik. Awal kelahiran ini juga belum memungkinkan bumi untuk mendukung suatu kehidupan.
Setelah bertahun-tahun berlalu, bumi mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Saat-saat itu bumi sedang mengalami masa puber. Inginnya dinotis senpai, maunya jadi pusat perhatian, dan hal-hal abege lainnya. Pada fase tersebut bentuk bumi sudah mulai agak bulat. Sudah cukup menarik meski masih dalam tahap mempersiapkan untuk menopang kehidupan.
Ketika masa-masa itu usai, tibalah saat bumi betul-betul sudah tumbuh secara maksimal. Bumi sudah lelah tergarami karena tak dinotis senpai hingga keseringan tergarami maka terciptalah perairan luas yang asin bernama samudra. Bumi sudah merasakan pahit manisnya cobaan dan sudah mulai paham arti dari kehidupan. Fase ini membuat bumi sudah menjadi betul-betul bulat dan kenyal untuk menopang kehidupan. Hal ini disebabkan bumi yang sudah mengerti arti kehidupan ingin memberikan sebuah kehidupan yang layak bagi siapapun penghuninya.
Itulah bumi yang kami tempati saat ini. Berbentuk bulat karena telah melewati fase-fase panjang yang menyenangkan sekaligus menyiksa. Bumi kami yang kuat menahan beban meski terkadang penghuninya imbisil dan tidak tahu berterimakasih. Bumi kami yang tetap memberikan kami kehidupan meski terkadang kami sering tidak sopan.
Pada akhirnya, bumi dan oppai wanita itu sama meski tak serupa. Meski kita mengabaikan bentuknya, keduanya tetap memiliki kemiripan. Yaitu sama-sama tempat terhangat dan tempat ternyaman untuk pulang. Sama-sama melindungi dan sama-sama wajib kita lindungi.
Akan tetapi sebaiknya saya pun memberikan peringatan untuk Adik Troyard dan rombongan.
Jika Adik berani menyentuh oppai wanita, jangan kaget jika Adik dapat perlawanan. Jika Adik berani menyentuh bumi kami, jangan kaget bila kami semua menyatakan perang demi melindungi bumi kami. Lagi-lagi sebuah kesamaan bukan?
Akhir kata, apabila nanti Adik beserta rombongan sudah sampai di bumi, mohon tidak lupa mengabari saya via Whatssap, BBM, maupun LINE. Tapi jangan lewat FB berhubung FB cuma saya pakai untuk mengurus fanpage. Saya siap menerima oleh-oleh dari Vers kok.
Kiranya hanya itu yang dapat saya sampaikan.
Just pull the sun into your heart dan selamat malam.
.
Om Takao.
.
.
.
Puas menjawab dengan jawaban asal-asalan, Takao membaringkan kepalanya di meja. Lama-kelamaan kesadarannya mengabur dan Takao tertidur di atas meja. Apotek terbengkalai, namun biar saja. Sudah malam, sudah tidak ada yang hendak membeli obat. Pengecualian mungkin bagi yang ingin membeli alat kontrasepsi.
Ketika sadar, Takao sudah ada di dalam sebuah mobil hitam metalik berselimutkan jas putih. Baunya dapat Takao kenali hanya dengan sekali cium. Bau dari lelaki yang Takao cintai setengah mati. Jalanan terbentang di depannya dan sesosok laki-laki menyetir di sampingnya.
"Sudah bangun?"
"Ya. Pulang cepat, Shin-chan?
"Begitulah, nanodayo."
Penantian Takao berakhir. Midorima pulang.
Ah, malam ini akan jadi malam yang panjang. Begitulah pikir Takao.
.
.
.
Catatan pojok :
Ini chapter 16. Tumben sekali saya update agak cepat.
Baiklah. Sudah sampai chapter segini. Dan tidak ada tanda-tanda tamat. Apakah sebaiknya saya cepat tamatkan saja ya?
Masih dibuka sesi tanya jawab dengan Om Takao. Bagi yang ingin pertanyaannya dijadikan chapter, bisa kirim pm ke saya. Bagi yang ingin curhat saja, bisa temui Om Takao di fanpage 'Berbincang Bersama Om Takao'. Meski saya sering ngaret menjawab, mohon diampuni :') saya kadang kala sibuk.
Silahkan. Bagi yang pertanyaannya paling gokil akan saya jadikan chapter.
Akan tetapi saya tidak menerima pertanyaan semacam 'bagaimana mencangkok pohon jambu?' ya..
Lalu untuk kalian yang sudah mereview, memfollow, maupun memfavorite, terimakasih sebanyak-banyaknya. Maaf saya tidak bisa mem-pm kalian satu persatu untuk mengucapkan betapa saya sudah berterimakasih sangat banyak atas dukungan kalian.
Sekian, salam hangat untuk kalian dan sensei wanita di luar sana kalau engkau masih ingat padaku.
.
SUICCHON
