Warning : Mengandung EYD (Ejaan Yang Disemrawutkan), OOC, serta siluman perfanfiksian lainnya.
.
.
*SUICCHON*
"Layanan Konsultasi Dokter Midorima"
Sebuah fanfiksi dari serial karangan Fujimaki Tadatoshi
.
.
"Dear Sir Takao. I would like to-"
"Tolong subtitle-nya diaktifkan dong, Shin-chan."
Midorima melirik jengkel. Sudah bagus ia rela membacakan sebuah surat untuk Takao dengan pronounciation yang bermutu tinggi dan mumpuni. Sekarang Takao minta ia mengaktifkan subtitle mode.
"Baca sendiri, nanodayo."
"Ayolaah, Shin-chaaan. Aku ini kan kurang ahli dalam berbahasa Internasional. Apa susahnya sedikit membantuku sih? Nanti tidak kuberikan lucky item untuk hari ini lhoo."
Midorima jadi panik. Lucky itemnya hari ini yang dikatakan oleh Oha Asa adalah sebuah pantsu warna biru yang baru saja dipakai. Oleh siapapun itu. Midorima sendiri tidak mengkoleksi pantsu warna biru. Tapi ia tahu Takao punya dan semalam habis ia pakai sebagai setelan untuk menemani 'bercocok tanam' dengan Midorima. Tidak mendapatkan pantsu itu berarti Midorima siap mengundang gemuruh riuh badai dalam harinya nanti.
"Kepada tuan Takao. Saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan, nanodayo."
"Itu ada tulisan '–nanodayo' segala?"
Midorima beranjak dari ranjang. Menyerah menghadapi kelakuan pagi hari Takao yang sangat tidak dibenarkan.
"Maaf! Kembali Shin-chaaaannn! Aku butuh jasa translator!"
"Panggil Pein-Akatsuki sana!"
Meskipun bersungut-sungut, akan tetapi Midorima kembali juga. Takao kembali anteng setelah Midorima kembali ke ranjang sambil mengibarkan pantsu biru dengan sebuah pencapit.
"Kepada tuan Takao. Saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan."
Kali ini tidak pakai –nanodayo. Hebat juga Midorima ini.
"Sebelum saya bertanya, saya ingin menjelaskan situasi dan memperkenalkan diri saya terlebih dahulu.
Nama saya Meyrin. Saya adalah Maid dari salah satu keluarga bangsawan di Inggris Raya bernama Phantomhive. Saya mengabdi belum sampai lima tahun. Tapi cinta di hati saya untuk keluarga majikan saya sungguh besar sampai-sampai saya tak mampu lagi menyangganya.
Baru-baru ini, seperti biasa majikan saya dan kepala pelayan di rumah pergi untuk melaksanakan kewajiban. Saya duga mungkin mereka mengunjungi pabrik permen. Tapi saya tidak tahu juga kemana mereka pergi.
Tidak berselang lama, tuan saya kembali sendirian. Tuan saya yang biasanya memakai penutup sebelah matanya tiba-tiba jadi tidak berpenutup. Saya menduga-duga ada apa. Mengapa pula saya merasakan aura yang berbeda dari tuan saya ini. Dan kemana kah kepala pelayan kami pergi?
Tidak cukup keterkejutan saya sampai disana, pintu kembali dibuka dari luar. Kali ini ada tuan saya yang berpenutup mata bersama kepala pelayan kami. Saya betul-betul terkejut. Apa yang sedang terjadi? Mengapa ada dua orang berwajah sama?
Setelah kejadian tersebut, barulah saya tahu bahwa Tuan saya ini ternyata kembar. Dan dua-duanya adalah kepala keluarga Phantomhive. Disini saya betul-betul tidak tahu apa yang harus saya perbuat. Bukan hanya saya, Butler lain di kediaman Phantomhive pun dilanda kebimbangan. Tidak tahu mana diantara dua tuan ini yang harus kami prioritaskan terlebih dahulu. Mana yang harus kami pilih.
Tuan Takao.
Terkadang hal mengejutkan terjadi dalam hidup ini. Entah pada kalangan rendah yang hanya berprofesi maid seperti saya, maupun pada kalangan bangsawan seperti tuan saya. Saat hal itu tiba, tak jarang kita dipaksa memilih dan memutuskan satu pilihan diantara dua, tiga, atau mungkin banyak lainnya.
Sering kali saya seperti tidak mampu melangkah ke depan. Sering kali saya ragu dalam mengambil keputusan. Sering kali saya takut dan tidak tahu apakah keputusan yang sudah saya ambil adalah benar adanya.
Maka dari itu, dari kediaman Phantomhive yang damai ini, saya ingin mencari tahu pendapat tuan Takao. Saya ingin mendapatkan saran mengenai apa yang harus saya lakukan. Saya ingin mengetahui bagaimana cara kami harus memutuskan pilihan saat situasi sedang sulit.
Terutama untuk para butler di rumah kami yang sepertinya sangat bimbang semenjak masalah ini, saya ingin menyampaikan pada mereka soal pencerahan dari tuan Takao.
Saya tunggu balasannya sampai di Inggris Raya. Salam hormat, Meyrin."
Midorima menutup bacaan singkatnya dengan sebuah deheman.
"Aku tidak punya kenalan orang Inggris. Terus ini balasnya bagaimana ya?"
Midorima menyahut sebuah kemeja bergambar Tohru dari serial Maid Naga. Hasil pemberian Takao beberapa saat lalu ketika Takao kebetulan memenangkan gacha berupa Arturia Pendragon atas saran dari Midorima. Sebuah kemeja yang menurut Midorima sangat norak tapi menurut Takao itu sangat elit dan eksklusif. Midorima tak pernah tahu pemikiran wibu.
"Balas saja seperti biasanya kau lakukan, nanodayo."
"Tidak bisa bahasa Inggris."
"Pakai Google Translate, nanodayo."
Nampaknya Takao tercerahkan. Tanpa banyak melakukan tindakan yang berfaedah, Takao melangkah menuju meja dan mulai menulis. Tanpa busana.
.
.
.
Salam kepada Nona Meyrin yang sudah bersedia repot-repot mengirimkan surat berstempel merah beraroma mawar. Jujur. Saya menyukai suratnya dan rencananya akan jadi surat satu-satunya yang akan saya pajang di dinding nanti. Tentunya ketika pilihan piguranya sudah Nona Meyrin setujui.
Membaca keluhan anda, entah mengapa saya jadi teringat masa muda saya. Dimana saya banyak direpotkan oleh beberapa pilihan sulit yang menghantui malam-malam saya. Terkadang pilihan itu sama pentingnya atau sama tidak pentingnya. Bahkan saya pernah suatu ketika bingung memutuskan camilan apa yang akan saya sertakan dalam perjalanan maraton nonton Hunter x Hunter.
Bagi seorang lelaki, membuat keputusan adalah hal yang rumit. Karena mungkin saja sebuah keputusan yang kami ambil ternyata salah dan malah menyeret kami ke kasus yang lebih pelik. Seperti kata Itachi Uchiha, ada saat dimana seorang lelaki harus memutuskan dalam pilihan yang sulit.
Saya sendiri adalah lelaki yang percaya suatu ideologi buatan saya sendiri.
Ketika seorang lelaki merelakan aset domestik di selangkangannya untuk disunat, saat itu lah seorang lelaki harus bersiap meneguk pahit manisnya kehidupan. Termasuk menentukan pilihan.
Sekarang jika kita mebicarakan butler dalam kediaman Phantomhive ini, kira-kira mereka sudah disunat belum ya?
Kalau sudah ya berarti mereka mau tidak mau harus menentukan sebuah pilihan. Pahit maupun manis nanti hasilnya, seorang lelaki harus berani menghadapi situasi seperti itu.
Dahulu saya ingat.
Saya pernah berada pada situasi yang tak kalah rumit. Saya tak berani mengambil keputusan karena keputusan apapun akan berdampak pada hidup saya nantinya. Ketika saat itu tiba, saya kembali menguatkan diri saya. Saya sudah sunat dan saya berani melepaskan sebagian aset saya. Kalau melepaskan aset penting saja saya berani, kenapa memutuskan sesuatu saya tidak bisa?
Hidup itu memang kadang seperti soal UN Kurikulum 2013. Isinya pilihan ganda semua.
Kalau salah pilih, ya tidak jadi nilai. Kalau kita pernah punya pengalaman sehingga bisa memilih, ya pilihan kita benar. Kalau kita tidak punya pengalaman apapun untuk memilih, pada akhirnya kita malah jadi mengaktifkan mode silang indah. Asal silang yang penting ada isinya. Benar salah perkara belakangan.
Tapi bukankah saat mengaktifkan mode silang indah pun kita dihadapkan pada situasi yang tidak kalah susah? Silang indah pun nantinya punya dua kemungkinan. Bisa benar dan bisa salah. Kalau benar ya hoki. Kalau salah ya rugi.
Lantas kenapa masih memilih kalau tidak tahu jawaban mana yang benar? Karena kalau tidak memilih, jadinya auto-salah. Dengan memilih, kita mengeliminasi kemungkinan salah menjadi lebih kecil.
Mungkin saya terdengar seperti bapak-bapak dari KPU yang melakukan penyuluhan pemilu. Tapi memang begitulah faktanya.
Kita tidak bisa tidak memilih. Karena sekali lagi, hidup itu lebih dari sekedar pilihan ganda.
Teruntuk butler di kediaman Phantomhive, ada kalanya hidup tak hanya akan berisi pilihan Eren x Mikasa maupun Eren x Historia. Arima x Kaori maupun Arima x Tsubaki. Ada kalanya akan ada kejutan tak terduga sebelum pada akhirnya mereka dihadapkan pada pilihan yang sulit. Seperti misalnya tiba-tiba muncul saudara kembar si tuan entah darimana.
Hendaklah Nona Meyrin dan juga butler di kediaman kalian tidak terlalu berlarut-larut dalam sebuah kejutan. Terkejut boleh, akan tetapi sebentar saja. Karena pada akhirnya kalian akan menghadapi sesuatu. Dan sesuatu itulah yang lebih butuh seluruh perhatian kalian.
Jika mengalami kebuntuan dan hendak merujuk kepada ideologi saya, bisa saja.
Ketika seorang lelaki merelakan aset domestik di selangkangannya untuk disunat, saat itu lah seorang lelaki harus bersiap meneguk pahit manisnya kehidupan. Termasuk menentukan pilihan.
Disunat juga bukan perkara mudah. Saya sangat ingat betapa saya takut sekali untuk disunat dahulu. Orang bilang rasanya hanya seperti digigit semut. Tapi tentu saja saya tidak percaya. Mana ada semut bisa menggigit aset domestik saya sampai putus. Mustahil sekali bukan?
Ketika keadaan mulai terasa sulit bagi mereka, ingatkan lagi bahwa mereka pernah menghadapi sesuatu yang lebih serius yaitu sunatan. Sebuah peristiwa lonjakan yang sangat besar pernah mereka lalui.
Ingatkan bahwa dibalik peristiwa sunat menyunat pun ada hikmah yang harus diambil. Dibalik sebagian aset domestik yang direlakan pun, ada sebuah pelajaran yang bisa didapatkan.
Yaitu belajar untuk mengikhlaskan, menahan rasa sakit dan cobaan. Semata-mata karena untuk tujuan yang lebih baik ke depannya.
Bayangkan saja kalau tidak sunat apa yang akan mereka peroleh? Ya jadi tidak bisa 'bertani' dan 'bercocok tanam' bukan?
Saya pribadi meski dahulu sangat takut sunat, saya jadi belajar sesuatu. Sunat membuat saya berani melakukan lonjakan menuju kedewasaan. Membuat saya jadi punya landasan untuk berpikir bahwa seberat apapun situasi yang saya lalui, saya akan selalu bisa mengatasinya karena saya sudah sunat. Saya jadi percaya bahwa kekuatan terpendam saya berasal dari peristiwa sunatan yang pernah saya lalui.
Situasi yang sulit dan pilihan yang sulit mungkin terjadi berulang kali. Tapi sunat hanya terjadi satu kali. Itulah yang harusnya membuat seorang lelaki lebih kuat dan lebih kukuh untuk bertahan.
Oh iya. Dulu setelah sunat, saya dapat hadiah sepeda dari nenek. Sepeda tersebut saya gunakan hingga SMA dan berhasil mempertemukan saya dengan pujaan hati saya.
Lihat kan? Betapa sulit suatu keadaan setelah kita memilih, pasti akan ada hikmah dan hadiah yang tak terduga.
Kiranya cukup sekian nasehat dari saya. Tolong sampaikan salam hormat saya pada butler di kediaman Phantomhive, dan tentu saja pada tuan kalian.
Just pull the sun into your heart dan senantiasa giri giri suru ya.
.
Takao Kazunari.
.
.
.
Midorima terbengong-bengong mendapati Takao yang kembali menimbun diri dalam selimut. Padahal seingatnya ia sudah menghardik dan menghalau Takao habis-habisan agar segera mencyduc air dan mengguyurkan ke tubuhnya yang lelah seusai beraktivitas semalaman penuh. Akan tetapi, perintah Midorima berlalu secepat usutan ingus. Tak pernah digubris oleh Takao yang tumben-tumbenan kembali menimbun diri.
Sengaja langkahnya Midorima berat-beratkan agar terdengar ke telinga Takao. Tapi Takao tak juga bangun. Mode kode Midorima sia-sia saja.
"Kenapa tak kunjung mandi, Takao?"
Kepala Takao menyembul dari balik selimut, malu-malu.
"Ini coba dibaca dulu. Ini trigger, Shin-chan. Aku terpelatuk."
Midorima menyahut kertas berisi tulisan tangan Takao. Isinya tak seberapa. Tapi membuat Midorima merasa sungguh tidak bisa berkata apa-apa. Setelah itu, Midorima perhatikan gerak gerik si penjawab konsultasi. Gelisah, malu-malu, dan mencurigakan.
Takao membuka selimutnya, menunjukkan sesuatu. Kemudian berujar malu-malu.
"Shin-chan. Ini lho."
Tak ingin mengetahui apa yang Takao tunjukkan pada Midorima, Midorima sudah berlalu cepat-cepat.
"Shin-chaaaaannnn! Jangan pergi! 'Tower'ku berdiri! Bantu aku merobohkan 'tower'!"
.
*SUICCHON*
.
.
.
Catatan pojok :
Sedikit sekali ya? Haha. Maafkan saya. Saya akhirnya kembali dengan chapter 18. Saya berpikir fic ini kapan tamat? Kemudian saya sadar. Ini adalah salah satu jenis fic yang tidak akan tamat selama saya punya ide. Tapi sayangnya saya sering tidak punya ide.
Saya meminta ke pembaca sekalian untuk selalu berpikir bahwa chapter terbaru yang saya update di fic ini adalah chapter terakhir. Semata-mata agar pembaca sekalian tidak terlalu kaget kalau tiba-tiba saya tidak melanjutkannya berhubung saya sangat jarang punya ide XD
Oh iya. Terimakasih atas reviewnya sampai sejauh chapter kali ini. Maafkan saya yang tidak mem-pm kalian satu persatu untuk mengungkapkan betapa dalam rasa terimakasih saya. Yang jelas, tidak ada satupun review pembaca sekalian yang tidak saya notis :')
Salam hangat
.
SUICCHON
