Warning : Mengandung EYD (Ejaan Yang Disemrawutkan), OOC, dan siluman perfanfiksian lainnya.
.
.
*SUICCHON*
"Layanan Konsultasi Dokter Midorima"
Sebuah fanfiksi dari serial Kuroko No Basuke karangan Fujimaki Tadatoshi
.
.
Takao terguncang. Barangkali guncangan ini lebih besar dari guncangan gempa dalam negeri belum lama ini yang dituding merupakan bentuk azab bagi mereka mereka yang humu. Tudingan yang menyebabkan Takao gerah namun juga merasa berdosa. Seolah Takao merasa aktivitas 'bertani'nya merupakan pemicu gempa bumi dalam negeri.
Sebaris kalimat yang tersusun dari kombinasi huruf dan angka membuat Takao melongo.
Beberapa menit yang lalu, Takao ketikkan kalimat dalam kolom pencarian di Goggle. Begitu klik sana sini dan diarahkan menuju sebuah website yang Takao kira benar, rupanya hasilnya mengecewakan.
Ada apa gerangan dengan website sakti Takao yang awalnya dibangun di atas landasan penipuan terhadap remaja? Mengapa tidak muncul setelah dibuka websitenya? Sungguh Takao gagal paham. Takao tidak merasa melakukan perombakan ataupun perubahan terhadap apapun. Namun angka 404 itu sepertinya mirip dengan angka 69 dan 212. Sama-sama angka yang dimengerti maksudnya oleh sebagian besar manusia.
Takao bukan ahli IT, ia tidak bisa mengetahui apa yang terjadi dengan situsnya bahkan setelah ia mencoba mengklik-klik tombol tidak penting seperti iklan judi ataupun iklan game nganu yang seperti yang sering muncul di situs myreadingmanga. Tidak ada yang terjadi. Tidak ada yang bisa mengembalikan situsnya seperti sedia kala.
Jujur. Takao mulai panik. Situs itu penting. Dan sumber ia mengais rejeki disamping pekerjaan lainnya yang berubah dari waktu ke waktu. Dari asisten dokter di saat siang hingga asisten dokter di saat malam. Dari sekadar tukang jaga apotek Kazunari Maju Lancar, sampai tukang bikin shitpost. Tapi pekerjaan yang di situs Layanan Konsultasi Dokter Midorima itu yang paling disenangi Takao. Ya gimana. Situsnya sekarang sudah meng-endorse produk-produk kaum milenial. Dari produk elektronik sampai produk paling tidak penting seperti jasa bikin skripsi.
Takao, seakan merasakan impian jaman SMA-nya mulai terwujud. Dahulu, ia pernah punya cita-cita ingin kaya tanpa bekerja. Takao pikir hal itu hanya bisa terwujud kalau dia memelihara tuyul atau demit lainnya. Tapi lihat sekarang. Ia cuma punya situs yang kebetulan viral karena ada foto Midorima, dan segera saja pundi-pundi uang mengalir sendiri ke rekening bank miliknya. Agaknya, situsnya dan Dubai itu punya kemiripan. Sama-sama mengundang uang.
Namun dengan situasi seperti sekarang ini, mengundang uang pasti tidak mungkin. Mungkin yang terjadi malah juragan yang meminta produknya di-endorse oleh Takao sudah menarik iklan jualannya satu persatu. Sadar bahwa pundi-pundi yang mereka kucurkan ternyata melayang pada angka 404.
Takao yang panik segera mengambil tindakan.
Rencananya siang nanti ia akan lekas bergegas menjumpai kawan lamanya di SMA yang kini buka jasa servis laptop dan kadang jadi tukang shitpost. Kimura namanya.
Namun sebelum Takao sempat beranjak untuk mencukur kumis tipisnya yang membikin Takao boros umur, bel pintu depan apartemennya dan Midorima berdering nyaring.
"Hai Om."
Sejumlah tamu rupanya berinisiasi mendatangi Takao di saat yang tidak tepat.
"Hai. Ada apa lagi, Dik Kise? Duit manggung Om pas ultah Teiko kemarin sudah masuk. Sepertinya Om sudah tidak punya urusan dengan OSIS Teiko macam kalian ini."
"Om selow dong. Kita-kita ini bukan mau ngurusin soal event kemarin, ssu."
"Iya ini Om selow. Selow kayak di pulow. Santay kayak di pantay."
Dipikir Takao ini tidak nampak selow kayak di pulow apa?
"Kita datang mau main, Om. Kita tahu kalau Om kesayangan kita yang satu ini sedang madesu."
Takao menyender pada sisi pintu. Daritadi tidak berniat mempersilakan sekumpulan tamunya yang terdiri dari 6 pemuda SMA untuk melewati garis pintunya. Takao ini buru-buru hendak servis situs. Jadi tidak ada waktu untuk sekedar meladeni sekumpulan anak OSIS yang nongkrong sambil membahas idol mana yang akan diundang dalam rangka ultah Teiko tahun depan. Lagipula Takao tidak tertarik idol lokal. Selain itu, menurut prediksi Takao, Teiko akan mengundang idol sejenis Via Vallen. Yang mana sangat tidak cocok dengan selera bermusik Takao yang selaras dengan gaya Sawano Hiroyuki dalam album VV-alk.
"Bilang saja kalian mau konsultasi setelah kalian ngga bisa buka situs Om."
Sekumpulan tamunya mesem kalem. Takao berjengit. Berhasil membaui ada yang tidak beres.
"Iya itu saya yang bikin, Om."
Tamunya yang berambut biru muda berkata santai. Tanpa seulas mesem sama sekali.
"O kamu ya?" Takao mencoba sarkas.
"Iya, Om. Saya disuruh Akashi-san. Kalau Om tidak menjawab konsultasi kami sore ini juga, saya malah disuruh untuk menebar hoax situsnya Om. Saya disuruh bilang situs Om situs antek osang-aseng, Om. Disuruh bilang situs Om ini pro LGBT dan melakukan cuci otak pada remaja."
"Biar Om tebak. Yang namanya Akashi-san pasti kamu ya?" telunjuk Takao hampir mengenai dahi si anak berambut merah yang Takao tengarai sebagai ketua OSIS Teiko rezim saat ini.
"Eits. Om Takao tidak boleh kasar pada kapten kami. Situs Om ada di tangan kami lho."
Takao ingat siapa nama anak yang barusan berucap. Namanya Aomine.
Begitu Takao mendecih, sekumpulan tamunya berbondong-bondong masuk ke apartemen Takao. Mereka serempak mengartikan decihan takao serupa kode untuk akses ke konsultasi privat dan tentu saja, masuk ke apartemen om-om yang sudah lama mereka kagumi.
Takao tidak usah repot-repot membuatkan minuman ataupun makanan untuk tamunya. Yang pertama, Takao malas menjamu tamu yang datang dengan ancaman di tangan mereka. Yang kedua, mereka tidak layak dijamu dengan sajen-sajen no life-nya Takao.
Namun sialnya, salah satu dari mereka, mulai menggunakan dapur Takao untuk membuat kudapan-kudapan enak yang tidak bisa Takao tolak.
"Baiklah, Om. Konsultasi dimulai dari saya ya."
"Hm." Takao tidak mau repot-repot membalas 'ya' karena itu cuma akan membuatnya seperti om-om yang antusias. Takutnya lain kali ia akan dimanfaatkan lagi jika saat ini ia nampak antusias.
"Pakai format tidak ya ini, Om?"
"Terserah."
"Baiklah, Om. Nama saya Aomine Daiki. Daripada disebut curhat, saya lebih ingin bertanya saja pada Om Takao. Mengapa Om Takao sering memberikan jawaban konsultasi yang kelewat ambigu? Kalau ada yang sange gimana tuh, Om?"
Takao menyelesaikan kunyahan lumpianya dengan seksama sebelum akhirnya membalas.
"Dik Aomine, kira-kira adik ini pernah berkunjung ke Nekopoi belum ya?"
Aomine nyengir.
"Situs Om adalah situs nomer dua yang paling sering saya kunjungi setelah Nekopoi, Om." Aomine cukup berani berterus terang rupanya.
"Nonton apa, Dik Aomine?"
"Nganu lah, Om. Ya namanya Nekopoi pasti lah isinya nganu semua. Nekopoi bukan Nekopoi kalau isinya berupa siksa kubur."
"O yang kamu pernah salah download itu ya, Ahomine?" kawan Aomine beralis cabang menimpali.
"Diam kamu, Bakagami."
"Kelak, Dik Aomine. Kamu akan sampai pada tahapan dimana kamu menyaksikan Nekopoi itu serupa menyaksikan siraman motivasinya Mario Teguh. Kamu akan sampai pada tahapan untuk mengerti bahwa JAV itu bukan lagi Japanesse Adult Video. Tapi akan mengartikannya sebagai Japanesse Amazing Video terlepas dari konteksnya yang memang betul-betul amazing.
Suatu saat kamu akan mengerti bahwa adegan nganu bukan cuma sekedar urusan menghanyutkan lele ke jamban yang tepat. Tapi soal penerimaan dan keikhlasan meskipun proses menghanyutkan lele itu tidak semudah menontonnya."
"Tapi Om, bukannya remaja malah belum bisa berpikir sampai sejauh itu?"
"Makanya Om yang mengarahkan. Agar kalian bisa memetik sebuah pembelajaran dari analogi yang sudah biasa bagi kalian. Jujur saja, Adik-adik. Kalian pasti lebih mudah menerima masukan ataupun saran jika disampaikan dengan kemasan yang tidak membuat kalian berpikir keras kan?
Asal kalian tahu saja. Justru hanya orang-orang yang sudah menghilangkan pikiran negatif dan sampah negatif dari kepala mereka lah yang bisa memahami saran berbau porno Om sebagai sesuatu yang positif."
Takao sudah berbohong demi terlihat mantap di mata adik-adik SMA-nya. Semata agar sesi konsultasi ini lekas bubar dan situs Takao lekas kelar.
"Memang kalau pikirannya negatif tidak bisa ya, Om?"
"Yakali. Kalau pikiranmu negatif, kamu akan memandang Om sebagai om-om porno yang menjerumuskan kalian pada hal hal yang porno juga. Kalau pikiran kita negatif, kita cenderung tidak bisa melihat sisi positif dari orang lain.
Hal-hal kayak gini yang bakal bikin kalian tumbuh menjadi ojiisan sotoy yang tiba-tiba masuk ke kontrakan seorang wanita dan menggrebek si wanita bersama pacarnya dengan tuduhan tengah berbuat mesum. Kemudian diarak sepanjang jalan padahal mereka tidak melakukan tindakan asusila apapun."
"Hih."
"Atau bikin kalian tumbuh jadi ibu-ibu yang sok-sokan nuduh orang pasangan gay padahal aslinya sodaraan."
"Mmm tapi kami laki-laki, ssu."
Takao menunjukkan raut wajah yang seolah berkata 'cuma semisal doang gan.' Nampaknya anak-anak ini dari sekolah elit unggulan, tapi kok kemampuan mencerna kalimat Takao sepertinya mereka kesulitan.
"Jadi sebenarnya yang kita butuhkan adalah tetap berpikir positif ya, Om."
Takao hanya mengangguk.
"Baiklah, Adik-adik. Konsultasi selanjutnya."
Aomine yang sudah konsultasi pun mundur. Pamit hendak memainkan PS4 milik Takao.
"Saya deh, Om."
Kise mengajukan diri.
"Nama saya Kise Ryouta, Om. Saya pernah konsultasi ke situs Om juga. Tapi kali ini konsultasi saya bukan soal cinta kok. Om, saya punya masalah. Saya… saya tidak suka matematika, Om. Matematika membuat saya keriting. Matematika membuat saya betul-betul buntu, ssu. Saya minta sarannya agar saya sukses di Matematika seperti sukses saya di bidang olahraga dan modelling."
Takao yang belum jadi mencukur kumisnya sekarang jadi bisa mengelus-elus rambut kecil-kecil gatal yang tumbuh di area sekitar situ sambil berpikir. Takao butuh segera bercukur atau aktivitasnya yang lain akan terganggu. Maklum, sudah hampir 3 bulan ia tak beraktivitas apa-apa dengan Midorima. Jadi ia membiarkan kumisnya yang kecil-kecil baru tumbuh menginvasi wajahnya yang ia gadangkan ganteng jaya raya itu.
"Mmm itu bukan masalah menurut Om."
Kise belum memberikan komentar apapun. Kemudian Takao melanjutkan.
"Hanya dua hal yang bisa bikin kamu jadi keriting. Yang pertama gen. Yang kedua celana dalam. Kalau genmu lurus, ya berarti kamu tidak keriting. Berarti masalah kekeritingan berasal dari sempak Dik Kise. Matematika dan kekeritingan sama sekali tidak ada hubungannya menurut Om."
Sekarang Takao merasakan bagaimana rasanya jadi Kise setelah Kise melemparinya raut wajah yang seakan berkata 'cuma semisal doang, gan.'
"Tidak apa-apa kalau kamu tidak ahli dalam Matematika. Bahkan kamu tidak paham matriks pun kamu akan tetap tidak apa-apa nantinya. Masa depanmu tidak ditentukan oleh menghitung matriks atau logaritma. Atau juga diskonto.
Yang penting untuk kamu ingat adalah begini.
Kamu boleh payah dalam hal Matematika. Tapi kamu harus punya keahlian dan kemahiran dalam hal lain. Jangan sampai kamu hanya punya kemampuan rata-rata dalam semua bidang tanpa payah di salah satunya tapi juga ahli di salah satunya. Punya keahlian rata-rata di semua bidang cuma menjadikanmu seperti normies. Tidak ada menariknya sama sekali meskipun yang seperti itu tetap harus disyukuri."
Kise mengangguk. Tangannya mengambil sebatang lumpia isi daging dan mencolekkannya ke saos sebelum di lahap dengan raut wajah berpikir keras.
"Tapi, Om. Orang tua saya pengennya saya ahli di semua bidang dan ngga remedi terus tiap selesai terima rapor."
Takao tebak orang tua Kise ini pastilah sejenis orang tua yang ikut reuni 212. Tidak berpikiran terbuka dan tidak menyadari kemampuan sejati anaknya. Lagian Kise ini kan sudah jadi model. Jadi artis skala Nasional meski usianya masih belia. Dan orang tuanya masih menuntut Kise untuk jadi yang terbaik di segala bidang?
"Ya sudah begini saja, Dik Kise. Agar orangtuamu tidak terlalu bersedih anaknya ikut remidi, bagaimana kalau kamu capaikan nilai Matematikamu sesuai KKM saja? Kalau bisa melampaui ya bagus, kalau tidak bisa ya usahakan mencapai KKM agar kamu tidak sering remidi."
Anggukan Kise nampak lemas. Tapi Takao mengerti bahwa Kise sudah memahami apa yang Takao maksudkan.
"Terimakasih, Om. Saya sudah agak-agak paham. Selanjutnya saya akan berusaha mewujudkan nilai saya agar pas KKM, ssu."
Dengan itu, Kise pamit undur diri untuk mengobrak-abrik album foto milik Midorima. Katanya hendak melakukan hal yang sedang kekinian diantara para remaja saat ini. Yaitu aktivitas yang Kise namakan 'steal his look.'
Kini tersisa 4 anak manusia yang duduk di sofa.
Si rambut merah pendek yang tadi Takao tuding bernama Akashi, bocah berambut biru yang pernah konsultasi pada Takao di taman karena anunya tidak besar, bocah besar berambut ungu yang nampak makan lumpia dengan lahap tanpa peduli sekitar, dan bocah rambut merah hitam yang nampak sangar dan gahar namun di mata Takao nampak seperti emak-emak yang peduli gizi dan tumbuh kembang balita.
Takao membenarkan kursi kecil berbentuk kepala keropinya. Kursi kecil yang setiap pagi menemani acara makan sereal Takao. Kursi pemberian Midorima ketika ulang tahun Takao yang ke 28 tahun lalu.
"Jadi, siapa selanjutnya?"
Si bocah merah berlagak bangsawan mesem.
"Aku setelah kalian semua saja. Tetsuya atau mungkin Atsushi silahkan duluan."
"Kalau begitu, Om. Saya saja."
Oh. Itu si anak yang anunya tidak besar.
.
.
*SUICCHON*
.
.
Catatan Pojok :
Hai. Saya kembali. Apakah pembaca sekalian sudah menganggap fic ini bakal tamat chapter kemarin? Kalau sudah ya bagus. Kalau belum, ini saya sodori chapter baru.
Tapi mungkin tidak memuaskan karena saya sungguh lama sekali tidak menulis.
Semoga kalian terhibur.
Oiya. Saya akan menaikkan rate fic ini menjadi rate M. Akan tetapi mohon agar tidak berharap ada adegan bercocok tanam di chapter selanjutnya ya XD
Kemungkinan saya akan bikin chap selanjutnya kalau saya tidak malas XD
Dan juga
SELAMAT TAHUN BARU 2018.
/telat
Salam sayang untuk wanita yang sedang saya tunggu untuk menghabiskan tahun ini bersama dan kalian semua yang sedang membaca saja.
.
.
SUICCHON
