Happy Reading Minna-san.

Disisi lain...

Pemuda yang melihat gadis yang baru di kecupnya itu melangkah keluar club terburu-buru, hanya menyunggingkan senyum tipis dibibirnya. Sesekali menghisap rokok yang terselip diantara jari telunjuk dan tengahnya, menghembuskan asapnya keudara lalu berkata "You're mine Hyuuga."

.

.

.

Hinata kembali melakukan rutinitasnya sebagai model, kali ini dia memakai baju rancangan dari disainer ternama di Jepang. Berkali-kali dia mengganti gayanya mengikuti ucapan sang fotografer, entah itu mengahadapkan kepalanya ke kanan ataupun ke kiri, tatapan mata menggoda pun tak luput darinya.

"Baik, selesai." Ujar sang fotografer mengakhiri sesi pemotretannya hari ini.

Hinata membungkukkan badannya seraya mengucapkan terima kasih pada semua kru yang bekerja bersamanya saat ini.

"Istirahatlah, setelah ini kau ada pemotretan untuk iklan parfum." Ujar Miku pada Hinata yang hanya dibalas anggukan kepala dari Hinata.

.

.

"Ini, semua informasi yang kau butuhkan." Kata Shikamaru memberikan amplop coklat besar pada Naruto.

Naruto membuka amplop tersebut dan membacanya perlahan, senyum seketika tercipta dibibir seksi itu, Shikamaru yang melihatnya mendengus dan menggumamkan kata andalannya.

"Jangan mengejekku Shikamaru." Ujar Naruto masih dengan senyum dibibirnya.

"Aah tidak Naruto-sama." Balasnya dengan nada yang dibuat imut.

"Daripada kau mengejekku dengan nada bicaramu yang jelek itu, lebih baik kau urus tikus-tikus yang memakan uangku diluar sana. Cepatlah!" Balasnya lagi dengan mata masih membaca beberapa informasi yang diberikan Shikamaru padanya beberapa waktu lalu.

Shikamaru mendengus sekali lagi, sebelum kemudian melenggang pergi dari ruangan boss sekaligus sahabat kecilnya itu.

"Welcome to my world Hinata." Gumamnya diselingi dengan seringaian tipis yang terpatri pada bibir merah kecoklatan miliknya itu.

.

.

.

Langit cerah diawal musim panas di Jepang itu menemani langkah dua orang gadis dengan warna rambut yang berbeda. Keduanya memasuki sebuah restoran mewah ala western yang ada di distrik Shibuya.

Mereka menempati meja yang dekat dengan jendela sehingga membuat mereka bisa melihat jalanan distrik Shibuya yang padat dengan kendaraan ataupun orang-orang yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Tak berapa lama mereka duduk seorang waitress datang menanyakan pesan mereka, mencatatnya lalu pamit untuk mengambil pesanan kedua gadis berbeda warna rambut tersebut.

"Haah.. rasanya aku ingin liburan di musim panas ini." Ujar salah satu diantara mereka.

"Jadwalmu padat Hinata, tak mungkin kau akan liburan dalam waktu dekat ini."

"Bisa, Miku kosongkan jadwalku sepekan kedepan. Aku rasanya ingin berjemur di pantai saat ini."

"Tidak bisa Hinata, kontrak sudah di tanda tangani, kau tidak mungkin membatalkannya begitu saja, kau akan mendapat denda." Jawab Miku bersikeras.

"I don't care, aku ingin liburan titik, dan urusan denda? Tak masalah bagiku, satu dua kontrak tak membuatku miskin seketika." Balasnya santai.

"Tap-" Ucapan Miku terpotong dengan kedatangan seorang waitress yang membawakan pesanan mereka tadi.

"Sudahlah Miku-chan, aku hanya ingin liburan sebentar, lagi pula aku ingin menikmati hasil kerja kerasku selama ini."

Miku hanya menghela nafasnya mendengar penuturan Hinata, ucapan Hinata memang ada benarnya juga tak ada salahnya model cantik ituliburan, toh selama ini dirinya memang belum pernah liburan selama berada di Jepang.

.

.

Tatapan dingin dari mata biru yang menggelap itu membuat semua orang yang ada diruangan itu bergedik ngeri seketika, pemuda pemilik mata tersebut melangkahkan kakinya maju mendekati sang tersangka yang masih setia menundukkan kepalanya, keringat dingin sedari tadi terus bercucuran dari tubuhnya. Dengan jarak satu meter, kaki kiri sang pemuda terangkat mendekati wajah pria dengan tubuh lumayan tambun itu, mendongakkan kepala sang pria menggunakan kaki kirinya yang terangkat.

"Saya mohon ampuni saya Naruto-sama, saya terpaksa melakukan itu semua demi anak saya." Ujar pria lumayan tambun itu dengan wajah memelas dan tatapan memohonnya, jangan lupakan tangannya yang memegang kaki sang King of Mafia. Menundukkan kepalanya lagi dan lagi memohon untuk diberi pengampunan dari ketua mafia yang terkenal bengis itu.

Mafia yang mendapat julukan 'Rubah kegelapan' itu pun tak menggubris sedikitpun permohonan dari tersangkanya, dengan gerakan tiba-tiba dia menarik kakinya paksa sehingga membuat pria sedikit tambun yang sedang memohon itu terjungkang kedepan. Berjalan menuju pintu ruangan tempatnya menghakimi tersangkanya, "Bunuh dia!" Ujarnya dingin dan datar. "Kumohon ampuni say-" Ucapan sang tersangka terpotong diiringi dengan aliran darah yang bercucuran deras keluar dari kepalanya. Tepat sepersekian detik setelah ucapan ketua mafia bengis itu, tiga buah peluru dengan cepat menembus kepala sang pria tambun yang belum menyelesaikan ucapannya tersebut.

"Urus mayat itu." Ujarnya lagi sebelum benar-benar meninggalkan ruangan yang menjadi saksi bisu betapa kejamnya sang 'Rubah Kegelapan'.

.
.

Naruto mengendarai mobil sport hitam metaliknya menyusuri jalanan yang depenuhi pohon-pohon besar yang ada disekitar bangun tempat dia mengeksekusi 'tikus takberguna' tadi.

.

.

.

"Saya mohon maaf atas ketidaknyamanannya Sizune-san, saya selaku asisten sekaligus manajer dari Hyuuga Hinata benar-benar meminta maaf, kami akan membayar dendanya sesuai kontrak."

"..."

"Sekali lagi saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini."

"..."

"Baik terima kasih banyak Sizune-san." Ujar Miku mengakhiri percakapan telponnya dengan salah satu mitra kerja sama Hinata.

"Bagaimana?" Tanya Hinata antusias setelah percakapan terputus.

"Bagaimana? Sizune-san jelas marah dan mengatakan bahwa kau tak profesional." Balas Miku kesal, memijit batang hidungnya sebentar lalu mendudukkan pantatnya di sofa coklat tua yang ada di apartemen Hinata. Ini merupakan partner kerja sama Hinata yang ke empat yang telah Hinata batalkan secara sepihak.

"Yeahh kita akan liburan!" Ujar Hinata dengan bersorak-sorai gembira, bukannya menyesal kehilangan uang yang tak bisa dibilang sedikit, dirinya malah tertawa tanpa dosa kearah sang manager. "Dan aku sudah memutuskan untuk liburan musim panas di Pulau Taketomi, Okinawa." Ujarnya lagi yang langsung membuat Miku melotot kaget kearahnya.

"Hinata liburan disana itu sangat mahal, mana mungk-"

"Aku cukup punya banyak uang Miku, kalau kau lupa itu." Potong Hinata pada Miku.

"Yayaya aku tau, dan uang kau itu sudah banyak berkurang akibat kemauan bodohmu itu membatalkan kontrak secara sepihak!" Ujar Miku kesal pada Hinata.

"Tak masalah, nanti akan banyak lagi saat aku sudah kembali bekerja, sudahlah Miku-chan kau tak perlu memikirkan soal uang, cause its time for holiday!" Seru Hinata gembira membuat Miku menarik nafas dalam dan mengembuskannya perlahan.

.

.

.

Suara gaduh tampak samar-samar terdengar disebuah apartemen mewah milik seorang gadis cantik berketurunan Hyuuga. Dengan sedikit tergesa-gesa gadis dengan surai segelap malam itu membawa koper dan barang-barang lainnya yang dia butuhkan untuk berlibur sepekan di pulau Taketomi.

"Miku ayo cepat!"

"Iya-iya."

Hinata dan Miku bergegas keluar apartemen dan mengendarai sendiri mobilnya menuju bandara internasional Haneda.

Dengan memakan waktu yang cukup lama akhirnya kedua gadis dengan surai berbeda warna tersebut telah tiba di bandara internasional Haneda.

Yang selanjutnya akan melakukan perjalanan udara yang akan ditempuh oleh Hinata dan Miku, dan memakan waktu yang lumayan lama sekitar 2 jam 30 menit untuk sampai di bandara Naha Okinawa, Jepang.

.
.

Pulau Taketomi merupakan sebuah pulau di Distrik Yaeyama, Prefektur Okinawa, Jepang. Pulau ini terletak 4 kilometer (2,5 mil) di selatan Pulau Ishigaki. Pulau Taketomi sendiri adalah salah satu pulau dengan objek wisata terpopuler di Jepang.

Di pulau ini juga banyak terdapat rumah-rumah tradisional Ryukyu dengan tembok batu sebagai pagar rumah, dan jalan-jalan berpasir. Pulau Taketomi juga memiliki pantai dengan butir pasir berbentuk bintang atau dalam bahasa Jepang dikenal dengan nama 'hoshizuna' atau 'hoshisuna'. Pulau ini termasuk kecil, namun memiliki pantai-pantai mewah. Pemandangannya yang langka dan indah membuat tempat liburan di pulau ini mahal.

Merenggangan badannya kekiri dan kekanan, Hinata dan Miku berjalan menuju hotel mewah yang telah di pesan secara online oleh Miku lewat aplikasi travel miliknya.

"Selamat datang ada yang bisa saya bantu nona?" Tanya seorang resepsionis hotel tempat kedua gadis itu ingin menginap selama seminggu.

"Saya Mirai Miku yang memesan kamar hotel kemarin via online." Ujar Miku pada resepsionis hotel tersebut.

"Bisa saya liat bukti pemesanannya?" Tanya sang resepsionis lagi.

Miku mengotak-atik handphone miliknya, dan memperlihatkan bukti pemesanannya itu. Resepsionis tersebut pun sibuk menyalin kode pemesanan dari Miku.

"Baik nona Miku, ini kunci kamar anda, kamar 256 dan 257. Terimakasih." Jawab sang resepsionis sambil tersenyum dan memberikan dua kunci kamar hotel pada Miku.

.

.

.

Dengan langkah lebarnya Naruto memasuki mansion miliknya, berjalan ke kamarnya di lantai dua mansion megah itu.

Setelah menerima telepon dari anggotanya, dia bergegas pulang dari kantornya yaitu Uzumaki Inc. Tak ada yang tahu kalau CEO dari Uzumaki Inc itu adalah seorang King of mafia di dunia Hitam yang menguasai banyak casino besar di Jepang.

Identitasnya sebagai seorang mafia dirahasiakannya dan hanya para anggotanya serta orang-orang sesama mafianya yang tahu. Mafia dengan julukan 'Rubah Kegelapan' itu akan membunuh siapa saja yang memberitahu orang-orang tentang identitas aslinya, bahkan sekalipun orang yang mengetahuinya secara tak langsung, akan mati ditangannya.

"Shikamaru ambil alih pekerjaanku di kantor dan di Akatsuki, aku ada pekerjaan lain beberapa hari ini." Ujarnya setelah sambungan telepon terhubung, dan tanpa mendengarkan lawan bicaranya membela diri, sambungan telepon itu dimatikan secara sepihak olehnya.

.

.

.

Hinata yang kini terlihat memakai bikini berwarna ungu favoritnya itu sedang berjemur di atas hamparan pasir putih bersih di pulau Taketomi, tangannya yang memegang gelas berisi jus jeruk itu terangkat, menyeruput beberapa kali lalu menyimpannya kembali pada meja kecil yang terdapat di samping kiri tubuhnya.

"Miku kenapa lama sekali!" Gerutunya pada sang asisten yang pergi kekamar hotelnya sebentar ingin mengurus beberapa pekerjaan, katanya.

Kacamata yang bertengger diatas kepalanya ia pakai kembali untuk menghalau silau dari sinar matahari yang lumayan terik pagi itu.

"Kita bertemu lagi nona." Ujar seorang pemuda dengan penekanan pada kata lagi yang membuat Hinata membuka mata dan melepaskan kacamata yang beberapa menit lalu bertengger manis di hidung mancung miliknya. Dia mengenal pemilik suara itu, dia seseorang yang mengambil ciuman pertamanya.

.

.

.

Bersambung