Gadis kecil itu meringkuk di gang sempit yang dingin. Ia kelaparan. Ia belum memakan apapun dari pagi hari. Sesuap nasi pun. Gadis cokelat madu itu merintih. Perutnya sakit. Ia hampir saja pingsan.

"Kau mau ini?"

Gadis kecil berumur sepuluh tahun itu menolehkan kepalanya keatas, didepannya berdiri gadis mungil berambut ebony yang gadis cokelat madu itu pikir seusia dengannya.

Gadis kecil berambut ebony itu mengulurkan tangan kepada si cokelat madu untuk membantunya berdiri dan meletakkan sebungkus ice cream ketangan mungil itu.

"Jung So Hyun?" Si cokelat madu dan gadis ebony itu menoleh.

"Halmeoni! Ayo rawat dia. So hyun pikir dia tak memiliki siapapun."

Wanita paruh baya itu berjongkok dihadapan si cokelat madu dan bertanya

"Siapa namamu nak?"

"Byun Baekhyun, Halmeoni."

.

.

.

This Present By shclyod_

Another Identity

.

.

.

Park Chanyeol x Byun Baekhyun

GenderSwitch

Romance

T – M

Chaptered

.

.

.

Chanyeol menatap intens kepada gadis cokelat madu itu. Memakukan tatapannya seolah akan membolongi gadis mungil itu.

Disana, di hadapannya, gadis yang Ia ketahui sebagai Byun Baekhyun itu sedang berlari-lari kecil, bermain bersama toben, anjing peliharaannya.

Entah mengapa Chanyeol merasakan aura yang berbeda darinya. Bagaimana kau bisa mencernanya? Saat malam kau bertemu Ia menggunakan gaun malam yang seksi, menggodamu dengan ciuman sensual dan lebih parahnya menyuruhmu untuk menyetubuhinya. Dan esok paginya, kau menemukannya kebingungan dan tertidur di belakang mobil dengan gaun tidur putih gading yang lusuh dan kaki penuh lecetan luka. Gadis itu tidak mengenal Chanyeol, padahal Chanyeol sudah berkenalan dengannya di malam saat Chanyeol mengembalikan dompet gadis itu. Semalam gadis itu juga mengatakan mereka sudah saling kenal, bukan? 'Apa dia mempunyai semacam alter ego? Atau anterograde amnesia?'

Chanyeol masih memperhatikan Baekhyun, bahkan saat gadis itu berjalan kearahnya sambil menggendong toben.

"Ini." Baekhyun menyerahkan toben pada Chanyeol yang menatapnya tajam membuat gadis itu gugup setengah mati.

"Apa a-ada yang sa-lah?"

"Ah! Oh-tidak! Ayo masuk. Sarapan sudah siap."

Baekhyun mengangguk, megikuti Chanyeol seperti anak bebek.

"Dimana ayahmu?" Baekhyun bertanya sambil mendudukan diri di kursi makan, celingukan mencari keberadaan ayah Chanyeol.

"Ayah sudah pergi bekerja. Ia tak terbiasa sarapan pagi." Jawab Chanyeol sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.

Saat melihat Baekhyun di mobil pickUpnya tadi pagi, ayah Chanyeol mendadak memperlakukan Baekhyun bak anak kandungnya sendiri. Pria tua itu menyuruh Chanyeol mengangkat barang-barang di mobil itu seorang diri sedangkan si paruh baya menyuruh Baekhyun untuk masuk dan membersihkan diri, menyiapkan baju mendiang istrinya sebagai baju ganti untuk gadis itu yang dikomentari oleh Chanyeol dengan 'model yang kuno' dan 'tak memiliki selera fashion yang bagus'. Tetapi saat Baekhyun selesai berganti, Chanyeol menjadi satu-satunya lelaki yang melongo, tak percaya sekaligus bingung kenapa bisa baju yang terlihat jadul itu bisa sangat fashionable saat Baekhyun yang menggunakannya.

.

.

Mereka selesai dengan sarapan mereka dan Baekhyun yang berakhir mencuci piring-piring kotor mereka. Chanyeol sudah melarang gadis itu tetapi Baekhyun mengatakan bahwa Chanyeol dan ayahnya sudah begitu baik padanya. Ia merasa bersyukur, ditengah pelariannya masih ada orang baik yang mau membantunya.

Baekhyun menghampiri Chanyeol yang sedang duduk di sofa bersama toben dipangkuannya. Dengan ragu duduk disebelah pria tinggi itu. Chanyeol menoleh kearahnya dengan tatapan bingung.

"Ada yang ingin kau tanyakan?"

"Ah, um tidak." Baekhyun ragu. Apa yang harus Ia tanyakan? 'Apa kau mengenalku?' atau 'Apa seseorang berwajah sepertiku pernah kau temui di suatu tempat?' ah tidak. Sepertinya itu berbahaya. Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat Chanyeol mengerutkan dahi.

"Tanyakan sesuatu jika kau memang penasaran Nona."

Baekhyun bingung. Bagaimana tidak, jika orang yang tak pernah kau temui bisa menyebut namamu dengan tepat. Jadi siapa lagi orang yang bisa melakukan ini selain gadis keparat itu. Baekhyun yakin pasti Ia akan terlihat aneh dimata Chanyeol jika menanyakan apa yang ada di pikirannya.

"Kau tidak bekerja?" akhirnya Baekhyun mencari aman dengan menanyakan hal sepele.

"Aku bekerja dimalam hari. Dan kuliah siang hari." Baekhyun tiba-tiba menjadi panik. Dan berusaha merebut toben dari tangan Chanyeol.

"Kalau begitu kau harus bersiap sekarang. Nanti bagaimana jika kelasmu dimulai dan kau terlambat?"

"Hei tenanglah. Sudah kubilang jam kuliahku siang dan ini masih terlalu pagi untuk bersiap. Jangan panik begitu."

Chanyeol tersenyum saat melihat Baekhyun mempoutkan bibirnya. Toben bergelung nyaman dipangkuan gadis itu, mencari posisi yang pas untuk menutup mata mengarungi mimpi. Dan Baekhyun yang bertingkah seolah menjadi ibu toben dengan mengelus-elus kepala mungil anjing itu menjadikan senyum Chanyeol makin merekah dibuatnya. 'Kalau dia memang memiliki alter ego. Aku menyukai dirinya yang sekarang.'

.

.

Gadis berambut ebony itu mengamuk dan berusaha menghancurkan segalanya. Ia kesal pada semua orang. Bagaimana tidak? Dia terbangun pagi ini dengan bergelung di kamar club sendirian, dengan gaun yang masih melekat sempurna dan tanpa lelaki tinggi itu, Park Chanyeol. Wine yang Ia minum semalam sudah dicampur obat tidur oleh Kang Minhyuk lebih dulu. Jadi setelah meminumnya Ia malah tertidur dan bukannya melewati malam panas berdua dengan Chanyeol.

Dan sesampainya dirumah, Ia masih dibuat gila. Bagaimana bisa semua penjaganya kehilangan tikus kecil itu.

"Maafkan kami Nona. Bibi Jung memberi kami kopi dan setelahnya kami semua tertidur. Kami tak tahu kalau ternyata bibi Jung sedang membantu Nona Baekhyun kabur dari rumah." Semua penjaga berbadan kekar itu berlutut dihadapan gadis bermata sipit yang sedang berkacak pinggang. Wajah mungilnya memerah karena marah. Dan semua penjaga itu ketakutan.

"Temukan dia. Temukan Kang Minhyuk dan bawa lelaki brengsek itu kehadapanku. SEKARANG JUGA!" Teriakan gadis itu membangkitkan semua penjaga yang berlutut. Mereka berhambur ke arah pintu keluar dan pergi menemukan anak pemilik club itu sesuai intruksi Nona besar mereka.

Gadis itu menggeram kesal sambil mengepal tangan mungilnya erat. Menggumam dalam kebencian.

"Byun Baekhyun sialan!"

.

.

Baekhyun bosan. Chanyeol pergi kuliah dan dua jam lagi lelaki tinggi itu baru tiba dirumah. Ayah Chanyeol harus pergi ke Daegu untuk mengantar barang dan tiga hari lagi baru kembali. Dan toben, anjing kecil itu sedang tertidur lelap di ranjang kecil miliknya.

Baekhyun menyalakan televisi dan tak menemukan tayangan yang menarik. Ia mengumpat pelan dan mematikan benda persegi itu. Berdiri dari duduknya dan pergi ke dapur untuk membuat kopi. Dan kembali dengan segelas kopi ditangannya, duduk manis ditempat semula sambil bersila. Menanti detik jam berputar hingga pukul tujuh malam, yang masih dua jam lagi. Dan tanpa disadari, kantukpun menginvasi, memaksa kedua belah mata tertutup untuk menjemput mimpi, mengabaikan dingin yang menguar dari gelas kopi yang ditinggali.

.

.

Lelaki tinggi itu pulang dengan kerutan di dahi. Saat membuka pintu rumah, gelap menghiasi, mencoba meraba mencari saklar untuk menghidupkan lampu yang mati. Saat terang menyinari, mata bulat itu beralih pada seorang gadis yang terlelap di sofa bak orang mati. Seperti putri snow white yang diberi apel beracun oleh sang ibu tiri. Senyumpun muncul sehangat mentari, langkah kaki tanpa sadar berjalan menghampiri, berlutut disebelah gadis itu bak pangeran berpedang sakti.

"Baekhyun. Baekhyun bangun. Kenapa tidur di sofa?" Menggoyang-goyangkan lengan Baekhyun lembut sambil bibir tak henti memanggil gadis itu. Chanyeol dilanda khawatir karena gadis itu tak bergerak dan membuka mata. Jadi Ia merendahkan kepala Baekhyun dan mendongakkan sedikit dagunya, menutup hidung mungil gadis itu dengan dua jari dan sedikit membuka mulutnya. Bibir Chanyeol menyentuh sedikit bibir Baekhyun dan menyalurkan sedikit napas kerongga hangat itu.

Baekhyun terkejut. Terbangun dengan mata sipit yang membola, sebesar bola golf. Apa yang sedang lelaki tinggi ini lakukan?

Chanyeol masih melakukan kegiatan nikmat itu dan batuk Baekhyun seketika menghentikannya.

"Kau sudah sadar?" Chanyeol yang lebih dari khawatir memegang kedua pundak Baekhyun dan membantunya untuk duduk.

"u-uh, yeah. I'm okay." Baekhyun gugup. Bagaimana pun juga Ia tidak pingsan. Ia hanya tertidur, demi Tuhan.

Baekhyun memerah dan Chanyeol tersenyum lembut. Perut Baekhyun berbunyi nyaring seperti genderang perang, sampai ke telinga yang lebih tinggi.

"Maaf karena pulang terlambat. Tunggu disini. Aku akan memasak sebentar." Chanyeol meletakkan tas punggungnya di sebelah Baekhyun dan beranjak pergi ke dapur. Baekhyun mengintili lelaki tinggi itu dan memilin jari jemari tangannya.

"Apa kau tidak punya ramyeon Chanyeol?" Bertanya dengan rendah nyaris berbisik. Tetapi telinga lebar Chanyeol bisa menangkapnya. Menoleh sebentar pada si mungil dan menarik lembut kedua belah bibir tebalnya. Tersenyum.

"Tentu punya. Duduk manis disana dan kau bisa menikmati ramyeonnya dalam sepuluh menit." Baekhyun tak bisa tak tersenyum. Gadis mungil itu berlari semangat ke meja makan dan mendudukkan bokongnya dengan nyaman menanti pesanannya datang.

.

.

Slurpp

"Emmmhh." Baekhyun mendesah nikmat, menggeleng-gelengkan kepala kekanan dan kiri sambil memejamkan mata. Menyumpit lagi dan lagi ramyeon buatan Chanyeol.

"Aku pikir semua gadis di Korea tidak akan memakan apapun diatas jam tujuh malam. Apalagi ramyeon yang punya kadar kalori sedikit tinggi." Chanyeol mengucap sambil menatap Baekhyun yang masih menikmati ramyeon buatannya. Dan Baekhyun menggeleng sebagai respon.

"Tidak berlaku untukku, sayangnya." Menyeruput kuah dimangkok itu sampai tandas, seperti musafir yang kehausan di tengah padang pasir. Chanyeol tertawa karena reaksi Baekhyun yang lucu.

.

.

Gadis itu tak bisa diam. Dia dongkol, amarahnya memuncak sampai ke ubun-ubun.

"Maafkan aku, Noona. Aku harus. Seorang lelaki memintaku memasukkannya ke dalam wine yang kau pesan. Maaf."

Gadis itu mendelik. Menatap Kang Minhyuk yang berlutut dengan tatapan tajam.

"Kau tahu, aku sangat ingin memenggal kepalamu sekarang juga, sialan." Suara rendah gadis itu semakin membuat Minhyuk merendahkan tubuhnya, memohon untuk keselamatan nyawa yang berharga, melupakan derajatnya yang merupakan seorang anak dari yang berkuasa.

"Nona, saya belum mendapatkan Nona Baekhyun." Seorang penjaga masuk dengan terengah, menghela napas berat yang lelah, Memandang Nona Besarnya yang semakin memerah karena amarah.

"BODOH!" Semprot gadis itu penuh emosi, mengacak helaian rambut panjangnya yang halus berwarna ebony, hampir melupakan jati diri karena dongkol setengah mati.

"Temukan dia. Bagaimana pun dan dimana pun, temukan dia. Dalam keadaan apapun, bernyawa atau tidak terserah." Penjaga itu langsung pergi setelah mendapat perintah. Gadis itu mengacak rambutnya hingga berantakan, berteriak penuh emosi, sekencang yang Ia bisa membuat Minhyuk ketakutan.

"BYUN BAEKHYUUUNNN!"

.

.

.

TBC

.

.

.

Bagaimana?

Penasarankah?

Apa sekarang udah ngerti sama semua cast yang saya pake?

Kalo enggak, review aja. Saya pasti balas kok

Silentreader? I see you hehe

Terima kasih udah sempetin baca