Disclaimer: Semua karakter disini bukanlah milik author. Author hanya memakai mereka sebagai bagian dari cerita.

Warning: Author newbie, beberapa GenderSwitch!Character, bahasa aneh, dan tata cara penulisan sangat mengenaskan.

Jangan dibaca kalau kalian tidak menyukainya.

You've been warned ^^;)/

.

.

.

.

.

.

.

.

"Selamat pagi, Joonmyeon." Sapa Luhan pagi itu. Joonmyeon yang sedang menyusun beberapa buku di rak menghentikan aktivitasnya sejenak dan menoleh ke belakang, mendapati Luhan tengah berdiri di belakangnya.

"Oh! Apa Anda butuh sesuatu?" Tanya Joonmyeon.

Luhan terkekeh mendengar pertanyaan Joonmyeon. "Jangan terlalu formal begitu. Ah, iya.. apa kau menemukan kunci ruangan itu?" Ujar Luhan. Namun ketika berkata begitu, ia mengecilkan volume suaranya.

Joonmyeon menggeleng. "Saya... tidak melihatnya.."

"Ah, baiklah. Kalau kau menemukanya, tolong segera berikan kuncinya padaku. Jangan berikan pada Ayah atau Zitao." Ucap Luhan. "Kumohon.."

"Baik.. akan saya berikan." Joonmyeon mengangguk mengerti. Kemudian Luhan menepuk pundaknya pelan dan pergi meninggalkan Joonmyeon.

Joonmyeon kemudian mengeluarkan kunci tersebut dari kantung celananya. Menatapnya sejenak. 'Apa aku berikan saja ini kepada Luhan..?' Gumamnya.

-0-

Joonmyeon telah menyelesaikan pekerjaannya dan hendak kembali ke dapur, menemui Baekhyun, Kyungsoo dan Sehun. Namun di tengah perjalanannya, ia melihat Zitao duduk di depan pintu itu. Kepalanya tertunduk dan membuat rambut hitamnya menutupi wajahnya. Semakin mendekat, Joonmyeon mendengar suara isakkan keluar dari mulut Zitao.

Penasaran, Joonmyeon berjalan perlahan mendekati Zitao. Sesekali ia mendengar Zitao berbicara seperti "Aku mencintai kakak, aku pasti akan mengeluarkan kakak dari sana, aku tidak akan bisa hidup tanpa kakak, aku mencintai kakak, sangat, sangat mencintai kakak."

"Zitao?" Entah kenapa, Joonmyeon spontan menyebut nama Zitao. Zitao yang merasa namanya dipanggil, kemudian mengangkat kepalanya dan menengok ke belakang.

"Ada apa, maid?" Tanyanya ketus. "Apa kau telah menemukan kuncinya? Berikan padaku."

"A-ah.. bukan itu. Aku tadi mendengarmu menangis.. ada apa?" Tanya Joonmyeon yang berusaha bersikap sangat ramah pada Zitao. Zitao kemudian berdiri. 'Oh, tuhan. Dia tinggi sekali.' Gumam Joonmyeon.

"Dengar, maid. Kau mendengar aku menangis atau tidak, lalu bertanya apa yang terjadi, itu bukan urusanmu. Bila tidak ada hal penting yang ingin kau bicarakan padaku, sebaiknya jangan berbicara denganku." Ucap Zitao dingin. "Kecuali, kau menemukan kunci ruangan itu." Zitao kemudian pergi disana. Meninggalkan Joonmyeon yang menatapnya dengan pandangan heran.

-0-

"Oi, kenapa kau murung sekali?" Tanya Sehun begitu Joonmyeon memasuki dapur. Joonmyeon menaruh lap yang tadi ia pakai ke dalam ember dan duduk dikursi sebelah Sehun-yang sedang mengelap kering garpu dan sendok yang digunakan untuk sarapan tadi.

"Kyungsoo dan Baekhyun mana?" Tanya Joonmyeon yang menaruh kepalanya diatas meja dengan tangan sebagai tumpuan.

"Kyungsoo sedang membeli bahan makanan di pasar dan Baekhyun... sedang membersihkan lantai atas sepertinya." Jawab Sehun. Joonmyeon mengangguk.

Kemudian tidak ada lagi yang berbicara. Hanya ada suara air yang menetes perlahan dari keran, suara burung yang mengetuk kaca dapur, dan dentingan sendok yang sedang dibersihkan Sehun.

"Hei, Sehun.." Panggil Joonmyeon.

"Hm?" Sahut Sehun.

"Apa kau tahu, kenapa Zitao sangat ingin masuk ke ruangan 'itu'. Dan kudengar dia tadi mengucapkan kata seperti 'Aku sangat mencintai kakak, aku pasti akan mengeluarkan kakak' ?" Tanya Joonmyeon. "Siapa si 'kakak' yang dia maksud itu?"

Sehun menghentikan aktivitasnya sejenak dan memutar kursinya agar berhadapan dengan Joonmyeon. "Kapan kau melihatnya?"

"Barusan." Jawab Joonmyeon. "Ayolah, kau pasti tahu.. ceritakan padaku.."

Sehun terlihat ragu. "Huh.. Jadi begini, aku tahu ini dari Luhan. Ia yang menceritakannya padaku."

"Ceritakan padaku. Kumohon…" Pinta Joonmyeon. Sehun terdiam sejenak, ia meneguk ludahnya pelan, kemudian menghela nafas panjang.

"Keluarga ini sebenarnya mempunyai tiga orang anak. Luhan adalah anak perempuan tertua dan Zitao anak perempuan yang paling muda. Namun, mereka masih mempunyai saudara laki-laki. Namanya Kris." Ucap Sehun. "Saat pertama kali Baekhyun dan Kyungsoo bekerja, anak dari keluarga ini masih lengkap. Mereka bertiga sangat akrab. Mereka saling melindungi dan menyayangi satu sama lain."

"Begitu Ibu mereka meninggal, sang Ayah menjadi sangat keras pada mereka. Kris, sebagai anak laki-laki berkewajiban untuk melindungi saudara-saudaranya. Oleh karena itu, ia dan kedua saudara perempuannya menjadi semakin dekat. Hubungan mereka sangat kuat sekali. "Namun, ada yang salah paham dengan hubungan mereka. Zitao menganggap Kris yang sangat menyayanginya itu.. bukan sebagai kakaknya."

"Tunggu, maksudmu…"

"Ya… karena mereka sangat dekat, Zitao tidak menganggap Kris sebagai kakak.. namun sebagai.. Laki-laki. Kau tahu? Bukan seperti seorang adik perempuan yang sayang pada kakak laki-lakinya.." Sambung Sehun, "Maksudku... seperti.."

"Seorang perempuan yang mencintai seorang laki-laki?" Tanya Joonmyeon.

"Bingo." Sahut Sehun

"Lanjutkan.." Joonmyeon.

"Namun, sepertinya kutukan memang sudah menyelimuti keluarga ini. Karena, malam itu, Karena suatu sebab, Kris dan Tuan Hangeng bertengkar hebat. Bahkan Luhan, yang biasanya dapat melerai mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Karena tidak dapat menahan emosinya, Tuan menghunuskan pedangnya tepat pada jantung Kris." Sehun memberi jeda. "Dan mencabut jantungnya."

"Tepat di depan Luhan dan Zitao. Mereka bertiga kira, Kris telah mati. Namun tidak, ia masih hidup. Sampai saat ini. Ia dikurung di ruangan itu." Lanjut Sehun. "Katanya, Sebelum Kris dikurung, ia hanya minta agar ia dicintai secara tulus."

"Tapi, bukankah Zitao mencintainya secara tulus? Harusnya kutukan itu langsung hilang, kan?" Tanya Joonmyeon.

"Itu nafsu, Joonmyeon. Itu bukan cinta. Zitao hanya ingin memiliki Kris untuk dirinya seorang." Sahut Sehun. "Itu menurutku.."

"Bagaimana dengan Luhan?" Tanya Joonmyeon lagi.

"Aku tidak tahu dengan Luhan. Kurasa, Kris memang harus bertemu dengan orang yang memberinya cinta secara tulus. Kurasa Luhan salah satunya." Gumam Sehun. "Dan ayahnya."

"Huft... jadi isi ruangan itu masih manusia, ya?" Gumam Joonmyeon. Namun, Sehun segera menutup mulut Joonmyeon

"Dengar, Joonmyeon." Ucapnya "Baekhyun menyembunyikan kunci itu untuk menghindari Zitao masuk ke dalam ruangan itu lagi dan membuat Ia kewalahan . Ini tanpa sepengetahuan Tuan Siwon dan Luhan. Dan sekarang kunci itu hilang."

"Kunci itu sudah sangat lama sekali hilang. Baekhyun bilang... Satu tahun sebelum aku bekerja, kunci itu hilang." Ucap Sehun.

"Ah.. begitu ya.. Tenyata itu alasan Zitao bersikap begitu..." Ucap Joonmyeon. "Zitao itu.. sangat berbeda sekali, ya, dengan Luhan.."

"Ya.." Sahut Sehun.

"Luhan sangat baik.. sedangkan Zitao sangat kasar kepadaku..." Gumam Joonmyeon. "Haa~h.. kalau aku jadi laki-laki, aku pasti akan jatuh cinta pada Luhan."

Mendengar hal itu, Sehun hanya diam dan tersenyum. Joonmyeon yang melihat Sehun bertingkah seperti itu kemudian meledeknya. "Oh... Jadi Sehun menyukai Luhaaaan!"

"A-Apa?! Ti-tidak!" Wajah Sehun memerah mendengarnya.

"Jangan menyangkal, Sehun! Aku tahu, aku tahu, aku tahuuuu~ huwaaah... tidak kusangkaaa!" Ucap Joonmyeon heboh. "Mengakulah!"

"Kau ini berisik sekali!" Seru Sehun. "Sudah, ah."

"Uuhh.. Sehun malu, ya.." Tanya Joonmyeon.

"Diam."

"Oke.. baiklah..."

-0-

"Jadi, kau memberitahu Joonmyeon?" Tanya Baekhyun. Sehun yang ditanya menganggukkan kepalanya. "Biarkan saja dia tahu, toh, biar dia tidak penasaran.." Sahut Sehun santai.

"Yah... Kurasa kau benar. Tidak ada salahnya memberi tahu." Ucap Baekhyun. "Semoga dia tidak lagi penasaran dengan pintu itu. Karena aku pernah melihat Tuan menamparnya karena pintu itu."

"Dia terus memandangi pintu itu?" Tanya Sehun yang disambut anggukan oleh Baekhyun.

"Begitu..."

-0-

Makan malam telah usai. Semua anggota keluarga telah kembali ke ruangan masing-masing. Kecuali Zitao yang kembali ke depan pintu ruangan itu. Masih berusaha mengeluarkan 'Kakak tersayang'-nya dari sana.

Entahlah, sudah 2 jam sejak Zitao berdiri disitu. Dan selama itu pula Joonmyeon menunggu. Bersembunyi di balik lemari tempat persembunyiannya malam kemarin.

Entah kenapa, setelah mendengar cerita Sehun tadi siang, Ia semakin penasaran dengan orang yang ada di dalam sana.

"Jam Sebelas..." Gumamnya pelan. "Uh.. lama sekali.."

"Kakak, kumohon.. Kau mendengarku, kan? Tenagamu kuat.. dobrak saja pintunya dari dalam sana, kak..." Joonmyeon kemudian mendengar Zitao berkata. "Kakak..."

Jujur saja, Joonmyeon ingin menghampiri Zitao saat itu juga. Menenangkannya, kemudian mengajaknya berbicara. Yah, walaupun kemarin Zitao bersikap kasar padanya, tetap saja Joonmyeon merasa kasihan padanya. Namun, pikirannya itu segera terputus begitu melihat Hangeng ada disana.

"Perempuan bodoh! Sedang apa kau?! Dia tidak akan mendengarmu. Cepat kembali ke kamarmu!" Seru Hangeng.

"Tidak! Aku tidak akan pergi. Urusi saja urusanmu sendiri! Jangan menggangguku dan menghalangiku!" Zitao menyahuti Ayahnya dengan suara yang tak kalah tinggi. Membuat amarah Hangeng seketika memuncak.

Hangeng kemudian menjambak rambut Zitao, kemudian menamparnya. Zitao jatuh terduduk dan memegangi pipinya. Terlihat, Zitao mulai menangis. "Sampai kapan kau akan berdiri di pintu itu, Zitao! Sadarlah!"

"Sampai aku bisa mengeluarkan kakak dari dalam sana! Kenapa?!" Seru Zitao yang kembali disambut tamparan keras oleh Hangeng.

"Dia tidak akan keluar!" Saat Hangeng kembali melayangkan tamparannya, Joonmyeon segera keluar dari tempat persembunyiannya dan berlari memeluk Zitao. Hangeng yang hendak melayangkan kembali tamparanya, kembali menarik tangannya.

"Jangan dilanjutkan! Kumohon..." Ucap Joonmyeon. "Kumohon... jangan.."

Hangeng menurunkan tangannya. Menghela nafas panjang dan berbicara pada Zitao dengan suara pelan, "Zitao, kembali ke kamarmu."

Zitao tak menggubris ucapan Hangeng dan mengeratkan pelukannya pada Joonmyeon. Joonmyeon dapat merasakan air mata Zitao yang merembes pada kemeja yang ia pakai. "Zitao, aku bilang, kembali ke kamarmu."

Joonmyeon kemudian melepaskan pegangannya, membiarkan Zitao pergi. Sebelum pergi, Zitao memandang Joonmyeon sejenak. Pandangan seakan memperingatinya.

.
.

"Dan kau." Hangeng kemudian menarik paksa tubuh Joonmyeon ke ruangannya. Ia menutup ruangan itu dengan keras dan mengambil sesuatu di laci meja kerjanya.

Ruangan itu cahayanya remang-remang. Hanya ada lampu kecil yang menerangi ruangan besar tersebut. Rak-rak berisi buku besar, sofa, dan lukisan-lukisan kuno masih terlihat walau cahaya tidak begitu terang.

"Berikan tanganmu." Ucap Hangeng dingin. Dengan ragu, Joonmyeon menaruh tangannya di atas meja kerja Hangeng. Tidak tahu apa maksud Hangeng.

Namun kemudian, Siwon mengeluarkan pisau dari pegangannya, dan menyayat tangan Joonmyeon bertubi-tubi. Darah mengucur deras dari punggung tangan dan jari-jari Joonmyeon. Joonmyeon terkejut dan hendak menarik tangannya, namun Hangeng segera menahan dengan tangan yang satunya.

"Ah! S-sakit! T-tuan... Hentikan.. sakit sekali.."

Tak menggubris ucapan Joonmyeon, Hangeng sangat menikmati apa yang ia lakukan saat ini. Ia sangat menikmati suara Joonmyeon yang meraung-raung memintanya untuk menghentikkan aksi brutalnya tersebut.

"Ibu!" Seru Joonmyeon. Air mata telah mengucur deras, membuat pipinya basah. Rawut wajah Joonmyeon tidak dapat di lukiskan dengan kata-kata. Entah kenapa, setelah mendengar kata-kata Joonmyeon, Hangeng segera menghentikkan aksinya.

Darah terlihat menggenang di atas meja Siwon. Dan tangan Joonmyeon juga dipenuhi darah yang masih mengucur deras.

"Itu akibat kau menghalangi apa yang seharusnya aku lakukan pada Zitao tadi. Ingat peraturan baru, Maid. Jangan pernah menghalangi apa saja yang akan aku lakukan." Ucap Hangeng. "Mengerti? Sekarang, keluar."

Joonmyeon segera keluar dari ruangan itu tangannya sangat sakit saat itu, ia tak dapat merasakan apa-apa selain rasa sakit itu. Entah kenapa, ia teringat dengan Ibunya saat itu juga.

Baru dua hari bekerja, sudah banyak sekali kejadian tak mengenakkan yang menimpanya. Ia tidak tahan. Ia ingin pulang. Tanpa sadar, air mata kembali menetes dari kedua matanya. Joonmyeon bersimpuh pada dinding terdekat. Di satu sisi Ia menahan rasa sakit dan pedih yang datang dari tangannya dan di sisi lain, Ia merindukan Ibunya.

.

.

"Joonmyeon.. Kau kena-ASTAGA!" Joonmyeon kemudian mendengar suara Luhan. "Joonmyeon! Astaga! Tanganmu..."

"L-Luhan..."

"Kita obati tanganmu dulu, Joonmyeon.." Luhan membantu Joonmyeon berdiri dan segera membawanya ke ruangan di lantai atas.

-0-

"Aku mendengarnya dari Zitao... karena khawatir, aku segera menyusulmu.." Ucap Luhan. Luhan membawa Joonmyeon ke ruang berkumpul. Ruangan ini dindingnya berwarna cokelat dan lantainya dibuat dari kayu. Ada empat buah sofa berwarna sama disana, dan ruangan itu juga dikelilingi buku-buku tua. Entah, banyak sekali buku disana. Ada beberapa buah lukisan juga disana.

Dan jendela disana dibiarkan terbuka, sehingga membuat tirai tipis disana melayang karena angin yang bertiup kencang. Membuat Joonmyeon kedinginan.

Dengan perlahan, Luhan membersihkan darah yang ada di tangan Joonmyeon. "Ini agak sakit.. tahan, ya.." Kemudian Luhan membasahi kapas dengan alkohol dan mengusapnya pada punggung tangan Joonmyeon. Joonmyeon berusaha agar ia tak berteriak saat itu juga. Sakitnya tak tertahankan.

"Maaf merepotkan anda, Luhan..." Gumam Joonmyeon begitu Luhan melilitkan perban pada kedua tangan dan jari-jari Joonmyeon. Tangan Joonmyeon tak dapat digerakkan karena perban itu.

"Besok, Kau hanya akan melakukan pekerjaan ringan. Dan perbannya akan kuganti besok. Sampai lukanya kering, jangan bekerja dulu.." Ucap Luhan.

"Tapi, kan..."

"Tidak apa.. Ada Sehun dan Baekhyun, kan?" Tanya Luhan. "Mereka bisa mengganti pekerjaanmu. Sungguh... aku tidak enak padamu, Joonmyeon. Terima kasih, ya, sudah menolong Zitao.."

"Ah.. aku hanya.. kebetulan lewat. Dan.. melihat Zitao.."

Luhan kemudian menepuk pelan pundak Joonmyeon. "Terima Kasih sudah menolong Zitao..."

"Tidak apa.. aku.."

"Tapi, maaf.. Sebagai gantinya.. Tanganmu dirusak oleh Iblis Bedebah itu..." Gumam Luhan dengan pandangan bersalah.

'Iblis Bedebah? Maksudnya.. Tuan Hangeng?' Joonmyeon.

"Ah, Sudah malam... aku akan mengantarmu ke kamarmu.." Ucap Luhan.

"Tidak.. Saya.. bisa pergi sendiri.."

"Joonmyeon. Biar aku mengantarmu."

Joonmyeon tak dapat membantah Luhan. Akhirnya, Ia mengangguk pasrah.

-0-

"Ah, Sekali lagi, Terima Kasih, Luhan.." Joonmyeon membungkukkan sedikif tubuhnya. Luhan menggeleng dan mengusap pelan tangan Joonmyeon yang terluka tadi.

"Zitao juga mengucapkan 'Terima Kasih'." Ucap Luhan sambil tersenyum. "Dia sangat berterima kasih padamu." Ucapnya.

"Ah.. Zitao.."

"Nah, Selamat malam, Joonmyeon." Luhan kemudian meninggalkan Joonmyeon yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. "Segeralah tidur, Joonmyeon." Ucapnya tanpa menoleh pada Joonmyeon.

.

.

.

"Zitao..." Gumam Joonmyeon yang duduk di atas ranjangnya. Setelah sebelumnya bersusah payah menutup pintu kamarnya. Tentu saja. "Sama-sama..."

"Ah!" Seru Joonmyeon kemudian. "Kris.. aku tidak melihatnya malam ini.."

"Maaf Kris, aku tidak menepati janjiku..." Gumamnya pelan.

.

.

.

.

.

To be continued

A/N: Chapter 2! Mohon reviewnya karena review sangat membantu author jadi lebih semangat menulis (baca:mengetik) cerita ^^);. Terima kasih untuk yang telah review, favorite, dan follow cerita ini. Author terharu karena ternyata ada yang mau membaca FF ini ;;;;. Sekali lagi, terima kasih! -HanakoKim