*Kling... kling...* Suara lonceng pintu terdengar halus ketika Rio memasuki sebuah cafe tempat dia biasa singgah. Matanya menatap fokus pada foto Hotaru dan Nagisa yang tadi sempat dia simpan di ponselnya sebelum berpisah dengan Karma.

"Selamat malam Rio-San! Seperti biasanya?" tanya seorang pelayan di cafe itu. Rio menatapnya dalam, lalu mengangguk. Pelayan tersebut mencatat sesuatu di notesnya, lalu membungkuk dan masuk ke dalam untuk membuat pesanan. Rio menatap foto Nagisa yang tadi diambilnya.

'Sejujurnya, gadis ini... sangat mirip dengan pelayan tadi. Hotaru Shiota. Tetapi pelayan tadi namanya Imori Nagawa. Meski namanya berbeda, mereka seperti orang yang sama. Kulit putih sedikit pucat, dengan rambut dan mata biru. Tidak tahu dengan suara, sih. Tapi mereka benar-benar mirip!' Rio membatin. Ketika Imori membawakan pesanannya, Rio tanpa pikir panjang segera bertanya.

"Nagawa, berapa umurmu?"

"Aku? Empat belas. Sebentar lagi lima belas. Kenapa?" Rio menggeleng.

"Kelas tiga atau dua?"

"Dua."

"Kau kenal... Shiota Hotaru?"

Imori menggeleng. Rio menghela napas sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Oke. Terimakasih. Maaf mengganggu." Imori tersenyum, lalu menggeleng.

"Bukan masalah!"

Setelah Imori meninggalkan Rio, Rio kembali fokus ke ponselnya sambil meminum kopi hangat dan memakan cheese cakenya. Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari Karma. Rio segera membacanya dan membalas.

Karma : Oiii... Kau dimana?

Rio : Cafe biasa. Kenapa? Sudah merindukanku? Aku merasa tersanjung. Padahal kita baru berpisah sejam yang lalu!

Karma : Teruslah berharap kawan. Teruslah berharap. Aku membutuhkan bantuanmu disini

Rio : :-P Lanjutkan

Karma : Kau pintar bahasa Inggris dan make up?

Rio : Give all to me

Karma : Bagus. Bisa kau menyamar menjadi orang asing?

Rio : Karma, mustahil!

Karma : PLEASE...

Rio : Nope nope nope nope nope! Terakhir kali kau memintaku melakukan itu, aku dalam keadaan ketahuan berbohong dan kau berpura-pura tak tahu apapun!

Karma : Kali ini aku juga ikut menyamar!

Rio : Never, Karma!

Karma : Kukira kita sahabat? Ah, biarlah. Orang rendahan sepertiku memang tidak pantas mendapatkan apapun bahkan untuk rasa empati dari sahabatnya. Kau tahu? Aku ini tidak berguna.

Rio : ...

Rio : Kau berhutang seluruh isi dompetmu sekarang padaku

Karma : Good. Dompet yang mana?

Rio : Mungkin yang warna hitam bergambar peta Jepang itu?

Karma : Brengsek. Kau tahu kan 25% uang dan kartu kreditku kusimpan di sana?

Rio : Serahkan semuanya kepada Nakamura Rio! Aku sahabatmu. Tentu saja aku tahu dompet mana yang paling banyak isinya ;)

Karma : Sejak kapan kau sahabatku? Lupakan. Kalau begitu, Sabtu besok pagi ketemu di cafe tempatmu nongkrong sekarang.

Rio : Siap bos!

Rio menutup ponsel dan melanjutkan memakan makanannya.

°•°•°•°

Karma melirik jamnya sekali lagi. Sang Gadis Inggris yang sejak tadi ditunggu masih juga belum tampak batang tubuhnya(?).

"Sorry that I'm late again!" Rio berteriak sambil melambaikan tangannya. Karma menghela napas sambil memutar kedua bola mata emasnya.

"Kali ini apa alasanmu? Keretanya tepat waktu," Karma berucap sambil menunjukkan jadwal kereta dari ponsel. Rio tertawa kecil, lalu menunjukkan sikut kirinya yang terluka. Karma mendapat poinnya.

Jatuh terpeleset, mencari daun untuk diambil getahnya. Tapi salju menutupinya sehingga getahnya tak dapat dipakai. Mencari toko obat untuk lukanya. Tapi hampir semua toko tutup. Atau mungkin tidak ada toko obat di tempat sekitar Rio jatuh. Ketika sadar, ternyata sudah terlambat. Harus menunggu kedatangan kereta kedua. Tapi tampaknya Rio sprint lagi, karena kereta kedua baru datang sekarang.

"Jadi, bisa kau jelaskan kenapa kau butuh aku untuk menyamar?" Rio bertanya sambil membaca buku menu, bersiap memesan makanan dan minuman. "Kau tahu, aku benar-benar malas melakukan penyamaran ini." Karma tertawa. "Ah, biarkan aku memesan pesananku dulu." Rio segera memesan kepada pelayan yang kemarin. Karena hari ini cafe sepi pengunjung, pesanan Rio cepat datang. "Kau bisa bercerita sekarang." Rio berucap sambil menyeruput minumannya.

"Yah, sebenarnya simple. Ada seorang laki-laki yang tampak mirip Nagisa, dan aku curiga kalau itu benar-benar dia. Anak itu sering pergi ke toko bunga. Aku tidak tahu kenapa dia selalu membeli bunga. Dan selalu di toko yang sama. Mungkin kau bisa menyamar sebagai pemilik toko. Ah, tenang saja. Aku sudah meminta izin untuk menjadi pemilik tokonya, jadi khusus untuk besok, kau bekerja di toko itu. Tanyakan padanya kenapa dia selalu membeli bunga di sana, dan tanyakan namanya. Kau mengerti?"

Rio menyemburkan minumannya. Reflek, Karma bergeser ke samping, menghindari semburan dari Rio.

"APA?!"

"Ya. Seperti yang sudah kau dengar. Haha."

"Pertama, Karma! Toko bunga? Yang mana? Kedua. Kau memutuskan ini sendirian? Ketiga. Aku belum bilang setuju. Keempat. Yang benar saja! Aku tidak bisa menolak?! Kelima. Apa kita digaji walau hanya bekerja sehari? Keenam. Kalau iya, bagianmu juga kuambil atas bayaran aku tidak bisa menolak." Rio membalas emosi.

"Pertama, Rio. Toko bunga yang berada tepat di depan sekolah kita. Mengejutkan bukan? Kedua, ya. Aku memutuskan ini sendirian. Ketiga. Aku bahkan tidak peduli kalau kaumtidak setuju. Keempat. Tepat sekali. Aku sudah terlanjut meminta izin~. Kelima. Ya kita digaji. Keenam. Rio! Itu tidak adil!" Karma membalas santai. Walaupun untuk yang terakhir, dia setengah berteriak.

"Kau mengingat semuanya. Dan... itu adil. Kau memaksaku."

"Tapi aku yang merencanakan semuanya!"

"Aku bahkan belum bilang setuju!"

"Tidak setuju pun aku tidak peduli! Kau tetap harus mengikuti rencanaku."

"Kalau tidak ada aku, kau pasti melakukannya sendiri. Karena temanmu untuk saat ini hanya aku."

Karma terdiam. Itu benar. Kalau Rio tidak ada dia akan melakukan ini sendirian. Rio benar. Temannya saat ini memang hanya Rio saja. Tak ada orang lain yang bisa dia percaya selain Rio. Yah, dia percaya pada Nagisa dan Hotaru juga, sangat. Tapi untuk saat ini, Karma tidak bersama mereka.

"Baiklah baiklah. Setengah dari gajiku milikmu. Bagaimana?"

"Deal." Keduanya saling berjabat tangan.

°•°•°•°

Rio PoV

Aku mengikat rambutku menjadi dua bagian (twintail), memakai lensa kontak berwarna cokelat, dan untuk tambahan, aku juga memakai kacamata dengan frame berwarna hitam. Ini menggelikan. Bekerja di toko bunga depan sekolah. Untungnya ini masih hari Minggu, jadi sekolah libur. Tidak, tunggu. Ini buruk. Justru karena sekolah libur, waktu bekerjaku jadi lebih banyak! Karma benar-benar membuatku kesal kali ini. Tapi kalau mengingat bayarannya... lupakan saja keluh kesahku tadi.

Ketika aku akan mengambil tasku, tiba-tiba ponselku bergetar. Biasanya kalau ada pesan atau panggilan, ponselku berdering. Khusus bergetar, itu artinya Karma. Aku lakukan ini karena jika Karma menghubungiku dan aku tidak menjawab, dia akan terus menerus melakukannya hingga aku mengangkat. Tentu saja aku terganggu dengan dering yang terus menerus. Tapi jika bergetar, itu tidak begitu menggangguku. Aku segera membuka ponselku. Ada pesan dari Karma.

Karma : Hoooiii...ngapain sih...?

Karma : Keretanya datang 15 menit lagi

Karma : Ke daerah sekolah juga 15 menit

Karma : Jalan kakinya 30 menit

Karma : Tinggal ya

Rio : TUNGGU BENTAR KENAPA?!

Karma : 5 menit

Rio : DARI RUMAHKU KE STASIUN ITU 10 MENIT TAHU!

Karma : Sprint

Rio : OK OK OK, 5 menit

Aku segera mengambil tasku, lalu berlari dengan kecepatan tercepat yang kubisa, keluar rumah menuju stasiun. Butuh waktu 10 menit untuk sampai di stasiun. Tapi karena aku sprint, aku hanya memerlukan waktu 3 menit untuk sampai di stasiun. Ketika aku sampai, Karma sudah di sana.

"TANGKAP!" Karma melempar sebuah teh kotak dingin dari kejauhan. Aku menangkapnya, lalu meminumnya. Terkadang Karma bisa juga pengertian. Sambil meminum tehku, aku berjalan pelan, lalu duduk di sebelah Karma yang sedang meminum susu stroberinya.

"Kapan kereta datang?" tanyaku. Karma melihat jam.

"Kalau tepat waktu, keretanya datang 15 menit lagi."

"Kejam. Harusnya aku jalan biasa saja tadi! Kau bilang keretanya datang 15 menit lagi! Ketika aku sampai juga masih 15 menit! Berarti seharusnya tadi itu keretanya datang 20 menit! Kalaupun aku jalan biasa, masih ada waktu sekitar minimal 5 sampai 10 menit! Kejam!" sewotku sambil melemper teh kotak yang sudah habis ke arah Karma. Dia tertawa dan menangkap kotak itu, lalu melemparnya ke tempat sampah.

End Rio PoV

15 menit kemudian, kereta yang mereka tunggu sampai. Keduanya segera masuk ke dalam kereta setelah sedikit beradu argumen.

°•°•°•°

"Jadi, kita menyamar sebagai pegawai di sini untuk sehari, kan? Kenapa kau tidak menyamar?" Rio bertanya ketika mereka sudah sampai di toko bunga tempat tujuan.

"Aku sih tinggal pakai hoodie saja...," tawa Karma. Dia membuka tasnya, mengeluarkan sebuah jaket dan kacamata bergagang merah. Dia memakai keduanya. "Lihat?".

"Sesukamu. Bagaimana soal harga?"

"Aku sudah menghafalnya."

"Sampai jam berapa kita bekerja?"

"Delapan mal-"

*Kling...kling...*

Panik, mereka segera siap gerak di tempat. Anak lelaki berambu biru masuk.

"Itulah kenapa kita harus datang awal! Dia selalu menjadi salah satu diantara sepuluh pelanggan pertama yang datang!" bisik Karma. "Dan dia akan datang lagi sekitar pukul tiga sore."

"Kau hafal. Dasar penguntit."

"Aku penasaran!" sewot Karma. Rio tertawa, lalu berjalan menuju remaja laki-laki berambut biru tersebut. Dengan ramah Rio bertanya.

"Baiklah... apa yang kau butuhkan?"

•TO BE CONTINUED•